Naruto © Kishimoto Masashi

Lovely Girl © Haruno Aoi

Setting: AU

Warning: crack, OC, OOC, tema pasaran

Tidak suka? Terserah Anda ^^v

.

.

.

* Lovely Girl *

.

.

.

Para pemburu berita itu bergegas menghampiri mobil sedan yang hendak memasuki kediaman Uchiha. Sasuke yang menumpang pada jok belakang hanya mendengus sebal. Ketukan di kaca mobilnya makin membuatnya kesal.

Ia merasa hilang akal di tengah desakan para wartawan. Ino melakukan percobaan bunuh diri tanpa ia ketahui penyebabnya. Karin kembali meninggalkannya tanpa sepengetahuannya, membawa pergi Yume yang sekarang ia yakini sebagai putrinya.

Sekali lagi Karin mencampakkannya. Dan sekarang ia tidak bisa berpikir jernih untuk apapun yang akan ia lakukan selanjutnya.

Tiba-tiba Sasuke meminta sopirnya menghentikan laju mobilnya. Tanpa pikir panjang ia keluar dari mobil, mengundang para wartawan yang kemudian berbondong-bondong menerjang satuan pengaman keluarga Uchiha. Ia bungkam untuk segala pertanyaan mengenai mantan tunangannya. Sungguh ia belum mengetahui secara jelas duduk permasalahannya.

Yang ia lakukan hanya memfokuskan pandangannya pada salah satu kamera yang menyorotnya, kemudian mengucapkan beberapa patah kata yang ingin ia lontarkan, tak peduli jika saat itu tidak terjadi siaran langsung atau malah rekaman tentang dirinya tidak akan pernah ditayangkan, "Kembalilah—minimal hubungi aku dalam jangka waktu tiga hari ke depan … atau aku akan membeberkan segalanya…."

Dengan itu Sasuke berbalik meninggalkan para juru warta yang kembali dihadang oleh para petugas pengamanan. Ia mengabaikan sopirnya yang hendak memberikan tumpangan lagi, dan tetap berjalan cepat menuju kediamannya.

Ia langsung disambut oleh ibunya yang berwajah cemas. Mungkin ibunya tahu ia sempat mengatakan sesuatu kepada para wartawan.

"Bagaimana Karin dan Yume?"

Agaknya ia salah mengartikan kekhawatiran yang tersirat di raut lelah ibunya. Ia tidak bersuara, bahkan ketika mendapati saudari iparnya yang menunjukkan ekspresi yang tak jauh berbeda dengan ibunya. Masih tanpa kata ia bergegas menaiki tangga ke kamarnya. Pikirannya sungguh kalut tidak keruan.

~ooo~

"Hati-hati," kata Sai saat membukakan pintu mobilnya untuk Shion dan membantu calon istrinya itu untuk keluar dengan pelan-pelan. Ia tahu kalau Shion masih merasa pusing, namun ia tidak bisa memaksa gadis itu untuk tetap menjalani opname.

"Sudah, kau langsung pulang saja." Shion melepaskan rangkulan tangan Sai yang membantunya untuk berdiri tegak dan sedikit mendorong tubuh kurus pria itu agar menjauhinya.

Sai masih bergeming. Ia tidak tega jika mengingat Shion akan tinggal seorang diri dalam keadaan yang belum sehat betul. Ibunya sudah berpesan agar menawarkan pada Shion untuk tinggal di rumahnya—minimal selama tunangannya itu masih membutuhkan perawatan. Ia sudah membicarakannya dengan Shion ketika berada di rumah sakit. Sesuai dugaannya, Shion menolak secara halus dengan alasan tidak ingin semakin merepotkan keluarganya. Padahal tidak lama lagi keluarganya akan menjadi keluarga Shion juga. Tapi ia pun tidak boleh memaksakan kehendak pada Shion.

"Jaga dirimu baik-baik," ulangnya dengan suara pelan, namun penuh peringatan. Ia juga menepuk-nepuk pucuk kepala Shion yang ditutupi topi musim dingin pemberiannya. "Kalau kau membutuhkanku, langsung telpon saja."

"Iyaaa…." Shion membalas dengan malas. Sai benar-benar memperlakukannya seperti anak kecil. Mentang-mentang lebih tua.

Sai menyerah untuk meminta ciuman selamat jalan karena Shion terus menolaknya. Ia malah disebut-sebut sebagai pencuri kesempatan dalam kesempitan, playboy mesum, tuan kadal kurang ajar, dan sejenisnya. Bersama Shion, ia harus membiasakan dirinya untuk merasakan penolakan. Biasanya para wanitalah yang menggodanya agar bisa menghabiskan malam dengannya.

Shion segera membawa tas pakaiannya masuk lift setelah mobil Sai meninggalkan lahan parkir gedung. Ia langsung menuju lantai tempat apartemennya berada. Rasanya sudah lama sekali ia tidak pulang, padahal tidak sampai seminggu ia dirawat inap di rumah sakit. Dan selama itu Sai selalu menyegerakan untuk mendatangi rumah sakit selepas dari pekerjaan di studio. Ibu Sai pun tampak tidak keberatan untuk menemaninya. Ia merasa begitu disayang jika bersama Sai. Itu sebabnya ia merasa teramat takut kehilangan pria itu di saat ia sudah tidak memiliki orang tua lagi.

"Kau terlihat sangat bahagia sekarang…."

Shion sedikit terperanjat menemukan Naruto di atas tempat tidurnya. Ia mencoba bersikap tak acuh dan segera meletakkan tasnya di dekat lemari pakaiannya.

"Lagi-lagi Uchiha," desis Naruto dengan gigi saling menekan, "—ah, ku rasa marga itu memang lebih cocok bersanding dengan namamu. Banyak wanita yang bermimpi untuk menyandang nama keluarga itu—kau sangat beruntung." Naruto terkekeh menyeramkan.

Shion masih terpaku di dekat lemari pakaiannya. Ia seperti menahan napas tatkala Naruto mengayunkan langkah ke arahnya. Ia pun berusaha untuk tidak menutup matanya saat Naruto menggebrak lemari di belakangnya.

"Suatu hubungan dengan laki-laki sebagai pihak yang lebih muda memang tak akan pernah berhasil," lirih Naruto dengan tatapan terluka yang mengarah pada sepasang violet Shion, "—kau makin membuatku yakin akan hal itu." Naruto membalikkan badannya. Ia tidak bisa terus memaksa Shion untuk membalas tatapannya. "Sekarang aku benar-benar tahu apa yang harus ku lakukan untuk kakakku—"

"Kau tidak tahu—kau tidak mengerti!" Kini Shion yang menarik Naruto sekuat tenaga agar menghadap padanya. "Ini bukan hanya tentang perbedaan usia yang terkadang meresahkan! Aku tahu kau bisa membayar lebih dari satu wanita untuk sekedar menggoda Sai! Tapi kau menggunakanku sebagai umpan! Kau pikir kau bisa melakukannya jika kau memang mencintaiku?!"

Naruto terbelalak. Ia tak mampu berkata-kata.

"Kau hanya menemukan sosok seorang kakak—yang lama absen dari hidupmu—dalam diriku. Kau tidak benar-benar mencintaiku sebagai seorang perempuan." Shion menunggu bantahan dari Naruto—jika ada. Ia pun merendahkan suaranya, "Apa aku salah, Naruto?"

Naruto masih terdiam. Saat ini pandangannya tidak bisa fokus pada sepasang mata Shion yang seolah menelanjanginya.

"Sekarang kau tahu kenapa aku lebih memilih Sai…." Shion menitikkan air mata, antara tak tega bercampur lega atas perasaannya sendiri.

Tanpa kata Naruto mengembalikan duplikat kunci apartemen yang pernah diberikan Shion kepadanya. Perasaannya sungguh tak menentu. Ia masih butuh waktu untuk memahami perasaannya sendiri. Jika yang dikatakan Shion terbukti benar, maka ia harus rela melepaskan perempuan itu untuk Sai. Lagipula, ia mengaku salah.

Sepeninggal Naruto, Shion terduduk lemas bersandarkan lemari. Selain merasa pening, ia takut Sasuke mendapatkan imbas dari semua ini, mengingat tujuan awal Naruto berurusan dengan Uchiha adalah pria itu. Apalagi menilik dari berita akhir-akhir ini yang kurang menyenangkan dan selalu menyudutkan Sasuke—juga menyangkutpautkan Karin dan Yume dalam masalah tersebut. Ia lalu merogoh tasnya yang teronggok tak jauh dari tempatnya duduk. Ia mengambil ponselnya dan langsung menghubungi Sai—tak peduli jika saat ini tunangannya itu masih dalam perjalanan pulang, "Kau harus melakukan sesuatu."

"Apapun untukmu, Honey…."

"Adakan jumpa pers, dan bilang kalau kau yang salah," titahnya.

"Eh?" Sai segera menepikan mobilnya.

"Kau memang penyebab Ino bunuh diri, Sai. Kau sendiri yang cerita padaku kalau kalian sempat bertengkar beberapa hari sebelum kejadian itu. Bilang saja kau membuat Ino patah hati—"

"Tidak semudah itu, Honey…." Sai menambahkan sebelum Shion membantah, "Kalau aku melakukannya, aku hanya akan menambah masalah. Yang bisa kita lakukan sekarang hanya percaya bahwa Sasuke bisa mengatasi semua ini. Dan kita doakan semoga Ino lekas sadar agar bisa cepat memberikan konfirmasi kepada pers."

Shion tidak menyangkal. Mungkin Sai benar, dan ia terlalu naif.

~ooo~

Yume mengendap ke kamar Karin saat mamanya itu masih mandi. Ia mengambil ponsel yang diletakkan di atas nakas dan membawanya menjauhi kamar itu. Langkah lebar kaki pendeknya membawanya ke beranda samping rumah yang saat itu sedang sepi. Ia terus mencari nama Uchiha Sasuke di kontak ponsel mamanya. Ia yakin mamanya masih menyimpan email dan nomor telepon papanya.

Matanya berbinar-binar begitu menemukan nama yang dicarinya. Tanpa membuang waktu ia menekan tombol untuk menghubungi nomor itu.

"Karin?" Suara di seberang sana terdengar lega berbaur rasa tak percaya. Sudah berkali-kali pria itu menghubungi Karin, namun tidak ada balasan jikalau memang tidak aktif. Agaknya Karin menonton berita terbaru di infotainment yang memuat dirinya.

"Sasuke-kun…." Yume mencicit. Ia takut Sasuke tidak senang jika tahu kalau ia yang menghubungi pria itu, bukan mamanya.

"Yume?" sahut Sasuke. "—Ah, sekarang kalian ada di mana?"

"Aku tidak suka di sini. Di sini tidak ada salju. Aku jadi tidak bisa membuat boneka salju…."

Cukup lama Sasuke tak menyahut. Ia tengah mencerna kata-kata Yume dan memikirkan suatu daerah di Jepang yang tidak dijatuhi salju pada musim dingin seperti ini.

"Yume ada di Okinawa?" Yang terpikir oleh Sasuke adalah bagian paling selatan Jepang.

"Aku tidak tahu…," gumam Yume.

Sasuke tidak hilang akal. "Apa Mama menyebut-nyebut nama kota seperti Naha atau—"

"Naha?" sambut Yume, "Aku ingat, Opa dan Oma menyebut itu."

Sasuke terdiam. Opa dan Oma. Berarti Karin mengajak Yume ke rumah orang tuanya. Kemungkinan besar keluarga Namikaze pindah ke Naha, Okinawa semenjak Karin meninggalkan rumah. Sekarang Sasuke merasa lebih tenang. Ia tinggal menyuruh orang-orangnya untuk mencari tahu alamat rumah keluarga Namikaze secara lengkap. Dan ia percaya Karin maupun Yume akan aman bersama keluarga Namikaze.

"Sasuke-kun…."

"Hm?"

"Sasuke-kun sudah janji akan ikut merayakan ulang tahunku…."

"Iya," lirih Sasuke.

"Jadi, kapan … bisa bertemu lagi…?"

"Yume tenang saja di sana. Aku akan menjemput Yume."

Yume langsung sumringah. "Benarkah? Sasuke-kun janji?"

"Janji—"

Yume terperanjat ketika ponsel yang digenggamnya direbut oleh tangan lainnya, yang kemudian ia ketahui sebagai milik mamanya. Ia membelalak takut. Terlebih saat mamanya mematikan sambungan dengan kasar.

"Mama tak pernah mengajari Yume mencuri," geram Karin.

"Yume tidak mencuri…," cicit Yume dengan kedua tangan saling meremas.

"Menggunakan barang milik orang lain tanpa izin sama saja dengan mencuri." Karin masih tampak marah, tak peduli dengan Yume yang hampir menangis.

"Aku cuma pinjam, Ma…," dalih Yume dengan bibir bergetar.

"Sejak bertemu dengan Uchiha Sasuke, kamu selalu bisa melawan Mama. Memangnya dia yang merawatmu dari bayi?" Karin kalap. Ia menggenggam ponselnya kuat-kuat melihat Yume yang menangis sambil meremas sweternya. Ia yang masih kesal menarik kedua tangan Yume dan merentangkannya ke depan. "Anak nakal sepertimu harus dihukum," desisnya tajam.

"Ampun, Ma…."

Ia memukul kedua tangan mungil itu, mengabaikan tangisan Yume, juga panggilan dari Sasuke yang terus menggetarkan ponselnya.

"Ya Tuhan … aku tidak ingat pernah mengajarimu berbuat kasar seperti ini." Sang kepala keluarga Namikaze membawa Yume dalam dekapannya, yang otomatis menghentikan aksi Karin.

"Yume mulai nakal, Pa…," kilah Karin. "Dia pantas mendapatkan hukuman."

"Tapi apa harus dipukul?" Minato berusaha tetap sabar sembari menenangkan Yume yang masih terisak. Ia pun mengelus kedua punggung tangan mungil Yume yang memerah.

Karin tidak berani membantah. Ia sadar ia yang salah. Ia hanya mencari pembenaran untuk dirinya sendiri yang telah menjadikan Yume sebagai pelampiasan atas kekesalannya yang tanpa dasar.

"Yume ingin bersama Papa…," gumam Yume di tengah isakannya.

Emosi Karin kembali tersulut. "Tuh, 'kan, sekarang kamu malah lebih memilih dia daripada Mama yang mengandungku, melahirkanmu, dan membesarkanmu—"

"Kamu sendiri yang akan membuat Yume merasa tidak nyaman bersamamu jika kamu terus uring-uringan seperti itu, Karin…," timpal Minato yang kemudian menggendong Yume memasuki rumah.

Karin mendesah frustrasi. Padahal ia hanya ingin menjauhkan Yume dari segala masalah yang mungkin dapat ditimbulkan oleh kedekatan mereka dengan Sasuke. Seharusnya Yume memang tidak boleh bertemu dengan ayahnya. Ia kemudian menonaktifkan ponselnya yang sebelumnya terus berkedip menampilkan nama Uchiha Sasuke pada layarnya.

~ooo~

"Jadi, sekarang Neechan dan Yume tinggal di rumah orang tua Neechan?" tanya Sakura dengan wajah cerah saat melakukan pembicaraan dengan Karin via telepon. "Syukurlah kalau kalian baik-baik saja—aku?" Sakura terlihat ragu untuk menjawab, "Aku juga baik."

Karin banyak cerita pada Sakura. Selama bertetangga pun keduanya sering bertukar cerita atau saling mencurahkan isi hati. Dalam pembicaraan yang sebenarnya kurang leluasa itu, Karin juga memberitahunya bahwa keluarga Namikaze meninggalkan Tokyo untuk tinggal di Okinawa karena perpindahan dinas sang kepala keluarga beberapa tahun silam. Sebelum memutuskan untuk tinggal seorang diri, Karin memang pernah mendengar akan hal itu. Karin pun tidak tahu sampai kapan akan tinggal dengan orang tuanya—meski mereka berharap bisa terus hidup bersama.

"Berarti kapan-kapan aku boleh main ke sana?" gurau Sakura dengan senyum mengembang. Namun sesaat kemudian senyumnya memudar perlahan. Wajah cerahnya berubah murung. "Sebenarnya ada yang ingin ku ceritakan pada Neechan—tapi tidak bisa melalui telpon. Mungkin aku memang harus menemui Neechan."

"Kalau begitu mainlah ke sini. Bukankah kau belum pernah ke Okinawa?" Karin mencoba mencairkan suasana yang mendadak kaku dengan mengalihkan topik pembicaraan, "Kau akan bekerja?"

"Iya, biasalah, dinas malam," balas Sakura malas seraya melihat jam tangannya. Ia baru menutup sambungan setelah perbincangan ringan lainnya yang membuat suasana hatinya terasa lebih baik.

Masih ada sisa waktu yang cukup panjang sampai ia berangkat ke rumah sakit. Ia tidak ingin melewatkannya dengan berdiam diri. Ia pun mencoba untuk menghubungi seseorang yang belakangan membuat pikirannya kacau tidak keruan.

"Ada apa, Sakura? Aku harap kau tidak membuang waktu berhargaku."

Sakura sudah menduga akan mendapatkan sambutan serupa. Ia seperti bisa melihat kalau saat ini pria itu tengah duduk di kursinya yang ada di studio—menghadap peralatan yang tak ia mengerti fungsinya—sembari mengawasi suatu sesi rekaman salah seorang artisnya.

Sekarang Sakura merasa kalau seharusnya pembicaraan ini tidak dilakukan melalui telepon. Tapi pria yang berprofesi sebagai produser musik itu sungguh sulit untuk ditemui. Apalagi pria itu juga merupakan bassist suatu rock band yang hingga kini masih aktif berkarya, serta sering melakukan perjalanan ke luar negeri untuk menggarap albumnya.

"Ano—Neji-san … aku—"

"Jangan bilang kalau kau hamil," sela Neji dingin.

Seperti refleks, Sakura menahan napas. Mulutnya membuka-tutup tanpa suara. Pria itu sungguh membuatnya kehilangan kata-kata.

"Ja-jangan menyelaku!" sentaknya.

Terdengar helaan napas dari seberang sana.

"Jadi, kau tidak hamil? Baguslah kalau begitu," kata Neji acuh tak acuh. "Lantas, apa yang akan kau bicarakan?" Lama tak mendengar balasan, membuat Neji geram, "Lain kali hubungi aku kalau benar-benar ada hal penting yang menyangkut diriku."

Dan sambungan pun diputus oleh Neji.

Sakura mati-matian menahan tangis. Sepertinya mengenal Hyuuga Neji memang suatu kesalahan. Ia hanyalah seorang fangirl—penggemar Neji. Rasanya memang aneh status itu berubah menjadi kekasih dengan begitu mudah. Ia bisa mengenal Neji lebih dekat karena saudari sepupunya yang merupakan vokalis di band pria itu. Ia diundang ke suatu kafe untuk mengikuti acara perayaan atas rampungnya comeback single yang menandakan kembalinya mereka dari Inggris.

Awalnya ia dimintakan kartu nama Neji yang juga dibubuhi tanda tangan lantaran rasa kagumnya pada pria itu. Lama-lama ia dan Neji saling berkirim email. Sampai Neji mengajaknya kencan dengan berakhir di suatu hotel. Neji bahkan sudah lebih dari sekali mendatangi apartemennya.

Tayuya, sepupunya, sudah sering mengingatkannya bahwa Neji adalah playboy. Karin juga kerap kali memberinya nasihat untuk berhati-hati, karena wanita yang sudah seperti kakaknya sendiri itu menangkap kesan serupa mengenai Neji. Ada pula gosip yang menyatakan bahwa Neji mempunyai istri simpanan di London. Namun ia sudah terlanjur dibutakan oleh suatu rasa yang ia sebut sebagai cinta.

Dan sekarang sangat sulit baginya untuk mengutarakan pada Neji bahwa di rahimnya tengah tumbuh benih pria itu. Terlebih setelah mendengar secara langsung bahwa Neji seperti tidak pernah mengharapkan hadirnya keturunan. Neji memang pria sibuk yang tampaknya tidak suka terikat. Rasanya mustahil Neji akan menikahinya kendati mengetahui kehamilannya.

Kini perasaannya sungguh bercampur aduk. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan selanjutnya—selain kewajibannya untuk datang ke tempat kerja. Bagaimanapun ia memang ceroboh. Tak semestinya ia hanya menyalahkan Neji.

Seharusnya ia bisa banyak belajar dari pengalaman Karin … seharusnya….

~ooo~

Pagi itu kediaman Uchiha terasa lebih ramai. Bukan lantaran para wartawan, karena mereka sudah bosan menunggu konfirmasi dari Sasuke. Pembuat keributan kecil itu adalah pasangan Itachi dan Hinata yang belakangan jadi sering berdebat.

"Melihat Itachi-san berpakaian rapi membuat mataku sakit," ungkap Hinata yang berjalan cepat mendahului Itachi ke ruang makan.

"Jadi kau ingin suamimu berpakaian gembel?"

"Boleh," jawab Hinata tak acuh.

"Ada apa sih pagi-pagi sudah ribut?" Mikoto menengahi.

"Menantu Kaasan yang satu ini membuatku hampir gila," desis Itachi sembari menduduki kursinya. Ia hanya melirik sekilas Hinata yang duduk di sebelahnya.

"Aku 'kan sudah bilang, jangan menjemputku sebelum aku sendiri yang minta. Tapi Itachi-san terus saja mengotot mengajakku pulang."

"Kau 'kan istriku…."

"Iya, tapi aku sedang benci sama Itachi-san. Jelek, bau—"

Mikoto mencoba menenangkan Itachi yang duduk di seberangnya, meski tanpa suara, "Sabar, sabar … bawaan bayi…."

Itachi masih merasa ingin membenturkan kepalanya ke meja makan meski sudah membaca gerakan bibir ibunya yang bermaksud menguatkan hatinya.

Fugaku hanya menahan tawa tanpa menghentikan kegiatan sarapannya. Menantunya seperti berubah menjadi orang lain semenjak mengandung cucunya. Semoga saja hal itu tidak membuat Itachi kapok untuk memberikan lebih dari satu cucu untuknya.

"Memangnya kau jarang mandi, Itachi?" selidik Mikoto.

"Kaasan … aku mandi lebih dari dua kali sehari jika tidak ke kantor. Hinata mengataiku bau karena aku memakai parfum. Padahal Hinata sendiri yang dulu memilihkannya untukku, sampai membuatku setia pada aroma itu." Cepat-cepat ia melanjutkan sebelum Hinata menyelanya, "Cuma pakai sabun pun katanya masih bau. Sedangkan dia sendiri memakai sabun dengan aroma yang sama. Aneh 'kan dia…."

Fugaku dan Mikoto malah terkikik geli. Hinata hanya memberengut.

"Ramai sekali," komentar Sasuke yang baru bergabung di meja yang sama. Ibunya langsung mengambilkan nasi dan lauk begitu ia membalikkan piringnya.

"Sepertinya keponakanmu akan menjadi anak yang sangat lucu," canda Mikoto yang berharap dapat menghibur Sasuke yang banyak pikiran akhir-akhir ini.

Sasuke tersenyum sedikit. Mikoto berhasil menyejukkan hatinya. "Aku jadi kangen Yume," lirihnya.

"Apa aku tidak salah dengar?" Mikoto terkesiap.

"Tidak, Okaasan," balas Sasuke seusai meminum sedikit susu hangatnya. "Sebentar lagi aku akan menjemputnya."

"Memangnya kau sudah tahu ke mana Karin membawa Yume pergi?" sahut Itachi yang turut penasaran.

"Sudah," jawab Sasuke tenang. "Mereka ada di Naha, lebih tepatnya di kediaman orang tua Karin. Orang-orangku sudah menemukan alamat rumah keluarga Namikaze, dan itu tidak jauh dari pusat kota."

Semuanya tampak lega mendengar penuturan Sasuke. Mereka juga mendoakan yang terbaik untuk si bungsu Uchiha, selain memberikan dukungan yang menguatkan.

~ooo~

Sesuai penuturannya, Sasuke pergi ke Okinawa pada hari itu juga. Dengan jet pribadi, ia tiba di kota tujuan dalam waktu tak lebih dari tiga jam. Untuk perjalanan ke rumah Karin, ada sopir yang sudah siap menjalankan tugasnya. Ia bergerak dengan cepat. Ia benar-benar tidak ingin membuang waktu.

Setibanya di kediaman Namikaze, Sasuke masih harus menghadapi security keluarga itu.

"Karin," jawabnya tegas setelah diberikan pertanyaan mengenai anggota keluarga yang hendak ia temui.

Salah seorang security menggunakan intercom untuk menghubungi orang yang bersangkutan. Tanpa banyak tanya, Karin mengizinkan satuan pengaman kediamannya untuk mempersilahkan tamunya masuk.

Sasuke melangkah dengan pasti. Agaknya ia tidak akan menunggu lama sampai pintu di hadapannya dibukakan setelah ia menekan tombol bel. Benar saja, pintu putih berdaun dua itu segera dibuka. Dan tanpa disangkanya Karin sendirilah yang membukakan pintu itu untuknya.

"Kau—kenapa—" Karin seolah kehilangan kemampuan berbicara. Ia masih terperangah menemukan Sasuke di balik pintu yang dibukanya. Sebelumnya ia mengira yang datang berkunjung adalah Sakura setelah mendengar bahwa tamunya itu dari Tokyo.

"Aku datang untuk menjemput Yume," ujar Sasuke. "Aku akan memenuhi janjiku."

"… Rasanya tak perlu. Pulanglah, Yume sedang asyik main dengan kakek dan neneknya," usir Karin tanpa terlebih dahulu mempersilahkan Sasuke masuk.

"Tidak tanpa Yume. Aku sudah berjanji padanya."

"Itu urusanmu. Yang jelas aku tidak akan mengizinkanmu membawa Yume."

Sasuke mulai putus asa menghadapi Karin yang keras kepala. "Yume!"

"Apa-apaan kau?" Karin menutup pintu rumahnya dan tetap menghadang Sasuke di teras. Yume tidak boleh mendengar suara Sasuke. Ia terus mendorong dada Sasuke yang berusaha meraih gagang pintu rumahnya. "Jangan berlagak seolah-olah kau adalah ayah yang baik untuk Yume," desisnya marah. "Selama ini hanya aku yang membesarkannya—"

Sasuke tampak sedih mendengar perkataan Karin. "Kau yang selama ini menyembunyikan Yume dariku, tapi kau membuatku serba salah layaknya pihak yang tidak bertanggung jawab."

Karin tertegun mendengarnya. Lebih-lebih karena ekspresi terluka yang ditunjukkan oleh Sasuke.

"Ku rasa kau tak perlu lagi menyembunyikan Yume dariku. Aku sudah bukan seorang pelajar—"

"Aku tidak bicara tentang status sosialmu sekarang." Karin mendesis, "Kau akan segera menikah dengan seseorang yang mungkin tidak suka melihatmu dekat denganku maupun Yume. Aku tidak ingin Yume mengalami masalah kejiwaan karena hal itu. Dia masih terlalu kecil untuk mendapatkan tekanan dari segala arah."

Sasuke diam sejenak untuk menata kalimat yang akan dilontarkannya. Ia pun bingung harus memulai penjelasan ini dari mana. Ragu-ragu ia menggenggam kedua bahu Karin agar wanita itu tidak mengalihkan perhatian darinya.

"Dia telah membatalkan pertunangan karena dia tidak mencintaiku—begitupun denganku. Dan percayalah bahwa dia melakukan percobaan bunuh diri bukan karena aku—atau lantaran kedekatanku dengan kalian. Bahkan ku rasa dia tidak akan peduli setelah tahu aku sudah mempunyai seorang putri darimu…."

Karin masih bungkam. Ia seperti tengah membaca seluruh isi hati Sasuke melalui sepasang mata yang kelam itu—yang kini menatapnya dengan lembut.

"Aku mohon … percaya padaku, Karin…."

Akhirnya Karin luluh juga. Ia mempersilahkan Sasuke masuk dan memberitahukan kedatangannya kepada Yume dan kedua orang tuanya. Yume sangat senang dan terus menempel pada Sasuke. Minato dan Kushina menyambut Sasuke dengan ramah karena mereka bisa menilai bahwa Sasuke tidak tampak seperti pria yang bermaksud lari dari tanggung jawab. Lagipula mereka sudah paham bahwa putri merekalah yang selama ini berusaha menyembunyikan Yume dari Sasuke.

Sekarang Sasuke tahu dari mana Yume mewarisi rambut merah tuanya setelah bertatap muka dengan ibu Karin. Padahal rambut Karin berwarna merah terang. Mungkin juga pengaruh dari dirinya sendiri yang memiliki rambut gelap.

"Jadi, kita akan ke mana?" Yume terlihat sangat bersemangat. Ia duduk di pangkuan Sasuke dengan posisi saling berhadapan, mengabaikan mamanya yang sedari tadi tidak banyak bersuara.

"Bagaimana kalau naik monorel ke pusat kota? Nanti Yume boleh minta apapun yang Yume inginkan sebagai hadiah ulang tahun," usul Sasuke.

Yume mengangguk antusias dengan senyum merekah. Binar kebahagiaan yang terpancar di sepasang matanya yang senada dengan Sasuke tak mampu disembunyikan.

"Kalau Yume mau, kita bisa pulang ke Tokyo dengan—"

"Aku sudah bilang sebelumnya—kau boleh mengajak Yume jalan-jalan, tapi tidak keluar dari Okinawa," sela Karin ketus.

Sasuke dan Yume malah terkikik pelan, pura-pura tak mengacuhkan Karin. Tak pelak lagi, hal itu membuat wajah Karin memerah antara malu dan kesal.

"Heh, kalian!"

Sasuke dan Yume yang saling berpandangan masih terlihat menahan tawa. Mereka bertingkah seolah-olah tidak mendengar seruan Karin. Kekesalan Karin sudah menumpuk. Ia menghampiri ayah dan anak itu dengan langkah lebar. Ia menduduki tempat di sebelah Sasuke tanpa menghilangkan tampang masamnya.

"Jangan mengabaikanku." Karin berusaha menarik perhatian mereka berdua.

Yume menoleh pada Karin sambil tertawa pelan. "Mama sih marah-marah terus…," ledeknya seraya memeluk Sasuke.

Tak ada balasan dari Karin, Sasuke berdiri dengan Yume tetap berada dalam gendongannya.

Karin yang melihatnya jadi penasaran, "Kalian akan pergi sekarang?"

"Tentu saja," balas Sasuke yang terlihat sudah sangat akrab dengan Yume. "Ayo."

Karin bingung melihat tangan Sasuke yang terulur padanya. Ia masih terpaku di sofa dengan tatapan yang terbagi antara telapak tangan lebar itu dan wajah serius Sasuke.

Melihat Karin yang tampak linglung, membuat Sasuke kehilangan kesabaran. Ia menarik lengan Karin hingga membuat wanita itu bangkit dari duduknya.

"Kau kelamaan mikir," desis Sasuke yang diikuti tawa pelan Yume.

"Ke-kenapa aku juga?"

"Memangnya kau mau aku mencari ibu baru untuk Yume?"

Wajah Karin memerah tanpa alasan jelas. Ia memukul punggung Sasuke yang kemudian malah terkekeh pelan. Sasuke mengambil langkah pertama untuk meninggalkan kediaman Namikaze, mendahului Karin yang kelihatannya masih mendongkol padanya.

Perlahan Karin menghilangkan ekspresi kakunya. Melihat Yume bahagia bersama Sasuke, ia turut merasa senang. Ia pasti akan terus berjalan di belakang Sasuke sambil mengulum senyum jika tangannya tidak digandeng oleh pria itu ketika mulai melewati gerbang.

~ooo~

Kiba tampak kikuk saat melihat Ino mulai membuka matanya. Ia merasa senang bercampur bingung. Sudah berhari-hari Ino koma, dan sekarang ia gugup tidak keruan. Bahkan hanya untuk memanggil tenaga medis belum terpikirkan olehnya. Seharusnya ia memang tidak menawarkan dirinya untuk menjaga Ino seorang diri. Masalahnya, ia yang kebetulan lewat lalu mampir dengan niatan membesuk, hanya tidak tega melihat ibu Ino yang hari itu sedang berjaga sendiri serta belum makan sejak pagi.

Akhirnya Kiba hanya berdua saja dengan Ino di ruangan itu, sedangkan Nyonya Yamanaka berada di kantin rumah sakit.

Kiba masih bertampang aneh ketika Ino mengedarkan pandangan ke sekelilingnya. Ia berdiri di sisi ranjang dengan gesture yang tampak kaku.

"Inuzuka-san…," gumam Ino dengan suara serak.

"Ha-hai," balas Kiba disertai senyum canggung.

"… Kenapa aku belum mati?"

Kiba megap-megap mendengar pertanyaan Ino. "Jangan bicara seperti itu—eh?" Ia makin hilang akal karena secara mendadak Ino terisak.

Barulah ia teringat untuk menekan tombol pemanggil perawat di dekat ranjang Ino. Ia pun menghubungi ibu Ino dengan perasaan segan. Semestinya ia tidak menganggu kegiatan makan wanita itu. Namun ia takut melihat keadaan Ino.

Agaknya pergerakan tenaga medis menuju kamar Ino mengundang para wartawan yang bersiaga di sekitar kamar rawat itu. Kiba yang masih berada di dalam ruangan berusaha untuk mengambil tempat yang sedikit terhalangi agar sosoknya tidak tertangkap kamera juru warta yang merekam dari arah pintu yang tertutup. Ia paham kedatangannya ke rumah sakit dapat menciptakan gosip baru, tapi ia tidak bisa mengabaikan rasa bersalah serta kecemasan yang dirasakannya.

.

.

.

TBC~

Go koui, arigatou gozaimashita:

Lionel Sanchez Afellay (Love u 2 :D), sabar siegrain (Maksudnya? -_- a), Neerval-Li, ristia15, Ryuu-chan, Aiiko Aiiyhumi, Jielly N. S, tinaff359, Jerza Loverz, Nara Kazuki, Ratri13, sandra difita, dikdik717

Dalam keadaan suntuk malah publish chapter ini. Neji di sini terinspirasi dari Takumi-san di Nana live action movie~ *mesmerized*

Terima kasih banyak semuanya, terlebih reviewers karena meluangkan waktunya untuk meninggalkan rangkaian kata penyemangat. Terima kasih juga silent readers….

Bagaimana tanggapan kalian untuk chapter ini? Review, ya…. n.n

27/10/2012

Narimiya (?) Aoi XD