SWEET DREAMS KIM JAEJOONG
Chapter Eight
For Yunho & Jaejoong
Main cast :
Jung Yunho
Kim Jaejoong
Summary :
Jung Yunho seorang pengusaha berlian yang sangat terobsesi mencari pembunuh kedua orangtuanya. Jung Yunho tidak sengaja bertemu dengan Kim Jaejoong yang pingsan di depan gerbang rumahnya. Jung Yunho membawa Kim Jaejoong ke dalam rumahnya. Setelah mendengarkan cerita Kim Jaejoong, Jung Yunho memutuskan untuk memberi tempat tinggal bagi Kim Jaejoong yang artinya Jung Yunho dan Kim Jaejoong tinggal bersama. Jung Yunho mulai membuka diri terhadap Kim Jaejoong yang ia anggap seorang namja cantik yang polos. Jung Yunho masih melanjutkan pencariannya terhadap pembunuh kedua orangtuanya dibantu dengan sahabat kecilnya Park Yoochun dan Kim Junsu, tapi bagaimana bila suatu hari Jung Yunho mengetahui pembunuh kedua orangtuanya adalah seseorang disekitarnya ?
.
.
.
Sebulan kemudian.
Hari ini hari pertama Kim Jaejoong berkerja, perjanjian yang Hyunjoong buat sedikit meleset hingga membutuhkan waktu sebulan untuk memperkerjakan Jaejoong sebagai seorang koki.
"Terima kasih sudah mengantarku, Ahjussi."
"Iya, Tuan. Saya akan menjemput Tuan tepat pukul 5 sore."
"Tidak usah, aku ingin naik bus saja."
"Tapi saya hanya disuruh oleh Tuan Yunho."
"Tidak apa-apa Ahjussi. Nah, selamat tinggal."
Jaejoong turun dari sebuah mobil milik Jung Yunho. Menatap sebuah bangunan minimalis dihadapannya, sebuah restaurant tradisional yang tidak terlalu besar. Hanya sebuah restaurant berbintang tiga milik Kim Hyunjoong.
TRING
Suara bel yang berada di atas pintu berbunyi ketika Jaejoong membuka pintunya.
"Selamat datang, Jaejoong-ssi."
"Iya, Hyunjoong-ssi."
"Silahkan duduk terlebih dahulu, aku masih menunggu satu orang lagi yang akan menjadi pelayan sekaligus kasir."
"Oh, terima kasih. Aku ingin melihat-lihat, apa boleh ?" tanya Jaejoong.
"Alangkah baiknya bila kita sama-sama melihat, duduklah dulu. Pasti dia sebentar lagi datang."
Jaejoong duduk di hadapan Hyunjoong menunggu satu orang lagi. Sambil menunggu, mata Jaejoong berkeliaran kemana-mana melihat desain interior restaurant ini. Warna yang cukup klasik menurutnya. Pemanfaatan ruangan minimalis yang sempurna. Terlihat sangat rapi dan ala Korea.
TRING
Suara bel berbunyi lagi.
"Permisi, maafkan saya terlambat." Seseorang yang baru masuk tadi membungkukkan badannya berkali-kali.
"Terlambat 5 menit di hari pertama kerja, apa yang membuatmu terlambat Heechul-ssi."
"Mungkin ini sebuah alasan klasik tapi ini kenyataan, ban sepeda motorku pecah di jalan."
"Hahaha, aku bisa menerimanya. Silahkan duduk, Heechul-ssi."
Seseorang yang bernama Heechul itu duduk tepat di samping Jaejoong, sama-sama berhadapan dengan Hyunjoong.
"Baiklah, pertama saya ingin mengucapkan terima kasih kepada kalian karena bersedia di restaurant yang baru saya buat. Saya harap kita bisa mengembangkan restaurant ini bersama-sama. Nah, saya rasa kalian berdua belum berkenalan bukan ?"
Jaejoong dan Heechul saling bertatapan, "Aku Kim Heechul, umurku 28 tahun." ucap Heechul menyodorkan tangannya.
"Aku Kim Jaejoong, umurku 20 tahun. Salam kenal Heechul-ssi." Jaejoong pun menjabat tangan Heechul.
"Wah, kamu masih muda sekali Jaejoong-ah. Panggil aku Heechul hyung ne ?"
Jaejoong merasa kikuk, namja yang terbilang cantik di sampingnya ini ternyata ramah dan cepat bersahabat.
"I..iya Heechul hyung. Mohon kerjasamanya."
"Sama-sama."
"Bagus, kalau begitu panggil aku dengan sebutan hyung saja. Sekarang mari kita bersama-sama melihat-lihat restaurant ini, dimulai dari dapur dulu."
"Iya, Hyunjoong hyung !" Jawab Jaejoong dan Heechul bersamaan.
Selama 15 menit, Hyunjoong memperkenalkan tiap ruangan di restaurant tersebut, restaurant berlantai tiga ini.
"Nah, apabila keuntungan yang kita peroleh sudah banyak maka aku akan menambah karyawan lagi. Apa kalian tidak keberatan dengan tugas dan tanggung jawab yang kuberikan ?" tanya Hyunjoong ketika mereka telah selesai menjelajahi restaurant.
"Aku siap, Hyunjoong hyung !" Jawab Heechul penuh semangat.
"Aku juga !" Jawab Jaejoong tidak kalah semangat.
"Ah, terima kasih." Hyunjoong melihat jam bundar yang terdapat di restaurantnya. "Sudah jam 9, aku harus ke perusahaanku dulu. Heechul-ah, karena kamu yang paling tua, maka aku percayakan restaurant ini kepadamu selama aku tidak ada."
"Ne, Hyunjoong hyung." jawabnya.
Hyunjoong pun segera pergi dari restaurant tersebut, dia memilih untuk berjalan kaki menuju perusahaannya karena hanya dua blok dari restaurantnya, sambil berjalan Hyunjoong mengedarkan brosur restaurantnya kepada pejalan kaki lainnya.
Kembali ke restaurant, terlihat Heechul duduk bertopang dagu memandang pejalan kaki yang lewat, Heechul terlihat agak resah karena belum ada pengunjung yang datang. Kalau begini caranya, restaurant ini tidak bisa berkembang.
"Minuman untukmu, hyung."
Heechul memalingkan kepalanya, melihat secangkir teh yang masih mengepul.
"Oh, terima kasih. Teh apa ini ? Aku menyukai baunya."
"Hanya teh hijau dengan daun melati."
Jaejoong duduk di hadapan Heechul, mengikuti Heechul yang kembali memandang pejalan kaki yang lewat sambil meminum tehnya.
"Ini sudah jam 11, tapi kenapa belum ada yang mampir."
"Masih 1 jam lagi jam makan siang, hyung. Tenanglah, aku yakin restaurant ini pasti akan sangat ramai." kata Jaejoong menenangkan Heechul.
"Semoga saja. Oh ya, apakah kamu bekerja disini karena ajakan Hyunjoong hyung ?" tanya Heechul.
"Iya, sebenarnya sih melalui Yunho hyung."
"Yunho hyung ? Kamu mempunyai seorang kakak laki-laki ?"
"Ani, dia.." Jaejoong terdiam sejenak. "Dia kakak angkatku, ya bisa dibilang seperti itu !"
"Hahaha, benarkah ? Apa dia tampan ?" goda si centil Heechul.
"Ya..ya..apa yang kamu katakan, hyung."
"Tidak ada, siapa nama lengkap kakak angkatmu eoh ?" tanya Heechul lagi.
"Apa kamu segitu penasarannya, hyung ?"
"Tidak, aku hanya bertanya saja. Apa salahnya bertanya kepada teman kerja sendiri eoh ? Bila kamu menceritakan tentang kehidupanmu, nanti aku akan menceritakan tentang kehidupanku juga." ucap Heechul tidak lupa dengan kedipan matanya.
"Namanya Jung Yunho, aku tidak tahu pasti apa pekerjaannya. Dia hanya bilang pengusaha berlian langka. Dan dia menganggapku sebagai adik angkatnya. Dia telah menolongku ketika aku pingsan di depan gerbang rumahnya. Selesai."
Suara cangkir teh beradu dengan meja kaca, membuat bunyi yang cukup nyaring. Ternyata pelakunya adalah Heechul yang menaruh kasar si cangkir. Membuat Jaejoong tersentak kaget dan tidak jadi meminum tehnya.
"A..ada apa, hyung ? Kenapa melotot seperti itu ? Kamu menakutiku tahu !"
"Ju..jung Yunho katamu ?"
"Iya, apa hyung mengenalnya ?" Mulailah si polos Jaejoong curiga, membuatnya berpikiran macam-macam termasuk berpikiran. "Apa hyung mantan kekasih Yunho hyung ?"
Heechul membetulkan matanya, tatapannya berubah menjadi sangat manis, tersenyum kepada Jaejoong yang memandangnya aneh.
PLETAK
"Aww !"
Jaejoong mengelus-elus sayang kepalanya yang dipukul oleh Heechul dengan tangannya, sebenarnya pelan saja Heechul memukul hanya saja cincinnya yang terbilang besar itu yang membuat Jaejoong kesakitan.
"Ya ! Hyung kenapa memukulku ! Sakit !"
Kali ini Heechu membetulkan pita suaranya, membetulkan posisi duduknya termasuk tatanan rambutnya.
"Duduklah yang manis, Jaejoong-ah. Karena aku akan bercerita."
"Mwo ? Apa hyung akan menceritakan dongeng ?"
"Ck." Kembali mata Heechul memberi tatapan tajam kepada Jaejoong, dan segera Jaejoong duduk dengan manis seperti anak yang akan dinasehati oleh Ummanya."
"Jung Yunho, rumah Jung. Rasanya...sudah lama sekali..." Sedikit berlebihan untuk memulai cerita, Heechul menutup matanya. "Dulu aku pernah menjadi pelayan disana, di bagian dapur. Saat itu aku berumur 20 tahun. Aku yang hidup miskin saat itu tanpa pikir dua kali melamar menjadi pelayan, dan tentu saja aku menyamar seperti seorang yeoja."
"Mwo ? Apa hyung memakai rok ? stocking ketat itu atau stocking jaring ? Apa hyung berpakaian pelayan yang seksi ?"
"Ya ! Kim Jaejoong ! Fantasi-mu terlalu berlebihan ! Aku hanya memakai pakaian pelayan biasa, sama seperti pelayan lainnya. Aku bekerja disana hingga aku berumur 25 tahun."
"Kenapa ?"
"Aku berhenti ? Tentu saja ! Hampir setiap hari di saat aku menyiapkan sarapan pagi untuk Tuan Jung, dia menatapku dengan tatapan mesum. Bahkan dia pernah sekali meraba pantatku."
"Hyung..." lirih Jaejoong kemudian, menatap Heechul sendu.
"Ck, tidak usah membuat suasana dramatisir seperti itu Jaejoong-ah ! Aku masih bisa mentolerir itu. Namun ketika Tuan Jung...Tuan Jung berusaha menciumku..."
BRAAKK
Heechul memukul meja itu, Jaejoong terlompat dari duduknya. Jelas yang berada di hadapannya bukan manusia.
"Aku tidak bisa mentolerir-nya ! Apalagi saat itu Nyonya Jung tidak sengaja melihat dan menyalahkanku yang menurutnya menggoda Tuan Jung."
"Lalu ?"
"Lalu, kepala pelayan rumah Jung si Kwon Ahjumma menyuruhku untuk berhenti berkerja. Dia tahu itu bukan salahku, dan aku-pun memutuskan untuk berhenti. Padahal gaji yang kuterima lumayan banyak. Ah, bagaimana kabar Kwon Ahjumma, Jaejoong-ah ? Apa ia sehat-sehat saja ?"
"Iya, masih sehat saja. Umm..hyung..."
"Apa ?"
"Kenapa aku tidak mendengar bagian Yunho hyung ? Apa hyung tidak pernah bertemu dengannya ? Hehehe..."
"Oh, aku jarang bertemu dengannya. Dia sibuk dengan kuliahnya. Aku hanya melihatnya saat sarapan pagi saja. Karena mereka bertiga berkumpul bersama."
"Oh..apa dulu ia..."
TRING
Suara bel berbunyi, reflek Jaejoong dan Heechul sama-sama melihat ke arah pintu.
"Pelanggan pertama !" seru mereka kegirangan.
Langsung saja si centil Heechul menghampiri si pelanggan, dan si polos Jaejoong merapikan cangkir-cangkir tehnya dan bergegas menuju dapur.
.
.
.
Tidak terasa pelanggan restaurant semakin bertambah, dan kini mereka berdua benar-benar sibuk. Terutama Heechul yang harus bolak-balik dari mesin kasir dan melayani pelanggan. Jaejoong juga mulai terlihat kelelahan, pasalnya pesanan yang semakin bertambah yang harus ia kerjakan sendiri tanpa asisten.
"Jaejoong-ah, ini ada pesanan lagi di meja 10. Semangat !" Heechul memberi semangat kepada Jaejoong.
"Ne, semangat hyung !"
Seperti seorang koki ahli, Jaejoong memasak dengan cekatan. Entah darimana ia bisa mengingat setiap resep masakan. Bukankah ia amnesia alias lupa ingatan ?
Kembali lagi Heechul memberi secarik kertas pesanan. "Jaejoong-ah, pesanan terakhir di meja 5. Dia ingin kamu yang mengantarkannya !"
"Mwo ? Siapa ?"
"Aku tidak tahu ! Aku masih sibuk ! Antarkan saja !"
Heechul meninggalkan Jaejoong ketika ada seorang pelanggan yang hendak membayar di kasir. Barulah Heechul bisa bernapas lega, duduk di hadapan mesin kasir sambil meminum jus apel kesukaannya.
"Meja 5 dimana, hyung ?"
"Kamu lupa, Jaejoong-ah ? Itu ada di lantai 2. Sana cepat naik."
"La..lantai 2 ? Pesanannya banyak sekali. Ini terlalu berat."
Jaejoong melihat nampan yang pegang dan Heechul mengikutinya. Kemudian Heechul berdecak malas.
"Makanya lain kali perhatikan bila Hyunjoong hyung menjelaskan, Jaejoong-ah. Kamu tinggal taruh makanan itu di lift makanan, maka hanya kamu saja yang menaiki tangga membawa tubuh kurusmu itu !"
"Hehe..begitu..aku pergi dulu, hyung !"
Langkah Jaejoong agak sempoyongan, ini pesanan satu orang tapi kenapa sebanyak ini.
"Dasar !" gumam Heechul.
.
.
.
"Permisi, Tuan. Saya datang membawa pesanan anda."
Jaejoong mulai menaruh satu per satu makanan di meja nomor 5. Tanpa melihat ke arah pemesannya karena merasa gugup.
"Selamat menikmati." Jaejoong membungkukkan badannya dan hendak pergi.
"Tunggu !" Namja yang dipanggil Tuan oleh Jaejoong menggenggam tangannya.
"Ada ap...Changmin-ssi !" seru Jaejoong ketika melihat wajah namja tersebut.
"Temani aku makan, hyung. Lihatlah aku sudah memesan banyak makanan. Aku tidak akan sanggup menghabiskan makanan sebanyak ini, hyung." Changmin memberi tatapan memohonnya kepada Jaejoong membuat namja cantik itu tidak tega.
"Haah.." Jaejoong mendudukkan dirinya di depan Changmin. "Itu hanya alasanmu saja ! Bukankah kamu selalu makan dengan porsi yang banyak, Changmin-ssi !"
Changmin menatap Jaejoong penuh arti, menaruh kembali sendok sup-nya. "Darimana hyung mengetahui makanku banyak ?" tanyanya menuntut jawaban yang pasti.
.
.
.
Jung Yunho hendak mengistirahatkan tubuhnya, entah kenapa ia merasa begitu lelah sore ini. Yunho merebahkan tubuhnya dan menutup matanya.
TOK
TOK
Seseorang mengetuk pintu kamarnya, "Masuk saja." jawab Yunho malas-malasan.
TUK
TUK
TUK
Yunho mendengar suara itu, seperti suara heels sepatu wanita. Apa Kwon Ahjumma memakai high heels pikirnya. Karena matanya yang terlalu berat untuk dibuka, ia tidak peduli.
"Baby, i miss you so much !"
Yunho merasakan seseorang memeluknya dari belakang, posisi tidurnya memang memudahkan untuk seseorang memeluknya. Karena ia membelakangi arah pintu kamar.
Yunho merinding ketika sebuah benda yang ia yakini dada seorang wanita menempel di punggungnya dan parfum yang menyengat menusuk hidungnya.
'Oh Tuhan.' batinnya. Yunho masih terpejam, pura-pura tertidur tidak memperdulikan orang tersebut.
To be continued.
Give me some review ~
Thank you for your review ~ I'm really appreciate that .
*chapter terpendek yang Ze buat, maafkan Ze. Ze lagi sakit, cuaca yang berubah-ubah membuatku mimisan terus T_T
Balikpapan, 15 Juli 2013
ZE.
