Hai balik lagi. Ini chapter 9, ya. Aku seneng banget baca review kalian. Terima kasih ya, sudah diterima baik fic pertama aku ini.

sisifitrah : Draco udah muncul kemarin tuh. Buat kamu! ^_^

renakudo-chan : hehehe thank you.. berusaha banget update setiap harinya. Ya walaupun ini ketinggalan sehari. Lagi ada tugas kuliah. Thanks udah rajin baca.

lily : di chapter ini mulai aku sangkut-sangkutin si Scorpius. Kalau imajinasi aku sukses chapter terakhir besok aku masukin Lily dan Scorpiusnya. Oke!

Pada intinya, aku mau ngucapin terima kasih buat semua para readers yang setia menanti chapter demi chapter. Thank you! - Anne ^_^


Rumah keluarga Potter sedang sepi. Ginny sedang mengikuti seminar pelatihan jurnalistik yang diadakan Daily Prophet. Sebagai salah satu korespondensi senior, Ginny didapuk sebagai pembicara dan mentor di acara tersebut.

Tidak ada wanita. Ah lebih tepatnya wanita dewasa. Hanya ada Harry dan Lily di rumah. Anak beranak itu sedang susah-susahnya mengurus rumah yang ya.. kotor di sana sini. Tinggal di kawasan Muggle kadang membuat Harry susah saat merasa sihir sangat amat dibutuhkan.

"Aku bantu ya, Dad!" kata Lily sambil mengambil lap dan membersihakn meja-meja yang berdebu. "Thanks, sayang," jawab Harry masih dengan sapu di tangannya.

Sore itu jadi sore yang super sibuk bagi Harry. Setelah mandi, Harry sudah siap dengan apron berwarna biru di badannya. Ia sibuk di dapur. Kuah sup yang meletup, daging asap yang masih berasap di wajan, pasta yang sudah terbumbui hampir selesai dan siap dihidangkan di atas meja.

Harry meminta Lily untuk menata beberapa makanan itu di meja selagi ia membersihkan dapur yang kotor akibat aktifitas memasaknya. Harry benci dapur kotor. Sudah kebiasaannya sejak tinggal di rumah Uncle Vernon ia akrab dengan dapur. Ini juga yang jadi alasan mengapa Harry tampak cekatan bekerja di dapur, untuk apa? Untuk memasak tentunya.

Pria berkacamata itu mendengar alunan piano dari ruang tamu. 'Pasti Lily' batin Harry. Tanpa perlu menggunakan sihir untuk menebaknya dengan tepat. Lily sedang memainkan nada-nada yang indah sekali. Temponya tidak begitu cepat, romantis sekali.

"Apa judulnya?" Harry datang dari arah dapur sambil membawa satu teko air putih.

"Ka'iulani," jawabnya singkat. Lily menutup pianonya dan beralih ke meja makan.

Harry memberi piring Lily dengan satu porsi pasta. "Judulnya susah sekali," kata Harry. Mumpung tidak ada Ginny, Harry siap melanggar aturannya sendiri. Berbicara saat acara makan.

"Itu nama ratu Hawaii, Dad. Namanya lengkapnya panjangggg sekali. Dipanggil Ka'iulani. Aku membaca kisahnya di sekolah dan pengan buat satu instrument untuk mengenang dia. Aku membuatnya di sekolah tadi. Bagaimana menurut, Dad? Tadi Dad dengar, kan?"

Harry sudah melahap pastanya dengan lahap. Rasanya lumayan juga. Ia terakhir kali membuat pasta itu saat ia berumur 12 tahun untuk Dudley, sepupu gempalnya. "Iya, Dad tadi dengar, kok. Romantis dan menyentuh, itu kesan Dad. Cantik sekali." Kata Harry.

Lily tersenyum menandakan ia suka dengan komentar ayahnya.

"Kapan-kapan buatkan juga Dad satu permainan yang indah dengan pianomu."

"Tentu, tunggu tanggal mainnya," Lily menerima tantangan Harry dengan tangan terbuka. Ya, memang Lily sedang mempersiapkan sesuatu untuk orang-orang yang dikasihinya.

Berhubung esok weekend, Harry dan Lily menghabiskan malam mereka dengan menonton kartun bersama dari DVD pemberian Hermione. Tawa keduanya pecah saat beberada adegan lucu ditampilkan tokoh-tokoh animasi 3D dari layar TV. Harry memang suka menemani anak-anaknya menonton kartun di akhir pekan. Itung-itung ia mengobati rasa hampa masa kecilnya yang harus sembunyi-sembunyi jika ingin melihat TV.

"Yah, sudah selesai, besok minta Aunt Hermione belikan DVD lagi ya, Dad. Dad? Dad!" Lily melihat Harry sedang memikirkan sesuatu. Ia tak merespon panggilan Lily. "Dad!"

Lily menguncang tubuh Harry sampai akhirnya, "iya, nak. Iya, biar besok Dad minta Aunt Hermione membelikan lagi beberapa DVD baru untuk kamu. Kalau perlu nanti Dad yang seret ke toko DVD." Candanya diikuti tawa renyah Lily.

Seperti melihat ada yang sedang dipikirkan ayahnya, Lily coba menatap Harry lekat. Menatap mata hijau cerah sang ayah sembari bertanya, "Dad sedang memikirkan apa? Memikirkan Mom?" tanya Lily dengan nada sedih.

Harry membawa tubuh Lily ke pelukannya, "iya, Dad ingat Mom. Rasanya sepi di rumah tanpa Mom dan dua kakakmu." Ya, rumah jadi terasa sepi hanya ada Harry dan Lily di rumah.

"Iya, Dad. Sepi. Kita nonton DVD jadi bisa ketawa. Apa lagi ya yang bisa kita buat jadi hiburan sekarang?" tanya Lily masih nyaman di pelukan Harry. Keduanya bak dikomando, melihat ke arah piano bersamaan.

"Tapi lagu untuk Dad belum jadi," sambung Lily cepat-cepat. "Dan aku ingin Mom juga bisa dengar," lanjut Lily. Ia kembali menghangatkan sandarannya di dada Harry. Nyaman sekali jika ia sudah bersandar di pria pujaannya itu.

Tiba-tiba Lily menyunggingkan senyuman, terpikirkan sesuatu. "Dad, ada enggak lagu yang Dad suka?" tanya Lily penasaran. Memang Harry tampak sering antusias tiap kali Lily bermain piano.

"Em.. apa ya? Ada sih, instrument piano juga. Entahlah, sejak tahu kamu bisa bermain piano, Dad langsung teringat dengan satu instrument lagu yang," Harry memotong perkataannya sejenak, "sangat mewakili perasaan Dad saat itu."

Lily bingung. "Saat itu? Kapan tepatnya, Dad?"

"Saat Dad masih seumuran kamu,"

Harry terdiam. Begitupula Lily. Lily tahu sedikit banyak dari cerita teman-teman ayahnya, tentang masa kecil Harry semasa tinggal bersama keluarga dari neneknya yang bernama sama dengannya. Lily hanya tahu, ayahnya itu suka bertengkar dengan sepupunya yang gemuk dan sering mengurung diri di kamar bawah tangga.

Dulu, saat Lily tahu cerita tentang ayahnya pernah punya kamar di bawah tangga, ia sempat merengek minta kamar di bawah tangga. Ah bukan hanya Lily, James dan Al juga. Namun semua tidak terwujud karena Harry menolak keras anak-anaknya tidur di bawah tangga. Dan berujung pada Harry marah kepada Ron yang menjadi sumber cerita masa lalu itu muncul dan diketahui anak-anaknya.

Untung saja, tidak semua mereka ketahui. Harry sangat amat menjaga cerita kelam masa kecilnya itu dari anak-anaknya.

"Judulnya apa, Dad? Biar Lily mainkan kembali untuk Dad. Siapa tahu Lily bisa."

Harry tampak mengingat kembali masa-masa itu Ingat masih sangat mengingat instrument piano itu. Indah, dan mewakili segala perasaannya saat itu.

"Yah, Dad nggak tahu judulnya. Dad juga susah menjelaskannya seperti apa. Instrumennya cukup lama dan bervariasi."

Susah memang jika tidak tahu judulnya dan juga menjelaskan bagaimana nadanya.

"Seandainya kamu bisa membaca pikiran Dad. Kamu mungkin tahu lagu apa itu."

"Tapi, Lily nggak bisa cara membaca pikiran orang, Dad." Lily lemas dan kembali memeluk Harry. Sedikit banyak Lily bisa menggunakan sihir tapi itu hanya sihir sederhana saja yang Ginny dan Harry pernah ajarkan.

"Yahh, kalau begitu ceritakan saja bagaimana kamu bisa bermain piano dengan begitu lihai. Dad nggak pernah tahu loh sampai kamu tampil di café waktu itu."

Lily makin menenggelamkan wajahnya ke ketiak Harry sambil menahan tawanya. Lebih tepatnya malu mengingatnya lagi. "Ceritanya panjang, Dad. Intinya, adalah berawal dari guru musik Lily di sekolah yang memainkan lagu paduan suara dengan piano saat Lily di kelas 1."

"Wow, Dad makin penasaran dengan proses kamu belajar. Sebentar," Harry beranjak dari tempat duduknya dan mengambil tongkatnya di atas meja.

Kini Harry duduk lebih tegak di ujung sofa, sedikit mengambil jarak dengan posisi ia meninggalkan Lily. "Dad, aku mau kau sihir jadi kodok?" Napas Lily tertahan saat Harry mengacungkan ujung tongkatnya mendekati ujung hidung mancung Lily. Lily memiliki hidung dan bibir Harry.

"Dad akan coba melakukan Legilimens ke kamu, Dad mau tahu apa yang kamu pikirkan saat mulai belajar piano." Jelas Harry. Ia menurunkan tongkatnya melihat Lily syok.

"Ta-tapi, tak akan jadi apa-apa, kan?"

"Tidak, sayang. Mungkin akan terasa sedikit sesak di awal, tapi kau tenang saja."

Tongkat Harry kembali siap. Lily sudah mengambil ancang-ancang memposisikan duduknya dengan nyaman. "Legilimens!" ucap Harry pada Lily. Gadis kecil itu berteriak saat ia merasakan ada sesuatu yang menerobos masuk ke pikirannya.

Lily membantu Harry memasak.. Lily dijemput Harry di sekolah.. Lily berlatih piano dan menulis lagunya.. Lily berkumpul dengan keluarga di café.. Lily dengan Kean.. Lily mendapat tepuk tangan dari penonton café.. Lily bernyanyi dengan bermain piano.. Lily bertemu Ms. Greyson.. Lily dilatih piano dengan guru di sekolah.. Lily memeluk Ginny di King's Cross sedih.. Lily mengejar burung.. Lily terpukau menatap Scorpius..

"Lily! Kau suka dengan Malfoy kecil itu?"

Harry berhenti membaca pikiran Lily. Ia melihat sesuatu yang aenh dengan putrinya itu. "Dad! Ahh.. aku hanya.. ee.. kaget saja lihat Scorpius," Lily tampak salah tingkah. Ia menegakkan duduknya yang sempat melorot ke bawah karena tekanan mantra Harry.

"Oke, hanya saja, tatapanmu seperti Mom saat terkejut melihat Dad ke dua kalinya, saat itu Dad di The Burrow. Dad ingat Dad baru masuk di tahun ke dua."

Harry mengingat wajah Ginny yang terkejut melihat ia sedang sarapan bersama saudara-saudaranya. Ginny yang hanya menggunakan pakaian tidur lantas melotot tak percaya ia bisa melihat Harry, pria pujaannya, sedang di rumahnya.

"Emm ahh..,"

"Oke, kita lanjutkan. Legilimens!"

"Tunggu!" Lily menahan tangan Harry yang mengacungkan tongkatnya untuk berhenti, namun terlambat. Mantra itu sudah bekerja, tapi..


"Kenapa berhenti? Lanjutkan mencuci piringmu, anak bodoh!"

"Daddy!" panggil Lily prihatin. Ia melihat Harry jauh lebih muda. Bahkan Lily menaksir usia Harry tak jauh dari usianya kini. Harry tampak kurus kecil dengan baju kebesaran. Tangan mungilnya sibuk membersihkan piring-piring kotor yang memenuhi tempat cuci piring.

Harry tampak menikmati pekerjaan mencuci piringnya dengan bentakan Uncle Vernon yang sedang menikmati acara televisi. Tv kecil di ruang tamu itu sedang menayangkan penampilan konser musik orchestra.

Lily mendengar alunan permainan piano dari TV. Ia teringat pernah memainkan instrument itu di sekolah. "Itu lagunya, Dad?" Lily berbisik pelan saat ia melihat Harry kecil menikmati alunan piano itu sambil tetap membersihkan piring.

Saat musik berganti lebih cepat ceria, Harry kecil mengulum senyuman. Pekerjaannya selesai. "Kalau sudah selesai jangan berdiri di situ saja. Kembali ke kamarmu. Temani tikus-tikus kecilmu itu, Potter!" Uncle Vernon lantas menyeret Harry dan melemparkan tubuh kurusnya masuk ke kamar sempit di bawah tangga.

Dengan mata kepalanya sendiri, Lily melihat ayahnya diseret masuk ke kamar sempit yang jauh dari apa yang pernah ia dan kakak-kakaknya bayangkan. Sekarang ia paham mengapa ayahnya tidak mau menuruti permintaannya mempunyai kamar di bawah tangga.

Dari balik lubang kamar Harry, Lily melihat ayahnya itu sedang memejamkan mata dengan raut menahan emosi. Wanita yang sedang bermain piano di TV tampak penuh emosi memainkan musiknya dengan tempo cepat.


"Cukup!" bentak Harry mengakhiri acara membaca pikirannya.

Harry terengah dan bersandar di tempat duduknya. Lily sudah melepaskan tangannya dari lengan Harry dan duduk bersandar di sofa. Napasnya masih memburu.

"Dad, kenapa Dad nggak cerita? Kenapa, Dad?" Lily mengeluarkan air matanya. Ia masih teringat dengan kondisi ayahnya saat kecil. Semua cerita itu memang benar, tapi.. Ron bahkan Harry sendiri tidak pernah menceritakan kisah sebenarnya.

Harry mendekati Lily yang menangis dan memeluknya sayang, "maafkan, Dad. Maaf, sayang. Dad hanya tak mau kau, Al dan James mengetahui masa-masa kelam Dad. Sudah cukup kalian tahu tentang kisah yang lain. Tidak saat-saat menyakitkan itu, Nak!" Suara Harry terdengar sedikit serak.

"Tapi, Dad..,"

"Dad bertekad, Dad tidak akan membuat hidup anak-anak Dad seperti Dad dulu. Nggak akan. Cukup Dad yang merasakan. Sekuat tenaga Dad dan Mom akan membuat hidup kalian bahagia. Bahagia, Sayang!"

Keduanya kini larut dalam haru. Sebagai seorang ayah, Harry berusaha melakukan apapun untuk membahagiakan keluarganya. Melindungi dan memberikan kenyamanan. Itu tugas Harry.

"Moonlight Sonata. Itu sebutannya, Dad!"

Mereka memisahkan diri. Harry menatap Lily bingug.

"Lagu itu. Piano Sonata no. 14 in c-sharp minor, op. 27, no. 2. Karyanya Beethoven, Dad. Memang, dari tiga perpindahannya memiliki makna yang dalam. Penuh emosi."

Harry masih tak percaya. Ia tahu musik yang ia dengar dan langsung membuatnya jatuh cinta itu rumit. "Moonlight Sonata?" tanya Harry balik.

"Iya, Dad. Itu salah satu karya Beethoven yang sangat terkenal. Aku akan mainkan untuk Dad." Lily beranjak dari duduknya dan menuju kursi pianonya. Lily tampak menarik napas panjang.

"Tapi, kamu tidak pakai lembaran..,"

"Aku sudah sangat mengingatnya di sini, Dad!" Tunjuk Lily pada kepalanya.

Saat Lily mulai memainkan jemari tangannya, pintu rumah terbuka dan muncullah Ginny dengan membawa berkas-berkas di apitan lengan kirinya. Ginny bingung melihat wajah Harry dan Lily sembab seperti baru saja menangis.

"Duduklah," pintanya pada Ginny. Suaranya pelan sekali.

Ginny sudah duduk di sisi Harry sambil menyiratkan ekspresi, 'ada apa?'

Enam menit pertama, Lily memainkan melodi penuh ekspresi. Lily seperti sedang meratapi sesuatu, ia mengingat bagimana ekspresi wajah Harry yang dibentak sambil sesekali melamun sedih. Tiga menit selanjutnya Lily bermain dengan melodi yang ceria. Ada jingkat-jingkat centil di permainan jarinya. Lily kembali mengingat ayahnya yang masih kecil mampu menyelesaikan tugas rumah yang berat dengan cekatan.

Masuk di lima menit terakhir, skill permainan piano Lily diuji. Permainannya cepat seolah jemarinya tidak bisa berhenti bergerak. Tergambar jelas, kemarahan ayahnya saat tubuh rapuh itu dibanting masuk ke kamar sempit di bawah tangga. Emosi, emosi itu terasa di permainan Lily.

Kurang lebih lima belas menit Moonlight Sonata berhasil terselesaikan.

"Lily bisa, kan, Dad!"

Harry berdiri menghampiri Lily yang masih duduk di depan pianonya. "Iya, Nak. Kau hebat! Dad bangga denganmu!" Ada sesenggukan tangis haru di antara keduanya.

"Lily juga bangga sama Dad!"

Ginny melihatnya takjub.

Lily sudah tertidur di kamarnya. Ginny sempat menemaninya hingga Lily benar-benar terlelap. "Ada apa, sih, Harry?"

"Lagi-lagi Lily memmbuatku bangga memilikinya. Aku tak bisa membayangkan suatu saat nanti ia akan jadi milik pria lain selain aku." Harry tersenyum.

Ada bekas air mata di wajah Harry. Ginny tahu itu.


Baiklah, ini chapter 9. Sedikit informasi ya, buat kalian yang pengen denger melodinya Ka'iulani bisa cari di Youtube atau kalian bisa beli di iTunes. Itu adalah karyanya Emily Bear (aku ngefans banget sama karya-karyanya) dia pianis modern yang masih muda (13 tahun). Kebanyakan imajinasi Lily main piano aku dapat dari Emily Bear. Nah kalau Moonlight Sonata, udah nggak asing lagi, kan, dengar nama Beethoven. Selain aku suka sama ketiga movementnya, Moonlight Sonata pas banget kalau aku sangkutin dengan keadaan emosi Harry waktu kecil.

Nah, bagaimana? Ditunggu chapter 10nya, ya! Thank you, - Anne ^_^