FROM YESTERDAY
EXO Novel
By: Boomiee92
ChanKai
Halo ini chapter sembilan selamat membaca dan maaf atas segala kesalahan, happy reading all….
Previous
Tiba-tiba layar ponselnya menyala dibarengi getaran, sesuatu yang normal tapi salahkan Chanyeol yang sedang melamun sehingga hal kecil seperti itu membuatnya berjingkat kaget. "Nomor tak dikenal." Gumamnya. "Kim Jongin." Chanyeol membaca berulang kali isi pesan yang masuk. "Jongin?! Kau memiliki nomorku selama ini!" pekik Chanyeol heboh, ia melompat turun dari tempat tidur dan berlari menuju balkon.
Pintu dan jendela Jongin tertutup rapat, jangan lupakan tirainya juga membuat Chanyeol tak bisa melihat apapun. Namun, hal itu tak mengurangi rasa bahagia Chanyeol, ia tersenyum lebar. Tangan kanannya dengan cepat mengetik sesuatu dan mengirimkannya ke nomor Jongin. Chanyeol berbalik, berjalan pelan kembali ke kamarnya, malam ini ia akan tidur nyenyak, sangat nyenyak.
Selamat tidur mimpi indah Jongin
BAB SEMBILAN
Jongin berlari tergesa menuruni anak tangga, ia bangun kesiangan dan mungkin akan mendapat hukuman hari ini karena terlambat masuk kelas. "Aku berangkat dulu semuanya, aku makan di kantin sekolah!" pekik Jongin mencegah ibunya memasukan bekal ke dalam ransel sekolahnya.
"Kenapa mobil perusahaan tak mengantarku ke sekolah," Jongin masih sempat menggerutu padahal dirinya sedang berlari cukup kencang melintasi halaman rumahnya sekarang.
"Jongin butuh tumpangan!"
"Chanyeol, kau juga terlambat bangun?!"
"Iya."
"Kurasa meski naik motor kita tak akan sempat."
"Tak ada salahnya dicoba, cepat naik." Perintah Chanyeol, Jongin mengangguk cepat ia naik ke atas boncengan motor Chanyeol kemudian memperbaiki letak topinya, memastikan topi kesayangannya tak akan terbang tertiup angin saat Chanyeol melajukan motornya cepat.
Dugaan Jongin tepat, meski Chanyeol sudah berusaha keras tetap saja mereka terlambat. Gerbang sudah tertutup. "Kita terlambat lima menit," ucap Jongin sambil melompat turun dari motor Chanyeol.
"Kalian masuk?" tanya Song ahjusi, penjaga sekolah mereka. "Kusarankan kalian pulang saja daripada dihukum." Sambung Song ahjusi.
"Kami akan tetap masuk."
"Ah baiklah kuharap hukuman kalian tak terlalu berat." Ucap Song ahjusi sambil membukakan pintu gerbang untuk kedua siswa yang terlambat itu.
"Park Chanyeol dan Kim Jongin." Guru olahraga mereka Jongkook sekaligus menjabat sebagai ketua kedisiplinan siswa, menyambut kedatangan keduanya dengan senyum lebar.
"Selamat pagi Sogsaenim." Ucap Jongin dan Chanyeol hampir bersamaan tak lupa membungkukan badan mereka kecuali Chanyeol karena dia harus menahan beban motor balapnya.
"Chanyeol parkirkan motormu dulu aku tunggu di sini."
"Baik Songsaenim."
Jongin menatap kepergian Chanyeol dengan tak rela, ia salah tingkah menghadapi pandangan guru olahraganya seorang diri. "Kita tunggu Chanyeol dulu, baru membicarakan hukuman kalian."
"Baik Songsaenim." Jawab Jongin kini dapat ia rasakan keringat dingin mulai membasahi dan mengaliri punggungnya yang tertutup kemeja serta jas sekolah.
Suara derap langkah kaki mengalihkan perhatian Jongin, ia menoleh dan melihat Chanyeol berlari sedikit tergesa menghampirinya. Chanyeol berdiri di sampingnya, terlalu dekat hingga membuat lengan keduanya bersinggungan.
"Jadi kenapa kalian terlambat? Karena jadwal yang terlalu padat?" Chanyeol dan Jongin tak bersuara, keduanya hanya mengangguk pelan kemudian menundukan kepala. "Baiklah karena ini pelanggaran pertama kalian, Bapak harap tak akan terulang lagi di masa depan meski kalian terkenal tolong jangan lupakan pendidikan. Sayangnya, Bapak harus bersikap adil meski kalian terkenal jadi sebagai hukumannya, kalian berdiri di halaman sekolah selama setengah jam."
"Baik Songsaenim." Ucap keduanya jujur hukuman ini terasa berat, Chanyeol kurang tidur dan Jongin melewatkan sarapan.
"Bapak akan kembali setelah setengah jam."
"Haaah…," Jongin menghembuskan napas berat, ia mulai berjalan pelan menyeret kedua kakinya mencari bagian halaman sekolah yang dirasa cocok untuk menjalankan hukuman. "Kita tidak boleh berteduh kan?"
"Kurasa tidak boleh."
"Kalau begitu di tengah lapangan basket saja." Chanyeol hanya mengangguk menyetujui usulan Jongin.
Mungkin baru beberapa menit hukuman dijalankan, Chanyeol sudah merasa kebas ia melirik Jongin anak itu memasang tampang tidak relanya. "Kita boleh berbicara kok." Ucap Chanyeol.
"Mau membicarakan apa?"
"Terimakasih sudah memberiku nomor telponmu."
"Ah itu.., tak masalah."
"Kau masih menyimpan nomorku, padahal sudah sangat lama."
"Kau tak mengganti nomormu?"
"Merepotkan."
"Berarti kau masih memakai ID kakekmu?"
"Begitulah." Balas Chanyeol diselingi dengan senyuman lebar, Jongin tak mengerti bagian mana yang harus dibanggakan memiliki nomor ponsel dengan ID kakekmu. "Hmmm, aku mengirim pesan untukmu apa kau sudah membacanya?"
"Ah itu, aku belum memeriksa ponselku pagi ini dan aku lupa membawa ponselku juga. Apa pesannya penting?"
"Tidak, tidak penting tak usah dipikirkan."
"Hmmm, kalau tidak salah kita akan bekerjasama kan?"
"Ya."
"Kau sudah pernah bekerja dengan Sehun kan?"
"Iya, kenapa Jongin?"
Jongin menggigit bibir bawahnya pelan. "Hmmm, Sehun itu orang yang seperti apa? Apa dia jahat pada juniornya?"
"Dia pendiam, hanya itu yang kutahu dan juga tertutup. Dia jarang berbicara dengan orang lain kecuali menejer dan Suho. Kau mencemaskan sesuatu?"
"Aku hanya takut ditindas."
Chanyeol tertawa pelan. "Tidak perlu mencemaskan hal itu, semua akan baik-baik saja."
"Kau yakin?"
"Aku yakin, firasatku jarang meleset kau sudah membuktikannya kan?" Jongin hanya tersenyum menjawab pertanyaan dari Chanyeol. "Dan Jongin aku sudah melihat foto debutmu, itu sangat menakjubkan bahkan dulu fotoku tak sebagus itu juga fotomu untuk iklan make up itu." Chanyeol menoleh menatap Jongin dengan kedua mata bulat yang tampak tulus. "Kau memiliki bakat alam untuk menjadi seorang model."
"Terimakasih." Ucap Jongin cepat, sambil memalingkan wajahnya karena entah kenapa wajahnya terasa hangat sekarang. Mungkin itu efek dari sinar matahari. "Beruntung sekarang di ujung musim panas."
"Kenapa?"
"Sinar mataharinya tak menyengat, jika ini puncak musim panas bisa kau bayangkan apa yang akan terjadi pada kulitku?"
"Kulitmu bermasalah?"
Jongin hampir mendesis saat Chanyeol tak paham maksud dari candaannya. "Kulitku akan semakin gelap dan pasti membutuhkan banyak lampu agar terlihat putih."
"Aku suka dengan kulit gelap." Kedua mata Jongin menatap tak percaya pada kalimat Chanyeol sedangkan Chanyeol dia ingin sekali menarik kalimatnya, pasti Jongin menganggap dirinya semakin menjengkelkan. "Maksudku…," ucap Chanyeol mencoba memperbaiki situasi. "Semua model tak harus berkulit putih. Kurasa menjadi berbeda akan membuatmu lebih mudah untuk dikenali dan diingat."
Chanyeol menatap Jongin lekat-lekat, berharap ia akan mengatakan sesuatu nyatanya Jongin hanya bungkam. "Kau tahu mereka sering memanggilku telinga peri dan Sehun sebagi si kulit albino." Chanyeol mencoba bercanda.
"Menurutku itu tak terdengar baik, seperti menunjuk kekurangan orang lain secara terang-terangan."
"Menurutmu seperti itu?"
"Hmmm."
"Lalu kau—apa yang kau ingat dariku?"
"Seyumanmu lucu." Gumam Jongin kemudian menundukan kepalanya.
"Terimakasih," bisik Chanyeol. "Jongin."
"Hmmm?"
"Aku benar-benar meminta maaf, apa kau mau memaafkan aku?" Chanyeol melempar tatapan penuh harap, sementara Jongin terlihat ragu untuk menjawab. "Kau tak perlu menjawabnya sekarang."
"Aku akan berusaha untuk memaafkanmu."
"Terimakasih."
"Aku belum memaafkanmu masih berusaha memaafkanmu." Tegas Jongin.
"Aku tetap berterimakasih untuk itu, terimakasih Jongin." Chanyeol tersenyum lebar, Jongin mendesis dan membuang muka tak ingin menatap wajah konyol Chanyeol.
"Hukuman kalian selesai, cepat kemari!" keduanya menoleh dan melihat guru olahraga mereka Nam Jongkook berdiri di dekat ring basket dengan dua botol air mineral dingin di kedua tangan beliau.
Jongin menjadi orang pertama yang berlari menghampiri sang guru, ia terlihat sangat haus. Chanyeol tak bisa untuk menahan senyumannya saat melihat Jongin yang terlihat lucu meminum air mineral, atau itu hanya pendapat pribadinya, Chanyeol tak peduli.
.
.
.
"Bagaimana menurutmu?" Jongin hanya bisa diam. Dia tak tahu harus berkomentar apa. Mengomentari fotonya sendiri, selama ini ia bahkan jarang berfoto. "Kim Jongin." Ulang Minhyun, fotografer yang bekerja dengan dirinya hari ini.
"Hmm…, sejujurnya saya tidak terlalu paham dengan hal seperti ini." Dengan polos Jongin menunjuk layar laptop Minhyun.
"Kau puas dengan fotomu?"
Jongin terdiam, berpikir keras tentang kalimat seperti apa yang akan ia ucapkan. Tak ingin menyinggung Minhyun namun dia sendiri juga bingung harus berpendapat seperti apa. Jongin mengamati dengan seksama foto pertamanya yang diambil untuk promosi tas. Mengenakan kaos berwarna abu-abu berpotongan leher rendah, jins hitam, boot hitam, dan tas hitam, berpose duduk, membuka kedua kaki lebar-lebar, dan studio tempat pengambilan gambar yang didesain menyerupai bangunan tua terbengkalai.
"Jongin." Tunut Minhyun, Jongin ingin sekali membungkam mulut di fotografer, kenapa dia terburu-buru padahal tadi dirinya sudah jelas mengatakan jika dirinya tak memiliki pengalaman apa-apa di dunia fotografi dan model. Menjadi model adalah jalan takdir yang mengejutkan bagi kehidupan Jongin.
"Itu—terlihat berbeda, sama sekali bukan aku." Jongin tak tahu harus menjawab seperti apa, tapi memang seperti itu yang ia lihat dan sejak kapan dirinya bisa berpose menggoda sekaligus tanpa dosa dalam waktu bersamaan seperti itu.
Minhyun tertawa pelan. "Kau puas dengan hasilnya?"
"Apa pihak produk puas dengan hasilnya?"
"Aku yakin mereka akan puas." Minhyun tersenyum lebar membuat Jongin sedikit merasa lega, semoga saja apa yang Minhyun katakan benar.
"Berikutnya kita lihat fotomu untuk iklan jam tangan."
Jongin menggeram pelan fotonya yang ini sangat memalukan, begitu menurutnya karena dirinya harus berbaring di atas pasir pantai buatan, berpose sedikit menggoda dengan kaos bagian perut tersingkap menampakan otot perutnya yang lumayan terbentuk. "Hmm, pendapatku sama seperti tadi, itu sama sekali tak terlihat sepertiku."
"Jongin, waktunya untuk pulang." Kyungsoo berlari menghampiri Jongin, sejak satu minggu yang lalu Kyungsoo resmi menjadi menejernya.
"Baiklah Hyung." Ucap Jongin, ia bergegas berdir dari kursinya membungkukkan badan dengan sopan sebelum keluar meninggalkan studio bersama Kyungsoo.
"Berikutnya tinggal iklan parfum dengan Chanyeol dan Sehun."
"Bagaimana menurutmu? Apa kau gugup?"
"Lumayan, tapi mau bagaimana lagi aku sudah setuju dengan kontraknya." Kyungsoo hanya tertawa pelan mendengar jawaban polos dari Jongin. Bersama Kyungsoo, Jongin berjalan bersama meninggalkan gedung agensi.
"Hyung bisakah mobil perusahaan juga menjemputku di pagi hari. Aku sering bangun kesiangan."
"Kau dihukum?"
"Hmmm," Jongin menggantung kalimatnya, rasanya tidak enak membicarakan tentang hukuman, atau lebih tepatnya memalukan. "Aku dapat hukuman sekali, berdiri di tengah lapangan basket."
"Nanti akan kucoba bicara dengan Suho hyung, biasanya mobil perusahaan hanya mengantar sesuai jadwal pekerjaan."
"Apa sekolah bukan termasuk pekerjaan?"
Kyungsoo membulatkan kedua matanya, entah dia harus tertawa atau bagaimana Jongin terlalu polos dan naif. "Menurutku bukan, sekolah itu termasuk kewajiban."
"Aku tidak terlalu suka dengan sekolah, aku pikir setelah sukses nanti mungkin aku tak akan melanjutkan sekolahku."
"Hei!" Kyungsoo memekik pelan. "Jangan pernah berhenti sekolah, kau ini, berhenti sekolah itu tidak keren."
"Maksud Hyung?"
"Coba pikirkan mana yang lebih keren idol yang sukses karir atau idol yang sukses di karir dan pendidikan?"
"Hmmm…," Jongin menggumam tanpa sadar iapun menggiti bibir bawahnya.
"Ayo jawab." Tuntut Kyungsoo.
"Kurasa idol yang sukses di karir dan pendidikan."
"Kalau begitu kau juga harus jadi idol yang keren, sukseslah di karir dan pendidikanmu."
"Menurut Hyung seperti itu?"
"Iya, aku yakin seperti itu."
"Baiklah aku akan mencoba sukses di karir dan pendidikanku."
"Semangat Jongin!" Kyungsoo memekik sambil mengepalkan telapak tangan kanannya tak lupa mengangkat tangannya ke udara. Jongin hanya tertawa pelan. "Aku tahu siapa pemilik motor itu."
Jongin mengikuti arah pandangan Kyungsoo ke seberang jalan. Terlihat seperti motor Chanyeol, batin Jongin. "Park Chanyeol." ucap Kyungsoo tanpa diduga menyuarakan pikiran Jongin. "Apa yang dia lakukan di sini? Tak mungkin dia ingin bergabung dengan agensi ini lagi."
"Aku akan mencoba bertanya, dia teman sekolahku Hyung." Kyungsoo ingin mencegah Jongin namun Jongin berlari lebih cepat darinya, padahal Kyungsoo cemas jika ada kamera yang membidik kebersamaan Jongin dan Chanyeol lalu menyebar kabar tidak benar.
"Chanyeol apa kau ingin masuk ke agensi lagi?" Jongin bertanya tanpa basa-basi setelah dirinya menghampiri Chanyeol.
"Tidak, aku ingin menjemputmu."
"Apa?!" pekik Jongin tertahan. "Menjemputku? Untuk apa?"
"Kau sudah membaca isi pesanku?" Chanyeol justru menjawab dengan pertanyaan di luar topik.
"Iya, dan maaf aku belum sempat berterimakasih padamu. Mungkin karena pesanmu itu aku tidur terlalu nyenyak."
"Dan bangun kesiangan." Sambung Chanyeol. "Itu tak terdengar seperti ucapan terimakasih." Jongin hanya nyengir menanggapi kalimat Chanyeol. "Kau sudah lelah kan? Ayo pulang sekarang." Chanyeol tersenyum tulus sembari menyerahkan helm kepada Jongin.
"Apa ini tidak apa-apa? Maksudku jika ada kamera lalu berita kita muncul di media masa…,"
"Kenapa harus memedulikan hal-hal merepotkan seperti itu." potong Chanyeol, meski terlihat ragu pada akhirnya Jongin menerima helm darinya. "Ayo udara semakin dingin."
"Hmm." Jongin bergumam pelan, ia kenakan helm pinjaman Chanyeol dan menaiki boncengan motor Chanyeol. "Jangan terlalu cepat… Chanyeol!" Jongin berteriak karena Chanyeol tak menuruti permintaannya.
Bukannya Jongin takut dengan kecepatan motor Chanyeol, ya itu memang termasuk tapi bukan masalah utama, masalah utamanya adalah sweter hijau tua yang ia kenakan tidak begitu ampuh melindungi tubuhnya dari udara dingin. "Chanyeol dingin!" pekik Jongin, Chanyeol tak menjawab. Jongin mendesis kesal ingin sekali dia memukul helm Chanyeol tapi nanti Chanyeol kaget dan terjadi sesuatu yang buruk. Tidak, Jongin terlalu muda untuk menghadapi situasi yang buruk.
Chanyeol menghentikan motornya di depan rumah Jongin. Jongin melompat turun dari motor dan menyerahkan helmnya pada sang pemilik. "Terimakasih." Ucap Jongin cepat.
Chanyeol menerima helm Jongin meletakannya ke atas spion, dan Chanyeol sendiri juga melepaskan helm yang ia kenakan, namun ia mengernyit melihat tubuh Jongin yang sedikit bergetar. "Kau kedinginan?"
"Ya."
"Kenapa tidak memintaku memperlambat motor?"
"Aku sudah memintamu kau tidak dengar."
"Ahhh…," balas Chanyeol sambil mengangguk mengerti, Jongin semakin kesal saja dengan reaksi Chanyeol yang bisa dikatakan menyebalkan itu.
"Aku masuk dulu, sampai jumpa Chanyeol." ucap Jongin sambil melambaikan tangan kanannya pada Chanyeol. Dengan cepat Chanyeol menarik tangan kanan Jongin, menarik si pemilik mendekat kemudian memeluknya erat. "Apa—yang kau lakukan?" Jongin merutuk di dalam hati kenapa suaranya terdengar seperti berbisik sekarang.
"Tadi kau bilang kedinginan jadi aku memelukmu."
"Chanyeol…," Jongin mencoba untuk protes.
"Apa kau sudah merasa hangat?"
Jongin menggigit pelan bibir bawahnya. Hangat, tentu saja akan terasa hangat jika kau berada dalam pelukan seseorang. "Sudah." Bisik Jongin.
"Baiklah…," suara berat Chanyeol entah kenapa membuat detak jantung Jongin berdetak lebih cepat. "Selamat tidur, aku akan membangunkanmu besok pagi supaya kita berdua tidak terlambat lagi, bagaimana?"
"Apa kau bisa bangun pagi? Sepertinya kita tidak berbeda."
"Kita lihat saja besok."
"Baiklah, sampai jumpa."
"Sampai jumpa Kim Jongin," gumam Chanyeol, senyuman menghiasi wajah tampannya kala menatap punggung Jongin yang berlari melintasi halaman rumah tempat tinggalnya dan Chanyeol masih berada di tempat yang sama hingga Jongin masuk ke dalam rumah dan tak lagi terlihat olehnya.
.
.
.
Kedua mata Jongin masih sangat berat saat ponsel di atas nakasnya bergetar. Menimbulkan suara getaran dia atas meja nakas kayu yang mengganggu. "Siapa yang menelponku pagi buta seperti ini?" gerutu Jongin sementara tangan kanannya dengan liar mencari ponsel. "Dapat!" pekik Jongin setengah kesal. "Halo…," Jongin menjawab telponnya dengan mata masih terpejam.
"Jongin, cepat bangun kau tidak mau terlambat masuk sekolah kan?"
Jongin mengernyit otaknya bekerja lebih lambat. "Tidak mau terlambat sekolah." Jongin mengulangi ucapan seseorang di seberang sana. "Astaga! Kau Chanyeol kan?!"
"Iya, aku Chanyeol."
"Aku terlambat, aku terlambat!" Jongin memekik panik, ia campakan ponselnya dengan melemparnya tak peduli dimana ponsel itu mendarat. "Hari apa sekarang? Hari apa sekarang?!" Jongin kembali memekik dan bahkan kali ini ia mengacak rambutnya frustasi. "Kamis!" Jongin memekik kencang sambil menarik seragam hari Kamis dari gantungan, melemparnya ke atas tempat tidur, menyambar handuk dan masuk ke kamar mandi dengan suara pintu berdebam keras.
Lima menit kemudian Jongin sudah siap dengan semuanya, ia bergegas keluar kamar setelah lebih dulu menyambar ransel sekolahnya. DUK! DUK! Suara langkah kaki Jongin menuruni anak tangga. Dan GUBRAK! Yang ini suara Jongin yang jatuh setelah melewati anak tangga terakhir. "Jongin!" pekik nyonya Kim melihat adegan berbahaya yang dilakukan putranya.
Jongin nyengir lebar kemudian berdiri, tidak ada yang sakit hanya lumayan malu saja terjatuh dengan cara tak elit seperti tadi. "Aku baik-baik saja, maaf aku sedang tergesa-gesa Ibu, jadi aku akan makan di kantin sekolah aku berangkat dulu!" pekik Jongin bersiap untuk melarikan diri tak mau ibunya memasukan kotak bekal makanan.
"Jongin." Panggilan dari ibunya membuat Jongin berhenti melangkah.
"Ini masih jam tujuh pagi, sekolahmu masuk pukul setengah sembilan pagi kan?"
"Ah jam tujuh…," Jongin menggumam linglung kemudian tatapannya tertuju pada jam dinding.
"Tenang adikku sayang, kau masih memiliki banyak waktu untuk memperbaiki seragammu, sarapan, menggosok gigi, dan mungkin bermain game." Ucap Hyeongmin dengan nada mengejek seperti biasa.
"Aku akan pergi ke suatu tempat dulu, sampai jumpa semuanya!" pekik Jongin sambil berlari secepat mungkin meninggalkan dapur dan ruang makan sebelum salah satu anggota keluarganya menghentikan maksudnya.
Setelah berlari cukup kencang tadi, maka di sinilah Jongin berdiri di depan pintu rumah Chanyeol beruntung pagar rumah Chanyeol sudah dibuka tadi. Jongin memencent-mencet bel pintu Chanyeol dengan tidak sabar. "Cepat buka, cepat buka, cepat buka," gumam Jongin seperti rapalan mantra.
Tak lama kemudian pintu terbuka, menampakan Chanyeol dengan kemeja seragam yang belum dikancingkan dan selembar roti tawar yang menggantung di mulutnya. "Halo Jongin selamat pagi." Ucap Chanyeol ramah setelah sebelum menyingkirkan roti tawar dari mulutnya tentu saja.
"Kau hampir membuatku terkena serangan jantung Park Chanyeol! Aku bangun cepat-cepat! Mandi tergesa-gesa! Dan apa?! Ini masih sangat pagi! Kau membuat waktu tidurku berkurang!" Jongin mengeluarkan seluruh keluh kesahnya dengan berapi-api.
"Masuklah, kau pasti belum sarapan." Chanyeol membalas dengan tenang kemudian berbalik memunggungi Jongin, dan melangkah pergi. Mulut Jongin menganga ia tak percaya dengan tanggapan Chanyeol.
"Datar sekali, aku sedang berkeluh kesah." Gerutu Jongin, namun pada akhirnya iapun melangkah masuk.
"Duduklah, maaf aku mengurangi jatah tidurmu aku hanya tidak mau kita terlambat lagi dan mendapat hukuman menyebalkan lagi." Chanyeol memberi penjelasan atas tindakannya tadi pagi, sambil meraih selembar roti tawar. "Kau suka cokelat?"
"Aku bisa memakan apapun." Balas Jongin.
Chanyeol mengangguk dan mengoleskan selai cokelat pada permukaan roti tawar. Menyerahkannya pada Jongin. "Terimakasih." Ucap Jongin sopan, tapi dia menarik selembar roti tawar lagi dan menutupkannya ke atas roti tawar yang telah diolesi cokelat. Chanyeol hanya tersenyum tipis melihat tingkah Jongin.
"Sepertinya semua berjalan dengan baik."
"Hmmm?"
"Karir barumu sebagai model."
"Ah, ya, lumayanlah."
"Kau terkenal sekarang."
"Tidak juga, aku tidak mau terkenal."
"Lalu kau mau apa?"
"Jadi Jongin yang dulu tak ada perubahan."
"You can't have everything."
"Apa kau bilang? Maaf, bahasa Inggrisku jelek, sangat jelek bahkan."
"Hmmm, kau tidak bisa memiliki semua hal yang kau inginkan." Jongin hanya mengangguk pelan, sementara mulutnya sibuk mengunyah. "Setelah sarapan selesai, kita masih punya banyak waktu, apa langsung berangkat ke sekolah?"
"Berangkat saja aku mau mencoba berangkat awal."
"Jadi, kau setuju untuk berangkat bersamaku?"
"Ya, karena kau sudah mengurangi waktu tidurku jadi kau harus tanggung jawab." Chanyeol hanya tersenyum menanggapi ucapan konyol dari Jongin.
"Baiklah, karena aku ini bukan laki-laki pengecut, aku akan tanggung jawab, habiskan rotimu dan minum jus jerukmu." Chanyeol menuang isi kotak jus ke dalam gelas kemudian menyodorkannya pada Jongin.
"Terimakasih Chanyeol."
"Sama-sama."
Entah sudah berapa kali Chanyeol tersenyum pagi ini, kedatangan Jongin membuat suasana pagi hari beribu kali lebih menyenangkan, Chanyeol ingin mengucapkan selamat tinggal pada pagi yang membosankan hari ini.
.
.
.
Ketika keduanya tiba di sekolah, keadaan masih sangat sepi sekarang masih tersisa waktu kira-kira empat puluh menit hingga semua remaja berisik dan kelebihan hormon itu memenuhi sekolah. Jongin berjalan di belakang motor Chanyeol, Chanyeol menuntun motornya menuju tempat parkir sekolah.
"Jadi apa yang harus kita lakukan sekarang?" Chanyeol memutar tubuhnya menatap Jongin. Jongin hanya mengendikan bahu, Chanyeol tersenyum dan melangkah maju mendekati Jongin.
"Apa yang kau lakukan?!" pekik Jongin saat Chanyeol membuat rambutnya berantakan.
"Aku suka saat kau berponi."
"Aku terlihat seperti anak kecil jika berponi," gerutu Jongin sambil berusaha menyingkirkan poninya.
"Ikat saja ke atas."
"Aku akan terlihat seperti anak TK!" Jongin memekik kesal kemudian meninju dada kanan Chanyeol.
"Ahhhh Jongin, ini lumayan sakit." Keluh Chanyeol sambil mengusap-usap dadanya.
"Rasakan itu!" dengus Jongin, ia berbalik memunggungi Chanyeol dan berjalan cepat meninggalkan parkiran sekolah.
"Hei tunggu! Jangan marah!" teriak Chanyeol sambil mempercepat kedua langkah kakinya menyusul Jongin. "Jongin." Panggil Chanyeol sambil menahan lengan kanan Jongin, memutar tubuh Jongin hingga keduanya berdiri berhadapan.
"Apa?"
"Kau marah?"
"Tidak."
"Kau belum berterimakasih atas tumpanganku." Ucap Chanyeol kemudian disusul oleh senyuman konyolnya itu.
"Ah baiklah," desah Jongin sambil memutar kedua bola matanya jengah. "Terimakasih atas tumpangannya Chanyeol."
Chanyeol masih tersenyum lebar, Jongin berniat untuk pergi namun Chanyeol masih menahan lengan kanannya lalu saat Jongin menatap wajah Chanyeol senyum konyol itu telah menghilang. "Aku minta maaf padamu atas kejadian tak mengenakan dulu, aku serius Jongin."
"Aku ingin memaafkanmu Chanyeol, dan sejujurnya aku mungkin sudah memaafkanmu tapi kejadian itu selalu terlintas di pikiranku tanpa permisi jadi….,"
"Beri aku kesempatan untuk membutikan bahwa aku sudah berubah, aku bukan Chanyeol yang dulu." Chanyeol memotong kalimat Jongin, memandang lekat-lekat wajah manis di hadapannya yang tampak kebingungan.
Jongin tak tahu harus bagaimana, sangat sulit untuk melupakan semua kejadian buruk di masa lalu. Membuka lembaran baru? Apa itu mungkin? Tapi tak ada salahnya untuk mencoba bukan? Jongin hanya mengangguk pelan. Jongin terkejut saat Chanyeol menarik dirinya ke dalam pelukan kokohnya.
"Terimakasih Jongin," suara Chanyeol begitu pelan dan sedikit bergetar, apa ini sangat berarti untuknya? Apa pemberian maaf itu sangat berarti bagi sebagian orang? Entahlah, Jongin sama sekali tak mengerti. Jongin megangguk dalam pelukan Chanyeol. "Sepulang sekolah kau ada acara?"
"Tidak, tidak ada pemotretan kurasa jadwal kita tak banyak berbeda."
"Ya, kau benar setelah ini kita akan bekerja bersama." Jongin hanya tersenyum menanggapi ucapan Chanyeol.
"Bagaimana jika kita pergi jalan-jalan sepulang sekolah?"
"Jalan-jalan?"
"Hmm."
"Kemana?"
"Itu rahasia. Ayo kita masuk sekarang, kurasa murid-murid mulai berdatangan." Gumam Chanyeol sambil menoleh ke arah gerbang masuk sekolah. Jongin tak sempat menjawab saat Chanyeol menggenggam tangan kanannya dan mengajaknya berjalan bersama memasuki gedung sekolah.
Jongin melirik Chanyeol dari ekor matanya, ia hanya berharap semuanya akan berjalan dengan baik. Hubungannya dengan Chanyeol berjalan dengan baik dan kenangan masa lalu yang buruk itu segera berakhir. Jongin hanya ingin menikmati kehidupan sederhana yang tenang.
TBC
Terimakasih kepada semua pembaca, terimakasih untuk Baegy0408, sejin kimkai, cute, hnana, ucinaze, SparkyuELF137, KaiNieris, Athiyyah417, YooKey1314, jjong86, NisrinaHunkai99, steffifebri, kanzujacksonjk, ulfah cuittybeams. Terimakasih untuk review kalian.
