.
.
Out of the Blue
==.==
DISCLAIMER chara NARUTO : Masashi Kishimoto
DISCLAIMER STORY : Spica Zoe
Cover Art : CharaKauffmann
Warning : Affair, OOC, NTR, Sakura Centric,
.
.Cerita mengandung unsur antagonis moral.
.Sebab itu tolong jangan benci chara di dalamnya.
Sejalan dengan rasa rindunya. Sasuke memilih untuk membungkam suaranya. Diiringinya langkah kaki Sakura dengan pandangan kelam tersirat. Desah napas pun terbuang penuh kesal.
"Sakura, aku masih mencintaimu."
Dan setelahnya, suara keras dari bantingan daun pintu itu memenuhi pendengarannya. Sakura yang melakukannya. Sakura, kakak ipar yang begitu sangat dicintainya.
Bekas-bekas kejadian itu tentu masih ada. Sakura masih ingat setiap kata yang keluar dari mulut Sasuke, adik iparnya. Sekaligus mantan kekasihnya. Kata atau kalimat yang seakan bisa menelanjangi logikanya. Sakura menggeleng kuat untuk mengusik semua fokusnya pada kejadian subuh itu. Ini tidak bisa. Ini tidak benar! Sasuke masih menyimpan rasa cintanya sejak tahun-tahun silam? Ini sungguh salah. Tapi, jika jauh menelusuri ke dalam hatinya, sesungguhnya Sakura pun telah memahami satu hal. Ia, tak berdaya di hadapan mata itu. Mata mantan kekasihnya, adik iparnya, adik kandung dari suaminya.
.
Out of the Blue
.
Sarada melangkah hati-hati dengan gelas berisi dalam genggamannya. Langkah-langkah kecil yang mengarah pada sebuah kamar milik Sakura. Dengan hati-hati. Sambil menjaga isi untuk tetap stabil dalam gelasnya. Sarada mendorong pintu kamar Sakura dengan ujung kakinya. Terbuka. Sarada menemukan, Sakura dan Itachi secara bersamaan memandang kearahnya. Sarada tersenyum kecil.
"Sarada, apa yang kau lakukan di sini?" Itachi bangkit dari posisi tidurnya. Mendahului Sakura untuk bertanya. Sebab Itachi pun sadar, Sakura pun ingin bertanya sama seperti apa yang sedang ia tanyakan.
"Aku hanya ingin memberikan ini pada Ibu." Sarada menolehkan pandangannya ke arah di mana Sakura berada, yang kini sedang menarik tubuhnya untuk duduk di sisi ranjang dan memperbaiki gaun malamnya. Itachi mengernyitkan alisnya.
"Apa itu?" tanya Itachi meraih pemberian Sarada pada tangannya. Sakura hanya diam mengamati mereka dari posisinya.
"Susu cokelat hangat dengan madu, seperti kesukaan Ibu." ucapnya dengan senyuman merekah. Dan setelah ucapannya keluar, Sarada memalingkan pandangannya ke arah Sakura. "Ibu suka 'kan?" serunya memaksa. Membuat Itachi tersenyum padanya.
"Ini sudah jam berapa sayang? Kau tidak tidur?" Itachi meletakkan segelas minuman itu di atas meja di sisi nya dan menunduk menghampiri Sarada di hadapannya. Mengusap lembut kepala sang bocah dan tersenyum ramah.
"Sarada tidak bisa tidur Paman, karena tidak bisa tidur, lalu Sarada meminta Ayah membuatkan minuman. Dan kata Ayah, ini minuman kesukaan Ibu. Benar begitu 'bu?" ucap Sarada bertanya diakhir kalimatnya. Memandang Sakura yang kini hanya menggenggam ujung gaun malamnya. Inikah usaha Sasuke untuk mengelabuhi malam mereka saat ini?
"Kembalilah ke kamarmu dan tidur, Sarada. Ini sudah sangat larut." Mengingat nama Sasuke, membuat kekesalannya kembali menumpuk. Bangkit dari posisi duduknya, melangkah ke arah dimana Sarada dan Itachi berada, Sakura memandang wajah Sarada dalam diam dan tegas.
"Tapi, Sarada ingin dongeng sebelum tidur. Bolehkan Paman?" serunya, menarik matanya dari pandangan tajam Sakura dan meraih Itachi untuk dipeluk. Berusaha mencari perlindungan, karena ia tahu, Itachi akan selalu ada untuk membelanya.
Sakura mengelah napas resah.
"Baiklah. Bagaimana jika malam ini, Sarada tidur dengan Paman dan Ibu saja?" Itachi meraih tubuh kecil Sarada dan menggendongnya. Memandang wajah Sakura bergantian dengan wajah keponakan tersayangnya.
"Ibumu punya kisah manis untuk diceritakan." Ucapnya menuai senyum hingga membuat Sarada tersenyum dan memeluknya erat.
Sakura mendudukan dirinya di atas sofa di dalam kamarnya. Pemandangan yang membuatnya tak bisa melakukan apa-apa. Itachi, merebahkan tubuh Sarada di sisinya. Membelai buah hati adiknya dengan rasa sayang luar biasa. Sambil tersenyum dan penuh dengan perhatian.
"Kau tidak tidur, Sakura?" tanyanya, mendongakkan kepala menatap Sakura di tempat yang berbeda. Mendengar itu, Sarada langsung bangkit dan menimpa tubuh Itachi, ingin juga mencuri pandang melihat Sakura di sana.
"Ibu, tidur di sini, di samping Sarada." Sambil menunjuk tempat di mana yang Sarada inginkan. Wajah yang bahagia. Namun Sakura mengabaikannya.
"Apa Ibu tidak suka, Sarada tidur bersama kalian, Paman?" tanya Sarada berwajah sedih. Membuat Sakura mau tak mau mendengar semua hal yang sedang bocah itu bicarakan dengan Itachi.
"Bukan begitu, Ibu hanya belum mengantuk saja." Itachi kembali mendekap tubuh mungil itu dalam dekapannya.
"Apa tadi Sarada mengganggu tidur malam kalian?" Sarada mengelus wajah Itachi lembut. Itachi tertawa.
"Tidak. Siapa yang bilang?" Itachi mengelak pelan.
"Kata Ayah, Ibu dan paman mungkin sedang mengusahakan adik untuk Sarada tiap mau tidur."
Sakura mendongakkan kepalanya menatap langit-langit kamarnya. Mendesah berat hingga desahan napas itu terasa begitu kuat menguasai pendengaran Itachi. Membuat Itachi terdiam, tak berdaya menghadapi kalimat polos dari gadis kecil di sebelahnya.
"Apa benar, Ibu dan Paman mau membuat adik untuk Sarada?" tanya gadis itu lagi penuh dengan kebahagiaan. Keinginan yang luar biasa mendesak, dan kesenangan yang meluap. Di peluknya wajah Itachi dan mempermainkan pipi pria itu berkali-kali. Sedang Itachi hanya diam tak berdaya. Sesekali dialihkannya pandangan matanya mencuri lihat pada Sakura yang sedari tadi masih diam di tempatnya. Apakah ia tidak merasakan sesuatu saat mendengar pernyataan gadis kecil ini?
"Sa-sarada, Paman dan Ibumu akan mengusahakannya secepatnya-"
"Sarada. Ayo tidur."
Ucapan Itachi langsung terhenti saat Sakura sudah berdiri di hadapan mereka. Merangkak naik ke atas ranjang dan meraih Sarada dari dekapan Itachi ke dekapannya.
"Tidurlah, ini sudah malam." Lanjutnya, menarik selimut untuk menutupi tubuhnya dan Sarada, mendekapnya erat, hingga membuat Sarada balas mendekapnya.
"Jadi, benar. Kalian sedang membuat adik-"
"Tidur."
Sebelum Sarada melanjutkan kalimatnya lebih panjang lagi, Sakura memilih untuk mendekap wajah itu dalam pelukannya. Bukannya takut, Sarada malah merasa bahagia.
Harum tubuh Sakura, memenuhi ruang pernapasannya. Jarang ia bisa merasakan hangat seperti ini. Tidur sendirian adalah takdir setiap malamnya. Namun kali ini, Sakura mematahkannya. Kehangatan tubuh Sakura, membuat Sarada menenggelamkan wajahnya dalam pelukan sang Ibu tercinta. Membuat Itachi tersenyum ringan memandang mereka.
"Bagaimana cara mengusahakannya, Itachi?"
Meski ia terpejam, tapi suaranya terdengar begitu jelas bagi Itachi. Diusapnya rambut hitam Sarada lembut, penuh kasih. Itachi tertegun.
"Bagaimana cara mengusahakannya?"
Ini adalah pagi lainnya dari pagi kelam yang telah berlalu di antara mereka. Sakura masih enggan berdiam diri untuk sekedar saling menatap Sasuke dalam keadaan apapun. Luka pada kedua kakinya telah jauh lebih membaik untuk saat ini. Meski luka pada batinnya masih tetap sama. Sejak pagi itu pun, Itachi sama sekali tak berniat menyinggung apapun tentang kejadian di antara mereka. Ia lebih memilih untuk diam. Menatap Sakura pun enggan. Berbeda dengan Sasuke, yang kini jauh lebih terang-terangan memandang Sakura, mendekatinya, bahkan ingin menatap matanya. Meski Sakura selalu menepis keberadaannya.
Pagi ini Sakura memutuskan untuk berdiam diri di dalam kamarnya. Setidaknya ia masih merasakan hawa keberadaan Sasuke di lantai bawah. Dan memutuskan untuk tetap berada di dalam kamar selagi pria itu masih belum berangkat berkerja adalah pilihan yang diambilnya.
Dipandangnya Itachi yang sedang sibuk membenahi dirinya sendiri. Memakai pakaian, melilitkan dasi seorang diri. Sedangkan ia, Sakura. Hanya berdiri melamunkan hal yang tak begitu ingin dilamunkannya.
Hingga tanpa sadar, tanpa ia duga. Meski tadi ia sempat melihat Itachi berjarak cukup jauh darinya, tapi kini sentuhan suaminya itu menarik sadarnya kembali menguasai dirinya. Sakura tersentak pelan meski tidak begitu terlihat. Di depannya kini sudah ada Itachi berdiri dengan ekspresi khasnya. Datar dan hampa.
"Hari ini, aku akan meninggalkan Konoha untuk beberapa minggu kedepan."
Mendengar ucapan Itachi yang tak pernah ia duga, seketika rahang Sakura mengeras. Pergi? Meninggalkannya? Dalam keadaan seperti ini? Tapi, meski banyak kesesakkan yang bergumul dalam dadanya. Sakura hanya memilih untuk bungkam.
"Mendadak Sakura. Seharusnya aku pergi saat dimana kemalangan tentang Sarada menimpa kita, tapi-" bibir Itachi berhenti bergerak, suaranya berhenti terdengar. Saat Sakura menyentuh bahunya lembut dan ... malang.
"Lakukan apapun sesukamu, Uchiha-san." sakit rasanya mengucapkan nama itu dari bibirnya. Tapi, sampai saat ini, rasanya Sakura sudah lelah untuk terus bersandiwara mengakui Itachi sebagai suaminya. Sandiwara jahanam, hanya karena kisah tujuh tahun yang membuatnya sangat tersiksa.
"Sakura ..."
Sekalinya pedih, perasaan Itachi-pun nyaris sama seperti luka mengangah yang ditaburi garam. Perih. Nama itu, nama yang sama yang seharusnya disandang Sakura kini 'kan? Mengapa mendengarnya membuatnya terasa piluh.
Bukan karena Itachi tak paham situasi yang sedang terjadi di antara mereka kini. Ia paham. Ia mendengar semuanya malam itu. Semua yang terjadi kini hanya karena ia merasa tak sanggup lagi untuk menjadi saksi-saksi akan apa yang terjadi antara istrinya dan adiknya sendiri.
Sakura memeluk angin sesak dalam dadanya, memeluk keping-keping asa yang dia harap masih mau bertahan dalam jiwanya. Tangannya menarik kedua sisi lengannya bersamaan dan bersilangan. Memeluk tubuhnya sendiri tak ingin kerapuhan itu menjatuhkannya di hadapan Itachi.
Ini mau mu kah, Itachi?
"Pergilah." Suara Sakura terdengar basah. Airmata yang ditahannya telah membasahi suaranya. Mendengar itu, Itachi mengangkat kepalanya. Bukan karena ingin mengangkuhkan diri, tapi ia takut airmatanya yang terjatuh.
Meninggalkan sang istri sendiri bersama sang adik yang memiliki obsesi akan istri sendiri, itu terlalu menjijikkan menurut Sakura. Tapi, seorang istri bisa apa?
"Aku akan meminta Kazeya-san untuk tinggal bersamamu, menjagamu Sakura." Itachi memberikan penawaran, dan bukannya berlega hati, Sakura malah semakin geram. Dipandangnya wajah Itachi tajam. Jika pandangan itu bisa menyayat, mungkin Itachi akan kehilangan kepalanya saat itu juga. Pandangan tajam yang kini berurai airmata kepedihan. Itachi tak sanggup. Airmata ini membuatnya tak sanggup mengucapkan syukur karena ia telah dianugerahi sepasang mata yang bisa melihat. Untuk apa, jika untuk melihat kesedihan istri tercintanya.
"Suruh dia juga untuk meniduriku, Itachi!" geram wanita itu, menarik kedua lengan Itachi dan menggenggamnya erat. Ah, ia telah lupa siapa yang ia bentak saat ini. Suami yang sangat dihormatinya. Bukan? Persetan!
"Apa tidak sekalian kau menyuruhnya untuk menghamiliku? Uchiha Itachi yang terhormat!" teriaknya dengan raungan keras berurai airmata.
Tujuh tahun ini, Sakura bisa apa? Memilih untuk menikah, bukanlah karena kebutuhan seksual-nya semata. Bahkan Itachi adalah pria pertama yang memerawaninya tujuh tahun lalu dalam ikatan pernikahan. Sakura, sejak dulu bukanlah gadis pemikat. Dan kini pun sebenarnya sama saja. Tapi, kenapa, saat ini. Kesan sebagai wanita jalang berubah menjadi selimut yang membungkusi dirinya? Bukan maksudnya menarik seluruh pria dalam pelukannya, bersenggama dengannya, melumuri tubuhnya dengan cairan menjijikan dari pria-pria itu. Sakura tak pernah mau melakukan ini jika takdirnya tak semenyakitkan ini. Mencoba untuk mengakhiri hidup pun pernah ia pikirkan. Tapi, Sarada selalu menghantui pikirannya. Ia pernah berjanji untuk bertanggung jawab atas hidup gadis kecil itu dulu.
"Apa karena itu kau bercinta dengan pria-pria di luar sana?"
Kini, gantian. Sakura yang merasa tersakiti dalam detik berikutnya saat Itachi dalam sekejap menepis tangannya. Menarik lengannya, dan menatapnya keras penuh amarah.
Sakura tertawa mengakuh kalah. Airmata itu membuktikan seberapa lemah dirinya.
"Jadi, kau sudah tahu?"
"Hanya Sarada yang tak tahu apapun tentang kejalanganmu, Uchiha Sakura!" Itachi menggeram.
.
.
.
Sasuke menikmati setiap gigitan roti dalam mulutnya. Ditemani segelas susu di sisi hidangan di atas meja makannya. Tangisan Sakura, mengisi pendengarannya. Dengan hati-hati, diarahkannya pandangan matanya menatap bayangan wanita tua di sekitarnya. Tatapan ketakutan yang begitu ingin dilindunginya.
"Apa salah satu dari kalian, tidak ada yang bisa membuatnya bahagia, tuan?" Ucapnya pelan. Sasuke meraih segelas susu dalam genggamannya, meneguknya hampir setengahnya. Wanita ini tahu banyak apapun yang terjadi dalam keluarga kecil ini. Jadi, menyembunyikan apapun darinya bukanlah pilihan yang bagus.
"Dia bukan istriku, Sarutobi-san." Sasuke membalas pelan.
"Apa boleh saya memerintahkan Gaara-kun untuk menariknya dari dalam kamar sana? Saya juga seorang wanita tuan, kesakitan seperti ini dan berkali-kali terjadi bukanlah hal yang bisa kami terima dalam jangka waktu yang lama."
Sasuke hanya diam mendengarkan.
"Di awal pernikahan, dia mencoba untuk bahagia. Tapi kedatangan Anda yang membuat semua kebahagiaannya menjadi tak bermakna."
.
Suara itu masih menyala. Tangisan Sakura masih mengisi pendengaran mereka. Selama tujuh tahun, inilah tangisan Sakura yang sesungguhnya. Bahkan Gaara pun menahan sakit dalam dadanya di sudut yang berbeda.
.
.
.
"Menurutmu siapa yang lebih tangguh Kurenai-san, suamimu atau aku?"
Kurenai, menarik tissu untuk membersihkan tangannya dari cairan-cairan lengket itu. Melakukannya di dalam hotel membuatnya sedikit bergairah. Membayangkan itu, ia malah ingin tertawa.
"Bagiku, suamiku tetap nomor satu. Itachi. Dan aku harap, bagimu pun, istrimu tetaplah nomor satu."
Kurenai mendorong dada bidang Itachi lembut untuk menjauhkan dirinya dari sang pria. Sore sudah berganti malam, rasanya ia jadi merindukan Kakashi, suaminya.
"Berikan nomor telponmu, lain kali kita akan melakukannya lagi." Kurenai melempar ponselnya ke arah Itachi dan Itachi menangkapnya mantap.
"Sepertinya aku benar-benar telah memilih wanita yang tepat, Kurenai-san."
Itachi meletakkan ponsel wanita itu di nakas, kemudian bangkit dan memunguti pakaiannya. Meski tubuhnya merasa lelah, tapi mengantar Kurenai pulang pun adalah kewajibannya.
AN : SAATNYA MEMBALAS REVIEW! Hip Hip Horeee! Cek paling bawah.
Sebelumnya, terlepas penting atau tidaknya. Jumlah kata berkurang drastis, sebab saya sedang tidak enak badan dalam satu bulan ini. Sampai sekarangpun seharusnya gak bisa ngetik lama-lama di depan laptop. Penyakit saya, gak bisa duduk lama-lama. Jadi saya minta maaf.
Saya panjangin ni konflik dari Original Storynya. Sudah mau tamat kok. Tenang aja. Meski bakalan lama.
BALASAN REVIEW. (Mungkin anggap aja jumlah kata yang sedikit saya gantikan dengan balasan review yang bakal panjang).
Saya mulai dari Chap terakhir aja. Atau saya gabungin kalau ingat.
- Megu Saki : Iya. Emang bakalan indah. Soalnya saya suka yang indah-indah sih. Apalagi lihat Sakura telanjang di Ranjang. Indahlah pokoknya.
- wowwoh geegee : Jangan nangislah. Dan terimakasih sudah berkenan baca ya. Meski saya kurang percaya diri menulisnya dengan semangat. Thanks.
- Aegyo Yeodongsaeng : Jelekin aja sist, maki aja charanya. Bunuh sist, bunuh! Makasih sudah baca, meski kelihatannya sibuk di dunia perfisikaan dan ajar mengajar, tapi masih sempatnya baca. Jangan dipaksain kalau kepalanya mumet bacanya. Selamat tahun baru juga sist yang jauh disana. Gak kesampaian pesta besar tahun ini, tahun depan kita pesta bareng sama mas Gaara. Pokoknya makasih ya sudah review.
- Jamurlumutan462 : Ini salah satu nama yg paling sering review saya. Makasih ya, dari mulai kamu gak punya akun, dan sekarang punya. Saya merasa tersanjung karenamu. Terimakasih sekali lagi, pokoknya terimakasih! Saya akan semangat lanjutinnya.
- shinkane von einzbern : Makasih sudah baca ya. Dan makasih sudah review juga. Dan maafkan saya jika sudah membuat anda menanggung beban teramat berat karena membaca cerita ini. Tentang Sarada dan chara lain, maaf jika buatnya agak menderita. Saya bakal semangatin lanjutnya pokoknya. Makasih.
- zehakazama : Sebel ketemu saya kamu? Maaf ya buat sebel. Dan makasih untuk fav nya, makasih juga untuk reviewnya. makasih juga untuk segalanya. Meski saya gak terlalu PD kalau alurnya dibilang keren. But makasih.
- Dewimd27 or Mustika447 : Ini cinta sayang. Ini cinta! Maaf sudah buat kepala kamu sakit karena baca. Flame aja, saya terima koq. Kalau kamu yang flame saya rela. Thanks ya!
- TomatManis : Makasih untuk ulasan dan opininya ya. Saya usahakan bikin sejelas-jelasnya. Baca pelan-pelan aja biar gak bikin salah paham. Maaf kalau buat chara Sakura agak menderita. Saya usahakan bikin dia bahagia lah pokoknya. Makasih sudah review dan berpendapat ya,
- Minji-blackjack : Jangan sesak napas donk. Makasih sudah kenal saya lewat bbm kak, ah, saya bahagialah kenal sama senpai di fandom ini. Apalagi mengarahkan saya kejalan yang benar. Makasih. Nanti saya jelasin satu persatu ya, perselingkuhannya sakura, ketahuannya Itachi dll. Jangan boong kak, deskripsi saya hancur. Doain saya tetep semangat ya kak, dan lihat ini! Meski kurang sehat ternyata saya bisa lanjut. Makasih doanya. Pokoknya doain saya selesaiin sampe tamat.
- uchiha javaraz : Bagian ini ni yang saya senengi. Maki saya kalau anda pakai akun. Makasih juga sudah maki saya lewat dua PM kak. Saya cinta kakak! Tapi seperti yang saya bilang di PM kak. Kalem aja bacanya, jangan terlalu berlebihan menanggapinya. Saya hanya minjem chara doank. Saya gak bermaksud jelekin chara yang ada. Ini tuntutan cerita. Tuntutan peran. Gak ada maksud tersembunyi yang menguntungkan saya, gak sama sekali. Saya bukan motivator yang ingin menyisipkan moral indah pada pembaca. Sesuai tujuan, situs ini hanya fiksi penggemar, bukan fiksi motivator. Kakak cari hiburan makanya baca, saya juga pengen nghibur diri saya makanya nulis. Maaf kalau cerita saya gak sepadan sama cerita asli di manga naruto. Sekali lagi, ini situs fiksi penggemar, bukan ulasan membahas plot manga naruto yang asli. Jadi wajar jika gak sesuai jalan cerita manga.
Saya sarankan kakak baca sampai habis, baru maki saya sekali lagi, tapi bukan berarti saya gak suka di maki. Oh saya suka kak. apalagi pake akun. Saya berterimakasih lah kakak sudah baca meski sampai geram. Saya ulangi pesan motivator saya di PM kakak. Dewasalah meski dunia itu kejam. Jika anda tidak menyukai buah semangka, jangan cicipi. Itu saja. Jangan berharap lebih untuk memusnahkan semua buah semangka di dunia ini. Jika suka, mendekat, tidak suka menjauh. Mudahkan?
Dan satu lagi, saya tidak punya fandom tetap di situs ini. Selama memasuki fandom lain tidak dipungut biaya, saya akan selalu datang.
Sekian AN dari saya. Jika kalian ingin kenal saya, maki saya, bercinta dengan saya. PM ID LINE anda atau PIN BBM anda. Saya terima dengan tangan terbuka, dan senyum merekah indah.
SAYA BERTERIMAKASIH UNTUK YANG SUKA SAYA ATAUPUN TIDAK SUKA. Keindahan sesuatu dalam dunia ini bergantung dari sudut pandang kita sendiri. Terima sesuatu yang membuat anda bahagia, dan pergi dari sesuatu yang membuat anda bersedih. Tapi, tidak semua sesuatu yang anda tidak suka, dibenci semua orang.
Shallam saya, Zoe. XD yg sering bbm dan line sama saya *lambai lambai* SAYA CINTA KALIAN! Maki saya disana ya!
