Moving on isn't easy

.

.

.

.

.

Summary: Saat Mingyu dan Hoshi terjebak di permainan yang mereka buat sendiri.

"Kukira move on tidak sesulit itu?" – Hoshi , "Kalau kenyataannya memang sulit bagaimana?" – Mingyu.

Boys Love. B x B. Mingyu x Hoshi. MinSoon. SoonGyu. Moshi. SEVENTEEN. AU. OOC

Semua tokoh di dalam cerita milik Tuhan, Orang tua, Keluarga, Pledis Ent, dan dirinya sendiri.

Jalan cerita milik saya. Mohon maaf apabila terdapat kesamaan. Bukan perbuatan yang disengaja

.

.

.

.

.

.

"Tidak, aku tidak membencimu. Aku tidak bisa untuk membencimu. Tapi aku mohon mengertilah, rasanya sakit sekali jika masih bisa melihatmu di sekitarku. Masih mengetahui kabarmu. Dipaksa menyadari kau tetap bahagia walau tanpaku.

Aku mohon pergilah untuk sementara, atau setidaknya izinkan aku melepasmu hingga senyummu tak lagi terasa seperti luka." – mbeeer

.

.

.

.

Setelah hubungannya dengan Mingyu berakhir pagi itu, Hoshi bisa dibilang terlalu mudah kehilangan fokusnya. Ambil saja contoh hari Jum'at yang lalu, tiba-tiba sesuatu mengganggu pikirannya sehingga ia melamun saat makan siang dan menumpahkan segelas jus apel ke bajunya. Jadi sepanjang hari ia harus rela menahan dingin akibat bajunya yang basah. Lain halnya dengan hari ini, Hoshi melakukan banyak sekali kesalahan saat latihan bersama klub menarinya. Sampai-sampai ia mengundang perhatian teman yang lain dan ditegur oleh sang pelatih.

"Hoshi-ya! Perhatikan gerakanmu. Daritadi kuamati, banyak sekali langkah yang salah."

"Gomenasai sensei," Berkali-kali Hoshi membungkukkan badannya sebagai bentuk penyesalan.

"Sudahlah," Lelaki paling tua di ruangan itu mengedarkan pandangannya, "Lebih baik sekarang kalian istirahat. Kembali lagi disini satu jam yang akan datang. Mengerti?"

"Mengerti seonsaengnim!" Ucap anggota klub menari secara serempak.

Hoshi yang merasa sebagai pengacau hari itupun langsung mengambil langkah seribu untuk menyingkir ke sudut ruangan dan menyandarkan dirinya ke dinding yang ada sambil sesekali mengatur napasnya yang masih tersengal-sengal.

Jun yang melihat itu, segera berinisiatif. Ia berjalan melintasi ruangan untuk menghampiri Hoshi yang sedang beristirahat, lalu menepuk pundak lelaki yang lebih muda, "Kau terlihat kacau, didi."

Hoshi menggeleng, mencoba membantah pernyataan orang yang sudah dianggap sebagai kakaknya itu, "Aku baik-baik saja, nii-chan."

"Kurasa tidak," Jun menyandarkan dirinya ke dinding dan menyodorkan sekaleng jus buah pada Hoshi, "Apa yang sedang terjadi, hm?"

Melupakan fakta bahwa yang lebih tua baru saja mengajukan pertanyaan, Hoshi mengambil benda yang ada di tangan Jun dengan senang hati, "Domou, nii-chan."

Tak ada lagi pembicaraan setelahnya. Mereka sama-sama sibuk mengatur napas dan mengisi kerongkongan yang sudah kering sedari tadi.

Tiba-tiba Hoshi memecah keheningan, "Nii-chan, menurutmu peluang kita untuk menang di kompetisi ini besar atau tidak?"

Jun menyentil pelan dahi yang lebih muda, "Jangan mengalihkan pembicaraan, Hoshi didi. Kau belum menjawab pertanyaanku tadi."

"Pertanyaan yang mana?" Hoshi mengusap dahinya, diam sejenak dan mencoba mengingat apa yang Jun maksud, "Oh itu."

"Bagaimana?" Pemuda yang lebih tua menaikkan salah satu alisnya, menunggu jawaban dari sang adik.

"Aku hanya kurang istirahat."

"Kenapa? Memikirkan Mingyu?"

Tubuh Hoshi menegang, tapi raut wajahnya menggambarkan sebuah kesedihan, "Dari sekian banyak orang, kenapa kau harus menanyakan dia?"

"Karena hanya seorang Kim Mingyu yang dapat membuatmu seperti ini," Jawab Jun sekenanya.

"Seperti apa?" Hoshi mendelik, membuka matanya yang sipit menjadi sedikit lebih lebar dari biasanya, "Aku baik-baik saja. Tak ada yang salah."

"Berhenti membohongi dirimu sendiri, Hoshi didi," Jun tersenyum lembut. Pemuda yang bernama lengkap Wen Junhui itu berdiri dari duduknya dan pergi meninggalkan Hoshi. Membuat lelaki yang lebih muda termenung sendiri memikirkan kata-kata yang seakan menusuk perasaannya.

Tebakan Jun mengenai Hoshi yang tak bisa tidur karena memikirkan Mingyu itu benar adanya. Namun Hoshi enggan mengakui bahwa sudah seminggu ini malam-malamnya diisi dengan ingatan tentang kenangan singkat bersama sang mantan kekasih. Disamping itu banyak hal lain yang juga mengganggu, diantaranya Mingyu yang langsung menghapus nama Hoshi dan juga foto mereka berdua dari akun Instagramnya, berhenti mengikuti sosial media Hoshi, dan juga sulit dihubungi belakangan ini. Sedikit banyak itu membuat Hoshi khawatir, Mingyu seakan menghindarinya. Menjaga jarak aman supaya tak bersinggungan dengan putra sulung keluarga Kwon.

"Gege!" Tiba-tiba seseorang menepuk pundak Hoshi, menyadarkannya dari lamunan tentang sang mantan kekasih.

"Hi, Minghao-san!"

"Sedang memikirkan apa?"

"Ah- itu. Aku hanya mengira-ngira apakah kesempatan kita untuk menang di kompetisi ini ada atau tidak."

Minghao mengangguk, lalu bertanya sekali lagi, "Bukan memikirkan Mingyu?"

Hoshi mendecih, lagi-lagi nama itu.

"Untuk apa memikirkan orang yang bahkan mungkin tak pernah memikirkanku?"

"Siapa bilang Mingyu tak pernah memikirkanmu?" Dengan santainya Minghao mengambil sebuah minuman kaleng yang ada di dekat kaki Hoshi dan meneguk habis isinya.

"Aku."

"Oh jadi Mingyu yang tiba-tiba menyebut namamu saat kami sedang membicarakan sesuatu, berulang kali membuka sosial media hanya untuk melihatmu, dan dia yang tertangkap basah sedang membaca ulang percakapan kalian itu tidak termasuk memikirkanmu, ya? Baiklah."

"Mungkin semua itu hanya kebetulan," Hoshi menyangkal penyataan Minghao sekaligus meyakinkan dirinya sendiri. Ia tak ingin terlalu berharap.

"Tidak, Gege. Aku mengenalnya sejak lama. Ia tak pernah seperti ini sebelumnya."

"Begitu ya?"

Minghao mengangguk, menyandarkan dirinya ke dinding sambil sesekali menyeka keringat yang menetes dari anak rambut di dahinya. Latihan menari benar-benar menguras tenaga.

"Kau tau, Gege? Sejak putus denganmu, Mingyu sedikit berubah. Ia jarang tersenyum. Ya .. meskipun pada dasarnya dia memang pelit ekspresi. Lebih sering melamun dan mudah kehilangan konsentrasi. Kuperhatikan ia jadi lebih suka menyendiri daripada berkumpul dengan teman yang lain," Minghao memberi jeda sebentar, memberi kesempatan pada paru-parunya untuk mengolah oksigen terlebih dulu.

"Mingyu pernah bercerita padaku, ia ingin menghindarimu. Dan pelan-pelan membuang semua kenangan tentangmu. Hubungan kalian yang hanya seminggu dan itupun kontrak, nyatanya banyak mempengaruhi kehidupan Mingyu sekarang," Hoshi membulatkan matanya, kaget karena ternyata Minghao juga mengetahui hal itu.

"Kalau kau mau tanya dari mana aku tau, jawabannya adalah dari Mingyu sendiri. Jujur saja ia punya perasaan yang lebih dari sekedar kekasih kontrak padamu, Ge. Dan sekarang ia sedang mencoba untuk move on. Tak ingin terlalu larut dalam kenangan apalagi angan tentangmu."

Hoshi hanya bisa diam dan mencoba untuk mencerna semua ucapan pemuda dari Cina itu. Belum sempat ia menyampaikan apapun pada Minghao, seseorang telah berbicara dengan suara nyaring dari tengah ruangan.

"Waktu istirahat habis. Ayo semua kembali berlatih!" Seru Kim seonsaengnim, guru pembimbing klub menari di kampus itu.

"Baik seonsaengnim!"

.

.

.

Sementara di tempat lain, tepatnya di gedung perusahaan milik keluarga Kim, Mingyu mengusap bekas luka yang ia dapatkan saat jatuh seminggu yang lalu dari balik celana berbahan kain yang dipakainya saat ini. Masih teringat dengan jelas di benak Mingyu bagaimana hangatnya tangan Hoshi yang pernah menyentuh luka itu.

"Kau benar-benar hebat, Kwon Soonyoung. Sebenarnya apa yang sudah kau lakukan hingga rasanya begitu sulit untuk melupakanmu?" Ucap Mingyu pada dirinya sendiri.

Tiba-tiba, pintu ruangan bernuansa hitam putih itu terbuka. Menampilkan seorang pemuda yang terlihat beberapa tahun lebih tua daripada Mingyu.

Lelaki itu membungkuk dengan hormat, "Sajangnim, semua berkas sudah ditandatangani. Tugas Anda sudah selesai untuk hari ini."

"Jangan memanggilku seperti itu, Aaron hyeong. Aku belum resmi menggantikan Appa. Kau bisa memanggilku Mingyu saja."

"T-Tapi Tuan?"

"Sudah, tidak apa-apa. Oh iya, kau bilang semua tugasku sudah selesai, 'kan? Jadi aku bisa pergi ke kampus sekarang?"

"Iya, sajang-" Mingyu melirik, "Maksud saya, Mingyu-ssi."

"Baiklah. Terima kasih kalau begitu. Aku duluan, hyeong!"

"Hati-hati di jalan, sajangnim!"

Mingyu hanya mengacungkan ibu jarinya dan melangkah dengan cepat menuju basement. Setelah sampai dan masuk ke dalam mobilnya, Mingyu mengambil baju yang sengaja dibawanya dari rumah lalu berganti baju di toilet yang ada. Penampilannya saat ini jelas berbanding terbalik dengan saat ia bertugas di kantor. Dari setelan formal dengan celana dan jas berwarna putih menjadi celana jeans, kaus serta jaket yang didominasi warna hitam.

"Aku siap!" Ucap Mingyu pada dirinya sendiri lalu memacu mobilnya dengan kecepatan sedang membelah padatnya kota Seoul di sore hari.

Sepanjang perjalanan dari kantor menuju kampusnya, Mingyu memutar playlist yang berisi lagu kesukaannya. Pada 5 KM pertama, lagu yang diputar memiliki tempo yang cepat dan lirik yang ringan berhasil membuat Mingyu mengangguk-anggukkan kepala dan sesekali ikut bernyanyi.

Namun tidak untuk beberapa lagu setelahnya. Karena yang terputar adalah lagu berjudul 20 milik boygroup yang sedang naik daun, yaitu SEVENTEEN.

.

.

I wanna be your morning baby

이제부턴 B alright (From now on, be alright.)

함께있는 Morning baby (Spend it together, morning baby.)

I want u to be my night

너의생각하는모든게 (Everything you think of.)

나의모든것이될수있도록 (Will become all of me.)

날봐줘 And be my lady (Look at me and be my lady.)

You're my twenties

.

.

Mingyu tersenyum sendu, ia jadi ingat pernah menyanyikan lagu ini untuk mantan kekasihnya di hari ketiga mereka.

.

.

Flashback mode: ON

.

.

3 Oktober 2016, 05:00 AM KST

Waktu itu, Hoshi terbangun pagi sekali karena ada sebuah panggilan yang masuk ke ponselnya, saat dilihat ternyata nama Mingyu lah yang tertera disana. Dikarenakan rasa khawatir apabila sesuatu terjadi pada kekasihnya, meskipun masih setengah sadar, langsung saja ia menekan simbol berwarna hijau di layar ponselnya. Ditunggu beberapa saat, tak juga ada suara yang terdengar. Hoshi berniat untuk memutuskan sambungan telepon itu, tapi kemudian ia mendapati suara berat Mingyu yang bernyanyi dengan petikan gitar akustik sebagai pengiringnya.

Hoshi diam dan mendengarkan dengan seksama setiap kata yang terucap dari bibir kekasihnya, tak dapat dipungkiri ia merasa senang sekaligus terharu. Karena selama ia hidup, ini pertama kali seseorang khusus menyanyikan sebuah lagu untuknya.

Setelah lagu selesai, Mingyu tak berbicara apapun dan langsung menekan simbol berwarna merah di ponselnya. Pria bermarga Kim itu tiba-tiba melupakan hal yang tadinya akan ia sampaikan pada Hoshi.

Tanpa keduanya sadari, jantung mereka berdetak lebih cepat dan bibir mereka yang tersenyum begitu lebar hanya karena telepon yang awalnya tak direncanakan itu.

.

.

Flashback mode: OFF

.

.

Lanjut lagu berikutnya, Mingyu agak gusar sejak detik pertama lagu itu mengalun. Karena tanpa perlu melihat display pun ia tau ini lagu siapa, apa judulnya, dan bagaimana jalan ceritanya. Tapi sama sekali tak berniat untuk mengganti ke lagu berikutnya.

.

.

그땐널많이사랑했었나봐 (I must have loved you a lot back then.)

나혼자만사랑했던걸까봐 (But I must have been the only one in love.)

너를잃어힘든아픔보다 (It wasn't the pain of losing you.)

내가몰랐던네모습이날 (It was the side of you I didn't know. )

더외롭게만드는걸 (That made me feel so lonely.)

그때넌나를사랑했던걸까 (I wonder if you loved me too.)

나혼자서사랑했던것같아 (I feel like I must have been the only one in love.)

Oh oh oh oh
No you you you
널믿고싶어그저난oh oh (I just want to believe you oh oh.)

.

.

Rupanya lagu milik penyanyi Yang Da Il yang berjudul she didn't love me lagi-lagi membuat Mingyu teringat akan Hoshi dan juga cinta yang menurutnya hanya sepihak itu.

"Jadi begini rasanya cinta bertepuk sebelah tangan? Menyedihkan sekali," Putra sulung keluarga Kim itu tertawa miris diatas kisah cintanya sendiri.

Terakhir, Mingyu berdo'a terlebih dahulu sebelum kembali menekan tombol NEXT pada pemutar lagu miliknya. Berharap yang akan keluar kali ini adalah lagu yang takkan mengingatkannya lagi pada Hoshi.

Sayang, harapan tak selalu sesuai dengan kenyataan. Lagu milik penyanyi dari Negeri Tirai Bambu, JJ Lin yang berjudul I still miss her lah yang terputar.

.

.

请告诉她我不爱她

Qǐng gào sù tā, wǒ bù ài tā (Please tell her, I don't love her.)

笑着难过自我惩罚

Xiào zhe nán guò, zì wǒ chéng fá (Sadly laughing, self punishing.)

想终止这一切挣扎

Xiǎng zhōng zhǐ zhè, Yī qiē zhèng zhā (Want to stop all these struggle.)

横了心说真心谎话

Hěn le xīn, shuō zhēn, xīn huǎng huà (Set my heart to say a truthful lie.)

.

.

"Ah! Sudahlah," Dengan kasar Mingyu menekan tombol STOP pada pemutar musik miliknya. Daripada bertaruh dengan moodnya yang akan semakin memburuk jika diteruskan, putra sulung keluarga Kim itu lebih memilih untuk menyetir dalam keheningan sampai ia tiba di kampusnya.

.

.

.

.

Mingyu berjalan dengan santai di lorong yang menuju ke perpustakaan setelah memarkirkan mobilnya dengan rapi di lapang parkir yang ada di belakang gedung fakultas sastra. Mata pemuda itu menatap ke sekeliling. Sepi. Mungkin karena sudah sore, dan waktu pulang pun sudah lewat beberapa saat yang lalu. Hanya terlihat beberapa orang mahasiswa yang masih berlalu lalang dengan kegiatannya masing-masing.

Sementara seseorang dengan rambut yang diberi highlight berwarna biru berjalan dari arah yang berlawanan dengan putra sulung keluarga Kim itu. Tanpa perlu diberitahupun, Mingyu jelas dapat mengenali siapa orang tersebut.

"Sial. Kenapa harus dia?!" Rutuk Mingyu pada dirinya sendiri. Kedua kakinya membeku. Sementara otaknya hampir buntu karena kaget. Juga bingung yang menyerangnya tiba-tiba, harus terus melangkah atau memilih berbalik yang akhirnya akan terlihat jelas kalau menghindar.

"Terus jalan saja. Aku bisa pura-pura tak melihatnya," Mingyu meyakinkan dirinya sendiri.

Makin lama, makin dekat. Mingyu bisa merasakan jantungnya berdetak semakin cepat. Namun, ia pikir Hoshi tak menyadari bahwa hanya ada mereka berdua di lorong itu karena yang lebih tua terlalu sibuk dengan headset dan juga ponsel ditangannya. Tapi ternyata perkiraan putra sulung keluarga Kim itu salah. Saat mereka berpapasan, Hoshi menahan pergelangan tangannya, mencegah pemuda itu untuk berjalan lebih jauh, "Kita perlu bicara."

"Membicarakan apa?" Mingyu melepas genggaman Hoshi dari pergelangan tangannya.

Bukannya menjawab, Hoshi malah balik bertanya, "Kau mau bicara apa?"

"Kau maunya apa?"

"About all those things that are bothering us," Suara Hoshi yang asalnya terdengar dingin kini mulai melunak.

"Kau mau aku melakukan apa?"

"Mauku? Banyak."

"Apa saja?"

"Jangan menghindariku. Jangan kemana-mana. Ayo berteman. Sorry for being selfish, tapi jangan move on duluan. Karena akupun belum move on," Jawab Hoshi dalam satu helaan napas.

"Kenapa tak boleh? Lalu aku harus apa?"

"Ya begini saja, jangan menghindariku."

"Kalau aku tetap tak bisa move on darimu bagaimana? Tak kasihan padaku?"

"Kau mau dikasihani karena menyukai seseorang? Itu hakmu, Ming!"

Mingyu terhenyak, bahkan Hoshi masih memanggilnya dengan nama itu.

"Lebih baik caraku, bukan?"

"Seperti apa?"

Mingyu mundur selangkah, "Menjauhi dan menghidarimu."

"Bagaimana jika aku tak mau?"

"Nanti kau lelah sendiri."

"I won't get tired," Hoshi membalikkan badan dan menatap Mingyu tepat di kedua matanya.

"Aku yang lelah."

"Lelah karena apa?"

Mingyu membuang muka lalu mengambil langkah berikutnya untuk mundur. Sebisa mungkin Menghindari kontak dalam bentuk apapun dengan Hoshi, "Carilah jawaban sendiri. Aku malas menjawabnya."

"Sudahlah, Ming. Jangan cari alasan untuk menghindariku. Aku tidak menerima itu."

"Terserah. Aku lelah."

"Iya tau."

"Itu tau. Kenapa kau sulit sekali diberitahu?"

"Berhenti mencari alasan."

"Aku sama sekali tidak mencari alasan. Untuk apa aku mencari alasan hanya untuk menjauhimu? Kurang kerjaan. Aku memang belum move on."

"Jangan menjauh."

"Begini, biarkan aku move on dulu. Bisa?"

Hoshi menggeleng lemah. Suaranya pun lebih lirih dari sebelumnya, "Tidak."

"Lalu aku harus apa?"

"Nantipun kau akan lupa. Jangan memaksakan diri."

"Kalau kita jauh, akan lebih cepat bagiku untuk melupakanmu."

"Lalu bagaimana denganku?"

"Memangnya kau kenapa? Kau sudah bahagia dengan kekasihmu itu. Ya sudah."

Kekasih? Sepertinya ada sebuah kesalahpahaman disini. Bagaimana bisa seorang Kwon Soonyoung, putra sulung keluarga Kwon memiliki kekasih sementara hatinya sudah dicuri oleh Kim Mingyu? Tapi sudahlah. Hoshi tak berniat untuk menjelaskannya saat ini.

"Sesekali kalau ada masalah, pikirkan juga orang lain. Jangan hanya memikirkan dirimu sendiri."

"Tapi menurutku, keputusan yang kuambil sudah benar. Demi kebaikan kita bersama, bukan?"

Kali ini Hoshi mengendikkan bahunya acuh, "Bukan."

"Astaga. Kenapa kau sulit diberitahu?" Sedangkan Mingyu hanya bisa mengusak rambutnya dengan kasar.

"Kukira satu minggu kemarin cukup menjelaskan kalau aku keras kepala."

"Perlu aku menjauh lagi? Atau bahkan pindah universitas?"

"Kukira move on tidak sesulit itu?"

"Kenyataannya sulit. Bagaimana? Salahku?"

"Sudahlah Ming," Hoshi mencoba meraih lengan kanan Mingyu, namun sudah terlebih ditampik oleh pemiliknya, "Jangan cari alasan kubilang."

"Jadi aku harus berteman denganmu? Kan sudah kubilang, kalau dekat aku tak bisa move on."

"Mau aku terus mengejarmu dan menanyakan hal yang sama? Apa salahnya berteman dengan mantan kekasih?"

"Tak salah. Tak ada yang salah. Tapi aku sendiri yang malas. Sudah cukup? Anggap saja aku jahat. Aku hanya ingin move on. Salah?"

"Ming-"

"Terserah," Tanpa mendengarkan perkataan Hoshi, Mingyu pergi dari sana. Membatalkan niat awalnya untuk pergi mencari buku di perpustakaan. Dan lagi-lagi meninggalkan Hoshi beserta keinginannya yang belum tercapai.

.

.

.

.

.

TBC

.

.

.

.

.

Akhirnya bisa update juga. Maaf updatenya lama TAT Terima kasih buat yang sudah mau membaca, juga buat yang meninggalkan review di beberapa chapter sebelumnya. Mohon maaf apabila masih terdapat banyak kesalahan.

Ingatkan waktu itu saya mau buat fict ini seme x seme. Nah! Mungkin itu akan sedikit kelihatan disini. Semoga kalian suka.

Oh iya, udah nonton MV SEVENTEEN yang healing? Kalau belum jangan lupa tonton di Official Youtube Channel mereka ya! Sama untuk 3 lagu diatas, coba dengar sambil baca fict ini. Siapa tau feelnya lebih dapat.

Terakhir, jangan lupa tinggalkan review ^^~ Tolong jangan jadi silent reader, soalnya saya jadi kurang semangat buat ngelanjutin ff ini kalau feed back nya nggak begitu bagus hehe

Saya menerima kritik dan saran yang bersifat membangun.

Sampai jumpa /o