Warning: AU, kata-kata tidak baku. Gaje :D

Disclaimer: Masashi Kishimoto

challange fik with deAmarilis. Yeah just for fun lol


Between Happy and Shameful

.

Jam tujuh tepat. Tidak tahu kenapa dari sebelum jam tujuh tadi hati si cherry berdegup terus, ia jadi membayangkan sesuatu yang enggak-enggak. Perlahan ia melangkahkan kakinya keluar rumah untuk menuju ke taman yang dimaksud oleh Sasuke tadi siang. Tunggu! Ngomong-ngomong taman yang mana Sakura belum tahu pasti. Kan ada banyak di sini yang tempatnya berjenis taman.

Dengan balutan baju pink dan rok merahia terus melangkah di sepanjang trotoar kompleknya untuk menuju ke tempat itu. Sakura tidak sadar kalau ternyata ia sudah sampai di sebuah taman. Langsung saja ia masuk ke dalam tapi ia malah speechlees. Ternyata malam-malam begini taman yang letaknya masih di dekat kompelknya sangat ramai. Banyak orang yang berkeliaran, padahal sudah agak malam.

Masih dalam keadaan tercengang tiba-tiba ada sesuatu dari belakang yang mendekat ke arahnya, sesuatu itu dirasakannya sangat dekat seolah sedang mencium rambutnya. Si cherry akan berbalik, namun pergerakannya terhenti karena dari samping kepalanya ada tangan kekar yang terjulur sambil memegang ice-cream.

Sesaat Sakura tercengang kembali. Kemudian mata emerald-nya menyusuri tangan itu—mencari tahu tangan kekar siapa itu sampai ia melihat senyuman datar yang pasti manis. "Sasuke!" seru Sakura agak terkejut.

"Untungnya kau tepat waktu, kalau tidak ice-nya bisa mencair." Sasuke memberikan ice tersebut ke Sakura.

"Engh, makasih," ujar Sakura setelah ia menerima uluran ice-cream vanilanya. Sakura mencoba mencicipi ice-cream tersebut sembari menatap tubuh tinggi kekar di depannya ini. Dilihatinya Sasuke dari atas sampai bawah, ia seperti baru melihat sosok Sasuke sekarang. Ternyata selama ini Sasuke ganteng juga, pikirnya.

Sasuke agak bingung ngeliat Sakura diam saja berdiri di tempat, lantas ia menyetuh dan menarik lengan Sakura ke suatu tempat duduk di dekat pohon-pohon. Dari kejauhan Naruto yang tidak sengaja lewat di taman itu bareng Kiba melihat Sasuke yang lagi duduk di samping... Sakura. "Kib, itu Sasuke kan?" tanya Naruto ke Kiba untuk meyakinkan penglihatannya.

"Mana?" Kiba melihat apa yang dilihat Naruto.

Tiba-tiba dari kejauhan Sasuke melihat Naruto yang lagi lari-lari sama Kiba sama anjingnya juga. "Sasuke!" kayaknya Naruto dan Kiba mau merusak momen senangnya. Anyway tahu darimana si dobe kalau Sasuke lagi di taman?

Tidak harus mikir lagi, Sasuke berdiri dan menyeret Sakura (lagi) dari sana—menghindar dari kejaran si Naruto dan Kiba serta Akamaru lewat belakang semak-semak. Setelah Kiba dan Naruto berada di bangku yang tadi di duduki Sasuke, mereka malah kebingungan sendiri. Bukannya tadi Sasuke duduk di sini? Sekarang mereka malah hilang dan cabut tidak tahu kemana.

"Ah, cepat sekali mereka kaburnya," gerutu Kiba sembari duduk di atas kursi taman itu. Ia merasakan capek juga sedikit di sekitar kakinya karena ikut-ikutan Naruto untuk mengganggu Sasuke.

"Hah, Teme memang seperti itu. Padahal kan aku merindukannya." Naruto ikut duduk di samping Kiba.

Naruto memang sering nongkrong di sini tiap malem bareng Kiba, ia mau memanfaatkan wifi yang ada di sekitar taman ini. Lantas ia mengeluarkan laptop-nya dan membukanya. "Yah sudah, kita internetan aja-lah."

Selagi Naruto dan Kiba mulai menghidupkan benda seperti buku itu, tiba-tiba Akamaru meloncat dari pangkuan Kiba ke semak-semak di belakang mereka. "Oi Akamaru mau kemana!"

.

Sasuke menghentikan langkahnya dan seretannya pada Sakura. Si emo melihat ke sekelilingnya yang tidak tahunya sudah berada di pinggiran sebuah sungai. Kelihatannya mereka masih berada di dalam taman ini.

Lantas Sasuke menoleh ke belakang menatap Sakura yang masih kebingungan. Ice cream yang berada di tangannya tumpah ke bajunya karena Sasuke seenaknya menyeretnya. "Maaf, Sakura." nah, kata maaf kayaknya udah mahfum dari mulut Sasuke mulai sekarang. Apalagi untuk kekasihnya.

Sakura tersenyum meyakinkan dirinya tidak apa-apa sekarang, "Enggak apa-apa kok." Sakura merasakan pegal di sekitar kakinya, ia memutuskan untuk terduduk di tempat sekarang—di atas rumput tipis yang kelihatannya baru di pangkas itu. Sedangkan Sasuke mau tak mau ikut duduk di sampingnya juga.

Si cherry membersihkan bekas ice-cream yang tidak sengaja tertempel di bajunya dengan tisu basah sesaat. Lagi bersih-bersih ia jadi teringat sesuatu, "Ah, Sasuke, aku bawa sesuatu." Sakura membuka tasnya yang dibawanya sedari tadi—mengeluarkan isinya yang sengaja di bawanya dari rumah. "Ini silahkan dicicipi." Sakura menyodorkan kotak bento dari dalam tasnya dengan senyumannya.

Saat dibukanya, di dalam sana terisi kue bolu yang keliatannya enak. Perasaan, Sakura tidak terlalu bisa masak deh, apa ini masakkan Sakura? Perasaan Sasuke jadi tidak enak, "Buat sendiri?"

"Yaah, mau coba?"

"Aku enggak makan makanan manis."

Sakura hanya terdiam, ia baru sadar kalau Sasuke memang tidak makan makanan yang manis. Sepertinya membuatkannya sebuah kue bukanlah keputusan yang baik. Lantas ia mengambil sepotong kue itu dan memakannya sendiri dengan perasaan bercampur aduk.

Sakura agak terkejut saat Sasuke menggingit ujung bolu yang tengah digigitnya juga sekarang, "Sasuke, bukannya kamu enggak suka kue?"

"Pengecualian buatanmu, bodoh." Sasuke menggigit lagi ujung bolu itu, lalu menelannya dan bergumam, "Lumayan."

Sontak pipi Sakura memerah sekarang, ia menjadi merasa tersanjung atas pengakuan Sasuke. Dengan perlahan Sakura menguyah kue yang masih ada di dalam mulutnya agak kikuk, kalau sudah seperti ini ia jadi merasakan rasa hambar pada kue tersebut.

Lagi-lagi Sasuke membuat jantung Sakura berdetak kencang saat dirasakannya tiba-tiba Sasuke memegang dagunya—menyuruhnya mendongak menatap matanya, "Bagiku, kaulah yang terpenting," bisiknya pelan membuat Sakura kalang kabut, wajahnya semakin mendekat hingga kedua hidung itu saling bersentuhan. Susah payah Sakura meneguk kue yang ada di dalam mulutnya. "Bagimu siapa, Sakura?"

"Te-tentu saja..." Sakura malah terkesan gugup, jantungnya seakan berhenti berdetak karena terpaan panas napas Sasuke, "kau, Sasuke." jawaban Sakura terkesan memaksa sekarang, mungkin itu semua karena gugup dirinya saat ini.

"Bagitu ya?"

Pesona seorang Uchiha memang enggak bisa dipungkiri lagi. Sakura diam saja saat Sasuke memiringkan kepalanya mengecup bibirnya serta membuat matanya tertutup—membuatnya meresapi sesuatu yang bergejolak di dalam sana. Udara yang tadinya dingin sekarang terasa panas dalam dirinya. Tangan Sakura mencengkram lengan baju Sasuke untuk meyakininya ia meresapinya. Mungkin ciuman itu tidak terlepas kalau tidak ada kilatan dari cahaya kamera dari sebelah sana.

Sasuke menoleh saat ia melepaskan ciumannya dan mendapati Naruto tengah terkikik yang enggak jauh di sampingnya sambil bawa-bawa kamera. "Jadi, kalian sudah pacaran?" tanya Naruto polos tanpa dosa. Sejak kapan si dobe berada di sana dengan muka tengilnya?

Sakura menengok ke samping melihat Naruto dan Kiba yang nyengir tidak jelas. Berhubung Sakura lagi malu—yang kebetulan benar-benar malu karena tertangkap basah seperti ini jadi dia hanya bisa mematung di tempat.

"DOBE!"

Kiba kabur sama Akamaru duluan dari sana tidak mau tahu apa yang akan terjadi selanjutnya antara Naruto dan Sasuke. Sakura tercengang tidak enak melihat Sasuke yang malu-malu itu sambil marah-marah ke Naruto. Kayaknya foto yang dicetak oleh Naruto akan dipintanya untuk kenang-kenangan—itupun kalau Sasuke tidak minta dihapus.

.

.

"Gadis berambut pink!"

Kalau tidak salah Sakura denger kayak gitu saat ia baru masuk ke dalam gerbang sekolah. Lantas ia pun menoleh ke sumber suara yang tidak tahunya ada di belakangnya.

Sakura nyengir sebentar, "Engh, ada apa ya?"

Dua orang cewek yang kayaknya berumur dua puluh tahunan mendekat ke arahnya. "Perkenalkan aku Tsunade." wanita yang berambut pirang memperkenalkan dirinya, " dan ini rekanku, Haku." Dan yang katanya rekannya itu membungkuk memberi hormat.

Sakura memandangi mereka bergantian beberapa saat. "A-ada apa ya?" Sakura merasakan asing pada kedua orang ini. Ia jadi takut kalau kejadian kemarin terulang lagi.

"Nona, apakah rambut anda ini asli?" tanya Haku yang entah sejak kapan sudah ada di belakang Sakura, wanita itu meraih dan menggenggam rambut Sakura lalu menciumnya—membuat Sakura merasa aneh diperlakukan seperti itu.

Sakura menjauhkan dirinya sesaat, geli dengan perlakuan orang yang baru ditemuinya ini, "Ma-maaf, kalian mau apa ya? Sebentar lagi jam sekolah akan masuk, aku masuk ke dalam kelas dulu ya!" dari nada si pink terdapat nada memohon.

Belum keburu Sakura cabut mereka sudah mencegatnya, "Tunggu nona, hari ini kan sekolah enggak belajar." Haku memegangi lengan Sakura, untung lembut, kalau saja ia megang dengan kasar, enggak segan-segan akan Sakura tonjok.

Sakura menoleh—menghadap mereka kembali dengan perasaan bingung, bagaimana bisa mereka tahu kalau hari ini sekolahnya tidak belajar? "Ka-kalian tahu darimana kalau hari ini enggak belajar?"

Mereka saling ketawa dan terkikik masing-masing, "Kami belum memperkenalkan sepenuhnya kepadamu kan?" Tsunade bicara lagi, "Kami berasal dari perusahaan ice-cream xxx. Kami sengaja ke sekolah ini untuk mencari anak remaja SMA yang mempunyai kelebihan." Tsunade lebih serius dua kali lipat dari yang tadi. Langkahnya semakin mendekat ke arah Sakura, membuat si pink memundurkan badannya pula. Herannya anak-anak yang masuk gerbang melewati mereka tidak heran. Mereka cuma ngelirik Sakura yang memasang tampang minta tolong dibebaskan dari kedua tente-tante ini.

"Dan sekarang kami enggak perlu mencari lagi model untuk iklan itu dari sekolah ini, kami punya niat baik loh, mau enggak jadi model iklan ice-cream perusahaan kami?" timpal Haku sembari maju berdiri di samping Tsunade—membuat si pink semakin terpojok di pagar sekolah.

"Kenapa harus aku?"

Terlihat Tsunade menghela napas, "karena rambutmu senada dengan warna ice-cream-nya," jelas Tsunade sambil menatap mata Sakura dengan pandangan yang sulit ditebak. Kalau si pink sudah melihat pandangan seperti ini rasanya aneh sekali. Mata tante ini seperti menginginkannya untuk bilang iya.

"A-aku pikir dulu deh," akhirnya Sakura ngejawab juga.

"Hm... aku harap kamu enggak salah pikir ya!" setelah itu Tsunade dan Haku meninggalkan Sakura dan berjalan menuju ke sebuah mobil merah. Mereka sepertinya sangat bebas keluar masuk gerbang sekolah ini. Bahkan satpam di gerbang sana tidak mencegat mereka untuk menanyai maksud kedatangan mereka kemari.

Mata Sakura masih mengawasi mereka lekat-lekat, ada perasaan ingin tahu atas tawaran menggiurkan tadi. "Dasar mencurigakan!" Sakura langsung masuk ke dalam lingkungan sekolahnya dan sepertinya dia tidak terlalu percaya atas tawaran itu.

.

"Sasukeee!" dengan cerianya Sakura memanggil kekasih barunya itu. Sebenarnya Sakura masih belum percaya dia jadian sama teman dekatnya. Jadi, dia sudah punya pacar dan melupakan Gaara?

Sasuke menoleh ke arah Sakura dengan wajah datarnya tapi terlihat teduh di mata Sakura. "Kenapa ceria sekali?"

"Yaah, karena hari ini kan enggak belajar. Guru-guru sedang rapat kan?" Sakura melempar cengirannya kemudian dia ikutan duduk di samping Sasuke. Buku yang sedari tadi di baca Sasuke kini telah dimasukannya ke dalam laci meja—untuk memberikan perhatian sepenuhnya kepada orang yang dicintainya itu.

"Hm, sepertinya akan ada pemilihan model dari perusahaan luar."

"Model apa? Pantas saja tadi di kelas Ino ribut sekali!"

"Katanya perusahaan itu mau mencari model ice-cream."

"Model ice-cream?" Sakura teringat tentang kejadian tadi pagi. Ternyata memang mereka tidak mencurigakan.

Melihat muka Sakura yang tiba-tiba berubah menjadi bengong Sasuke-pun bingung, "ada apa?" tanyanya penasaran.

"Tadi pagi aku bertemu dengan dua orang yang kayaknya mencurigakan, mereka langsung menawariku untuk menjadi model ice-cream, katanya aku adalah orang yang tepat karena rambutku senada dengan produk ice-creamnya."

"Hm, jadi?"

"Kukira mereka itu penjahat, tapi kayaknya bukan ya, hehehhe." Sakura berpikir sejenak, sepertinya si pink sedikit tertarik dengan tawaran tadi pagi. Bodoh saja kalau dia sampai melupakan tawaran itu.

"Kau tertarik ya?"

Sakura melirik Sasuke dengan pandangan ragu. Kekasihnya ini begitu pintar dan penuh kelebihan, sedangkan dia hanya gadis biasa yang tidak terlalu pintar. Kalau saja dia punya kelebihan seperti Sasuke mungkin dia bisa membanggakan Sasuke. "Yah, aku ingin mencobanya." Kalau Sasuke tidak membicarakan ini mungkin dia benar-benar akan melupakan tawaran itu.

Mendengar itu kerutan di dahi Sasuke terlihat, kayaknya si emo tidak setuju. Entahlah dia hanya tidak mau itu terjadi tanpa alasan yang bisa dijelaskan—walaupun nyatanya di memang bukan ayah Sakura. "Lebih baik kau melupakan itu."

Si pink malah terkejut mendengar jawaban Sasuke, dikiranya Sasuke akan memberinya semangat. "Kenapa begitu?"

"Enggak cocok untukmu." Setelah mengatakan kata yang datar dan tajam seperti itu Sasuke berdiri dari sana—berjalan keluar meninggalkan Sakura yang mukanya terlihat masam. Ada apa dengan Sasuke? Sakura jadi bingung.

.

Sampai ketemu dengan pagi lagi Sasuke masih belum menghubungi Sakura. Begitupun dengan gadis pink itu. Dia enggan menghubungi kekasihnya walau hanya sekedar bertanya 'sedang apa kau?' Sakura benar-benar kesal. Pagi ini dia berangkat sekolah dengan hati yang sulit sekali ditebak. Sebenarnya dia malas ke sekolah pagi ini. Kalau enggak Sasori nganterin dia ke sekolah, mana mau dia pergi.

"Sakura Haruno ya?" Sakura menoleh dan mendapati guru matematikanya memanggilnya. Si pink menghentikan langkahnya dan juga menghentikan pemikirannya yang di atas. Dia menatap gurunya itu dengan pandangan penuh tanya. Ada apa gurunya ini tiba-tiba memanggilnya?

Sakura mendekat ke arah Kakashi yang berdiri di depan kantor, "kebetulan sekali," ujar Kakashi dari balik maskernya. "Kau dipanggil ke kantor."

"Hah? Memangnya aku melakukan sesuatu?" seingat si pink memang dia tidak pernah macam-macam.

"Hm... lebih tepatnya kau harus melakukan sesuatu. Cepatlah masuk!" Kakashi memerintah seenaknya. Sebagai murid yang biasa-biasa saja Sakura harus menuruti perintah gurunya itu. melangkah pelan gadis itu masuk ke dalam kantor guru masih dengan membawa tasnya.

Sakura kaget sesaat ketika dia sudah masuk ke dalam—dan mendapati dua orang yang ditemuinya kemarin. Ternyata kedua tante-tante yang tidak dikenalinya itu sekarang ada di ruang guru—mungkin sedang menunggunya.

"Wah, Sakura ya? Duduk di sini!" tante-tante yang diketahui Sakura bernama Tsunade menginginkannya untuk duduk di sampingnya. Sekali lagi mau tak mau Sakura harus duduk di sana.

"Eng, tante kenapa bisa ada di sini?" Sakura lumayan heran karena para guru membiarkan mereka berdua masuk ke kantor. Memangnya mereka juga guru di sini? Seenaknya duduk di sini.

"Aku kan sudah bilang, aku ini pemilik perusahaan ice-cream xxx!"

"Emm.. lalu kenapa kau diperbolehkan masuk ke dalam lingkungan sekolah?"

"Nyonya, sepertinya kita harus memberitahukan dia dulu. Mungkin setelah itu dia baru mengerti!" Haku menyela tidak sabaran karena keliatannya ia ingin segera pergi dari sini.

"Iya iya." Kemudian pandangan Tsunade beralih ke Sakura lagi. "Gini, aku ini mengadakan kerja sama dengan kepala sekolahmu. Dia kan sekarang lagi di Taiwan karena ada tugas, nah mungkin belum memberitahukan kepada semua murid di sini, yaaa sebab beliau sangat sibuk. Kau tahulah."

Sakura hanya mengangguk pelan menunggu cerita selanjutnya. Sementara para guru yang lain sudah keluar dari ruangan ini beberapa menit yang lalu—sehingga memberikan Tsunade dan sekertarisnya itu lebih leluasa bicara dengan Sakura.

"Aku dengar darinya rating sekolah ini mulai merendah pada tahun ini. Kemungkinan besar tahun ajaran baru nanti murid yang mendaftar akan jauh lebih sedikit."

"Kenapa begitu?" Sakura masih belum mengerti sepenuhnya mengapa ini terjadi dan mengapa ini terkait dengannya serta rambut pink-nya.

"Yah mungkin karena bermunculan sekolah-sekolah baru di luar sana. Jadi," raut muka Tsunade lebih tegas dari sebelumnya. "Kata kepala sekolahmu itu yang merupakan temanku mengadakan kerja sama. Dengan adanya model dari sekolah ini kemungkinan rating sekolah ini akan meninggi lagi."

"A-apa harus aku?" Sakura masih tidak percaya dengan kesempatan ini. Sebenarnya dia senang sih, tapi masih bingung juga. Lagipula saat ini dia belum punya kesempatan untuk bicara sama kepala sekolah yang sampai sekarang belum pulang.

"Ya, hanya kamu yang punya rambut pink. Tadinya mau buat audisi. Tapi sepertinya hanya akan membuang waktu. Jadi, kami langsung memilihmu saja ketika pertama kali melihatmu."

Tsunade mengangguk menyetujui ucapan Haku. "Yah, kami harap kau menerimanya, Nona!"

Kayaknya Sakura masih berada dalam khayalannya. Dia berpikir tentang masa depannya. Begitu gemilang jika dia menerima tawaran ini. Begitupun dengan kedua orang tuanya dan Sasori, mereka semua pasti bangga. Ino saja kepengen jadi model tapi belum terpenuhi. Dan keuntungan lainnya dia bisa meningkatkan rating sekolah—yang kemungkinan nilai ujian kelulusan nanti sangat berpengaruh dengan ini. Kemungkinan dia akan lulus dengan hasil yang gemilang pula. Ah, beruntungnya dia memiliki rambut berwarna pink.

"Gimana, Nona?"

"YA, AKU MAU!"

.

.

"SAKURA!" Ino terlihat frustasi karena audisi pencarian model ice-cream gagal total—karena mereka sudah menemukan pemeran yang bagus yaitu Sakura.

"Ada apa, sayang?" di hati Sakura saat ini memang lagi senang-senangnya, karena minggu depan dia akan memulai syuting iklan perdananya.

"Kenapa harus dirimu siiih yang dipilih?" Ino merengek ngiri sama temannya. Berhubung Ino agak dewasa jadi dia tidak harus membenci temannya itu. "Aku kan mau!"

"Tenang saja, nanti kalau aku sudah terkenal kamu akan aku seret!" dengan mantapnya Sakura nyengir lebar. "Nanti temani aku ke salon ya." Sejak kapan si pink jadi demen ke salon?

"Ihhh, aku bener-bener iri tau gak! Tapi janji ya kamu akan menyeretku jadi artis juga nanti."

"Hahahah!"

Dari kejauhan Sasuke dapat melihat gadisnya sedang bercanda ria dengan temannya. Pria itu hanya memandang dengan pandangan yang sulit diartikan. Jujur saja dia tidak suka. Tanpa persetujuannya ternyata Sakura masih memilih jalannya.


Say thanks for reviewer : bintang, Bunga Sakura, Anka chan, Michi chan, deAmarilis, Ammai Hardinata, Putri Luna, QueeNanne11, 7color, bebCWIB uchiHAruno, Uzumaki aoi, imechan, sheila, Zrandinne, sasusakulovers, azusa.

Yang udah kepalang mampir ngerifyu yaa? *plak ngarep* XD