Good Father

Main Cast : Lee Donghae, Lee Hyukjae, Lee Jeno, Park Jisung

Genre : Romance

WARNING!

BOYS LOVE

DON'T LIKE? DON'T READ PLEASE!

THE STORY IS MINE

Typo may applied, don't be silent reader please. NOT ALLOWED TO COPY PASTE WITHOUT MY PERMISSION!

TIDAK MENERIMA BASH DAN KAWAN-KAWANNYA. KRITIK DAN SARAN SANGAT DIBUTUHKAN.

THANK YOU ^^

.

.


Jam sudah menunjukkan pukul delapan malam, saat Jeno dan Jisung keluar dari gedung sekolah. Lagi-lagi ayahnya sibuk dan tidak bisa menjemput. Jadi, malam ini Jeno pulang sendiri bersama Jisung setelah belajar bersama di perpustakaan. Jisung ada tugas hari ini dan karena lumayan sulit, dia meminta bantuan pada Jeno. Satu lagi hal kecil yang membuat Jeno merasa bahagia; membantu tugas Jisung dan memamerkan otak geniusnya pada bocah judes itu.

Sudah tidak banyak orang di sekitar sekolah, hanya ada penjaga sekolah yang tertidur di posnya dan beberapa siswa yang baru keluar dari perpustakaan dan bergegas pulang. Saat baru beberapa meter meninggalkan sekolah, seorang laki-laki paruh baya dan terlihat lusuh, menghadang Jeno dan Jisung. Percakapan mereka terhenti dan menatap bingung laki-laki itu bersamaan.

Jeno sempat menduga, laki-laki itu mungkin preman dan mau memeras uang mereka berdua. Situasinya sekarang memang mendukung untuk melakukan hal jahat itu. Meskipun begitu, Jeno tidak takut. Dia memiliki kemampuan bela diri. Tapi sepertinya, Jisung tampak sedikit ketakutan saat melihat laki-laki tinggi besar itu.

Laki-laki itu memang pantas ditakuti. Dia bertubuh tinggi dan lumayan kekar, pakaiannya tidak rapi, dia juga memakai kalung dengan bandul berbentuk kunci yang terlalu feminin jika dibandingkan dengan wajahnya yang garang, dan di tangannya dia membawa botol minuman keras. Tentu saja dia juga terlihat mabuk. Dari aroma tubuhnya, Jeno yakin laki-laki itu pasti sudah minum berbotol-botol.

"Anda siapa?" tanya Jeno yang langsung diabaikan oleh laki-laki itu. Dia hanya menatap tajam ke arah Jisung.

"Apa kau yang namanya Park Jisung?" tanya laki-laki itu pada Jisung.

Jisung melirik Jeno yang ada di sampingnya sekilas, lalu mengangguk ragu. "Ya, aku Park Jisung. Anda siapa?"

"Ternyata benar kau anak si jalang itu!" Laki-laki itu tertawa tidak jelas.

Jeno mengangkat alis, terkejut mendengar laki-laki itu mengumpat di depan anak SMA. Dan yang membuat Jeno makin terkejut adalah kenyataan laki-laki itu mengetahui nama Jisung.

"Wajahmu sangat mirip dengan si jalang itu," kata laki-laki itu lagi sambil menunduk, mengamati wajah Jisung. "Kenapa kau tidak mirip denganku? Ah, kau pasti anak selingkuhan si jalang itu! Si jalang itu memang suka sekali berselingkuh!"

"Anda siapa?" tanya Jeno yang lagi-lagi diabaikan.

"Anak sialan!" seru laki-laki itu, geram. "Kau bahkan tidak mengenali ayahmu sendiri, hah?"

Ayah? Jeno benar-benar terkejut mendengarnya, ia melirik Jisung yang tampak sama bingungnya. "Dia ayahmu? Bukankah seharusnya dia ada di penjara?" tanyanya tidak percaya.

"Aku … aku tidak tahu," jawab Jisung ketakutan.

"Aku adalah ayahmu, anak sialan!" Laki-laki itu mengangkat tangannya dan bersiap memukul Jisung, beruntung Jeno sempat menahan tangannya dan Jisung tiba-tiba tersungkur ke tanah sambil menatap laki-laki itu ketakutan.

"Kau baik-baik saja?" tanya Jeno pada Jisung.

Jisung tidak menjawab dan hanya menggeleng. Tubuhnya mulai gemetaran.

"Akan kubunuh kau, anak sialan!" Laki-laki itu menghempaskan tangan Jeno dan mengangkat botol minumannya ke udara.

Melihat laki-laki itu benar-benar akan menghantam Jisung dengan botol di tangannya, Jeno langsung merunduk, melindungi Jisung. Bahunya terkena hantaman botol yang langsung pecah itu, tapi Jeno masih punya kekuatan untuk berbalik dan menendang laki-laki itu hingga terjungkal ke belakang.

"Ayo, cepat lari!" Jeno menarik tangan Jisung dan berlari sejauh mungkin dari sana.

Setelah cukup jauh berlari dan yakin laki-laki itu tidak mengejar mereka, Jeno duduk di tanah sambil mengatur napasnya yang terengah-engah.

"Kau baik-baik saja?" Jeno mendongak, menatap Jisung yang juga terengah-engah.

"Aku baik-baik saja. Tapi, seharusnya aku yang bertanya begitu. Kau baik-baik saja?" tanya Jisung cemas.

"Tentu saja!" jawab Jeno sambil tersenyum hingga matanya melengkung.

"Bahumu berdarah!" seru Jisung sambil menunjuk bahu Jeno. Ada darah merembes dari seragamnya.

"Hah?" Jeno menyentuh bahu kirinya yang memang agak berdenyut sakit, lalu ia melihat telapak tangannya yang berlumuran darah. Sebenarnya Jeno sempat kaget dan panik, ia takut melihat darah. Tapi kemudian Jeno kembali tersenyum agar Jisung tidak panik. Jeno tidak mau membuatnya cemas.

"Pasti sakit sekali," kata Jisung dengan raut wajah cemas luar biasa. "Kita harus ke rumah sakit sekarang!"

"Aku tidak apa-apa." Jeno berdiri dan mengacak rambut Jisung. "Hei, anak laki-laki memang begini. Terluka dan berdarah itu hal biasa."

"Iya aku tahu, tapi kau harus tetap ke rumah sakit," desak Jisung.

"Baiklah, baiklah, kita ke rumah sakit," kata Jeno sambil meringis saat lukanya makin berdenyut sakit. "Kau puas sekarang?" tanyanya sambil berusaha tersenyum.

"Maaf, kau jadi terluka gara-gara aku," kata Jisung menyesal.

"Hei, sudahlah. Lagi pula, laki-laki yang punya bekas luka itu keren." Lagi-lagi Jeno tersenyum untuk menghibur Jisung, tapi sepertinya Jisung tidak terhibur dengan senyum Jeno yang terlihat seperti meringis menahan sakit itu. "Sudahlah, aku tidak apa-apa."

"Seharusnya kau tidak perlu sampai berbuat seperti tadi." Jisung masih saja merasa bersalah pada Jeno. "Aku bukan siapa-siapamu."

"Hei, Park Jisung! Berhenti bicara omong kosong dan cari taksi, kita harus ke rumah sakit, bukan?" Jeno menghentikan ocehan melantur Jisung. "Dan lagi, apa maksudmu? Kau itu adikku! Ayah dan pamanmu menyuruhku untuk menjagamu!"

"Tapi …" Jisung tiba-tiba terlihat seperti akan menangis.

"Ah, sudah hentikan!" Jeno mengibaskan tangannya. "Itu ada taksi datang."

Mereka naik ke taksi, menuju rumah sakit terdekat. Saat mobil baru melaju, Jisung tiba-tiba terisak dan mulai menangis. Jeno tentu saja kaget dan langsung panik. Apalagi saat sopir taksi melihat ke arah Jeno dari kaca spion, membuatnya terlihat seperti seseorang yang baru membuat Jisung menangis.

"Kenapa kau menangis?" tanya Jeno panik. Ini pertama kalinya ia melihat Jisung menangis.

"Maafkan aku, Jeno hyung," isak Jisung makin keras.

"Sudah, sudah, tidak apa-apa." Jeno menghapus air mata Jisung, lalu menepuk-nepuk bahunya. "Berhenti menangis, hm? Aku tidak apa-apa."

Dan sepanjang perjalanan, Jeno sibuk menenangkan Jisung yang mulai menangis tanpa sebab yang jelas.


.·:*¨¨* ≈≈ *¨¨*:·.


"Seonsaengnim, tolong jahit dengan rapi," kata Jeno pada dokter yang akan menjahit lukanya. "Adikku ini tidak akan senang jika jahitannya tidak rapi."

Dokter yang sedang menyuntikkan bius lokal di bahu Jeno itu tertawa pelan. "Wah, sepertinya adikmu sangat menyayangi kakaknya. Dia sampai menangis," katanya sambil melirik Jisung yang memang sedang menangis tersedu-sedu hingga hidung dan bibirnya merona merah.

"Semua ini gara-gara aku," isak Jisung makin keras. "Dia terluka karena aku."

"Jisung! Kalau kau terus menangis, orang akan mengira kau yang terluka dan bukannya aku." Jeno mencoba menghentikan tangis Jisung, tapi sepertinya gagal. Jisung malah makin tersedu-sedu, membuat orang-orang yang ada di ruang unit gawat darurat menengok ke arah mereka.

"Tapi kau memang terluka karena aku," isak Jisung lagi. Hal itu membuat dokter dan beberapa perawat di sana tertawa gemas melihat Jisung.

"Park Jisung! Kau membuatku malu!" bisik Jeno sambil menutupi wajahnya dengan sebelah tangan. "Berhenti menangis!"

"Lee Jeno!"

Belum reda tangisan Jisung, tiba-tiba Jeno mendengar suara ayahnya. Donghae berlari menghampiri Jeno, ada Hyukjae di belakangnya yang terlihat sama paniknya. Hyukjae langsung menghampiri Jisung yang masih menangis, lalu menanyakan keadaannya sambil memeluknya. Sementara Donghae menatap Jeno dengan cemas.

"Kau baik-baik saja?" tanya Donghae pada Jeno.

"Hanya luka kecil, aku baik-baik saja," jawab Jeno dengan tenang. "Kenapa ayah tahu aku ada di sini?"

"Jisung mengirim pesan ke pamannya, lalu ayah dan dia buru-buru kemari." Donghae kemudian melirik Jisung yang masih sesenggukan. "Kenapa kau menangis? Kau terluka juga?" tanyanya cemas.

"Jisung menangisi lukaku, ayah." Jeno mengikik geli sambil menatap Jisung.

"Dan kau tidak menangis?" Donghae mengalihkan lagi pandangannya pada Jeno. "Wah, kau sudah besar sekarang. Dulu kau akan menangis meraung-raung meskipun lukanya hanya sedikit. Bahkan sampai memaksa nenekmu untuk membawamu ke rumah sakit. Padahal kau hanya tergores sedikit saat jatuh dari sepeda."

"Ayah!" seru Jeno malu, karena ayahnya menceritakan masa kecilnya yang memalukan. "Jangan membahasnya di sini!"

"Maafkan aku, Daepyonim." Jisung membungkuk berkali-kali sambil tetap sesenggukan. "Semua salahku. Maafkan aku."

Donghae mengelus kepala Jisung dan tersenyum, berusaha menenangkannya. "Tidak apa-apa, Jisung. Sudahlah, hmm? Jangan menangis lagi. Jeno tidak akan mati karena luka sekecil itu."

"Ayah!" seru Jeno lagi saat mendengar kata mati dari mulut ayahnya.

"Apa? Kenapa?" tanya Donghae. "Kan benar, kau tidak akan mati hanya karena luka sekecil itu."

"Maaf, Daepyonim." Kali ini Hyukjae yang membungkuk dan minta maaf. Donghae menghela napas melihatnya.

"Sudahlah, tidak apa-apa. Jangan minta maaf terus," katanya sambil menegakkan tubuh Hyukjae. "Bukan masalah besar. Lagi pula, anak laki-laki akan terlihat gagah jika punya bekas luka. Benar 'kan?" tanya Donghae sambil melirik Jeno dan anak itu mengangguk setuju sambil mengajak ayahnya melakukan high five.


.·:*¨¨* ≈≈ *¨¨*:·.


Setelah Jeno mendapatkan perawatan di unit gawat darurat, Donghae mengantar Hyukjae dan Jisung pulang. Ini pertama kalinya Donghae mengunjungi rumah Hyukjae, begitu pula dengan Jeno. Mereka berempat kini sedang berbincang-bincang di ruangan yang berbeda. Jeno dan Jisung ada di kamar, sementara Donghae dan Hyukjae membicarakan soal kejadian yang menimpa Jisung di ruang tengah.

"Bukankah laki-laki itu seharusnya di penjara?" tanya Donghae heran.

Hyukjae sendiri tidak tahu dan cukup terkejut saat mendengar cerita dari Jeno dan Jisung soal laki-laki yang mengaku ayahnya Jisung itu. "Aku sendiri tidak tahu," jawabnya sambil menggeleng lemah.

"Oh," sahut Donghae pelan.

Tiba-tiba hening ketika Donghae berhenti mengajukan pertanyaan dan Hyukjae tidak punya sesuatu untuk dikatakan. Ini pertama kalinya mereka bicara lagi setelah kejadian di kantor waktu itu. Donghae tiba-tiba merasa menyesal. Jika seandainya waktu itu Donghae tidak gegabah mengungkapkan isi hatinya, mereka pasti tidak akan terjebak disituasi canggung seperti sekarang. Donghae merindukan saat-saat mengobrol akrab dengan Hyukjae. Rindu pada saat-saat mereka saling mencurahkan isi hati masing-masing. Yang paling penting dari semua itu, Donghae merindukan senyum Hyukjae yang akhir-akhir ini tidak pernah kelihatan.

"Apa kau dan Jisung akan baik-baik saja?" tanya Donghae setelah hening selama beberapa saat. "Kau mungkin harus melaporkan hal ini pada polisi."

"Hmm, mungkin," jawab Hyukjae tidak yakin. "Aku akan mengurus soal itu nanti."

"Laki-laki itu bisa saja mencarimu dan Jisung ke sini." Donghae menatap Hyukjae cemas, takut sesuatu yang buruk menimpanya.

"Apartemen ini dilengkapi petugas keamanan dan CCTV, kau tidak perlu khawatir."

"Jika terjadi sesuatu, kau harus meneleponku," kata Donghae yang masih terlihat cemas. Apa lagi, jika mengingat betapa kejamnya mantan kakak ipar Hyukjae. Laki-laki itu bisa saja melakukan hal buruk pada Hyukjae dan Jisung.

Hyukjae mengangguk lesu. "Aku tahu, Daepyonim. Terima kasih," gumamnya.

"Sudah terlalu malam, aku harus pulang sekarang." Donghae bangun dari sofa, tapi matanya masih menatap Hyukjae yang sedang duduk di sofa dan menunduk.

Jika saja Donghae punya alasan yang cukup kuat, mungkin ia akan menginap di sini atau membawa Hyukjae dan Jisung ke rumahnya. Tapi Donghae mengenal Hyukjae dengan cukup baik, dia pasti akan menolaknya. Hyukjae tidak pernah suka merepotkan orang lain, atau membebani orang lain dengan masalahnya.

"Jaga dirimu baik-baik," kata Donghae lagi.

"Aku tahu."

Donghae berjalan meninggalkan ruang tengah dan memanggil Jeno yang ada di kamar Jisung. Sebelum benar-benar pergi, Donghae menatap Hyukjae sekali lagi dan menepuk bahunya. "Pastikan kau meneleponku jika terjadi sesuatu," katanya memastikan. Dan Hyukjae hanya mengangguk.

"Kau juga," bisik Jeno pada Jisung.

"Apa?" tanya Jisung tidak mengerti.

"Kau harus meneleponku jika sesuatu terjadi," jawab Jeno sambil tersenyum. Jisung pun mengangguk mengerti.

Setelah merasa cukup yakin Hyukjae akan baik-baik saja, Donghae meninggalkan apartemen Hyukjae bersama Jeno. Sepanjang jalan menuju basement, Donghae berkali-kali menghela napas. Membuat Jeno menoleh ke arahnya dan menatapnya heran. Tapi Jeno tidak berani bertanya dan hanya memandangi ayahnya yang terlihat risau.

"Sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Donghae pada Jeno saat di mobil. "Kenapa Jisung bisa diserang dan kau terluka?"

Jeno menghela napas sambil menatap Donghae. "Aku sendiri tidak begitu paham. Tapi yang jelas, laki-laki itu memang mengaku ayahnya Jisung. Sebelum menghantam Jisung dan membuatku terluka, dia mengatakan sesuatu."

"Apa itu?" tanya Donghae penasaran.

"Dia bilang, Jisung mirip dengan jalang itu," jawab Jeno polos.

Donghae menoleh ke arah Jeno dan melotot. "Lee Jeno! Kau mengumpat?"

"Bukan aku, ayah!" seru Jeno mengelak. "Tapi laki-laki itu yang bilang begitu pada Jisung."

"Lalu, dia bilang apa lagi?" tanya Donghae lagi.

"Hmm, apa ya?" Jeno tampak mengingat-ingat sebelum menjawab. "Oh, dia juga mengatakan sesuatu tentang wajah Jisung. Laki-laki itu bilang, Jisung tidak mirip dengannya. Lalu dia kembali mengumpat, bilang bahwa Jisung adalah anak selingkuhan si jalang itu."

"Lee Jeno!"

"Bukan aku yang bilang begitu, ayah!"

"Lalu, apa kau ingat ciri-ciri laki-laki itu?" tanya Donghae. "Ayah akan membuat laporan pada polisi."

"Hmm, dia tinggi besar dan lumayan kekar." Jeno memegang dagunya sambil mengingat-ingat lagi penampilan laki-laki itu. "Kelihatan sangat mabuk dan dia juga memakai kalung perempuan. Wajahnya terlihat jahat dan bengis, seperti buronan yang selalu diberitakan di televisi. Seperti itulah kira-kira."

Donghae tersenyum melihat ekspresi anaknya, lalu ia mengelus kepala Jeno. "Kau membuat ayah bangga lagi hari ini."

"Aku memang selalu begitu," balas Jeno bangga.

"Cih, dari mana kau dapat sifat sombong seperti itu?" Donghae tertawa pelan sambil mengacak gemas rambut hitam Jeno yang mulai panjang dibagian depan.

"Tentu saja dari ayah!" Jeno menyingkirkan tangan Donghae dan merapikan kembali rambutnya. "Jangan mengacak-acak rambutku, ayah! Dan lihat ke depan jika tidak mau kecelakaan!"

Donghae kembali memegang kemudi dengan kedua tangannya, lalu melihat ke depan dan memerhatikan jalanan yang lumayan lengang malam ini. "Rambutmu mulai panjang," gumamnya.

"Aku akan memotongnya akhir pekan nanti."

"Mau ayah temani?" tanya Donghae yang tentu saja ditolak Jeno mentah-mentah.

"Aku sudah besar! Tidak perlu ditemani ke salon."

"Dulu kau tidak mau ke salon jika tidak dengan ayah," gumam Donghae sambil mengenang saat Jeno masih kecil dan hampir setiap hari berada dalam pangkuannya. "Kau dulu benar-benar anak ayah yang manja."

"Sekarang aku sudah besar dan tidak manja lagi." Jeno menyahut. "Jadi, sekarang ayah bisa mencemaskan orang lain. Orang yang ayah suka."

Orang yang aku suka …

Donghae melirik Jeno sekilas, lalu kembali menatap jalanan di depannya. Tiba-tiba saja Donghae kembali teringat pada Hyukjae dan mencemaskannya lagi. Apakah Hyukjae akan baik-baik saja? Mungkin seharusnya tadi Donghae memaksa Hyukjae dan Jisung untuk tinggal sementara waktu di rumahnya. Setidaknya sampai benar-benar yakin, laki-laki yang menyerang Jisung tidak akan datang lagi dan membuat kekacauan. Dan untuk kesekian kalinya, Hyukjae membuat Donghae tidak bisa tidur dengan nyenyak.


.·:*¨¨* ≈≈ *¨¨*:·.


Pagi ini Jeno menunggu Jisung bersama Jaemin di depan gerbang. Setelah kejadian kemarin, sepertinya laki-laki itu akan datang lagi mencari Jisung. Dan takutnya laki-laki itu akan kembali menyerang Jisung. Melihat reaksi Jisung kemarin, dia pasti sangat ketakutan dan mungkin sedikit teringat pada masa kecilnya.

"Jadi, sebenarnya kenapa Jisung bisa diserang?" tanya Jaemin yang entah ke berapa kalinya.

Semalam, Jeno menelepon Jaemin dan menceritakan kejadian yang menimpanya. Jadi pagi ini Jaemin begitu heboh dan panik saat tahu Jeno terluka dibagian bahu. Untuk sementara sampai jahitannya kering, Jeno tidak bisa main basket atau melakukan olah raga yang menggunakan lengannya.

"Sudah aku bilang, alasannya tidak jelas," jawab Jeno bohong. Tidak mungkin Jeno menceritakan masalah pribadi Jisung pada Jaemin.

"Ah, dunia makin kejam saja." Jaemin menghela napas panjang sambil menatap Jeno dan berdecak-decak. "Lain kali, kau harus lebih hati-hati."

Jeno menoleh dan menatap Jaemin, lalu tersenyum sambil mengusap kepalanya. "Aku tahu, Na Jaemin."

Dan entah untuk alasan apa, Jaemin merasa wajahnya memanas.

"Oh, itu Jisung!" seru Jaemin saat melihat Jisung turun dari mobil pamannya dan berjalan ke arah mereka. "Dia terlihat tidak sehat dan kurang tidur."

Tentu hanya Jeno yang tahu alasannya mengapa Jisung begitu. Pasti Jisung tidak tidur karena ketakutan. Dan mungkin saja Jisung menangis lagi tanpa sepengetahuan Jeno. Dibalik sikap dinginnya, ternyata Jisung tetap remaja biasa yang bisa menangis juga.

"Kau tidak tidur dengan nyenyak, ya?" tanya Jeno saat Jisung mendekat. Lalu mereka bertiga berjalan bersama menuju gedung utama sekolah.

"Mungkin karena terlalu terkejut," jawab Jisung lesu.

"Kau sudah menghubungi polisi?" tanya Jaemin kali ini.

Jisung menggeleng dan menghela napas. "Belum, pamanku yang akan mengurusnya."

"Kau harus selalu hati-hati, di dunia ini banyak sekali orang jahat," kata Jaemin meningatkan dan Jisung akhirnya tersenyum sambil mengangguk.

"Aku tahu, hyung. Terima kasih."

Sementara Jisung dan Jaemin bercakap-cakap sambil terus berjalan, Jeno tiba-tiba menghentikan langkahnya. Ada sesuatu yang janggal. Jeno merasa ada yang aneh saat melihat laki-laki yang menyerang Jisung kemarin. Tapi sesuatu yang janggal itu entah apa. Mungkinkah hanya perasaan Jeno saja?


.·:*¨¨* ≈≈ *¨¨*:·.


Begitu sampai di kantor, Donghae langsung memanggil Hyukjae ke ruangannya dan menanyakan apakah ada yang terjadi kemarin malam. Donghae baru bisa bernapas lega saat Hyukjae bilang semua aman dan tidak ada yang terjadi. Entahlah, meskipun Donghae sempat marah dan kecewa pada Hyukjae, tapi ia tidak bisa mengabaikannya begitu saja dan terus mencemaskannya. Aneh memang.

Setelah ada kejadian kemarin, Donghae jadi berpikir untuk memperbaiki hubungan mereka yang belakangan ini renggang. Akan lebih baik jika hubungan mereka kembali seperti sediakala, seperti sebelum Donghae mengungkapkan perasaannya. Donghae akan merasa lebih tenang jika mereka bisa kembali berteman seperti dulu, kembali saling mencurahkan isi hati dan tidak ada perasaan canggung. Jadi, Donghae memutuskan untuk melupakan kejadian di Pulau Jeju dan membuang perasaan pribadinya jika itu bisa membuat Hyukjae kembali bersikap seperti dulu.

"Jadwalku hari ini?" tanya Donghae pada Hyukjae yang sedang menyimpan kopi dan beberapa map di atas meja.

Hyukjae mengeluarkan ponselnya dari saku jas, lalu mulai membacakan jadwal Donghae hari ini. "Jam 10.30 presentasi mengenai proses pembangunan resort di Pulau Jeju, jam 13.30 setelah makan siang bertemu dengan Kim Beombujangnim dari perusahaan konstruksi, dan sore jam 17.30 kau ada janji bertemu dengan Presdir."

"Hanya itu?" tanya Donghae setelah Hyukjae memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku jas. "Tidak ada jadwal kencan buta yang sudah diatur ayahku?"

"Tidak ada, Daepyonim," jawab Hyukjae dengan suara pelan. Ada sesuatu yang ganjil dan mengganggu pikirannya saat Donghae bertanya begitu.

"Ah, mengenai ungkapan perasaanku padamu," kata Donghae tiba-tiba. "Aku memutuskan untuk menyingkirkan perasaanku padamu. Jadi, kau bisa mengabaikannya saja dan menganggap itu hanya candaanku saja. Oke?"

Hyukjae tidak menjawab dan malah mematung memandangi Donghae. Apa Donghae sungguh-sungguh akan menyingkirkan perasaannya? Lalu, mengapa Hyukjae merasa tidak senang dan tidak rela mendengarnya? Sesuatu di dalam dirinya seperti berdenyut sakit.

"Ah, aku mulai bosan hidup sendiri," kata Donghae lagi sambil berputar-putar di kursinya. "Mungkin jika aku punya pasangan, hidupku akan lebih menyenangkan. Sepertinya mulai sekarang aku akan rajin mengikuti kencan buta dan mencari pasangan yang serius. Lagi pula, Jeno juga tidak keberatan jika aku menikah."

Hyukjae hanya diam saja mendengar ocehan Donghae. Entahlah, Hyukjae merasa sakit hati sekarang. Ada perasaan ingin marah, tapi tidak tahu pada apa atau siapa. Hyukjae hanya merasa kesal dan gusar.

"Hyukjae …" panggil Donghae saat melihat sekretarisnya itu melamun.

"Ya?" jawab Hyukjae yang terlihat kaget.

"… kau boleh pergi. Ah, dan tolong siapkan bahan untuk presentasi siang ini."

"Ya, Daepyonim." Hyukjae membungkuk, lalu meninggalkan ruangan Donghae.

Perasaan kesal dan gusar ini, bagaimana Hyukjae harus menjelaskannya? Mengapa Hyukjae merasa ingin marah saat tahu Donghae akan menyingkirkan perasaannya? Mengapa Donghae begitu seenaknya sendiri? Hyukjae benar-benar tidak mengerti, tapi yang jelas sekarang dia merasa sangat marah.


.·:*¨¨* ≈≈ *¨¨*:·.


Seminggu berlalu begitu saja setelah pengumuman Donghae yang katanya akan menyingkirkan perasaannya pada Hyukjae. Manusia yang menurut Hyukjae plin-plan itu kini tengah sibuk kencan buta, padahal waktu itu dia sendiri yang memohon pada Hyukjae agar berhenti ikut kencan buta. Gilanya, Hyukjae mengikuti keinginan Donghae dan tidak datang ke acara kencan buta lagi. Hyukjae bahkan berhenti menemui Joo Yuri si gadis baik hati itu. Dan lalu, apa yang Hyukjae dapatkan sekarang? Hyukjae merasa sangat dikhianati. Sungguh perasaan yang tidak terduga.

Sementara Donghae sedang menikmati akhir pekannya sambil kencan buta, di sinilah Hyukjae sekarang. Di dalam kamarnya, berguling-guling tidak jelas di atas ranjang dan merasa terus-terusan gusar juga kesal. Hyukjae bahkan marah-marah tidak jelas pada setiap hal kecil.

Seperti tadi pagi, misalnya. Saat Hyukjae tidak sengaja menginjak PSP milik Jisung yang tergeletak di lantai ruang tengah. Hyukjae memarahi Jisung untuk alasan yang tidak jelas, padahal seharusnya Jisung-lah yang marah karena PSP-nya rusak. Lalu, beberapa jam yang lalu. Hyukjae juga tiba-tiba marah pada ibunya yang menelepon dan menanyakan kabar Jisung. Menyuruh sang ibu untuk menelepon Jisung langsung sambil mencak-mencak. Benar-benar aneh.

"Sebenarnya samchon kenapa?" tanya Jisung saat mendengar Hyukjae tiba-tiba berteriak dan bersumpah serapah di dalam kamar.

"Tidak bisakah kau mengetuk pintu dulu?" Hyukjae memelototi Jisung yang sedang berdiri di ambang pintu.

"Sebenarnya apa yang membuat samchon kesal?" tanya Jisung lagi sambil menghampiri Hyukjae, lalu duduk di tepian tempat tidur.

Hyukjae tidak langsung menjawab dan mendengus menatap Jisung. "Aku seperti orang gila, ya?" tanyanya yang langsung dijawab dengan anggukan oleh Jisung.

"Nyaris," jawabnya.

"Lee Donghae keparat itu, benar-benar bikin kesal!" seru Hyukjae sambil menendang-nendang udara.

"Samchon, berhenti mengumpat!" seru Jisung. "Lee Daepyonim adalah atasanmu!"

"Lee Donghae idiot itu seenaknya saja mengungkapkan perasaannya dan membuatku bingung." Hyukjae mengabaikan Jisung dan bersumpah serapah lagi mengutuk Donghae. "Lalu tiba-tiba, si idiot itu berubah pikiran dan ingin menyingkirkan perasaannya. Lalu tiba-tiba lagi, dia ikut kencan buta dan itu membuatku kesal! Dasar keparat!"

"Bukankah itu artinya samchon cemburu?" tanya Jisung setelah Hyukjae selesai mencurahkan isi hatinya.

"Apa?"

"Samchon cemburu," ulang Jisung.

Butuh beberapa detik bagi Hyukjae untuk mencerna kata-kata Jisung. Cemburu? Benarkah sekarang Hyukjae cemburu pada Donghae? Jika Hyukjae cemburu, bukankah itu artinya dia memiliki perasaan khusus pada Donghae?

"Daripada samchon di sini dan terus merasa kesal, bukankah lebih baik menyusulnya dan mengacaukan kencan butanya?" Jisung memberi usul yang seharusnya tidak Hyukjae lakukan, tapi sepertinya dia setuju dengan usul gila keponakannya itu.

"Haruskah?" tanya Hyukjae sedikit tidak yakin.

Jisung mengangguk yakin. "Datang dan langsung seret daepyonim keluar dari restoran atau kafe tempatnya kencan. Setelah itu, samchon lampiaskan rasa kesalmu padanya."

Hyukjae mendengus, lalu menendang Jisung hingga anak itu terjungkal ke lantai. "Bukankah itu sangat memalukan?!" bentaknya.

"Aduh, sakit!" Jisung mengaduh sambil mengusap bokongnya, lalu kembali naik ke atas tempat tidur Hyukjae. "Laki-laki harus melakukannya dengan tegas, samchon!"

Hyukjae tampak berpikir serius, menimbang-nimbang, hingga akhirnya ia menatap Jisung dan mengangguk. "Baiklah, kita lakukan seperti caramu."

"Semangat, samchon!"


.·:*¨¨* ≈≈ *¨¨*:·.


Mudah bagi Hyukjae untuk menemukan di mana Donghae sekarang, karena dirinyalah yang memegang seluruh jadwal kegiatan Donghae. Dimulai dari jadwal di kantor, hingga jadwal urusan pribadi. Seharusnya Hyukjae tidak melakukan ini, tapi bagaimanapun ia harus mengusir rasa gusar di hatinya, dan mungkin ini adalah satu-satunya cara. Hyukjae harus mendatangi Donghae dan melampiaskan rasa kesalnya pada orang yang tepat. Pada orang yang membuatnya kesal.

Begitu sampai di restoran tempat Donghae kencan buta, Hyukjae langsung dengan mudah menemukan sosoknya. Seperti kebiasaannya, Donghae suka duduk di pojok dekat jendela. Setelah menarik napas dan mengembuskannya perlahan, Hyukjae melangkah penuh percaya diri menghampiri Donghae.

"Oh, Hyukjae?" tanya Donghae saat melihat Hyukjae menghampirinya.

Hyukjae tampak tidak tertarik membalas sapaan Donghae dan langsung menatap gadis yang ada di hadapan Donghae. "Seo Jihye-ssi?"

"Ya, itu aku," jawab gadis berambut panjang itu sambil menunduk sebagai ganti membungkuk.

"Aku ada perlu dengan atasanku. Sangat mendesak," kata Hyukjae memberi tahu tanpa basa-basi. "Jika kau tidak membawa mobil, aku menyuruh taksi yang tadi aku tumpangi untuk menunggu."

Tanpa menunggu jawaban dari gadis yang tampak kebingungan itu, Hyukjae langsung menarik lengan Donghae dan menyeretnya keluar dari restoran.

"Hei, apa yang kau lakukan?" tanya Donghae saat Hyukjae memaksanya masuk ke mobil dan duduk di kursi penumpang.

Tidak ada jawaban, Hyukjae mengulurkan tangannya, meminta Donghae menyerahkan kunci mobilnya. Setelah Donghae memberikannya, Hyukjae langsung menyalakan mesin mobil dan melaju meninggalkan tempat itu.

"Mau ke mana kita?" tanya Donghae lagi, tapi lagi-lagi Hyukjae tidak menjawab. "Kau sudah gila, ya? Lee Hyukjae, jawab aku!"

Tidak peduli berapa kali Donghae bertanya dan mendesaknya untuk menghentikan mobil, Hyukjae tidak mendengarkannya dan terus melaju. Hyukjae menghentikan mobil di dekat Sungai Han, lalu menatap Donghae yang tampak bingung dan kini mulai ketakutan karena ditatap dengan tajam.

"Sebenarnya ada apa?" tanya Donghae dengan suara pelan.

"Kau ingin kencan buta 'kan?" tanya Hyukjae sambil terus menatap Donghae.

"Ya, tentu saja. Aku …"

"Lakukan denganku!" sela Hyukjae sebelum Donghae menyelesaikan jawabannya.

"H-hei, apa-apaan ini?" tanya Donghae makin bingung dan tidak mengerti.

"Namaku Lee Hyukjae, tahun ini 36 tahun, masih lajang, dan belum pernah menikah." Hyukjae menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya sekaligus, sebelum melanjutkan kata-katanya. "Aku mengurus seorang keponakan yang sudah remaja, jika mau kencan denganku berarti kau harus menerima kondisiku yang seperti ini. Aku tidak pilih-pilih makanan, tapi ada beberapa makanan yang tidak aku sukai. Aku suka sesuatu yang manis, dan aku tidak suka melakukan event saat berkencan. Aku suka hubungan yang sederhana dan mengalir apa adanya. Aku juga tidak suka pasangan yang terlalu mengekang atau terlalu banyak aturan. Apa cukup jelas?"

Donghae hanya bisa melongo, menatap takjub Hyukjae yang memperkenalkan dirinya serinci itu dalam satu tarikan napas. Sepertinya Hyukjae memang sudah ahli mengenai kencan buta.

"Sekarang kau harus mengatakan sesuatu tentang dirimu," kata Hyukjae sambil mengetuk-ngetuk dashboard, memanggil kesadaran Donghae.

"Oh … hmm. Aku … aku Lee Donghae, tahun ini 36 tahun, masih lajang, dan belum pernah menikah. Hmm, tapi aku sudah punya anak dan dia sudah remaja." Donghae melakukannya sama seperti Hyukjae barusan.

"Kita memiliki kondisi yang sama," sela Hyukjae. "Kalau kau tidak keberatan dengan kondisiku, maka kita bisa melakukan pertemuan selanjutnya dan mulai berkencan dengan resmi."

"Apa?" Donghae membelalakkan matanya, benar-benar kaget mendengar ucapan Hyukjae.

"Besok kita bertemu lagi di sini, di jam yang sama." Hyukjae mengabaikan pertanyaan Donghae. "Sekarang aku harus kembali ke rumah. Bosku sangat rewel dan menyebalkan, dia melarangku untuk ikut kencan buta. Jika dia tahu, aku akan dimarahi olehnya."

Hei, hei, bos yang dimaksud Hyukjae itu Donghae 'kan? Yang katanya rewel dan menyebalkan itu? Jadi, seperti itukah Donghae di mata Hyukjae? Well, sepertinya Donghae memang begitu, mengingat sikapnya beberapa waktu lalu pada Hyukjae.

"Biarkan aku menemui bosmu yang rewel dan menyebalkan itu," kata Donghae pura-pura marah. "Akan aku hajar dia agar sadar! Bos macam apa dia itu, marah-marah hanya karena karyawannya pergi kencan buta. Apalagi teman kencan butanya tampan begini."

"Dasar gila," kata Hyukjae sambil mengulum bibirnya, menahan senyum.

"Benar, sepertinya bosmu itu memang gila," balas Donghae. "Beraninya dia memarahi karyawannya yang manis ini."

Dan akhirnya Hyukjae tidak tahan untuk tersenyum lebar. Ucapan Donghae terdengar menggelikan, tapi juga membuat perasaan Hyukjae senang. "Kau harus memastikan menghajarnya sampai dia sadar," katanya sambil tertawa geli. Membayangkan Donghae menghajar dirinya sendiri.

Akhirnya Donghae berhasil membuat Hyukjae tersenyum dan tertawa. Sejak tadi Hyukjae hanya memasang tampang gusar dan tidak senang saat menatap Donghae. Melihat Hyukjae kembali tersenyum, Donghae mulai tertawa pelan. Ini adalah pemandangan yang selalu ingin Donghae lihat. Pemandangan yang sangat Donghae rindukan. Melihat Hyukjae tersenyum dan tertawa di hadapannya.

"Aku merindukanmu," kata Donghae yang langsung menghentikan tawa Hyukjae. "Merindukanmu yang tersenyum seperti itu di hadapanku."

"Dan aku juga merindukanmu yang menatapku dengan sorot mata sehangat itu," balas Hyukjae. "Sangat merindukannya, hingga tanpa kusadari, aku mulai menggila."


。・:*:・゚ ,。・:*:・。D&E。・:*:・゚ ,。・:*:・。


With Love,

Milkyta Lee