A/N: Setelah tidak menyentuh dunia fanfiksi selama lebih dari seminggu di karenakan tugas dari pak guru smp saya yang ganteng, botak, dan ngejengkelin sekali, sampai-sampai saya ingin selalu bolos ke kantin jika ada jam pelajarannya dari si pak guru itu (tolong jangan ditiru sedikitpun). Tapi meskipun begitu, si pak guru itu baiknya minta ampun (ketahuan bolos sekali langsung disuruh lari keliling lapangan 20 kali #sangat baik ya?).

Oke, itu tadi hanya sebuah pembukaan yang mungkin bisa membuat anda sekalian bisa terhibur setelah membaca kesengsaraan saya.

Kembali ke topik. Dalam chapter ini bagian awalnya akan menceritakan tentang sedikit sudut pandang Jiraiya yang sangat Absurd, dan untuk selebihnya mungkin biasa saja.

Oke, lets enjoy this chapter~


Disclaim: Semua karakter yang ada dalam cerita ini bukan milik saya, saya hanya sedikit meminjamnya untuk hobi menulis saya yang masih abal-abal.

Warning: penuh typo, banyak kata yang tidak baku, perubahan karakter, dan lain-lain.

Summary: Karena ucapan kasar Sakura, Naruto berniat merubah segala sesuatu yang menurutnya sudah tak lagi menjadi sebuah hal penting dalam hidupnya sebagai seorang shinobi.

.

Chapter 9: Gadis misterius, polos, dan... cantik?

"Adaw..."

Rintihan itu keluar secara otomatis dari mulut Jiraiya saat dengan telak sebuah bogem mentah membuat kepalanya hampir saja terbenam di lantai ruangan Hokage yang dingin dan kaku. Pelaku yang berhasil membuat hal itu terjadi pada salah satu Sannin legendaris ialah wanita pirang berdada besar dan berparas muda yang kini menjabat Hokage, Tsunade Senju.

"Aku tahu kau itu mesum, tapi jangan kau lampiaskan rasa mesummu itu pada seorang gadis muda. Lihat! Sekarang dia meminta pertanggung jawaban atas kelakuanmu bukan? Terus, siapa nanti yang bisa membantu desa ini dari luar desa?"

Sebuah urat kekesalan yang berbentuk perempatan mencuat dari pelipis dahi lebar milik Tsunade. Sebuah kepalan tangan yang beruap masih ia angkat di depan dadanya, itulah anggota tubuh yang ia gunakan untuk merobohkan mantan rekan satu timnya.

Dalam posisi meringkuknya, Jiraiya mengangkat tangannya mencari perhatian. "Ka-kau belum mendengarkan satupun penjelasan dariku, Hime (princess)." Jiraiya mulai mengingat kembali kejadian yang menimpanya saat ia baru saja melewati pintu masuk baru ruangan Hokage bersama Sasame yang tubuhnya masih saja berbalutkan sebuah kain. Saat dengan ceria dia menyapa sang Godaime, tanggapan yang di terimanya adalah sebuah bogeman berkekuatan monster yang mungkin bisa meremukkan batok kepala manusia. Dan untung saja sang Gama Sannin dengan tanggap melapisi bagian paling atas tubuhnya dengan Chakra super banyak yang ternyata masih dapat menyelamatkannya dari ajal, bahkan setelah melakukan itu sang Godaime malah menambahkan sebuah tuduhan tidak jelas yang pasti bisa membuat orang naik pitam. Namun Jiraiya tak begitu.

"K-kalau begitu, coba jelaskan kenapa kau membawa seorang gadis telanjang kesini?" Tsunade berkata disertai dengan merona.

Jiraiya segera bangkit. Di garuk-garuknya bagian kepala yang terkena telak bogeman Tsunade, kemudian dia putar kepalanya kearah Sasame yang hanya bisa menatapnya dengan mata yang polos. "Sebenarnya..."

~Change~

Sepasang kelopak mata terbuka secara perlahan, menampakkan dua permata safir yang bersinar bagai warna langit yang menaungi bumi.

"Apa yang kulakukan disini?" Tak dapat dipungkiri kalau pemilik sepasang safir yang bernama Naruto itu heran. Pasalnya yang ia ingat terakhir kali kalau dirinya baru saja terlelap di atas ranjang Rumah Sakit, dan kenapa malah sekarang terbangun kembali di atas genangan air got yang berwarna kehijauan? Pasti ada sesuatu.

"Aku yang memang sengaja menarikmu kesini, Gaki!"

Naruto menoleh, menatap sebuah penjara yang di dalamnya terdapat makhluk buas yang memiliki sembilan buah ekor yang kini sedang melambai-lambai. "Apa yang kau inginkan? Katakan saja, aku malas berdiri."

Kyuubi menggeram kesal, namun dia tahu kalau menggeram saja tidak cukup untuk menggertak cowok pirang yang beranjak remaja didepannya. "Aku ingin bertanya padamu, kenapa kau bisa menarik keluar paksa Chakraku dari dalam penjara ini?"

"Mungkin itu karena segel yang mengurungmu, mungkin saja itu bisa membuatkmu mengambil Chakramu sepuasku." Naruto kemudian bangkit dari acara berbaringnya dan duduk bersila menghadap Kyuubi berada, "Itu hanya kemungkinan lho, karena sebenarnya aku sama sekali tidak tahu soal itu." Naruto nyengir.

Kyuubi hanya terdiam di dalam penjaranya, 'Itu mungkin saja benar. Bisa saja si Minato itu merubah aliran segel Shikifuujin yang dapat membuat sang Mediator menyedot paksa Chakra Bijuu yang ada di dalam tubuhnya, tapi apa itu bisa?' Kyuubi mulai bertanya-tanya dalam benaknya.

"Apa hanya itu yang ingin kau tanyakan padaku? Kalau iya, aku akan pergi dari sini."

"Pergi saja!"

"Kalau begitu, keluarkan aku."

"Keluar saja sendiri!"

"AKU TIDAK TAHU CARANYA BODOH~"

.

.

Naruto kembali terbangun, tapi kali ini dia terbangun di tempat yang tepat. "Akhirnya aku berada di Rumah Sakit." Pemuda itu menghela nafas lega.

Sebenarnya sudah beranjak seminggu lebih setelah kejadian pembantaian di Nonso no Kuni, dan dalam kurun seminggu lebih itulah Naruto hanya terdiam di atas ranjang Rumah Sakit. Tapi semua ini bukanlah kehendaknya, ini hanyalah perintah dari Tsunade-baachan yang memang tak memperbolehkan dirinya untuk melakukan apapun sebelum luka di perutnya sembuh.

Sebetulnya pernah dua hari yang lalu Naruto mencoba kabur dari ruangan tempat dimana ia dirawat, tapi nasib buruk mempertemukannya dengan wanita pirang pemegang jabatan Hokage yang sekaligus kepala Rumah Sakit Konoha di pintu keluar. Wanita berdada besar itu mengancam dengan sebuah jitakan yang membuat Naruto mau tak mau menuruti perintahnya bagai seorang budak. Ancaman itulah yang menjadi alasan kenapa Naruto tak berniat kabur lagi dari Rumah Sakit, karena yang ia ketahui bahwa satu jitakan dari Tsunade-baachan bisa membuat kepalanya melesak ke dalam lantai. Sangat menjanjikan.

"Naruto-kun, kau sudah bangun?"

Naruto langsung dibuat kaget dengan suara lembut yang menyapa gendang telinganya. Dengan reflek cepat yang ia miliki, kepalanya langsung ia putar kearah kanan dan melihat dimana disana Hinata sedang duduk sambil mengupas kulit apel. Namun gadis itu berhenti mengerjakan aktifitasnya setelah mengetahui kalau ia sudah bangun dari tidurnya.

"Hinata! Apa yang kau lakukan disini!?"

Hinata tersenyum, "Tentu saja mengunjungimu, Naruto-kun. Oh, sebentar lagi rombongan yang lain juga datang kok."

Naruto mengganti posisinya dengan duduk, "Rombongan lain?" Cowok pirang itu kembali harus dibuat menoleh karena pintu masuk ruangan inapnya terbuka lebar. Dari pintu itu masuklah Ino dan Tenten yang masing-masing dari mereka membawa... ramen cup kemasan jumbo, wow.

"Hey Naruto, bagaimana keadaanmu?" Seperti biasa, Tenten terlihat sangat bersemangat.

"Kudengar dari Hokage-sama kalau kau hampir mati, tapi apa yang kudapatkan? Kau malah nyengir tanpa dosa disini." Ino tetap tidak berubah, tetap angkuh dan selalu ingin tampil elegan.

Naruto dibuat tak perdaya dengan situasi yang menimpanya. Jadi dia memutuskan untuk terkekeh sambil menggaruk belakang kepalanya, sementara Hinata terus saja tersenyum. Ino dan Tenten menaruh cup ramen yang mereka bawa di atas meja Rumah Sakit, kemudian Tenten kembali berkata.

"Aku dengar dari Hokage-sama tentang status Sasuke sekarang, dan juga status Tim 7."

"Berarti Tsunade-baachan sudah menetapkan keputusannya," Naruto mendesah dan juga memijit batang hidungnya, "Untuk status Tim 7, memang benar, akulah yang membubarkan Tim 7, dengan alasan yang sudah kupikirkan matang-matang."

Suasana di ruangan itu tiba-tiba menjadi senyap, empat remaja yang salah satunya berbeda gender dari yang lainnya hanya terdiam.

Kesunyian itu kemudian pecah setelah Ino kembali mengambil suara, "Oh, aku di titipi pesan oleh Hokage-sama. Dia berkata; kalau kau sudah bangun, kau disuruh untuk menghadapnya segera."

Naruto menatap Ino lagi, "Ada perlu apa?" Dia memandang polos.

"Memangnya aku tahu apa keperluannya denganmu!" Gadis berponi itu kemudian menggaet satu lengan Tenten, "Ayo kita pergi dari sini, Tenten-san."

"Cepat sembuh ya, Naruto." Tenten melambai penuh semangat.

Cowok pirang yang memiliki marga Uzumaki itu membalas lambaian tangan Tenten, kemudian dia beralih lagi ke Hinata. "Mau menemaniku ke tempat Hokage?"

~Change~

Dengan memakai setelan baju pasien, Naruto berjalan di lorong jalur menuju ke kantor Hokage di temani dengan Hinata disampingnya. Di lorong tersebut, Naruto berpapasan dengan pasangan homo Izumo dan Kotetsu, mereka tertawa melihat Naruto yang berpenampilan seperti orang sakitan, tentu saja Naruto kesal dan berteriak tidak terima.

Setelah beberapa jeda kembali berjalan, akhirnya duo remaja itu masuk ke ruangan Hokage. "YO, BAACHAN!"

"BISA TIDAK KAU TIDAK BERTERIAK!" Tsunade menghela nafas, sudah biasa seperti ini.

"Kau ada perlu denganku?"

Tsunade mulai bersidekap, "Malam ini, kau akan kuberi sebuah misi khusus!"

Mendengar kata khusus, mata Naruto langsung berbinar. "Apa? Sebuah misi khusus?" Alam imajinasi Naruto mulai menggambarkan kalau dirinya akan berdiri di atas gedung Hokage dan berpose seperti pahlawan.

"Misi khusus ini memiliki level A. Yang membuatnya menjadi level A adalah tingkat bahayanya yang mungkin tidak akan bisa kau duga," Melihat bagaimana reaksi Naruto saat ini, mau tak mau Tsunade harus melepaskan senyuman yang sedari tadi ia tahan. "Lokasinya berada di sisi barat Konoha, dan kau akan di temani Hinata serta Kurenai, mungkin juga Jiraiya."

Setelah beberapa lama berimajinasi, Naruto akhirnya tersadar. "Apa! Hinata?" Naruto melihat Hinata yang juga melihat kearahnya dengan heran, "Tidak-tidak, aku tidak akan menerima misi level A kalau Hinata ikut," Hinata menunduk sedih, "...Nenek tahu sendiri 'kan kalau Hinata juga baru pulih dari kondisinya yang lalu? Aku tidak ingin membuat Hinata terluka lagi."

Kesedihan Hinata hanya bertahan sedetik karena ucapan Naruto. Hinata memandang Naruto kembali, "Naruto-kun..."

Tsunade yang mengerti bagaimana perasaan Naruto hanya bisa tersenyum, "Ini memang misi level A, tapi kau tidak perlu khawatir akan bahaya yang mungkin saja nanti menimpamu, masih ada beberapa Anbu, Kurenai dan mungkin Jiriaya, jika dia berada disana."

"Yosh! Aku terima misi ini..."

~Change~

"...Lama tidak bertemu, Naruto."

Suara kalem khas seorang wanita terdengar saat Naruto baru saja datang ke tempat pertemuan yang biasa digunakan oleh Tim 8 saat mereka ingin menjalankan sebuah misi. Disinilah Naruto sekarang, di depan kedai yang menjual dango bersama Hinata dan juga Kurenai.

Naruto tersenyum mendapatkan sapaan itu, "Lama tidak bertemu, Kurenai-sensei. Ngomong-ngomong, kau sepertinya bertambah cantik saja." Naruto terkekeh.

Kurenai tersenyum mendengar pujian dari cowok pirang yang baru saja beranjak remaja di depannya, "Kau bisa saja, dan sepertinya kau juga bertambah dewasa. Sedikit." Kurenai sejenak tersenyum, "Dan kudengar dari Kakashi..."

"Tentang Tim 7 'kan?" Naruto menyahut, "Aku yang memang memutuskan hal itu. Dan menurutku, itu sebuah pilihan yang tepat."

"Aku sudah tahu kok, alasanmu tentang membubarkan Tim 7. Dan kupikir, itu memang sebuah keputusan yang sangat tepat."

Naruto tersenyum lima jari, "Baiklah, ayo kita berangkat!"

~Change~

"...Pemeriksaan?"

Tak pernah Naruto sadari jikalau di tempat yang sesepi ini di butuhkan sebuah pemeriksaan bagi pengunjung, dan yang paling mengejutkan adalah pemeriksaan tersebut di lakukan oleh dua orang Anbu yang sepertinya memang ditugaskan untuk berjaga disini. Naruto juga mulai berpikir tentang alasan kenapa Tsunade-baachan memberikan label misi ini sebagai misi level A, mungkin karena ini sebuah Rumah Sakit khusus.

Jujur saja, mungkin saat dirinya di panggil kehadapan Tsunade-baachan, telinganya sudah tak bisa lagi menangkap omongan dari wanita itu setelah mendengar sebuah misi level A yang di berikan padanya. Namun saat mendengar sebuah kata 'bahaya' yang juga di sangkut pautkan tentang nama 'Hinata', tiba-tiba saja otaknya kembali tersadar.

Kejadian di Nonso no Kuni sudah cukup memberikan sebuah penyesalan pada dirinya karena telah membawa Hinata ikut bersamanya. Namun itu juga merupakan sebuah situasi yang sangat tidak terduga, dimana lawan mereka adalah hasil uji coba seorang ilmuan gila yang juga merupakan dari salah satu anggota Densetsu no Sennin. Jikalau saja saat itu Ero-sennin tidak bersama mereka, mungkin saja nyawa mereka tak lagi berada di jasad mereka.

Ngomong-ngomong, dimana Ero-sennin?

Kurenai mendekati Naruto, kemudian menepuk salah satu bahu pemuda itu. "Tidak perlu khawatir Naruto, ini memang sebuah keharusan bagi pengunjung." Naruto menanggapinya dengan sebuah anggukan.

Salah satu dari badan Anbu yang menjaga pintu masuk Rumah Sakit tersebut maju selangkah dan berdiri tepat di depan Naruto. "Namamu Naruto Uzumaki?" Naruto mengangguk, "Ada sebuah pesan dari Jiraiya-sama yang beliau titipkan pada kami untuk diserahkan padamu jika kau datang kesini." Anbu tersebut memberikan sebuah surat pada Naruto.

Naruto mengambil surat itu, kemudian dia langsung menyimpannya di saku celananya. "Lalu, sekarang dia dimana?"

"Beliau sudah pergi beberapa jam yang lalu."

Naruto hanya bergumam menanggapi. Kemudian dia dan Hinata melakukan pemeriksaan, meninggalkan Kurenai yang tertinggal di belakang. Saat baru melewati pintu masuk, Naruto merogoh sakunya yang berisikan surat dari orang yang ia panggil dengan sebutan Ero-sennin, di bukanya lipatan kertas yang dibawanya, yang kemudian dia baca dengan seksama bersama Hinata.

Naruto, aku akan memberikan sebuah perintah singkat padamu saat kau membaca pesan ini. Segera pergilah ke ruangan nomor 442 bagian A, dan bawalah pulang gadis yang berada di ruangan itu. Bilang pada penjaga kalau ini perinahku, dan jikalau mereka masih tidak percaya, berikan surat ini pada mereka.

Ttd: Jiraiya no Gama Sennin.

Setelah membaca surat itu bersamaan, Naruto dan Hinata sejenak berpandangan.

"Hinata, kau paham dengan maksud surat ini?" Tanya Naruto.

Hinata mengangguk, "Te-tentu saja, Naruto-kun. Jelas-jelas kau disuruh untuk membawa pulang seseorang dari sini, dan itu berarti..."

"...Ini seperti sebuah misi penculikan." Ucap mereka bersamaan.

To be Continued...

A/N: Kehebohan akan terjadi di chapter selanjutnya. Apakah yang akan terjadi jika Naruto benar-benar mengambil gadis tersebut? Masih misteri.

Untuk chapter ini dan beberapa chapter kedepan, hanya bertopik meringankan suasana yang semula panas karena kejadian yang menimpa Naruto serta Hinata. Tentang Tim 7? Itu benar-benar bubar, dan sudah tidak ada. Sasuke? Sudah di tetapkan sebagai missing-nin, bahkan juga diberi rank A dalam statusnya.

Dan untuk Pair, sepertinya banyak yang sudah tidak sabar menunggu pair dari cerita ini. Semoga saja anda lebih sabar untuk menunggu era Shippuden datang, karena nanti nuansa romansanya lebih berasa jika di bandingkan waktu masih berumur 13 tahun. Fic lain sudah di beri pair pada umur 8 tahun? Kedewasaan yang terlalu dini menurut saya.

Oke, tetap tunggu chapter selanjutnya yang akan saya buat Tsunade-baachan jantungan karenanya. Adios~