Um, hai. Ada yang masih ingat fic ini? _(:3 」∠)_

Ok, tanpa babibu mari langsung saja, enjoy~!


Words count: 2.107words

Rate: T

Warning: possible typo(s); chara(s) death; possibly OOC; alternate timeline; possibly BL/shonen-ai

-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-

Disclaimer:

Detective Conan and Magic Kaito fully belong to Aoyama Gosho

The story belongs to me

-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-

Now, let the story begins...

o.O.O.o.o.O.O.o

Chapter 8

-8th Day-

Kaito menatap moncong senjata yang mengarah tepat ke wajahnya itu seraya memutar otak, mencari cara untuk melepaskan diri dari cengkraman Nachi dan untuk menghindar dari lontaran timah panah yang pasti akan melesat sebentar lagi.

Dari sudut matanya ia dapat melihat sosok Shinichi yang berlari ke arahnya. Ia sendiri tidak mengerti dari mana Shinichi memperoleh tenaga untuk melakukannya sementara tubuhnya jelas-jelas tengah babak belur dan kelelahan.

"—KAITO!"

Shinichi menjeritkan namanya. Tangannya terulur berusaha mendorongnya menjauh dari jalur laju peluru, tapi jaraknya masih beberapa langkah dari mantan pencuri terkenal itu.

Dor.

Dan benar saja, tak sampai sedetik kemudian, senjata itu meletup keras.
Merah tercipta. Jeritan menggema. Nachi bergetar ketakutan hingga terkencing-kencing dengan tidak terhormatnya. Tapi Kaito masih tetap berdiri tegak, meskipun ada bercak darah di lengan kemejanya. Lntaran peluru itu hanya menggores lengannya, rupanya.

Sementara itu yang menjerit dan mengerang kesakitan adalah Shibata. Sebutir peluru bersarang di kakinya, sementara pistol yang tadi digenggamnya kini tergeletak tak berdaya di dekatnya. Bagaimana bisa? Jawaban hanya satu, sniper. Polisi telah mengepung tempat itu, tampaknya, karena detik berikutnya sepasukan polisi langsung menyerbu masuk. Shibata yang sudah tak berdaya dengan mudah dibekuk, sedangkan Nachi tampaknya telah pingsan duluan.

"Akhirnya," gerutu Shinichi pelan, meskipun rasa lega jelas tampak di wajahnya. Melihat buronannya telah diamankan, adrenalinnya pun mulai surut, dan tubuhnya mulai merasakan kelelahan serta nyeri luka-lukanya. Ia limbung ke depan, tidak mampu menahan tubuhnya untuk tetap berdiri. Ia merasakan kesadarannya mulai pudar, dan gelap menyambutnya.

Untungnya Kaito yang menyadari keadaan Shinichi –atau bahkan bisa dibilang ia memang menunggu hal ini terjadi– berhasil menangkapnya sebelum tubuhnya menghantam tanah.

"Shinichi! Oi, dimana ambulansnya?! Shinichi harus dibawa ke rumah sakit!"

Mendengar teriakannya, paramedik segera bergegas membawa tandu mereka dan mengangkut Shinichi ke dalam salah satu ambulans yang telah disiapkan. Nachi dibawa dengan ambulans yang lain. Kaito memaksa untuk ikut bersama sang Detektif, mengabaikan goresan peluru darimana darahnya masih terus mengalir. Meskipun, tentu saja, paramedik yang berada di ambulans itu tak seabai dirinya. Mereka membersihkan dan membalut luka Kaito setelah memeriksa keadaan Shinichi dan memberikan pertolongan pertama baginya.

Sementara ambulans itu terus melaju di jalanan yang untungnya cukup lengang, Kaito terus-terusan berdoa agar pemuda yang masih terbaring tak sadarkan diri itu tidak menderita luka yang fatal.

.o0O0o.

Ketika Shinichi kembali membuka matanya, dinding putih serta selang infus yang menancap di lengannya langsung menyadarkannya bahwa ia berada di rumah sakit. Ia mengerang pelan, merasakan ngilu di sekujur tubuhnya. Saat itulah ia melihat sesosok pemuda dengan rambut berantakan melenggang masuk. Mata mereka bertemu, dan untuk sesaat pria itu hanya berdiri mematung di ambang pintu. Detik berikutnya sebuah senyum lebar terkembang di wajahnya.

"Shinichi! Kau sudah sadar?"

"Seperti yang kau lihat," jawab Shinichi seraya mengangkat bahu, yang kemudian disesalinya karena ia langsung menggerutu atas rasa sakit yang menyerangnya.

Kaito mengernyit melihat hal itu. "Lebih baik kau tidak banyak bergerak dulu, Shin. Dua tulang rusukmu patah, satu retak, dan belum lagi luka-luka lebam dan beberapa jahitan di tubuhmu. Sebenarnya kau diapakan saja sampai bisa babak belur begini sih?"

Sayangnya omelan Kaito tak digubris oleh Shinichi. Pikiran detektif itu tengah teralihkan oleh hal lain, dimana hal lain itu adalah segelas kopi yang masih mengepulkan asap di meja di samping tempat tidurnya. Aroma kopi yang disukainya itu sudah menggoda indera penciumannya sejak Kaito masuk tadi, dan sejak itu pula matanya tak lepas dari gelas kertas yang ia tahu menyimpan minuman favoritnya itu.

Kaito, merasa diabaikan oleh Shinichi, mengikuti arah pandangan Shinichi dan hanya bisa menghela napas berat. "Apa kopi itu lebih menarik daripada laporan mengenai kondisimu?"

Mendegar hal itu, barulah Shinichi mengalihkan perhatiannya ke mantan pencuri itu. "Sudah berapa lama aku tidak sadarkan diri?"

"Dua hari. Kau membuatku khawatir, tau."

"Itu artinya sudah empat hari aku tidak minum kopi," gerutunya.

Kaito tidak tahan untuk tidak memutar matanya atas tingkah antik tuan rumahnya itu. "Jadi hal itu yang kau pikirkan, eh…," dengan masih agak enggan Kaito meraih gelas kertas itu dan mengulurkannya pada Shinichi. "Tanpa gula, kesukaanmu."

Alisnya Shinichi terangkat. Ia memandang gelas putih yang terulur di depannya itu curiga. "Sejak kapan kau minum kopi hitam? Kukira kau membencinya?"

"Sejak kau masuk rumah sakit," gerutunya, "Jadi, kau mau atau tidak? Sebentar lagi waktunya checkup dan mereka pasti tak akan mengijinkanmu meminumnya nanti."

Ada berbagai pertanyaan di benak Shinichi tentang hal itu, tapi baginya, saat ini segelas kopi hitam lebih penting dari semua pertanyaan itu. Ia menyesap cairan hitam itu perlahan, berhati-hari untuk tidak membakar lidahnya, dan yah… bagaimanapun juga kopi hitam memang yang paling enak baginya.

"Kalau sampai terjadi apa-apa karena kau meminumnya, aku tidak tanggung jawab lho."

Ucapan Kaito membuat Shinichi menghadiahinyasebuah tatapan maut, tapi yang bersangkutan malah terkekeh melihatnya, membuat Shinichi memilih untuk mengabaikan pemuda itu dan kembali menyesap kopinya.

"Ngomong-ngomong, kau tidak kerja hari ini, Kuroba?"

"Kemarin kau memanggilku Kaito dan sekarang kau kembali memanggilku Kuroba? Oh ayolah, Shin…," Kaito memasang muka kecewa, "apa aku masih kau anggap sebagai orang asing?"

Sekarang ganti giliran Shinichi yang mendengus kesal. "Jadi, kenapa kau disini, Kaito? Kau libur?" tanya Shinichi lagi, sengaja memberi penekanan pada nama pemuda itu.

Kaito nyengir lebar, puas. "Aku keluar," jawabnya santai. Sayangnya Shinichi tidak menanggapinya dengan santai.

"Kau apa?"

"Aku keluar, Shin," ulangnya, "Kawahara-san sudah memperoleh dua pekerja baru, kurasa ia tidak memerlukan bantuanku lagi. Tapi ia bilang aku bisa mempertunjukkan sulapku di barnya, kalau aku mau. Kawahara-san benar-benar orang baik."

"Itu tidak menjawab pertanyaanku," Shinichi menatap Kaito tajam, seakan berusaha mengulitinya. Yah, apa yang Kaito harapkan, bahwa Shinichi akan menerima alasannya begitu saja? Tidak mungkin. Bagaimanapun juga pria itu adalah detektif, satu dari yang paling hebat yang pernah ditemuinya.

"Aku hanya tidak cocok dengan pekerjaan di bar, kurasa. Aku ingin mencari pekerjaan lain."

"Mencari? Kau berhenti sebelum mendapat pekerjaan baru?" detektif itu menatapnya tidak percaya.

"Aku—"

"Jangan bilang kau berhenti karena mencemaskanku?"

Perkataan Kaito dipotong begitu saja, dan ia hanya bisa menatap Shinichi dengan mulut menganga—sebelum akhirnya kembali memasang poker facenya, tentunya.

"Kau bodoh atau apa, Kaito? Hal ini tidak ada hubungannya—"

"Tentu saja ada hubungannya! Coba kalau aku sadar kau tidak pulang, kau pasti tak akan terluka separah ini!" kini giliran perkataan Shinichi yang dipotong. Kaito menatapnya dengan tatapan penuh sesal, seakan semua yang terjadi adalah salahnya, dan Shinichi tak suka hal itu.

"Bakaito—" Shinichi melihat Kaito mengernyit dengan panggilan itu tapi ia pura-pura tidak melihatnya, "—ini bukan salahmu. Semuanya terjadi karena kecerobohanku, dan memang ini adalah resiko dari pekerjaanku. Jadi tidak ada gunanya kau menyalahkan dirimu seperti itu,bodoh."

"…kalau begitu anggap saja aku melakukan ini juga untuk diriku sendiri. Aku melakukannya agar aku berhenti dihantui rasa bersalah karena membiarkan orang-orang terdekatku terbunuh karena aku terlalu lamban, terlalu naïf. Dan aku tidak ingin hal itu terjadi lagi. Aku tidak mau merasakan kehilangan dan ketidakberdayaan yang sama. Aku hanya tidak mau mengulang kesalahan di masa laluku, Shin…"

"Kaito…"

Pemuda itu menundukkan kepalanya. Shinichi bisa melihat bagaimana jari-jari pemuda itu memutih karena ia mengepalkan tangannya kuat-kuat, bagaimana tubuhnya bergetar. Dan sungguh, sebenarnya Shinichi paham perasaan itu. Ia juga pernah mengalaminya. Karena itu juga ia tak mau ada lagi yang terluka karenanya.

Shinichi baru saja berniat mengatakan sesuatu untuk memecahkan suasana canggung itu ketika terdengar seseorang mengetuk pintu ruang rawatnya, menandakan kedatangan seorang suster dan juga seorang dokter untuk checkup-nya.

Kaito pun beranjak dari duduknya, memberikan ruang pada mereka untuk dapat memeriksa keadaan Shinichi. Poker facenya telah kembali terpasang, tak memberikan petunjuk sedikitpun atas obrolan mereka sebelumnya. Tapi Shinichi masih bisa merasakan kabut gelap itu bergelantungan di sekeliling mereka.

Shinichi, yang tertangkap basah dengan segelas kopi di tangannya, tentu saja harus mendapat omelan dari sang dokter. Kaito malah nyengir dan mengejeknya akan hal itu, walaupun akhirnya ia pun mendapat omelan karena memberikan kopi itu pada Shinichi. Mereka beradu mulut seperti biasa, seperti obrolan tadi tidak pernah terjadi, atau setidaknya bagi orang lain terlihat begitu.

Setelah kepergian sang dokter dan perawatnya, yang mengatakan bahwa butuh paling tidak 2 minggu sampai Shinichi boleh pulang, menyusul atasan Shinichi dan beberapa rekan kerjanya. Kaito memanfaatkan kesempatan itu, beralasan bahwa mereka pasti akan membicarakan mengenai laporan kasus itu dan ia yang hanya warga sipil tak seharusnya berada disana. Dan tentu saja Shinichi tidak punya hak untuk melarangnya pergi. Mungkin itu adalah cara paling tepat untuk menghilangkan kecanggungan mereka setelah apa yang terjadi.

"Shibata Hirofumi sudah ditangkap atas tuduhan penculikan dan percobaan pembunuhan. Sementara itu Nachi Takahiro juga tengah dirawat di rumah sakit. Sebenarnya aku heran kenapa keadaanmu lebih parah darinya, Kudo-kun."

Shinichi hanya tertawa kecil mendengarnya.

"Keadaannya tidak terlalu parah, ia sudah boleh keluar dari rumah sakit beberapa hari lagi," lanjut Shiratori-san, "Mungkin yang lebih perlu dikhawatirkan adalah karirnya, mengingat skandalnya telah terekspos keluar. Lalu, istri Nachi memutuskan untuk mengadopsi bocah itu, Makoto, ke dalam keluarga mereka. Nachi-san beruntung wanita itu tidak meninggalkannya begitu saja."

"Dia istri yang baik," gumam Shinichi menyetujuinya.

Mereka membicarakan beberapa hal lain sampai jam besuk berakhir dan Shinichi kembali ditinggal sendirian disana. Ia sudah menghabiskan makan malamnya –dengan agak bersusah payah mengingat tangannya yang masih lebam dan ia harus menahan sakit tiap kali ia menggerakkannya. Harusnya ia menulis laporan atas kasus kali ini, tapi Shiratori-san telah berbaik hati mengambil alih tugasnya, dan pada akhirnya ia tak tahu apa yang bisa dilakukannya disana.

Ia melihat ponselnya tergeletak di meja, dan tanpa sadar ingatannya kembali ke saat dimana Kaito menemukannya, bagaimana ia mengaku bahwa ia lupa telah mengatur ponselnya ke mode 'diam'. Ia mengerutkan kening, tangannya berusaha menggapai benda itu.

"Lebih baik aku menggantinya," gumam Shinichi pada dirinya sendiri.

Ia tengah mengutak-atik ponselnya ketika tiba-tiba benda itu berbunyi. Ia hampir saja menjatuhkan benda itu saking kagetnya atas panggilan masuk itu. Mengecek layar ponselnya, ia menemukan nama Kaito berkedip-kedip.

"Moshi-moshi."

"Shin? Kuharap aku tidak mengganggu?" terdengar suara Kaito dari ujung sana.

"Tidak, Kaito. Ada apa?"

"Aku berencana membawakan beberapa baju ganti untukmu besok, apa ada baju spesifik yang ingin kau bawa? Atau ada barang-barang yang kau perlukan?"

Shinichi menautkan alisnya, menimbang-nimbang baju apa yang diperlukannya, tapi pada akhirnya ia hanya berkata 'terserah kau saja'. Kaito menggerutu, mengatakan bahwa jika itu jawabannya harusnya ia tak perlu sok-sokan berpikir panjang begitu. Shinichi hanya nyengir, meskipun ia tahu Kaito tak dapat melihatnya.

"Ah, dan malam ini aku akan memulai debutku sebagai pesulap," ujar Kaito senang. "Aku akan ke Fántasma malam ini, jadi kalau kau mencariku telepon saja, ok? Aku selalu membawa ponselku kok."

Sang detektif hanya menggumam sebagai tanda mengerti. "De, nama panggung apa yang akan kau gunakan? KID the Magician? Phantom Magician KID?" goda Shinichi. Kaito malah tertawa mendengarnya.

"Kuroba Kaito. Aku akan memakai nama itu," ujarnya dengan yakin dan penuh rasa bangga.

"Hee," Shinichi tersenyum mendengarnya. "Maa, berjuanglah kalau begitu."

"Aa, sankyu~ Sampai besok, Shin."

"Ya. Hati-hati di jalan."

Keesokan harinya, ketika Kaito berkunjung dengan satu ransel berisi pakaian gantinya serta sekeranjang apel. Dengan bangga ia mengatakan bahwa apel itu adalah hasil dari gaji pertamanya sebagai pesulap. Dan Shinichi mengomelinya karena malah menggunakan gaji pertama itu untuk membelikan buah untuknya dan bukannya menabungnya.

Mereka menghabiskan sepanjang hari itu mengobrol tentang berbagai hal, yang biasanya tidak mungkin mereka lakukan mengingat jam kerja mereka yang bertabrakan. Shinichi mengetahui lebih banyak hal –dan membuktikan bahwa beberapa dugaannya benar– tentang Kaito.

Sementara itu sang pesulap telah beberapa kali menjebak Shinichi dalam triknya, beberapa kali membuat sang detektif mengerang sebal dan menghadiahinya death glare, serta beberapa kali membuat suster yang tengah berjaga memperingatkan mereka untuk berhenti membuat keributan.

Hari itu, seminggu sejak Shinichi masuk rumah sakit, Kaito dengan bangganya memproklamirkan bahwa ia telah mendapat pekerjaan baru.

"Kau tahu kedai kopi yang baru buka di dekat Bank Teito? Aku diterima bekerja disana," ujarnya dengan penuh semangat dan cengiran lebar.

Shinichi memberikan tatapan skeptik ke arahnya. "Memangnya kau bisa membuat kopi?"

"Tentu saja tidak."

Shinichi langsung sweatdrop.

"Hei, jangan berekspresi seperti itu! Aku bekerja di bagian suplai, Shin. Tapi manajernya bilang aku bisa belajar meracik kopi dari barista kami," lanjutnya.

"Hee, begitu rupanya."

"Aa. Mungkin nanti aku akan berhasil meracik kopi yang lebih enak dari black coffee kesukaanmu itu."

"Hah, tidak mungkin."

Dan keduanya kembali beradu mulut layaknya bocah. Percakapan mengenai masa lalu mereka tak lagi dibahas, seakan mereka menguncinya jauh di ujung terdalam dan tergelap dalam hati masing-masing.

Hari ke-8. Masih butuh seminggu lagi bagi Shinichi sebelum ia boleh pulang, meninggalkan ruangan serba putih dan selalu berbau disinfektan itu. Beberapa hari bekangan mendung memang selalu menggantung di langit, tapi hari itu lebih suram daripada sebelumnya. Sepertinya tinggal menunggu hitungan menit sebelum hujan mulai turun.

Namun seperti biasa, Kaito akan mampir ke rumah sakit untuk melihat keadaan teman serumahnya sebelum berangkat ke tempat kerjanya. Toh ia mendapat shift malam, yang tentu saja tidak semalam jam kerjanya di bar.

Sebuah payung sudah tersimpan rapi di dalam tasnya. Ia sudah siap kalau sewaktu-waktu hujan turun. Tapi jelas ia tidak siap menemukan kamar Shinichi kosong melompong.

Tidak lagi, pikirnya.

.

to be continued

.


Saya baru sadar kalo udah 4 bulan ga update orz. Do'akan saya bisa update cepat di tengah tekanan tugas akhir ini haha. Anyway, terima kasih bagi yang sudah menyempatkan baca, dan review/fave/follow! Seperti biasa ditunggu kritik dan saran dan curhatan dan apapun itu lewat review~ See you!