Stomachache 9

ChanBaek

T

.

.

.

Baekhyun sampai dirumah sakit sekitar 3 jam yang lalu, ia kembali membiarkan nasib buruk menyelimuti dirinya. Wajahnya nampak ditekuk dengan bibir yang sesekali menggerutu mendengar celotehan Yeri.

Kini ia tengah sibuk dengan ponselnya yang sangat ia syukuri sudah Full Charge, beruntunglah ia memiliki sebuah charger cadangan yang selalu ia letakan diloker ruangannya. Jadi ia tidak perlu terlalu repot dan mempasrahkan telingannya memanas hanya karena mendengarkan pembicaraan tidak penting dari Mama dan Yeri.

Jam sudah menunjukkan pukul 4 sore dimana seharusnya Chanyeol sudah menghubunginya, namun sampai sekarang lelaki itu tidak memberinya kabar sedikitpun. Membuat Baekhyun kebingungan tapi tidak berniat menghubungi lelaki itu terlebih dulu. Malu tentu saja.

"Setelah Yeri sembuh, ayo tinggal bersama Mama dan Baekkie"

Ah, sepertinya keduanya sudah bosan membahas Park Chanyeol. Baekhyun pun mengantongi ponselnya dan menghampiri Mamanya dan juga Yeri. Ia tersenyum pada gadis yang kini tengah memakan camilannya dengan santai.

"Kalau Yeri tinggal dengan Mama, kita bisa melakukan banyak hal bersama"

"Ah benar, kalian juga bisa seharian penuh membicarakan Park Chanyeol tanpa ada jeda"

"Ohiya benar, apalagi sepertinya dalam waktu dekat Baekkie akan menikah dengan Park Chanyeol."

"Apa-apaan itu Ma?"

Baekhyun mempoutkan bibirnya dengan perasaan kesal, apa-apaan dengan ucapan Mama-nya? Membuat dirinya merasa malu saja. Menjadi kekasih Chanyeol saja belum, apalagi menikah dengan lelaki itu? Baekhyun bahkan belum sempat memikirkannya.

"Aku tidak menikah dengan Chan- tunggu"

Baekhyun merogoh sakunya, sedikit tersenyum melihat ' Future Husband' tampil dilayar ponselnya, tanpa ragu ia menggeser ikon berwarna hijau disana. Mamanya dan Yeri yang melihat Baekhyun tersenyum malu-malu seperti itu hanya bungkam dan saling lirik, oh sepertinya mereka tengah berbincang melalui pikiran mereka.

"Kau sudah sampai? Sungguh?"

"..."

"Aku akan menjemputmu disana"

"..."

"Ne Yeollie~"

Sambungannya terputus, dan sebelum ia sempat mengembalikan ponselnya kedalam kantong ia mendapati Mamanya dan juga Yeri yang tengah menatapnya dengan senyum menggoda, Baekhyun yang mengetahui apa maksud senyuman itu nampak gugup. Matanya berkedip beberapa kali dan ia segera menjauh menuju pintu keluar sebelum Mamanya dan juga Yeri melontarkan pertanyaan padanya.

"Siapa itu Yeollie? Eum?"

Tuh, belum saja ia memegang pegangan pintu Mama-nya sudah bertanya seperti itu.

"Kenapa suaramu terdengar begitu menggemaskan saat menelepon si Yeollie itu?"

"M-mama"

"Yeollie itu Chef Park. Namanya Park Chanyeol dan Baekkie Oppa memanggilnya Chanyeollie atau Yeollie, sedangkan Chef Park memanggil Baekkie Oppa dengan panggilan Baekhyunnie atau Baekkie. Itu yang ku tahu"

"tutup mulutmu Yeri!"

Baekhyun bergumam pelan sebelum akhirnya ia menggeleng-gelengkan kepala pada Mamanya untuk tidak mempercayai apa yang sudah Yeri ucapkan. Ia menelan ludahnya kasar dan langsung saja membuka pintu berwarna putih itu dengan kasar, berniat untuk kabur yang mana malah membuatnya menabrak tubuh sese- itu Chanyeol.

Baekhyun memegangi dahinya dan segera menoleh malu-malu kearah Chanyeol yang menatapnya bingung. Lelaki itu terlihat sangat tampan dengan balutan kaos putih yang ditutupi kemeja kotak-kotak biru yang tak terkancingi, jangan lupakan juga jeans abu-abu yang ia kenakan dan juga senakers putih yang membuatnya terlihat sangat tampan.

"C-chef Park?"

Dua orang didekat ranjang itu membuka mata lebar-lebar, mulut keduanya bergumam merapal nama lelaki tampan yang kini berdiri diambang pintu. Chanyeol hanya tersenyum dan membungkuk hormat kepada Mama Byun sebelum Baekhyun dengan ragu-ragu mengajaknya untuk masuk kedalam.

"Hai Yeri. Dan, hai ahjumma"

Perasaan Baekhyun saja atau memang secara tiba-tiba suasana didalam ruangan itu menjadi sedikit canggung, ia menatap Mamanya yang sedikit kebingungan sebelum ia mempersilahkan Chanyeol duduk dikursi kosong yang ada dihadapannya.

"Jadi Yeri, bagaimana kabarmu?"

Chanyeol membuka suaranya untuk mengusir hawa gugup diantara mereka, ia hanya tak ingin diawal pertemuannya dengan Mama Byun menjadi sangat akward dan tidak menyenangkan.

Gadis manis itu hanya tersenyum manis dan mengatakan 'baik-baik saja' dengan nada suaranya yang terdengar sangat menggemaskan. Baekhyun yang berada dibelakang Chanyeol hanya menggerutu, sedikit menunjukkan ekspresi muak-nya pada Yeri yang kini tengah merona bagaikan orang bodoh.

"Ah, aku punya ini untukmu"

"Coklat!"

Yeri memekik senang, tanpa rasa malu gadis itu langsung merebut coklat ditangan Chanyeol. Sungguh, kalau saja Chanyeol tidak ada disini pasti Baekhyun sudah memaki tingkah bar-bar anak itu. Lihat saja nanti.

"Ohiya, dan ini untuk ahjumma"

"Tidak usah repot-repot Chanyeol"

"Tak apa, tadi Baekhyun mengatakan padaku kalau anda menjenguk Yeri juga. Jadi tadi sebelum kesini aku menyempatkan untuk membeli ini"

"Kalau begitu terimakasih Chanyeol"

Mama Byun nampak sangat senang menerima sebucket besar bunga dari Chanyeol. Ia tersenyum dan mengusak dengan lembut rambut Chanyeol seperti ia mengusak helaian rambut anaknya sendiri. Sekali lagi Baekhyun merasa jengah melihatnya, harusnya tadi ia tidak perlu mengizinkan Chanyeol untuk mampir kerumah sakit kalau tahu seperti ini akhirnya.

Ketiganya nampak asik berbincang tanpa ada yang memperdulikan Baekhyun, lelaki manis itu sudah menggerutu berkali-kali dan tetap diabaikan oleh ketiganya. Mereka malah asik tertawa dan terus berbincang, entah itu Mamanya yang menjelek-jelekan Baekhyun atau cerita masa kecil Chanyeol yang membuat Ketiganya terus-terusan tertawa.

Sebenarnya bisa saja Baekhyun bergabung disana, namun ia bukanlah orang yang senang mencampuri pembicaraan orang. Ia hanya takut ia tidak mengerti apa yang tengah diperbincangkan orang-orang itu. Akhirnya pun ia hanya memilih untuk duduk kembali disofa besar sambil memperhatikan ketiganya berbincang.

Lama terlarut dengan perasaan kesalnya, ia jadi mengantuk. Ia sudah bosan memperhatikan orang-orang itu. ketika Mamanya dan Yeri asik sendiri dengan dunianya dan mulai mengabaikan Chanyeol, lelaki itu menghampirinya dan bersimpuh dihadapan Baekhyun. Memegangi lutut Baekhyun dengan senyum lebar yang terukir dibibirnya.

Baekhyun tak berniat, ia masih menyenderkan tubuhnya disofa besar itu sampai tangan Chanyeol menarik tangannya agar ia duduk dengan benar. Agar lelaki itu bisa menatap wajah Baekhyun yang tengah merajuk, agar ia bisa melihat bagaimana bibir tipis Baekhyun yang tengah dipoutkan.

"Merajuk?"

Baekhyun menatap lelaki itu tanpa menjawab, matanya melirik kedua tangannya yang digenggam oleh Chanyeol, ada sedikit rona diwajahnya. Dadanya terasa bergemuruh melihat Chanyeol yang tengah tersenyum sangat tampan seperti saat ini. Beruntunglah Mamanya dan juga Yeri yang sepertinya masih sibuk dengan perbincangan mereka. Bisa malu Baekhyun kalau kedua wanita itu mengetahui Park Chanyeol tengah bersimpuh dihadapannya dengan tangan mereka yang saling bertautan.

"Kau sangat menggemaskan ketika merajuk"

"..."

"Wajahmu memerah"

"..."

"Aku jadi ingin mencium bibirmu Baek"

"Y-Yak!"

Baekhyun memekik tertahan dan tersenyum mendengar pernyataan Chanyeol yang terakhir, lelaki itu tertawa tanpa suara diikuti oleh Baekhyun yang hanya bisa senyum malu-malu dengan wajahnya yang sudah memerah.

Kerutan halus muncul dikening Baekhyun ketika tiba-tiba saja Chanyeol melepaskan tangannya, lelaki itu nampak merogoh sakunya dengan susah payah. Baekhyun yang melihatnya sedikit tidak mengerti dengan apa yang dilakukan lelaki itu.

"Ah, aku menemukannya"

Baekhyun menatapnya bingung, masih tak mengerti kenapa Chanyeol memekik senang secara tiba-tiba.

"Baek"

"Ne?"

Chanyeol masih tersenyum dan membuka sebuah kotak beludru berwarna biru dihadapan Baekhyun. Lelaki manis itu hanya diam dan berusaha memikirkan apa yang sebenarnya ingin Chanyeol lakukan, ia menatap Chanyeol didepannya lekat-lekat, menunggu lelaki itu menjelaskan apa maksud semua ini.

"Maukah kau menerimanya?"

Baekhyun kini melihatnya, sebuah cincin berwarna perak dengan garis hitam ditengahnya yang mengelilingi cincin itu. Sama seperti yang Chanyeol kenakan dijemari lelaki itu.

"Apa maksudnya Chanyeol?"

"Aku hanya ingin memberikanmu ini sebagai tanda kalau kau adalah miliku"

"Y-yeol"

"Biarpun kau belum membalas perasaanku, setidaknya cincin ini bisa mengingatkan dirimu bahwa aku selalu menantimu. Kau mau menerimanya?"

"Tidak"

Baekhyun menggelengkan kepalanya dan memejamkan matanya tapi tangan kirinya ia majukan kehadapan Chanyeol. Ia menggerakan jarinya dan membuat Chanyeol tak bisa menahan rasa gemasnya pada lelaki pecinta strawberry itu.

Chanyeol menggelengkan kepalanya dan segera mengambil cincin dari kotak itu, meraih tangan Baekhyun dan melesakan cincin itu dijari manis Baekhyun. Ia mengecup tangan Baekhyun setelahnya, membuat mata puppy yang tadi terpejam kini terbuka dan menatap mata Chanyeol dengan pandangan berbinar.

"Aku mencintaimu Baekkie"

"Aku sudah tahu hihi"

Tanpa Baekhyun ketahui disebrang sana Mama dan juga adiknya tengah senyum-senyum melihat adegan manis yang baru saja berlangsung antara dirinya dan juga Park Chanyeol.

.

.

.

"Aku tak percaya Yeri mau tinggal bersamaku dan juga Mama"

"Kau senang?"

"Sangat senang. Dengan begitu Mama tidak akan kesepian saat aku tinggal bekerja, dan juga rumahku yang hening pasti akan sangat ramai ketika Yeri sudah tinggal bersama kami"

Chanyeol hanya tersenyum mendengar Baekhyun terus-terus berceloteh mengenai betapa tak percayanya ia kalau Yeri benar-benar mau tinggal dirumahnya. Dengan iming-iming Chanyeol yang akan menjenguknya sering-sering dirumah Baekhyun tanpa berpikir panjang anak manis itu langsung menerima tawaran Mama Byun.

"Apa masih jauh?"

Baekhyun mengintip dari kaca mobil Chanyeol, memperhatikan jalanan sore yang masih terlihat beberapa kendaraan melintas berlawanan arah dengan mobil yang mereka naiki. Tadi ketika Baekhyun dan Mamanya hendak pulang dari menjenguk Yeri, dengan tiba-tiba Chanyeol langsung menarik Baekhyun dan meminta izin pada Mama Byun untuk mengajak anaknya bermain.

Dengan antusias Baekhyun memohon pada Mamanya, wajahnya ia buat semenggemaskan mungkin yang hanya membuat mamanya gemas. Akhirnya karena melihat Baekhyun yang sangat bersemangat itu Mama Byun mengizinkan, asal jangan pulang terlalu malam katanya. Tentu saja Baekhyun dan Chanyeol menyanggupi, lagipula mereka hanya akan betmain-main sebentar. Tidak akan membutuhkan waktu yang lama.

"Sampai"

Mata Baekhyun membulat dengan binar cantik yang terlontar, mulutnya bergumam 'Wow' berkali-kali melihat hamparan luas rerumputan yang dihiasi banyak bunga berwarna kuning. Chanyeol yang melihat calon kekasihnya itu sangat menggemaskan karena terkagum-kagum oleh pemandangan dihadapannya hanya tersenyum dan segera turun dari mobilnya, berlari menuju Baekhyun dan membukakan pintu itu untuk sang tuan putri. Membuat Baekhyun merona malu diperlakukan seperti itu, namun ia tetap turun dari mobil sambil menggumamkan terimakasih dengan gayanya yang menggemaskan.

"Ah, aku ada satu kejutan lagi untukmu!"

Baekhyun mengedipkan matanya beberapa kali, belum sempat ia berpikir untuk mencerna ucapan Chanyeol, tangannya sudah ditarik dan memaksanya untuk ikut berlari bersama Chanyeol dengan senyum manis yang mengembang lebar. Sesekali Baekhyun dapati Chanyeol menoleh kearahnya dengan senyum mengembang, membuatnya mau tak mau karena ia memang ingin pun ikut tersenyum lebar.

Keduanya telah sampai ditengah-tengah ladang rumput itu, Baekhyun menoleh kearah belakangnya dan ia dapat melihat betapa jauhnya ia dan Chanyeol berlari barusan. Gelak tawa terdengar ketika keduanya sibuk mengatur nafas masing-masing, Baekhyun mengangkat tubuhnya yang sebelumnya bertumpu pada kedua tangannya.

"Indah sekali"

Baekhyun bergumam pelan ketika menyadari dirinya tengah dikelilingi oleh banyak bunga berwarna kuning itu. Ia lihat banyak burung beterbangan tepat diatas kepalanya, memaksa dirinya kembali untuk bergumam 'Wow' atas rasa kagum yang ia dapati.

"Kau menyukainya?"

Baekhyun mengalihkan fokusnya pada lelaki yang kini jaraknya hanya sejengkal darinya, kepalanya mengangguk antusias dengan jemarinya yang sudah menunjuk kearah burung-burung yang masih beterbangan. Menunjukan pada lelaki yang lebih tinggi mengenai hal menarik yang mencuri perhatiannya ditempat itu.

"Aku suka melihat burung-burung itu terbang bersama. Sangat indah"

"Kau jauh lebih indah!"

Kembali perhatiannya jatuh pada Chanyeol, ditatapnya penuh tanda tanya lelaki yang kini tengah tersenyum sangat tampan dengan tangannya yang tiba-tiba menggenggam kedua tangan Baekhyun.

"C-chanyeol"

"Kau suka piknik?"

"Suka"

Dengan antusias Baekhyun memekik, menunjukan deretan giginya yang rapi pada Chanyeol ketika ia tersenyum. Gemas, Chanyeol mengusak rambut anak itu, sebelum ia menyingkir dari tempatnya berdiri karena ia ingin menunjukkan sebuah tikar kotak-kotak merah dan juga sekeranjang penuh makanan yang sudah ia siapkan terlebih dahulu untuk kencannya kali ini.

"Chanyeol? Kau menyiapkan ini semua?"

"Ne, hanya untukmu!"

"Manis sekali~"

Baekhyun memeluk Chanyeol, menggoyang-goyangkan pelukannya yang mana hanya dibalas pelukan yang tak kalah erat oleh Chanyeol.

"Aku ingin melihat-lihat dulu boleh tidak?"

"Lalu piknik-nya?"

"Aku ingin melihat-lihat~ aku tidak akan lama"

"Yasudah, tapi jangan jauh-jauh! Aku akan menyiapkan makanannya"

"Ne Yeollie~"

Pelukan keduannya pun terlepas, dengan wajah berseri-seri Baekhyun berlari meninggalkan Chanyeol. Menghampiri kumpulan bunga yang tengah disinggahi banyak kupu-kupu. Senyumnya makin merekah ketika kupu-kupu yang tengah singgah dibunga-bunga beterbangan tepat dihadapannya. Ia menyukainnya, sangat menggemaskan pikirnya.

"Baek!"

"Yeollie!"

Baekhyun yang tengah mengabadikan beberapa moment dengan ponselnya itu menoleh sebelum akhirnya meneriakan nama lelaki tinggi disebrang sana yang juga tengah tersenyum dengan sangat tampan kepadanya.

Bekhyun tak bohong kalau sepertinya ia menyukai Chanyeol, ia mencintai lelaki itu. Bagaimana Chanyeol memperlakukannya dengan penuh perhatian dan juga bagaimana lelaki itu tersenyum padanya. Senyumnya menangkan, dan Baekhyun tahu kalau hanya ialah satu-satunya alasan dibalik senyum mengaggumkan Park Chanyeol.

Ia berlari cepat, Chanyeol masih berdiri ditempatnya memperhatikan. Dan saat hanya tinggal beberapa langkah lagi tiba-tiba saja Chanyeol membelalakan matanya, didepan sana Baekhyun sudah bersiap untuk melompat kedalam pelukannya.

Dan Hap!

Dokter manis itu sudah ada didalam gendongan Park Chanyeol dengan kakinya yang sudah melingkar pula dipinggang lelaki tampan itu. Keningnya ia tempelkan dengan kening Chanyeol yang mana membuat wajahnya merona secara tiba-tiba, ia sungguh tak bermaksud untuk berbuat seperti ini, tapi ia malah melakukannya.

"Aku mencintaimu!"

Akhirnya, setelah berhari-hari menahan diri untuk tidak melahap bibir tipis kissable milik Baekhyun, Chanyeol pun mendapatkannya. Ia tatap dalam mata terkejut Baekhyun tanpa melepaskan ciumannya. Ia sadari wajah Baekhyun merona saat itu, tubuh mungil didalam gendongannya tampak menegang karena kaget dengan ciuman dadakan yang diberikan Chanyeol.

"Ughh, panas sekali disini!"

Baekhyun cepat-cepat menarik kepalanya menjauh dari Chanyeol, turun dari gendongan lelaki tampan itu dan segera duduk ditikar yang sudah disiapkan Chanyeol. Wajahnya masih sangat merah dan ia hanya mengalihkan pandangannya ketika Chanyeol mulai duduk disisinya sambil memperhatikan.

Baekhyun mengibaskan tangannya didepan wajah beberapa kali, berusaha mengusir hawa panas yang entah kenapa hanya ia rasakan disekitar wajahnya saja. Chanyeol yang melihatnya hanya tersenyum, menyubit pipi anak itu gemas sebelum mengambil sepiring penuh cupcakes dan juga sepiring penuh buah-buahan.

"Kau ingin?"

"C-cupcake?"

"Ne, kau bilang kau suka Strawberry. Aku membuatnya bertabur topping strawberry untukmu"

"C-chanyeol~"

Diambilnya sebuah cupcakes dengan krim berwarna merah muda dan juga biru yang ditaburi dengan permen-permen kecil. Membandingkan kue mangkuk itu dengan wajahnya yang ia pasang menggemaskan dengan mata terpejam dan bibir tersenyun lebar yang mana membuat Chanyeol kembali tersenyum.

"Kau tetap jauh lebih menggemaskan sayang"

"A-ah itu... A-aku akan mengabadikan ini semua. Bolehkan...sayang?"

"Tentu. Apa yang tidak untuk istriku ini?"

"No no, CA-LON!"

"Baiklah, CA-LON! Itu artinya kau bersedia menerima lamaranku kan?"

Baekhyun mengangkat bahunya acuh, mengeluarkan ponsel yang sudah ia kantungi dan mengambil beberapa foto bersama bayi-bayi cupcakes-nya.

"Ini anak pertamaku, yang ini anak kedua, yang ini ketiga, dan yang in-"

"Berhentilah menghitung cupcakes-nya sayang"

"Kalian dengar? Chef Park memanggilku sayang lagi"

Baekhyun mempoutkan bibirnya kesal sambil berbicara kearah kamera ponselnya. Ya, ia berinisiatif membuat video-nya dengan Chanyeol sampai acara piknik mereka selesai. Dan baru saja Baekhyun memulainya, diawali dengan sambutan manis bersama Cupcakes pinkyblue yang sudah ia anggap sebagai anak pertamanya. Ah, ingatkah kalian pada cupcakes pertama yang Baekhyun ambil dari piring? Ia menamainya pinkyblue karena warna krim diatasnya.

"Hari ini, aku tak tahu apa nama tempat ini. Berterimakasihlah pada Chef Park yang sudah membawaku ketempat seindah ini hehe. Terimakasih sayangku~"

"Kau juga memanggilku sayang"

"Ini hanya bercanda Yeollie"

"Kenapa tidak dibuat serius saja?"

Chanyeol kini ikut berbaring disisi Baekhyun, mencuri sebuah kecupan dipipi pasangannya yang hanya dihadiahi rolling eyes oleh Baekhyun.

Keduanya berbaring berdampingan dengan Chanyeol yang kini fokus pada kamera ponsel Baekhyun pula. Lelaki manis itu sibuk berceloteh sambil memperkenalkan cupcakes Chanyeol kepada kameranya. Menceritakan apapun seperti ia yang diajak berlari sangat jauh bahkan sampai Chanyeol yang menyiapkan piknik untuk keduanya.

Diliriknya Chanyeol yang hanya mengangguk sambil menghabiskan sepiring strawberry yang awalnya Baekhyun sediakan hanya untuknya. Beberapa detik kemudian, ketika Chanyeol menyadari bahwa Baekhyun tak henti menatapnya ia menoleh. Mendapati wajah sedih calon kekasihnya itu tengah menatapnya dengan tajam.

"Kenapa kau menghabiskannya?"

"A-aku... Aku lupa"

"Kau...hanya aku yang boleh memakan strawberry-ku!"

"Nanti akan kubelikan lagi ne?"

Satu kecupan berhasil Chanyeol curi dipipi Chubby Baekhyun, membuat anak itu menggerutu sebelum akhirnya ia memutuskan untuk kembali pada video recordingnya.

"Ah, Chanyeollie?"

"Hn?"

"Apa hal yang paling kau inginkah saat ini?"

"Memangnya kenapa? Kau akan mengabulkan keinginanku?"

Dengan sangat menggemaskan Baekhyun menggeleng, mengikuti Chanyeol yang sudah berbaring mengahadap langit sore disana. Tanpa meminta izin terlebih dahulu Baekhyun langsung menjadikan lengan Chanyeol sebagai bantalnya, ia perhatikan wajah Chanyeol yang tengah berpikir dengan sebelah tangannya yang masih setia memegangi ponsel.

"Kau tidak lelah memegangi ponselmu seperti itu?"

"Sedikit"

"Letakan saja"

"Ani. Aku kan ingin merekam semua kegiatan kita hari ini."

"Tapi Baek, kau pas- Baiklah, tersrerah kau saja"

"Jadi apa keinginanmu?"

Chanyeol menyerah, Baekhyun baru saja mengecup pipinya dan kemudian menunjukan wajah memohon yang sangat menggemaskan. Chanyeol tak kuasa melihatnya, dan dibiarkanlah si manis Byun itu kembali sibuk dengan video-nya.

Disaat Baekhyun terus berceloteh ria mengenai Chanyeol yang selalu mengejutkannya Chanyeol kembali mencium pipinya, dipeluk erat tubuh lelaki itu sambil menenggelamkan wajahnya diperpotongan leher Baekhyun. Membuat anak manis itu menggeliat geli dan pada akhirnya hanya bisa tertawa senang.

"Aku hanya menginginkanmu menjadi istriku!"

"Lihatlah seberapa manjanya dia"

"Kau tidak suka?"

"Dan kau marah aku bilang begitu?"

"Tentu saja. Kau kan istriku Baek, tapi kau terus-terusan mengatakan ka-"

"CA-LON!"

"Baiklah terserahmu saja!"

Tanpa Baekhyun ketahui Chanyeol baru saja tersenyum ketika lelaki tampan itu kembali menyembunyikan wajahnya dileher Baekhyun. Ia sempat berpikir lelaki tampan itu marah padanya, tapi kenapa? Apa salah Baekhyun? Memang benar kan kalau mereka bahkan belum menjadi sepasang kekasih.

Merasa tak ingin repot dengan Chanyeol, Baekhyun mulai kembali berbicara. Menunjukan pada kameranya Cincin perak pemberian Chanyeol yang kembali dihadiahi tawa tanpa suara oleh Chanyeol.

"Dia seperti melamarku, tapi...dia tidak sungguh-sungguh melamarku"

Ada nada sedih setelahnya, membuat Chanyeol yang mendengarnya menyerngit bingung dan pada akhirnya kembali menjauhkan wajahnya dari leher Baekhyun agar dapat melihat wajah menggemaskan lelaki itu.

"Kau sungguh ingin ku lamar?"

"C-chanyeol!"

"Serius Baek, kalau kau mau aku akan melamarmu sekarang juga"

"T-tidak Yeol, sudah jauhkan wajahmu dariku!"

Baekhyun mendorong perlahan kening Chanyeol dengan jari telunjuknya, berusaha menjauh dari lelaki tampan itu karena sekarang ia yakin wajahnya sangat memerah menahan malu.

Matanya melirik kesana kemari menghindari tatapan Chanyeol, malah membuatnya terlihat makin menggemaskan dimata Park Chanyeol. Sungguh, Chanyeol tak akan pernah melepaskan Byun Baekhyun setelah ini. Bahkan kalau perlu ia menunggu, ia akan menunggu sampai kapanpun agar lelaki manis ini menjadi miliknya.

"Aku...sangat sangat sangat mencintaimu! Byun...Baekhyun"

Bibir itu pun kembali bersatu, dengan cekatan Chanyeol mengambil alih ponsel Baekhyun. Menyandarkan ponsel itu pada keranjang anyam miliknya dan melupakan fakta bahwa ponsel Baekhyun masih dalam mode merekam.

Awalnya Baekhyun memang terkejut, Chanyeol pun hanya diam untuk beberapa saat dan hanya menempelkan bibirnya. Merasakan Baekhyun tak menolaknya, Chanyeol mulai menggerakan bibirnya, matanya terpejam secara spontan yang langsung diikuti oleh Baekhyun sendiri.

Keduanya saling menghisap didalam kelembutan dengan Chanyeol yang menjadi dominan. Tangan Baekhyun sudah mengalung dengan indah dileher Chanyeol sambil sesekali bergerak menekan tengkuk Calon kekasihnya.

Chanyeol tersenyum dalam ciumannya, Baekhyun pun demikian. Dengan perlahan Chanyeol menyudahinya, mengelap sedikit lelehan saliva dibibir Baekhyun dan kemudian beralih menatap wajah anak manis dibawahnya.

Mata Baekhyun terbuka secara perlahan, mendapati wajah tampan Chanyeol langsung menyambutnya pertama kali ketika ia membuka matanya. Senyum keduanya terlontar dan tangan Baekhyun pun tergerak untuk menyentuh bibir Chanyeol yang masih sedikit basah.

Lama saling tatap tanpa kata-kata, Baekhyun pun akhirnya menyadari kalau ponselnya berbunyi. Harusnya ia mematikan ponsel itu agar tidak mengganggunya dengan Chanyeol. Jujur ia menyukai ciuman Chanyeol, terasa sangat lembut dan romantis. Baekhyun saja menikmatinya sampai ia merasa menginginkannya lagi.

Baekhyun pun menyingkirkan tubuh Chanyeol dari atasnya, dengan gugup ia langsung mengambil ponselnya yang sudah tidak merekam karena adanya panggilan masuk. Ia berdeham sekali sebelum akhirnya menggeser ikon hijau diponselnya.

"N-ne Ma?"

"..."

"A-aku tidak gugup. Ada apa?"

"..."

"N-ne...aku masih bersama Yeo- Chef Park. Kenapa?"

"..."

"Baiklah, aku akan kerumah sakit sekarang"

Baekhyun memutus sambungan ponselnya, menggerutu sedikit sebelum menyadari kalau Chanyeol terus-terus memperhatikannya. Ia hanya tersenyum walau nyatanya ia masih gugup gara-gara ciuman tadi.

"J-jangan menatapku terus Yeollie~"

"Kenapa?"

"Tentu saja Baekkie malu!"

"Ada apa dengan Mama? Ada sesuatu yang salah?"

"Ah tidak, ia memintaku kembali kerumah sakit karena tas-nya tertinggal"

"Ingin pergi sekarang?"

"Apa...tak apa?"

"Hn, aku akan mengantarmu. Lagipula ini sudah hampir gelap."

"Ne, maafkan aku mengganggu piknik ini. Lain kali kita lakukan lagi dan aku berjanji akan melayanimu dengan baik"

"Aku menunggunya"

Dengan perasaan sedikit bersalah Baekhyun pun mendekat ke Chanyeol, memberikan lelaki itu kecupan singkat dibibir dan juga pipinya sebelum ia bangkit karena mereka harus merapikan barang-barang piknik mereka.

.

.

.

"Kau belum tidur?"

"Ini masih pukul 8 dan kau sudah memaksaku tidur? Bagaimana kencanmu Oppa?"

"Yak! Anak kecil tidak perlu tahu! Lagipula aku tidak kencan."

Baekhyun mengelak dan Yeri terus-terusan saja menggodanya. Chanyeol tersenyum melihatnya. Mereka baru saja sampai setelah Chanyeol mengendarai mobilnya dengan perlahan, membuat Baekhyun sangat kesal karena didalam perjalanan Chanyeol terus saja menghentikan mobilnya hanya untuk mengatakan 'Aku mencintaimu!' Walaupun merasa senang tetap saja Baekhyun kesal karena apa yang Chanyeol lakukan sangatlah berbahaya. Bagaimana kalau saat lelaki itu berhenti mendadak ada mobil dibelakangnya? Baekhyun tak habis pikir dengan lelaki itu.

"Kau ingin cupcakes sayang?"

Yeri yang tengah menggoda Baekhyun menoleh segera ketika Chanyeol menyodorkannya dua buah cupcake. Barkhyun yang melihatnya membelalak, bukan karena Chanyeol memanggil Yeri dengan manis. Tapi karena satu dari dua cupcake itu adalah anaknya. Baekhyun belum sempat memakan pinkyblue tadi karena ia terlalu sibuk dengan kameranya.

"Apapun asal jangan yang ini."

"B-baekkie?"

"Ini anakku Yeollie~"

"Kau melahirkan saat kencan?"

Kini Yeri yang bersuara, membuat wajah Baekhyun merona tiba-tiba. Chanyeol pun demikian, ia jauhkan si pinkyblue dari Yeri dengan wajah memerah. Apa-apaan dengan ucapan anak kecil itu? Membuatnya jadi salah tingkah didepan Baekhyun.

"Aku masih punya banyak dikeranjang itu. Kau pilih saja sesukamu"

"Ne Chef"

"I-ini anakmu"

Chanyeol memberikan pinkyblue pada Baekhyun akhirnya, dapat ia sadari wajah anak itu yang merona malu. Tanpa berkata-kata lagi Baekhyun segera berbalik memunggungi Chanyeol, memberikan ponselnya pada Yeri karena anak itu meminjamnya untuk mengambil gambar.

"Memangnya ponselmu mana?"

"Baterainya habis. Aku pinjam sebentar"

Gerutuan kecil Baekhyun berikan pada anak manis itu. Ia pun kembali menatap pinkyblue-nya sebelum akhirnya ia mendapati Chanyeol sudah kembali berhadapan dengannya.

"Makanlah. Sampai kapan kau akan melihatnya saja seperti itu?"

"Tidak mau"

"Aku akan membuat yang sama persis dengan itu nanti. Sekarang makan saja"

"Janji?"

"Ten-"

"Whoah Daebak! Apa yang kau lakukan dengan Chef Park diladang itu Oppa? Kalian sepertinya sangat sen- t-tunggu...kalian...b-ber...b-berciuman?"

Sial.

Baekhyun lupa kalau ia tadi merekam kegiatannya dengan Chanyeol, bahkan saat mereka berciuman. Baekhyun sungguh lupa, harusnya ia mematikan ponselnya ketika berciuman tadi, salahkan saja Chanyeol yang langsung merebut ponselnya.

Berdoalah pada tuhan Yeri tidak akan marah padamu Baek, semoga anak itu tidak berpikiran macam-macam karena Oppa yang ia sayang, yang ia anggap sangat manis dan menggemaskan sudah berciuman dengan Chef Park, si tampan yang menjadi idolanya.

"Y-yeri a-aku bisa jelaskan. Ta-tapi tolong jangan katakan pada Mama!"

"K-kalian? Sungguh?"

"Y-yeri! A-aku akan m-memberimu apapun asal-"

"Kami memutuskan untuk menikah setelah ini"

Dan Yeri pun menjatuhkan Cupcake-nya sambil menatap dua orang dewasa dihadapannya dengan mata membelalak terkejut.

TBC

Annyeong~

Hayooo ada yang nungguin ini ff ga? Hehe

Cuma mau bilang I Love You All ke semua readers^^

Review Juseyooooo~