AI
Author : ShixunWu
Rate : M
Cast : ChanyeolxSehun and Others
DON'T LIKE DON'T READ
Chapter 9
Sehun meletakkan bunga baby's breath yang dibawanya untuk diletakkan dimakam kecil calon anaknya. Menghela nafas kecil, sebelum akhirnya matanya terpejam dan berfokus untuk mengirimkan doa. Anaknya, walaupun belum sempat ia tatap wajahnya, belum pernah ia sentuh tubuhnya, Sehun akan selalu mendoakan tempat terbaik baginya. Terlarut dalam hening akan doanya, tanpa sadar dirinya malah menangis, tidak berusaha menghapus tiap tetes bening yang jatuh, Sehun masih terus berdoa dalam diam.
"Uljjima…". Kelopak mata atas iris hazel itu membuka, dan yang ia dapati adalah belahan jiwanya yang menatapnya dengan iris kelam, Sehun terdiam membiarkan ibu jari Chanyeol menghapus tiap tiap air mata dipipinya yang tirus.
"Jeonha…". Chanyeol mengukir senyum diwajah tampannya, membawa Sehun kedalam dekapannya yang hangat. Tidak menolak, Sehun pun menyamankan dirinya.
"Mianhae…". Penguasa Joseon itu berucap lirih, matanya berfokus pada nisan calon penerusnya yang tak bisa melihat dunia karna dirinya.
"Bukan salah anda Jeonha". Chanyeol hanya diam, perlahan mengecup pucuk kepala Sehun.
"Sehun-ah…"
"Nne?"
"Ayo, kita buat anak yang banyak!". Sehun merona, menahan panas pipinya dengan mencubit pelan pinggang Chanyeol yang dibalas Chanyeol dengan dekapan yang mengerat dan tawa.
Para dayang seolah tak mampu menahan senyum diwajah ayu mereka. Mengikuti Raja dan Ratu yang saling mengaitkan tangan seolah memberi mereka kesenangan tersendiri. Sudah hampir dua minggu, dan segalanya seolah membaik dengan hebat. Bukan hanya para dayang, namun keseluruhan yang tinggal diistana juga merasa senang, moment ini sudah begitu lama mereka tunggu.
"Annyeonghasimnikka, Jeonha, Junjeon-mama". Selir Jung yang tanpa sengaja berpapasan memberi salam. Chanyeol membalas dengan anggukan kecil, sementara Sehun membalasnya dengan senyuman lebar.
"darimanakah kiranya anda Selir Jung?". Chanyeol melirik kearah Sehun yang melontarkan pertanyaan dengan ramah, dulu, satu satunya alasan mengapa ia mengambil Soojung sebagai selir hanya sebagai alat untuk membuat Sehun cemburu dan tersiksa, namun melihat Sehun yang begini ramah ia meyakini telah menikahi seorang malaikat.
"Saya baru saja kembali dari Tabib Kang, Junjeon".
"Apakah kau sakit?". Soojung tersenyum kecil, kemudian mengangguk pelan kearah Chanyeol.
"Nne Jeonha, beruntungnya bukan sakit yang parah".
"Baguslah kalau begitu, pergilah beristirahat selir Jung, semoga anda cepat sembuh". Sehun tersenyum ramah, membiarkan Soojung berlalu.
"sehun-ah…".
"Nne?".
"Mianhae".
"Untuk apa?". Sehun menatap Chanyeol dengan dahi mengkerut, hari ini Chanyeol bahkan sudah dua kali meminta maaf padanya.
"Untuk segalanya, untuk segala hal buruk yang pernah kulakukan padamu". Sehun tersenyum kecil, telapak tangannya ia bawa untuk menangkup wajah Chanyeol.
"Semuanya sudah dimaafkan". Senyum kecil tadi berubah menjadi senyum yang lebar, senyum yang tulus, senyum yang membuat Chanyeol berdesir dan merasa tenang. Senyum malaikat-nya.
"Gumawo, yeobo". Elusan pelan yang diberikan Chanyeol pada pipinya, membuat Sehun seolah bisa lebih bahagia lagi. Dan sekali lagi, para dayang dan pengawal tak mampu menahan senyum diwajah mereka.
{}
Chanyeol mengelus pelan punggung tangan Sehun, keduanya tengah berhadapan dengan cenayang jang. Menunggu kapan waktu yang tepat untuk melakukan penyatuan sehingga putra mahkota segera tiba. Chanyeol tau betapa tegangnya Sehun, sebab ia merasakan tangan ratunya itu berkeringat didepan cenayang jang yang tengah membaca jampi jampi.
"Mohon maaf, Jeonha. Sepertinya ritual penyatuan anda tidak dapat dilakukan dalam waktu dekat". Chanyeol tidak protes, masih menunggu cenayang jang yang ia dapati melirik kecil kerah sehun-nya.
"jeonju, kondisi beliau sedang tidak baik, saya akan meminta tabib untuk memberikan Jeonju ramuan". Cenayang Jang berucap dengan nada datar. Chanyeol berfikir sementara Sehun tertunduk diam.
"Memangnya apa yang terjadi pada Jeonju?". Cenayang Jang tampak tersenyum kecil lewat bibirnya yang mungil. Tatapannya meneduh dan menghangat dalam satu waktu.
"Sepertinya, Jeonju sedang menyiapkan suatu yang special untuk anda Jeonha, sehingga beliau mengenyampingkan kesehatannya, namun jika Jeonju berkenan, malam ini hingga lusa adalah malam yang baik untuk menghadirkan calon penerus kerajaan". Chanyeol menoleh kearah Sehun yang menunduk dalam dalam. Terus terang, sang Ratu ini sedari tadi mencoba menyembunyikan pipinya yang memerah. Ratu muda itu mengangkat kepalanya dan mengangguk pelan kearah cenayang Jang ketika Chanyeol mengajaknya untuk kembali.
{}
Di temani sang Bulan yang seolah bersinar begitu terang, Chanyeol berjalan didepan Sehun dengan kedua tangannya yang saling terkait dipunggungnya yang tegap. Sepulangnya dari istana Bulan dan mendengar ucapan cenayang Jung membuat hatinya berdebar debar dan tak hentinya mengubar senyum sejuta makna miliknya. Sementara itu Sehun dengan pasti mendekatinya, menyentuh bagian belakang Gongryonpo miliknya yang lantas membuat penguasa Joseon itu menghentikan langkahnya.
"Chanyeol-hyung…". Chanyeol menoleh, dan didapatinya Sehun mengeluarkan sesuatu dari bagian lengan Gonryongpo merah muda miliknya.
"Untuk menjagamu agar tetap hangat, Saengil chukkae, nae saranghaneun namja". Mengukir senyum tulus disertai kesan lugu, sehun melilitkan syal yang dibuatnya selama beberapa hari terakhir dileher Chanyeol. Raja Joseon itu ikut tersenyum, kemudian mencubit kecil pipi sang ratu.
"Inikah yang membuatmu meninggalkan jejak darah dikerah gonryongpo ku dua hari lalu?". Sehun tertunduk malu, kurang tidur membuatnya mengalami darah rendah dan sesekali akan membuatnya mimisan. Namun yang tak diduganya adalah mimisan yang ia kira hanya jatuh dikelopak bunga mawar putih itu juga menodai kerah gonryongpo Chanyeol yang bewarna putih.
"Mianhamnida, Jeonha". Sehun tertunduk pelan, Chanyeol membawa tubuh ringkih itu kedalam pelukannya.
"Tak perduli apapun, tolong jaga dirimu. Karna aku tak akan bisa memaafkan diriku sendiri jika sesuatu yang buruk terjadi padamu hanya karna aku, sehun-ah".
Pagutan lembut yang dibagi Chanyeol dan Sehun seolah membawa keduanya pada dunia dimana hanya ada mereka berdua. Melepas pagutan itu dengan pelan hingga membentuk benang saliva yang entah milik siapa, Chanyeol mengelus pelan rambut Sehun dengan senyum yang terus terukir diwajahnya yang tampan.
"Kau tau… kau sangat indah Sehunnie". Chanyeol mengecup dahi sang belahan jiwa, tak memungkiri bahwa ia benar sangat menginkan laki laki ini.
Membaringkan tubuh kurus Sehun dengan perlahan, Chanyeol terus membisikkan kata kata cinta ditelinga sang Ratu yang ikut tersenyum kecil ketika kata kata yang diumbar kekasihnya ini menggelitik hatinya dengan sangat.
Chanyeol membuka satu persatu pakaian yang melekat ditubuh Sehun, menatapi bagian bagian yang selama ini tak pernah ia perhatikan. Sehun-nya benar benar sangat indah, ia memiliki kulit seputih susu dengan harum anak bayi yang menyenangkan.
"Entah kegilaan apa yang membawaku begitu tega menyakiti malaikat sepertimu, Sehun-ah". Chanyeol menunduk dengan perasaan bersalah, Sehun yang menyadari ini menangkup wajah sang Raja dengan senyum diwajahnya.
"Bukankah akan lebih gila lagi, jika anda tidak menyentuhku ketika aku sudah telanjang begini?". Sejujurnya Sehun pun tidak mengerti mengapa ia mengatakan itu, namun ketika ia mendapati Chanyeol yang kembali menatapnya ia paham jika yang ia lakukan ini sudah benar.
"Mianhae, Jeonju-ya". Chanyeol tersenyum nakal, dengan perlahan menciumi wajah sang kekasih, tak melewatkan bagian manapun. Sementara Sehun hanya mampu menahan desahnya ketika lidah Chanyeol mulai turun kebagian tubuhnya.
{}
Jongin terus terusan berdiri didepan kebun sang ibu dengan matanya yang menatap lurus kesetiap pergerakan yang dilakukan oleh Kyungsoo. Dua hari lamanya ia telah melakukan ini, mencoba untuk mendapatkan perhatian Kyungsoo atas dirinya. Namun laki laki bermarga Do itu seolah menganggapnya tak terlihat.
"Tidakkah kau menyadari ada seorang pangeran tampan yang sedari dua hari lalu terus memperhatikanmu Kyungsoo-sshi?". Ucap Jongin yang lantas membuat Kyungsoo menoleh dan menabrakkan iris beningnya kearah Jongin. Kyungsoo kemudian membentuk kata kata lewat jemarinya yang jelas tidak dimengerti oleh Jongin.
"Kyungsoo bilang dia tidak ingin menganggumu karna kau terlihat begitu serius". Jongin secara refleks meletakkan tangannya didada, ketika mendapati ibunya datang tiba tiba dibelakangnya, dan lagi lagi ketika ia menatap kearah Kyungsoo hatinya kembali berdebar. Kyungsoo yang tengah tersenyum seolah menghipnotis waktu disekelilingnya.
"Jongin….". Seolah kembali tersadar akan dunianya, Jongin menatap kearah sang ibu yang tersenyum kearahnya dengan ribuan makna.
"Segitu cintakah?". Bisik Kim Nara pada putranya yang ia ikuti dengan kekehan pelan. Jongin kemudian kembali menatap Kyungsoo yang terlihat focus dengan bunga bunga dihadapannya. Saat itu Jongin hanya bisa mengulas senyum.
"Ia bahkan mengacaukan hatiku lebih parah dari sebelumnya, Eomma".
Adalah hari ketiga dimana kini Kim Jongin mengetahui bahwa Kyungsoo akan datang kerumah ibunya dua kali dalam sehari. Pertama ketika pukul delapan dan pukul setengah lima. Bukan dalam maksud berniat jahat, namun ia mengikuti dengan baik apa yang dilakukan Kyungsoo ketika tidak mengunjungi kediaman ibunya. Laki laki itu berdoa di kuil.
"Kyungsoo". Jongin menyebut nama kyungsoo dengan segala keberanian yang ia miliki. Kyungsoo tampak membungkuk kearahnya diiringi oleh ekspresi penuh tanda tanya.
"Maukah kau berjalan jalan denganku, barang sebentar saja?". Kyungsoo terlihat berfikir sementara Jongin meremas tangannya sendiri, terlalu gugup akan hatinya yang bergejolak. Seiringan akan itu, Kyungsoo mengangguk kecil, menyetujui permintaan Jongin akan dirinya.
Jongin membawa Kyungsoo tepian sungai Joseon. Keduanya hanya hening, Jongin tak tau apa yang mesti ia katakan. Hatinya bahkan sudah sangat membuncah ketika dihadapkan pada sosok indah Kyungsoo yang terlihat menikmati udara senja.
"Kau suka disini?". Jongin menghentikan langkahnya, menatap kearah Kyungsoo yang mengangguk dengan ekspresi kekanakan. Bola matanya yang besar dan jernih seolah melambangkan segala ketulusan hati yang ia miliki.
"Kau tau Kyungsoo, semenjak mengenalmu aku seolah menemukan belahan jiwaku yang seolah kembali pulang". Kyungsoo menatap Jongin, bola matanya mengerjap pelan. Ia bingung.
"Bukankah terlalu cepat jika kusimpulkan bahwa aku jatuh cinta padamu?". Jongin mengambil satu langkah mendekat, sementara Kyungsoo membatu diposisinya. Keduanya saling berhadapan dengan iris yang seolah mengait.
"Bolehkah kiranya aku menjadi pemilik dari hatimu, Kyungsoo?"
{}
CHANYEOL POV
Enam belas tahun yang lalu, Oh Sehun yang kukenal sama sekali tak berbeda dengan yang kini tengah tidur nyenyak disampingku. Enam belas tahun yang lalu, ia masih Oh Sehun yang sama, Oh Sehun yang memporak porandakan hatiku dalam sekejap mata. Oh Sehun yang memberiku tatapan tulus serta lugu dalam satuan waktu.
Dari Xi LuHan
Kepada Yang Mulia Raja Joseon
Apa yang selama ini kau tangisi hanyalah sia sia Park Chanyeol. Bukankah Baekhyun terlalu hebat untuk dijadikan alasan mengapa kau menyiksa adikku sedemikian rupa?
Adikku, sepanjang hidupnya tak pernah kulihat ia begitu mengemis akan apa yang ia inginkan.
Hanya cinta darimu yang selalu ia dambakan, ia impi impikan semenjak enam belas tahun lalu.
Masih jelas dibenakku, ketika ia mengatakan apakah cinta adalah yang membuat perutmu seolah digelitiki ribuan kupu kupu dengan jutaan kunang kunang dikepalamu sehingga kau hanya akan terus bahagia?
Dimasa itu tak pernah kujelaskan padanya tentang sedihnya akan cinta yang tak berbalas, sebab aku tak ingin ia bersedih atas cintanya yang kau duakan pada Baekhyun.
Adalah untuk pertama kalinya ia menangis padaku saat kau tak lagi pernah datang mengunjunginya, atau kau yang tak lagi memintanya untuk berkunjung.
Kesedihan, sepi, serta rasa takut akan kehilanganlah yang menggambar dimatanya yang polos. Dengan sesenggukan ia menangis padaku, meminta kau untuk kembali untuk menjemputnya dan bermain bersamanya.
Kau tak pernah tau betapa bahagianya ia atas lukisan yang kau pajang dikediamanmu. Walaupun itu kau anggap hadiah dari Baekhyun ia tak mengapa, sebab kau sudah menyukai itu saja ia merasa senang.
Kau tau, satu satunya alasan mengapa aku membiarkannya bersamamu adalah karna ia menatap penuh cinta, kagum serta hal hal indah hanya ketika ia menatapmu.
Kau dunianya, kau nafasnya, kau debar disetiap detak jantungnya. Lebih dari itu, kau adalah poros hidupnya. Orang yang membuatnya untuk terus bertahan dengan jutaan keyakinan jika suatu saat kau pasti akan mencintainya.
Aku tak akan melepas Sehun-ku dengan mudah jika saja kau bukanlah 'segalanya'.
Camkan ini Park Chanyeol, Sehun-ku terlalu berharga untuk sekedar kau sia siakan karna kau hanya akan mendapat penyesalan atas apa yang kau perbuat ini.
Dan bersiaplah, ketika penyesalanmu tiba, Sehun akan dengan senang hati kujemput dan kuberikan cinta yang kau sendiri tak mampu membayangkannya.
Sehun-ah, Luhan benar benar mencintaimu dengan sangat. Mengapa kau tak pernah berlari padanya, dan memilih untuk hidup tersiksa bersamaku? Bukankah aku hanya memberimu luka yang teramat banyak? Apakah kau tak sekalipun memendam dendam padaku yang begitu menyiksamu? Andaikan waktu dapat diulang, aku bersumpah tak akan jatuh pada dua hati sekaligus. Bahkan jutaan maaf rasanya tak pernah cukup kuucapkan untuk menebus dosaku kan?. Mengapa terlalu baik, hm?
CHANYEOL POV END
{}
Sehun mengikuti kemana Chanyeol membawanya, tak mengucapkan protes sedikitpun. Matanya ditutupi oleh kain yang membuatnya benar benar tak tau dibawa kemana. Ia sempat nyaris tersandung jika saja Chanyeol tak menahan pinggangnya. Merasakan deru nafas sang belahan jiwa, Sehun meletakkan segala kepercayaannya pada Chanyeol.
"Aku percaya padamu, Chanyeol-hyung". Ucap Sehun sembari tersenyum sementara kedua matanya masih tertutup.
Siapa kira jika Chanyeol akan membawanya kepada ruang teater istana? Sehun sempat terkejut ketika mendapati seluruh anggota keluarganya juga anggota keluarga kerajaan berkumpul disana. Memeluk ibunya erat, Sehun menumpahkan rasa rindunya, kemudian ia membungkuk sopan kearah ibu mertua juga ibu suri agung. Tanpa menyadari bahwa saja Chanyeol berjalan menjauh dari mereka semua. Musik yang mengalun, membuat Sehun berpaling dan ia mendapati Chanyeol diatas panggung.
Neowa hamkke georeul ddae eodiro gaya halji giri boiji anheul ddae
Giokhalge neo hanamaneuro nuni busideon geu narui sesangeul
(when I'm walking with you, when I cant see where I need to go or the path I'm on
I'll remember the world of that day when everything dazzled with just you alone)
Seolah kembali ke enam belas tahun yang lalu, dimana hanya ada Oh Sehun dan Park Chanyeol yang bergenggaman tangan kemanapun langkah mungil kaki mereka melangkah. Layaknya enam belas tahun lalu, ketika pertama kalinya Park Chanyeol merasakan debar jantungnya yang meletup letup tanpa ampun hanya lewat tatapan mata polos seorang anak berusia empat tahun.
Yeojonhi seotulgo tto bujog hajiman, eonjekajina ne gyeote isseulke
Kamkamhan bam gireul ilhgo hemaedo uri du saram seoruoi deung burideo eo juri
(I'm still akward and I lack, but until always I'll be your side on a dark night.
Even if we're lost and wandering, let's be each other light)
Chanyeol menyadari akan keterlambatannya, namun bukankah ia masih memiliki kesempatan? Walau ia masih canggung akan semuanya. Tapi ia ingin Sehun mempercayainya, menjadikannya sebuah penopang hingga mereka bisa bersinar bersama. Memadu cinta dengan penuh kebahagian, itu janjinya dan ia akan meminta Sehun untuk selalu mengingat itu.
Ttaeroneuni giri meolgeman boyeodo seogeulpeum maeume nunmuri helleodo
Modeun iri chueogi deol ttaekkaji uri du saram seorui shwill goshidoe eo
(Even if this path seem so far sometimes, even if you shed tears out of sadness.
Until everything becomes memory, lets become each other's resting place)
Menatap mata satu sama lain, keduanya mengukir senyum. Jalinan cinta ini masih sangat panjang, dan tak akan selamanya hanya tentang kebahagiaan. Mungkin akan masih ada masa dimana Sehun kembali menangis, hanya saja Chanyeol berjanji itu bukanlah suatu hal yang parah. Belajar dari masa lalunya, Sehun terlalu mulia untuk sekedar ia buat bersedih.
Sehun menenggelamkan dirinya pada tiap tiap kenangannya yang menyedihkan. Penolakan, cacian, makian serta perlakuan kasar yang diterimanya dahulu. Bukankah itu sebuah penyiksaan yang teramat sangat? Bukankah itu semua bisa menjadi alasan untuk tak mempercayai Chanyeol lagi? Untuk tidak menggantungkan hidupnya pada tangan raja Joseon itu lagi?. Cinta, jawabannya adalah cinta yang tak berbatas, cinta yang mengajarinya atas kepercayaan juga keteguhan atas keyakinannya selama ini. Jika saja Chanyeol akan mencintainya. Dan itu terjadi.
Tak perlu lewat kata kata, hanya saling menatap. Mereka senandungkan kata kata cinta itu dihati masing masing. Lewat senyum, mereka gambarkan betapa bahagianya mereka saat ini.
"Saranghae, Sehun-ah. Yeongwonhi".
Nah, gimana? Sudah lama ya aku ga update… huks huks huks, mianhae…. Beberapa waktu belakangan ini aku sibuk sama couple baru dan bener bener ga ada ide untuk AI. Dan sekarang aku kembali… hahaha, ini gimana? Mau dilanjut atau end sampe sini aja? Lagi lagi maaf ya…. Aku ternyata ga kuat untuk buat NC huaaaa…. Gemetar tiap mau ngetiknya. Jadi, reader boleh bayangin sendiri aja ya… Oh ya, itu lagunya dinyanyiin sama Sung Si Kyung judulnya Two People….
Review please... yang panjang kalo bisa hhehehehe, soalnya aku seneng banget baca review kaliaaaan love love love... hehehehe
Dan chapter ini selesai 3 jam terimakasih yang sudah repot repot kirim PM, review, subscribe, fav, dan follow yaaaa….
LOVE from ShiXun :*:*
