"Pengamatan pertama, tanaman Urga Urgii," ujar Rose sambil memegang sebuah kertas laporan pengamatan berlembar-lembar.
Rose, Scorpius, Albus dan Miracle sedang berjalan menuju tebing Hogwarts siang itu. Berbekal perlengkapan yang dibutuhkan, mereka siap menjalankan pengamatan pertama mereka untuk tugas Herbologi menyebalkan itu.
"Di sini tertulis pada hari pertama berilah tanaman itu sebotol minyak adas ungu lalu amati reaksinya setelah lima menit," ujar Rose lagi, matanya masih terpaku pada kertas laporan yang masih membutuhkan banyak jawaban itu.
"Sudahlah, tunggu saja sampai kita tiba di sana baru baca laporannya," komen Scorpius.
Rose hanya mendelik ke arah Scorpius, namun menurutinya. Mereka berjalan selama beberapa lama sebelum akhirnya sampai di dekat tepi tebing.
"Mari mulai pengamatannya," ujar Rose seraya menghela nafas berat. Ini akan menjadi 1 bulan yang panjang.
Ambition
By : LumosAsphodel31
Disclaimer : J. K. Rowling
Mereka mendekati tanaman berbentuk semak abstrak itu sambil mengamatinya sejenak. Rose segera mencatat ciri-ciri tanaman itu ke dalam laporan. Ya, laporan itu meminta semua informasi tanaman yang mereka amati secara detail, karena itu akan masuk ke dalam ujian tertulis OWL mereka nanti.
Ada beberapa kelompok lain yang kebetulan juga memilih mengamati tanaman Urga Urgii saat itu. Yang lainnya lagi mungkin memilih sore nanti atau minggu depannya lagi. Di laporan tertulis jelas bahwa mereka harus mengamati 1 tanaman masing-masing selama 7 hari berturut-turut, agar pengamatannya tidak salah.
"Kau yakin yang ini Rose tanamannya?" tanya Al sambil mencoba memegang sulur-sulur tanaman aneh itu.
"Begitulah yang Roxy ceritakan padaku, Al," jawab Rose, masih sibuk mencatat.
"Baiklah, akan kutuang minyak adasnya," ujar Scorpius. Ia mengeluarkan sebotol kecil cairan berwarna ungu transparan lalu menuangkan seluruh isinya ke sesemakan itu, lalu kembali mundur ke tempatnya semula.
Mereka berempat hanya memandang penuh perhatian pada tanaman itu, menunggu reaksi yang terjadi.
5 menit kemudian, tiba-tiba saja tanamannya bergerak-gerak. Sulur-sulurnya mulai melambai-lambai liar sebelum akhirnya berhenti tiba-tiba.
"Sudah?" tanya Al heran.
Rose yang penasaran berjalan pelan tapi pasti ke tanaman itu dan mengulurkan tangannya yang masih memegang pena bulu untuk menyentuh semak-semak besar setinggi pinggang yang aneh itu.
Tiba-tiba saja, semak-semak itu seperti menyadari ada manusia yang mendekat dan bergerak cepat lalu mengikat tangan kanan Rose, membuat pena bulunya terjatuh ke tanah.
"Rose!" seru Al terkejut. Tanaman itu mulai menarik-narik Rose masuk ke semak belukar itu. Rose mencoba menarik-narik tangannya mengunakan tangan yang satu lagi, membuatnya menjatuhkan kertas laporan itu begitu saja. Namun tanaman itu sangat kuat seperti besi. Tangan Rose seperti terkungkung suatu kandang yang berat.
Scorpius mencoba membantu Rose, namun saat ia baru saja menyentuh tangan Rose, tanaman itu melilit tangannya juga. Jadilah tangan mereka berdua terjebak di sulur-sulur tanaman itu.
"Tanaman macam apa ini?!" seru Rose kesal. Perlahan, sulur di tangan kanan Rose dan tangan kiri Scorpius menyatu, membuat kedua tangan itu terkurung di ikatan sulur yang sama.
"Apa-apaan ini?" seru Rose lagi. Sekarang Rose dan Scorpius berdiri berdampingan dengan bagian tubuh belakang menempel pada semak aneh itu, lengkap dengan kedua tangan mereka terperangkap sulur-sulur semak (jangan lupakan tangan kanan Rose dan tangan kiri Scorpius yang berada di perangkap sulur-sulur yang sama). Al dan Miracle tidak bisa berbuat apa-apa.
"Mungkin tanaman ini seperti mak comblang. Seperti mistletoe, hanya lebih kejam," ujar Al memberi kesimpulan.
"Jadi maksudmu aku harus mencium ferret ini baru bisa lepas, begitu?!" seru Rose tak percaya. Scorpius hanya menyeringai. Miracle mengambil kertas laporan itu dengan mantra Accio dan mulai membacanya.
"Setelah 10 menit, reaksi tanaman Urga Urgii terhadap adanya kandungan minyak adas ungu di lapisan epidermis mereka akan hilang," katanya membaca laporan itu.
"Nah Rose, Malfoy, tunggulah sampai 10 menit," ujar Al menenangkan. Scorpius agak kecewa mendengarnya, beda dengan Rose yang sudah bersyukur sebanyak-banyaknya di dalam hatinya. Tanaman itu entah mengapa mulai memerangkap kaki mereka berdua juga, tetapi tidak sekuat tangan mereka.
"Sini biar kutulis laporannya," ujar Al seraya ingin merebut kertas laporan itu dari Miracle. Miracle refleks menjauhkan laporan itu dari tangan Albus.
"Hey!" protes Al. Miracle hanya mendelik padanya sebelum menulisi kertas laporan itu.
"Aku bisa menulis, Nona Beaumont yang Terhomat. Biarkan aku saja yang menulis," ujar Al pelan dan sabar. Sabar bohongan tentunya. Miracle hanya melirik sebentar padanya sebelum kembali menulis.
"Tulisan lelaki jelek," komen Miracle singkat, matanya tidak lepas dari kertas itu.
"Kalau dibandingkan laki-laki lain tulisanku bagus kok," ujar Albus tidak terima. Miracle tidak merespon sama sekali.
"Menyebalkan," ujar Al pelan sekali, sehingga hanya Miracle yang dengar. Mereka tanpa sadar mendengus kecil bersamaan. Rose menahan tawa melihatnya.
"Kau kenapa, blossom?" tanya Scorpius melihat Rose yang menahan geli.
"Namaku Rose Weasley bukan blossom," jawab Rose kembali ke mode juteknya.
"Blossom itu panggilan khususku untukmu," jelas Scorpius.
"Demi Merlin Malfoy! Kita bahkan bukan teman," ujar Rose frustasi. Belakangan ini Rose memang gampang frustasi.
Scorpius baru ingin membalas ucapan Rose ketika sulur-sulur tanaman itu mulai meregang dan tidak lagi mengekang tangan dan kaki mereka berdua. Rose cepat-cepat melempar sulur-sulur itu ke mana saja untuk melepaskan tangan kakinya dari tanaman aneh itu. Scorpius pun melakukan hal yang sama, tetapi tidak seburu-buru Rose. Semak yang diminyaki cairan adas ungu itu kemudian berubah warna menjadi agak kecoklatan.
"Akhirnya!" seru Rose penuh kelegaan. Ia mengambil kertas laporan yang diserahkan Miracle lalu membaca instruksi berikutnya.
"Tandai bagian tanaman Urga Urgii yang telah kalian siram minyak adas ungu dengan pita kelompok kalian, itu akan menjadi domain pengamatan kalian 7 hari ke depan. Silakan lepas pitanya kalau sudah tujuh hari."
Al mengambil segulung pita merah yang sudah ditulis dengan nama belakang mereka berempat dan menempelkannya ke semak-semak itu. Susah sih karena tanamannya tak berbentuk, namun akhirnya bisa juga. Saat selesai, pita itu seperti garis polisi yang melindungi sebuah TKP.
"Selanjutnya, taburkan bubuk lompar pada domain pengamatan kalian."
Giliran Miracle yang mengambil perlengkapan pengamatannya yaitu sekaleng bubuk lompar, meraih segenggam bubuk dari dalam kaleng itu, dan menaburkannya dengan merata di domain mereka.
"Kembali esok hari dan lihat apa yang terjadi."
"Selesai. Terima kasih untuk hari ini ayo Rose kita kembali ke kastil," ujar Albus cepat dan menarik tangan Rose ke arah kastil.
"Kita ke sini bersama jadi ke kastil juga seharusnya bersama," ujar Scorpius menyeimbangkan langkah cepat Albus dan Rose.
"Kalau ada kau, Rose tidak akan bisa tenang dan berpikiran jernih," ujar Al menolak secara halus 'permintaan' Scorpius.
"Aku tahu kau mau cepat pergi karena ada Miracle, kan? Harusnya kehadiranku tidak berpengaruh apapun bagimu," ujar Scorpius tak mau kalah. Rose mendecak sebal.
"Tidak berpengaruh baginya. Berpengaruh bagiku, Malfoy," ujar Rose jengkel. Scorpius hanya menyeringai menjengkelkan. Ia terus saja mengikuti langkah cepat mereka. Tanpa mereka sadari, Miracle juga mengekor di belakang mereka.
Mereka terus berjalan seperti itu dan mulai berpisah saat di Aula Besar, menuju meja asrama masing-masing untuk makan siang.
…
Tim Quidditch Gryffindor beserta rekan-rekan mereka sedang berbondong-bondong menuju lapangan Quidditch untuk berlatih (dan menonton bagi yang bukan tim). Tim yang didominasi keluarga Potter-Weasley itu tampak bersemangat menjalani latihan pertama mereka tahun ini. Mereka optimis meraih kembali piala quidditch asrama yang telah mereka borong bertahun-tahun belakangan ini.
"Dengan hasil seleksi tim tahun ini, aku yakin kita akan jadi tim terbaik!" seru James semangat, juga sebagai tugasnya untuk mengobarkan semangat anggota lainnya.
Tetapi mereka langsung badmood melihat ada tim lain yang sedang latihan di lapangan.
"Hey!" seru James pada si kapten Ravenclaw. Yap, yang berlatih tidak lain tidak bukan adalah tim Ravenclaw (lagi).
"Sudah berapa kali kubilang kalau anak asrama lain tidak boleh menonton acara latihan kami?! Dan kau sekarang malah membawa lebih banyak anak Gryffindor lainnya!" bentak Merry saat menghampiri mereka di tribun penonton.
"Kami ada jadwal latihan hari ini dan sudah dapat izin dari Professor Longbottom, jadi minggirlah!" ujar James tanpa basa basi. Merry memasang ekspresi kejengkelan yang mendalam.
"Latihan saja lain kali! Timku duluan di sini, siapa cepat dia dapat," balas Merry.
"Kalian latihan lain hari atau kami akan mengadukan hal ini pada Professor Longbottom," ujar Roxanne tenang namun mengancam. Merry mendengus meremehkan.
"Dasar Gryffindor otak udang tukang pengadu," cibir Merry. Tampak seorang lelaki berseragam Ravenclaw menghampiri Merry.
"Ada apa dengan anak-anak Gryffindor ini, Merry?" tanyanya formal.
"Mereka ingin menggusur kita," jawab Merry kesal. Lelaki berambut sewarna biji kopi itu hanya memandangi anak-anak Gryffindor itu dengan tatapan yang tidak dapat didefinisikan.
"Wah wah wah. Tebak siapa yang ikut berpesta," ujar Nicholas sinis.
"Albert Davies si Pangeran Quaffle," sindir Fred dramatis.
"Mendapat gelar itu dengan kelicikannya mencelakakanku saat pertandingan tahun lalu," ujar James tak kalah mencibirnya. Hampir semua mata anak Gryffindor yang ada di situ menatap Albert Davies dengan tatapan mencela.
"Seperti yang selalu kukatakan, kejadian itu merupakan sebuah kecelakaan," katanya penuh ketenangan.
"Sudahlah, tujuan kita di sini untuk berlatih," ujar Lily melerai. Merry dan Albert segera terbang lagi ke lapangan, menghampiri anggota lainnya.
Pada akhirnya tim Ravenclaw memilih pergi dari lapangan dengan bersungut-sungut. Tim Gryffindor yang terdiri dari James, Azalea, Lily, Fred, Roxanne, Nicholas dan Albus pun beterbangan menuju lapangan, menggantikan kehadiran tim Ravenclaw sebelumnya.
"Dasar kapten menyebalkan, enak saja mengatai kita otak udang," ujar Nicholas pada rekan setimnya.
"Kita punya Rose, Hugo, Lily, apa belum cukup untuk membuktikan kalau kita tidak bodoh-bodoh amat? Mungkin mereka yang sebenarnya otak udang," ujar James tak kalah kesalnya.
"Mungkin topi seleksi benar-benar butuh pensiun. Anak-anak Ravenclaw itu lebih cocok masuk Slytherin daripada Ravenclaw," ujar Fred, disertai anggukan setuju oleh teman-temannya.
Rose, Hugo, Louis, Lucy, dan Rachel menonton acara latihan mereka sambil mengobrol ria.
"Uncle Harry dan Uncle George pasti bangga sekali melihat anak-anak mereka semuanya masuk tim dua tahun berturut-turut," ujar Lucy memulai pembicaraan.
"Dan Dad akan mendesakku untuk ikut seleksi tim Gryffindor lagi," ujar Hugo pasrah.
"Untung Dad tidak pernah memaksaku ikut seleksi tim," ujar Rose senang.
"Itu karena sejak kau kecil Dad tahu kau akan menjadi cetak biru Mum," ledek Hugo.
Rose memang sangat mirip dengan ibunya. Tapi, kata-kata cetak biru agak berlebihan, karena Rose juga mewarisi beberapa sifat ayahnya. Tempramental merupakan salah satu contohnya. Malah bisa dibilang kalau dibanding Rose, Hugo yang lebih mirip dengan Hermione.
"Uncle Ron tidak akan senang melihat di antara semua saudaranya, hanya anaknyalah yang tidak masuk tim quidditch," ujar Louis enteng.
"Jangan lupakan Uncle Percy! Molly dan Lucy juga tidak masuk tim," bela Hugo disertai sahutan 'Hei!' dari Lucy.
"Uncle Ron juga tidak akan suka disamakan dengan Uncle Percy. Huft, untung Dominique dulu masuk tim, jadi aku aman," ujar Louis. Kakaknya Dominique dulu memang masuk tim Gryffindor menjadi chaser, dan saat lulus ia langsung digantikan oleh Lily yang saat itu pas memasuki tahun keduanya di Hogwarts.
"Blossom!"
Oh tidak, batin Rose. Rose tahu pasti ada yang memanggilnya saat ini, dan itu pasti si ferret itu.
"Kau ini ngapain sih ke sini? Ini kan acara latihan tim Gryffindor!" bentak Rose. Scorpius menyeringai.
"Aku tidak berniat mengganggu kok. Aku hanya ingin mengajakmu meneliti lagi," katanya enteng. Miracle juga sudah berjalan mengikuti Scorpius untuk menjemput Rose.
"Kau tidak lihat Al sedang latihan? Kami sudah minta izin!" ujar Rose.
"Potter memang diizinkan, tapi kau tidak. Kau kan bukan anggota tim. Jadi daripada hanya menonton, ayo bantu aku dan Miracle!" ujar Scorpius sambil menarik-narik tangan Rose. Rose hanya menatapnya tajam, tapi Scorpius tidak takut karena ini tatapan tajam level biasa yang artinya Rose tidak marah-marah amat.
"Baik baik! Mengganggu saja," kata Rose pasrah. Ia segera mengikuti Scorpius dan Miracle keluar lapangan quidditch.
…
Setelah mengambil perlengkapannya, Rose, Scorpius, dan Miracle akan mengamati lagi tanaman Urga Urgii itu. Sekarang tanaman abstrak itu telah berubah menjadi tanaman bersulur yang sangat rapi seperti membentuk pagar rumah. Ya, itulah efek bubuk lompar yang mereka taburkan sebelumnya.
"Kita masih harus menyelidiki kenapa tanaman bersulur itu menjadi reaktif terhadap manusia saat dituangi minyak adas ungu," ujar Rose.
"Mungkin tanaman itu sensitif pada kulit manusia?" komen Scorpius asal.
"Yang benar saja, Malfoy. Kalau begitu kenapa dia tidak mengikat wajah kita sekalian," ujar Rose.
"Kau berharap wajah kita dikurung di sulur yang sama, hm?" goda Scorpius.
"Hentikan sikap bodohmu itu, Malfoy. Tahun ini kau memang aneh," ujar Rose kesal.
Aku tidak akan berhenti sampai dapat peringkat satu, Rosie-blossom, batin Scorpius licik.
"Karena yang dikurung hanya tangan dan kaki kita, mungkin tanaman itu hanya sensitif dengan apa yang hanya terdapat di tangan dan kaki kita," ujar Scorpius. Kali ini pendapatnya bukan pendapat aneh seperti biasa, tapi pendapat serius.
"Kuku?" celetuk Miracle singkat. Rose dan Scorpius membulatkan matanya terkejut sekaligus kagum.
"Astaga Beaumont, tak kusangka kau jenius!" ujar Rose senang dan segera menulis entah apa itu di kertas laporannya.
"Kuku?" tanya Scorpius tidak yakin. Nada bicaranya beda dengan nada bicara Miracle yang tadi.
"Iya Malfoy! Itulah mengapa ikatan di kaki kita tak sekuat di tangan kita. Kuku kaki kita tertutup sepatu dan kaus kaki, sedangkan kuku tangan kita bebas lepas," jelas Rose yang kelihatan semangat sekali. Miracle hanya cuek meski sudah menjawab sebuah misteri dengan jenius.
Setelah beberapa langkah-langkah pengamatan selesai dilaksanakan, Rose, Scorpius dan Miracle kembali ke kastil Hogwarts menuju tujuannya masing-masing.
…
"Tadi Beaumont itu jenius sekali. Dia berhasil menebak kalau tanaman Urga Urgii sensitif terhadap kuku," ujar Rose di ruang rekreasi kepada Al saat mereka selesai makan malam. Mereka sedang bersantai sebentar sebelum pergi ke kelas Astronomi, untungnya dengan Ravenclaw.
"Itu kebetulan," ujar Al.
"Bilang saja kau tidak mau dia terlihat pintar. Merlin Al, kenapa kau tiba-tiba jadi bermusuhan dengan Beaumont?" tanya Rose heran. Al mendengus.
"Tentu saja karena dia jahat dengan saudaranya sendiri," jawab Al seakan-akan pernyataan itu sudah jelas sekali.
"Iya sih, tapi kita tidak boleh menghakimi dulu, bisa saja ada latar belakangnya kenapa itu bisa terjadi," ujar Rose bijak.
"Tetap saja itu salah," bantah Al.
"Sepertinya kepedulianmu terhadap mereka itu berlebihan," ujar Rose. Al tidak merespon.
"Kau suka pada salah satu dari mereka ya?" ujar Rose dengan nada meledek. Al hanya melirik sebentar, tapi tidak menjawab.
"Aku ingat saat masih kelas satu, kau bilang kau kagum pada perempuan berambut merah. Jangan-jangan itu Mahoney?" ledek Rose lagi disertai tawa kecilnya.
"Memang iya," ujar Al terang-terangan. Rose kaget mendengarnya.
"Hah? Aku cuma bercanda padahal," ujar Rose, tidak menyangka Al akan sejujur itu.
"Memang iya, Rose. Aku percaya padamu. Jadi, aku tidak perlu menyimpan apapun darimu," ujar Al sambil memandang ke arah Rose.
Sekarang Rose yang jadi tidak enak dan canggung. Al baru saja membeberkan rahasianya pada Rose, di saat yang tidak Rose duga.
"Kalau menilik dari kelakuanmu sekarang, berarti-"
"Ya, Rose. Aku masih menyukainya. Aku menyukai Mahoney."
Rose hanya bisa menganga.
Oke gimana? Belakangan ini ScoRose-nya memang gak greget, sebenernya dari awal emang gak greget-greget banget sih. Yah, menurut author, sekarang tuh lagi masa pedekate mereka, jadi author banyak-banyakin fluff dan sekalian membuka kisah tokoh lain juga (misalnya Al). Tapi tenang, pasti author lebih banyakan ScoRose-nya kok :D Kisah lain cuma biar kalian gk jenuh aja.
Mungkin nanti romance yang agak serius bakal ada di beberapa chapter lagi.
So, review?
