You and I
EXO Fanfiction
Pairing: ChanKai
Cast: Chanyeol, Kai (Jongin), Chen, and others
Rating: T-M
Warning: YAOI, M-preg
Halo ini Bab Sembilan, selamat membaca dan maaf atas segala kesalahan, Happy Reading…..
Previous
"Taemin setelah ini mau ikut ke Il-mun?" Taemin menoleh menatap Jongin dengan kedua mata berbinar, ia mengangguk bersemangat.
"Il-mun itu sekolah, taman kanak-kanak tepatnya, bukan taman bermain, masih mau ikut?" Jongin mencoba meyakinkan jawaban Taemin.
"Iya, Taemin ikut, Taemin suka anak kecil."
Jongin tidak tahu harus bereaksi apa, tertawa, melongo, atau lainnya. Anak kecil menyukai anak kecil lain? Kenapa Chanyeol dan Taemin tiba-tiba menjadi pasangan ayah dan anak yang aneh. Oh tidak. "Chanyeol!" pekik Jongin membuat Chanyeol dan Taemin melempar tatapan terkejut padanya. Jongin nyengir lebar kemudian berdiri dan menarik tangan kanan Chanyeol cepat.
"Kau berhubungan dengan Kai saat usianya 13 tahun saat itu berapa usiamu?" Chanyeol menyipitkan kedua matanya, kemudian mulai menghitung dengan kedua jarinya. "Kurasa 20 tahun."
"Heh?!" Pekik Jongin terkejut. "Dua puluh tahun tapi kau sudah hebat."
"Hebat apanya? Bisa menghamili Kai?" goda Chanyeol.
PLAK! Pukulan manis mendarat ke atas kepala Chanyeol. "Maksudku di usia dua puluh tahun kau sudah menjadi pemimpin perusahaan. Kenapa otakmu kotor sekali, pantas saja anak usia tiga belas tahun kau embat juga." JLEB! Hati Chanyeol tertusuk, perih rasanya. "Aku tunggu sambil nonton TV, siapkan Taemin ya." Jongin tersenyum polos, tak peduli dengan sakit hati Chanyeol.
Tidak, tentu saja Chanyeol tak menyimpan dendam pada Jongin, perkataan Jongin hanya sedikit menyinggungnya itu saja, selebihnya dia baik-baik saja. Ini bukan masalah serius.
BAB SEMBILAN
"Wah Il-Mun!" Jongin memekik gembira, sebenarnya ini sama sekali bukan karakternya. Salahkan hormon kehamilan yang membuatnya bertingkah di luar kebiasaannya. Cepat-cepat Jongin membuka pintu mobil dan melangkah keluar meninggalkan Taemin dan Chanyeol. Sekolah untuk orang-orang kaya benar-benar berbeda, seingat Jongin dulu TKnya tak sebesar dan semegah ini.
"Tuan Jongin." Seorang perempuan paruh baya menyambut kedatangan Jongin. "Saya Dayoung kepala sekolah di sini."
"Nyonya Dayoung." Balas Jongin sopan, menyambut tangan sang kepala sekolah kemudian membungkukkan badannya.
"Saya sangat gembira Anda bersedia untuk bergabung dengan sekolah kami." Jongin hanya mengangguk pelan, sementara kedua matanya sudah melihat ke berbagai arah meneliti setiap jengkal bangunan Il-Mun. "Anda tidak sabar untuk melihat-lihat dan mengetahui semua kegiatan di sini?" Jongin kembali mengangguk dengan wajah yang sedikit memerah karena tertangkap basah tak memperhatikan. "Baiklah, mari saya antar."
Jongin mengikuti langkah kaki Dayoung, ia menoleh ke belakang melihat Chanyeol berjalan di belakangnya dengan Taemin di dalam gendongannya.
"Di sini ada delapan kelas, empat di lantai satu dan empat di lantai dua, Playgroup, TK A dan TK B, gedung olahraga, ada dua tempat bermain di luar dan di dalam, taman, kantin, anak-anak memiliki jadwal tidur siang, sarapan, dan makan siang di sini, ruang musik, laboratorium bahasa dan komputer, ruang karya, semuanya ada di sini." Nyonya Dayoung menyerahkan empat buku petunjuk kepada Jongin. "Silakan dibaca, Anda akan mengajar di kelas yang berada di lantai satu, Tuan Chanyeol melarang saya untuk menempatkan Anda di lantai dua."
"Ah, baiklah, terimakasih Nyonya." Jongin membalas ramah meski dia sedikit dongkol dengan sikap protektif Chanyeol.
"Silakan melihat-lihat, saya permisi dulu." Jongin membungkukkan badannya sopan, setelah sang kepala sekolah pergi Jongin memutar tubuhnya dengan cepat menatap Chanyeol penuh selidik.
"Kau mengatakan aku sedang hamil?" Chanyeol mengangguk dengan tatapan polosnya. "Menyebalkan," Jongin menggerutu kemudian berjalan meninggalkan Chanyeol.
"Kemana?!" Chanyeol memekik.
"Taman sekolah!" balas Jongin dengan memekik pula, keduanya benar-benar bertingkah kekanakan sekarang, bahkan Taemin yang berada di dalam gendongan Chanyeol hanya bisa mendesah malas.
Jongin menatap taman sekolah dengan mata berbinar. "Kenapa dengan tatapanmu itu, seperti tak pernah melihat taman sekolah saja." Ejek Chanyeol. Jongin malas menanggapi ia melangkah cepat menuju ayunan, karena benda itu memang menarik perhatiannya sejak tadi. Ia duduk di sana disusul Chanyeol dan Taemin sudah bermain dengan perosotan.
"Jangan bergerak!" Chanyeol memekik panik, Jongin melirik malas.
"Aku tidak akan jatuh, kau ini aku tidak bodoh." Gerutu Jongin, kemudian mulai menggerakan ayunannya, Chanyeol hanya menatap cemas dan berharap bayi di dalam perut Jongin baik-baik saja. "Ah menyenangkan sekali bisa keluar rumah dan tidak menganggur lagi," gumam Jongin dia masih bergerak pelan di atas ayunan.
"Kau sangat bahagia?"
"Hmmm."
"Maaf aku mengurungmu selama ini."
"Tak masalah, sekarang aku bisa bebas."
"Tidak, aku akan tetap mengawasimu."
"Terserahlah….," balas Jongin asal.
Taemin berhenti bermain dan berlari menghampiri keduanya. "Taemin lapar." adu Taemin sambil mengusap-usap perutnya. Jongin dan Chanyeol tertawa melihat tingkah kekanakan Taemin.
"Baiklah." Balas Jongin setelah melihat lirikan Chanyeol.
"Kita makan siang sekarang." Ucap Chanyeol sembari berdiri dan menggandeng tangan kiri Taemin, sementara itu Chanyeol menggunakan tangan yang lainnya untuk melingkari pinggang Jongin. "Taemin ingin makan apa?"
"Hamburger."
"Tidak, makan lain yang lebih sehat dan mengenyangkan." Taemin cemberut mendengar jawaban sang Ayah. "Taemin harus jadi kakak yang baik, adik bayi butuh makanan yang lebih sehat dan bergizi, ah Taemin juga, Taemin dalam masa pertumbuhan jangan sampai tumbuh pendek nanti."
"Baiklah! Taemin mau makan yang lebih sehat dan lebih bergizi dari Hamburger!" Taemin memekik bahagia. Chanyeol menyungging senyum.
"Kau mau makan apa Jongin?"
"Aku bisa makan apa saja kurasa."
"Selera makanmu bertambah besar?"
"Ya."
"Tapi kulihat tubuhmu belum terlalu gemuk." Jongin hanya mengendikan bahu. "Maaf, aku salah bicara?!" pekik Chanyeol.
"Tidak, Chanyeol berhentilah mencemaskanku terlalu berlebihan aku baik-baik saja."
"Aku tidak ingin kehilanganmu." Jongin menoleh menatap Chanyeol, tatapan Chanyeol benar-benar serius. Jongin melepaskan tangan Chanyeol dari pinggangnya kemudian menggenggam tangan Chanyeol dan menariknya.
"Ayo bergegas, aku sudah lapar." ucap Jongin sambil menarik tangan Chanyeol, sementara yang ditarik hanya tersenyum bahagia.
.
.
.
Makan siang ala Perancis, sedikit berlebihan menurut Jongin, tapi standar hidupnya dengan standar hidup Chanyeol berbeda. Padahal dulu Chanyeol bilang tak terlalu suka dengan makanan Perancis.
"Kau tidak terlalu suka dengan makanan Perancis kan?"
"Ya, tapi ini baik untukmu, Taemin dan calon anak kedua kita."
Jongin hanya mengangguk, ia amati makanan yang tersaji di hadapannya. Ayam panggang berbumbu, biasanya setengah matang berhubung dirinya sedang berbadan dua, maka tak diperbolehkan memakan daging setengah matang apalagi mentah. Disajikan dengan salad bertabur wijen dan minyak zaitun, yogurt, asparagus, potongan Apel dan Kiwi. Jongin melirik Taemin, ia tak terlalu suka dengan makanan yang disajikan pelayan. Taemin terlihat keras berusaha untuk memakan makan siangnya.
Merasa iba, akhirnya Jongin memutuskan untuk membantu Taemin. "Mau disuapi?" Taemin mengangguk pelan. "Ini enak, jangan cemberut seperti itu." Jongin tersenyum sambil mengusap puncak kepala Taemin. Selanjutnya Jongin menyuapi Taemin bersama dengan dirinya yang juga sudah cukup kelaparan dan harus makan. Jongin melihat Taemin mengerutkan dahinya. "Tidak suka yogurt?"
"Hmm." Taemin menggumam.
"Baiklah, kita singkirkan yogurtnya."
Chanyeol hanya tersenyum, rasanya semua sangat lengkap sekarang melihat perhatian Jongin pada Chanyeol. Tiba-tiba timbul niat Chanyeol untuk menggoda Jongin, ia condongkan tubuhnya. "Suapi aku juga." Jongin menyodorkan sebatang asparagus, yang belum dipotong kepada Chanyeol. "Tidak romantis," gerutu Chanyeol namun ia tetap memakan asparagus yang Jongin sodorkan.
"Ayah mirip kelinci." Ucap Taemin kemudian terkikik pelan.
"Ah, aku diejek anak sendiri." Chanyeol menggerutu dan mendramatisir keadaan, Jongin hanya mendecih, benar-benar kesal dengan tingkah konyol Chanyeol ingin sekali ia pukul kepala Chanyeol supaya dia kembali ke Chanyeol yang dingin, ah tidak, Chanyeol yang dingin itu mengerikan. "Jongin, apa yang kau lakukan? Lihat Taemin sudah membuka mulutnya."
"Ah maaf." Ucap Jongin kemudian tertawa kemudian menyuapi Taemin kembali.
Satu jam kemudian acara makan siang bersama itu usai, dan ketiganya sudah berada di dalam mobil, Taemin tertidur di kursi belakang mobil. Jongin dengan paksaan Chanyeol, duduk kursi penumpang depan.
"Setelah ini kau harus minum susu."
"Kau juga."
"Haahhh…," desah Chanyeol tiba-tiba kehilangan semangat.
"Kau tidak suka?"
"Aku harus tetap melakukannya kan." Balas Chanyeol pasrah.
"Ya, itukan kewajibanmu." Balas Jongin asal, sebelum mengalihkan pandangannya untuk mengamati jalanan yang mereka lewati. "Musim panas hampir berakhir."
"Hmm, kau ingin pergi ke suatu tempat sebelum musim panas berakhir?"
"Tidak, mungkin toko buku, ada banyak buku yang aku inginkan."
"Katakan kapan, aku bisa menemanimu."
"Aku pikirkan kapan-kapan," gumam Jongin, ia sudah menyandarkan tubuhnya dan mulai memejamkan kedua matanya yang terasa berat.
"Tidurlah aku akan membangunkanmu saat tiba nanti." Jongin tak membalas, Chanyeol melirik dari ekor matanya, Jongin sudah memejamkan mata dan napasnya terlihat teratur. "Kau benar-benar lelah rupanya." Gumam Chanyeol, ia sedikit cemas jika Jongin mengajar nanti pasti Jongin akan semakin lelah nanti, tapi jika itu yang Jongin inginkan selain itu Jongin terlalu cerdas untuk bertindak ceroboh.
Chanyeol langsung mematikan mesin mobil sesampainya dia di halaman rumah, ia melompat turun dan membuka pintu mobil. "Angkat Taemin bawa dia ke kamarnya." Perintah Chanyeol pada salah satu staf rumah tangga yang menyambut kedatangannya.
"Baik Tuan."
Chanyeol beralih pada Jongin, menyentuh lengan kanan Jongin pelan. "Jongin kita sudah sampai."
"Ah, sampai mana?"
"Di rumah." Dengan sabar Chanyeol menjawab, Jongin masih mengerjap-ngerjapkan kedua matanya, masih sedikit bingung sepertinya. "Ayo cepat, setelah mimum susu kau bisa tidur lagi." Jongin langsung memunggungi Chanyeol dan memejamkan kedua matanya kembali. "Hei! Ayolah!" Chanyeol memekik gemas, sambil menyentuh rusuk kanan Jongin.
"Hentikan itu geli!" kesal Jongin.
"Salahmu pura-pura tidur."
Dengan bersungut-sungut Jongin turun dari mobil, menarik ranselnya dan menyampirkan ransel itu di pundak kirinya, sesekali menguap, dengan rambut acak-acakan, Jongin mirip sekali dengan bocah SMA tengil menurut Chanyeol. Chanyeol menutup pintu mobil kemudian berlari menyusul Jongin dan merangkul pundak Jongin.
Jongin melempar ranselnya ke atas meja makan, menatap tajam segelas susu rasa vanilla yang sangat dibencinya. Chanyeol berdiri di hadapannya dengan tatapan cemas. "Batu, Kertas, Gunting, yang kalah minum lebih dulu dan lebih banyak." Tantang Jongin. Chanyeol menelan ludah kasar, kemudian mengangguk pelan. "Mulai!" pekik Jongin sambil menarik tangan kanannya ke belakang punggung.
"1,2,3!" keduanya berteriak bersamaan. Chanyeol batu dan Jongin kertas, Jongin tersenyum penuh kemenangan Chanyeol mengumpat dalam hati.
"Yang hamil seharusnya minum lebih banyak," gerutu Chanyeol, Jongin tak menanggapi ia sodorkan segelas susu dalam gelas berukuran besar berbau amis itu kehadapan Chanyeol. Wajah Chanyeol semakin masam. Sambil menutupi hidungnya, Chanyeol mulai meminum isi di dalam gelas, kedua mata Jongin membulat sempurna puas dengan ekspresi wajah Chanyeol yang menderita. "Sudah!" pekik Chanyeol sambil mendorong gelas ke arah Jongin kemudian berlari ke konter dapur.
"Dilarang memuntahkannya Chanyeol!" peringat Jongin. Chanyeol membuka lemari pendingin dengan kasar, mengambil kotak jus jeruk, membuka tutupnya dan menenggak kesetanan.
Jongin hanya menahan tawa melihat tingkah konyol Chanyeol, ia minum sisa susu di dalam gelas, sebenarnya dia sudah sedikit terbiasa dengan rasa susu hanya saja melihat Chanyeol yang menderita terlalu sayang untuk dilewatkan. Jongin taruh gelas kosong ke atas meja makan, menarik ranselnya kemudian berjalan pergi.
"Jongin!" panggil Chanyeol.
"Aku mau melanjutkan tidur siangku."
"Aku ikut!" pekik Chanyeol diiringi suara derap langkah kaki.
"Apa-apaan itu," gerutu Jongin dengan bibir yang sedikit mengerucut.
Jongin menyimpan ranselnya ke dalam lemari, membuka sweter yang ia kenakan dan tidur dengan celana kain serta kaos hitam berlengan pendek, Chanyeol sudah berbaring ke atas tempat tidur dengan seenak jidatnya. Jongin masuk ke dalam selimut dan membiarkan Chanyeol memeluknya.
"Jangan terlalu lelah, akan ada orang yang mengawasimu selama kau bekerja di sekolah, dan jangan naik kendaraan umum aku akan menjemputmu."
"Kenapa tidak menyuruh orang lain untuk menjemputku? Kau pasti sangat sibuk."
"Tidak, aku akan menjemputmu." Chanyeol bersikeras.
"Beri aku mobil, aku bisa menyetir."
"Tidak!" Chanyeol berteriak, Jongin mengerutkan keningnya. "Tidak, aku tidak mau sesuatu yang buruk terjadi padamu."
"Paranoid," gerutu Jongin, Chanyeol hanya diam tak peduli dengan ejekan Jongin seperti apa karena dia tak ingin kehilangan Jongin, cukup Kai saja. "Kalau begitu beri aku ponsel supaya bisa menghubungimu."
"Ah apa?!"
"Jadwal mengajar bisa saja berubah, atau tiba-tiba terjadi sesuatu di luar dugaan aku harus menghubungimu."
"Sesuatu di luar dugaan seperti apa?" Jongin melihat kecemasan di wajah Chanyeol.
"Tiba-tiba pulang lebih awal. Semacam itulah."
"Ah itu…, kan sudah kukatan ada yang mengawasimu jadi mereka bisa melaporkan setiap hal yang terjadi langsung padaku."
"Chanyeol, aku tidak mau diperlakukan seperti tahanan kota."
"Aku tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk padamu."
"Kau tidak bisa melawan takdir," bisik Jongin.
"Apa? Apa yang kau katakan?"
"Aku tidak berkata apa-apa, terserahlah, aku mau tidur sekarang." Ucap Jongin, kemudian ia berbaring memunggungi Chanyeol, dan memejamkan kedua matanya. Chanyeol merapatkan tubuhnya pada Jongin, meletakan tangan kirinya ke atas perut Jongin.
"Belum terasa apa-apa," gumam Chanyeol.
"Masih dua bulan bodoh."
"Ah iya…," balas Chanyeol disertai cengiran konyol yang tak terlihat oleh Jongin karena posisinya yang memunggungi Chanyeol. "Kau sering lelah?"
"Hmmm."
"Itu wajar, tidurlah, gunakan waktu sebaik mungkin untuk istirahat."
"Hmm, aku hanya mengajar selama tiga jam di sekolah, aku juga tidak selalu datang pagi, tergantung jadwal, apa kau yang mengaturnya?"
"Kau sudah tahu? Darimana?"
"Dari buku yang diberikan Kepala Sekolah tadi."
"Kau kan baru melihatnya sekilas."
"Aku langsung tahu."
"Wah, kau sangat jenius semoga anak kedua dan anak selanjutnya nanti bisa sejenius dirimu."
"Haahh." Jongin menghembuskan napas kasar. "Yang ini masih dua bulan dan kau sudah memikirkan anak yang lain." Jongin mulai menggerutu, Chanyeol terkikik pelan dan mempererat pelukannya pada Jongin.
.
.
.
Hari pertama mengajar sangat menyenangkan, Jongin hanya menjaga anak-anak yang menggambar, mengajari mereka sedikit bahasa asing dan membacakan buku cerita sebagai penghantar tidur siang. Jongin masuk pukul sebelas pagi dan pukul tiga sore dia bisa pulang.
Dan dengan sedikit paksaan Chanyeol akhirnya memberikan Jongin ponsel, bukan memberi sih, tepatnya meminjami, Chanyeol memiliki tiga ponsel dan Jongin diberi salah satu dan kontak yang ada hanya nomor Chanyeol. menjengkelkan sekali.
Sekolah sudah sepi dan Chanyeol belum menunjukan tanda-tanda kemunculan, padahal Jongin sudah mengirim pesan sejak satu jam yang lalu.
"Park Dobi cepat jemput aku sekarang juga atau aku naik bus?!" Jongin memekik kesal pada ponselnya.
"Baiklah, baiklah, aku berangkat sekarang jangan kemana-mana dan jangan naik bus, mengerti?!"
"Hmmm." Jongin hanya menggumam dan memutus pembicaraannya dengan Chanyeol. Ia masukan ponselnya kembali ke dalam celana belakang celana kain yang ia gunakan. "Kalau tidak boleh naik bus biarkan aku membawa mobil, atau berikan sopir pribadi jika kau terlalu takut," Jongin menggerutu kemudian berbalik melangkah kembali memasuki halaman sekolah.
Ia yakin Chanyeol akan sedikit lama karena itu Jongin putuskan untuk kembali ke kelas, duduk di sana, dan memainkan game atau apapun yang bisa mengobati kebosanannya menunggu Chanyeol. Sebelum Jongin mencapai kelasnya, suara isak tangis menarik perhatian Jongin, ia keluarkan ponselnya, bukan rahasia lagi jika Jongin adalah penggemar hal-hal berbau supranatural dan semenjak hamil, hal itu semakin menjadi. "Hantu sekolah," bisik Jongin, baiklah, Jongin benar-benar semakin gila. Hamil membuatnya berubah, peduli amat, Jongin saja tidak peduli. "Aku akan mendapatkanmu hantu sekolah."
Jongin berhenti, menggaruk tengkuknya, sadar akan kebodohannya. "Ini kan siang hari mana ada hantu muncul siang-siang? Ah mungkin saja ada." Jongin kembali melangkah dengan semangat dan rasa penasaran yang memuncak. Dia memasuki kelas untuk anak-anak TK nol Besar atau TK B.
Bukan hantu, melainkan gadis kecil cantik dengan rambut kecoklatan yang dikepang tunggal. Jongin menurunkan ponselnya, dan menyimpannya kembali. "Hai, ada apa?" Jongin bertanya dengan nada ramah.
"Ayah." Balas sang gadis kecil di sela isakannya. Jongin melangkah mendekat kemudian berjongkok di depan sang gadis kecil yang masih menundukan kepalanya, sambil menutupi wajahnya. "Ayah belum menjemputku." Jongin tersenyum iba.
"Mau jus?" gadis kecil itu akhirnya mengangkat wajahnya, menatap Jongin lekat-lekat kemudian tersenyum, dia benar-benar cantik. Jongin membersihkan air mata yang membasahi wajah si gadis kecil. "Siapa namamu?"
"Lauren."
"Lauren, nama yang bagus. Ayo, kita tunggu ayahmu, aku Jongin aku mengajar di tempat ini tapi di kelas TK A." Jongin menjelaskan, ia takut gadis itu justru mencurigainya sebagai penculik, anak-anak sekarang kan cerdas-cerdas.
Lauren berdiri dari duduknya, Jongin menggenggam telapak tangan kanan mungil Lauren, mereka bergandengan tangan meninggalkan kelas. Jongin mengajak Lauren keluar kelas, dan duduk di bangku taman sekolah yang diteduhi oleh rindangnya pohon Sikamor berukuran besar. Jongin membuka ranselnya, ada sekotak jus Apel yang belum tersentuh, ia ambil jus kotak itu dan memberikannya pada Lauren.
"Terimakasih," Lauren berucap pelan, Jongin tersenyum dan membantu Lauren menusukan sedotan pada kotak jusnya.
"Apa ayah Lauren sering terlambat menjemput?"
"Tidak, baru hari ini, mungkin Ayah masih sibuk di rumah sakit."
"Ahhhh." Balas Jongin. "Baiklah kita tunggu ayah Lauren bersama-sama."
"Jongin juga menunggu ayah Jongin?"
"Ah itu—hanya menunggu jemputan." Pertanyaan yang polos sekaligus menggelikan.
"Jongin tidak dijemput oleh ayah Jongin? Nanti Jongin bisa ikut Lauren dan Ayah, Lauren akan minta Ayah mengantar Jongin."
"Tidak, tidak perlu, Jongin akan dijemput oleh seseorang."
"Siapa?"
Jongin menggaruk tengkuknya, anak-anak jaman sekarang selain cerdas selalu ingin tahu, membuat pening. "Apa jusnya enak?" Jongin mengalihkan topik pembicaraan.
"Ya, enak sekali terimakasih Jongin." Jongin menoleh mengamati Lauren dan mengusap-usap puncak kepala Lauren dengan penuh kasih sayang.
"Ayah!" Lauren memekik bahagia, Jongin meluruskan pandangannya. Ia lihat sedan merah terparkir di depan halaman sekolah, pintu mobil terbuka dan seorang laki-laki berpostur tinggi masih mengenakan jas putih, khas dokter itu keluar. Berlari cepat terlihat sangat cemas. "Ayah!" Lauren kembali memekik bahkan kini berlari menyambut kedatangan orang yang sangat ia nantikan, Jongin hanya berjalan mengikuti di belakang Lauren, ia tak mungkin berlari mengingat kondisinya.
Laki-laki tinggi itu berjongkok dan memeluk putrinya erat. "Maaf, Ayah terlambat menjemputmu." Jongin memperhatikan bagaimana laki-laki itu menciumi setiap jengkal wajah putrinya.
"Tidak apa, Lauren ditemani orang yang sangat baik namanya Jongin, dia mengajar di sini."
"Ah Jong….," laki-laki itu mendongak, kedua matanya menatap Jongin. Jongin merasa aneh dengan tatapan yang laki-laki itu berikan. Laki-laki itu berdiri, kedua matanya tampak berkaca-kaca. "Kai…," kedua matanya mengerjap-ngerjap cepat kemudian mengulurkan tangan kanannya pada Jongin. "Ah, maaf aku Sehun ayah Lauren, terimakasih sudah menemani putri saya Jongin."
"Tidak masalah Tuan Sehun ini sudah kewajiban saya sebagai pengajar di sini." Jongin berucap sopan sambil menyambut uluran tangan Sehun.
"Jongin!" suara berat lain, mengalihkan perhatian Jongin. Rupanya Chanyeol sudah tiba. Jongin menatap Sehun kembali dan tersenyum sambil melepaskan tangan mereka yang masih terpaut.
"Maaf, saya harus pergi jangan terlambat menjemput putri Anda lagi, Tuan Sehun, Lauren sangat cantik." Sehun hanya mengangguk pelan sambil mengulas senyum.
"Apa aku terlambat?" Chanyeol bertanya sambil melingkarkan tangan kanannya pada pinggang Jongin.
"Masalah itu tak perlu ditanyakan lagi, tapi aku ada teman, salah satu muridku juga telat dijemput."
"Ahhh…," Chanyeol menoleh ke belakang, tanpa sengaja bertatapan dengan Sehun, Chanyeol mengerutkan kening, sepertinya dia tak asing dengan wajah itu namun ia merasa tak mengenal lelaki itu.
"Ayo Chanyeol, aku sudah lapar." gerutuan Jongin menarik Chanyeol kembali ke dunia nyata.
"Ah, baiklah, baiklah." Ucap Chanyeol cepat-cepat. Jongin melangkah menuju pintu belakang mobil. "Kau tidak duduk di sampingku?" Jongin menggeleng pelan kemudian masuk, mengabaikan wajah kesal Chanyeol. "Haahhh…," Chanyeol meghembuskan napas kasar, ia harus lebih sabar menghadapi Jongin.
Jongi menoleh ke kanan, memperhatikan Sehun dan Lauren, mereka berdua juga bersiap pergi. Mobil bergerak pelan melewati mobil sedan merah Sehun, Jongin menajamkan pandangannya. Sehun, apa hubungan Sehun dengan Kai, kenapa Sehun memanggilnya dengan Kai, ada apa lagi dengan Kai?
"Apa yang kau perhatikan?"
"Ah!" Jongin tersentak oleh pertanyaan Chanyeol yang sarat akan kecemburuan.
"Kau tak sedang memperhatikan dokter itu kan?"
"Aku memperhatikannya."
"Jongin…," Chanyeol membalas dengan nada memperingatkan.
"Seragamnya bagus, Taemin mungkin cocok jadi dokter."
"Biar anak kedua kita saja yang jadi dokter." Balas Chanyeol, Jongin melirik malas kemudian mengacuhkan Chanyeol. Memilih memejamkan kedua matanya, dia tidak lelah, tidak sama sekali, hanya mencoba untuk berpikir tentang hubungan Sehun dan Kai.
TBC
Terimakasih untuk pembaca sekalian yang telah bersedia meluangkan waktu untuk membaca cerita saya yang semakin aneh, terimakasih untuk , deathangel94, Adinka K.P, winter park chanchan, hunexohan, steffifebri, ParkJitta, sayakanoicinoe, namayou, jjong86, Harumi570, laxyovrds, sejinkimkai, Wiwitdyas1, KaiNieris, geash, driccha, chotaein816, kanzu jackson, cute, kimkai88, miss leeanna, ren chan, Guest, juli, LoveHyunFamily, aliyya, YooKey 1314, atas reviewnya di chapter sebelumnya… maaf jika ada yang terlewat kayakanya gak ada hehehe, harap maklum kalo ada yang kelewatan authornya gak teliti nulis aja banyak typonya
