Dia datang padaku seperti ;
Hujan yang turun saat aku tidak membawa payung.
Dia membuatku harus berteduh,
Dari segala rintik dan dinginnya.
Dia membuatku mengutuknya,
Mendorongnya, memarahinya, lantas mengeluarkan amarahku padanya,
Dia datang padaku seperti hujan.
Tapi perlahan, seperti bocah bodoh.
Aku baru menyadari bahwa aku menyukai hujan ini,
Sedalam hujan itu mencintaiku.
Aku mencintai Byun Baekhyun, setelah sebelumnya aku mengutuknya ke neraka.
Why Should I
Bagian kedelapan
Chanyeol : Sirius
"Chanyeol."
Aku menoleh, menemukan Yejin melambai padaku dengan riang. Aku merasa bersalah padanya karena nyatanya aku tidak seantusias itu bertemu dengannya.
Karena aku memikirkan seseorang yang lain.
".. Kau datang lebih cepat."
"Aku tidak ingin kau menunggu, Oppa."
Pembicaraan kami terhenti karena getaran di ponselku.
Aku melirik display name yang muncul, ternyata itu Kai. Aku mengabaikannya dan mematikan ponselku sebelum menaruhnya di atas meja.
"Jadi, kau sibuk belakangan?"
"Ah, tidak juga." Yejin tersenyum, ia merapihkan rambutnya ke belakang sehingga poni coklatnya yang menjuntai bersembunyi di belakang kepalanya.
Melihat itu, aku jadi mengingat dia ; Byun Baekhyun.
Pernah suatu kali, dia mewarnai rambutnya menjadi coklat juga. Dia menatapku dengan tatapan bersemu setiap hari dan sialnya saat itu, aku benar benar tidak mengerti mengapa dia menatapku seperti seekor anak anjing setiap hari.
Dia ingin aku menyadari bahwa dia mengubah warna rambutnya. Sehingga dia memegang rambutnya dengan sengaja beberapa kali. Tapi saat itu, aku bahkan tidak sadar bahwa dia lebih menyukai es krim strawberry daripada vanilla.
"Chanyeol?"
Aku tersentak. Menatap Yejin dengan terkejut.
"Apakah kau sedang memikirkan sesuatu?"
Ya. "Tidak."
Senyumnya yang cantik merekah lagi, "Kalau begitu, bagaimana jika kau memilih poster film nya sekarang?"
...
Sudah sangat larut ketika kami selesai menonton.
Aku mengendap-ngendap seperti sedang melakukan pencurian di dorm ku sendiri—aku melakukannya karena tidak ingin mereka semua terbangun. Ketika aku sampai di depan pintu kamar, anehnya, seluruh rasa lelah di tubuhku menghilang hanya karena melihat Byun Baekhyun duduk di pinggir kasur.
Dia, entah sejak kapan dia menjadi power recharge bagiku.
"Ekhm."
Byun Baekhyun terkejut, tapi dia mengendalikan ekspresinya dengan baik. Ia tersenyum dan duduk lebih dalam ke kasurnya, tidak menatapku lagi.
Padahal aku ingin bertanya mengapa dia melamun.
"Kau sudah makan?"
Baekhyun tersentak, ia mendongakkan kepalanya dan menatapku dengan raut yang sama ;
"Sudah."
"Oh.." Aku menelan ludah karena rasanya canggung sekali, ".. Begitu."
"Ya." Dia melempar senyum lagi, kembali menatap sepatunya—seakan sepasang sepatu itu lebih tampan dariku.
"Bagaimana perutmu?" Aku menaruh jaket di gantungan pintu dan berjalan masuk, "Kudengar dari Suho kau mengunjungi dokter beberapa hari lalu."
"Ya.." Baekhyun berbisik, "Semua baik."
Baguslah, "Kau harus menjaga kesehatanmu."
Baekhyun tidak menjawab, dia hanya mengulum senyumannya.
Aku melepaskan kemeja yang kupakai seharian dan duduk di pinggir kasur, sehingga sekarang kami berhadapan. Sesungguhnya aku merencanakan untuk membicarakan hal hal menarik padanya, namun segala topik yang sudah kususun di dalam otak buyar sekaligus ketika aku menemukan bercak bercak lembam di sekujur lengannya.
Lebih banyak dari yang terakhir kali.
Terlihat seperti, lembam merah-biru itu berasal dari tali dan bekas cengkraman tangan.
Aku meraih lengannya, ".. Mengapa kau masih memiliki memar ini?" Tanyaku, "Ini bahkan lebih banyak dari yang terakhir kali."
Baekhyun terkejut, menatapku panik dan berusaha melepaskan tangannya.
"Jawab aku." Aku mencengkram pergelangan tangannya dengan lebih erat, "Siapa yang melakukan ini padamu?"
"Chanyeol, lepaskan."
"Tidak, kau harus menjelaskannya terlebih dahulu kepadaku."
"Mengapa aku harus menjelaskan sesuatu padamu?" Byun Baekhyun bergetar saat mengucapkan itu, "Ini adalah lukaku, bukan lukamu! "
Aku tersentak saat dia menyentakkan tangannya dari cengkramanku. Lantas dia menyembunyikan tangannya di balik gendongan lengannya dan menunduk.
Terlihat seperti dia dipenuhi malu. Aku tidak mengerti mengapa.
"Baiklah." Aku menyerah, "Berhati hatilah, lain kali."
Baekhyun masih menunduk bahkan ketika aku sudah tidur di atas kasurku. Beberapa jam setelahnya—aku tidak bisa tertidur, jadi aku berpura pura melakukannya, aku mendengar suara tangis dari kamar mandi.
Baekhyun, aku tidak mengerti. Aku sudah berhenti menyakitimu, jadi sekarang siapa?
Siapa yang membuatmu hancur seperti ini..
... Selain aku?
...
"Chanyeol Oppa!"
"Oppa! Lihat kemari!"
"Kau sangat tampan!"
Aku tersenyum dan mereka semua kembali menjerit. Di atas panggung, Suho dan kami berdiri di hadapan mereka ; penggemar kami. Mereka membawa banner yang tinggi, beberapa dari mereka bertuliskan "CHANBAEK"
Tapi banner dengan tulisan itu, lebih sedikit dari terakhir kali.
Aku menunduk, bertanya tanya sejak kapan aku nyaman dengan namaku dan Baekhyun yang di satukan? Tidak menemukan jawaban di antara deru nafasku, aku akhirnya melirik dia ; Baekhyun. Dia terdiam di pinggir barisan, menatap tutup botol dan termenung seperti tidak memiliki pikiran.
Aku ingin tahu apa yang menganggu pikirannya.
Tapi mengetahui bahwa itu semua akan sia sia, aku mendengus. Baekhyun menoleh padaku karena sepertinya hembusan nafasku terdengar lewat microphone ; dia tersenyum padaku bersamaan dengan member lain.
Tapi senyumnya jelas berbeda.
Mereka kehilangan cahaya.
...
"Chanyeol, akhir akhir ini kau jarang bertemu dengan kekasihmu. Ada apa?"
Sihoon Lee, dia manager kami, bertanya dengan penuh cemas saat dia melihatku duduk di dalam SUV.
"Tidak, aku hanya.." Menghela nafas, aku mengalihkan pandangan, ".. Terlalu lelah."
"Kau harus lebih memperhatikannya, kalau begitu."
".. Ya."
Manager Lee menyalakan mesin, mata tajamnya menilik dari spion sebelum bertanya, "Kemana kita akan pergi?"
Sebenarnya, aku benar benar lelah sehingga seharusnya dorm adalah satu satunya jawaban yang kuberikan. Tapi ketika aku memejamkan mata, secara tiba tiba aku teringat luka lembam di sekujur lengan Byun Baekhyun.
Luka luka itu, bagaimana perusahaan bisa begitu tenang dan seakan sudah mengetahui darimana semua lembam itu berasal? Aku merasakan gemuruh di dadaku, sebelum mulutku mendahului pikiran ; "Perusahaan."
"Apa? Untuk apa—"
"Bawa saja aku kesana, Hyung." Sihoon Hyung mengernyit, menatapku ragu dari spion dekat kemudi ; "Aku ingin bicara dengan direktur."
"Apa?! Jangan bercanda, kau kira—"
"Kalau kau tidak mau, turunkan aku disini. Seperti aku tidak bisa pergi kesana sendiri saja."
Di depan kemudi, Sihoon terdiam. Jadi, aku berpikir saja bahwa ia menyetujuinya. Aku berjalan keluar dari SUV dan membanting pintu gesernya yang mendadak terasa menyebalkan. Beberapa langkah setelahnya, aku merasakan tarikan di lengan bajuku. Aku menoleh dan menemukan Yejin dengan maniknya yang bersinar bahagia.
"Oppa?"
...
Manager Yejin meminjamkan mobilnya padaku sehingga aku sekarang sedang berada di dalam van dengan Yejin. Mengendarai mobilnya ke agensi sementara gadis itu menatapku dengan binar mata seperti anak anjing di samping.
"Aku tidak tahu kau bisa mengendarai SUV."
Aku menggendikan bahu, "Semua pria di Korea bisa melakukannya."
"Benarkah?" Yejin tertawa, entah karena fakta yang baru dia ketahui ataukah karena pertanyaannya barusan yang bodoh.
"Kita mau kemana, Oppa?" Gadis itu bertanya lagi, dan setiap kali dia bertanya dengan binar mata seperti itu, aku merasa sangat bersalah karena aku sama sekali tidak mengharapkan dia membuka pembicaraan di antara kami.
"Perusahaanku."
"Kau mau mengurus sesuatu?"
"Ya."
Yejin terdiam. Lama sekali sebelum dia mulai menunduk dan memilin kedua jemarinya yang ia letakkan di pangkuan. Kulirik dia mencuri pandang padaku, hanya sedikit, tapi kemudian mengalihkan pandangannya lagi pada pilinan jemarinya.
Aku membiarkannya begitu saja karena aku tidak tahu apa yang harus ku lakukan untuk menghindarkannya dari pemikiran yang benar—bahwa aku tidak ingin dia membuka pembicaraan di antara kami.
Aku membiarkannya begitu saja karena aku tidak ingin dia tahu soal detak jantungku, yang entah mengapa kehilangan debaran di sekitarnya.
...
Direktur menatapku tenang biarpun aku baru saja mendobrak pintu.
"Katakan padaku, sebenarnya apa yang sedang terjadi sekarang?"
"Apa?"
Aku menggertakkan gigi, marah dengan nadanya yang menyiratkan ketidakpedulian. Aku mendekat padanya beberapa langkah dan menunjuk tepat di matanya.
"Kau," Ujarku dengan penuh amarah dalam setiap nada, "Apa yang sudah kau lakukan pada Baekhyun?!"
"Memangnya apa yang sudah ku lakukan?"
Direktur menatapku dari balik kacamata bacanya, menarik pandangan dari tab bergambar merk ternama itu pada akhirnya.
Kau sudah melakukan banyak hal padanya, aku tahu.
"Kau membuatnya bekerja tanpa istirahat." Aku memulai, dengan mata yang masih menatapnya nyalang, "Kau membuatnya bernyanyi di bagian yang seharusnya bisa di ambil oleh member lain. Kau membuat jadwal latihannya penuh setiap waktu. Kau membuatnya melakukan kolaborasi sia sia yang akan menambah pundi emasmu tapi melelahkan dia. Kau memisahkan jadwalnya dari kami. Kau membuat dia mendapatkan kegiatan solo lebih sering dan dia bahkan tidak ikut pemeriksaan kesehatan rutin bulan lalu sehingga dia tidak bisa mendeteksi flu lambungnya lebih awal. Dan sekarang, dia muncul di kamar, termenung dan menatap lengannya yang penuh dengan memar merah dan biru."
Aku terengah, kehilangan oksigen untuk beberapa saat tapi yang paling membuatku terganggu adalah ; sesak di hatiku saat mengatakannya. Direktur menatapku dengan satu alis terangkat dan aku mengepalkan tangan agar tidak melempar tinju mentah mentah ke wajahnya saat itu juga.
"Kau tahu sebanyak itu." Direktur bergumam, "Sejak kapan kau begitu memperhatikan Byun Baekhyun?"
"Jawab aku, presiden direktur yang terhormat." Aku menggertak lagi, di hadapan seseorang yang dulunya ku hormati seperti ayah sendiri, "Sebelum aku menghancurkan mejamu "
Direktur tertawa, menjilat bibirnya kemudian. Dia akhirnya meletakkan benda yang ia pegang dan benar benar menatapku penuh. Dari matanya, aku melihat kilatan aneh yang seakan menantangku untuk memukulnya.
"Lalu," Katanya setenang lautan, "Yang mana dari itu yang menganggumu? Yang mana dari semua itu yang melibatkan dirimu?"
Aku terdiam.
"Itu bukanlah urusanmu." Direktur tersenyum miring, "Itu semua adalah urusan Byun Baekhyun, bukan urusanmu."
"Tapi aku tidak bisa tinggal diam melihatnya—"
"Kau bisa." Direktur tersenyum, senyum manis yang ia keluarkan dari otak liciknya yang hanya bisa memproses jumlah uang, "Kau melakukannya dua tahun lalu. Sekarang lakukan seperti dahulu, berpura puralah kau tidak tahu, kau tidak perlu menghabiskan waktumu dengan mengatakan hal yang sia sia."
Apa maksudnya? Aku mengernyit dan kurasakan gigiku bergmeletuk.
"Kau—"
"Lagipula, semua yang Byun Baekhyun lakukan saat ini adalah demi dirimu.." Senyum culasnya semakin naik sehingga dahinya mengkerut, ".. Bukankah begitu?"
Jantungku berdentum secara menyakitkan saat ia mengatakan sepotong fakta yang tidak bisa lagi kusangkal.
Semua ini, karena aku.
Tapi dia tidak pantas. Tak akan pernah pantas untuk menerima semua perlakuan itu demi seorang pecundang sepertiku.
...
Hari semakin gelap dan aku berpura pura tidak tahu jalan pulang.
Aku termenung di halte seperti orang bodoh. Tidak mempedulikan apapun, hanya duduk disana tanpa satupun bersamaku. Aku menatap kosong bus yang dipenuhi orang orang, menatap mereka yang naik dan turun dari kendaraan, menatap remaja yang memakai make up dan berteriak ; "Aku cinta Baekhyun -Oppa!"
Baekhyun.
Sejak kapan aku begitu memikirkan dia? Aku tidak tahu. Aku hanya berharap dia baik baik saja. Karena dia banyak terluka karena aku. Sebenarnya siapa aku? Aku adalah seseorang yang hanya bisa membuat orang lain terluka.
Mungkinkah, jika saat itu, jika aku dan Baekhyun tidak audisi bersama sama, mungkinkah saat ini kami akan tetap seperti dulu? Berbagi sekarton roti dan satu pak yogurt di luar minimarket, atau meniup tteobokki bersama sama sebelum mengeluh karena kue beras itu terlalu panas. Mungkinkah, bila Byun Baekhyun tidak debut di grup yang sama denganku, aku tidak akan pernah tahu tentang perasaannya padaku, dan kami akan tetap menjadi teman baik. Kami akan bertemu, atau menginap di rumah masing masing. Mungkinkah?
Mungkinkah, jika Byun Baekhyun tidak mencintaku, dia akan menemukan seorang gadis manis dengan rambut bergelombang—salah satu favoritnya dulu. Lalu mereka akan menikah di bawah Tuhan dan dentang lonceng gereja. Mereka akan memiliki seorang buah hati yang akan memanggil Baekhyun dengan sebutan 'Ayah'. Mereka akan menjadi keluarga bahagia seperti ayah dan ibuku, mereka akan terberkati.
Byun Baekhyun, aku menyenandungkan namanya dalam hati, Bagaimana kabarmu sekarang? Saat menatap langit sekarang, aku hanya bisa memikirkanmu.
Langit Seoul yang kelam, aku menatapnya lamat dan menemukan Baekhyun tersenyum padaku dari sana. Aku balas tersenyum seperti orang gila. Mengabaikan beberapa remaja yang mulai menatap ke arahku karena tudung hoodie ku terjatuh ke belakang.
Aku bertanya tanya, seberapa banyak kau membenciku?
Di pikiranku, kata 'Jalang' yang kuucapkan berkali kali padanya datang dan mengisi gendang telingaku seperti hukuman.
Ah, pasti banyak sekali. Aku tersenyum sedih.
Byun Baekhyun, aku memanggil namanya lagi, aku sering sekali membuatmu menangis.
Remaja remaja itu membuat suara gaduh, tapi aku tidak cukup peduli untuk pergi dari sana.
Aku menolakmu berkali kali, mendorongmu menjauh, aku mengutukmu, lalu aku berubah padamu. Aku terlihat seperti bajingan bodoh yang di tinggalkan kekasihnya. Tapi itulah aku, bajingan bodoh.
Aku terkekeh, miring.
Byun Baekhyun, Aku baru menyadari bahwa namanya begitu manis, aku rasa aku—
"Bukankah itu Baekhyun-Oppa? Hwaa! Berarti yang duduk disana benar Chanyeol-Oppa!"
Aku menurunkan pandangan dan manikku langsung melihat dia. Byun Baekhyun dengan satu tangan di saku, menatap padaku.
—Aku rasa aku mencintaimu lebih daripada yang aku rencanakan sebelumnya.
Halte menjadi lebih gaduh, orang orang berkerumun dan Baekhyun segera menggenggam tanganku untuk bangkit sedangkan telingaku di penuhi suara shutter kamera. Kami berhasil keluar dari kerumunan dan kudengar Bekhyun menggumamkan kata maaf setiap kali ia melewati para penggemar.
Dia terus menarikku, sampai kami ada di depan SUV miliknya. Ia melepaskan genggamannya tapi aku meraihnya lagi, mengenggamnya erat sehingga dia menatapku dengan canggung.
"Apa yang kau—"
"Baekhyun.." Aku bergumam lirih, menatapnya, "Aku—"
"Aku—Mencintaimu."
Dia berbalik, melepaskan tangannya dariku dan masuk ke dalam SUV nya. Setelah menatapku sekali. Saat SUV miliknya menghilang di perempataan jalan, aku baru menyadari bahwa saat aku mengatakan itu, dia menangis.
Dia meninggalkanku di pinggir jalan, sama seperti ketika aku meningalkannya di kamar kami saat itu.
Aku sedang menerima karmaku.
Menatap kosong jalanan, aku menunduk. Apakah dia masih menangis sekarang? Aku harap tidak.
Byun Baekhyun, apapun yang kau pikirkan sekarang, aku hanya ingin kau tahu ;
Aku mencintaimu.
Dan merindukan senyummu, juga.
Jadi, tersenyum padaku.
Agar kita bisa melupakan semua yang terjadi.
"Aku akan mengakhiri semua ini untukmu.." Aku bergumam lalu berjalan berlawanan dengan mobil yang melaju, mengeluarkan ponsel dan mencari kontak dengan nama Yejin yang biasanya tampil sebagai nomor paling atas di kolom 'Recent'—Namun sekarang tidak lagi.
Ketika nada sambung terdengar putus putus, aku menghela nafas dan duduk di bangku taman. Menyenderkan tubuh.
Dia akhirnya mengangkat panggilan ketika nada monoton itu terulang lebih jelas.
"Temui aku." Kataku langsung, "Aku ingin bicara, hanya denganmu."
Dan aku menutupnya, hanya seperti itu.
...
Aku pasti sudah gila.
Karena jika aku tidak, aku pasti tidak mungkin memanggil Yejin dan memutuskan dirinya seperti ini.
Karena jika aku tidak, aku pasti merasa bersalah karena telah membuat gadis di hadapanku ini menangis.
Karena itu, aku sudah gila. Karena aku sama sekali tidak merasa menyesal atau bersalah karena telah membuat Yejin menangis di hadapanku. Make-Up nya luntur, aku meringis dalam hati karena aku tahu dia berusaha keras untuk memoles seluruh bedak itu. Ia menatapku lewat matanya yang tertutup oleh softlens, menatapku seakan aku adalah bajingan bodoh yang sedang bercanda.
"A—Apa maksudmu..?" Dia terisak lagi, putus putus bertanya sambil mengarahkan jarinya ke hoodieku, menggenggamnya.
"Maaf." Perlahan aku meraih tangannya dan menggenggamnya, "Aku tidak bisa melanjutkan ini lagi."
"M—Mengapa?" Yejin tersedu, maniknya yang indah itu terlihat buruk dengan maskara yang berceceran tapi dia tetap cantik, seperti dulu. Dia tidak berubah, rambutnya masihlah rambut berwarna coklat yang sama, masih dengan gelombang indah yang sama. Satu satunya yang berbeda disini adalah degupan jantungku yang sudah hilang entah kemana.
"A—Apa karena aku sudah tidak cantik?" Suaranya nyaris putus asa, "A—Apa karena fans-mu mengatakan sesuatu?"
"Yejin," Aku menunduk, menatap matanya. "Kau cantik, sungguh. Dan aku tidak masalah dengan perkataan orang lain terhadap diriku."
"Lalu apa?!" Ia memukul dadaku sekali, terisak lagi kemudian.
"Aku..—"
"—Menyukai seseorang yang lain.."
Isakannya terhenti.
Ia menatapku, masih dengan matanya yang merah dan bengkak, masih dengan bibir merah muda nya yang terbuka sedikit.
"S—Siapa..?"
Siapa? Aku terdiam beberapa saat. Pikiranku mengulang, mengulang kejadian dimana aku mendorong Baekhyun, dimana aku mengutuk dan menendangnya menjauh, dimana aku memakinya dan dia akan terlihat ingin menangis tapi ia menahannya. Dimana dia berterimakasih atas semangkuk mie instant hangat dan memintaku agar tidak pergi.
".. Byun—"
"Baekhyun-Oppa, benar?" Yejin terlebih dahulu berkata padaku, aku tertegun. Bagaimana dia tahu?
Yejin tertawa paksa, "Aku tahu, aku tahu."
Aku tidak bisa menjawab.
"Kau memang mencintai Baekhyun-Oppa." Yejin tertawa lagi, lebih kasar dan kaku, "Tapi kau selalu menyangkalnya. Kau bisa berkata bahwa kau membencinya tapi matamu tidak bisa membohongi siapapun."
Yejin mengusap air matamya, "Aku selalu berpikir bahwa aku bisa, aku bisa menjadikanmu milikku sepenuhnya. Karena dia pria sedangkan aku wanita. Aku bisa menggenggammu kapanpun sementara dia tidak."
"Tapi aku tahu, aku pasti akan kalah pada akhirnya." Ia tersenyum, "Maafkan aku. Aku pasti terlihat sangat bodoh, kan?"
"T—Tidak, maafkan aku."
"Chanyeol," Yejin mendongak, ia memilin jemarinya di sela jariku dan menatapku dengan matanya yang cantik, "Aku mengerti. Terima kasih untuk beberapa tahun ini."
Aku terdiam.
Dan masih terdiam ketika Yejin pergi dengan managernya.
Aku hanya merasa seperti sebuah cangkang kosong.
...
Baekhyun tidak ada di dorm ketika aku kembali.
...
Keesokan harinya, rumor menyebar. Agensi menyuap wartawan mati matian agar tidak menyebarkan foto dimana aku dan Yejin bertemu malam itu. Malam dimana Yejin menangis untuk pertama kalinya, karena aku.
Akun SNS ku banjir sekali lagi. Manager berkali kali bertanya apakah dia harus mengunci kolom komentar tapi aku berkata 'biarkan saja' karena aku sama sekali tidak terganggu.
Yang sekarang menggangguku adalah keberadaan Byun Baekhyun.
Dia tidak pulang ke dorm semalaman, dan hari ini juga. Dia menghilang. Apa aku terlihat seburuk itu sehingga dia tidak lagi ingin menatap wajahku?
"—Yeol?"
Aku tersentak.
Suho menatapku dengan kening berkerut, "Masih terlalu pagi untuk melamun." Tegurnya.
"Jangan khawatirkan rumor itu, Hyung." Kyungsoo ikut menyahut dari balik pintu kulkas,"Mereka akan menghilang dalam beberapa hari."
"Ya." Walaupun aku tidak mengkhawatirkan itu, "Terima kasih."
"Omong-Omong, bagaimana Yejin?" Kris membalik halaman majalah sambil bertanya, "Apa kau sudah menelponnya?"
Aku teringat kata kata yang kuucapkan kemarin.
"Kurasa dia tidak ingin aku menelponnya."
"Apa? Bagaimana bisa?" Suho tertawa, "Dia kekasihmu."
Kris menurunkan majalahnya saat dahinya mengerut heran, "Apa kalian bertengkar?"
Kyungsoo menyimpan atensinya pada kami juga, akhirnya meletakkan barang barang dapur yang dia genggam sedari tadi.
"Kami berakhir, semalam."
Selama beberapa detik, kupikir aku akan mendengar omelan Suho ataupun amarah Kris, tapi tidak. Yang kudengar hanyalah helaan nafas dan sedikit rasa terkejut.
"Yah," Kris menggendikkan bahu, kembali menatap majalahnya, "Jadi rumor itu bukan sekedar rumor."
Suho menepuk bahuku kemudian, sebelum berjalan ke dapur untuk membantu Kyungsoo.
Bagaimana mereka bisa merespon sesantai itu? Aku menherutkan kening.
"Kami sudah menduganya." Kris, seperti bisa membaca pikiranku, menjawab.
".. Bagaimana?"—Bagaimana kalian bisa?
"Semua di dunia bisa berbohong." Kris tersenyum, "Tapi hanya satu yang tidak."
".. Apa?"
"Mata seseorang."
—"Kau memang mencintai Baekhyun-Oppa." Yejin tertawa lagi, lebih kasar dan kaku, "Tapi kau selalu menyangkalnya. Kau bisa berkata bahwa kau membencinya tapi matamu tidak bisa membohongi siapapun."
"Kalau begitu, kau juga tahu..?"—Kau juga tahu siapa yang kucintai sekarang?
Kris tersenyum, sekali lagi. Walaupun maniknya tajam menatap majalah, aku yakin dia masih melirikku dan memberiku sebuah pandangan.
"Bagaimana kami tahu jika bukan kau yang menunjukkannya?"
Aku terdiam.
...
Seperti yang sudah kuduga sebelumnya, cepat atau lambat, aku akan dipanggil ke kantor yang kudatangi kemarin.
Pria paruh baya itu masih duduk disana, masih tenang, puntung rokoknya ia hisap dan di hembuskan sehingga ruangan ini penuh dengan asapnya selama beberapa saat. Ia menatapku dari balik majalah dengan wajahku sebagai cover utamanya—Berita yang menampilkan rumor itu.
"Tidak ingin mengucapkan sesuatu?"
"Aku minta maaf."
"Hanya itu?" Ia mengangkat satu alisnya.
"Ya."
Dia menghela nafas. Seakan mempersiapkan dirinya untuk memuntahkan seluruh amarah yang menjangkit di tubuhnya.
"Kau pasti sudah gila."
Ya, hanya kau yang tahu seberapa gila-nya aku karena perasaanku sekarang.
"Kau benar benar gila." Presiden Direktur Jang tertawa—tawa yang sumbang sekali. Dia berjalan mendekat sambil menaruh kedua kepalan tangannya di dalam saku celana bahan miliknya.
"Ap kau tahu apa yang terjadi dengan sahamku sekarang?" Dia berujar lagi, menghentikan tawanya, "Apa kau tahu sudah berapa investor yang menghubungiku hari ini?"
"Maafkan aku."
"Aku tidak butuh maafmu, bodoh!" Ia membentak. Akhirnya, amarahnya meletus keluar. Urat di sepanjang lehernya tampak seperti aliran lava di mataku, dia seperti gunung berapi purba yang terbangun dari tidurnya yang damai. Meletus.
"Kau tahu seberapa sulit aku meyakinkan mereka untuk membiarkanmu melakukan konferensi?! Apa kau tahu?!" Ia meludahi lantai, "Inilah sebabnya aku tak suka memberi makan bajingan seperti kalian! Kalian selalu seenaknya saja! Harusnya kalian tidak kupungut dari jalanan! Lebih baik kalian menjadi gelandangan saja sekalian!"
Dadanya naik turun, ia memegang kepalanya dan berjalan mundur sehingga terduduk di kursinya karena terantuk.
"Aku bisa gila.." Desahnya parau, "Aku bisa gila.."
Selama beberapa menit, aku berdiri disana. Menunduk, dan membalas setiap kata yang dia ucapkan dengan dua patah kata, maafkan aku. Aku tahu, ini semua adalah kesalahanku. Sekarang rumor itu menyebar cepat seperti api dan agensi kewalahan untuk mengatasinya. Aku mengerti, karena itu aku meminta maaf.
Tapi aku, sama sekali tidak menyesal.
Karena aku tidak memikirkan apapun.
Aku tidak memikirkan apapun saat Presdir Jang mulai mengumpatiku, atau saat dia memecahkan gucci antik kesayangannya yang seharga dua unit apartemen di Myeongdong. Tidak juga saat dia melemparkan seluruh fotoku dan Yejin yang di ambil oleh paparazzi tepat ke wajahku. Tidak.
Aku tidak memikirkan apapun.
Karena yang kupikirkan sekarang hanyalah Baekhyun.
Baekhyun, yang sedang berdiri di luar ruangan presdir, beberapa meter dari tempatku. Menatapku dengan maniknya yang kosong, biarpun aku tahu ada sedih disana.
Baekhyun, Aku berusaha berbicara dari mataku, Aku merindukanmu.
Baekhyun, tidak menjawab. Aku bahkan ragu dia benar benar menatapku atau hanya termenung tanpa jiwanya disana. Aku memicing saat dia melangkah pergi, setelah di rangkul oleh salah seorang pria yang sama sekali tidak aku kenal.
Baekhyun, dengan siapa dia?
...
Aku terburu buru. Berlari dengan peluh memenuhi wajahku tepat pada pukul tiga pagi. Ketika melihat dorm masih memiliki cahaya, aku mempercepat tungkaiku dan segera masuk ke sana untuk—
"Chanyeol!" Itu Suho.
—Bertemu Baekhyun.
Tapi aku tidak melihatnya, dimana dia? Seluruh member ada di ruang tengah, tapi dimana dia?
"Kenapa kau pulang sendirian?" Kyungsoo mengernyitkan dahi, "Tidak bersama Baekhyun-Hyung?"
Kai tertawa, masih memainkan playstationnya, "Dengan Baekhyun? Yang benar saja, Hyung."
"Kau tidak bertemu dengan Baekhyun-Hyung, Chanyeol?" Sehun balas bertanya.
"A—Apa?" Baekhyun tidak ada disini? Kupikir dia sudah kembali karena gedung agensi sudah sepi sekali.
"Lupakan saja. Lagipula aku sudah menghubungi manager untuk mencari Baekhyun." Kris melipat majalah yang anehnya selalu dia baca setiap waktu, "Pergilah mandi, dan segera tidur."
Xiumin Hyung menepuk pundakku sebentar sebelum pergi ke kamarnya.
Aku ditinggalkan di ruang tengah dengan pikiran yang kosong.
...
Mengapa kau menghindariku?
Sebenci apa dirimu sekarang, sehingga aku tidak bisa melihat dirimu lagi?
Mengapa kau bersembunyi dariku?
Apakah, benar benar tidak ada celah bagiku untuk sepatah maaf darimu?
Aku tidak tahu.
Tertidur di ruangan sendirian seperti ini membuatku memikirkan banyak hal. Setiap pikiran yang kumiliki mengambil sepotong demi sepotong bagian dari diriku dan membuatku merasa seperti seonggok botol kaca yang kosong.
Ada banyak sekali, hal yang igin kutanyakan. Tapi dengan kenyataan bahwa aku sendirian, aku tidak dapat menahan untuk tidak tertawa dan berujung memikirkan segala sendiri seperti ini.
.. Semua hanya terasa amat hampa.
Mengapa? Aku tidak tahu.
Dimana Baekhyun sekarang? Apakah dia sudah mengisi perutnya? Seoul sangat dingin ketika malam datang, apakah dia bahkan ingat untuk membawa mantelnya?
Aku juga tidak tahu.
Saat aku menatap langit langit, aku melihat sesuatu. Itu diriku dan Baekhyun, berdua di depan sebuah cafe, salah satu masa dimana kami masih baik baik saja. Dimana kami masih jauh dari tangan tangan para pemangsa uang, dimana kami masih berjuang demi hidup kami sendiri.
Baekhyun dan musim semi yang tak pernah bisa kulupakan.
Dia duduk di sampingku dengan tangannya yang mengenggam erat sekepal roti. Wajahnya yang bersemu menunduk malu malu sambil mencuri tatap padaku—dia benar benar manis.
"Apa yang akan kau lakukan saat liburan nanti?"
"A—Apa?" Dia terkejut, tersentak sehingga punggungnya terdorong mundur beberapa inci.
Aku terkekeh akan responnya, "Liburan akhir pekan, apa yang akan kau lakukan?"
Dia mengambil gigitan kecil dari rotinya sebelum menjawab, "Aku.. Tidak tahu."
Kami terdiam sejenak, sehingga angin yang kencang dapat mengambil celah diantara kami.
"Mungkin, aku akan mengamati bintang. Kau tahu, ini musim semi, ada banyak sekali bintang indah yang muncul di malam hari jika kau melihatnya baik baik." Dia dengan hati hati menambahkan, "Mau melihatnya bersama?"—Dan diakhiri dengan penawaran setulus itu.
Aku yang dulu, si bodoh brengsek yang telah hidup di masa remajanya dengan menganggap Yejin adalah pusat segala rotasinya, menggeleng dengan seenak jidat. Aku menolak ajakannya, semudah itu.
Pasti rasanya sedih sekali, bukan?
"Maaf, Baek. Aku memiliki janji dengan Yejin." Si brengsek yang sialnya adalah aku itu berujar dengan santai, "Kami berencana untuk menghabiskan liburan akhir pekan dengan orangtuanya. Kami akan camping bersama dengan kakakku juga."
"Ah," Dia tersenyum—walaupun aku tahu itu adalah sebuah senyuman paksa, "Pasti seru sekali."
Aku menyadari tatapannya yang berubah. Aku sadar dan tahu sekali mengapa dia berubah sendu seperti itu. Itu semua karena dia tidak memiliki hubungan yang baik dengan keluarganya. Kakaknya yang selalu dibanggakan serta kedua orangtuanya yang mana tidak pernah menganggap dirinya ada. Dia seperti setitik kecil tinta diantara ribuan kosakata. Dia sendirian. Aku tahu dia mungkin akan kesepian saat liburan akhir pekan yang seharusnya kau habiskan dengan keluarga dan orang orang yang kau sayangi.
Tapi saat itu aku jahat sekali 'kan?
Karena aku bahkan tidak menawarinya untuk ikut dalam liburan kami.
Aku ini, jahat sekali.
Saat malam datang, aku menatap langit yang penuh dengan sesuatu yang berkerlip. Sekeras apapun aku untuk mencoba, aku tetap berakhir dengan jatuh ke lamunanku sambil menatap ribuan rasi bintang yang tersebar di atas kepalaku.
Hari itu, bintang paling terang yang muncul di tengah gelap malam dan gundah di hatiku adalah Sirius, bintang yang bersinar berani walaupun sendirian—seperti dirimu.
Aku memiliki keluarga, seorang kekasih yang mencintaiku, dan dunia yang selalu baik terhadapku. Aku memilikinya. Bahkan melihat malam seperti ini, aku masih di temani dengan keramaian dan kehangatan.
Tapi bagaimana dengan dia?
Kita bahkan tidak tahu apa sekarang dia sedang menangisi Sirius dengan suara tertahan—agar tidak ada seorang-pun yang menyadari kepedihan hatinya.
Lalu kemudian, ponselku berdering, aku membiarkannya karena benar benar tidak memiliki niat untuk berbicara dengan siapapun sekarang—kecuali dengan dia. Nada dering yang memekakkan itu berhenti hanya untuk tersambung lagi kemudian—mengangguku. Aku akhirnya meraihnya dengan separuh hati, baru menyadari bahwa pemanggil yang mengangguku adalah Kim Yejin, dia pasti mengira bahwa ini belum cukup malam untuk berhenti menganggu waktu istirahat orang lain.
Sedikit kesal, aku mengangkatnya dengan terlalu banyak bentakan dalam gerakan.
"Halo?"
Tidak terdengar jawaban selama beberapa saat, tapi aku hanya terdiam.
".. Oppa." Akhirnya dia berkata. Nafasnya memburu, aku tidak bisa menebak dimana dia sekarang tapi kudengar raungan Air Conditioner yang keras sekali.
"Ada apa?"
Dia terdiam lagi hingga aku ragu harus melanjutkan percakapan ini atau tidak.
".. Maafkan aku."
Setelah itu, sambungan terputus.
Sesuatu mengangguku, seakan itu bukan sekedar sambungan telepon yang diputuskan, tapi juga seseuatu yang lain.
Seakan segala sesuatu yang pernah kami alami, diputuskan saat itu juga.
...
Aku kembali ke neraka itu.
Kupikir, saat aku terbangun di pagi hari, semua akan baik baik saja. Tapi tidak. Terlalu banyak hal yang tidak baik baik saja. Aku kembali merasa seperti botol kosong yang diombang ambingkan kemanapun. Terlempar ke sudut hanya untuk kembali lagi ke tengah dari pusaran samudra. Aku merasa sangat kosong, sangat kehilangan arah.
"Chanyeol, kau harus kuat."
"Ini adalah keputusannya. Kau harus hormati dia."
"Dia sempat kritis selama beberapa saat tetapi dia tidak memilih untuk bertahan, maafkan kami."
"Perusahaan akan menangani rumor, kau harus segera menuju rumah sakit dan menemui presdir. Presdir akan mengatur konferensi untukmu agar kau bebas dari segala tuduhan."
"Tenang saja, Chanyeol. Semua ini bukan salahmu."
.. Hal bodoh apa yang sedang kalian katakan?
Aku menatap lurus ke depan, menatap Yejin yang terbujur kaku di atas ranjang, darah ada dimana-mana, ada ribuan wartawan disini dan seluruh member kecuali Baekhyun mengelilingiku. Mereka berpikir bahwa mereka akan memberiku kekuatan tapi nyatanya aku tidak membutuhkan kekuatan apapun.
Yejin, dia dikelilingi darah, namun biarpun begitu, wajahnya yang putih tetap bersih tanpa sepercikpun noda. Dia memakai baju serba putih dengan selimut yang putih juga—menutupi setengah wajahnya. Mereka bilang dia sudah meninggal, tapi aku tidak percaya.
Tidak mungkin 'kan? Seseorang yang menghubungiku semalam tidak mungkin mati secepat ini.
Presdir diam, tepat disampingku. Nafasnya menerpa telingaku dengan tenang, aku bertanya tanya emosi apa yang sekarang dia miliki di hatinya sehingga dia bisa mengeluarkan kepalsuan yang sebesar itu.
"Kita akan melakukan konferensi. Katakan bahwa kau dan Yejin tidak memiliki kontak selama dua hari akibat dari jadwal kalian dan kau sama sekali tidak mengetahui rencana nya untuk mengakhiri hidup konyolnya seperti ini."
".. Tidak."
"Apa kau gila?! Kau harus cepat melakukannya. Apakah perlu kutunjukan artikel artikel sampah yang sudah mencemari namamu dan juga saham perusahaanku?"
"Seseorang baru aja kehilangan nyawanya disana." Aku menatapnya marah, "Dan kau masih berbicara soal nama baik? Soal saham? Apa kau sedang bercanda atau memang aku yang gila?!"
Presdir akhirnya terdiam. Kudengar dia menggerutu dan mengeluarkan rokok dari saku celananya, mematik apinya dan pergi.
Suho menatapku dengan khawatir sebagai gantinya.
".. Chanyeol, Yejin mengatakan sesuatu sebelum percobaan bunuh dirinya."
Aku menoleh tak berminat.
".. Dia melakukan siaran lansung di akun SNS miliknya dan—" Suho menyerahkan ponselnya, "—Dia menyebut nama Baekhyun beberapa kali..."
Apa?
Aku merebut ponsel yang ia julurkan padaku dan memutar rekaman siaran langsung yang entah didapatkan Suho dari mana. Disana, Yejin terduduk sendirian di lantai. Di belakangnya, dua pendingin ruangan berdiri di belakangnya—sekarang aku tahu mengapa begitu dia menelponku semalam, suara air conditioner terdengar amat keras sehingga kupikir dia sedang berada di luar ruangan.
Dia memakai baju berwarna putih, rambutnya di urai berantakan dan begitu juga make up miliknya yang sama berantakannya. Dia tersenyum pada kamera tapi aku tahu matanya tidak. Dia menyapa beberapa fansnya dengan kata kata manis tapi lebih banyak terdiam.
Sampai kemudian siaran langsungnya dipenuhi oleh komentar komentar buruk. Beberapa menyertakan namaku dalam komentarnya. Beberapa memakinya jalang yang membuka kaki padaku. Beberapa memakinya bahwa suaranya bahkan lebih buruk daripada burung gagak dan cara berjalannya yang mengangkang seperti bebek. Beberapa lainnya bertengkar dengan Anti-fans. Tapi tak ada satupun dari mereka yang memberi semangat maupun 'apakah kau baik baik saja' pada Yejin—Gadis malang yang kini menatap sedih pada kamera.
"Halo semua." Dia berkata, "Ini Yejin. Maafkan aku sudah muncul disini dan mengotori SNS kalian, maafkan aku."
Aku menatap pada kolom komentar dan mereka masih melontarkan kalimat kalimat kasar.
Jadi, yang kau terima selama ini bukan hanya cinta..?
Apakah aku sudah membiarkanmu berjuang sendirian..?
"Belakangan cuaca mulai dingin.. Aku pergi ke taman beberapa kali dan berjalan disana, dan aku baru menyadari pada musim seperti ini, akan ada lebih banyak bintang yang muncul di angkasa. Ah, jadi teringat dulu, Baekhyun Oppa dan aku pernah berjanji akan melihat bintang bersama sama."
Aku mengernyit,
"Omong omong, aku sangat merindukan Baekhyun-Oppa. Dia adalah malaikat yang sangat baik, aku sangat mencintainya."
Yejin mengusap matanya, sesaat.
"Dia mengenalkanku pada Chanyeol.. Dia membantuku. Kami akhirnya menjadi kekasih dan dia membantu kami bicara pada perusahaan untuk dapat melakukan konferensi. Baekhyun-Oppa, aku sangat berterima kasih padamu. Tanpa kau, aku dan Chanyeol tidak akan pernah menjadi seperti sekarang."
Apa? Apa maksudnya? Dia mengatakan apa? Semua yang dia katakan, mengapa beberapa dari mereka adalah kebohongan?
Yejin, apa yang sedang kau pikirkan saat kau mengatakan ini?
"Tapi belakangan, Baekhyun-Oppa sepertinya marah padaku. Dia tidak menjawab panggilanku. Bagaimana ini?"
.. Apa maksudmu?
"Aku tidak mau berkata secara begitu jelas tapi.." Yejin menjeda, menatap keluar jendela, "Apakah mungkin bila, Baekhyun mencintai Chanyeol-Oppa?"
Deg.
Aku terdiam. Seperti seakan semua jiwa milikku tertarik keluar. Tidak, apa yang kau pikir kau ucapkan? Tidak ada yang boleh menyakitinya selain aku, mengapa kau melakukan itu? Untuk membuat dia dibenci oleh penggemar nya?
Kim Yejin, tidak. Jangan pernah, jangan.
Jangan sakiti dia.
Namun siaran langsung itu tetap berlanjut seperti semalam,
"Maafkan aku, aku pasti sudah gila. Terima kasih semuanya, kurasa aku harus pergi sekarang. Sampai jumpa. Aku mencintai kalian."
Layar ponsel menggelap, Kim Yejin menghilang, siaran langsung itu berakhir dan tiga puluh menit setelahnya Yejin di temukan tergeletak di apartemennya dengan luka gores dalam pada pergelangan tangannya.
"Media memberitakan ini." Suho mengambil ponselnya, "Baekhyun tidak ada dimanapun. Presdir tidak berkata apapun dan manager sudah mencarinya kemana mana. Sebenarnya dimana dia?"
Kim Yejin, kau..
.. Mengapa kau?
...
Aku menatap layar ponselku, ribuan komentar ada disana tapi tak ada satupun yang meminta maaf. Mereka hanya mengumpat, menanyakan kabar dan bagamana perasaanku. Seperti mereka tidak sehabis merengut sebuah nyawa.
Bagaimanapun, langit mulai gelap. Seoul tidak menunggu untuk diriku agar bisa memperbaiki hatiku yang hancur berantakan. Tidak juga berduka untuk kematian seseorang yang sebelumnya pernah kucintai. Langit dengan beberapa awan menggantung di langit seperti hari kemarin, begitu gelap, biarpun indah.
Aku berjalan mendekat ke balkon, mendongak agar aku bisa menatap lebih jelas kepada langit malam yang gelap. Semakin lama aku menatap, semakin jauh rasanya langit itu berada. Tak ada satupun bintang malam itu, mungkin mereka tertutup oleh tebalnya awan yang mengandrungi langit.
Ponselku berdering lagi, sekali-dua kali. Tapi benda itu tergeletak terlalu jauh, sehingga aku membiarkan diriku melewatkan semua panggilan begitu saja. Manikku terus fokus pada langit kelam yang malang, sendirian tanpa apapun selain awan yang mungkin akan membuat basah tanah Seoul sebentar lagi.
Kim Yejin, kau benar benar tidak terduga. Apa yang kau pikirkan dengan mengatakan hal hal yang sedemikian aneh dan tidak masuk akal? Jangan mempersulitnya, kumohon. Dia sudah cukup menderita akan kebenciannya pada diriku.
Jangan buat dia, semakin melarikan dirinya dariku.
Mungkin karena hatiku sedang sangat kacau, atau karena aku sedang sendirian, secara tiba tiba aku teringat dengan Byun Baekhyun.
Dia memilin kedua jemarinya, menatapku khawatir dari balik poninya yang belakangan dibiarkan memanjang, lantas kemudian dia membuka bibirnya yang mungil—perlahan berbisik padaku ;
"Udara di luar dingin." Bisiknya, "Jangan berdiri disini."
Seluruh member ada disana tapi hanya dia, yang menegurku hanya untuk mengingatkan bahwa saat ini suhu Seoul sedang tidak menoleransi. Namun biarpun begitu, aku tetap menatapnya dengan penuh jijik dan marah, seakan dia baru saja memuntahkan isi perutnya di hadapanku.
"Enyah dari pandanganku, jalang sialan." Umpatku, "Memang apa pedulimu?"
Alih alih masuk dan menangis tersedu, dia malah melepaskan syal yang dililit manis pada lehernya dan berjinjit untuk memakaikannya dengan lembut padaku. Ia mendongak dan bergumam setelahnya—sesuatu seperti ; "Setidaknya pakailah sesuatu yang hangat."
Aku mencampakkan syal merah maroon yang tidak bersalah dan meludahinya ; setelah aku menendang setiap untaian benang rajutnya yang bersih dengan ujung sepatuku.
Itu bukan satu satunya yang kuingat.
Ada suatu masa, dimana aku benar benar kehilangan seluruh tenagaku untuk mengumpat. Aku tergeletak seperti seorang lansia tua yang kehilangan cucu, sendirian dan menyedihkan. Suho sudah mengatakan padaku untuk beristirahat baik baik dan meninggalkan beberapa bugkus obat untukku, hanya saja aku membiarkan semua yang ia berikan tergeletak di pojok ruangan seperti sampah karena aku benci sendirian saat sakit.
Ah, tapi siapa yang ingin menemaniku? Mereka sibuk dengan jadwalnya masing masing.
Tapi, Byun Baekhyun datang.
Dia mengetuk pada pintu kamar, pelan sekali sampai aku nyaris tidak mendengarnya. Dia membuka pintu dan mengintip, ragu ragu untuk masuk. Karena aku memang sudah kehilangan tenaga untuk memukulnya sekalipun, dia masuk ke kamarku dengan mudah.
Aku mengira dia akan mulai dengan bertanya 'apakah kau baik baik saja' seperti yang member lain lakukan, tapi dia tidak. Dia, tanpa suara mengambil selimut dan baju baju yang kulempar ke lantai, memungut bungkusan obat di pojok ruangan dan menaruh semuanya di atas nakas. Kemudian dia keluar hanya untuk kembali dengan segelas air putih dan semangkuk bubur hangat yang beraroma enak.
"Kau harus makan agar sakitnya membaik.." Dia berbisik, dengan hati hati. Kulirik tangannya yang menyodorkan semangkuk bubur hangat yang masih mengepulkan uap, menatap lamat pada jemarinya yang menahan permukaan bawah mangkuk—yang pasti panas sekali, jarinya bahkan memerah. Tapi dia tidak mengernyit ataupun meringis, dia tetap menyodorkan semangkuk bubur itu padaku, menunggu diriku yang telah memakinya 'jalang' berkali kali untuk mengambil dan menghabiskannya.
"Siapa yang tahu kalau kau menaruh racun di dalamnya." Aku berujar, kesal.
Dia termanggu sebentar, tapi kembali memasang senyum menyebalkannya dan menyodorkannya lebih ke arahku.
"Kyungsoo membuatnya untukmu tadi pagi," Dia berusaha membujuk, "Ini pasti enak sekali, cobalah."
Kulirik pada jemarinya yang sudah sangat merah karena menahan mangkuk itu. Terkekeh remeh, aku menepis mangkuk yang ia sodorkan sehingga bubur putih yang seharusnya enak itu berceceran dan membentuk sebuah garis lurus di lantai.
"Kau pikir aku sudi?!"
Baekhyun terdiam. Tidak berusaha menjaga matanya agar tetap menatap kepadaku—dia menunduk. Kemudian dia bangkit untuk memungut satu persatu pecahan mangkuk, keluar dan kembali untuk membereskan bubur yang tumpah. Aku menatapnya kesal dari kasur tapi dia sama sekali tidak menoleh.
Dia keluar lagi, kali ini lebih lama sebelum kembali dengan sebuah senyuman yang terlihat seribu kali lebih jelek dari tadi.
"A—Apa kau ingin yang baru?"
Si jalang ini, umpatku kesal.
"Apakah kau punya otak keledai? Kubilang pergi, bodoh!"
Aku tidak tahu, mengapa ketika aku bahkan tidak bisa membuka layar ponselku, aku masih memiliki suara untuk meneriakinya, untuk menyakiti hatinya.
—Maafkan aku.
Lalu dia tidak kembali selama beberapa menit. Ketukan selanjutnya yang datang dari pintu kamarku adalah Yejin, dia datang dengan wajah pucat yang khawatir, membawa beberapa buah.
"Oppa, Baekhyun-Oppa menghubungiku dan katanya kau sakit parah sekali—"
Aku tidak bisa menjawabnya.
Mungkin karena beberapa patah obrolan dengan gadis itu membuatku mengantuk, jadi dengan segera aku tertidur dalam dekapan Yejin—perempuan yang dulu kusukai. Namun, entah bagaimana caranya, aku masih mendengar samar suara Baekhyun yang berbicara dengan Yejin.
Mereka membicarakan aku.
"Bisakah kau minta dia untuk memakan ini saat dia bangun nanti?" Itu Baekhyun. Nada suaranya yang lembut terdengar putus asa dan lelah.
"Oke." Gadis itu menyetujui, "Tapi mengapa tidak Oppa berikan saja padanya sendiri?"
"Dia tidak akan mau menerimanya."
—Aku bahkan bisa membayangkan senyumnya yang sedih hanya dengan mengingatnya.
"Kumohon?"
"Tentu saja, kau tidak perlu memohon." Yejin terkekeh, "Baunya enak sekali. Apa kau yang membuatnya?"
Hening terdengar beberapa saat. Dia meringis pelan,
"Ya," Akunya seperti tertangkap basah, "Tapi jangan beritahu dia, ya? Dia tidak akan mau memakan apapun buatanku, tapi ini sudah hampir sore—dia harus makan sesuatu dan meminum obatnya."
"Wah, kau sangat perhatian, Baekhyun-Oppa." Yejin tertawa, "Kau pasti sangat sayang padanya, ya?"
Sialnya aku tertidur sebelum bisa mendengar apa yang Baekhyun ucapkan.
Ketika aku terbangun, Yejin ada disampingku. Seperti yang kudengar sebelum aku tertidur, dia menyodorkan semangkuk bubur yang entah mengapa masih hangat itu dengan sebuah sapu tangan tebal sebagai alas untuk menahan permukaan bawah mangkuknya.
—Tangannya yang menyodorkan semangkuk bubur hangat yang masih mengepulkan uap, aku menatap lamat pada jemarinya yang menahan permukaan bawah mangkuk—yang pasti panas sekali, jarinya bahkan memerah. Tapi dia tidak mengernyit ataupun meringis, dia tetap menyodorkan semangkuk bubur itu padaku, menunggu diriku yang telah memakinya 'jalang' berkali kali untuk mengambil dan menghabiskannya.
Kulirik jemari jemari milik Yejin, mereka semua indah dan cantik. Tidak memerah karena panas dari permukaan mangkuk.
"Ayo makanlah, Oppa. Aku membuatnya dengan susah payah." Dia tersenyum, cantik. Aku menatap bubur yang ada di dalam mangkuk dan meneliti isinya, semua adalah favoritku.
Kau peduli padaku, sejauh itu.
Itulah mungkin, pertama kalinya aku mempertanyakan sedalam apa Yejin mencintaiku.
—Mengapa seseorang di masa lalu, yang memakinya dan mendorongnya, haruslah aku?
...
Suho menelpon, itu sudah malam sekali. Tapi entah mengapa, aku memiliki banyak sekali alasan untuk terburu buru mengangkatnya.
Dia bilang, Baekhyun ada di atas atap.
Aku bergegas berlari, meninggalkan sepatuku dan jaket. Berlarian di koridor dorm seperti orang kesetanan hanya dengan sebuah piyama dan juga rambut berantakan. Ketika aku membuka pintu atap, yang kulihat adalah Byun Baekhyun yang sedang duduk sambil menatap langit Seoul yang kelam.
Aku mencoba, aku mencoba untuk tidak berlari dan memeluknya. Aku mencoba untuk tetap tenang karena Suho menatapku agar aku tidak terlebih dulu mendekat. Baekhyun duduk di samping Suho, dia memakai jaket yang tipis dan kelihatan berantakan sekali.
Apa yang mereka bicarakan? Aku tidak dapat mendengarnya dengan begitu jelas.
Tapi, begitu kudengar Byun Baekhyun menangis, aku segera berlari, mendekat padanya. Walaupun Suho menghentikanku untuk memeluknya, setidaknya kini aku tepat berada di belakangnya.
Aku menatap punggung kecilnya yang rapuh.
"A—Aku lelah, hyung."
Dia menangis.
Pertama kalinya, aku melihat dia menangis—selain karena diriku.
Aku memeluknya saat itu juga.
Kupikir, malam itu, untuk pertama kalinya kami menangis bersama sama.
Sirius ada disana.
Tapi dia tidak bercahaya, mengapa?
...
Aku baru menyadari hal apa yang Byun Baekhyun alami setelah aku menuju akun SNS miliknya dan membaca satu persatu komentar yang ditinggalkan penggemarku disana.
Mereka semua mengumpatinya. Mereka memanggilnya 'pembunuh Yejin'. Mereka mengutuk Baekhyun dengan kata kata yang sering kuucapkan padanya dulu. Mereka menghina dirinya. Mereka berkata suaranya yang jelek sebaiknya enyah dari speaker ponsel mereka. Mereka berkata dirinya adalah gay sialan. Mereka berkata Baekhyun menjijikan karena mencintaiku dan membuat Yejin membunuh dirinya sendiri.
.. Sejauh yang kutahu, yang membunuh Yejin adalah kalian, bukan dia.
Aku ingin melaporkan komentar itu satu persatu, tapi komentar itu terlalu banyak sehingga aku nyaris frustasi melihatnya. Aku ingin membalas mereka, tapi aku sadar bahwa tindakanku mungkin akan semakin memperburuk keadaan.
Bagaimana perasaan Baekhyun saat dia membaca semua ini? Aku meliriknya yang tengah terlelap dengan manik bengkak setelah lelah menangis. Aku perlahan mendekat padanya, mencoba memeluknya tanpa membangunkannya dan menaruh kepalanya tepat pada dadaku. Aku dapat mendengar deru nafasnya yang berat, aku bisa mencium aroma shampoo miliknya yang manis dan memabukkan. Aku mengelus setiap helai surainya dan kurasa aku—jatuh cinta sekali lagi.
Tapi bagimana dengan dirimu? Kau yang sekarang terkena masalah karena aku. Apa kau sudah membenciku sekarang?
Kumohon, jangan.
Karena aku, benar benar sangat mencintaimu sekarang.
... Bolehkah?
TO BE CONTINUED
Astaga, capek saya ngetik WKWKKWKW. Udah 6k nih, gimana? Puas ndaa?
((Maaf nggak bisa sebutin yang sudah review di chapter kemarin. Tapi aku baca semua kok, aku sayang kalian!))
I'M SORRY FOR ANY TYPO(S), etc
Maaf juga ya, kalau chapter ini gagal nge feel T^T
UN KU SUDAH SELESAIIIII *lempar bunga* Bahagia banget rasanya ngakakakak. Biarpun banyak soal yang ternyata benar benar diluar ekspetasi, aku tetap seneng karena selebihnya, semuanya berjalan baik^^
Terima kasih untuk kakak kakak yang sudah mendukungku^^. Kalian terbaik! Kepada kak Sparkbyunb, makasih pujiannya T^T ((biarpun aku masih jauh banget buat dipuji, hm.)) Aku nggak terlalu suka baca novel, tapi aku selalu nulis puisi! Dan soal ranking, aku nggak mau pamer ah, nanti dikira sombong WKWKKW.
Untuk kak baekfrappe, terima kasih sudah meninggalkan review^^
Untuk kak homohomoclub, Incandescence7, ryuuki queenza, milkybaek, berrybyun, hulas99, AlexandraLexa, dan chimiesry, yiamffn TERIMA KASIHHH ((aku sering banget lihat kalian di kolom review, THANKS!)) ! Maaf ya nggak bisa sebut semuanya satu persatu, aku sayang kalian! ^^
Last, Review Please?
