.
(notes: ini merupakan bab paling panjang di fanfiksi ini. ini adalah bab dengan sudut pandang Albus Potter; beberapa hal tentang pribadinya, kenapa tingkah lakunya seperti ini, dan beberapa hal lagi adalah pengulangan kejadian dari bab-bab yang lalu dan bagaimana cara dia meresponnya atau apa yang sedang dia pikirkan. bab ini boleh dibaca atau tidak, tapi saya ingin memberi catatan khusus:
bab ini sangat disarankan untuk dibaca apabila kamu:
ingin tahu detil cerita yang sebenarnya, kenapa dan bagaimana bisa terjadi;
ingin mendalami karakter Albus Potter dalam fanfiksi ini, tentang tingkah lakunya dan semua perkataannya;
ada hal-hal yang masih tersembunyi antara cerita Josie di Ruang Rekreasi Slytherin saat dia menceritakan kembali pada Scorpius;
apa yang dibicarakan oleh Al kepada Rose sehingga dia menjadi lebih gembira saat kembali kepada Scorpius di Danau Hitam, dan;
perkembangan hubungan antara Albus dan Josie)
.
"Al, kau mau pai apel atau jeruk?"
"Apel."
"Kok aku tidak ditanya, Mum?"
"Kamu kan apa saja dimakan, James."
"Mum, aku mau panekuk untuk sarapan hari ini, boleh tidak?"
"Ah, Lily, panekuknya untuk besok, ya? Mum sudah membuat pai apel hari ini."
.
"Dad, aku mau sapu terbang—tahun depan aku sudah masuk Hogwarts, lho, masa aku tidak bisa terbang sama sekali?"
"Nanti ada pelajaran terbang, James. Jangan mengganggu ayahmu terus, dia sedang sibuk."
"Tapi, Mum, waktu itu Dad mengajari Albus macam-macam mantra sementara aku ingin sapu terbang saja tidak boleh. Di mana adilnya itu?"
"… Dad hanya mengajari teori saja kok, tidak langsung praktiknya. Setahu Dad, kau memang tidak suka soal teori, kan? Mau diajari teori bagaimana cara terbang yang baik dan benar?"
"Um. Tidak. Terima kasih, Dad."
"Mum, Mum! Bagaimana sih supaya kita bisa mengendalikan sihir saat umur segini—umurku ini lho. Sudah enam tahun. Aku ingin bisa mengendalikan sihir!"
"Coba tanya Al, Lil. Dia sudah bisa mengendalikan sihirnya saat dia berusia empat tahun."
"Ih, aku maunya sama Mum."
"Maaf ya, Mum ada urusan. Sebentar lagi Mum harus pergi."
.
"Kok Al boleh begini?"
"Kok Al boleh begitu?"
"Kenapa Al boleh aku tidak?"
"Dia bisa mengontrol apa yang dia punya, Sayang. Kalau kalian juga bisa, kami pasti mengizinkan."
.
Dari dulu aku adalah anak kesayangan. Jika orang-orang mengatakan anak tengah adalah anak paling sial karena menjadi bagian tengah itu tidak menyenangkan, tidak spesial dan tidak berarti, maka mereka salah besar, karena aku adalah anak tengah dan aku yang paling disenangi oleh kedua orangtua. James menjadi anak bandel yang sulit diatur, sementara Lily menjadi si bungsu yang manja dan apa-apa ingin dituruti. Aku? Albus Potter, mandiri, cerdas, bisa mengatur dirinya sendiri, dan yang paling penting: tidak pernah tergantung kepada orang lain.
Dan karena sebab-sebab itulah, aku tidak pernah akrab dengan mereka. Akrab mungkin hanya bisa didefinisikan saat di meja makan atau perkumpulan rutin dengan keluarga besar, namun selain itu ada dinding tebal yang membatasi aku dengan James&Lily—ya, mereka digabung, aku sendiri. Tapi aku bisa menangani masalah sepele ini. Aku bisa mengurusi diriku sendiri.
Harusnya kedua orangtua adil pada semua anak-anaknya tanpa terkecuali, tapi Harry dan Ginny Potter, ayah dan ibuku, adalah dua orang sibuk di Dunia Sihir sehingga mereka jarang bertemu dengan anak-anak mereka. Dad bekerja di Kementrian Sihir, mengepalai para Auror, sementara Mum menjadi salah satu pemain Quidditch profesional, walaupun beberapa tahun lagi mungkin dia akan mundur dari karir tersebut dan lebih mengurusi keluarga.
Karena itu, menurut analisisku, mereka lebih suka pada anak-anak yang mandiri dan tidak perlu perhatian lebih, seperti aku. Dad dan Mum dianggap sebagai pahlawan di Dunia Sihir, tapi mereka juga manusia, dan mereka tidak bisa se'hebat' itu. Maksudku, manusia pasti ada kekurangannya, 'kan?
Kekurangan mereka membuat James dan Lily merasa tersisihkan dan lebih memilih untuk memulai aksi untuk mencari perhatian di saat mereka berdua ada di rumah. Aku lebih sering menyendiri di pojok untuk membaca buku atau mengurung diri di kamar, namun kedua orangtuaku pada akhirnya selalu mencariku.
Aku tidak pernah akrab dengan mereka. Aku lebih dekat dengan kedua sepupuku dari keluarga pamanku, Ron Weasley dan istrinya, Hermione Weasley.
Pertama kali aku bertemu Rose Weasley saat aku berusia tujuh tahun. Rambutnya merah menyala, persis seperti keturunan Weasley, matanya biru, aku tidak pernah melihat yang lebih biru dari itu, dan dia menarik. Lalu ada adiknya, Hugo Weasley, yang lebih bisa kuajak bicara daripada Lily, adikku sendiri. Aku mengira bahwa kedua saudara kandungku adalah Rose dan Hugo, karena mereka lebih dekat denganku.
Sampai suatu hari hal ini terjadi.
Aku meminjam tongkat sihir ayahku dan membawa tiga barang yang sudah sering kubongkar pasang setiap malam, kalung dan anting-anting perak dengan motif aneh yang tidak bisa dibaca kecuali disentuh, ke halaman belakang rumahku. Aku menggunakan beberapa sihir yang sudah diajari oleh Dad dan memberikan sentuhan magi supaya aksesoris tersebut lebih bermakna dan mendalam. Tidak, aku tidak akan memberikan kedua barang ini untuk kedua saudara kandungku. Aku memberikannya untuk kedua saudaraku yang lain.
Ada sesosok perempuan yang sering mengikutiku belakangan ini, aku tahu. Beberapa kali aku memergoki dirinya memperhatikanku dengan kedua mata yang tampak kosong dan ekspresi datar. Dia memiliki rambut hitam yang panjang, dengan kedua mata hitam pula. Sosoknya begitu dingin. Dia tak tahu aku mengetahui eksistensinya, dan dia terus membuntutiku, bahkan sampai ke halaman belakang rumahku. Tapi dia tak pernah mengganggu, maka aku juga tidak akan mengganggunya.
Yang kutambahkan hanyalah hal-hal sederhana sehingga kedua benda tersebut terlihat dan terasa sebagai sesuatu yang berharga dan sempurna. Setelah puas dengan hasil kerjaku, aku mengembalikan tongkat sihir Dad yang kupinjam ke tempat asalnya. Dad tak pernah tahu apa yang kubuat, aku hanya bilang aku ingin mempraktikkan teorinya.
Aku pergi ke The Burrow. Menunjukkan hasil karya yang sudah kubuat sedemikian rupa. Hugo senang, dan Rose senang sekali. Kurasa hal itu bukan hal yang sia-sia. Aku simpan semua kepuasanku dalam hati; aku tidak pernah menunjukkan perasaan berlebih di luar. Dan ketika kami keluar lagi dari The Burrow, aku melihat sosok itu, bersembunyi di tempat-tempat yang dia pikir dia tak akan kelihatan, dan sekilas aku melihat punggungnya yang berbalik dan pergi.
"Tunggu di sini," aku berkata kepada mereka berdua yang kebingungan melihat aku yang sedang menatap ke arah lain. Mereka berdua mengangguk dan aku berlari-lari kecil menuju arah di mana perempuan tersebut berjalan pergi.
Aku menyentuh pundaknya, sekadar memberitahu bahwa dia tak boleh melangkahkan kaki lebih jauh dari ini setelah aku sudah mendapatkan dirinya. Dia menoleh ke belakang, seperti tidak percaya bahwa orang yang ada di hadapannya kini adalah aku.
"Selamat siang, Miss," aku berkata sesantun mungkin, sesuai sikap yang selalu kupakai setiap saat. "Aku tahu ini tidak sopan karena sudah menghentikanmu, tapi aku hanya ingin bertanya satu hal."
Dia mengerutkan kening, tapi ekspresinya tetap sedingin es—atau lebih dari itu. Dia aneh dan eksentrik. Kini dia berbalik sehingga kami berhadap-hadapan.
"… Aku tidak menjamin akan menjawab pertanyaanmu."
Aku mengeluarkan senyum sopan yang biasanya sering kukeluarkan juga. "Aku berharap banyak bahwa kau akan menjawabnya. Kenapa kau terus-terusan mengikutiku?"
Dia menatapku tajam dan tak punya niat untuk menjawabku sama sekali. Padahal aku ingin tahu jawabannya. Aku selalu ingin tahu jawaban atas segala hal.
Pada akhirnya dia hanya menjawab, "Bukan urusanmu." Dan pergi dengan angkuhnya meninggalkanku. Aku berdiri diam di sana kira-kira sepuluh menit sebelum kembali lagi pada Rose dan Hugo yang sedang menunggu.
.
Kabar itu menyebar secepat lidah api yang menyambar semua barang-barang di sekitarnya. Hugo Weasley tewas dibunuh seseorang yang menggunakan benda Muggle, sehingga bisa diasumsikan pembunuhnya adalah Muggle—psikopat, mungkin, atau orang tak tahu adat yang membunuh seorang anak laki-laki pada malam hari.
Ironisnya, yang diambil dari Hugo adalah kalung pemberianku.
Dan yang paling marah adalah Lily.
Lucu?
Mungkin. Memang tidak ada yang tahu soal aku memberikan kalung dan anting kepada Hugo dan Rose, namun setelah Rose yang pertama kali menceritakan kalung yang dicabut begitu saja, semua mata tertuju padaku. Lily menjadi pendiam, mengalami shock berat, dan tidak bisa keluar dari kamarnya selama lebih dari seminggu—kukira begitu. Ternyata lebih. Dia bahkan tak bisa berbicara. Bukan karena kalung, tapi karena Hugo yang dibunuh. Hugo merupakan salah satu sepupu favoritnya.
Lily dibawa ke St. Mungo. Saat berusia sebelas tahun, dia mendapat surat dari Hogwarts, tapi dia tak bisa menghadiri sekolah tersebut dan yang ia lakukan adalah memendam diri di Rumah Sakit. Adikku tidak pernah masuk Hogwarts. Aku tak bisa mengatakan aku sedih; karena aku tidak tahu kenapa Lily bisa separah itu. Aku memang dekat dengan Hugo dan aku juga mengalami shock yang sama, ingin bertemu dengan pembunuh tersebut, tapi tidak pernah terwujud.
Kata seorang penyembuh yang ada di St. Mungo, mental Lily sudah jatuh semenjak kedua orangtuanya sudah jarang memperhatikannya. Dilihat dari kebanyakan reaksi ketika Dad atau Mum mengunjunginya, sikapnya sedikit berbeda—apalagi denganku. Dia biasa-biasa saja dengan James, hanya diam dan tak berbicara apa pun. Kehilangan orang terdekatnya membuat dia tertekan dan akhirnya dia tak sanggup bicara lagi. Perubahan drastis itu membuat Dad dan Mum menjadi orang yang lebih baik lagi.
Tahun pertama, aku diseleksi dan masuk dalam Slytherin. Keluarga Potter masuk Slytherin. Itu mengejutkan? Kurasa tidak, karena aku memiliki ambisi yang bahkan bisa mengalahkan para Darah Murni lainnya yang ada di Slytherin.
Dan saat itulah aku mengetahui namanya. Josie Nott.
Aku ingin melihat wajahnya, tapi dia terus-terusan menunduk. Aku tak tahu apa yang dipikirkannya karena aku tak bisa membaca ekspresi wajahnya. Seandainya dia mendongak sedikit, atau menatap mataku, mungkin aku bisa tahu apa yang sedang dipikirkannya.
Tapi dia terus-terusan menunduk.
.
Aku tidak terlalu memperhatikan Josie Nott lagi saat itu, karena orang-orang yang sering mengikutiku bertambah banyak. Aku tidak akan menyebut mereka penggemar walaupun kebanyakan dari mereka memang gadis-gadis, sementara sisanya adalah tukang dengki yang ingin mengutukku secepat yang mereka bisa untuk menjelekkan namaku di Hogwarts. Aku bisa menjaga diriku sendiri dengan mudah. Mantra yang mereka gunakan adalah mantra anak kecil. Dad sudah sering memberiku mantra-mantra yang tidak diketahui oleh orang lain.
Di akhir tahun keempat, aku baru bisa melihat ekspresi Josie Nott lebih jelas lagi. Dia sering dianggap aneh oleh anak-anak. Aku pun begitu, menganggapnya aneh, tapi orangnya sendiri seperti tidak peduli. Dia digosipkan sering membawa senjata tajam yang dibuat oleh Muggle—pisau belati yang mematikan dengan gagang berukir yang unik.
Di Ruang Rekreasi Asrama Slytherin, aku melihat sesuatu mengilat di lehernya.
Kalung.
Seingatku, saat pertama kali aku melihatnya, dia tidak memakai kalung.
Saat itu, penyelidikanku terhadapnya dimulai.
.
.
.
Disclaimer: Harry Potter © J.K. Rowling. I gain no financial advantages by writing this.
Characters: Scorpius Malfoy/Rose Weasley, Albus Potter, Josie Nott (OC)
Warning: Setting: Canon, dengan beberapa fakta kanon yang dimodifikasi dan diubah sesuai keinginan penulis. Multichapter. Tahun ke-5 mereka di Hogwarts. Including some OCs. POV berganti-gantian setiap bab. Bab ini terfokus pada Albus Potter dan Josie Nott.
Enjoy!
FATE: Between Seditious and Karma
© qunnyv19
.
Chapter 8: Secret and Promise
Albus
.
.
.
Aku punya banyak rahasia yang tidak bisa dibagi kepada orang lain. Memang yang namanya rahasia berarti hanya dipendam sendiri, tapi terkadang ada orang-orang yang otaknya lumayan dangkal sehingga apa yang mereka sebut rahasia selalu dibagikan kepada orang lain.
Di akhir tahun keempat ketika aku melihat kalung Josie Nott yang bagian tengahnya tersembunyi di jubah, aku mulai mengikutinya diam-diam. Sekarang posisinya terbalik, aku yang mengikutinya, sementara dulu dia yang selalu membuntutiku. Aku tidak tahu sampai kapan kebiasaan antara ikut-mengikuti ini akan segera berakhir.
Aku hanya ingin tahu apa bandul kalung tersebut.
Kalung memang kata yang sensitif untukku. Karena, mungkin, hanya karena sebuah kalung bisa merenggut nyawa seseorang, dan mendekam sosok gadis yang tak bisa bersekolah di Sekolah Sihir Hogwarts karena nyawa tersebut yang terenggut.
Aku tak bisa terus-terusan mengeceknya karena dia selalu ada di samping Malfoy. Scorpius Malfoy, pemuda angkuh yang menganggap dirinya berada di atas angin, selalu merasa hebat dibandingkan siapa pun. Setiap kali dia melihatku, dia langsung memberikan tatapan yang mengatakan aku adalah orang yang sangat menjijikkan dan patut dimusnahkan dari muka bumi. Kurasa perasaan saling benci kami ini mutual—sama.
Rahasia yang kumaksudkan saat ini adalah bagaimana aku menguntit Josie Nott setiap hari sampai akhirnya dia merasa benci untuk diikuti, dan, dia menghadapiku dengan frontal untuk pertama kali sejak kami berbicara sebelum masuk Hogwarts.
Aku ingat sekali yang ia tanyakan saat itu adalah, "Apa yang kau lakukan?"
Dan aku berkata dengan tenang, "Aku sedang berpatroli," sambil menunjuk lencana Prefek yang ada di seragamku. Ya, saat itu sudah memasuki awal kelas lima, dan aku terpilih menjadi Prefek.
Dia terlihat ingin membantah, mulutnya sudah membuka tapi cepat-cepat dia menutupnya lagi, karena dia tak punya kata-kata yang cukup untuk menyanggah tiga kata yang kuberikan tadi.
Karena sudah dikonfrontasi begitu, maka aku juga tidak mau kalah. Oh, tentu saja aku tidak mau kalah, karena aku tidak pernah mau kalah. Aku masih berdiri dengan tegap di depannya, "Kudengar kau sering membawa senjata tajam, Nott."
Josie Nott terlihat ingin membantah lagi. Ekspresinya benar-benar aneh, antara ingin berdebat dan ingin bertahan sampai aku pergi duluan. Di balik semua air muka yang ia punyai, yang selalu kuperhatikan adalah mata. Karena mata bisa berbicara.
Akhirnya dia menjawab, "Aku tidak melukai siswa-siswi di Hogwarts. Itu yang penting, 'kan. Daripada mengurusi aku, Potter, lebih baik kau urus murid lain yang lebih parah daripada aku."
"Kalau tidak salah pisau dengan gagang yang berukir unik." Seperti biasa, aku melawan perkataan orang lain dengan fakta-fakta yang sudah kutahu terlebih dahulu.
Dia memelototiku, tapi aku tidak terpengaruh, dan tersenyum seperti biasa sehingga membuatnya kesal dan berbalik memunggungiku, lalu pergi begitu saja. Dan tadi dia bilang … urusi murid lain yang lebih parah daripada dia. Berarti dia sendiri memang 'parah', 'kan?
Hari berikutnya kami berada di kelas Pemeliharaan Satwa Gaib bersama Profesor Hagrid. Aku memperhatikannya terus-menerus—dengan terus menjaga sikap di depan publik, tentu saja—tapi dia masih terlalu dekat dengan Malfoy, sehingga aku agak kesulitan untuk melihat kalung misterius tersebut.
Saat ditanya siapa yang sudah pernah melihat Thestral, dan kini bisa melihat kawanan mereka, Josie Nott mengangkat tangannya. Aku akan segera tahu siapa yang dia lihat kematiannya dalam waktu dekat. Kalau aku sudah menyelidiki sesuatu, aku tidak akan bertindak setengah-setengah.
Tak perlu waktu lama, Malfoy sudah menyingkir terlebih dahulu, menyisakan Josie Nott sendiri dengan sikap dinginnya. Aku masih memperhatikan Profesor Hagrid tentang bagaimana Thestral begini dan begitu, dan aku akan mengingat bahwa Malfoy membolos pelajaran hari ini dengan lari begitu saja ke Hutan Terlarang.
Tapi aku tak punya kesempatan untuk lebih dekat dengannya hari itu, karena pelajaran tersebut membuat waktuku tersita.
Ketika pelajaran Pemeliharaan Satwa Gaib sudah mau berakhir (yang kuhitung dengan teliti menggunakan perhitunganku sendiri, tanpa melihat jam atau bertanya pada Profesor Hagrid) aku meminta izin pada Profesor bertubuh besar tersebut untuk men'jemput' Malfoy yang kabur begitu saja ke Hutan Terlarang. Profesor Hagrid tentu saja mengizinkan, sehingga aku berjalan dengan tenang ke Hutan Terlarang dan sudah menyiapkan kata-kata apa pun yang ingin kusampaikan pada Malfoy nanti.
Hutan Terlarang itu cukup luas. Orang—atau penyihir—biasa yang tidak tahu apa-apa tidak akan bertahan lebih dari dua malam, menurut pendapatku. Tapi sekarang masih siang hari, harusnya tidak apa-apa jika aku berkeliaran di sini sendirian, untuk menegur Malfoy yang kurang ajar itu.
Ketika aku berjalan lebih jauh lagi, aku melihat sesuatu yang tidak biasa.
Yang pertama kali menarik perhatianku tentu saja Rose Weasley yang berada di sana. Rose Weasley—aku sudah menceritakan tentang dia. Aku bisa mengontrol apa pun sesuai dengan keinginanku, tapi hanya ada satu hal yang tak bisa kukendalikan dengan baik: perasaanku.
Kurasa yang itu tak perlu dijelaskan lebih jauh.
Lalu yang kedua adalah sosok yang kucari sedari tadi. Rambut pirang menyolok yang bersebelahan dengan rambut merah ala Weasley. Di dekat mereka terdapat dua Unicorn muda yang terlihat bermanja-manja dengan Rose. Aku berjalan di belakang Malfoy dan menepuk pundaknya.
Dia menoleh. Melihat wajahku saja sudah membuatnya memasang ekspresi jijik.
"Mr Malfoy," kataku, "Apa yang kaulakukan di sini? Kami semua mencarimu, termasuk Profesor Hagrid. Kita akan segera menulis laporan tentang Thestral, bukannya …" Aku berhenti sebentar, menatap kedua Unicorn yang memicingkan matanya padaku seolah mereka curiga padaku, lalu aku beralih lagi padanya, "… Unicorn."
"Maaf, Potter yang terhormat," ia berujar, dan aku yakin itu bukan kata-kata yang tulus. "Aku sedang mencari-cari makanan lain untuk Thestral dan ingin kembali."
"Al?" tanya Rose yang daritadi berdiri di sebelah Malfoy. "Kau tidak apa-apa?"
"Aku tidak apa-apa, terima kasih." Aku tersenyum dan mendekat untuk menggenggam tangan Rose sebentar. Setelahnya, aku melirik sekali lagi pada Malfoy sebelum akhirnya melangkah menjauh dari sana. Tapi, sekilas, aku masih bisa melihat jari tengah Malfoy yang diacungkan kepadaku dan ia berkata seperti,
"Terus saja mengganggu hariku, Potter."
Aku tidak menoleh ke belakang dan tidak membalas kata-katanya. Sambil berjalan keluar dari Hutan Terlarang, aku mengucapkan, "Potong dua puluh poin dari Slytherin."
.
Setelah makan malam, aku bertemu Rose yang sedang berjalan ke sana ke mari. Dilihat dari wajahnya, dia tak berniat untuk menemuiku, tapi ketika dia melihatku, dia menjadi senang. Aku tersenyum melihat langkahnya yang semakin dekat ke sini.
"Rose," panggilku, tetap berdiri di tempat yang sama sementara Rose semakin mendekat. Terlihat kerut samar yang ada di dahinya.
"Apa yang sedang kaulakukan?" tanyanya. Ia kini sudah berada di sampingku. Kami mulai berjalan perlahan bersamaan. Aku sengaja menggantung pertanyaannya sampai berjalan agak jauh. Aku mengangkat bahu.
"Berkeliling sebentar. Mencari seseorang yang bisa dikurangi poinnya, mungkin."
Mungkin terdengar seperti lelucon, tapi sebenarnya aku tidak sedang bercanda. Didengar dari suara tawa Rose yang keluar, kurasa dia menganggap itu lucu. Padahal aku memang sedang ingin mengurangi poin para murid, tapi kubiarkan saja dia berpikir seperti itu.
Kami terus berjalan tanpa berbicara lebih lama. Aku ingin menuju Lapangan Quidditch. Biasanya banyak murid yang melanggar jam malam, terutama murid-murid yang antusias untuk memenangkan pertandingan antar asrama.
Ketika sampai di Lapangan Quidditch, tak banyak yang bisa kuperhatikan dari sana. Lapangan kosong, sunyi, dan tribun pun begitu. Maka kami mengobrol untuk beberapa lama sebelum akhirnya aku mengantarnya ke Menara Gryffindor.
"Oke, kurasa sampai di sini, Rose." Aku berhenti sebentar, memperhatikannya. "Sampai jumpa."
Ia mengangguk. "Terima kasih."
Tapi aku belum meninggalkannya, dan dia juga masih berdiri di sana. Aku tidak tahu apa yang kulakukan setelahnya, tapi yang jelas aku benar-benar menjadi seorang imbesil. Orang idiot yang tak memikirkan tindakannya sama sekali, langsung melakukannya begitu saja—aku mencium dahi Rose, padahal aku tahu bahwa tindakan yang lebih dekat dari menggenggam tangan akan terlarang. Aku tersenyum kepadanya untuk menutupi tindakanku yang bodoh tadi, lalu aku berbalik meninggalkannya.
Ternyata aku masih belum bisa mengontrol perasaanku.
.
Herbologi bersama Gryffindor adalah salah satu kelasku hari ini.
Setelah membereskan beberapa anak yang mengacau di koridor-koridor, aku berhasil ke Rumah Kaca tanpa gangguan lebih lanjut, dan mataku terpaku pada dua sosok yang sering kulihat berdekatan akhir-akhir ini: Rose Weasley dan Scorpius Malfoy.
Aku tidak tahu kenapa, padahal kurasa mereka baru berinteraksi kemarin di Hutan Terlarang itu, dan aku juga tidak menyelidiki lebih lanjut karena kelihatannya itu hanya kebetulan. Tapi kalau sampai Malfoy mengincar Rose, aku tidak akan membiarkannya mempermainkan perasaan Rose seperti dia mempermainkan perasaan gadis-gadis yang lainnya. Aku sudah tahu tabiat-tabiatnya, jadi jangan harap dia bisa lepas pengamatanku.
Entah apa yang mereka bicarakan, tapi aku langsung memanggil Rose. "Rose."
Rose terlihat terkejut dan terlonjak, dirinya hampir terjatuh, untung saja dia bisa mengendalikan tubuhnya dan berpegangan pada salah satu meja di Rumah Kaca. Malfoy mendengar suaraku dan langsung memasang ekspresi itu lagi. Aku tersenyum kepada Malfoy untuk memberitahu bahwa apa pun tindakannya, tidak ada satu pun dari itu yang bisa mempengaruhiku.
Malfoy berbalik lagi dan kini mendekati Rose. Aku membiarkannya, tapi tatapanku terus-terusan terpaku pada punggungnya yang makin mendekat pada Rose, kemudian dia membisikkan sesuatu.
Kehadiranku di dekat Rose saat ini mungkin terasa canggung karena kejadian kemarin malam. Aku harusnya bisa mencegah agar hal seperti itu tidak terjadi, sayangnya aku tidak bisa, dan aku tidak akan menyesal. Aku tidak menyesal atas semua hal-hal yang kulakukan di masa lalu.
Rose melirik ke arahku ketika Malfoy sudah berada di sudut yang lain. "Uh, halo, Al." Suaranya sedikit bergetar. Aku tersenyum padanya dan berjalan mendekat untuk menepuk pundaknya.
"Kau tidak apa-apa?"
"Aku baik-baik saja," gumamnya. "Profesor Longbottom akan masuk sebentar lagi. Ada baiknya kalau kita mencari tempat duduk."
Aku mengangguk menyetujui dan ia mulai berjalan menuju meja memanjang yang tersedia di Rumah Kaca. Aku tidak mengikutinya karena ada hal yang lebih menarik di sudut yang lain. Rose sudah duduk di tempatnya dan menyadari bahwa Malfoy berada tepat di depannya. Aku tidak bisa memperhatikan mereka lebih lanjut karena pandanganku sudah berada pada Josie Nott.
Ketika aku berjalan mendekat, refleks Nott menutupi lehernya. Harusnya aku tahu sesuatu tentang ini. Instingku memang mengatakan sesuatu, tapi aku tak memilih untuk mempercayai hal itu, karena apa pun yang sedang kudapatkan dari instingku adalah hal yang benar-benar salah dan kejam. Masa gadis di hadapanku ini ….
"Potter."
Dia menyapaku terlebih dahulu, walaupun itu tidak bisa dibilang sapaan. Aku mengangguk dengan formal dan memperhatikannya lagi. Di Rumah Kaca terdapat banyak sudut sehingga segerombolan anak lebih suka berkumpul dengan gengnya masing-masing, atau langsung duduk di meja panjang seperti yang dilakukan oleh Rose tadi.
"Memilih untuk memojok sendiri di Rumah Kaca, Nott?" aku bertanya sambil memperhatikan ekspresinya yang datar. "Kukira kau selalu menempel dengan Malfoy."
"Kukira kau sedang mengurusi orang-orang yang berulah, bukan terus-terusan mengikutiku sejak—"
Aku tidak memotong perkataannya, tapi dia sendiri yang menghentikan kata-katanya. Aku tersenyum penuh kemenangan ketika dia terlihat tak bisa mengatakan sesuatu. Itu perasaan yang selalu ada—perasaan kompetitif, ingin mengalahkan seseorang, bersaing, dan menang—walaupun hanya dalam hal-hal sepele seperti ini.
"Aku tidak mengikutimu, kalau kau mau tahu." Aku mendekat satu langkah lagi. "Aku hanya sedang menyelidiki 'orang tertentu' yang memiliki sikap aneh yang patut diketahui."
Dia tak menjawab. Kuperhatikan orangnya memang seperti itu, tidak ingin banyak bicara dan lebih sering memperhatikan dan menjawab seperlunya. Tapi aku ingin memancing lebih banyak jawaban darinya, karena lehernya masih terus ditutupi dengan sebelah tangan.
"Ada sesuatu di lehermu, Nott?"
Ia masih tak menjawab, menghabiskan waktu dengan berlama-lama berdiri di sana. Kalau dia mau, dia bisa pergi dari sana dan meninggalkanku begitu saja, mengabaikan pertanyaan tersebut. Tapi dia tetap berdiri dan menatapku dengan mata hitamnya yang tajam. Aku menuntut jawaban. Kucoba sampaikan itu dari tatapan mata.
"Apa pun yang telah kulakukan, bukan urusanmu, Potter."
Aku meminta jawaban, bukan jawaban yang dialihkan.
"Dan kurasa kau juga menjawab dengan jawaban yang sama ketika aku menanyakan kenapa kau mengikutiku beberapa tahun yang lalu."
Dia membuka mulutnya, ingin menjawab sesuatu ketika gerombolan para murid langsung bubar dan buru-buru duduk di meja panjang yang tersedia. Josie Nott terlihat lega dan segera berbaur dengan mereka, meninggalkan aku yang berdiri di sana sampai Profesor Longbottom benar-benar masuk ke dalam ruangan.
.
Makan malam saat itu kuhabiskan dengan mengerjai Malfoy.
Mengerjai bukan kata yang tepat, soalnya, karena aku bukan tipikal orang yang seenaknya mengganggu dan membuat orang jengkel karena kelakuanku. Aku membuat orang kesal justru karena kelakuanku atau tindakanku yang terlalu sempurna—yang diidam-idamkan oleh orangtua agar sifat itu ada pada setiap anak mereka. Kelakuan itulah yang membuat beberapa orang kesal, bahkan benci padaku, termasuk Malfoy.
Aku berjalan di mana matanya bisa melihatku dan dia langsung berhenti menyuapkan makanannya. Aku tahu dia tidak sudi makan di dekatku, sehingga aku berlama-lama di sana. Dia tidak tahu karena dia melihat ke arah lain, mungkin menunggu kapan aku lewat dari sana dan pergi meninggalkannya. Tapi aku sengaja. Dan ada sesuatu yang ingin kubahas dengannya.
Ketika kira-kira sudah lima puluh detik kuhabiskan berdiri di belakangnya, dia menoleh dan aku tersenyum padanya. Dia mengeluarkan ekspresi masamnya yang biasa.
"Apa?" tanyanya ketus. Kemudian, entah karena ini tindakan impulsif atau tindakan yang dilakukan kalau hanya ada aku, dia melirik ke arah Josie Nott. Gadis itu pura-pura makan dan sibuk dengan garpu dan pisaunya, tapi aku sekarang lebih tahu soal perilakunya.
Aku mengabaikan Josie Nott untuk sementara dan beralih pada Malfoy. "Tadi kau menemui sepupuku, Malfoy?" tanyaku.
"Ya," jawabnya sambil melirik piringnya yang masih penuh. Aku membiarkan dia seperti itu—kalau dia memilih untuk menjaga imagenya di depanku, silakan saja. Toh nama baiknya sudah tercoreng di kamusku. "Memangnya kenapa?" dia melanjutkan.
"Tidak apa-apa," kataku, lalu meminta Zabini untuk bergeser sedikit agar aku bisa duduk di sebelahnya. Aku melirik ke arah sepupu Malfoy sekali lagi, namun gadis itu cepat sekali perginya sehingga aku tidak tahu kapan dia pergi. Aku bahkan tak melihat pergerakannya.
Aku menatapnya tepat di mata.
"Aku rasa kau tidak pernah mengetahui Rose Weasley sebelumnya," aku memulai, dan mengambil sikap duduk tenang dan tegak seperti biasa. "Mulai tertarik dengannya, Tuan Malfoy?"
Pertanyaan itu kulontarkan bukan tanpa alasan. Setelah melihat kedekatan mereka selama dua hari berturut-turut, wajar kalau aku merasa curiga. Apalagi aku sepupu terdekat Rose. Dan … ya, hal ini juga mungkin berhubungan dengan perasaanku yang belum tertata dengan baik dan melebihi batas yang sudah diberikan.
"Aku tahu dia sepupumu," ujarnya, masih dengan nada yang ketus ketika berbicara denganku. "Tapi kau tidak perlu menginterogasiku karena aku baru menemuinya sekali dan seolah-olah aku merebut sesuatu darimu."
Aku tersenyum, tapi kali ini berbeda karena perasaanku juga berbeda. Ada senyum bangga dan sedikit kelicikan di sana. Menarik. Aku masih ingin mempermainkan Malfoy yang satu ini. Kalau dia masih ingin memamerkan soal kebolehannya di depanku, maka dia salah langkah. Aku orang yang sangat benci kalah saing dan kuyakin dia orang dengan tipe yang sama. Maka kalau kuberikan sedikit pancingan yang bisa membuatnya terlihat bodoh ….
"Memang," akhirnya aku berkata, dan aku kembali memasang senyum yang biasa kukeluarkan jika bersama orang-orang. Ia menghela napas dalam-dalam. Kuperhatikan dia masih tak mau menyentuh makanannya di hadapanku.
Kemudian aku melakukan hal yang mungkin tak diduga olehnya. Aku mengulurkan tangan, ingin bersalaman dengannya. Ia mengerutkan dahi dan bertanya seperti orang bodoh, "Apa?"
"Mari berjabat tangan, Tuan Malfoy." Dan dia menurut, mengelap tangannya sebentar di jubah dan aku langsung menjabatnya erat-erat.
"Aku tidak tahu apa yang sedang kaulakukan," ujarnya, tampangnya kini kecut. "Apa aku terlibat permainan konyolmu lagi?"
Tentu saja, Malfoy, hanya saja aku tidak mau mengungkapkan itu keras-keras di hadapan semua orang. Ini hanya taktik sederhana supaya harga dirimu bisa diturunkan sedikit.
"Ini bukan permainan konyol," sahutku. Aku menghilangkan senyum yang berada di wajahku. Kini aku tidak mau terlihat seperti main-main di matanya. Aku juga sedang serius … nadaku lebih mantap dari sebelumnya. "Ini permainan … antara laki-laki, Malfoy."
"Tche. Mau berlomba-lomba siapa yang lebih gentleman? Kau bisa dengan puas menikmati posisimu sebagai prefek yang sempurna, kata orang-orang," ekspresinya lebih parah lagi, "Tapi kau tidak bisa melakukan apa yang bisa kulakukan."
"Oh ya?" Alisku terangkat. "Bisa memberikan contoh?"
"Entahlah," ujarnya dengan nada yang dipanjang-panjangkan dengan sengaja. "Mungkin menyenangkan hati wanita tanpa embel-embel prefek. Atau akrena aku yang dari sananya sudah memiliki tampang yang enak dipandang sehingga aku sering menjadi bahan pembicaraan profesor di sela-sela acara makan mereka."
Sudah kubilang dari awal bahwa menunjukkan kebolehan untuk melawanku adalah langkah yang salah. Aku membiarkannya mengoceh, kemudian dia berkata lagi.
"Mau bikin perjanjian, Perfect Prefect Potter?" Dia menggunakan julukan yang disematkan beberapa orang kepadaku. Jadi ternyata dia memang termakan umpanku. "Bagaimana kalau ternyata akulah yang bisa membahagiakan Rose Weasley, bukan kau?"
Aku memasang tampang yang terlihat terkejut. "Aku tidak menyebut dia lagi sejak tadi."
"Aku hanya berkata permainan laki-laki." Aku tersenyum lagi, tapi bukan senyum yang biasa kugunakan dan kuperlihatkan pada orang-orang. "Dan kau langsung menyimpulkan bahwa ini permainan untuk merebutkan Rose Weasley. Ingat, Malfoy, Rose bukan barang. Dia tidak bisa diperebutkan, dia tidak bisa dipertaruhkan. Lihat, siapa yang konyol dan pengecut sekarang?"
Aku melepaskan jabatan tangan kami yang tadi kucengkeram erat-erat. Kemudian aku menekuk senyum yang biasa lagi dan menepuk pundak Zabini untuk berterima kasih atas tempat duduknya. Setelah itu, aku pergi meninggalkannya. Permainan kecilku sudah berhasil.
Apa setelah ini dia masih dengan mudah menyombongkan dirinya di hadapanku, aku tidak tahu.
.
Ada yang menarik dengan kelas Ramalan saat itu.
Aku tahu tidak semua anak Slytherin yang mengikuti pelajaran ini karena dianggap hanya sebagai lelucon dan tidak penting untuk karir mereka nanti, tapi aku yang selalu ingin tahu apa pun akan mengikuti pelajaran yang menurutku unik. Ramalan termasuk di dalamnya, dan kali ini Profesor Trelawney memberikan kejutan. Korbannya adalah sepupuku, Rose Weasley.
Dia menyebut-nyebut soal binatang suci … musuh asrama … semacam itu. Jikalau yang dimaksudnya adalah musuh asrama Gryffindor, berarti asrama itu adalah asrama Slytherin. Rose menghambur keluar kelas begitu saja, dan aku tidak tahu kenapa dia bertingkah seperti itu.
Namun banyak murid-murid yang mulai berspekulasi tentang ini dan itu. Bahkan ada beberapa yang menyebutkan bahwa akhir-akhir ini Malfoy terlihat 'agak' dekat dengan Rose. Aku tidak menggubris yang satu itu. Pikiranku menjadi kacau.
Setelah pelajaran Ramalan selesai, aku keluar dengan tujuan ingin mencari Rose. Mungkin pikirannya sudah lebih tenang karena tadi dia sudah mengasingkan diri di tengah pelajaran. Tapi aku tidak bertemu dengannya. Sebelum jam makan siang, aku berpapasan dengan Josie Nott yang ingin menaiki tangga, entah ingin melakukan apa.
Dan aku tidak tahu apa yang dia pikirkan sehingga matanya membelalak, seolah terkejut melihatku. Pikiranku langsung tertuju pada leher dan kalung yang dikenakannya. Tapi dia sadar dengan cepat dan buru-buru membungkuk, pura-pura membenarkan tali sepatu. Sesuatu meluncur jatuh dari jubahnya karena perlakuan yang tiba-tiba tersebut. Suara besi berbentur dengan pualam bergema di pendengaran kami.
Pisau berukirnya. Aku memang penasaran dengan benda itu. Kuharap aku tidak melanggar etika karena menyentuh barang milik orang lain. Aku membungkuk juga dan mengambil pisau tersebut. Gagangnya menyesuaikan genggaman tanganku. Aku mengubah-ubah posisiku dalam memegangnya, bahkan aku bergantian dari tangan kanan ke tangan kiri, dan gagangnya fleksibel sekali, mengikuti keinginan tanganku. Aku memperhatikan pisau tersebut lekat-lekat.
Josie Nott sudah berdiri tegak dan matanya makin lebar ketika melihat pisaunya berada di tanganku. "Kembalikan, Potter."
Aku menimang-nimang pisau tersebut dan bergantian memegangnya dari tangan kanan ke tangan kiri, begitu seterusnya, dan tersenyum seperti biasa. Entah kenapa aku senang melihat ekspresinya yang jengkel seperti itu, walaupun tak bisa menutupi ekspresi dinginnya yang selalu berada di wajahnya.
"Jawab pertanyaanku baru aku akan mengembalikannya padamu." Aku tak akan menyangkal bahwa orang-orang mengatakan aku sebagai orang yang licik. Mengapa aku berada di Slytherin kalau aku tak punya sifat seperti ini? Ambisius dan cerdik. Seharusnya Josie Nott, sebagai sesama penghuni Slytherin, bisa mengetahui fakta tersebut.
Yang tak kuduga dari reaksinya adalah, ia segera mengambil sesuatu dari jubahnya dan mengacungkannya tepat di leherku. Dia sudah berada di depanku, dengan wajah yang terangkat tinggi-tinggi menyamai pandanganku. Ujung tongkat sihirnya terasa dingin dan mengancam di bawah dagu. Aku tak bisa berkelit. Posisiku sedang rumit dan aku tak suka mengambil risiko, apalagi kalau berhubungan dengan nyawa.
Tapi aku bisa membaca ekspresi orang. Untuk Josie Nott yang ekspresinya selalu sama dari waktu ke waktu, ada satu hal yang berubah ketika dia berada di dekatku. Aku tidak akan memainkan Kartu As yang ini sekarang, tapi aku berjanji akan memainkannya ketika waktunya sudah tepat.
Melihatku yang tak memberikan perlawanan membuatnya mundur sedikit dan tongkat sihirnya semakin menjauh dariku. Aku menyerahkan pisau itu padanya.
"Kau menang." Aku menatapnya dalam-dalam. Orang ini memang aneh. "Tapi harusnya kautahu, Nott, aku tidak pernah kalah."
Dia terlihat ragu. "Terserah." Dan dia segera memasukkan pisau tersebut ke dalam jubahnya lalu meninggalkanku.
Ketika makan siang, aku tidak melihat sosok Rose. Aku tahu namanya semakin sering dibicarakan setelah rumor yang beredar. Dan juga tak ada Malfoy di meja Slytherin. Aku tidak tahu apa yang mereka berdua lakukan. Ya, aku yakin mereka sedang berdua saja di tempat entah di mana yang belum kuketahui.
Setelah menyelesaikan pelajaran yang satu lagi untuk hari ini, aku mengunjungi Menara Gryffindor, dan di sana aku melihat sosok Rose yang baru saja ingin memanjat lukisan Nyonya Gemuk. Aku segera menepuk pundaknya. "Rose, kita bisa bicara sebentar?"
"Err—" ia terlihat skeptis dan kikuk. Tapi pada akhirnya dia mengangguk dan berbalik kepadaku.
Aku berjalan mendahuluinya menuju Menara Astronomi. Ada beberapa hal yang ingin kubicarakan secara pribadi padanya, dan tempat yang tepat adalah tempat tinggi yang sunyi.
Saat aku sudah berada di dalam sana, aku meminta Rose untuk menutup pintu Menara Astronomi. Aku berjalan sampai balkon, menunggu Rose menyusulku sampai sana.
"Kenapa kau tidak ikut makan siang?" Adalah pertanyaan pertama yang kuajukan padanya. Wajahnya sedikit berubah. Aku melihat ekspresinya. Dia terlihat bingung ingin menjawab apa.
Sepertinya ada sesuatu yang dia pikirkan dan tidak ingin ia bagikan padaku.
"Rose."
"Ramalan," jawabnya singkat. Aku mengangguk. Aku tahu memang insiden itulah yang membuat Rose pergi begitu saja. Tapi aku tak menyangka bahwa ramalan tersebut bisa membuat Rose menghambur keluar dan melewatkan makan siang.
"Apa kau marah karena Profesor Trelawney menunjuk dirimu?"
Dia terlihat berpikir sebentar, ragu-ragu ketika ingin memberikan jawaban. Kebanyakan orang-orang bersikap seperti itu ketika sedang dihadapkan denganku.
Untuk sesaat kukira dia tak ingin menjawabku, tapi seharusnya itu tak terjadi karena biasanya dia selalu menjawabku. Hubungan kami seperti itu. Sepupu yang dekat dengan kejujuran yang selalu tertuang dengan berbagai cara. Yang berikutnya terjadi adalah ia mengangguk, dan aku ikut mengangguk, sudah memprediksi jawaban yang ini pula.
"Kenapa?"
Aku selalu bertanya dari satu hal ke hal yang lain, karena aku membutuhkan jawaban sedetil mungkin di setiap kesempatan. Kalau tidak detil, berarti tidak sempurna, dan aku hanya mengetahuinya setengah-setengah. Aku tidak suka dengan hal yang seperti itu.
"Karena itu tidak masuk akal," jawabnya. Binar matanya terlihat tegas dan gerakannya masih seperti biasa, dia tak terlihat berbohong. "Maksudku, kenapa tiba-tiba dia meramalku seperti itu? Tidak lucu, 'kan, kalau tiba-tiba seorang guru meramal muridnya seperti itu dan seenaknya saja mengatakan itu keras-keras di depan kelas. Aku tidak mengerti dengan jalan pikirannya."
Aku diam sebentar, tak memberikan respon untuk pernyataannya yang terakhir.
"Rose," aku berkata lagi, dan mengalihkan pandanganku darinya. Kedua tanganku tertumpu di atas balkon. Sepertinya dia mengikuti jejakku.
"Apa?"
"Terkadang, satu hal bisa membawa satu kejadian lain," suaraku sudah lebih tenang dan perasaan gundahku bisa kutekan kembali sehingga aku bisa tersenyum seperti biasa. "Satu hal menuju hal berikutnya. Satu kejadian menuju kejadian berikutnya. Begitu terus, karena itulah alasan kenapa ada banyak hal-hal kecil yang terjadi sebelum kejadian besar, Rose Weasley."
Itu adalah pikiran yang melintas ketika aku mendengar ramalan tersebut. Firasatku sudah buruk ketika melihat kalung yang dikenakan oleh Josie Nott di lehernya di akhir tahun keempat. Itulah yang kumaksud dengan hal-hal kecil yang akan menimbulkan hal besar. Kalau saat itu aku tidak melihat kalungnya, mungkin aku tidak akan menyelidikinya sampai sejauh ini.
Atau kalau mau ditilik dari jauh lagi, seandainya saja Josie Nott tidak mengikutiku dari kecil, mungkin aku tak terlalu tertarik dengannya sehingga memutuskan bahwa kalung yang ada di lehernya adalah kalung biasa. Namun yang terjadi adalah seperti ini; karena ada hal-hal kecil yang menimbulkan masalah besar.
Aku sadar sedang diperhatikan Rose. Aku meliriknya sebentar, lalu menatap ke depan lagi. "Dan mungkin, kau, Rose, yang akan memimpin satu hal kecil menjadi kejadian besar yang selanjutnya."
Ia tertawa gugup. "Tidak mungkin."
Aku mengeluarkan senyum kecil, "Mungkin saja. Siapa bilang tidak mungkin?"
"Aku," jawabnya lugas dan berhasil menarik perhatianku sehingga aku kembali melihat ke arahnya. Aku tersenyum lagi dan mengangkat tanganku, ingin menyentuh telinga di balik helaian rambut yang berantakan karena angin yang meniupnya. Jariku menyentuh anting-anting yang berada di sana sejak beberapa tahun yang lalu. Anting kecil yang tidak terlihat kalau ia tidak mengikat rambutnya.
Aku menarik tanganku. "Aku ada satu pertanyaan lagi, kalau kau tidak keberatan untuk menjawabnya."
Bahunya menegang. Kurasa dia tahu bahwa itu adalah perkataan yang mematikan, karena ekspresinya lebih khawatir daripada saat pertama kali aku mengajaknya ke sini.
"Ya?"
"Apa kau tertarik dengan Scorpius Malfoy?"
Lagi-lagi aku dan kebodohanku yang muncul di luar dugaan. Aku tidak bermaksud menanyakan pertanyaan ini. Pertanyaan ini terlintas begitu saja ketika aku melihat wajah Rose; mata birunya memantul dan kemudian aku membayangkan dia dan Malfoy berdua di Hutan Terlarang dengan kedua Unicorn yang menemani mereka. Sesuatu di dalam dadaku menghantam keras. Harusnya aku tidak melewati batas, bukan? Kenapa sekarang aku menginjak teritori di luar kemauanku sendiri?
Apa yang sedang aku lakukan?
"Kenapa?"
Dia bukannya menjawab pertanyaanku seperti biasa, namun malah bertanya balik. Jelas hal itu membuatku kecewa. Senyumku lenyap. Aku mengangguk perlahan.
"Aku mengerti." Aku mengangguk sekali lagi dan tidak menatapnya sama sekali. "Kau memang benar-benar tertarik dengan Scorpius Malfoy."
Hal itu memang jelas kalau dilihat dari tatapan tak biasa Rose pada Malfoy sehari-hari. Aku seorang observan; aku sering melihat hal-hal sepele di sekitarku yang jarang diperhatikan orang, termasuk pandangan Rose pada Malfoy. Tatapan itu tak pernah diberikannya padaku. Kalau dipikir-pikir lagi, aku memang bukan siapa-siapa.
Sejak detik itu aku sadar bahwa Malfoy sudah me'menang'kan taruhannya.
"Aku ti—" Ia menghentikan perkataannya karena aku mendekatkan wajahku padanya. Entahlah, akhir-akhir ini aku semakin sering bertindak di luar kemauan tanpa bisa dicegah.
Untungnya akal sehatku masih menolongku dari sana dan aku segera menarik wajahku sebelum bisa menyentuh bibirnya. Aku tersenyum dan melambaikan tangan. "Sampai jumpa, Rose. Aku ada urusan di bawah."
.
Kurasa sudah saatnya aku memainkan kartu Asku ketika aku melihat Josie Nott sedang asyik membersihkan kalungnya di Ruang Rekreasi. Ruang Rekreasi tak terlalu ramai, jadi aku bisa ber'diskusi' dengannya tanpa mengundang perhatian dari banyak orang—seharusnya begitu. Maka aku, berjalan dengan tenang seperti biasa, duduk di sofa yang ada di seberangnya, di dekat perapian. Josie Nott buru-buru menurunkan kalungnya dan melihatku dengan tajam.
Aku tersenyum.
"Halo, Nott."
"Kau masih ingin menerorku? Mau membalas dendam karena dulu aku sering mengikutimu?"
Aku memperhatikan gerak-geriknya—duduk yang menjadi lebih tegak dari sebelumnya, tangan yang menyelusup ke dalam jubah untuk mengambil sesuatu, mungkin berjaga-jaga untuk mengambil pisaunya, dan ekspresi yang lebih keras dari yang biasa. Satu tangan menutupi leher dengan cepat ketika aku melihat ke arah sana.
"Aku ingin bicara denganmu," kataku dengan gestur tubuh yang tak bisa dibantah. Tapi orang seperti Nott sepertinya tak terlalu berpengaruh dengan lencana Prefek yang ada di jubahku. Dia lebih suka bertindak sesuai kemauannya daripada disuruh-suruh oleh orang. "Dan maksudku, benar-benar 'bicara'."
Seakan tahu apa maksudku, ia melihat sekeliling dan Ruang Rekreasi masih terdapat beberapa murid yang berada di sana. Dia mengangkat bahu, "Tak terlalu ramai. Kalau kau mau bicara, bicara sekarang."
Aku menatap matanya. "Kau menyukaiku."
Dia tak berbicara selama beberapa lama. Dia memang orang yang tak suka bicara, tapi melihat ekspresinya berubah drastis, bukan menantang seperti tadi melainkan menjadi lebih pucat dan kaku, membuktikan bahwa aku memang sudah mengeluarkan kartu Asku.
Dan karena efek perkataan itulah, tangannya melemas perlahan dan memperlihatkan kalung yang selama ini selalu dia tutupi di depanku. Aku bisa melihat bagian tengahnya. Persis seperti yang ada di halaman belakang rumahku beberapa tahun yang lalu. Persis dengan kalung yang kuberikan kepada Hugo Weasley. Persis juga dengan kalung yang ditarik oleh pembunuh Hugo Weasley menggunakan sebuah pisau belati, senjata Muggle.
Masih tak ada tanggapan dari Josie Nott, sehingga aku membungkuk dan mendekat padanya, jarak wajah kami lebih dekat dari yang kuperkirakan. Hidungku menyentuh ujung hidungnya, membuatnya tersentak dan sadar apa yang terjadi, lalu menekan punggungnya pada bantalan sofa. Aku mengulurkan tangan dan menyentuh kalung yang berada di lehernya. Embusan napas kami berdua berbaur menjadi satu di depan perapian, di Ruang Rekreasi yang lembap.
Aku menyentuh tengahnya. Tak ada reaksi. Jelas, pemilik aslinya sudah meninggal. Tak ada sihir yang tersisa untuk membentuk inisial nama orang yang menyentuh kalung tersebut.
"Potter—"
Aku tidak menjawabnya. Posisi kami masih seperti tadi, hanya saja kini kedua tanganku terlihat seperti memeluk lehernya—aku sedang berusaha untuk melepaskan kalung tersebut dari pemakainya. Aku belum selesai dengan kegiatanku, namun Josie Nott sudah mencengkeram salah satu lenganku dan dia menyelinap keluar dengan memuntir lenganku. Aku terduduk di tempatnya tadi dan memandangnya yang berlatarkan tungku perapian.
Dia terlihat marah.
… dan sedih.
"Sudah puas, Potter?" nada suara yang dipakai lebih rendah dari biasanya. "Sudah mendapatkan apa yang kaumau? Apa yang ingin kau lakukan sekarang? Melaporkanku?"
Ada banyak hal yang melintas di pikiranku; masih banyak yang tidak kumengerti dan tidak kuketahui. Aku ingin mengetahui detilnya, tapi orang seperti Josie Nott benar-benar susah dimengerti.
Aku berdiri, menyejajarkan diri dengannya, walaupun aku sedikit lebih tinggi. Aku—sebenarnya—tidak tahu harus berkata apa, karena pikiranku dipenuhi oleh banyak kata-kata dan kalimat yang tak tersusun dengan rapi, dan aku bukan tipe orang yang akan berbicara sembarangan.
Dan yang kulakukan adalah pergi dari hadapannya dan memikirkan apa pun yang ada di kepalaku sampai benar-benar jernih. Scorpius Malfoy harus kuajak bicara tentang ini.
.
Makan malam berikutnya, aku mengajak Malfoy untuk bicara.
Tentu saja ajakan itu tidak ditanggapi dengan senang hati, melainkan dengan gerutuan yang tak ada henti-hentinya sampai kami berada di depan Ruang Kebutuhan.
Aku menatapnya langsung. "Aku ingin bicara soal—"
"Rose Weasley?" potongnya dengan cepat, seolah jika aku bertemu dengannya berarti aku akan membicarakan Rose. Tapi ada masalah yang lebih krusial dan menyangkut sepupunya yang berdarah dingin. Dia melanjutkan, "Sumpah, deh, Potter, aku benar-benar muak jika ka uterus menyeretku ke suatu tempat setelah aku menghabiskan waktuku bersamanya. Memangnya apa sih masalahmu? Kau bukan ayahnya atau apa. Berhenti mengikutiku. Dan Rose."
Mataku menyipit. "Aku sama sekali tidak ingin membahas Rose saat ini, tapi kau yang membahasnya duluan, baiklah. Aku ingin mengatakan satu hal: Jauhi Rose. Atau kau akan menyakitinya."
"Aduh." Ia menghela napas. "Kau benar-benar banyak bicara, Potter—" padahal dia yang lebih banyak bicara, "—kalau kau tidak menyeretku ke sini untuk membicarakan Rose, lalu apa lagi?"
Aku terdiam sebentar. Mungkin memulai dengan namanya terlebih dahulu akan menjelaskan duduk masalahnya. "Josie Nott."
"Ha?" Dia terlihat terkejut. Ekspresinya lebih bodoh daripada yang biasanya. Dia tidak menyangka aku akan membahas sepupunya yang satu itu.
"Kelakuannya mencurigakan," ujarku. "Aku memperhatikannya. Setiap tahun semenjak kelas empat. Setiap malam. Setiap hari. Dan observasiku tak sia-sia, Malfoy—"
Dia memasang ekspresi jijik itu lagi.
"Intinya saja," ia menyela dengan tidak sopan.
"Intinya, aku memperhatikan satu hal yang selalu dia punya."
"Pisau," katanya dengan yakin.
Kalau soal pisau berukir yang setiap saat berada di jubahnya, memang sebagian besar murid Hogwarts tahu, tapi tak ada yang berani menyinggung karena tak ingin menjadi korban pisau tersebut. Tapi ada satu hal lagi yang ingin kubahas.
"Kalung." Aku menghela napas. "Kalung itu. Kalung yang kutahu sejak kecil."
"Kalungnya?" ia bertanya, terlihat kebingungan. "Kalau soal itu, aku juga tidak tahu, dan kenapa kau menyeretku ke sini? Kalau kau mau tahu, tanya saja langsung ke orangnya—" entah kenapa dia mengeluarkan seringaian yang tak ada hubungannya dengan masalah ini, "—atau kau takut pada Josie makanya kau tidak berani bertanya?"
Dia mengira aku takut dengan sepupunya? Aku sudah mengonfrontasi gadis itu kemarin, dan yang terlihat marah dan kecewa adalah dia sendiri.
"Tidak usah banyak omong," aku sudah malas berbicara dengan Malfoy, sebenarnya. "Kukira kau sudah dekat dengan Rose, ternyata dia belum memberitahumu soal itu ya?"
"Soal apaan sih?"
"Ternyata kau belum tahu." Aku tersenyum seperti biasa. Kukira Rose sudah menganggapnya sangat dekat sehingga mau menceritakan malam traumatik itu, tapi ternyata belum diceritakan. Mungkin saja Rose memang belum terlalu dekat dengan Malfoy.
Tanpa berkata apa-apa lagi, aku pergi meninggalkannya.
.
Pagi itu kuhabiskan untuk mencari Josie Nott, tapi ternyata gadis itu lebih cepat perginya dari yang lain. Ketika para murid sudah berteriak-teriak soal sarapan, aku memutuskan pencarian Josie Nott bisa dilanjutkan nanti setelah aku mengisi perut.
Mataku menyapu meja Gryffindor dan melihat Rose. Ada yang berbeda dari caranya makan dan caranya berbicara. Aku tak butuh pikir panjang untuk yang satu ini. Aku berjalan dari meja Slytherin ke meja Gryffindor dan duduk di sebelahnya, mengabaikan beberapa tatapan tajam yang ditujukan padaku.
"Al," ia menyapaku. Isi piringnya tinggal setengah.
Aku menatapnya tepat di mata. "Kau sakit."
Dia tak menjawab dan menghabiskan panekuk yang tadinya masih tertinggal di piring. Lalu ia meneguk minuman di pialanya. Dia ingin mengulur-ngulur waktu, aku tahu itu, sayangnya aku tidak akan pergi sebelum dia memberitahuku sesuatu.
Mungkin ada yang kulewatkan tadi malam sehingga terdapat perubahan pada Rose Weasley.
"Aku baik-baik saja," ia menjawab dengan singkat. "Dan kau tidak memakan sarapanmu."
"Sarapanku tidak penting jika dibandingkan kesehatanmu." Aku berhenti sebentar, menunggu reaksinya, namun dia masih diam. "Kubawa kau ke Madam Pomfrey sekarang."
"Al, aku bukan seseorang yang harus dijaga terus menerus. Dan aku bisa mengurusi diriku sendiri."
Kurasa aku memang benar. Ada hal yang terlewatkan olehku. "Kau menghabiskan waktumu dengan Scorpius Malfoy."
"Kau mengikutiku?"
Berarti itu benar. Tentu saja aku tidak mengikutinya. Terkadang, hanya dengan pancingan kata-kata sudah cukup untuk mendapatkan penjelasan yang diinginkan.
"Aku tahu semuanya," aku berkata dengan tenang. "Tapi kau tidak tahu sesuatu tentang … Rose, apa kau sadar bahwa sepupu Malfoy berhubungan dengan—"
"Lihat siapa yang aku temukan sekarang." Seseorang memotong perkataanku. Hanya satu orang yang kukenal berani menyelaku dengan kurang ajar seperti ini. Malfoy, masih tak tahu adat, duduk di tengah-tengah antara aku dan Rose. Terpaksa aku harus tergeser untuk memberi tempat padanya. Ia berbicara padaku. "Halo, Potter. Sayang sekali sarapanmu harus habis di perutku. Omong-omong, kau tidak lihat ada yang membuat ulah di sebelah sana?"
Aku menoleh. Tidak ada kekacauan di sana, dan aku tidak akan tertipu dengan trik murahan itu, tapi aku ingin segera pergi dari sana kalau sudah ada Malfoy. Maka aku bangkit berdiri dan pergi.
Namun tak jauh aku pergi, aku menangkap pergerakan yang begitu cepat—Rose limbung dari tempat duduknya dan hampir jatuh, namun Malfoy dengan cepat menangkap Rose dan menggendongnya, lalu membawanya pergi dari Aula Besar.
Aku tidak melihat Rose sepanjang hari itu, dan aku tahu dia sedang berada di Hospital Wing. Beberapa kali kulihat Malfoy bolak-balik dengan gelisah di koridor atau pun terlihat tak bersemangat di kelas, dan beberapa kali dia melirik pintu kelas, ingin cepat-cepat keluar.
Dan aku tidak melihat Josie Nott sama sekali. Entah ke mana dia membolos; atau dia memang sengaja menghindariku, tapi dia tidak bisa selamanya begitu. Tinggal selangkah lagi dan masalah ini akan beres. Setelah aku tahu semua detil cerita pembunuhan Hugo dari sudut pandangnya, maka aku harus mencari solusi agar kejadian ini tak terulang lagi.
Sorenya, setelah semua pelajaran selesai, aku mengerjakan tugas-tugasku di Ruang Rekreasi, namun masih tak terdapat tanda-tanda gadis itu berada di sana. Aku memutuskan bahwa Josie Nott memang benar-benar sedang menghindariku.
Sudah kubilang bahwa aku tidak akan melepaskan pandanganku darinya. Sebentar lagi aku akan bertemu dengan dia, walaupun mungkin tempat itu tak terduga.
Malamnya, aku pergi ke Menara Gryffindor dengan tujuan ingin menjenguk Rose. Kudengar dari beberapa murid bahwa Rose sudah keluar dari Hospital Wing. Rose Weasley menjadi agak populer akhir-akhir ini karena kedekatannya dengan Malfoy, apalagi Malfoy yang mengantarkannya ke Hospital Wing tadi pagi.
Dan instingku tidak pernah salah. Josie Nott berdiri di sana, berbicara dengan seorang gadis dari Gryffindor yang sering kulihat berbicara dengan Rose di Aula Besar atau pun di pelajaran saat Slytherin mendapatkan kelas dengan Gryffindor. Ketika aku mendekati mereka, gadis tersebut sudah menghilang di balik lukisan.
Aku menepuk pundaknya dan dia menghadapku. Ia terkejut.
"Kita tidak bermain kucing-kucingan lagi, Nott," aku berbisik tepat di telinganya. "Kalau kau masih mau menghindariku, maka aku benar-benar tidak akan melepaskanmu lagi."
Dia tak terlihat senang dengan perkataanku. "Aku tidak menghindarimu. Jangan terlalu percaya diri, Potter. Aku punya banyak urusan, bukan hanya memikirkan tingkah lakumu saja."
Kata-katanya yang tajam seperti ingin menyindirku yang terus-menerus mengurusi tingkahnya. "Urusan untuk membunuh orang lain, mungkin?"
Dan saat itu seseorang keluar dari lukisan. Rose Weasley. Aku melihat ke arahnya, ingin menyuruhnya pergi dengan tatapan mata yang kuberikan. Tapi dia terus mematung. Josie Nott sudah menjauh dariku dan ingin menerjang Rose. Aku mengeluarkan tongkat sihir yang berada di dalam saku dan mengucapkan Petrificus Totalus untuk menghentikan tindakan gadis brutal itu.
Aku ingin bicara pada Rose, namun seseorang sudah muncul lagi. Siapa lagi kalau bukan orang resek yang ingin terus-terusan berada di dekat Rose. Dia mengerutkan hidung ketika melihat Josie Nott yang bertubuh kaku karena mantraku. Scorpius Malfoy mengeluarkan tongkat sihirnya dan menghentikan efek mantra itu sehingga Josie Nott kembali seperti semula. Sebelum ia sempat bertindak, aku mendorongnya ke samping supaya pisau yang teracung tak terkena leher Rose.
"Siapa yang memanggilmu keluar?" Aku bertanya setelah ada keheningan yang panjang. "Aku tidak merasa aku memanggilmu keluar, apalagi dengan kondisi kau masih sakit."
Tadinya aku memang ingin menjenguknya, tapi setelah keberadaan Josie Nott di sini, aku ingin mengurusi beberapa hal dengannya, dan ternyata Rose keluar tanpa aku memanggilnya terlebih dahulu.
"Aku baik-baik saja," dia masih bersikeras untuk mengatakan hal itu. "Kata teman sekamarku tadi ada yang memanggilku keluar—"
"Aku," sambar Josie Nott dengan cepat. "Ada yang perlu kita bicarakan."
Aku menatap Josie Nott dan dia membalas balik; seratus persen perlawanan jika matanya sudah menentang seperti itu. Jadi dia memang senang untuk membuat ulah. Kalau begini, aku sulit untuk mengetahui langkah selanjutnya yang ingin ia ambil.
"Sebenarnya ada apa?" Rose bertanya, kemungkinan besar kepadaku. Kemudian matanya melihat leher Josie Nott. Dengan itu tak ada yang bisa kujelaskan lebih lanjut.
"Ada yang bersedia menjelaskan sesuatu di sini?" Malfoy angkat bicara.
"Bukan urusanmu, Malfoy," aku menghardiknya karena kehadirannya benar-benar tak diundang di sini. Aku melihat Josie Nott yang sudah saling bersitatap dengan Rose.
"Kau ingin melawanku juga?" Rose terlihat lebih tegas dan siaga, "Aku bisa melawan, kok."
Melihat situasi yang makin tak terkendali, aku mulai memikirkan hal yang bisa membuat situasi ini menjadi lebih terkontrol. Maka aku berbicara pada Rose bahwa ini bukan urusannya, tapi yang terjadi dia memekik dan bisa dikatakan membentakku.
"Dia mempunyai urusan denganku," aku menyahut dengan tenang. "Aku berjanji akan menyelesaikan ini, dan kau harus jauh-jauh sekarang. Oke?"
Dia menarik napasnya dalam-dalam. "Jadi selama ini kau sudah tahu. Dan kau tidak mau memberitahuku."
Sebenarnya ini bukan sepenuhnya salahku. Rose sudah pernah bilang bahwa dia tidak mau mencari tahu soal kematian Hugo, karena hal itu menyakitinya lebih dari apa pun. Maka akulah yang mencari, dengan harapan aku bisa menemui jawaban yang sebenarnya. Namun yang kudapat adalah hardikan seperti ini. Aku menjelaskan hal itu kepadanya. Ia mundur perlahan.
"Baik. Aku mengerti. Aku akan menjauh. Kau akan menangani urusannya. Oke. Aku pergi."
Suaranya gemetar dan sebentar lagi (mungkin) air matanya akan tumpah. Ia berbalik dari sana dan berjalan dengan cepat meninggalkan kami. Scorpius Malfoy menyusul Rose dan meninggalkan aku berdua dengan sepupunya.
Pisau itu masih berada di tangannya. Posisinya sekarang defenseless, karena ekspresi wajahnya kosong dan memandang tempat Rose berdiri terakhir kali. Dengan cepat aku menyambar pisau itu dan memasukkannya ke sakuku.
"Masih tak ingin bicara?" aku bertanya setelah melihat dia tersentak karena perlakuanku yang tiba-tiba. "Kau harus menjelaskan semuanya sekarang."
Aku menarik lengannya yang dingin. Jemariku berusaha menggenggam tangannya erat-erat supaya dia tak punya kesempatan untuk kabur. Tapi dia tak terlihat ingin kabur. Dia berjalan sedikit di belakangku, sampai akhirnya kami berada di sebuah kelas kosong dan aku mengunci pintunya.
"Apa lagi yang perlu kujelaskan?" Ia melirik jubahku. Mungkin ia merasa tak berguna karena tak ada pisau berharganya itu di sisinya. "Kau sudah tahu semuanya. Kenapa kau butuh penjelasan?"
Dia berdiri di membelakangi pintu sementara aku menghadangnya—sehingga kami saling berhadap-hadapan dengan jarak yang dekat. "Aku masih butuh jawaban untuk pertanyaanku yang pertama kali."
Kilas balik antara pepohonan dan daun-daun, kilatan mata yang tajam, dan suara gesekan sepatu dengan tanah yang kasar kembali dalam ingatanku. Pertemuan pertamaku dengan Nott. Kenapa dia mengikutiku? Dia tak pernah menjawabnya dengan benar.
"Aku—" Ia tampak kehilangan kontrol dan ekspresinya berubah—dari dingin menjadi datar menjadi … menjadi lebih berekspresi. Dia terlihat marah dan kecewa dan matanya berubah lagi ketika menatapku. Aku tahu tatapan itu.
Pada akhirnya dia bercerita. Cerita tentang dia yang tak punya kegiatan, yang pada akhirnya tertarik padaku dan mengikutiku ke mana-mana. Ia melihat kalung dan anting-anting itu. Ia menyiksa dirinya sendiri dengan pisau dan menyayat-nyayat tangannya. Ia membunuh Hugo. Telingaku berdenging. Informasi sebanyak itu harusnya tak boleh kucerna dengan langsung seperti ini, karena informasinya akan menjadi kusut dan aku susah menatanya di kepalaku.
Aku terdiam setelah mendengar ceritanya yang panjang dan napas kami yang menjadi pengisi sela-sela keheningan. Aku menatap matanya lagi.
"Kau menyukaiku." Aku mengatakan hal itu untuk yang kedua kalinya. Dia tak pernah mengiyakan dan tak membantah, jadi aku bertanya-tanya apakah itu hal yang benar atau keliru.
Ia mengembuskan napasnya perlahan.
"Dan kalau iya, kenapa, Potter? Kau juga tak pernah melihatku sebagai 'Josie Nott' seorang manusia normal, melainkan Josie Nott yang sudah membunuh sepupumu. Hal tentang aku menyukaimu atau tidak bukan hal yang berarti lagi. Itu percuma, dan lebih baik tak usah bicarakan soal itu."
"Kau harus berjanji satu hal."
Ia tak menyangka aku akan menanggapi dengan lima kata tersebut. "… Apa?"
"Kalau kau ingin melakukan sesuatu … yang merisikokan nyawamu, tapi menebus semua kesalahanmu, maka aku tidak akan melihatmu sebagai Josie Nott yang merupakan seorang pembunuh."
Sebelum aku menjelaskan apa yang kumaksudkan, perlahan aku menggunakan kedua tanganku untuk melepaskan kalung yang masih terlingkar di lehernya. Untuk kali ini dia menurut dan tak memberontak. Kalung itu terlepas dengan mudah dan kutaruh di dalam saku supaya aman.
Kujelaskan tentang Sumpah Tak Terlanggar yang ingin kulakukan dengannya. Yang perlu kulakukan sekarang adalah pergi ke Ruang Rekreasi Slytherin untuk mencari Pengikat yang tepat.
.
Sesampainya di Ruang Rekreasi Slytherin, ada Malfoy yang buru-buru menghadangi jalan Josie Nott dan meminta penjelasan atas segala hal.
"Kau tahu pukul berapa sekarang?" aku bertanya padanya ketika aku merasa dia sudah kebanyakan bicara. "Pukul dua belas kurang sepuluh menit, Mr Malfoy. Kau kira aku membolehkanmu untuk berkeliaran dengan Rose malam-malam begini?"
"… tapi kau juga berkeliaran dengan Josie!" dia membantahku.
"Aku punya alasan yang cukup baik untuk itu," aku menjawab dengan tenang seperti biasa. "Namun untuk kali ini saja, poin kedua asrama kau dan Rose tidak kupotong. Masalah ini memang agak rumit, dan sebenarnya ini antara aku dan Nott—"
"Masalah Josie adalah masalahku juga. Dan apa kau tidak tahu betapa frustrasinya Rose ketika kau berada di sana bersama Josie, menyebutkan soal pembunuhan yang sudah lama ingin dilupakannya?"
"AKU TAHU!"
Aku lepas kendali lagi. Aku tidak pernah membentak orang. Semua tingkah lakuku sudah terpola dan 'rapi', tidak pernah acak-acakkan seperti ini. Aku cepat-cepat berkata lagi, "Dan ini sama sekali bukan urusanmu, Malfoy," dengan nada yang lebih tenang.
Tapi dia masih terus-terusan ingin menyanggah.
"Bukannya sudah kubilang bahwa urusan Josie adalah urusanku juga? Kenapa kau mengurusi urusan Rose padahal itu tak ada hubungannya denganmu? Itu karena kalian bersepupu, 'kan? Aku juga."
"Sudah kubilang juga dari awal kalau masalah ini ada hubungannya dengan aku dan Nott, bukan dengan Rose."
"Tapi adiknya terbu—"
"Potter," Josie Nott menyela. Aku menatapnya heran. Dia menyelaku. Kukira hanya Malfoy yang berani menyelaku seperti itu. Alisku terangkat. "Scorpius benar. Kau harus menceritakan ini padanya."
Aku memikirkan hal ini sepenuhnya. Kalau misalkan Malfoy mengetahui detil permasalahan ini dari awal, ada kemungkinan besar dia akan menceritakan ini pada Rose … tapi kalau Malfoy benar-benar menyukai Rose dan mengerti sifat dan seluk-beluknya, maka dia tidak akan cukup bodoh untuk menceritakan ini.
Lagi pula jika dia tahu soal masalah ini, dia akan menjadi lebih tahu dan tidak asal omong di depan Rose, karena hal ini merupakan salah satu hal yang sensitif dan tidak bisa dibicarakan dengan banyak orang.
… dan aku juga butuh Pengikat untuk rencanaku esok hari.
Aku menarik napas dalam-dalam. "Aku akan membiarkan Nott menceritakan masalah ini dari awal." Setelah mengatakan itu, aku mengambil posisi duduk di sofa dekat perapian. Sofa yang sama ketika aku memainkan kartu Asku dan melihat kalung Nott yang selama ini tertutupi telah terlihat.
Malfoy duduk di seberang dan Josie Nott duduk di sebelahku. Aku menyusupkan satu tangan ke dalam jubah, berjaga-jaga kalau tindakan Josie Nott mulai aneh-aneh lagi. Kemudian dia memulai ceritanya dengan dua kata, "Aku cemburu."
Cerita itu mulai mengalir keluar dari mulutnya. Suaranya juga cenderung datar, sama seperti bagaimana dia berbicara biasanya, tapi kali ini ada kepedihan yang tercampur di sana, aku tahu, aku tahu, karena aku selalu tahu. Tepat di bagian ia ingin menceritakan soal pertemuan kami yang pertama, aku menggelengkan kepala. Tidak perlu lah detil sekecil itu dibagikan kepada Malfoy.
Maksudku, ada kalanya kita mempunyai kenangan dengan orang lain, kan. Hanya dengan orang itu, dan tidak perlu dibagikan kepada orang lain. Itulah hal yang bisa kunamakan dengan rahasia. Rahasia tidak dibagi-bagikan.
Josie Nott sudah selesai dengan bagian 'rencana malam itu' dan mendadak ia tak bisa melanjutkannya lagi. Ia mengempaskan punggungnya ke sofa keras-keras dan menggelengkan kepala berulang kali, lalu berkata kepadaku, "Aku tidak bisa menceritakannya lagi, Potter. Kalau kau belum puas karena sudah menyiksa mentalku hari ini, kau lebih kejam dari aku."
Dia menekankan kata kejam. Aku mengerti.
Sebelah tanganku yang tadi berada di dalam jubah kukeluarkan dan menatap ke arah Malfoy. Ia membalas tatapanku dengan tatapan menantang yang serupa. Aku mengambil alih cerita.
"Menurut penuturan Nott yang kudengar tadi," gumamku, "Ia menemukan Hugo malam itu sedang bermain-main di luar. Bukan main-main, entahlah—dia sedang mencoba sesuatu di halaman, mungkin menangkap tanaman-tanaman liar atau apa di The Burrow, karena di sana banyak makhluk-makhluk yang nakal, atau dia tidak bisa tidur. Dan itu semua terjadi."
Malfoy mengerutkan dahinya seolah tak percaya. "… begitu saja?"
"Begitu saja."
Selesai memperhatikan reaksi Malfoy yang setengah kebingungan dan setengah marah, aku kembali menyusupkan tangan ke dalam jubah. Bukan untuk mengeluarkan tongkat sihir, melainkan memperlihatkan kalung yang sudah kuambil kembali kepada Malfoy.
Dia sepertinya tahu rahasia kalung tersebut, sehingga secara spontan dia menyentuh bagian tengahnya. Namun tak ada yang terjadi. Pada akhirnya dia mengembalikan kalung itu padaku.
"Lihat itu, Malfoy? Kekuatan sihirnya hilang setelah pemilik aslinya sudah tak ada lagi di dunia ini."
Butuh waktu agak lama sampai ia kembali merespon. "Kau menunggu waktu sampai beberapa tahun untuk bisa mengetahui ini semua, Potter?"
"Ada alasan-alasan tertentu kenapa aku mengonfrontasi sepupumu saat ini, Malfoy. Sekarang kau sudah tahu masalahnya, lalu apa? Masih mau protes lagi?"
Setelahnya Josie yang buka mulut. Ternyata dia … 'takut' Malfoy akan menjauhinya. Walaupun nadanya terdengar seperti memerintah dan acuh tak acuh, tapi bisa kurasakan dia benar-benar takut Malfoy akan menjauhinya karena sifatnya yang benar-benar aneh dan eksentrik.
Malfoy memintanya untuk berjanji satu hal. "Jangan menyayat-nyayat pergelangan tanganmu lagi."
"… kalau poin itu, aku setuju," sambungku dengan cepat. Itu terpikir begitu saja—bagaimana gadis itu sering kali menyayat-nyayat tangannya, namun malah senang dengan kelakuannya yang abnormal. Mereka berdua menatapku tak percaya.
Setelah berulang kali Malfoy akhirnya berhasil meyakinkan Josie Nott untuk berjanji, aku menyuruh gadis itu untuk kembali ke kamarnya karena aku masih ingin mendiskusikan sesuatu dengan Malfoy. Tentu … ke'kalah'anku yang sudah diketahui hasilnya jauh-jauh hari, walaupun aku tidak menyebutkan itu keras-keras, aku hanya berharap si Malfoy ini mengerti maksudnya.
Lagi-lagi yang keluar adalah ekspresi dungu. Tapi aku yakin dia mengerti—dia tidak sebodoh penampilannya. Aku memberikan kata-kata terakhir dan mendahuluinya menuju kamar laki-laki.
.
Keesokan harinya, setelah makan siang, aku mencari Rose Weasley dari ujung koridor ke ujung koridor lainnya. Dari kelas ke kelas, bahkan mengunjungi Menara Gryffindor, namun aku tak dapat menemukannya. Setelah berhasil menanyai salah satu adik kelas—yang sepertinya agak malu-malu ketika berbicara denganku—aku baru mengetahui bahwa Rose berada di tepi Danau Hitam. Untuk apa dia berada di sana?
… oh ya, kencannya bersama Malfoy. Mereka sekarang memang sudah berpacaran, 'kan?
Sepertinya aku memang tidak berhak untuk mengganggu hubungan mereka. Bukan berarti aku berniat untuk mengganggu. Walaupun keadaan kemarin Rose meninggalkanku begitu saja di depan Menara Gryffindor, kurasa itu wajar karena dia baru mengalami shock.
Ketika aku sampai di tempat yang dimaksud, ada Malfoy dan Rose yang sedang berbincang-bincang. Malfoy melihatku terlebih dahulu karena aku berjalan di belakang Rose. Aku memanggilnya, "Rose!"
Rose melihat ke belakang, terkejut melihat kehadiranku yang tiba-tiba.
"Al!" Dia pulih dan berdiri, menyejajarkan dirinya denganku.
Aku hanya melirik Malfoy sekilas, tak ingin menganggap eksistensinya ada, lalu berkata, "Ikut aku sebentar." Rose mengikutiku dan aku lihat dia sempat melambaikan tangannya pada Malfoy.
Setelah berada agak jauh dari Malfoy dan kerumunan orang yang ingin tahu dan memanjang-manjangkan leher ataupun mendekatkan telinga untuk mendengar pembicaraan kami, aku menarik tangan Rose sehingga telapak tangannya terbuka dan menarik keluar sesuatu dari jubahku.
Aku menyerahkan kalung itu padanya.
Dia sepertinya tak bisa menerima kejutan lebih dari ini. Mulutnya terbuka lebar dan untuk beberapa saat yang ia lakukan adalah memelototi kalung itu selama bermenit-menit.
Aku tersenyum melihat reaksinya yang seperti itu. Aku tahu, itu bukan terkejut yang kesal atau terkejut yang ingin melampiaskan kemarahan, tapi lebih kepada, terkejut karena senang. Ia mengangkat kepalanya, mengepalkan tangannya sehingga kalung itu berada dalam genggamannya erat-erat dan memelukku.
Rasanya menyenangkan dipeluk seperti ini kalau aku sudah bisa menata perasaan dan bisa lebih baik dalam mengungkapkan ekspresi. Aku membalas pelukannya dengan singkat dan menarik diri, terkadang aku takut aku melangkah di luar batas.
Senyumnya merekah. "Aku ingin minta maaf karena kelakuanku yang kemarin. Aku tahu aku tidak sopan, tapi kau sudah menyerahkan kalung ini—"
"—itu memang hakmu. Itu milik adikmu. Walaupun kau tak tahu apa yang terjadi … kurasa kau tidak mau tahu, 'kan?"
Rose menggelengkan kepalanya dengan mantap. "Biarkan saja itu menjadi misteri."
Aku mengangguk dan tersenyum puas. Setelah mengucapkan beberapa patah kata, aku pergi dari sana dan mengurusi satu hal yang memang harus kuurus dengan Josie Nott.
.
"Jangan mencarinya," aku berkata pada Josie Nott di sebuah kelas kosong yang terletak di utara. Josie Nott terlihat sebal karena harus mengikuti semua kata-kataku, tapi dia mendengarkannya juga tanpa banyak protes. "Aku yakin dia yang akan mencarimu. Kalau kau mencarinya, dan kalau dia menolak, maka satu-satunya calon Pengikat yang kita punya tidak akan bisa melaksanakannya."
Instingku tak pernah salah. Setelah beberapa menit Josie Nott menunggu di luar sana, seseorang yang kuduga akan mencarinya benar-benar datang ke sini. Gadis itu mengatakan beberapa hal yang kutangkap sebagian seperti—aku benar-benar butuh bantuanmu dan Malfoy masuk ke dalam kelas, ekspresinya masam sekali melihatku ada di sana.
"Terima kasih sudah mau datang, Malfoy."
"Aku tidak ingin datang jika ada kau. Josie, ada apa lagi ini?"
Josie Nott, seperti yang sudah kuminta, mengeluarkan tongkat sihir dan mengunci pintu kelas dengan cepat, juga menggunakan proteksi yang tidak hanya terdiri dari satu mantra. Itu sudah cukup untuk membuat Malfoy tertahan di sini tanpa perlawanan. "Aku ingin melakukan sesuatu yang mungkin tak akan kau izinkan, tapi aku benar-benar membutuhkan bantuanmu, jadi aku minta supaya kau tidak kabur."
"Apa?"
"Aku ingin melakukan Sumpah Tak Terlanggar."
Aku sudah menyiapkan mental untuk apa pun yang akan Malfoy caci maki dan sumpahkan kepadaku. Beberapa detik kemudian dia menatapku dan mengeluarkan tongkat sihir. "Kau bajingan! Apa kau memaksa sepupuku untuk melakukan ini—"
"Scorpius."
"Malfoy, kau tahu bahwa dia berhutang satu nyawa pada dunia, 'kan?"
Ocehanku memang benar. Dia terdiam sebentar. Tapi ada satu hal lagi yang ingin kulakukan dengan Sumpah Tak Terlanggar. Tidak hanya berusaha membuat Josie Nott untuk menebus kesalahannya, tapi ….
"Kau mendendam karena nyawa Hugo dicabut olehnya? Kau ingin dia mengganti rugi dengan nyawanya?"
"Aku tidak mendendam, aku hanya mengatakan kenyataan," aku berkata dengan tenang. "Aku hanya ingin memastikan semua permasalahan ini beres sebelum kita sibuk menghadapi OWL. Nott sendiri sudah setuju untuk melakukannya."
"Kau memaksanya."
"Scorpius, aku mau melakukan ini."
"Kau memaksanya!"
Aku benar-benar benci drama, apalagi dari orang yang dramatik seperti Malfoy. "Kau tuli? Tidak bisa mendengar kata-katanya tadi?"
Dia terdiam lagi.
"… Apa yang ingin kau sumpahkan, Josie?"
"Yang perlu kau lakukan hanyalah menjadi Pengikat, Scorpius." Josie Nott memandangnya dengan dingin. "Tolong aku untuk kali ini saja, dan setelahnya aku tidak memintamu hal-hal yang aneh-aneh lagi."
"Kau harus berjanji dulu untuk tidak menyayat-nyayat tanganmu lagi."
"Itu—"
"Kalau kau tak bisa, aku juga tak bisa. Sesederhana itu."
Malfoy sebetulnya tak perlu khawatir soal itu, karena solusinya pun sudah kupikirkan. Sekalian dengan Sumpah Tak Terlanggar. Solusi yang sederhana dan mudah, kalau Malfoy tak mempersulitnya dan bersedia membantu dengan cepat.
Kepala dengan rambut pirang tertoleh padaku. Matanya mengandung kebencian yang mendalam. Tidak apa-apa. Dia mungkin membenciku sekarang, tapi kalau dia tahu apa yang sedang ingin kulakukan, maka aku berani bertaruh bahwa nanti, atau suatu saat, dia akan berterima kasih.
Pada akhirnya aku dan Josie Nott berdiri berhadap-hadapan. Malfoy mencabut tongkat sihirnya. Ternyata dia mengetahui tata cara kerja Sumpah Tak Terlanggar karena dia tak terlihat ragu-ragu. Aku mengulurkan tangan dan dijabat Josie Nott dengan pelan. Aku menggenggam tangannya erat, sehingga ia pun terbawa suasana dan berpegangan erat denganku. Malfoy meletakkan tongkat sihirnya di tangan kami yang bersatu.
Aku mulai berbicara, "Maukah kau, Nott, menjauh dari Rose Weasley apa pun yang akan terjadi nantinya?"
"Aku mau."
Lidah api tipis cemerlang meluncur dari tongkat sihirnya dan meliliti tangan kami seperti kawat panas merah. Aku melanjutkan, "Dan maukah kau untuk menjaga semua rahasia yang ada bersamamu dan aku serta siapa pun yang mengetahuinya dari Rose Weasley?"
"Aku mau."
Lidah api kedua meluncur dari tongkat sihir dan berjalin dengan yang pertama, sehingga menjadi rantai indah yang membara. Sumpah yang terakhir mungkin akan mengagetkan mereka berdua, terutama Josie Nott, karena aku tidak memberitahu soal ini padanya.
"Dan … maukah kau untuk menghentikan semua kegiatanmu yang berhubungan dengan pisau, benda tajam, yang berpotensi untuk membunuh, untuk selama-lamanya?"
Agak lama jawaban untuk pertanyaan yang terakhir. Tangannya yang dingin lebih kaku dari sebelumnya. Tapi dia tidak menarik tangannya sama sekali. Kemudian dia menjawab, "Aku mau."
Lidah api ketiga meluncur dan berjalin dengan yang lain, mengikat kuat tangan kami berdua seperti tali. Ketika Malfoy mundur, tali yang kuat itu hilang dari tangan kami, namun efeknya sampai ke seluruh tubuhku. Aku tidak tahu dengan Josie Nott, yang jelas gadis itu terkena efeknya juga.
Aku mengontrol wajahku sehingga bisa terlihat tenang.
Kutunggu Malfoy untuk mengatakan sesuatu. Jelas dia tak menyangka ucapanku untuk sumpah yang terakhir. Mungkin dia kira yang kupedulikan hanyalah Rose dan Hugo, adik sepupu yang sudah meninggal. Tapi harusnya dia juga tahu bahwa aku juga peduli dengan Josie Nott.
Dia melihat wajahku, wajahnya sendiri aneh ekspresinya, antara bingung, senang, dan marah. "Terima kasih."
Sudah kubilang bahwa suatu saat dia akan berterima kasih padaku. Ternyata jarak 'suatu saat' itu amatlah dekat. Aku tidak menjawab kata-katanya.
Setelahnya, aku melepas mantra-mantra yang sudah Josie Nott berikan kepada pintu supaya Malfoy bisa keluar. Ia keluar setelah melihat ke arah kami berdua untuk terakhir kalinya. Kini tinggal aku berdua dengan Josie Nott. Ketegangan di antara kami muncul lagi.
"Kau sudah menepati janjimu." Aku melangkah agar bisa berhadapan lebih dekat dengannya. Kuucapkan kedua kata yang jarang kuucapkan. "Terima kasih."
Dia menunduk, memperhatikan kedua ujung sepatu kami yang sudah bersentuhan. "… Apa kau masih akan melihatku sebagai, Josie Nott seorang pembunuh?"
Aku meletakkan satu tanganku di bawah dagunya untuk mengangkat kepalanya. Kepalanya terangkat, aku memperhatikan kedua mata hitamnya yang berkilat dan beberapa anak rambut yang menghalangi pandanganku akan wajahnya.
"Aku akan melihatmu sebagai seorang Josie Nott—penyihir normal, seperti yang lainnya." Aku menahan napas ketika bisa merasakan deru napasnya juga di leherku. "Walaupun … kau memang berbeda dari yang lainnya."
Dia menatap mataku. Kali itu aku tidak bisa membaca wajahnya karena aku sendiri tidak tahu apa yang kupikirkan. Aku mengulurkan tanganku, telapak tanganku terbuka.
"Aku minta pisaumu."
Dia tampak ingin protes, tapi kemudian dia berubah pikiran dengan menyusupkan satu tangan ke jubah dan menyerahkan pisau berukir itu di tanganku. Bagus, dia masih ingat dengan sumpah yang dilakukan beberapa menit yang lalu. Aku menjauh darinya dan meletakkan pisau tersebut di atas salah satu meja, dan dengan tongkat sihir aku menggumamkan, "Reducto!"
Pisau itu hancur tak bersisa, hanya ada abu sebagai pertanda pisau itu pernah berada di sini.
Kami tidak berbicara untuk beberapa saat. Tanganku hanya bergerak untuk mengembalikan tongkat sihir ke dalam saku, selain itu aku juga tak melakukan apa pun.
Aku berbalik badan dan kembali menoleh kepadanya. "Ada hal lain yang ingin kau bicarakan … Josie?"
Tentu, itu adalah loncatan yang jauh dan terlalu drastis sebagai awal; aku memanggilnya menggunakan nama depan. Di luar dugaanku, wajahnya rileks dan tidak menunjukkan tanda-tanda terkejut.
"Tidak ada. Aku ingin keluar sekarang, Potter, kalau tidak ada urusan lagi. Urusan kita sudah selesai."
Aku menautkan kedua alis. "Jadi setelah aku sudah memanggilmu dengan nama depan, kau masih memanggilku Potter, dan kau masih berusaha menghindariku …."
"Aku tidak menghindarimu."
"Lalu?"
"Hanya berusaha untuk mengubah perasaanku kepadamu. Aku tahu kau menyukai Rose Weasley, jadi daripada aku yang—"
Aku tidak membiarkannya terus mengoceh begitu saja. Aku mengelus tulang pipinya menggunakan ibu jari, dan itu cukup untuk membuatnya berhenti bicara.
"Yang harusnya melewati proses situ adalah aku," aku berbisik di telinganya. "Kau tak perlu mengubah perasaanmu." Lalu aku mundur dan tersenyum padanya.
Josie Nott, lagi-lagi bertindak di luar ekspektasiku. Dia menarik ujung bibirnya—terasa kaku, karena aku tidak pernah melihatnya tersenyum, tapi dia yang sudah mau memberikan seringaian saja sudah cukup. Setidaknya aku tahu, perlahan-lahan dia juga ingin mengalami perubahan.
Aku masih berdiri berlama-lama di sana, tidak mau keluar dari kelas ini. Josie pun sama, menatapku begitu tajam tanpa ada keinginan untuk melangkah menjauh dariku.
"Aku akan pergi sekarang," ia berkata begitu setelah aku memergokinya memperhatikanku terlalu lama. Ia menundukkan kepalanya dan membuka pintu kelas dengan terburu-buru, tangannya tidak terlalu luwes, dan keluar dari pintu lalu menutup pintu tersebut terlalu kencang.
Aku membiarkan pintu itu tertutup, mengurung diriku di dalam sana dengan berbagai pikiran yang penuh di kepala.
.
Aku bertemu dengannya lagi ketika aku selesai makan malam. Josie Nott berdiri dengan kepala yang agak tertunduk. Aku tidak menyangka dia adalah anak yang pemalu ketika melihat sifat brutalnya.
Dia seperti ingin berbicara sesuatu. Aku menunggu di depannya dengan sabar, walaupun aku masih punya beberapa urusan yang harus kukerjakan—karena kesibukanku sebagai Prefek, bukan karena aku masih menyelidiki hal-hal yang lain.
"Kalau kau sudah selesai memproses semua perasaanmu menjadi hal yang berbeda …" ia berkata dengan pelan, nyaris berbisik. Aku tak akan bisa mendengarnya kalau bukan karena lorong di sekitar kami sepi. Ia melanjutkan, "… maka tolong beritahu aku, Albus."
Tak butuh lama bagiku untuk menjawab. "Tentu."
.
.
.
Special Thanks for:
Ein Mikara, Wickey-Pooh, Clairy Cornell, bareee, dan ElectraMalfoy yang sudah mau meluangkan waktu untuk memberi review, juga dihaturkan ucapan terima kasih sebanyak-banyaknya yang sudah mau fav!
.
notes:
so, this is it: bab dari sudut pandang Albus Potter dan semua yang dipikirkannya, begitu juga dengan perasaannya. bab selanjutnya adalah epilog! ada yang bersedia menebak bab berikutnya memuat sudut pandang dari siapa?
trims yang sudah mau baca (apalagi review + fav + alert) ^^
love,
qunnyv19
