Kikasa.

.

Ada dua hal yang sebenarnya Kise tidak suka. Pertama, adalah tamu.

Ia sudah cukup bertahun-tahun bertemu tamu, saat mengadakan pesta di rumahnya, bertemu press dan paparazzi yang melintah info pribadi untuk dijual, atau bertemu designer-designer dan teman-teman kedua kakaknya yang popular. Berbagai macam karakter orang sudah ia temui.

Tetapi tamu, terutama press yang suka mengganggu privasinya agar bisa di jual, adalah yang membuatnya tidak menyukai tamu. Ia pernah diliput seharian untuk ditaruh online oleh sebuah majalah lifestyle, difoto saat mandi atau saat ada gadis teman kakaknya datang dengan label [Skandal! Model Kise Ryouta dengan (nama cewek)! Apa mereka akan bersama?!], manajer galaknya saja yang selalu datang ke rumah masih susah membuatnya terbiasa.

Sebenanrya ia tidak membencinya dan rasa tidak sukanya tidak parah. Dulu. Sebenarnya alasan pertama lebih dikuatkan oleh alasan kedua:

Kise sebenarnya tidak menyukai teman-teman Kasamatsu.

Tidak semuanya tentunya, karena tentu saja ada beberapa senior yang tidak membuatnya meringis atau mengusik Kasamatsu karena Kise tidak bisa melarang pacarnya untuk tidak terlalu aktif. Sebenarnya 'terlalu' bukanlah hiperbola mengetahui Kasamatsu menjadi koordinator divisi kaderisasi, kapten tim basket universitas, dan anggota himpunan fakultasnya. Mungkin itu seleranya, sesame hati dengannya, gitu, yang juga sebenarnya tidak kalah sibuk dengan modelling dan klub basket. Tetapi…

"Kise, sepertinya divisi kedisiplinan akan mengadakan rapat di apartemen." Ujar pacarnya selagi mereka memakan sarapan. Kise yang mengunyah waffle, menahan hidungnya untuk mengerut.

Jangan lupa kata lagi karena itu bukan pertama kalinya. "Ooh, jam berapa?" ia memasang tingkah santai.

Kasamatsu mengerlingkan matanya ke langit-langit sembari mengesap jus jeruk. "Hmm… mungkin setelah kelas terakhirku… jam tiga sore, bagaimana?"

Kise memberi senyuman geli sembari menaruh dagunya ke telapak kirinya, tertawa kecil, "ya, tidak apa-apa, senpai. Tetapi kelasku masih sampai jam empat."

Kasamatsu mengangguk mengerti dan meraih garpu bersih dan menyomot waffle Kise, "kamu serius tidak apa-apa jika pulang-pulang mereka masih ada…?" suaranya ditarik sesuai gesturnya yang melambat sembari memotong kue gendut itu, menorehkan selai lemon sembari melihat Kise intens.

Kise hanya memperhatikan tangan indah Yukio sembari menekukkan kedua alis, "ya… tidak masalah. Beneran." Ia balik menatap Kasamtsu yang memasukkan waffle ke mulutnya, "aku tidak merasa terganggu dan selama mereka menjaga apartemen kita tetap rapi tidak akan masalah."

Kasamatsu memberi senyuman kecilnya yang langka dan mengangguk paham. "Aku tidak akan marah jika memang kamu tidak suka."

…Ya, oke. Dia belum bisa mengakui tapi memang Kise sedikit tidak suka. Sedikit berarti tidak cukup untuk memberi tahu Kasamatsu sampai masa jabatannya selesai. Kise mengingat terakhir senior-seniornya datang—dan mereka bukan dari jurusannya!—dengan menyuruh-nyuruhnya. Membawakan minum, makan, bahkan mengambil pesanan ramen mereka yang berada di luar area apartemen mereka dan saat itu Kise tidak berniat membawa mobilnya karena ia tidak benar-benar ingin turun lagi ke basement lalu menunggu pesanan yang ternyata lamanya seperti siput tua sampai hujan benar-benar turun dan ia harus menerpa hujan itu dengan modal jaket tipis dan pulang mendapati pacarnya terlalu sibuk meladeni teman-temannya dan—yeah, Kise pikir itu sudah cukup sebagai alasan.

Mungkin juga, dari masa Teikou, sudah tertanam sikap-sikap anti-senioritasnya. Ia tahu Kiseki no Sedai adalah kumpulan anak-anak angkuh dan awal masuk Kaijou saja ia tidak percaya akan fakta bahwa 'kau harus patuh dengan seniormu'. Apa itu senioritas? Hanya embel-embel untuk membabukan juniornya. Kise tidak pernah percaya ada strata dalam umur. Tidak jika itu berujung dengan pembudakan. Egonya juga berkata, ia jauh dari seniornya. Ia sudah kerja, ia seorang model, ya Tuhan! Mengapa ia harus tunduk hanya karena umur? Ia tidak sebodoh itu.

Dari awal masa orientasi ia tidak takut dengan tatapan predator seniornya. Bahkan, senior yang ia tolerir hanya kakak kelasnya di Kaijou.

Jadi, saat hari H datang, Kise pulang ke apartemen mendapati sepatu-sepatu yang tidak terlalu asing di atas genkan dan mata-mata yang teralih perhatiannya mendengar pintu depan terbuka. Kise mendongak mendapati dua perempuan dan tiga laki-laki duduk melingkar di ruang tengah, menatapnya tanpa berkata apa-apa. Kise menggumamkan 'tadaima' dan beberapa menjawab, sisanya balik ke tugas mereka. Kasamatsu menjawab sembari keluar dari dapur dengan sepiring kue kering,

"Kise, kau pulang cepat." Suaranya renyah dan Kise biasanya merengkuhnya setiap pulang kuliah, tetapi mendapati mata-mata memperhatikan interaksi mereka, Kise hanya bisa menahan tangannya sampai gatal.

Kise tersenyum lembut, "ya… dosennya akan mengadakan seminar." Ia melepas sepatu dan mengalih pandangan hambar ke lingkaran dan tersenyum hambar sembari melambai sehambar-hambarnya. "Aku ke kamar dulu. Jika butuh apa-apa, ketuk saja."

Kasamatsu hanya mengelus pundaknya dan mengangguk, kembali ke lingkaran sembari meletakkan piring itu di tengah. Kise dari jauh mendengar salah satu dari kakak tingkatnya itu menggumam,

"Kasamatsu-kun, kenalkan teman sekamarmu kepadaku. Dia dingin, tidak kayak di majalah…"

Kise harusnya terbiasa, mendapati publik mengetahuinya sebagai model dan sebagainya sehingga ada fans. Ia tidak ingat nama kating itu, tetapi ia tahu dari awal mereka rapat di apartemen mereka, gadis itu mencoba meminta nomor HP-nya dan bolak-bolak ke kamar mandi untuk mengintip kamarnya. Dia tidak melakukan itu lagi —menyimpan nomor fansnya, maksudnya, tidak setelah ia resmi bersama Yukio. Ia curiga gadis itu yang memberi inisiatif untuk rapat di apartemennya terus.

Tetapi tentu itu tidak cukup membuatnya kesal, tidak sampai rapat benar-benar selesai.

.


.

"...Jadi, kalian pacaran?"

"Ya, senpai…" Kise menahan menghela nafas panjang sembari matanya memperhatikan jijik kulit kuaci yang dilempar tidak masuk ke dalam mangkuk, tidak dipungut lagi. Pemuda di hadapannya masih mengoceh,

"Kasian sekali Megumi. Ia sepertinya suka denganmu. Setiap rapat menanyai nomormu. Tapi, dulu kau pasti banyak pacar, ya? Berapa pacarmu? Oh, tunggu! Biar aku tebak, tiga belas?" Kise menahan kernyitan mendengar topik yang sebenarnya tidak ingin ia bahas, tidak selama Kasamatsu berada di dapur, membersihkan piring bekas kudapan dan mendengarkan mereka dalam diam.

"Bukaan… tidak sebanyak itu, senpai…" jawabnya sembari menaut kedua alisnya, mengempasis.

Pemuda di depannya hanya terkekeh, menepuk pundak Kise sampai ia harus menahan tangannya ke sisi meja. "Pfft… lebih, jangan-jangan?! Wah, parah. Kasamatsu, kau dengar itu?"

Kise menggigit bibir bawahnya panik, "Enggak! Senpai bohong! Tidak sebanyak itu…" ia melirik panik ke dapur mendapati Kasamatsu hanya menahan senyum lucu. "…cuma lima." Sebenarnya ada dua lagi tetapi itu hanya berlangsung beberapa hari dan Kasamatsu tidak butuh info itu.

"Whoaaa… lebih banyak dari padaku, tahu tidak." Pemuda ini, oke sebut saja Mimuno Ryuusuke, adalah kakak tingkat satu jurusan dengan Kasamatsu dan suka sekali stalling. Ia suka menempel kepada Kasamatsu seperti benalu dan mengaguminya sebagai sosok pekerja keras. Kise tidak bisa membantah itu tetapi orang ini… tidak… tahu… kondisi.

Mulutnya seperti keran wastafel yang bocor dan tidak berhenti sampai tersumpal dango atau kuaci atau makanan apa pun. "Dulu pacarku yang paling lama bahkan mencoba melamarku. Lalu tentu saja aku tolak, apa dia gila atau seorang yandere, kah?" ia terkekeh sembari mencomot kuaci yang sudah ia buka kulitnya dan dikumpul menjadi satu, memasukkannya ke mulut dengan tangannya yang di telungkup seperti bocah.

Kise merengut jijik dan membuat suara tawa hambar, ia sedari tadi melakukan itu (Kise merasa buruk sekali) dan mengangkat kedua ujung bibirnya saat Mimuno melihatnya, memberi senyuman setengah meringis, "ehe... ehehehe…"

"Sudah mainnya, kalian berdua. Pulang sana, Mimuno."

Seperti panggilan malaikat, Kise menoleh mendapati Kasamatsu masih memakai celemek dan menaruh tangannya di pinggul. Mimuno membuat suara rengekan, "eeeh… besok kita tidak ada kuliah. Slow, bro."

Kasamatsu menaikkan satu alis, "iya, tapi Kise ada latihan basket." Ujarnya sembari mencopot dan menggantung celemek di gantungan.

Kise menahan senyuman lebar sembari memberi mata harapan ke Mimuno, "ah, ya, senpai. Besok harus siap-siap buat turnamen musim panas!"

Mimuno memajukan bibirnya, "Hmm… baiklah, karena aku hebat dan ingin yang terbaik untuk universitas kita, aku akan balik ke istanaku dulu!"

Kise menahan diri untuk mengerlingkan matanya sarkastis, orang ini. Kise menghela nafas lega, meregangkan bicepnya yang pegal dan memperhatikan Mimuno-senpai menarik jaket jurusannya ke bahu, Kise mengikuti langkahnnya dari belakang untuk menutup pintu. Tetapi Kasamatsu tiba-tiba menyentuh pundaknya.

"Kise."

Ryouta menoleh ke Yukio yang memajukan tubuhnya untuk menarik kerahnya. "Ini permintaan terakhir," ia berkata dengan pelan, "antarkan Mimuno sampai stasiun."

Ryouta menekuk bibirnya ke bawah dan rasanya bantahan sudah berada di ujung lidahnya jika saja Mimuno tidak menyela, "Oh, ya, Kasamatsu..."

Kasamatsu memberi isyarat dari alis tebalnya yang terangkat, mengatakan: tuh, kan.

"…aku boleh diantarkan ke stasiun? Aku tahu aku bisa jalan kaki tapi sekarang sudah cukup larut jadi kau tahulah."

Kise memberi tatapan, kita harus bicara setelah ini, kepada pacarnya. Tetapi, Kasamatsu hanya mendorongnya pelan sembari berkata, "ya, tenang saja, Ryouta yang akan mengantarkanmu. Tapi kita harus ke basement dulu."

Mimuno sudah lebih dulu menuju lift, tersenyum lebar sembari berkata, "Asiik… keren banget, punya pacar yang punya mobil untuk kemana-mana." Ia memencet tombol lift dan Kise menahan segala kesalnya sembari berkata,

"Ah, aku lupa kuncinya, senpai." Ia segera menarik tangan Yukio, "Mimuno-senpai duluan saja."

Mimuno hanya menggedikkan bahu, inosen dari pertukaran pesan yang Kise dan Kasamatsu saling lempar. Ia memberi salut kepada kedua pasangan yang sekarang menuju apartemen mereka. Selagi itu, Kise menutup setengah pintunya untuk segera memberondol pacarnya dengan argument,

"Yukio-san! Apa dia tidak bisa ke stasiun sendiri? Terlalu larut untuk pulang jalan kaki tapi tidak terlalu larut untuk mengganggu kita?!"

Kasamatsu berhenti sebentar dengan sebutan nama kecilnya lalu membalas, "Lihat, maka dari itu aku bilang ini permintaan terakhir. Tadi saat rapat Mimuno sudah bilang ia ingin diantar ke stasiun dan aku sudah keburu berjanji." Kise semakin merasa kesal, sejak kapan… sejak kapan kaptennya ini begitu submisif.

"Ini tidak adil! Kau mau-mau saja disuruh-suruh, senpai." Sesaat suara Kise meninggi karena Kise bingung. Ia merasakan sebuah sentilan, rasa bersalah dari ujung ulu hatinya saat Kasamatsu tersentak mendengar suaranya.

Kasamatsu membuka mulutnya untuk berkata sesuatu dengan nada yang lebih tinggi lagi, tetapi nafasnya tertahan dan akhirnya ia menghela desahan kesal. "Ini menurutmu disuruh-suruh? Atau memang kamu saja yang tidak suka teman-temanku, Kise?" ia menunjuk dada Kise, "lihat, apapun yang kau pikir itu mau bagaimanapun tidak salahnya aku membantu seorang teman. Jangan meremehkan orang mentang-mentang mereka tidak sebaik kamu."

Meremehkan…? Harga diri Kise tersentil, seperti waktu ia pertama masuk klub basket di Kaijou, dari orang yang sama. "Aku tidak meremehkan." Gumamnya tidak benar-benar ingin membantah, membuang tatapannya, bibirnya cemberut.

Kasamatsu melembutkan air mukanya, tersenyum tipis sembari menilikkan dagu Kise pelan, "aku tahu kadang mereka menyebalkanmu tapi…" ia menangkap tatapan Kise yang melemah karena suaranya melembut, "…aku akan sangat senang jika kamu mau membantu."

Kasamatsu terlihat malu dan ragu, dengan kakunya ia mendekatkan bibirnya dan menangkap bibir tipis Kise, membuat pasangan berambut pirangnya terbelalak. Ia mengecup pelan untuk beberapa detik dan melepaskan, kedua telinganya semerah pipinya sekarang.

Kise bahkan tidak sempat bergerak hanya menggelagap, "E-eh…?"

Yukio mengalihkan pandangannya sembari menyembunyikan wajahnya dibalik punggung tangannya. "Sudah cepat sana keburu Mimuno curiga."

Kise memberi senyuman lebar dan matanya berbinar seperti bulan yang sekarang bisa mereka lihat saat mereka membuka pintu, Kise seperti disuntik morfin melihat Kasamatsu yang hanya tersipu malu.

Dengan gemas ia menarik tubuh Kasamatsu keras dan menabrak kedua bibir mereka, Kise membuat suara isapan yang basah dan jijik. Alis Kasamatsu berkedut kesal lalu ia, seperti otomatis, menyundul ulu hati pacarnya dengan lututnya.

"Cepat, bodoh!"

.


.

Note:

Damn, Jet, berapa banyak OC kamu? (berhentilah)

Saya sendiri tidak tahu mengapa menulis ini kecuali karena saya pikir saya ingin membawa sesuatu tentang 'kuliah' dan 'tamu'. Apa ini masih sesuai dengan tema? :/

Saya suka ironinya kikasa, Kise seperti tipe yang tidak percaya senioritas dan strata umur tetapi ia di-ship sama Kasamatsu. :333 tapi itu opini saja. Menurut saya tidak masalah ada orang yang berpikir seperti itu atau berpikir sebaliknya. Saya sendiri tidak percaya senioritas tetapi memang hormat itu harus (mau tua mau muda), dan menurut saya kalau kesal sama senior yang semena-mena sama saja menunjukkan kebocahan kita dan semakin jelas perbedaan kedewasaannya.

Yha curcol :v