DIVERGENT

Summary :

"Divergent" menceritakan tentang manusia dewasa yang dibagi menjadi lima jenis menurut karakteristik mereka masing-masing. Kelima jenis kategori tersebut adalah Candor (jujur), Erudite (genius), Amity (suka damai), Dauntless (pemberani) dan Abnegation (penolong tanpa pamrih).

Sedangkan untuk kategori "Divergent" adalah kategori yang tidak termasuk ke dalam kelima jenis kategori karakteristik tersebut karena memiliki berbagai macam kepribadian yang menonjol dalam dirinya.

Seorang Pemuda bernama Youngjae harus menghadapi tes penentuan nasibnya. Youngjae merasa gugup dan penasaran sekaligus ingin mengetahui berada di golongan manakah dia berada. Namun di saat menjalani tes, Youngjae merasa ada yang tidak beres dan kemudian hasilnya dia tidak termasuk ke dalam 5 golongan yang ada. Lalu seorang wanita yang menguji dirinya dan menyuruh Youngjae untuk menjaga rahasia identitas dirinya sebagai seorang Divergent.

Cast : Yoo Youngjae (B.A.P)

Jung Daehyun (B.A.P)

Others Cast : Bang Yongguk(B.A.P), Kim Himchan(B.A.P), Moon Jongup(B.A.P), Choi Junhong(B.A.P), Byun Baekhyun(EXO), Park Chanyeol(EXO), Im Jaebum(GOT7), Oh Sehun(EXO), Song Jieun(SECRET), Jackson(GOT7), Naeun(APINK), Hoseok(BTS), Suho(EXO), Yunho(TVXQ), Yoo Youngwon(kakak Youngjae), Han Sunhwa(SECRET), Kwon Yuri(SNSD). Cast akan bertambah^^.

Cameo :

Nama-nama diatas aku hanya meminjamnya yahh^^, tidak ada maksud untuk menjelek-jelekkan mereka!

(DAEJAE,BAP,YAOI,BL,FANFICS)

Chaptered

T

/Romance/Adventure/Fantasy/Mystery/Violence/

-Jika ada kesamaan jalannya cerita, mungkin itu hanyalah kebetulan semata(?)-

Typo mungkin bertebaran…..

Cerita ini asli! bukan milik saya^^, ini Karya nya "Veronica Roth" penulis novel kesukaan saya hehehe, so saya tidak ada niatan untuk plagiat nde^^…

You Happy, I'm Happy too(?)

.

Daejae

.

Happy Reading….

Divergent #9

"Karena hari ini jumlah kalian ganjil, ada satu di antara kalian yang tidak akan berkelahi hari ini," ujar Four sambil melangkah jauh dari papan di ruang latihan. Ia menatapku. Tidak ada nama yang tertulis di sebelah namaku.

Simpul di perutku terasa terbuka. Rasanya seperti lolos dari hukuman mati.

"Ini tidak bagus," ujar Baekhyun menyikutku. Ujung sikunya menusuk salah satu ototku yang nyeri—pagi ini rasanya aku punya lebih banyak otot nyeri daripada yang tidak nyeri—dan aku bekernyit.

"Ow."

"Mian," ujarnya. "Tapi lihat, aku melawan Tank."

Aku dan Baekhyun duduk bersebelahan saat sarapan. Sebelumnya, dia menutupiku dari seluruh penghuni kamar yang lain saat aku berganti baju. Aku tak memiliki teman sepertinya sebelumnya. Himchan lebih suka bergaul dengan Yongguk daripada denganku, dan Myungsoo hanya mengikut ke mana pun Himchan pergi.

Kurasa aku tak pernah benar-benar memiliki teman, titik. Sulit untuk memiliki teman sejati saat tak seorang pun merasa diperbolehkan untuk menerima bantuan, atau bahkan berbicara tentang dirinya sendiri. Rasanya aku lebih mengenal Baekhyun daripada aku mengenal Himchan, padahal ini baru dua hari.

"Tank?" kulihat nama Baekhyun di papan. Yang tertulis di sebelahnya "Naeun".

"Yeah, kaki tangan Jaebum yang kelihatan sedikit feminin itu," ujarnya sambil mengangguk ke arah sekumpulan orang di sisi lain ruangan. Naeun sedikit tinggi seperti Baekhyun, tapi hanya itu persamaannya. Naeun memiliki bahu Kecil, kulit agak kecokelatan, dan hidung mancung.

"Tiga orang itu"—Baekhyun menunjuk Jaebum, Hoseok, dan Naeun bergantian—"anggap saja, tak terpisahkan sejak lahir. Aku benci mereka."

Chanyeol dan Sehun berdiri saling berhadapan di masing-masing sudut arena. Mereka mengangkat tangan ke wajah untuk melindungi diri sendiri, seperti yang diajarkan Four, dan bergerak melingkar satu sama lain. Sehun memiliki tinggi yang hampir sama dengan Chanyeol dan sedikit lebih lebar. Saat aku menatapnya, aku sadar bahkan seluruh bagian wajahnya pucat—hidung sempurna, bibirnya kecil, dan matanya pun agak besar. Pertarungan ini takkan berlangsung lama.

Aku melirik Jaebum dan teman-temannya. Hoseok lebih pendek dari Jaebum dan sedikit lebih tinggi dari Naeun, tapi posturnya seperti bongkahan batu dengan pundak yang selalu membungkuk. Rambutnya abu abu seperti warna awan mendung.

"Ada apa dengan mereka?" tanyaku.

"Jaebum itu sangat jahat. Saat kami masih kecil, ia sering berkelahi dengan anak-anak dari faksi lain. Saat orang dewasa datang melerai, ia akan menangis dan mengarang cerita kalau anak yang lain yang memulainya. Dan tentu saja, orang dewasa memercayainya karena kami dari Candor dan kami tidak boleh bohong."

Baekhyun mengerutkan hidung dan menambahkan, "Hoseok cuma anak buahnya. Aku ragu ia memiliki pikiran sendiri. Dan Naeun ... ia sejenis orang yang membakar semut dengan kaca pembesar hanya untuk melihat semut-semut itu menggelepar."

Di arena, Sehun meninju rahang Chanyeol dengan keras. Aku bekernyit. Di seberang ruang, Jackson menyeringai ke arah Sehun dan memainkan salah satu cincin di alisnya.

Chanyeol terjungkal ke samping. Tangannya menekan wajah dan menahan tinju Sehun selanjutnya dengan tangannya yang lain. Dari seringai di wajahnya, menahan pukulan itu sepertinya sama sakitnya dengan pukulannya yang diterimanya tadi. Pukulan Sehun memang pelan, tapi penuh tenaga.

Jaebum, Hoseok, dan Naeun diam-diam menatap ke arah kami, lalu saling mendekatkan kepala untuk membisikkan sesuatu.

"Kurasa mereka tahu kalau kita membicarakan mereka," kataku.

"Lalu? Mereka sudah tahu aku membenci mereka."

"Mereka tahu? Kok bisa?"

Baekhyun memasang senyum palsu dan melambaikan tangan. Aku menunduk dengan pipi memerah. Aku tidak seharusnya bergosip. Bergosip itu tindakan menyenangkan diri sendiri.

Chanyeol mengulurkan kaki dan menjegal kaki Sehun sampai Sehun jatuh tersungkur ke tanah. Ia jatuh menimpa kakinya sendiri.

"Karena aku pernah bilang pada mereka," ujar Baekhyun sambil menggertakkan gigi. Giginya rapi. Ia menatapku. "Kami belajar untuk benar-benar jujur atas perasaan kami di Candor. Banyak orang yang bilang padaku kalau mereka tak suka aku. Dan, ada beberapa orang juga yang belum berkata apa-apa. Siapa peduli?"

"Hanya saja, kita ... tak seharusnya menyakiti hati orang lain," kataku.

"Aku lebih suka menganggap kalau aku menolong mereka dengan cara membenci mereka," ujarnya. "Aku mengingatkan mereka kalau mereka bukan anugerah Tuhan untuk umat manusia."

Aku sedikit tertawa mendengarnya dan fokus ke arena lagi. Chanyeol dan Sehun saling berhadapan beberapa detik lebih lama. Keraguan mereka lebih besar daripada sebelumnya. Chanyeol mengibas helai pucat rambutnya dari mata. Mereka menatap Four seakan mereka menunggunya untuk menghentikan pertarungan, tapi Four tetap berdiri dengan lengan terlipat tanpa respons apa-apa. Beberapa meter darinya, Jaebum sedang memeriksa jamnya.

Setelah beberapa detik berlalu, Jackson berteriak, "Apa kalian pikir ini hanya mengisi waktu luang? Apa kita harus berhenti sebentar untuk tidur siang? Ayo bertarung!"

"Tapi ..." tubuh Sehun menegak dan menurunkan tangannya. "Ini dinilai atau bagaimana? Kapan pertarungannya berakhir?" tanyanya.

"Pertarungannya berakhir saat salah satu dari kalian tak bisa melanjutkan," ujar Jackson.

"Menurut peraturan Dauntless," ujar Four, "salah satu dari kalian juga bisa mengaku kalah."

Jackson menyipitkan matanya ke arah Four. "Itu menurut peraturan lama Dauntless," ujarnya. "Di peraturan baru, tak ada yang mengaku kalah."

"Seorang pemberani boleh mengakui kekuatan orang lain," jawab Four.

"Seorang pemberani tak pernah menyerah."

Four dan Jackson saling menatap satu sama lain selama beberapa detik. Rasanya aku seperti melihat dua jenis Dauntless—yang terhormat dan yang kejam. Tapi, aku tahu di ruangan ini, Jacksonlah, pemimpin termuda Dauntless, yang memegang kekuasaan.

Titik-titik keringat memenuhi dahi Sehun. Ia mengusapnya dengan bagian belakang tangannya.

"ini konyol," ujar Sehun menggeleng. "Apa gunanya memukulinya? Kita semua ada di faksi yang sama!"

"Oh, menurutmu itu mudah?" tanya Chanyeol menyeringai. "Ayo, coba saja memukulku, dasar lambat."

Chanyeol kembali mengangkat tangan memasang kuda-kuda. Ada keteguhan yang tadinya tidak ada, terpancar di matanya. Apa ia berpikir ia benar-benar bisa menang? Satu serangan telak di kepala dan Sehun akan langsung mengalahkannya.

Itu baru bisa terjadi jika Sehun benar-benar bisa memukul Chanyeol. Sehun mencoba memukul, dan Chanyeol menunduk. Bagian belakang lehernya mengilat penuh keringat. Ia memasukkan satu pukulan lagi, berkelit memutari Sehun, dan menendangnya kuat-kuat di belakang. Sehun tersentak ke depan dan membalikkan tubuh.

Saat aku masih kecil, aku membaca buku tentang beruang buas yang besar. Ada gambar seekor beruang yang berdiri dengan kedua kaki belakangnya, cakar kaki depannya terentang sambil mengaum. Seperti itulah Sehun sekarang. Ia menyerang Chanyeol dengan menangkap lengannya sehingga Chanyeol tak bisa ke mana-mana, lalu menghantam rahangnya dengan keras.

Aku melihat mata Chanyeol, yang berwarna caklat pucat seperti tanah, mulai meredup. Sepasang matanya berputar ke belakang dan tubuhnya terkulai kehilangan kekuatan. Ia lepas dari genggaman Sehun, tak sanggup menahan beban, dan tersungkur di lantai. Hawa dingin merayapi punggungku dan memenuhi dadaku.

Mata Sehun terbelalak. Ia membungkuk di samping Chanyeol dan menepuk-nepuk pipinya dengan satu tangan. Seisi ruangan mendadak hening saat kami menunggu respons Chanyeol. Beberapa detik, Chanyeol tidak merespons. Ia hanya berbaring di tanah dengan lengan tertekuk tertimpa tubuhnya sendiri. Kemudian ia mengedip, jelas sekali tampak linglung.

"Bangunkan ia," ujar Jackson. Ia menatap tamak ke arah tubuh Chanyeol yang tersungkur seperti Chanyeol itu seonggok makanan dan Jackson sudah tak makan selama berminggu-minggu. Lengkung bibirnya terlihat kejam.

Four membalikkan badan ke arah papan tulis dan melingkari nama Sehun. Kemenangan.

"Yang berikutnya—Naeun dan Baekhyun!" teriak Jackson. Sehun mengalungkan lengan Chanyeol ke bahunya dan menariknya keluar arena.

Baekhyun menggertakkan tulang ruas jari-jarinya. Aku ingin mengatakan semoga beruntung, tapi aku tak tahu apa gunanya. Baekhyun tidak lemah, tapi ia sama ramping seperti Naeun. Kuharap tubuh tingginya bisa membantu.

Di sebeerang ruangan, Four memegangi pinggang Chanyeol dan menuntunnya keluar. Sehun berdiri sejenak di pintu dan menatap mereka pergi.

Kepergian Four membuatku gugup. Meninggalkan kami bersama Jackson rasanya seperti menyewa pengasuh yang menghabiskan waktunya dengan mengasah pisau.

Baekhyun merapikan rambutnya ke belakang telinga. Rambutnya panjang didaerah telinga. Ia menggertakkan tulang jemarinya yang lain. Ia kelihatannya gugup dan tak heran jika ia begitu—siapa yang tidak akan gugup setelah melihat Chanyeol pingsan seperti boneka perca?

Jika setiap konflik di Dauntless diakhiri dengan hanya satu orang yang tersisa, aku tak yakin apakah aku akan berhasil diinisiasi tahap ini. Akankah menjadi seperti Sehun yang berdiri menang di atas tubuh lawan, tahu bahwa akulah yang membuatnya jatuh tersungkur? Atau, akankah aku menjadi Chanyeol yang berbaring tak berdaya? Apakah menginginkan kemenangan itu artinya egois atau berani? Aku menggosokkan telapak tanganku yang berkeringat ke celana.

Aku tersentak kembali memperhatikan saat Baekhyun menendang sisi tubuh Naeun. Naeun terkesiap dan menggertakkan gigi seakan hampir mengerang. Beberapa helai rambut hitamnya jatuh menutupi muka, tapi ia tak menyibakkannya.

Sehun berdiri di sampingku, tapi aku terlalu fokus menatap pertarungan baru ini untuk memandangnya atau menyelamatinya atas kemenangannya barusan. Kukira itulah yang ia inginkan. Meski aku tidak yakin.

Naeun menyeringai ke arah Baekhyun dan tanpa peringatan apa-apa, ia menukik sambil mengulurkan tangan, menyerang perut Baekhyun. Ia memukul Baekhyun dengan telak, membuat Baekhyun tersungkur dan mengunci tubuhnya di tanah. Baekhyun mendorongnya, tapi Naeun terlalu berat dan tidak bergerak sedikit pun. Untuk seukuran yeoja Naeun sangat kuat.

Ia memukul dan Baekhyun mengelak, tapi Naeun memukulnya lagi, dan lagi, sampai akhirnya kepalan tangannya membentur rahang, hidung, dan mulut Baekhyun. Tanpa berpikir apa-apa, aku meraih lengan Sehun dan meremasnya sekuat yang kubisa. Aku hanya memerlukan sesuatu untuk kupegang. Darah mengucur di wajah samping Baekhyun dan ada percikan darah yang mengenai tanah di samping pipinya. Untuk pertama kalinya, aku berdoa agar seseorang jatuh pingsan.

Tapi, Baekhyun tidak pingsan. Ia berteriak dan menarik tangannya yang masih bebas. Ia meninju telinga Naeun dan membuat gadis itu kehilangan keseimbangan sehingga Baekhyun bisa menggeliat bebas. Ia kembali berdiri ditopang lutut sambil memegangi wajah dengan satu tangan. Darah yang mengalir dari hidungnya terlihat kental dan gelap, melumuri jari-jari nya dalam hitungan detik. Baekhyun kembali berteriak dan merangkak menjauh dari Naeun. Aku tahu dari bahunya yang bergetar, Baekhyun sedang menangis. Tapi, aku hampir tak bisa mendengar suaranya karena telingaku sendiri tengah berdenyut-denyut ngeri.

Ayolah, pingsan saja.

Naeun menendang sisi tubuh Baekhyun dan membuatnya jatuh telentang. Sehun mengulurkan tangannya dan menarikku mendekat ke sisinya. Ia menggertakkan gigi, menahan tangis. Aku memang tak punya simpati untuk Sehun di malam pertama kami tiba di sini, tapi aku belum berubah menjadi orang yang kejam. Pemandangan Baekhyun yang memegangi rusuknya membuatku ingin naik ke arena dan melerai mereka berdua.

"Stop!" jerit Baekhyun saat Naeun menarik kakinya untuk sekali lagi menendang. Ia mengulurkan tangan ke depan. "Stop! Aku ..." ia terbatuk. "Aku menyerah."

Naeun tersenyum dan aku menghela napas lega. Sehun juga menghela lega. Dadanya naik turun di samping bahuku.

Jackson berjalan ke tengah arena. Langkahnya lambat dan berdiri di samping Baekhyun dengan lengan terlipat. Ia berkata dengan tenang, "Maaf, apa yang kau katakan barusan? Kau menyerah?"

Baekhyun bangkit. Saat ia menjejakkan tangan di tanah sebagai tumpuan, ada bekas telapak tangan kemerahan tercetak di sana. Ia menekan hidungnya untuk menghentikan pendarahan dan mengangguk.

"Bangun," ujar Jackson. Jika pria itu berteriak, aku mungkin tidak akan merasa sengeri ini. Jika ia teriak, aku akan tahu bahwa berteriak adalah hal terburuk yang bisa ia rencanakan. Tapi, suaranya yang tenang dan kata-katanya yang singkat membuatku merinding. Jackson menangkap lengan Baekhyun, menyeretnya keluar melalui pintu.

"Ikut aku," ujarnya pada kami semua.

Dan kami menurut.

Aku merasakan debur sungai bergema di dadaku.

Kami berdiri di dekat susuran. The Pit hampir kosong. Sekarang tengah hari, rapi rasanya seperti malam tak berganti selama beberapa hari.

Jika ada orang Dauntless lagi di sini, aku ragu ada sesorang yang akan menolong Baekhyun. Kami sedang bersama Jackson, itu masalahnya, dan masalah lainnya, Dauntless memiliki peraturan berbeda—peraturan yang menyatakan bahwa kebrutalan bukan kekerasan.

Jackson mendorong Baekhyun ke susuran itu.

"Panjat," ujarnya.

"Mwo?" ujar Baekhyun seakan ia berharap Jackson bisa melunak, tapi matanya yang melebar dan wajahnya yang berubah abu-abu, menunjukkan hal sebaliknya. Jackson tidak akan melunak.

"Panjat susuran itu," kata Jackson lagi sambil mengucapkan satu demi satu kata itu perlahan. "Kalau kau bisa menggelantung di atas jurang selama limat menit, akan kulupakan kepengecutanmu. Kalau kau tak bisa, aku takkan mengizinkanmu melanjutkan inisiasi."

Susuran itu sempit dan terbuat dari logam. Debur yang terpecik dari batas sungai membuat susuran itu licin dan dingin. Bahkan, jika Baekhyun cukup berani untuk menggelantung di susuran itu selama lima menit, ia takkan bisa bertahan. Ia harus memutuskan untuk keluar dari Faksi Dauntless atau menantang maut.

Saat aku menutup mata, aku bisa melihatnya jatuh ke bebatuan curam di bawah sana, itu membuatku gemetar.

"Baik," ujarnya. Suaranya bergetar.

Ia cukup tinggi untuk mengayunkan kakinya melewati susuran. Kakinya gemetar. Ia menempelkan jempol kakinya ke tepian bangunan saat ia mengangkat kaki lainnya ke atas. Sambil berdiri menghadap kami, Baekhyun mengusap tangannya ke celana dan berpegangan di susuran dengan kuat sampai buku-buku jarinya memutih. Kemudian, ia mengangkat kakinya yang berada di pinggiran. Lalu, kaki satunya lagi. Aku melihat wajahnya di antara jeruji pembatas. Pendiriannya begitu teguh. Bibirnya merapat kuat.

Di sebelahku, Sehun mengeset jam tangannya.

Untuk satu setengah menit pertama, Baekhyun baik-baik saja. Tangannya tetap kuat menggenggam susuran dan lengannya tidak gemetar. Aku mulai berpikir ia akan berhasil melaluinya dan menunjukkan pada Jackson betapa bodohnya kalau namja itu sampai meragukannya.

Tapi, kemudian debur sungai membentur dinding dan hempasannya mengenai punggung Baekhyun. Wajahnya membentur pembatas dan ia berteriak. Tangannya tergelincir, hanya ujung jarinya yang bertahan mencengkeram jeruji. Ia mencoba untuk menggenggam lebih kuat, tapi tangannya sekarang basah.

Jika aku menolongnya, Jackson akan membuatku bernasib sama seperti Baekhyun. Akankah aku membiarkannya jatuh menemui ajal atau aku akan mengundurkan diri untuk keluar dari faksi? Mana yang lebih buruk: diam saja sementara seseorang akan mati atau diasingkan tanpa memiliki apa-apa?

Orangtuaku takkan memiliki masalah menjawab pertanyaan itu.

Tapi, aku bukan orangtuaku.

Seingatku, Baekhyun belum pernah menangis sejak kita tiba di sini, tapi sekarang wajahnya kusut dan ia menangis. Tangisannya lebih kuat dari suara sungai. Satu ombak lagi menerjang dinding dan percikannya membasahi tubuhnya. Salah satu tetesnya mengenai pipiku. Tangannya tergelincir lagi, dan kali ini satu jarinya lepas dari pegangan. Sekarang, Baekhyun hanya bergantung dengan empat jari.

"Ayo Baekhyun hyung," kata Sehun, suara rendahnya terdengar jelas. Baekhyun menatap Sehun, Sehun menepukkan tangan. "Ayo, pegang lagi. Kau bisa melakukannya. Pegang."

Bahkan, akankah aku cukup kuat untuk memeganginya? Akankah usahaku untuk menolongnya sepadan jika aku tahu aku terlalu lemah untuk melakukannya?

Aku sadar semua pertanyaan itu hanya alasan. Manusia akan menciptakan alasan apa pun untuk menoleransi hal jahat; itulah kenapa penting untuk tidak bergantung pada alasan-alasan semacam itu. Kata-kata appa.

Baekhyun mengayunkan lengannya, mencoba meraih susuran. Tak ada lagi yang menyemangatinya. Tapi, Sehun menepukkan tangannya dan berteriak. Matanya menatap ke arah Baekhyun. Kuharap aku bisa. Kuharap aku bisa bergerak, tapi aku hanya menatapnya dan bertanya-tanya sudah berapa lama aku ada di situasi egois yang menjijikkan ini.

Aku menatap jam Sehun. Sudah lewat empat menit. Ia menyikut bahuku dengan keras.

"ayo," kataku. Suaraku seperti bisikan. Aku berdeham. "Tinggal satu menit," kataku, kali ini lebih keras. Tangan Baekhyun yang satunya berhasil menangkap susuran. Lengannya bergetar begitu kuat, sampai aku bertanya-tanya apakah sekarang ada gempa dan mengguncangkan pandanganku tanpa kusadari.

"Ayo Baekhyun hyung," kataku dan Sehun. Saat suara kami berpadu, kuyakin mungkin aku bisa cukup kuat untuk membantunya.

Satu debur ombak lagi membentur punggung Baekhyun dan ia menjerit saat kedua tangannya lepas dari susuran. Aku menjerit. Suara itu kedengarannya bukan seperti suaraku sendiri.

Tapi, Baekhyun tidak jatuh. Ia menangkap jeruji pembatas. Jemarinya meluncur menuruni jeruji logam sampai aku tak bisa melihat kepalanya lagi. Hanya jemarinya yang bisa kulihat.

Jam Sehun menunjukkan 5.00.

"Sudah lima menit," sembur Sehun ke arah Jackson.

Jackson memeriksa jamnya sendiri. Ia memiringkan pergelangan tangannya, perutku seperti terpelintir dan aku tak bisa bernapas. Aku teringat saudara Hyeri yang tergeletak di pelataran di bawah jalur kereta. Anggota tubuhnya patah ke sudut yang tak beraturan; Hyeri menjerit dan menangis. Aku teringat diriku sendiri yang membalikkan badan.

"Baik," kata Jackson. "Kau bisa naik, Baekhyun."

Sehun berjalan ke arah susuran.

"Tidak," kata Jackson. "Ia harus melakukannya sendiri."

"Tidak, ia tidak perlu seperti itu," Sehun mengerang. "Ia sudah melakukan apa yang kau suruh. Ia bukan pengecut. Ia melakukan apa yang kau minta."

Jackson tidak menjawab. Sehun membungkuk di susuran dan meraih pergelangan tangan Baekhyun. Baekhyun menangkap lengan bawah Sehun. Sehun mengangkatnya ke atas dengan wajah memerah penuh frustasi. Aku berlari untuk membantu mereka. Seperti yang kukira, aku terlalu pendek untuk melakukan banyak hal. Tapi, aku mendorong bagian bawah bahu Baekhyun begitu ia naik cukup tinggi. Aku dan Sehun menarik tubuhnya melewati pembatas. Baekhyun tersungkur di lantai. Wajahnya masih berlumur darah bekas pertarungannya tadi. Punggungnya basah kuyup. Tubuhnya bergetar hebat.

Aku berlutut di sampingnya. Matanya menatapku, lalu ganti menatap Sehun, dan kami bertiga menghela napas bersama-sama.[]

.

.

.

.

.

.

TBC

Oh iyah pertama-tama,

🙏Selamat Hari Raya Idul Fitri🙏

Minal aidzin wal faizin😘~ mohon maaf lahir dan batin🙏🙇, maaf kan SAM jika SAM punya salah dalam hal penulisan dan lainnya yahh Reader-nim😁😂 hehehe...

Gimanaaa puasss gak dua chapternya hehehehe, puas dongg, ugh ceritanya makin seruuu yahh. Ohh iyah yang TWINS?! Pun udah SAM up lagi, bisi ajja ada yang nunggu hehehehe

Dannn Sequel My Sweet(again) udah ada nihh^^ bagi yang menunggu, judulnya "Believe", dibaca yah Reader-nim *BOW*, udah SAM Up juga barusan^^ bareng yang lainnya

Dan terus, selama bulan JUNI ini SAM tiap minggunya akan nge-publish FF Daejae yang oneshoot yeyyy~ "special menuju ulang tahun pacar aku(?) Jung Daehyun^^ hehehe" bentar lagi kan kan kan?*_*

Sebelumnya makasih sama yang udah Read, Review, Favorite and Follow FF SAM yang 'DaejaeDaejae', kamsahamnida*BOW*

Thanks For Review :

/jungyoungjae/guest:Sooya/daejaeeeee/guest:Damchu14/

Entahlah, SAM lagi mikir-mikir nihh buat bikin Sequelnya^^, karena gak tau kenapa setiap ada yang minta Sequel, pasti SAM inginnya bikin(karena SAM baik hati mungkin yah/plakk/ hehehe), jadi lagi SAM usahain yahh untuk bikin sequellnya ditunggu ajja yah~^^

Oke deh A-yo! Kita bales Review^^

jungyoungjae :

yeyyyyyy~langsung 2 chap di tunggu SAM

:

Hehehe iyah langsung dua chap^^, makasih udah mau nunggu yah;). Makasih udah Review^^;*.

Guest :

Lanjut lanjut Sam ...

:

Iyah ini udah dilanjut… makasih udah manggil aku SAM, seterusnya panggil aku SAM yah^^ hehehe. Makasih udah Review^^;*.

Adyeon Jung :

huaaaaaa ketinggalaaannn...maklum orang sibuk hehe...mian SAM btw kamu line berapa...

kereeeenn. lanjutt teruuuuussssss...kalo bsa sampe insurgent...

:

Kenapa bisa ketinggalan? :"D, sibukk kenapa hayoo (kepo!) XD. Makasih udah manggil aku SAM, seterusnya panggil aku SAM yah^^. Umur aku 18 tahun semenjak tiga bulan yang lalu XD :D Hehehe, jadi line aku '00'. And you?;)

Iyahhh pasti dilanjuttt terusss…. Kaya nya Insurgent juga akan SAM remake deh^^. Makasih udah Review^^;*.

Makasih sama yang udah berkunjung ke nih FF^^

RnR again Juseyoooo~~

Senang Anda menikmatinya^^

© SAM or Daejae24 2018

See You Next Time^^ pai pai~~~