[A/N] Halo! Author mau mengucapkan terima kasih buat orang-orang yang sudah mereview di chapter 8 ^_^… hontou ni arigatou ne~~…
Oke sekarang author akan menjawab pertanyaan kuis yang ada di chapter 8…
Fumizuki dari anime Baka to Test to Shokanju
Raira dari anime Durarara!
Seika dari anime Kaichou wa Maid-sama!
Terakhir Lutwidge dari anime(kayaknya ini yang paling susah ya? Hehehe maklum… nama sekolahnya cuma disebutin dua atau tiga kali gitu di animenya…) Pandora Hearts
Selamat dan terima kasih buat sarsaraway20, Fitria –AlyssYouNightray-, dan seCret aRs karena dapat menjawab nama-nama sekolah tersebut^^…
Satu lagi! author minta maaf karena di chapter sebelumnya nggak ada adegan ichiruki… yah, author mengerti kekecewaan para pembaca yang sudah sebulan lebih menanti apdetan cerita ini buat liat adegan ichiruki tapi sama sekali nggak ada.. =_=' Yosh! Sekarang balik lagi ke ceritanya!
Disclaimer : sekali lagi diingatkan kalo Bleach itu punya om Tite Kubo di negeri sakura sana….
My Dearest Teacher
Chapter 9
Malam ini malam Senin. Sesuai janji, Ichigo datang ke rumah Rukia untuk mengajari Rukia. Sekarang mereka sedang belajar mengenai hukum newton.
"Jadi itu adalah rumus untuk hukum newton kedua. Sejauh ini mengerti?" tanya Ichigo sambil meletakkan pensil yang tadi ia pakai di atas meja.
"Hnnn…" jawab Rukia sambil mengangguk.
"Kalau begitu… coba kerjakan soal yang satu ini." Ichigo pun dengan segera membuatkan sebuah soal untuk Rukia di kertas. Rukia berusaha untuk menjawab pertanyaan yang dibuatkan oleh Ichigo. Namun setelah lima menit berlalu masih tidak ada hasilnya. Rukia pun akhirnya menyerah dan mengacak-acak rambutnya sambil berteriak sebagai tanda kalau dia sudah frustasi mengerjakan soal tersebut.
Ichigo hanya dapat menghela nafas panjang. "Sudah kuduga kau tidak akan bisa menjawabnya… capek-capek ku ajarkan tapi tidak mengerti juga," kata Ichigo pasrah.
"Apa kau bilang?!" Rukia pun bangkit dari duduknya dan berteriak kepada Ichigo. "Kalau sudah tahu aku tidak bisa menjawab kenapa masih juga kau memberikan soal itu padaku?! Jangan-jangan kau sengaja ingin menunjukkan betapa bodohnya aku ya!!"
"Tidak ada maksud seperti itu sih… tapi kalau kau sadar dengan sendirinya baguslah…" kata Ichigo sambil menutup mata dan menopang dagunya dengan tangannya di atas meja. Sesaat setelah ia mengatakan hal itu, Rukia sudah siap melempari Ichigo dengan koleksi boneka-boneka chappy miliknya. "Sepertinya kau sudah lelah… kita istirahat saja dulu…"
Rukia sedikit kaget dengan sikap pengertian Ichigo yang tiba-tiba muncul. 'Ini orang kenapa? Abis kesambet petir tadi siang ya?' Rukia pun memperhatikan wajah Ichigo dengan seksama. Sepertinya yang punya wajah merasa sedang diperhatikan, lalu pun membuka kedua matanya dengan perlahan dan balik memperhatikan mata ungu Rukia yang bersinar dengan indahnya. "Ada apa?" tanya Rukia.
"Hnn? Harusnya aku yang bertanya seperti itu kan? Kenapa kau dari tadi memperhatikanku? Terpesona?" tanya Ichigo dengan senyum nakalnya.
Kata terakhir dari Ichigo sepertinya berhasil membuat wajah Rukia menjadi sedikit kemerahan. "Enak saja! Nggak mungkin aku terpesona sama orang jelek sepertimu dasar strawberry mesum!"
"Hahaha.. kalau begitu kenapa dari tadi kau terus memperhatikanku?"
"Habisnya dari tadi kau kelihatan seperti sedang punya masalah sih… makanya ku tanya ada apa."
Ichigo merasa terharu karena Rukia memperhatikannya. Ichigo mengisyaratkan Rukia untuk mendekatinya. Rukia pun mengikuti isyaratnya dan berjalan hingga ke depan Ichigo. Ichigo pun lalu menarik tangan Rukia hingga ia terjatuh ke pangkuannya dan dalam sekejap Ichigo langsung memeluk Rukia dengan sangat erat. Rukia yang sadar kalau sekarang Ichigo sedang memeluknya dengan erat pun menjadi merah wajahnya. "A-ada apa ini Ichigo? Kenapa tiba-tiba…"
"Sssstttt… sudahlah… diam dulu untuk sejenak. Bairkan aku memelukmu," pinta Ichigo. Rukia yang masih bingung tidak mengatakan apa-apa lagi. Wajah Rukia masih menjadi merah, semakin memerah malah. Rukia lalu memutuskan untuk memeluk ichigo balik, namun tidak seerat pelukan Ichigo kepadanya.
Tok tok. Begitu mendengar suara ketukan dari pintu, Rukia langsung mendorong Ichigo sekuat tenaga hingga Ichigo terjatuh kebelakang. "Ya? Siapa?" katanya dengan wajah yang masih semerah tomat.
"Rukia? Tolong bantu kakak buka pintu kamarmu dong," kata Hisana dari balik pintu.
"E-eh… iya kak! Akan segera ku bukakan!" Rukia bangun dan melangkah menuju menuju pintu kamarnya. Setelah dibukakan pintu oleh Rukia, Hisana pun memberikan cemilan yang ia bawakan kepada Rukia. Rukia menerimanya dengan senang hati. Hisana sempat melihat Ichigo yang kebetulan masih terbaring di lantai.
"Loh Ichigo? Kau kenapa tidur di situ?"
"Haha tidak… tadi aku tersandung dan jatuh…" katanya sambil melirik ke arah Rukia. Rukia hanya bisa memohon maaf dengan menggunakan isyarat saat itu.
"Hahahaha… kau ini ada-ada saja. Baiklah aku turun duluan, masih banyak pekerjaan. Tolong bimbing adikku yang nakal ini ya." Hisana pun keluar dari kamar dan menutup pintu kamar tersebut. Ia tidak menghiraukan protes dari Rukia yang tidak terima kalau dia dibilang sebagai anak nakal.
"Huuh! Kakak sembarangan! Ada juga aku yang repot mengurus mahasiswa mesum satu ini!" protes Rukia sambil menaruh cemilan dari Hisana di atas meja belajar. Sesudah menaruh makanan, Rukia bangkit dan memandang keluar jendela atau lebih tepatnya ke kamar Renji yang saat itu lampu kamarnya baru saja menyala menandakan sang penghuni yang baru pulang.
Cukup lama juga Rukia memandangi kamar Renji sampai-sampai Ichigo pun merasa dicuekin. "Hei bocah, kenapa kau terus memandang keluar jendela?" tanya Ichigo.
Rukia menoleh dan memberikan Ichigo death glare karena memanggilnya bocah. Entah mengapa, Ichigo justru tersenyum saat Rukia menatapnya seperti itu. "Huh! Itu bukan urusanmu! Aku hanya khawatir pada Renji saja kok!" jawab Rukia singkat.
Jawaban Rukia memang tidak ada maksud lain, tapi jelas sekali terlihat ada sesuatu yang mengganggu Ichigo karena dalam sekejap, senyumnya menghilang dari wajahnya. "Siapa itu Renji?"
"Hnn? Renji itu sahabat baikku sejak kecil," jelas Rukia yang lalu duduk kembali di hadapan Ichigo sambil memakan cake yang diberikan Hisana.
"Hanya sahabat?" tanya Ichigo dengan nada curiga. Rukia merasa ada sesuatu yang mengganjal dengan kecurigaan Ichigo tersebut. Sesaat kemudian ia tersadar akan sesuatu dan ia pun tersenyum jahil. Ichigo merasa ada sesuatu yang aneh dengan senyum Rukia. "A-ada apa? Kenapa kau tersenyum seperti itu?"
"Hehehe… kau cemburu?"
Ichigo yang baru sadar dengan apa yang dimaksud oleh Rukia pun langsung memerah wajahnya. Namun karena gengsi, ia berusaha mencari alibi. "Nggak kok! Siapa juga yang cemburu sama bocah kayak kamu?"
"BOCAH??!!!" Rukia pun langsung menghujani Ichigo dengan beribu-ribu pukulan darinya. Alhasil, sisa waktu yang mereka miliki untuk 'belajar' habis tanpa terasa karena mereka terus-menerus berkelahi. Ichigo pamit untuk pulang karena masih ada tugas kuliah.
Setelah mengantar Ichigo keluar rumahnya, Rukia langsung kembali ke kamarnya tercinta. Sambil berbaring di atas ranjang kesayangannya, ia pun mulai berusaha menghilangkan rasa bosannya setelah kepulangan Ichigo. Entah mengapa, Rukia tiba-tiba teringat kembali peristiwa di depan apartemen Ichigo. Wajah Rukia pun langsung memerah seketika karenanya. Namun, dibalik semua rasa bahagianya itu, sebenarnya ada satu hal yang mengganjal pikiran Rukia. 'Kenapa waktu itu Ichigo tidak membiarkan aku menyatakan perasaanku padanya ya?' Selama ini Rukia berusaha untuk mengesampingkan pemikirannya tersebut tetapi sesekali hal itu kembali terlintas di kepalanya. Rukia yang sedang berusaha mengesampingkan pemikirannya itu pun akhirnya tertidur pulas di ranjangnya.
x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x
"Pagi Rukia!" sapa Rangiku di depan pintu gerbang sekolah.
"Pagi Rangiku," jawab Rukia dengan senyum yang lembut. Rukia dan Rangiku pun berjalan memasuki kelas bersamaan.
Selama seharian pada hari itu, tidak banyak hal yang terjadi di sekolah. Pelajaran berlangsung seperti biasa, tidak ada hal istimewa yang terjadi. Namun Rukia merasa sangat tidak nyaman selama seharian penuh. Penyebabnya tidak lain dan tidak bukan adalah karena Renji. Seharian penuh, ralat, semenjak hari Minggu, Renji selalu saja mengacuhkan atau menghindari Rukia. Kalau berpapasan mereka memang saling menyapa namun saat Rukia mengajak Renji mengobrol, ia pasti akan langsung melarikan diri dengan beribu macam alasan. Dari alasan dipanggil pembina klub kendo sampai alasan yang tidak masuk akal dengan pura-pura tidak melihat atau mendengar suara Rukia.
Saat pulang sekolah…
"Hei Rukia… kau dan Renji sedang marahan ya?" tanya Rangiku dengan tatapan curiga.
Rukia yang kaget dengan pertanyaan Rangiku pun menghentikan pekerjaannya yang sedang menyapu lantai. "Terlihat seperti itu ya?"
"Iya… kalian berdua seperti sedang bertengkar…" jelas Momo.
"…………"
"Kalau ada masalah, ceritalah pada kami," kata Rangiku sambil tersenyum. Ia pun lalu melanjutkan pekerjaannya, membantu Rukia menyapu lantai. (A/N: bagi yang bingung, mereka bertiga sebenarnya lagi tugas piket…)
"Aku sih… tidak merasa melakukan kesalahan apapun…" kata Rukia pasrah.
Momo dan Rangiku heran dengan jawaban Rukia. Karena menurut mereka, Renji bukan tipe orang yang akan ngambek tanpa alasan yang jelas. Apalagi kalau sudah menyangkut urusan Rukia…
"Sudahlah… tidak usah diambil hati… mungkin dia sedang pms. Paling besok juga sudah seperti biasa lagi," ucap Rangiku seraya berusaha untuk menghibur Rukia.
"Ya… semoga saja," kata Rukia.
x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x
Rukia berjalan dengan gontai menuju rumahnya seorang diri. Kepalanya penuh dengan berbagai macam pikiran. Kebanyakan waktu perjalanan pulang ia habiskan sambil memikirkan alasan kemarahan Renji. Akhirnya setelah sekian lama, Rukia menghela nafas dan menyerah untuk mengingat kejadian apa yang membuat Renji marah padanya. 'Huh! Si kepala merah itu maunya apa sih? Tiba-tiba saja marah padaku! Mana nyuekin aku lagi! kalau begini terus bagaimana aku bisa minta maaf padanya?' gerutu Rukia dalam hati. 'Ah, aku harus cepat-cepat… sebentar lagi Ichigo akan sampai di rumah…'
Entah ada angin apa, saat ia sampai di depan rumahnya, ia melihat Renji sedang bersandar di samping pagar rumahnya. Sepertinya ia sudah menunggu Rukia dari tadi.
"Renji? Sedang apa kau di sini?" tanya Rukia sambil menghampiri Renji. Renji yang sadar kalau Rukia sudah datang pun langsung berdiri dengan tegap dan tersenyum kepadanya.
"Rukia… ada yang ingin aku tanyakan padamu…" kata Renji pelan.
"Apa yang ingin kau tanyakan?"
"Sebenarnya… ada apa dengan kau dan guru lesmu itu?"
Rukia sempat kaget dengan pertanyaan Renji. 'Walah… kenapa tiba-tiba menanyakan hal itu?' pikirnya dalam hati. "Tidak ada apa-apa kok… dia itu hanya guru lesku," jawab Rukia. Renji terlihat sedikit tidak puas dengan jawaban Rukia, namun Rukia tidak menyadarinya. "Daripada itu, ada hal yang lebih penting yang aku ingin tanyakan!"
Kini giliran Renji yang bingung dengan perkataan Rukia "Mau tanya apa?"
"Kenapa kau menghindariku terus sih?" tanya Rukia dengan wajah sok marah.
Renji sudah menduga ia akan bertanya tentang hal itu. "Ah maaf… aku sebenarnya merasa tidak enak dengan kalian… padahal kalian sudah menyempatkan diri untuk melihatku bertanding tapi ternyata aku malah kalah…" ucap Renji berbohong.
Rukia tampak kaget dengan jawaban Renji. Ia sama sekali tidak sadar kalau Renji sedang berbohong padanya. Ia pun lalu tertawa terbahak-bahak. "Hahahahaha… ternyata itu alasannya! Hahaha… kau tidak perlu khawartir soal itu! Hahaha!"
"Hehehehe…" Renji berusaha tertawa seperti Rukia. "Maafkan aku."
"Tidak apa-apa! Asal lain kali jangan seperti ini lagi! Kau membuatku khawatir saja!" kata Rukia sambil menepuk punggung Renji. Renji yang merasa kalau kebohongannya tidak ketahuan pun merasa lega dan ikut tertawa dengan Rukia.
"Oh ya Rukia!" kata Renji tiba-tiba.
"Hahaha… ya?" kata Rukia sambil menghapus air mata yang keluar karena terlalu banyak tertawa.
"Ada satu hal lagi yang ingin aku bicarakan padamu…" Renji pun menatap mata ungu Rukia yang memancarkan kebahagiaan "Aku suka padamu…"
x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x
Ichigo sedang berjalan ke rumah Rukia sambil menelepon adiknya Karin. "Halo Karin, bagaimana kabar ayah?"
"Keadaannya sudah jauh lebih membaik…" kata Karin. "Ichi-nii… kau sendiri bagaimana?"
Ichigo pun tersenyum mendengar nada kekhawatiran terhadap dirinya dari adiknya yang biasanya sangat cuek tersebut. "Aku baik-baik saja kok."
"Ichi-nii… kupikir kau tidak perlu berkorban sejauh ini. Kalau sampai ayah tahu, aku yakin dia juga tidak akan setuju!"
"Karin… kau jangan pernah memberitahu ayah soal itu. Saat ini kesehatan ayahlah yang terpenting, jangan buat ia tambah stress…"
"Tapi-"
"Tidak ada tapi-tapian! Kau mengerti Karin?"
"Baik Ichi-nii…" kata Karin mengalah.
"Nah, aku masih ada urusan. Jaga dirimu baik-baik ya Karin. Daah…"
"Daaah Ichi-nii…" setelah itu Karin pun menutup telepon. Ichigo juga menutup handphonenya dan memasukkannya ke dalam saku celananya. 'Syukurlah kalau ayah baik-baik saja…' Ichigo pun terus berjalan ke rumah Rukia.
Saat Ichigo mau berbelok ke gang rumah Rukia, ia mendengar suara tawa gadis itu. Ia pun menghentikan langkahnya dan melihat Rukia yang sedang tertawa bersama seorang anak SMA yang tidak ia kenal. Ichigo memutuskan untuk mendengar percakapan mereka berdua sebentar.
"Oh ya Rukia!" kata Renji tiba-tiba.
"Hahaha… ya?" kata Rukia sambil menghapus air mata yang keluar karena terlalu banyak tertawa.
"Ada satu hal lagi yang ingin aku bicarakan padamu…" Renji pun menatap mata ungu Rukia yang memancarkan kebahagiaan "Aku suka padamu…"
Ichigo merasa sangat kaget mendengar pernyataan laki-laki tersebut. Ia pun dapat melihat kalau Rukia sendiri kaget mendengarnya.
"Hehe... ya ampun Renji… kau sedang bercanda ya?" kata Rukia sambil tersenyum.
'Jadi dia orang yang bernama Renji…' pikir Ichigo dalam hati.
Rukia berusaha melihat kebohongan di mata Renji, namun ia tidak melihat tanda-tanda yang ia harapkan. "Tidak… aku tidak bercanda…" kata Renji sambil menggelengkan kepalanya.
Ichigo yang tidak mau mendengar lanjutan dari pernyataan cinta Renji pun bermaksud mengganggu mereka. Ia pun keluar dari persembunyiannya dan berjalan mendekati mereka. Langkah Ichigo terhenti ketika ia melihat Renji yang tiba-tiba mendekati Rukia. Otak Ichigo juga ikut berhenti berpikir saat ia melihat Renji menundukkan kepalanya dan mencium Rukia tepat di bibirnya. Hatinya terasa sakit. Apalagi saat ia tahu kalau Rukia sama sekali tidak melawan saat dicium. "Aku benar-benar suka padamu. Aku menyukaimu dari dulu…" kata Renji lagi.
Perkataan Renji tersebut menyadarkan Ichigo dan ia pun berdeham. Rukia dan Renji pun akhirnya menyadari kehadiran seseorang dan melihat ke arah Ichigo. Rukia benar-benar kaget saat ia tahu kalau Ichigo ada di sana.
"I-Ichigo… ini…" Rukia berusaha mengatakan sesuatu.
"Maaf… Rukia akan segera memulai lesnya. Kalau tidak keberatan, aku ingin dia segera bersiap-siap…" potong Ichigo sambil menatap Renji dengan tajam.
Renji pun menatap Ichigo dengan penuh kebencian, setelah itu ia berkata kepada Rukia, "Sampai jumpa besok, Rukia." Renji pun lalu masuk ke dalam rumahnya. Sesaat sebelum masuk, ia menatap Ichigo dengan sinis sekali lagi.
Setelah Renji masuk, Ichigo pun menatap Rukia sambil tersenyum. "Nah, ayo kita mulai pelajaran kita," kata Ichigo sambil mengajak Rukia masuk ke dalam rumahnya.
"Ichigo!" Rukia bermaksud menjelaskan kejadian tadi sekali lagi kepada Ichigo.
"Kalau ingin mengobrol… nanti saja setelah kita belajar, oke?" kata Ichigo sambil masuk ke dalam rumah. Rukia pun tidak berkata apa-apa lagi dan mengikuti Ichigo masuk ke dalam rumah.
Selama pelajaran les, Ichigo tidak mengajak Rukia mengobrol sama sekali. Semua benar-benar full untuk belajar. Bahkan ia pun tidak mengajak Rukia bercanda sama sekali. Dua setengah jam waktu untuk les berlalu dengan sangat membosankan. Kali ini Ichigo akhirnya mengajaknya mengobrol, "Nah. Tadi kau ingin bicara tentang apa?" kata Ichigo sambil memasukkan buku ke dalam tasnya.
"Soal yang tadi itu…"
"Ooh.. soal kau yang sedang berciuman dengan pacarmu tadi. Tidak apa-apa kok! Aku tidak akan bilang siapa-siapa. Maaf ya tadi aku mengganggu…" kata Ichigo tanpa membiarkan Rukia mengatakan sesuatu. Rukia hanya terdiam saja.
"Ichigo… kau tidak merasa kecewa padaku?" tanya Rukia sambil menundukkan kepalanya.
Ichigo sendiri tidak berani menatap Rukia. "Kecewa? Kenapa aku harus kecewa? Dia itu kan pacarmu. Aku tidak berhak melarang kalian pacaran kan?"
Rukia lalu menatap Ichigo dengan penuh perasaan kecewa. "Kau benar-benar tidak peduli kalau aku dicium oleh Renji?"
"……" Ichigo mengepal kedua tanganya dengan sangat erat mendengar pertanyaan Rukia. "Tidak juga… dia itu kan milikmu… dan kau juga miliknya…"
"Tapi orang yang ku sukai itu-"
"Lagipula!" kata Ichigo memotong perkataan Rukia lagi. "Aku… sudah punya Senna…" kata Ichigo tanpa melihat Rukia.
Hati Rukia benar-benar sakit. Apalagi saat Ichigo menyebut nama Senna. Rukia yang merasa sakit hati, tidak bisa menahan emosinya lagi. Tanpa bisa ia tahan, air mata pun mulai mengalir membasahi pipinya. Rukia menatap Ichigo dengan tajam. Ichigo yang masih berpura-pura tidak bersalah akhirnya menatap Rukia kembali dan berkata, "Ada apa?"
Rukia lalu menampar Ichigo sekuat tenaga sampai pipinya benar-benar menjadi merah. "Asal kau tahu… dia itu bukan pacarku!" kata Rukia sambil berlari ke pintu kamarnya. "Satu lagi! Ingat baik-baik Kurosaki! Orang yang aku sukai itu hanya satu. Dan orang itu bernama Ichigo Kurosaki!!" Rukia pun berlari keluar kamarnya sambil menangis.
Ichigo sempat terhibur mendengar pernyataan Rukia, namun ia sadar kalu ia juga sudah benar-benar menyakiti Rukia. "Maaf Rukia… Aku juga menyukaimu. Tapi bagaimana pun juga. Tak peduli sebesar apapun rasa suka ku padamu, aku tidak akan pernah bisa memilikimu…"
To Be Continue….
x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x
[A/N] *sembunyi di bawah meja* hehehehe… kayaknya aku bakal dapet banyak komentar pedes nih…. Aku benar-benar author yang kejam…*devil grin*
Tapi readers jangan bosen-bosen kasih review buat cerita ini ya!!!
Jangan lupa ngereview oke??
