EKG : Grafik yang dibuat oleh sebuah elektrokardiograf yang merekam aktivitas kelistrikan jantung dalam waktu tertentu. (-wikipedia)
Defibrillator : Alat kejut jantung yang menghantarkan alur listrik dengan voltase tertentu. (-pen)
.
.
.
"Rasengan!" Naruto berbalik dan siap menghantamkan bola biru bertekanan tinggi itu pada si penyerang, hingga matanya melebar melihat target memberi satu tinju ke arah kepalanya.
Fokus Naruto sontak menghilang saat matanya menangkap jelas, siapa targetnya.
Seketika, rasengan di tangannya menghilang.
Praaaang!
Tinju Sakura sukses mendarat tepat di wajah Naruto. Topeng porselen itu hancur berkeping-keping. Sakura yang melompat kehilangan keseimbangan, jatuh menindih sosok hero yang membuat ia dan ayahnya celaka.
Sakura duduk di pinggang hero tersebut dengan wajah yang s eakan di tarik paksa tiap otot-ototnya.
Hero di balik pecahan topeng porselen rubah itu... Naruto!
Sementara Naruto menganga tak percaya ia hampir saja meluluh lantakkan organ dalam tubuh Sakura dengan Rasengan.
Mereka berdua hening sejenak.
"Na-naruto...?" Sakura berusaha mengembalikkan kesadarannya yang tercerabut.
Naruto memandang gadis musim semi yang terduduk di pinggangnya. Mengabaikan rasa hangat akibat sentuhan langsung selangkangan Sakura dengan pinggangnya.
"Sa-sakura-chan?"
Naruto tiba-tiba mendorong Sakura, membuat gadis itu terpekik dan kedua siku bertemu aspal untuk menahan tubuhnya. Naruto terduduk sambil menatap kedua tangannya.
Berkali-kali, otaknya mencoba mencerna apa yang terjadi pada dirinya sendiri.
Naruto segera mendekati Sakura, melingkarkan satu lengannya pada pundak gadis merah muda.
"Sakura-chan... kau tak apa?"
"K-kau..." Sakura menatap Naruto, sejenak membiarkan emerald dan safir bercumbu dalam amarah, "Kau mencelakaiku dan ayahku..."
"A-ayahmu?" Naruto makin terkejut.
Sakura sontak meraik kasar kerah jubah Naruto. "Siapa kau?! Siapa kau sebenarnya?! Apa kau Uzumaki Naruto yang kukenal!"
"A-aku..." Naruto tergagap.
Perlahan, bulir bening mengalir di pipi Sakura.
Tajamnya emerald nan basah kini memperkosa safir yang tergetar, "Siapa kau?! Uzumaki Naruto yang kukenal... bukan seperti kau!"
Naruto berdiri dalam gegas lalu berlari, sebelumnya, ia meraih helm yang tergeletak di jalan milik pengendara yang tunggang langgang saat ia datang di awal tadi untuk menutupi wajahnya. Sakura menatap kepergian Naruto yang bak pengecut.
Lalu Sakura tergeletak pingsan.
Heroes
The Nineth chapter
"A friend"
A shoulder to lean on grief
Warning : OOC/AU/and etc.
Sakura duduk di bangku samping pintu kamar ICU. Di dalam, ayahnya masih terbaring tak sadarkan diri, ditemani beberapa petugas S.A.C yang membesuk. Sembab matanya pertanda lelah menangis, Sakura hanya berdiam diri dengan muka kusut.
Disalah satu pipinya, tertempel plester penutup luka akibat pecahan kaca yang menancap. Di beberapa bagian lengannya juga tertempel plester yang sama.
Pintu ruang ICU terbuka, beberapa sosok menyeruak dan memperhatikannya. Salah satu yang berjenis kelamin perempuan membungkukan badan dan mengintip wajahnya.
"Nona Sakura, sebaiknya Anda beristirahat, kami akan bergantian menjaga Komandan disini," Anko melirik ke sampingnya, "Antarkan nona Sakura pulang, tiga orang jaga dia dirumah sampai besok kemari lagi."
"Siap, Investigator Anko!" tiga petugas memberi hormat.
Sakura tak ubah dari geming, ia sama sekali tak memberikan respon apapun.
"Nona..." panggil Anko.
"Tinggalkan aku..." ujar Sakura lemah.
"Tapi kondisi Anda-"
"Tinggalkan aku..." potong Sakura dengan getir, "Kumohon, tinggalkan aku..."
Para petugas S.A.C saling pandang, lau mereka paham bahwa mereka harus memberikan waktu sendiri untuk putri komandan mereka.
"Baiklah, hubungi kami jika kau butuh sesuatu..." ujar Anko mengalah.
Sakura menunduk dalam, lagi, meski telah ia tahan, airmata kembali jatuh seirama langkah kaki bawahan ayahnya yang semakin menjauh. Kedua tangannya mengepal di atas lutut, ia semakin merasa sesak.
Tentang jatidiri Naruto.
Tentang penjelasan Sasuke.
Naruto yang menyerangnya.
Sakura menutup mulut, berusaha buncah tangisnya tak memenuhi lorong unit gawat darurat.
Hingga seseorang duduk disampingnya tanpa disadari derap langkahnya oleh Sakura. Sakura mengambil nafas panjang, menyandarkan sisi kepalanya ke lengan sosok yang baru datang itu. Disaat seperti ini, bukan belas kasih yang ia butuhkan.
Buka pula kata-kata penghibur bernuansa kemunafikan.
Ia merasa kepalanya serasa hendak pecah karena memikirkan semua hal yang tidak ia ketahui keterkaitannya.
Ia hanya butuh lengan untuk bersandar dan seseorang membiarkannya menangis hingga lega.
"Arigatou... Ino."
...
Orochimaru melangkah pelan dan berhenti di depan pintu kamar Naruto, kedua tangannya terkepal kuat disisi tubuh. Dengan satu tendangan penuh tenaga, pintu Naruto terlepas dari tempatnya. Orochimaru melangkah masuk dan menatap tajam seisi ruangan.
Naruto belum pulang sama sekali.
"Bedebah... kau tak becus sama sekali..." gerutu Orochimaru karena Naruto tak langsung menghabisi nyawa Kizashi.
...
Di sebuah halaman Sekolah Dasar, sosok berambut hitam berantakan duduk di ayunan. Suasana gelap malam tanpa cahaya bulan, menjadikan sosok itu tersamar dalam kelam. Derit engsel pada rantai yang sudah lama tak diberi pelumas terdengar tajam dan menyanyat, di papan yang terayun pelan itu, Naruto duduk dengan kepala seolah patah kebelakang.
Naruto mendongak, terlalu mendongkak hingga kepala belakangnya hampir membentur punggung bagian atas, menatap langit yang gulita karena sang dewi malam tertutup awan pekat. Rambutnya yang berantakan menutupi matanya.
Nada-nada imajinatif terdengar berulang-ulang dan berdengung di telinganya.
"Ibuku adalah pengacara, dia dibunuh oleh kliennya sendiri yang belakangan di ketahui sebagai hero."
"Jika aku bertanya hal itu padamu, apa jawabmu, Naruto? Apakah kau tidak akan membenci pembunuh orangtuamu?"
"Jika ibumu dibunuh, apakah kau tidak akan membenci pembunuhnya?"
"Kau tidak tahu, Naruto.. karena kau tidak pernah merasakan bagaimana sakitnya kehilangan orang yang kau sayangi... kau tidak tahu..."
Ayunan perlahan terhenti.
Dengan kakinya yang menjejak tanah, Naruto kembali memberikan dorongan pada ayunan. Ia terus menengadah dengan gestur yang sama sekali tak berubah. Lalu setetes liquid mengalir dari samping kelopak matanya.
"Sakura-chan... sekarang aku tahu rasanya.. kehilangan..."
...
...
Sakura terbangun karena gorden yang tersingkap, tajamnya sengatan matahari membuat ia menyipitkan mata dan bangkit dari sofa. Selimut tipis namun lembut yang dikenakannya terjatuh, dengan mata yang masih perih karena menangis semalaman, ia meraih selimut tersebut.
"Ini sudah jam delapan pagi, aku sengaja membuka jendela agar ada pergantian udara di ruangan ini..." tukas Ino sambil meletakkan rantang berisi makanan di meja kecil samping sofa.
Sakura menatap sahabatnya. Setelah semalaman menemaninya menangis, terkadang menjerit tak tentu, sahabat pirangnya itu masih sempat memasak?
"Ini bubur, kau belum makan semenjak kemarin siang, kan..." jawab Ino, "Aku pulang sebentar tadi saat kau tidur."
Sakura bangkit dan mendekati ayahnya yang terbaring, tak tahu ia harus berkata apa melihat selang yang terhubung dengan tabung oksigen pada hidung ayahnya, perban yang melilit kepala ayahnya serta bunyi EKG yang menandakan bahwa setidaknya, sosok bernama Haruno Kizashi itu masih hidup.
"Aku tidak nafsu makan, Ino..." jawab Sakura kembali duduk di sofa.
"Makanlah sedikit, nanti kau tambah sakit..."
Sakura menguyah pelan bubur buatan Ino.
Enak.
Tapi entah kenapa Sakura tak mampu untuh mengunyah lagi.
"Aku sudah menceritakkan semuanya padamu, Ino..." ujar sakura.
Ino menyodorkan gelas kosong, Sakura meraih gelas itu dan menahannya.
"Ya... Naruto menyelamatkanmu dari insiden roller coaster, Naruto adalah hero, Sasuke menambah bebanmu dengan memberi penjelasan bahwa dia juga hero..." ujar Ino sambil menuangkan termos kecil berisi teh hijau hangat. "Naruto makin memperunyam masalah dengan menyerangmu..."
Sakura menatap kepulan asap dari gelasnya. Ia menenggak perlahan minuman dari sahabatnya, membiarkan sejenak rasa hangat menjalar dari kerongkongan hingga dadanya.
Ino juga meraih tas kecil disamping kakinya, lalu menyerahkan pada Sakura.
"Bersihkanlah dirimu..."
"Ino..." Sakura menahan tangan sahabatnya, "Kau membolos sekolah hanya untuk menemaniku disini?"
Ino tersenyum simpul, "Mungkin kau mengenal Sasuke terlebih dahulu, tapi tetap aku sahabat terbaikmu kan, jidat?"
Sakura mencoba menarik otot wajahnya, sedikit memberi senyum, "Pasti..." dan tulus jawabnya untuk wanita muda di hadapannya.
Sakura bangkit berdiri dengan tas kecil ditangan.
"Ada yang ingin kukatakan sejak lama..." sahut Ino tiba-tiba.
Sakura meninggikan alis, "Apa?"
"Akan kukatakan saat kau berada di dalam kamar mandi..." Ino mengelak.
"Ada apa? Kenapa kita harus berbicara dihalang pintu... seperti pengakuan dosa saja..." Sakura menyelidik Ino yang kini tiba-tiba menunduk.
"Pengakuan dosa... entahlah... ini mungkin akan menambah beban pikiranmu, tapi aku telah berpikir sejak semalam, tidak ada lagi waktu yang sangat tepat untuk memberitahukannya padamu, sekarang adalah waktunya, agar yang putih terlihat putih dan hitam terlihat hitam."
"Apa kau mau bilang kalau kau... suka pada Sasuke-kun?" tebak Sakura.
Ino tetap diam sambil menunduk.
"Kukira kau punya hubungan dengan Shikamaru..."
"Bukan..."
"Atau kau mau bilang..." Sakura menggigit bibir bawahnya, "Kau suka pada Naruto?"
Ino hanya diam tak lagi berkata-kata.
Sakura masuk ke kamar mandi dengan penasaran yang kini menggelayut pikirannya. Ia mengganti cheongsam dengan pakaian santai, celana longgar selutut dan kaos besar berlengan pendek, ia pun juga menyikat gigi. Sakura membasuh muka, lalu meraih pembersih muka merek PONTS, dimana iklannya di TV menampilkan wanita jelek mampu menjadi putih kinclong hanya dengan tujuh hari.
Siapapun wanita sialan yang ada di iklan TV itu, pasti lebih hebat dari seorang Yamanaka Ino yang telah cantik sejak lahir.
Sakura sejenak menatap pantulan wajahnya di cermin atas wastafel.
"Sebenarnya, apa yang ingin dikatakan Ino?"
"Sakura..."
Sakura tiba-tiba berbalik, lalu menolehkan kepalanya ke semua sisi kamar mandi. Ia mendengar jelas suara Ino berada di dekatnya, tapi sahabatnya itu tak ada di dalam. Ia juga sangat yakin suara itu tak terdengar dari balik pintu.
"Sakura, aku yakin kau terkejut mendengarkanku dalam pikiranmu..."
Tubuh Sakura tergegar.
"Maafkan aku, aku harus mengatakan ini sekarang, seperti kataku tadi, kau harus mengetahui semuanya secara bersamaan dan itu akan menambah beban pikiranmu.. tapi aku akan memberikan satu pernyataan dan satu pertanyaan yang harus kau jawab sendiri..."
Sakura kembali berbalik, menatap sosok berambut merah muda di dalam kaca.
"Pernyataanku... aku sama seperti Naruto dan Sasuke, begitu juga Shikamaru dan Chouji..."
Jemari Sakura meremas kuat sisi wastafel.
"Aku.. sama dengan sesuatu yang selama ini kau sebutkan... makhluk pembunuh... makhluk yang sama seperti makhluk yang merenggut nyawa ibumu... kami menutupi jatidiri kami bukan sebagai suatu bentuk kebohongan, ini adalah cara kami berbaur dengan manusia normal lainnya..."
Sakura berlari dan membuka kasar pintu kamar mandi. Ia tak lagi mendapati Ino yang tadinya duduk di sofa. Ia memendarkan pandangan ke sekeliling, tak ada Ino dimanapun. Ia melangkah ke pintu keluar, melongokkan kepala.
Hanya beberapa suster yang terlihat olehnya berjalan di koridor.
"Dan pertanyaanku Sakura..."
Sakura kembali menutup pintu, kali ini ia menatap sosok ayahnya yang berbaring.
"Bahwa kau telah mengetahui semua kenyataannya... Apakah itu semua bisa merubah keadaan?"
"Semua kenyataan ini..." gumam Sakura pelan mengulang pertanyaan Ino, "Bisakah merubah keadaan?"
...
Sasuke menatap kesal sosok bertubuh seksi montok di depannya. Mengenakan celana jeans ketat berwarna ungu gelap dan sepertinya sengaja dirobek disana-sini, juga mengenakan kaos ketat berkerah berwarna senada dan menunjukan sedikit belahan dadanya, Yamanaka Ino menjadi pagar hidup bahkan sebelum Sasuke mendekati meja resepsionis.
"Kukira kau tak perduli pada sahabatmu itu," Sasuke meninggikan suara. "Menyingkirlah, kau kira kau sedang jadi peraga busana, hah?!"
Yamanaka Ino berkacak pinggang, "Setidaknya aku memenuhi kewajiban tak tertulisku pada Sakura sebagai sahabat, kau? Bukannya kau berteman dengannya sejak kencingmu belum lurus, Uchiha-san?"
"Uchiha-san?" Sasuke mengatupkan geraham, "Aku kesini bukan untuk adu mulut denganmu, Yamanaka-san... aku ingin melihat keadaan Sakura..."
"Sakura baik-baik saja," Ino memmberi gestur menghalau kucing, "Hush hush..."
"Sialan ini..." Sasuke mengeram.
"Ini Rumah Sakit... jangan ribut..." tukas Ino santai. "Dan apa itu di tanganmu.. bubur Aji Sulam?" cibir Ino.
Sasuke mengepalkan satu tangannya yang tak mengenggam kantong plastik dengan merek Bubur Aji Sulam tersebut, "Menyingkirlah selagi aku masih berkata pelan, Yamanaka-san..."
"Ino akan berubah menjadi protektif jika terjadi sesuatu pada orang terdekatnya, Sasuke..." sela Shikamaru yang baru datang bersama Chouji, menepuk pundak Sasuke, "Setidaknya, dia benar-benar jadi seperti emak-emak merepotkan..."
"Ino... kau jangan berdiri di depan resepsionis dong..." keluh Chouji, "Kau menghalangi orang lain..."
"Eh.. maaf..." Ino sedikit menggeser posisi berdirinya, mempersilahkan seorang pak tua mendekati meja resepsionis.
Pak tua itu berkata pelan pada wanita bagian informasi tersebut.
"Maaf, apakah aku bisa membesuk Tuan Haruno Kizashi?"
Resepsionis tersebut mengecek jam dan nomor kamar, "Silahkan Tuan... ICU koridor tiga kamar nomor delapan" ujarnya dengan suara yang tak sampai ke telinga empat remaja di dekat meja resepsionis.
"Ino... Sakura di ruangan mana?" tanya Chouji.
Barbie hidup itu masih bersikukuh, "Jangan ganggu Sakura dulu, pergi sana."
"Ada apa dengan manusia satu ini?" tunjuk Sasuke menahan diri.
"Sakura ada diruang ICU, itu pasti mengingat kondisi ayahnya yang kau katakan kritis di SMS..." tukas Shikamaru santai. "Ruang ICU sebuah Rumah Sakit sangat mudah di temukan... banyak penunjuk lorong disini..."
Ino kehabisan kata-kata membantah Shikamaru yang menganalisa keadaan.
Sasuke melewati Ino, terdengar decihan kekalahan dari si pirang seksi.
"Aku ingin membesuk Tuan Haruno Kizashi." Ujar Sasuke dingin.
"Maaf, untuk ruang ICU pengunjungnya dibatasi... kalian boleh membesuk namun tidak boleh masuk ke dalam ruangan, kalian bisa menunggu di luar ruangan..." ujar respsionis.
Sasuke menaikkan satu alisnya, "Kenapa di batasi?"
"Sudah ada pembesuk sebelum kalian... masuklah bergantian, hanya dua orang yang boleh di dalam ruangan... koridor tiga kamar nomor delapan."
"Peraturan macam apa itu..." Sasuke mengejek lalu menuju ruangan yang di maksud.
Ino berpikir sejenak, "Siapa yang membesuk? Aku kan yang terkakhir keluar dari ruangan itu..."
...
"Oi!"
Kankuro berlari dari dua kejaran satpam sekolahnya. Menerjang beberapa pejalan kaki, ia tak perduli dan tancap gas ke celah-celah yang mungkin bisa ia lewati.
"Sialan! Kenapa mereka semangat sekali mengejarku?!" umpat Kankuro.
"Berhenti anak nakal! Berani-beraninya kau membolos dengan melompati pagar depan terang-terangan!" teriak satu satpam sambil mengacungkan pentungan.
"Kukira kalian tidur!" teriak Kankuro tanpa menoleh ke belakang.
Aksi kejar-kejaran itu jelas menjadi tontonan para pejalan kaki.
.
Naruto berjalan gontai di trotoar yang tak terlalu ramai. Jubahnya di sampirkan ke lengan dan ia hanya jalan menunduk, sesekali meregangkan persendian yang terasa tegang karena tak tidur semalaman. Berkali-kali, derak tulang lehernya terdengar berbunyi.
Naruto sebenarnya tak mengacuhkan suara teriakan-teriakan yang terdengar mendekat, hingga sesosok orang menerjangnya.
Mereka berdua ambruk dengan tubuh saling berhimpitan.
"Sial! matamu picak, hah!" maki Naruto pada sosok yang mneghimpitnya.
"Ah!" sosok itu mencoba bangkit sambil membalaskan makian Naruto, "Kau yang jalan menunduk, tolol!"
"Ouh... bawang putih?" Naruto mengenali sosok yang menerjangnya.
Kankuro mengulurkan tangan membantu ia berdiri, "Apa yang kau lakukan disini, mulut kotor?"
"Aku yang seharusnya bertanya, kenapa kau berlari di-"
"Oi! Jangan lari!" teriak dua satpam semakin mendekat.
"Itu jawabannya..." Kankuro mengarahkan jempol ke belakang, lalu menarik kerah belakang Naruto dan berlari, "Ayo kabur!"
"Tu-tunggu du-dulu! Kenapa kau menyeretku, bawang putih!"
Dua satpam itu berhenti ngos-ngosan dengan menumpukan tangan ke lutut, "Sial... kenapa anak jaman sekarang larinya cepat sekali..."
Rekannya yang memegang pentungan menyeka keringat, "Mungkin mereka banyak makan sonais.."
"Apa maksudmu?"
"Sonais, susis gambar ayam rasa sapi itu.. bukannya para atlit banyak makan susis itu di TV... Es o es.. Semuaaa makan Sonais..." ujarnya memperagakan iklan.
"Makanan macam apa itu... toh para atlit yang makan sonais itu gagal semua di ajang international kecuali cabang angkat besi..." satpam tersebut menegakkan punggung. "Ayo kejar dia lagi..."
"Sudah terlalu jauh... sebaiknya kita kembali ke sekolah karena tidak ada yang menjaga..."
"Sialan bocah itu..."
...
Zabuza menatap peti besar di depannya, Haku yang berdiri di dekatnya sedikit keheranan dengan properti yang selama ini disimpan oleh tuannya tersebut.
"Apa ini, Tuan?" tanya Haku sopan.
"Kubikiribochou..." jawab Zabuza membuka peti.
"A-apa...? Bukankah pedang Anda sudah di patahkan Tuan Maito Guy?"
Zabuza menatap dua pedang yang tertumpuk jerami di dalam peti tersebut. Satu pedang panjang berbentuk seperti mata pancing di kedua ujungnya, satu lagi pedang besar seperti milik Zabuza sebelumnya.
"Itu replika... karena aku sebenarnya tak pernah ingin memakai pedang ini lagi..." tukas Zabuza.
"Replika? Kenapa Anda repot-repot memakai replika selama ini?"
Sejenak Zabuza menatap Haku, "Kau tiba-tiba jadi cerewet akhir-akhir ini..."
Haku menunduk, "Maafkan saya, Tuan."
"Menghadapi replikanya saja, S.A.C sudah kewalahan, apalagi yang asli..." Zabuza menatap kedua telapak tangannya yang terbalut perban, "Lagipula saat memegang kembali pedang yang sama dengan yang kupakai sepuluh yang tahun lalu..."
Zabuza meriah pedang besar tersebut, lalu mengayunkannya sekali, "Aku merasa Yagura selalu berdiri disampingku dan menjerit minta tolong..."
Zabuza memukul-mukul kepalanya sendiri. "Semua kenangan ini... semua rasa marah ini... kesedihan ini... ada bersama dua pedang ini..."
Haku sekilas melirik ke dalam peti, menatap pedang milik Yagura yang ujungnya seperti mata pancing.
"Tuan, jika selama ini Anda memakai replika, berarti yang asli memiliki kelebihan sendiri?"
"Pedang ini takkan bisa patah ataupun rusak... pedang ini akan beregenarasi memperbaiki dirinya sendiri... Kubikiribochou... terbuat dari tempaan baja yang merupakan tulang seorang hero berjenis logam yang dirancau api Amaterasu milik pengguna sharingan kelas atas dan disiram dengan darah para leluhur hero..."
Haku menatap pedang besar yang kembali di ayunkan. "Sehebat itukah, Kubikiribochou yang asli?" Gumamnya.
"Ya, masih ada enam pedang lain diluar sana..." Zabuza menatap kilau bilah tajam pedangnya. "Haku, kau sudah dapat lokasi dia?"
"Sudah Tuan, ada disini..." Haku memberikan sebuah kertas.
Zabuza menyeringai menatap alamat yang tertera disana, "Disana kau rupanya..."
...
Pak tua dengan jambang yang menyatu dengan kumis berwarna abu-abu serta kacamata kecil tapi melorot itu terdiam , tangannya menggantung tepat di depan kenop pintu. Ia terlihat berpikir ribuan kali untuk melangkah. Di satu tangannya, tergengam rangkaian bunga tulip putih.
Sakura sedikit melirik saat pintu kamar terbuka, lalu ia menatap jelas sosok yang sedang membungkuk hormat padanya. Sakura membuang muka, ia masih ingat wajah itu.
"Maafkan aku berkunjung, Nona Haruno..." ujar pak tua itu tenang mendekati Sakura dan meletakkan rangakian bunga tulip putih di meja kaca di hadapan Sakura.
"Kau tak perlu kemari, Pak Tazuna..."
Tazuna, nama pak tua itu, tetap berdiri karena tak dipersilahkan duduk.
"Bunga tulip putih? Kau kira ini acara pemakaman?" hina Sakura tanpa memandang sosok yang jauh lebih tua darinya, bahkan lebih tua dari ayahnya sendiri.
Tazuna terbatuk sesaat sebelum menjawab, "Aku kemari karena melihat kabar berita di TV mengenai ayah Anda... aku yang baru saja bulan lalu bebas dari penjara, selalu ingin bertemu dengan Anda, Nona Haruno..." Tazuna berkata santun.
"Untuk apa? Untuk memamerkan kau telah bebas dari penjara atas hukumanmu berkomplot membunuh ibuku?" sinis Sakura yang masih enggan memandang.
"Karena itu saya kemari Nona... ingin memberitahukan hal ini..." jelas Tazuna, "Hal yang selama ini tak bisa saya ungkapkan di pengadilan."
Sakura menoleh pada Tazuna dengan tatapan penuh kebencian. "Pergilah sebelum aku memanggil pihak keamanan Rumah Sakit..."
"Saya tidak bisa pergi sebelum mengatakan hal ini, Nona..." Tazuna kembali terbatuk, "Setelah mengatakan hal ini... saya bisa mati dengan tenang..."
"Sebenarnya apa yang ingin kau katakan, pak tua pembunuh!" bentak Sakura.
"Nona..." Tazuna berkata pelan, "Aku telah kehilangan cucuku, Inari, karena ditabrak oleh pengemudi yang mabuk, aku juga kehilangan putriku, Tsunami."
Sakura diam menyimak meski matanya masih nyalang dengan kebencian.
"Aku, tak lagi mampu merangkai kata untuk mengucapkan terima kasih tak hingga kepada Nyonya Haruno Mebuki, yang bersedia menjadi kuasa hukum bagi menantuku, Kaiza, demi menegakkan proses hukum..."
"Jangan berbelit-belit..." geram Sakura.
"Aku telah mengatakan ini di pengadilan, tapi pihak pengadilan dan jaksa penuntut umum menekanku dan mengancam akan menambah masa tahananku jika aku terus mengatakan hal ini... aku rasa masa hukuman lima tahun kurungan karena pasal bersekongkol dalam menutupi kejahatan seseorang sudah cukup bagiku, makin cepat aku bebas, maka makin cepat aku bisa memberitahukan hal ini padamu..." ujar Tazuna yang sesekali diselingi batuk.
Sakura mengepalkan tangan.
"Apa yang ingin kau katakan?"
"Lima tahun lalu..."
Lima tahun lalu.
"Kau masih dalam perjalanan?" Mebuki berbicara dengan seseorang di telepon. "Maafkan Ibu tak bisa mengantarkanmu, kau baik-baiklah dengan ayah, jangan perang mulut selama perjalanan ke bandara..."
Wanita berambut klimis ke belakang dengan satu poni melengkung di dahi itu duduk di sofa panjang. Pakaiannya rapi dengan blazzer ketat dan lencana kecil berlogo timbangan di dadanya.
"Telepon Ibu jika kau sudah sampai di London... ingat, tak usah berpatokan kau ingin meraih medali emas atau medali apa seperti yang ditargetkan oleh Menpora Nahromi, lakukan saja yang terbaik, Sakura..."
"Ya... Ibu mengerti, Ibu akan masak masakan yang paling enak nanti... sudah ya, Ibu tutup..." Mebuki menutup telepon. "Maaf, sampai mana kita tadi, Tuan Kaiza?" tanya pada seseorang bertubuh kekar yang duduk di hadapannya.
"A.. itu..." Kaiza menunduk.
Tazuna datang meletakkan secangkir karamel hangat di hadapan Mebuki.
"Sepertinya anak Anda akan pergi ke Olimpiade London, aku melihat persiapan berbagai cabang olahraga di berita..." sela Tazuna.
Mebuki tersenyum bangga, "Benar, Pak Tazuna, anakku akan mewakili cabang Juudo, dia master loh.. satu-satunya anak berusia dibawah lima belas tahun yang meraih gelas master di negara ini..."
"Waah... anak Anda hebat sekali, Nyonya... aku senang mendengarnya..." puji Tazuna.
Mebuki tertawa renyah.
"A-no.. Mebuki-sama..." Kaiza berusaha mengangkat suara.
"Hm?"
"Bisakah... kasus ini kita hentikan saja?" ujar Kaiza takut-takut.
"Maksdumu?" Mebuki bertanya serius.
"Aku sudah merelakan kematian tidak adil Tsunami dan Inari... bisakah kita tak melanjutkan kasus ini ke tingkat banding... kita sudah kalah di pengadilan..."
"Tutup mulutmu, Kaiza!"
Braak!
Mebuki menggebrak meja kaca.
Secangkir karamel hangat itu bergetar hingga tumpah setengahnya. Terlihat retakan kecil di meja kaca itu, satu sentuhan lagi, meja itu pasti pecah berhamburan.
Tazuna yang duduk di samping menantunya menunduk takut, ia tahu dari awal sejak mendampingi kasus anaknya, pengacara di depannya ini terkenal dengan sifat yang tempramental dan sangat keras kepala, tak heran ia jika anak pengacara yang menggebrak meja itu tumbuh besar sebagai atlet beladiri.
"Hentikan katamu?" suara Mebuki meninggi tajam, "Kau pikir aku melakukan semua ini demi apa?"
"Te-tenaglah... Mebuki-sama..." Kaiza mencoba menenangkan penasehat hukum tersebut, "Aku merasa... sangat kecil peluang menang melawan pemerintah yang coba menutupi kasus ini..."
Kaiza menunduk dalam.
"Aku juga baru tahu, kalau di dalam darahku dan darah anakku mengandung DNA yang tersisipi chakra... setelah ini, aku akan di tangkap oleh petugas S.A.C..."
"Kau dan S.A.C berada di kasus yang berbeda, Kaiza... sementara kasus kecelakaan anak dan istri ada di koridor yang berbeda... tidakkah kau mengerti?" tanya Mebuki.
"Jika kita menyerah untuk menunjukkan kebenarannya saat ini..." sambung Mebuki, "Di lain hari, akan ada banyak Inari-Inari lainnya yang tewas dan tertutupi kasusnya oleh pengadilan..."
Mebuki mengepalkan tangan.
"Aku tak perduli jika harus melawan pemerintah sekalipun, aku mendampingimu dalam proses hukum ini, ingin menampar mereka semua agar mereka sadar, seorang Kaisar, Presiden, Anggota Parlemen mempunyai hak dan perlakuan yang sama di mata hukum dengan seorang pelacur, tukang becak, maling ayam dan masyarakat lainnya!"
Tazuna mengangguk paham.
"Kita berbicara tentang supremasi hukum, Kaiza, ku mohon, jangan menyerah..." pinta Mebuki menurunkan nada suaranya, "Jika kau ditahan S.A.C karena statusmu sebagai hero, itu masalah lain, aku akan menyeret orang yang menabrak anak dan istrimu ke penjara!"
"Ini demi kebaikan Anda, Mebuki-sama..." Kaiza menatap Mebuki dengan mata berkaca-kaca, "Pemerintah malah memutarkan balikkan fakta dengan menyuap hakim dengan mengatakan bahwa anak dan istriku menyebrang sembarangan, bukankah hasil pemeriksaan sudah jelas bahwa pengemudi itu mabuk... tapi kita tetap kalah di pengadilan... ini adalah bukti, bahwa kita tak sama di depan hukum.. kita tak bisa melawan pemerintah. Kita tak bisa-"
"Pemerintah bukan Tuhan..." potong Mebuki dengan wajah tegang penuh amarah, "Pemerintah adalah wakil rakyat, perpanjangan tangan Tuhan bukan pemerintah... tapi Hukum. Hukum di ciptakan di dunia ini oleh Nabi, oleh Rahib, oleh pemuka agama, oleh undang-undang, oleh Konstitusi,sebagai perpanjangan tangan Tuhan agar tidak ada manusia yang semena-mena di muka bumi..."
Mebuki menunjuk lencana berlogo timbangan di dadanya, "Mereka yang mempermainkan hukum, berarti merasa sombong karena mempermainkan Tuhan, untuk itu kami ada... para penegak hukum dan para penasehat hukum..."
Kaiza terdiam. Sulit membantah apa yang dituturkan oleh Mebuki.
"Demi lencana timbangan sama rata yang ku kenakan, aku akan menegakkan keadilan dengan taruhan nyawa..." ujar Mebuki serius.
"Jika saja... ada seribu penasehat hukum seperti Anda di negara ini..." potong Tazuna dengan senyum yang mendinginkan suasana, "Aku yakin negara kita akan kuat kuat dari segi hukum..."
Mebuki menghela nafas panjang, mendinginkan kepala karena tak habis pikir kenapa Kaiza mau menyerah hanya gara-gara pemerintah mengintervensi kasusnya.
"Aku bahkan pernah memenjarakan klienku sendiri..." tukas Mebuki, "Jadi percayakan padaku, aku akan menuntaskan kasus ini kalau perlu sampai ke Peninjauan Kembali..."
"Terima kasih..." Kaiza berusaha menahan air matanya, "Terima kasih... Mebuki-sama, karena membela anak dan istriku sampai sedemikian kerasnya..."
Terdengar deru mobil di luar rumah. Belum sempat mereka bertukar tanya, terdengar tembakan beruntun dari berbagai penjuru.
Kaiza menarik Mebuki hingga terjatuh, mereka merangkak dan bersembunyi di balik dinding sementara Tazuna merangkak ke arah lain. Kaiza menutup kedua telinga sambil meringkuk dari tembakan beruntun di semua penjuru rumahnya.
Mebuki berpikir cepat, meraih ponsel dan menghubungi suaminya. "Kami diserang-"
Mata Kaiza terbelalaka saat melihat Mebuki terjatuh tak sempat menyelesaikan telponnya. Kaiza meraih tubuh Mebuki, merasakan ada cairan kental mengalir dari belakang kepala Mebuki.
"Da-darah? Mebuki-sama... Mebuki-sama!"
Kaiza menoleh kesamping, padahal ia bersembunyi di balik beton, tapi beton itu berlubang tertembus peluru.
"Peluru yang mampu menembus beton berlapis, hanya milik polisi khusus..."
Dor!
Dor!
Kaiza terjungkal dan rebah di sisi Mebuki dengan kepala berlubang.
Sementara di luar, rumah tersebut sudah dikepung dari empat sisi mata angin oleh pasukan berseragam S.A.C.
"Beri tahu markas bahwa kita mendapat laporan serangan hero di lokasi ini..." salah seorang petugas berhelm memberi perintah.
Mereka masuk dengan berhati-hati, menginjak pecahan beton dan kaca dengan sepatu boot. Satu petugas merangsek masuk ke dapur dan meraih kerah Tazunza yang bersembunyi di bawah meja.
"Ada satu yang selamat!"
"Seret dia kemari!"
Dengan mengenakan sarung tangan, satu petugas lainnya mengambil pisau dapur, lalu dengan sadis menancapkannya ke dada Mebuki, pisau lalu dipindahkan ke tangan Kaiza yang tak bernyawa.
Tazuna menganga melihat apa yang terjadi. Petugas lainnya segera melilit kepala Tazuna dengan kain penutup.
Di dalam mobil S.A.C yang berjejer di sekeliling rumah, seseorang yang wajahnya tak terlihat karena kaca gelap mobil sedang menelpon, "Bapak dewan, aku sudah lakukan perintahmu.. kasus ini bisa ditutup sekarang dan aku mohon kerjasamanya dalam membantu citra kami nantinya dimasyarakat umum."
"Tembak dia..." ujar salah seorang petugas.
Pistol sudah melekat di belakang kepala Tazuna saat sebuah mobil menerjang masuk tanpa ampun dan menabrak beberapa petugas yang bediri. Dua orang turun tergesa, seorang anak kisaran SMP berteriak hsiteris melihat sosok Mebuki yang terkapar di lantai.
"Ibu!" teriak Sakura berlari dan memeluk tubuh tak bernyawa ibunya.
"Mebuki!" Kizashi juga menghambur memeluk tubuh istrinya.
"Siapa yang memanggil kapten Kizashi kemari?" bisik salah seorang petugas ke rekannya.
Orang yang berada di dalam mobil juga keheranan dengan kedatangan Kizashi, ia berbicara melalui earphonet-nya, "Jangan sampai yang selamat itu berbicara..."
Para petugas di dalam rumah mengangguk paham.
"Kapten, kami menerima laporan dari warga sekitar terjadi teriakan minta tolong dari rumah ini, kami segera bergerak karena sudah lama mengawasi gerak-gerik mencurigakan tersangka."
Sakura menjerit histersi membangunkan ibunya.
Kizashi bangkit berdiri dengan wajah memerah marah.
"Kapten Kizashi, orang ini di duga bekerja sama karena dia tak mau berbicara sedari tadi..."
Bugh!
Satu pukulan dari petugas tepat bersarang di kepala belakang Tazuna, membuat pria renta itu tak sadarkan diri. petugas tersebut mencoba memperkecil peluang Tazuna untuk berbicara dengan Kizashi.
"Seret dia ke markas!" bentak Kizashi.
para petugas meninggalkan tempat kejadian perkara dengan menyeret pak tua Tazuna dan mayat Kaiza.
Kizashi tak mampu berkata-kata, melihat putri semata wayangnya kini menjerit gila memanggil sang ibunda yang tak kunjung terbangun, dan takkan pernah terbangun.
"Ibu... kumohon... bangunlah... bangunlah..." Sakura mengguncagn tubuh ibunya, "Ibu! Bangun!"
Sakura menangis tersedu-sedu. Tangannya terkepal kuat, "Bagaimana bisa aku percaya pada ceritamu?!" bentak Sakura.
"Anda tak perlu percaya, Nona Haruno..." kilah Tazuna, "Aku katang kemari hanya ingin menyatakan itu karena aku tak bisa mengutarakannya di pengadilan meskipun aku ingin..."
Sakura berdiri, "Apa untungnya kau menceritakan itu padaku, pak tua?!" Nada Sakura makin meninggi.
Tazuna tak sedikitpun marah atas perlakuan tak sopan dari Sakura, ia berujar lembut, "Karena aku tak ingin Anda tenggelam dalam kebencian tak berdasar..."
Nafas Sakura terengah karena emosi yang membuncah.
"Aku datang mengemis maaf darimu, Nona, maafkan menantuku... jika dalam pikiranmu dia adalah pembunuh, maka biarkanlah begitu... seluruh dunia mengatakan hal yang sama meski kebenaran yang kubawa berkata berbeda..."
Tazuna terbatuk sangat keras, sesekali memukul dadanya sendiri yang terasa nyeri.
"Setelah menceritakan kebenaran, walaupun kau tak bisa menerimanya, aku bisa menyusul Kaiza, Tsunami dan Inari dengan tenang..." senyum lembut tergerus dalam mimik menahan nyeri dari wajah renta itu.
Sakura dibalut hening.
Tazuna membungkukan badan, "Saya permisi Nona Haruno, kurasa ini adalah pertemuan terkahir kita."
"Bagaimana... bagaimana..." Sakura menghentikan langkah Tazuna yang akan membuka pintu. "Bagaimana bisa aku percaya begitu saja dengan ceritamu..."
"Karena ceritaku bukan dongeng, Nona... jika kau ingin mempercayai sesuatu, kau harus tahu kebenarannya... kebenaran yang tersebunyi dari lilitan kenyataan..."
Sakura terdiam, membiarkan air mata menari di pipinya.
Tazuna membuka pintu,
Dan tiga orang terjatuh saling berhimpit badan.
Tiga orang penguping.
Sasuke di posisi ternista dengan dihimpit oleh Shikamaru dan Chouji.
Sakura menatap ketiga temannya lalu terdengar suara dari sosok ke empat yang tak terlihat, mungkin duduk di dekat pintu.
"Aku sudah ingatkan mereka loh..." teriak Ino.
...
Kankuro membuka seragamnya yang basah oleh peluh, lalu memasukkan kedalam tas. Kini ia hanya mengenakan singlet putih polos dan celana hitam yang diberi rantai bekas kaleng biskuit lebaran bergayut dari satu sisi celana ke saku belakangnya. Sabuk yang di kenakan ber-emblem kepala tengkorak dan ujung sabuk satunya diberi besi tajam menyerupai pisau.
Telinganya di tindik satu, tubuh berisi itu jelas menampilkan image remaja super nakal.
Dia berdiri di depan mesin penjual minuman ringan. Sayangnya ia tak punya uang receh sebagai syarat pembelian.
Naruto, yang entah kenapa ikut diseret oleh pelarian Kankuro, juga merogoh sakunya.
"Aku cuma punya uang kertas..." keluh Naruto.
"Haah... kenapa mesin penjual minuman zaman modern masih menggunakan uang koin..." keluh Kankuro lalu kembali membuka tasnya, "Mungkin kita harus mengambil paksa..."
Naruto melirik ke dalam isi tas Kankuro.
Satu buah parang berkarat, gear motor yang tersambung ke rantai panjang, mata cangkul, bom molotov, celurit, linggis, puluhan pak paku payung, dan tissue bayi.
"Oi..." Naruto menggaruk kepala, "Ini tas sekolah atau tas perkakasmu ke sawah?"
"Kenapa memangnya?" ujar Kankuro mengeluarkan linggis.
"Untuk apa ada tissu bayi di antara peralatan tawuranmu?" tanya Naruto tak paham.
"Itu kalau aku eek sembarangan, aku cebok pakai tissue bayi." Jawab Kankuro meraih jubah yang ada di lengan Naruto.
Naruto specchless.
Kankuro melilit linggisnya dengan jubah Naruto, lalu menghantamkan linggis tersebut ke kaca mesin minuman. Kaca berderai pecah tanpa terlalu menimbulkan bunyi berisik, Kankuro bergegas memasukkan beberapa minuman ke tas dan lari tunggang langgang.
"Jahanam! Jubahku bukan untuk hal seperti ini!" Maki Naruto sambil mengambil beberapa minuman dengan kedua tangan dan lari pontang panting saat beberapa pengguna jalan lainnya meneriaki mereka dengan kata-kata klasik yang masih bertahan hingga sekarang.
"Woii maling!"
...
Blam!
Sasuke terpaku saat pucuk hidungnya hampir saja mencium pintu yang ditutup keras oleh Sakura.
"Benarkan.. dia sedang tak ingin di ganggu oleh siapapun..." tukas Ino. "Apalagi ditambah pengakuan pak tua barusan..."
Kini mereka berempat duduk berhadapan di bangku koridor.
"Jadi begitu... Naruto menyerang Sakura..." tukas Shikamaru, "Tapi kurasa kemungkinan besar yang diserang adalah ayah Sakura..."
"Tapi kenapa?" Tanya Chouji.
"Kita harus temui Naruto untuk mengetahui alasannya..." jawab Shikamaru.
"Itulah masalahnya..." Ino menunjukkan layar ponselnya, "Nomornya tidak aktif sejak tadi malam..."
"Sejak kapan kau punya nomor Naruto?" tanya Shikamaru menyelidik.
"Apa salah?" tantang Ino.
Sasuke terdiam tak terpengaruh percakapan di sampingnya. Ia melirik kantong plastik di tangannya, Sasuke kembali bangkit dan mengetuk pintu. Tak menyerah untuk bertemu Sakura.
"Sakura... setidaknya makanlah bubur yang kubawa..."
Tidak ada sahutan dari dalam.
Sasuke menghela nafas panjang.
"Em... Sasuke... biar aku saja yang makan..."
Sasuke menatap Chouji dengan pandangan membunuh.
"Kasihan bubur itu..." lirih Chouji.
...
Kankuro dan Naruto duduk beralas koran bekas di antara lorong-lorong pertokoan, jauh dari jangkauan matahari dan penglihatan orang yang bersliweran di trotoar, dua remaja tersebut tos minuman kaleng mereka disela-sela pembicaraan.
Kankuro dan Naruto menenggak alkhohol dingin hasil curian tersebut, lalu menguyah beberapa kacang yang baru saja di beli Kankuro.
"Jadi, bawang merah bukan adik kandungmu..." Naruto membuka kaleng bir kedua.
"Ya.. begitulah..."
"Pantas saja kau terlihat sebagai pemeran antagonis di sinetron..."
Kankuro mengeluarkan sebungkus rokok dan menyulut sebatang dari sekian batang di dalam bungkusannya, lalu memberikan pada Naruto.
Kedua remaja berambut jabrik itu kini bercerita sambil mengepulkan asap rokok.
"Kau memukulinya sejak kelas dua SMP? Kau benar-benar kakak yang kejam..." cibir Naruto.
"Kakak yang kejam? Entahlah... sepertinya begitu, Naruto..." Kankuro tak mengelak sama sekali, "Sampai aku benar-benar bisa menerima kenyataannya..."
"Menerima kenyataan?" Naruto menaikkan alis tinggi-tinggi.
"Kau kira mudah menerima kenyataan bahwa ayahku membawa anak yang cuma selisih satu tahun denganku kerumah..."
"Tunggu dulu... ayahmu menikah dengan ibumu... melahirkan kakak perempuanmu dan kau sendiri.. lalu dia menikah diam-diam dengan wanita lain dan melahirkan bawang merah..."
"Ya..."
"Bisa dikatakan, saat kau lahir sebenarnya ayahmu sudah menjalin hubungan dengan ibu si bawang merah karena umur kalian hanya selisih setahun..."
"Ya..."
"Lalu ibumu meninggal saat kau kelas enam SD..."
"Ya..."
"Ibu si bawang merah?"
"Meninggal saat melahirkan Gaara..."
"Jadi... ada jeda waktu cukup lama untuk si bawang merah dari lahir hingga dibawa kerumahmu.. dia tinggal dimana?"
Kankuro menghela nafas berat, "Panti Asuhan..."
Naruto terdiam sejenak, "Maaf bawang putih... aku tak bermaksud menghina ayahmu, tapi aku, kau dan ayahmu sama-sama laki-laki..." Naruto menggantung kalimatnya, "Tindakan ayahmu meninggalkan bawang merah di panti asuhan dan hidup dengan kepalsuan bersama kalian... tersinggungkah kau kalau ayahmu kubilang sosok laki-laki bajingan yang hanya meletakan otak di antara dua biji pelir?"
Kankuro termenung memikirkan kalimat Naruto.
"Dia tak mengakui Gaara sebagai anaknya... tidak pernah hingga mungkin datang wahyu dari langit membuat dia tobat dan membawa Gaara kerumah... lalu beberapa hari setelahnya ayahku meninggal karena penyakitnya... juga meninggalkan masalah serius antara anak-anaknya..." Kankuro memainkan rokok di sela jemarinya.
"Kau mencari semua informasi ini diam-diam selama ini?" tanya Naruto sambil mengunyah kacang.
"Ya, kakakku tak terlalu perduli darimana datangnya Gaara, dia benar-benar bersifat keibuan..." Kankuro juga menyomot kacang yang terhambur di depannya, "Aku mencari informasi tentang Gaara dan ibunya serta berapa lama ayahku berhubungan dengan mereka, dimana Gaara tinggal selama ini, siapa yang menjaga Gaara, apakah ayahku pernah menjenguk Gaara di Panti Asuhan, semua kucari informasinya... termasuk aku mendatangi semua gereja di kota asal Gaara dan bertanya apakah pernikahan ayahku dengan ibu Gaara terdaftar secara resmi..."
Naruto menggaruk sisi kepalanya, dengan raut wajah bingung dan rokok masih terjepit di bibir, Naruto kembali bertanya, "Kau melakukan semua itu demi si bawang merah?"
Kankuro menyesap dalam rokoknya lalu menghembuskan asapnya ke atas, "Begitukah menurutmu?"
Naruto memasang wajah serius.
"Kau salah, Naruto... aku melakukan semua itu demi diriku..."
"Demi... dirimu?"
Kankuro menyandarkan punggungya ke dinding toko yang berlumut, "Tak mudah bagiku menerima kenyataan yang begitu saja terhampar di depan mataku... aku mencari informasi tentang Gaara dari berbagai sumber bahkan aku membolos sekolah demi itu..."
"Dan kenyataan yang kau terima tidak merubah apapun, bawang putih..." ujar Naruto sinis.
Naruto menyemburkan asap rokok pekat ke arah Kankuro.
"Kau benar, kenyataan yang kuterima tidak merubah apapun... tapi setidaknya aku merasa puas, Naruto..." kekeh Kankuro.
"Walaupun hal yang tersisa setelah kau menyingkirkan hal yang mustahil adalah hal yang mustahil pula, itulah kebenarannya." Sambung Kankuro serius menatap Naruto.
Naruto tertegun dengan kalimat yang diutarakan Kankuro.
"Walaupun hal yang tersisa setelah kau menyingkirkan hal yang mustahil adalah hal yang mustahil pula, itulah kebenarannya?" Ulang Naruto dengan aksen bertanya.
"Ya, itulah kebenaran absolut... dan itu perkataan Sherlock Holmes." Cakap Kankuro tanpa raut wajah jenaka. "Itulah pentingnya kau mencari kebenaran dari sebuah cerita... kenyataan terakhir yang kau dapat memang belum tentu merubah keadaan..."
"Tapi..." Naruto memasukkan puntung rokoknya ke dalam kaleng bir yang sudah tak lagi dingin, "Kita bisa percaya bahwa apa yang akan kita lakukan kedepannya adalah hal yang benar."
"Benar, karena kita sudah tahu kebenaran cerita itu tanpa dikurangi atau di tambah oleh keambiguan, ego, serta kepicikan..." Kankuro membenarkan.
Naruto berdiri dengan raut wajah penuh keseriusan.
"Terima kasih, Sabaku Kankuro... berbicara denganmu membuatku mengerti apa yang harus kulakukan... aku pergi dulu." Naruto melangkah menjauh pasti.
Kankuro tak berminat melihat langkah jauh Naruto, ia menatap kepalan tangannya sendiri, "Aku tidak perlu minta maaf secara langsung, kan... sepertinya sepatu baru itu cukup sebagai tanda minta maaf karena aku selalu memukulmu selama ini, Gaara..." Kankuro terkekeh, tertawa sendiri sambil meraih kaleng bir didepannya tanpa melihat.
"Kampret!" Kankuro menyemburkan isi mulutnya, "Naruto sialan! Dia memasukkan puntung rokok ke dalam kaleng, jancuk!"
.
"Belum benar... apa yang kulakukan selama ini belum benar..."
Naruto berjalan pasti menuju arah kediamannya.
"Kenyataannya yang di ceritakan oleh ayahku... aku harus tahu lebih rinci dan pasti..."
Gurat ketegasan terukir di wajah kusut remaja berumur delapan belas tahun itu.
"Kenapa, Sasori selalu bersikeras mengatakan bahwa S.A.C tidak membunuh orangtuaku... kalimat terakhir sebelum Sasori ku tembak mati itu..."
Naruto mengepalkan tangan.
"Aku harus memastikan kebenarannya!"
...
"Kemana si sombong itu?" tanya Shikamaru pada Chouji ataupun Ino.
Mereka bertiga kini duduk di taman beranda Rumah Sakit.
"Kalau kau ingin mencari Sasuke... cari saja di bawah tangga atau belakang pintu... orang sok cool kan selalu berdiri di dekat area gelap agar kesan misteriusnya mencuat keluar..." jawab Ino mencibir.
Shikamaru tertawa kecil. "Dia benar-benar di cuekin Sakura..."
"Sakura belum siap menerima kenyataan bahwa kita adalah hero..." sambung Ino memukul pundak Chouji, "Oi gendut, kamu ngapain?!"
"Aku mencari kupon berhadiah dalam keripik kentang ini..." Chouji bicara sambil mengunyah dan mengorek-ngorek kedalam bungkus keripiknya.
"Kupon.. apa hadiahnya?" tanya Ino.
"Mobil Apanza... ada juga Senia..." jawab Chouji serius sambil melahap keripik kentangnya.
"Kau mau saja ditipu iklan... itu strategi marketing..." ujar Shikamaru sambil menguap lebar.
"Tapi pemenangnya ditampilkan di TV kok..." jawab Chouji tak mau kalah.
"Itu rekayasa Chouji... semua yang ada di dalam TV belum tentu benar... sebagian besar rekayasa..." sanggah Shikamaru, "Cerdaslah sedikit, dengan keripik kentang seharga delapan ribu kau bisa mendapatkan mobil? Ayolah..."
"Eh bay the way..." potong Ino, "Bagaimana hasil latihanmu?"
Shikamaru melirik ke kiri ke kanan, ia sengaja diam saat seorang suster yang sedang mendorong pasien di kursi roda untuk berjalan-jalan menjauh dari posisi mereka bertiga.
"Lihat ini." Bayangan Shikamaru tiba-tiba berdiri sampai pinggang. "Aku berhasil membuat bayanganku keluar dari medium lantai atau dinding..."
"Waah...!" Ino memberi gesture memuji
"Tidak ada. Tidak ada." Chouji makin mengorek kedalam bungkusan keripik kentangnya.
"Dengan begini..." ujar Shikamaru serius, "Formasi InoShikaChou makin solid..."
"Dan tak terkalahkan..." sambung Ino mantap.
Chouji membanting bungkus keripiknya. "Sial! Tidak ada kuponnya!"
"Aku akan menemui Sakura lagi ke dalam, mungkin dia sudah agak tenang dan mau diajak ngobrol..." tukas Ino.
"Ya, baiklah, aku dan Chouji akan pulang sebentar... lagipula keluar rumah tanpa membawa perlengkapan bertarung sangat beresiko."
"Maksudmu?" Ino menatap dalam Shikamaru.
"Haah... apa aku harus menjelaskannya padamu, merepotkan sekali." Shikamaru mengorek telinga.
"Kau tak perlu bicara, cukup kau jelaskan dalam pikiranmu..."
"Naruto... maksudku, siapapun yang menyerang Sakura, kau pikir dia takkan kembali?"
"Maksudmu bukan Naruto yang menyerang Sakura?"
Shikamaru berdiri dan meregangkan persendiannya, "Aku tak tahu jika memang itu adalah Naruto yang kita kenal, tapi aku dan Chouji akan mengambil perlengkapan bertarung untuk berjaga-jaga... kurasa jika memang ayah Sakura diburu, maka perburuannya belum selesai karena ayah Sakura masih bisa dikatakan selamat meski sekarang dalam keadaan koma."
"Baiklah, terserah..." Ino beranjak ke dalam Rumah Sakit.
"Chouji, ayo..." ajak Shikamaru.
"Shika..."
"Hm?"
"Kuponnya... bergambar maddog membawa parang?"
Shikamaru mencubit dagunya, "Hmm... sudah kuduga."
...
"Apa kau benar-benar tak ingat wajah hero yang menyerangmu?" tanya Anko dengan catatan kecil di tangan.
Sakura menggeleng pelan.
Anko melirik ke Yamato yang berdiri disampingnya. Mereka berdua berdiri di hadapan Sakura yang terduduk di sofa dalam ruang dimana Kizashi masih dalam keadaan koma.
"Nona Sakura, bantu kami agar kami bisa menangkap hero yang menyerangmu..." Yamato membantu Anko.
"Menurut saksi mata, kau berhasil memukul wajah hero tersebut, dari pecahan topeng yang kami kumpulkan di TKP, kami sudah tahu bahwa penyerangmu adalah Killer Hunter, kami perlu dapatkan wajah aslinya dari ingatanmu..."
Sakura tetap diam membisu.
Orochimaru yang bersandar di pintu menatap Sakura dengan pandangan menyelidik. "Sepertinya, gadis ini bukan halangan yang berarti jika ia menyerang Naruto, tapi kenapa Naruto malah pergi dan tak membunuh gadis ini dan Kizashi?"
Anko kembali bersiap menulis di catatan kecilnya, "Tipe wajahnya? Tirus? Tembem? Jerawatan? Warna matanya? Merah? Kuning? Hijau? Hidungnya? Mancung atau nyungsep kedalam?"
Sakura tetap melipat lidah, bahkan enggan menatap Anko.
"Haah... kalau kau tak bicara bagaimana kami bisa menangkapnya? Kami harus tahu idenditas asli Killer Hunter, mengerti?" nada Anko meninggi dan menanggalkan semua formalitasnya.
"E-eh Anko... apa yang kau lakukan?" Yamato terkejut dengan sikap tak sopan Anko.
"Bocah ini, apa dia tak tahu bagaimana sopan santun berbicara pada yang lebih tua?" Anko menunjuk kepala Sakura, "Aku tahu kau sedih karena ayahmu masih koma, tapi tidakkah kau bisa bekerja sama dengan kami menangkap penyerangnya?"
Sakura menggigit bibir bagian dalam.
"Anko, tenanglah..." cegah Yamato mendinginkan Anko.
"Nona Sakura," panggil Yamato lembut, "Sepertinya Anda masih terguncang... jika kau sudah tenang dan bisa mengingat wajah asli Killer Hunter, hubungi kami... kami akan membantumu dengan ahli sketsa wajah dari markas..."
Tak ada anggukan maupun gelengan dari Sakura.
Anko berkacak pinggang melihat Sakura yang tak merespon. "Apa dia tuli?" cibirnya.
"Yamato, Anko, kalian terlalu menekannya, Nona Haruno Sakura bukan tersangka dan kalian seolah-olah menginterogasinya..." sela Orochimaru yang masih berdiri jauh dari mereka bertiga, "Lebih baik kita kembali ke markas dan membiarkan Nona Sakura beristirahat."
"Haah..." Anko mengeluh dan beranjak keluar bersama Yamato.
Orochimaru masih berdiri di tempatnya, menatap Sakura yang setia menunduk, "Nona... apakah hari minggu kemarin kau pergi ke Taman Bermain dan mengalami insiden kecelakaan roller coaster?"
Sakuta tiba-tiba terkejut dan menengok ke arah Orochimaru. Matanya melebar melihat Orochimaru yang tersenyum kepadanya.
"Dari ekspresimu, aku sudah tahu jawabannya, Nona..." Orochimaru melangkah keluar ruangan.
"Jadi begitu, alasan Naruto tak mampu menghabisi Kizashi dan gadis ini, karena Haruno Sakura adalah orang yang sama yang membuat Naruto pulang seperti orang gila saat itu..." Orochimaru menyeringai, "Kau mudah sekali di tebak, Naruto..."
Orochimaru meraih ponsel disakunya, melihat sebuah pesan singkat dari Naruto.
'Mencariku? Aku dirumah.' Tampil layar ponsel Orochimaru.
"Anko, Yamato, aku akan pulang sebentar..." ujar Orochimaru pada dua petugas di depannya lalu berpisah di koridor yang berbeda.
.
.
"Bagaimana aku bisa jujur pada kalian, sementara kalian tidak jujur akan penyebab kematian ibuku..." ujar Sakura pada kehampaan.
Sakura beranjak berdiri, mendekati sosok ayahnya yang terbaring, membelai surai berbentuk bintang dan berwarna merah muda kusam, mungkin karena terlalu lama bersinar di bumi, "Ayah... aku harus mencari tahu kebenaran dari semua kenyataan ini."
Sakura kembali menahan isakan, "Tunggulah sebentar disini... bukankah Ibu juga di autopsi di Rumah Sakit ini..."
Sakura keluar ruangan dan Ino sudah menunggu di bangku luar. Gadis merah muda itu sekilas melirik lalu membuang pandang.
"Aku datang untuk mengganntikanmu istirahat," Ujar Ino santai, "Shikamaru dan Chouji sebentar lagi juga kemari..."
Sakura masih tak menatap Ino.
Barbie hidup itu berdiri dan mendekati Sakura. "Baiklah... rupanya begitu..." Ino menghela nafas panjang.
"Kenapa kau bersikap biasa-biasa saja? Seolah kau tidak mengatakan pengakuan seperti tadi pagi?" tanya Sakura tanpa menoleh.
"Lalu apa bedanya aku yang kemarin dan aku yang sekarang... aku akan menemanimu meski kau usir berkali-kali, aku akan siapkan makanan untukmu karena kau takkan sempat hanya sekedar untuk membeli makanan keluar... aku juga akan gantian menjaga ayahmu saat kau istirahat..." jawab Ino lancar dan mantap.
Tanpa jeda.
Tanpa rekayasa.
Tulus atas pertemannya dengan Sakura.
Si merah muda berbalik, menatap Ino dengan matanya yang sudah tergenang basah.
"Kau bertanya, apakah kenyataan yang kuketahui bisa merubah keadaan?" Sakura meraih tangan Ino.
Barbie hidup itu tercenung.
"Ya, Ino, keadaan akan berubah jika kita mengetahui kebenaran yang sebenarnya!"
"Hah?" malah Ino yang tak mengerti maksud Sakura sekarang.
"Ayo ikut aku..." Sakura menarik tangan Ino dan berlari.
"E-eh? Jangan menarikku!" pekik Ino.
Namun Ino tersenyum, sepertinya persahabatannya takkan berubah meski Sakura tahu bahwa ia adalah hero.
Saatnya Sakura mencari kebenaran akan kematian ibunya.
...
Anko menekan sebuah tombol disamping lift. Menunggu pintu terbuka, Anko berbincang dengan yamato.
"Kapten Yamato, sebagai petugas lapangan, bukankah sikap Pororo sangat perhatian pada anaknya, dia selalu menyempatkan diri untuk pulang kerumah melihat anaknya..."
"Ya, aku setuju, aku bahkan pernah sekali mampir kerumahnya..." jawab Yamato.
"Kau lihat rupa anaknya? Apakah sama menyebalkannya dengan si Pororo itu?"
"Berhentilah memanggil kaptenmu sendiri dengan panggilan seperti itu, Anko..." tegur Yamato. "Aku tidak lihat bagaimana putranya, aku cuma menunggu didalam mobil..."
"Karena kau divisi non-lapangan, Kapten Yamato, lihatlah tingkah arogannya... kau pasti juga akan membencinya..." Anko masuk terlebih dahulu ke dalam lift.
"Hubungan kalian rumit sekali ya..." susul Yamato ke dalam.
Lift disamping Anko terbuka saat lift yang dimasukinya tertutup.
Satu orang dengan pedang besar yang terlilit perban berjalan santai. Koridor ICU yang sepi membuat ia melenggang santai.
...
"Maaf, kami tak bisa memberikan informasi tersebut pada sembarang orang." Ujar seorang dokter bagian autopsi pada dua remaja cantik di depannya.
"Tapi aku anaknya, dokter..." ujar Sakura menunjukkan kartu pelajarnya.
"Tetap saja Nona..." dokter itu melirik ke sekilas ke kartu pelajar di meja. "Kami tak bisa memperlihatkan hasil autopsi begitu saja..."
"Kenapa tidak bisa? Aku anaknya!" nada Sakura berubah tinggi.
Ino yang duduk disamping Sakura menyela percakapan, "Dokter..." panggilnya.
"Hm?" dokter tersebut menoleh pada Ino.
Gadis cantik itu membentuk segitiga dengan jemarinya.
Sakura heran kenapa dua orang tersebut saling diam dan saling menatap.
"Sakura..." panggil sang dokter, "Tolong jaga tubuhku."
Kening Sakura berkerut.
"Ini aku, Ino..." ujar dokter tersebut.
"Wue?" Sakura kini menatap bergantian dokter tersebut dan Ino yang tetap mematung.
"Tunggulah disini..." Dokter tersebut berdiri dan masuk ke ruangan khusus di belakangnya.
Di dalam ruangan penuh rak panjang tersebut, ada dua suster yang sedang bercengkrama.
"Suster, bisakah ambilkan aku berkas atas nama Haruno Mebuki? Tolong cari di arsip sekitaran lima tahun yang lalu..."
"Baik, dok." Ujar salah seorangnya dan mencari arsip yang dimaksud disalah satu rak panjang.
"Ini, dokter..."
Dokter itu kembali ke hadapan Sakura dengan membawa arsip tersebut.
"Kau kenapa?"
Sakura masih terbengong-bengong melihat tubuh Ino yang mematung serta dokter tersebut.
"Kau Ino?"
Dokter tersebut mengangguk.
"Benarkah?" tanya Sakura tak percaya.
"Ini jenis kekuatanku, jidat!"
"Eh? Kau tahu panggilanku? Cuma Ino yang memanggilku begitu." Tunjuk Sakura ke dokter tersebut.
"Haah... kau ini.. sudah kubilangkan aku ini si cantik dan seksi Yamanaka Ino-sama..." keluh si dokter.
"Lalu ini siapa?" telunjuk Sakura kini mengarah pada tubuh Ino.
"Tubuhku... tapi sedang dalam keadaan kosong..."
"Bagaimana bisa?" tanya Sakura tak habis pikir.
"Jidat! Ada yang lebih penting sekarang!" ujar dokter itu memberikan berkas pada Sakura.
Tangan Sakura gemetaran menerima berkas dari dokter yang mengaku Ino itu.
"Bacalah..."
"Disini..." gumam Sakura dengan kalimat bergetar, "Kebenaran dari kematian ibuku..."
Dan lembar demi lembar kebenaran terungkap.
.
"Kau seharusnya saat itu bisa memberikan perintah penyelamatan, tapi kau hanya berdiam diri melihat..." Ujar Zabuza menatap sosok Kizashi yang terbaring di ranjang.
Zabuza sekilas melirik EKG, "Lihatlah dirimu, kapten... ah, maksudku, Komandan Kizashi..." Zabuza mendekati tiang infus yang berada di sisi kepala Kizashi.
"Kini lemah tak berdaya... sama seperti Yagura yang kau tinggalkan begitu saja dalam kobaran api..." ujarnya sambil mencabut selang infus dan selang kantung darah.
Sosok yang berbalut perban di setengah wajah dan sekujur tubuh itu memutar regulator pada tabung oksigen agar pasokan udara yang dibutuhkan Kiazshi menyusut.
"Killer Hunter memburumu, kau hidup dalam dendam memburu hero karena membunuh istrimu... dan aku... hidup dalam kesedihan karena ulah pembunuh berseragam macam kalian..."
Zabuza mengangkat pedangnya, siap membelah tubuh Kizashi menjadi dua.
.
Sakura berjalan gontai di koridor, sementara Ino yang berada di sampingnya tak tahu harus berkata apa untuk menghibur sahabatnya.
"Pisau dapur itu hanya menancap empat centimeter dan tidak berakibat fatal karena tertancap di dada atas dekat bahu..." Sakura berujar pelan.
Entah ditujukan pada siapa.
"Ibuku terbunuh karena peluru yang menembus kepala belakangnya..." sambung Sakura.
"Berarti apa yang dikatakan pak Tazuna benar..."
Ino melirik sedikit, "Sakura... dalam satu hari ini kau menghadapi kenyataan yang bertubi-tubi... kasihan mentalmu yang terus tertekan... cepatkan langkah kakimu agar kita bisa beristirahat dikamar..."
"Hiks..." Sakura tersedu, tangis yang ditahan sedari tadi akhirnya pecah. "Dengan kata lain... hiks... S.A.C yang membunuh ibuku... S.A.C juga menyembunyikan rahasia yang sebenarnya dari ayahku..."
Langkah Sakura terhenti.
Yamanaka Ino memapah Sakura agar terus berjalan dan bisa beristirahat di kamar.
"Apakah laporan autopsi yang diberikan pada ayahku selama ini palsu?" tanya Sakura pada diri sendiri, "Gara-gara kebenaran yang disembunyikan ini... ayah menjadi gila kerja dan menghabiskan semua waktu dalam hidupnya untuk memburu hero..."
"Sakura... sudahlah... kita lanjutkan berbicara di kamar... kau butuh istirahat..." tutur Ino lembut, "Kita sebentar lagi sampai..."
.
Zabuza siap mengayunkan pedangnya yang masih dalam balutan perban, namun tiba-tiba ia mengurungkan niatnya saat mendengar bunyi EKG yang makin cepat dan menampilkan grafik yang tiba-tiba naik turun.
"Sepertinya menyenangkan melihatmu kesakitan di ujung kematian..." ujar Zabuza dingin, "Yagura..." Zabuza menjambak rambutnya sendiri dengan satu tangan yang tak menggenggam pedang, "Yagura juga kesakitan saat terbakar dan dihimpit reruntuhan."
Bunyi EKG makin cepat dan grafik pada monitor terlihat lebih kecil dari sebelumnya.
.
"Dan aku..." Sakura memijit kepalanya yang terasa pening, "Selama ini membenci hero hanya karena kebohongan S.A.C? Menyedihkan... hiks..."
"Sakura..." Ino memegang bahu sahabatnya tatkala mereka sampai di depan pintu kamar, "Aku mohon, untuk sebentar saja, berhentilah memikirkan semua dan beristiratlah.. kau tahu jidatmu makin lebar kulihat sekarang..." Ino berusaha melempar canda.
Sakura meraih tangan Ino, menatap kedua aquamarine jernih tersebut, "Ino, apakah aku selama ini salah karena membenci ayah dan hero?"
Ino mengangguk, "Kau mungkin telah melakukan kesalahan, tapi kau baru saja menemukan kebenaran dari kenyataan yang melilitmu selama ini..."
Ino kembali menepuk pelan kedua pundak Sakura dengan telapak tangannya yang terbuka, "Pertanyaannya sudah terjawab kan, kenyataan yang kita ketahui memang takkan bisa merubah keadaan, tapi kedepannya kita bisa melangkah dengan benar karena kita sudah tahu kepastian dari kebenaran tersebut..."
Sakura makin terisak sedih.
"Mengetahui bahwa Ibumu terbunuh karena konspirasi S.A.C dengan pemerintah memang takkan membuat ibunda tercintamu hidup lagi, tapi kedepannya, kau takkan diselimuti lagi oleh kebencian kepada hero dan semoga ayahmu segera ambil tindakan mengetahui hal ini, dengan begitu, Ayahmu tidak akan gila kerja demi memburu hero, kau bisa menghabiskan waktu lebih banyak bersama ayahmu nantinya..." tutur Ino dengan senyum simpul.
"Ino... aku berterima kasih padamu... sungguh..." Sakura meremas pelan jemari Ino.
"Jangan menangis lagi, jidat, ayo kita istirahat di dalam..." Ino membuka pintu.
.
"Apa yang kalian bicarakan diluar, lama sekali..." tukas Zabuza santai, "Ini orang hampir mati nih..." tunjuk Zabuza ke arah Kizashi.
"Ayaah!" jerit Sakura mendekati ayahnya.
"O-orang ini..." Ino membelalakan mata.
"Dokter! Suster!" teriak Sakura sambil menekan tombol disamping ranjang yang terhubung ke ruang jaga para perawat.
Ino juga berteriak di depan pintu, segera para dokter dan suter berlarian ke kamar mereka.
"Lihatlah... seandainya waktu itu aku tidak pingsan, aku juga akan berteriak gila agar para pembunuh berseragam bernama S.A.C menyelamatkan Yagura." Ujar Zabuza santai berjalan ke arah jendela.
Ia bersandar di jendela dan menatap para dokter yang berusaha menyelamatkan nyawa Kizashi.
Sakura menjerti hsiteris melihat ayahnya yang semakin kritis sementara Ino terpaku di pintu.
"Kau... aku akan menghajarmu!" teriak Ino.
"Kau menghajarku?" tunjuk Zabuza ke Ino, "Lupakan." Lalu kembali melihat Kizashi yang kini sudah dipasangi Defibrillator.
"Siap!"
Tubuh Kizashi terkejut sesaat setelah alat kejut jantung di tempelkan di dada. Dokter mengangkat kembali alat kejut jantung yang mirip setrika itu di tangannya dan suster kembali mengoleskan gel khusus.
"Suster, cepat panggil pihak kemanan rumah Sakit! Tangkap orang ini! Yang lainnya ayo lanjut!" teriak dokter itu "Satu, dua, tiga!" dokter kembali menempelkan alat kejut jantung selama satu detik dan tubuh Kizashi kembali bergetar.
"Lagi, satu, dua, tiga!"
Tubuh Kizashi tersentak sesaat.
Lalu terdengar bunyi nyaring dari mesin EKG.
Grafik pada monitor menampilakn garis lurus.
Bola mata Sakura dan Ino terbelalak serasa hendak melompat keluar.
Tubuh Sakura ambruk namun Ino terlebih dahulu menangkapnya.
"Sakura! Sadarlah!" jerit Ino.
"Menyenangkan sekali... benar-benar membuatku terhibur... hahaha..." tawa Zabuza menggelegar.
"Menyenangkan katamu?" suara bariton nan sinis memotong tawa Zabuza.
Zabuza menatap ke arah pintu dan
Blaarrrm!
Satu tinju seukuran tubuh manusia dewasa menghantamnya, membuat Zabuza terlempar memecahkan kaca dan terhempas keluar.
"Tambahkan voltasenya!" teriak dokter. "Pasang kantung oksigennya!"
Sosok yang baru datang adalah remaja yang kini bersolek seperti orang pedalaman, wajahnya dipenuhi coretan dan hiasan kepala bulu ayam, ia juga mengenakan plat besi seperti zirah perang di bagian depan dan belakang serta lengan dan kakinya. Bersama dengannya, seorang hero bermuka malas dan berambut nanas menghampiri Ino.
"Ino... tunggulah disini... aku akan merepotkan diriku sebentar..." ujarnya meraih tubuh Sakura lalu membaringkannya di sofa.
"Tidak akan kumaafkan..." Ino yang menunduk menggeram marah. Setengah wajahnya yang tak tertutup poni berkerut penuh angkara, "Tidak akan kumaafkan."
Chouji mendekati jendela dan melongok keluar.
"Shikamaru, dia bukan hero kan? Kenapa bisa berlari di dinding?" tengoknya melihat Zabuza berlari di dinding dan melewati kaca jendela kamar Kizashi. Chouji kini melongok ke arah atas.
"Membuatku sahabatku sampai seperti ini..." Ino bangkit berdiri dengan kedua tangan terkepal, "Tidak akan kumaafkan!"
"Haah... ini akan sangat merepotkan, ayo kejar dia sebelum kabur."
Praank!
Kaca jendela kembali pecah dan tiga sosok hero muda berlari di dinding mengejar Zabuza yang menuju bagian atap bangunan Rumah Sakit.
...
Orochimaru perlahan berjalan ke ruang tamu, ia tak mendapati Naruto disana. Ia melanjutkan langkah hati-hatinya ke dapur saat mendengar bunyi orang sedak memasak. Orochimaru menatap tajam punggung Naruto yang terlihat sedang memasak sesuatu.
Orochimaru duduk di meja makan bundar, dihadapannya sudah tersaji nasi hangat.
Naruto mendekat dengan dua piring telor dadar, wajahnya sangat serius menuangkan kecap ke atas dadar yang berbentuk pipih sepiring.
Orochimaru bersikap waspada melihat mimik wajah Naruto.
"Ini untukmu, yah..." Naruto menyodorkan dadar yang ia gambar dengan dua mata dan lengkungan bibir ke bawah.
Sementara Naruto memberi olesan kecap berbentuk lengkung senyum di dadarnya.
"Orang bilang, sepasang suami istri akan membicarakan hal penting di ranjang sebelum tidur." Naruto meraih sumpit, "Ayah dan anak akan membicarakan hal penting di meja makan saat makan malam."
Naruto sudah mulai dengan suapan pertama.
Orochimaru sama sekali tak berminat pada makan malam ini. Ia terus memperhatikan raut wajah Naruto yang diukir keseriusan dan ketegasan.
"Apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Orochimaru dingin.
Naruto membiarkan kunyahanya selesai dan menelan makanannya. Ia meminum sedikit air dan mengelap mulutnya dengan tisu.
Sejenak, bungkam menjadi suasana mutlak.
Hingga Naruto menoleh pada ayahnya.
Iris khas reptil beradu tajam dengan safir yang tergerus dendam.
"Kebenaran dari kenyataan tentang kematian orangtuaku. Orangtua kandungku." Tantang Naruto.
.
Haruno Sakura telah mengetahui kebenaran dari kematian orangtuanya.
Naruto juga sedang menggali kebenaran dari kenyataan yang disuguhkan oleh cerita Orochimaru.
Sementara itu, trio hero dengan formasi solid siap mengamuk.
To be continued
Next chapter : "Even, whether we've started?" InoShikaChou vs Zabuza and Haku!
