Naruto selamanya milik Bapak Masashi Kishimoto.
Ucul Note :
PinkRamen : Hihi, semoga suka chap ini ^^
Undhott : Iya, Sasusaku kan udah dr awal muncul trs hehe
Respitasari, Sofi asat, Yoktf , FiaaaTiarizqi, Megan091 : Iya ini udah lanjut ^^ dan maaf blom bisa update kilat :D
Nikaamakusa : Soalnya dia penasaran sama Sasuke, jd aja tertarik gitu ^^
Fiochan51 : Hehehe makasih selalu nunggu Fic ini, salam hangat juga untukmu ^^
Moikomay : Hihihi, maaf klo kamu ngak suka tapi gmn ya, idenya bgtu :D dan sebenarnya konflik romance disni bukan cinta segi2an kok ^^
Hoooooo : Hehe, pairingnya kan udah jelas ya, Sasusaku dan Naruhina :D
Gue : Hahaha, seminggu sekali aja itu terlalu mepet waktunya (Aslinya loh) untungnya sih msh bisa walau yg satu kudu begadang dan yang ngeBeta pagi2 buta ngerjainnya. Dan km doank yg nyadar Hinata kesel Naruto ngobrol akrab sm Sakura :D
Mantika Mochi : Makasih ya untuk semangatnya ^^
R.I. Edogawa : Hihihi, konfliknya asmaranya bukan itu kok. Aslinya ide certa ini udah smpe ending kok ^^
Lady Hanabi : Iya kasian ya Naruto *pelukbangNaru* Ngak ada yg ganguin Sasusaku kok hehe, iya chap ini Sasusaku dibanyakin kan udah janji aku di chap kmrn ^^
Wowwoh geegee : Wuah, km juga nyadar Hinata memilih mundur :D sip sip baca chap ini deh biar ngak datar lagi :D
Ikalutfi97 : Wuah, harus sedia penutup kuping nih buat chap ini :D aku juga kasian bgt sm Naruto disini *eluskepalabangNaru* eaaaaa, aku bilangin Taka nih kamu cakar2 aku :D
Nathalie Ichino : Wkwkwkwk,, gpp kok. Santai aja, tapi gtw deh kisah cintanya rumit apa engga hahaha
NikeLagi : Wkwkwk, jgn2 km bacanya masih di eja lagi hihi piss :v Sakura sm Naruto, ya ngak gmn2 hahaha
Haruka Smile : Makasih loh, ini chap selanjutnya ^^
Ozora chan : Maaf ngak bisa update kilat T_T dan, ya will see, ngak janji disini Saku ngak nangis :p
Istrinya Soujiro : Iya, aku juga suka sm Samurai x dan aku juga nonton film live actionnya kuerennn apalgi pas The legend End. Iya gpp, makasih ya ^^
Krystaljung13 : Huehehe ada kok di chap ini ^^
Anti SH : MESTI donk, secara saya yg buat wkwkwkwk. Jadi kan terserah saya ^^
Misakiken : Eh, si Hinata emang suka sm Sasu kok, dan maaf klo updatenya lama huhuhu
KuroNeko10 : Itu kasian tmn km di cekek bgtu haha, iya smoga si sweetnya berasa yak. Ngak yakin sm adegan romance bikinan sendiri hahaha
Adrienna : Hihihi cukup gregetan aja ya, jgn dibacok Hinatanya :D
Kimi : Yakin donk, yasudah sih klo males, jgn dipaksa lah, gitu aja repot hehehe
Ironira : Hihihi, hmm Kakashi ya, kayanya disini dia ngak main dulu hehehe
May : Huehehe… Hmm orang ketiga bukan ya? Gtw deh Hinata org ke brp wkwkwk..
Qren : Yeayyy, kamu sadar juga ya.. iya, semoga suka chap ini ya ^^
Dianarndraha : Makasih loh ^^ iya, ini kayanya banyakan Sasusaku kok hehe
Dshityrukoyach05 : Maaf saya salah tulis namamu ya hehe, Sasuka kayanya akan suka sm aku deh *ditelen* hehehe silakan dibaca chap ini ya ^^
Uchiha June : Iya, Hinata kan juga baik kok, namanya suka kan siapa aja boleh suka :D
Milan Arizawa : Hihi gpp, makasih udah mau ripiu.. konflik romance disini ngak segi2an kok hehe
A : Maaf, aku blom pernah baca Liberty Statue. Malah baru denger. Tadinya mau aku searching dan mau coba liat kemiripannya. Tapi ketika kamu bilang kelicikan Hinata dan Sasuke menyesal karena hamil, maka sudah jelas jalan ceritanya berbeda. Klo cerita itu (Liberty Statue) bertemakan Samurai, mungkin kebetulan aja sama. Jika Sasukenya juga rounin, trs Hinatanya juga suka Sasuke itu murni hanya kebetulan aja.
Hanya Nara : Yasudah :D
Guest : Panggil Kak Ucul boleh, panggil Ucul jg boleh hehe tenang, kayanya chap ini SAsusaku nya lumayan banyak hehehe
Annisa Alzedy : Hehehe, pertanyaanmu akan terjawab di chap ini jadi silakan dibaca ya ^^
Saki23 : Gpp, makasih udah ripiu ya ^^ Hooh, Hinata orangnya sadar diri kok.. tenang aja, aku suka kok baca ripiumu ^^
Yuie : Hehehe makasih loh ^^ iya nih, kasian bgt deh bang Naruto, udahlah sm aku aja *dikremes* semoga suka sm adegan yg ditunggunya ^^
6934soraoi : Kebetulan beberapa chapter update di hari sabtu ^^ Hihi panjang loh chap kmrn hehe, aduh untuk adegan itu aku udh berusaha semampuku, maaf klo tidak memuaskan ya T_T (aku ngak pandai soalnya hehe)
The deathstalker : Hai Fafa ^^ tapi chap 5 naruto gaiden cukup bikin seneng sih walau Sasuke mah ama anak kecil jutek bgt (Eaa curcol) Iya aku juga kasian ama NAruto huhuhu
Hanazono yuri : Tenang aja, pairingnya kan udah jelas disini ^^
Ayuniejung : Wuah makasih loh ^^ Nah, pas aku ngasih chap ini ke Hana, dia juga blg gitu. Tapi aku bilang ke Hana, krn Naruto udh dari kecil sayang sm Hinata jdi Hinata anggap pehatian Naruto itu wajar, kaya kakak laki2 ke adeknya. Yah, mirip2 aku lah (Jadi curcol lagi).
Shita : Hehehe, Naruto emang biggerman bgt deh disini hehe, semoga suka chap ini ya ^^
Akiko asami : Gpp, makasih udah ripiu ^^
Eysha Cherryblossoms : Hahahaha, untung di dalam hati, jd kamu ngak komatkamit tar disangka dukun lagi hehe :v
Cita Aura : Huaaa aku senang, kamu panggil aku istri Taka *cium* hehe
Suzzy : Salam kenal juga, wah klo gitu aku panggil Kak Suzzy ya ^^ tapi tau drmn umurku (jd kepo) hehe
Adora13 : Yeayy ada yg minta adegan action, duh smoga crt ini ngak kaya sinet indo ya huhu jd sedih hehe
Haruchan : Apahh, tak getok klo Bebep Taka aku kamu buang hehehe, eaaa kok jadi ngiklan siihhh :p
Mira Cahya 1 : Hehehe makasih banyak, eh aku juga Naruhina lopers, Saino, Shikatema dan sekarang nambah Gaamatsu hihihi aku suka semuanyaaa. Semoga chap ini bkn kamu tambah suka sm SH ^^
Luluchai10 : Iya, OOC kebangetan tapi aku sih suka Hinata bgini :D Duh kasian donk nanti Hatinya ditusuk2, emangnya sate wkwkkw
Byun429 : Heheh tentu boleh donk, hihihi kan seni-nya disitu, di huruf TBC wkwk aduh cubit2 kubilangin Taka nih :p
Gita Zahra : Hmmm silakan baca chap ini deh hehehe… semoga suka ya ^^
Biiancast Rodith : Huahahaha udah ngak bisa ditarik lagi tuh hehehe, iya chap kmrn dominan sm NH.. kan mrk juga tokoh penting di cerita ini ^^
Fa : Ahhhh kamu bisa aja deh *kasihkuaci* hehehe mujinya bisaan deh, bikin aku susah BAB *Apaan!* hehe
PinkyLovers : Hihihi baca aja chap ini deh, semoga suka ya ^^
Tanpa ID : Hihih aku sist, soalnya aku manis *ditelen* Terima kasih banyak kawan :D jadwal sih ngak ada, Cuma saya usahain seminggu sekali, klo telat ya maaf aja deh hehehe
Cherrydongkerz : Hihi ini udah dibuat kok, makasih udah suka ya ^^
Makasih banyak buat semuanya *pelukatuatu* ripiu dari kalian benar2 suntikan semangat buat kami ^^ Arigatou. Dan maaf klo ada kata2 yg kurang menyenangkan dan mohon maaf klo ada yg kelewat ya huhu.
*Semi collab with Hanaruppi*
.
.
Sakura menyerah untuk memanggil nama Hinata setelah hampir sepuluh kali ia melakukannya. Helaan napas meluncur dari mulutnya. Haruskah ia benar-benar menemui Sasuke, terlebih dengan mengenakan pakaian ini?
Pakaian yang Sakura sendiri tidak bisa menafsirkan berapa harganya. Jelas sekali pakaian ini sangat mahal. Dari bahan, warna, corak, semua terlihat elegan. Termasuk dengan hiasan di rambutnya. Semuanya benar-benar indah, dan dengan semua keindahan yang melekat di tubuhnya, membuat Sakura tidak berani untuk menunjukkan diri di depan Sasuke. Lalu, apa yang harus ia lakukan sekarang?
Dari kejauhan, samar terdengar suara-suara keramaian. Tidak begitu jelas namun Sakura yakin, suara itu berasal dari perayaan desa. Sakura selalu suka sebuah perayaan. Banyak hal yang bisa ia temukan dalam perayaan. Dan semuanya selalu membuat ia senang.
Sejujurnya Sakura sangat ingin melihat acara puncak perayaan ini. Apakah sama seperti perayaan di desanya? Dan karena pertanyaan itu, pikirannya terbang membawanya pergi, membuka lembaran memori tentang desanya. Tentang kedua orangtuanya. Tentang bagaimana mereka menikmati acara perayaan di desa. Hingga tanpa Sakura sadari, ia sudah jauh melangkahkan kakinya. Berjalan menyusuri penginapan yang ternyata cukup luas. Sangat luas. Sialnya Sakura belum hafal semua lokasi di penginapan ini.
Sakura memukul kepalanya pelan ketika ia tersadar. Kenapa ia bisa begitu bodoh! Ia tidak tahu di mana dirinya sekarang! Di mana kamar Hinata berada? Sakura menolehkan kepalanya ke belakang. Apakah ia sudah berjalan cukup jauh? Karena ternyata ada banyak simpangan jalan di belakangnya.
Sakura menghela napas sembari menundukkan kepalanya. Sepertinya ia harus mencobanya satu per satu. Menelusuri semuanya. Yah, tidak ada cara lain lagi.
Sakura mulai mengangkat kepalanya, namun betapa terkejutnya ia saat ada sebuah wajah tepat berada di depan wajahnya. Secara refleks Sakura menjerit kencang, namun ia segera menutup mulutnya saat tahu siapa sosok yang membuat ia terkena serangan jantung dadakan.
"Maaf mengagetkanmu, Sakura. Aku sudah memanggilmu tapi kau terus saja menundukkan wajahmu," ucap Naruto yang kemudian tertawa pelan.
Sakura menghela napasnya lega, "Maaf, aku sedang memikirkan sesuatu, jadi aku tidak mendengar suaramu."
"Tidak apa-apa, Sakura. Oh, ya, di mana Hinata?" tanya Naruto sembari menoleh ke sekeliling. "Dia tidak bersamamu?"
Sakura menggelengkan kepalanya, "Dia berada di kamarnya."
"Sendirian?" tanya Naruto cepat. Mata birunya berubah cemas.
Sakura mengangguk pelan, "Maaf, aku seharusnya terus bersama dengannya, tapi dia menyuruhku ..." Sakura menghentikan ucapannya. Tidak mungkin ia mengatakan yang sejujurnya pada Naruto. Itu akan sangat memalukan untuknya. Dengan cepat mata hijaunya segera menghindari tatapan mata Naruto.
Kening Naruto sempat mengerut, namun sedetik kemudian ia tersenyum kecil, "Dia pasti membuatmu kesusahan. Tolong maafkan sikapnya yang kadang luar biasa menyebalkan itu. Dia tidak menyuruhmu melakukan hal-hal aneh 'kan?"
"Tidak. Dia malah berniat membantuku. Dia benar-benar baik," jawab Sakura yang juga ikut tersenyum. Kedua insan itu tidak menyadari bahwa ada sepasang mata hitam yang sedari tadi menatap tajam ke arah mereka.
Mendengar suara jeritan kencang milik Sakura membuat Sasuke segera bergegas menuju ke asal suara. Ia panik mengingat jika Sakura sedang tidak bersamanya, karena pasti ada saja hal yang menimpanya. Dan hal itu selalu saja buruk untuknya.
Namun langkah kakinya terhenti saat ia melihat ada sosok lain yang bersama Sakura. Dan lagi-lagi pria itu adalah Naruto. Apa yang sebenarnya terjadi di antara mereka berdua? Apa yang mereka bicarakan? Lagi? Kenapa Sakura selalu terlihat santai berbicara dengan pria itu? Dan kenapa rasanya ia menjadi kesal sekali?
Sasuke menajamkan indera pendengarannya. Jaraknya yang tidak terlalu jauh dengan mereka sedikit menguntungkannya. Ia dengan baik bisa mendengar suara keduanya.
"Syukurlah kalau begitu. Selama ini dia tidak pernah memiliki seorang teman. Status yang dimilikinya membuat dia sedikit kesulitan. Jadi kuharap, kau mau berteman dengannya."
"Aku pikir Hinata adalah salah satu perempuan yang sangat beruntung. Dia memiliki segalanya, tapi setelah mendengar ucapanmu aku baru sadar bahwa apa yang dimilikinya ternyata menyulitkan dirinya. Kupikir hanya diriku saja yang tidak beruntung." Mata hijau Sakura berubah sayu dan suaranya terucap lemah saat mengatakan kalimat terakhir itu. Meski begitu Naruto masih bisa mendengarnya.
Ada kesedihan yang coba Sakura tahan. Dan situasi ini membuat Naruto kebingungan. Ia tidak mengerti harus melakukan apa? Pasalnya perempuan yang ada di hadapannya saat ini bukanlah Hinata. Perempuan yang selalu ia dekap saat dirinya merasa sedih. Ia bahkan tidak akan berpikir dua kali untuk melakukannya.
Tapi Sakura bukanlah Hinata. Ia bahkan baru mengenalnya hari ini. Ia tidak akan mungkin melakukannya. Tidak! Tapi, ada sebagian hatinya merasa tidak tega melihat perempuan itu bersedih. Argh, apa yang harus ia lakukan?
"Kau tidak apa-apa, Sakura?"
Sakura yang menyadari ada nada kecemasan dalam ucapan Naruto, segera memasang senyumnya kembali. Bayangan mengenai semua kejadian buruk yang menimpanya lantas ikut menghilang. "Aku baik-baik saja, maaf."
Tangan kanan Naruto menepuk-nepuk pelan bahu Sakura. Meski Sakura mengatakan ia baik-baik saja, Naruto yakin saat ini Sakura sedang tidak baik-baik saja seperti ucapannya. Ada suatu hal yang sedang ia sembunyikan, "Katakan saja jika ada hal yang bisa kubantu. Tidak perlu merasa sungkan, oke?"
Dan Sakura hanya mengangguk-anggukkan kepalanya. Pikirannya kembali membawanya pergi, bayangan yang tadi sudah menghilang kini kembali lagi. Terutama tentang apa tujuan hidupnya, ia kembali mengingat hal itu. Tentang simbol kalung miliknya. Simbol Kekaisaran Haruno. Mungkinkah Naruto mengetahuinya? Ya, mungkin saja Naruto bisa membantunya.
"Naruto." Panggil Sakura mantap. Mata hijaunya kini memancarkan keyakinan. Ia yakin Naruto pasti bisa membantunya. Ia adalah anggota kekaisaran dan pasti ia mengetahui tentang Kekaisaran Haruno, bukan?
"Apakah kau mengetahui tentang simbol kalung ini?" tanya Sakura yang mengeluarkan bandul kalung miliknya, "Ada yang mengatakan padaku bahwa ini adalah simbol milik Kekaisaran Haruno. Apa kau mengetahui sesuatu?"
Mata biru itu terfokus menatap bandul milik Sakura. Ia mulai memerintahkan isi kepalanya untuk mencari tahu tentang simbol itu. Berusaha mengingat-ingat. Terlebih setelah Sakura mengucapkan nama Haruno. Rasa-rasanya ia pernah mendengarnya. Tapi apa?
"Haruno," gumam Naruto pelan sembari terus mencoba untuk mengingat dan usahanya membuahkan hasil.
"Sepertinya benar. Simbol kelopak bunga Sakura adalah simbol milik Kekaisaran Haruno. Zaman kekuasaan mereka telah berakhir dan kemudian digantikan oleh Kekaisaran Hyuuga. Sayangnya, tidak ditemukan adanya sisa-sisa peninggalan Kekaisaran Haruno. Oleh karena itu, sejarah menyebutkan bahwa Kekaisaran Haruno adalah kekaisaran yang telah musnah, walau mereka telah berkuasa hampir selama 200 tahun."
Mata Naruto kembali memicing, "Bagaimana kau bisa memiliki benda itu?" tanyanya penuh selidik.
"Sebelum orangtuaku meninggal, wanita yang selama ini kupikir telah mengandung dan melahirkanku tiba-tiba memberikanku benda ini. Dia mengatakan bahwa aku bukanlah anak kandungnya. Ia menemukanku, dan benda ini ada bersamaku."
"Jadi, kau adalah keturunan Haruno?" Tanya Naruto yang masih sedikit meragukan jawaban Sakura.
Sakura menggelengkan kepalanya lemah dan kemudian menundukkan wajahnya, "Aku sendiri tidak tahu. Saat ini aku sedang mencari tahu siapa diriku sebenarnya."
"Jika benda ini ada bersamamu, bukankah kemungkinan besar kau adalah keturunan Haruno? Tapi apa itu mungkin?" Dan Sakura merasa pertanyaan Naruto yang terakhir bukan ditujukan untuknya.
"Sebenarnya, alasan terbesar mengapa Kekaisaran Haruno disebut kekaisaran yang telah musnah adalah karena tidak adanya keturunan yang menggantikan posisi Kaisar. Bahkan istri dan sanak keluarga Kaisar meninggal di hari yang sama. Tidak ada satupun yang tersisa," sambung Naruto yang kini membuat keduanya terdiam.
Mereka mulai sibuk bermain dengan pikiran masing-masing. Saling menimbulkan pertanyaan di benak masing-masing, yang ternyata berisikan pertanyaan yang sama. Jika memang Kekaisaran Haruno tidak memiliki penerus, lalu siapakah Sakura? Bagaimana ia bisa memiliki kalung itu?
"Bagaimana Kaisar Hyuuga dapat menggantikan posisi Kaisar Haruno?" tanya Sakura penuh antusias.
"Aku tidak begitu tahu. Tapi seingatku, Kaisar Hyuuga telah melakukan hal yang besar untuk Kaisar Haruno, bahkan mendapat julukan seorang pahlawan sehingga semua setuju untuk menjadikannya kaisar. Hanya itu yang bisa kuingat. Sekarang aku sedikit menyesal tidak mendengarkan dengan baik mengenai sejarah kekaisaran, aku bahkan tidak mengingat nama Kaisar Haruno itu," jawab Naruto sembari menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal sama sekali.
"Tapi aku berjanji padamu. Aku akan mencari tahu semuanya. Aku tahu, kau pasti sangat ingin tahu mengenai kedua orangtuamu, bukan?"
"Tidak apa, Naruto. Kau sudah banyak membantuku. Aku tidak ingin merepotkanmu."
Naruto menggelengkan kepalanya, "Aku akan sangat senang jika bisa membantumu. Anggap saja ini sebagai rasa terima kasihku karena kau telah menyelamatkan Hinata. Meskipun hal itu akan sedikit memakan waktu. Kuharap kau mau bersabar." Satu tangan Naruto kembali menepuk pelan bahu Sakura.
Sakura tersenyum kemudian mengangguk pelan, "Terima kasih banyak, Naruto." Dan Naruto pun membalas senyuman Sakura.
"Apa yang sedang kalian lakukan di sini?"
"Sasuke-san," ucap Sakura sedikit terkejut kala mendengar suara yang tidak asing lagi baginya. Kepalanya menoleh hingga mata mereka kini bertemu pandang. Mata hitam itu menatap tajam dan dingin. Lebih dingin daripada angin malam yang kini berembus menerpa ketiga orang itu. Sasuke berjalan mendekat, dan setiap ia melangkahkan kakinya, rasa-rasanya ada aura hitam yang semakin menguar jelas, terasa dingin dan menusuk. Sehingga mereka mengigil tiba-tiba.
Sasuke kesal, dan kekesalan Sasuke bertambah ketika mendengar Sakura menyebut namanya. Ia sangat yakin dan tidak mungkin salah dengar kalau Sakura memanggil pria kuning itu dengan namanya tanpa embel-embel apapun. Sedangkan ia, yang sudah sering menolong perempuan itu berkali-kali, dipanggil dengan embel-embel –san. Apa-apaan itu! Apa mereka sudah sangat akrab? Apa mereka sudah sangat dekat?
Tapi bukankah memang begitu? Sakura bahkan dengan mudah mengatakan semua permasalahannya pada pria itu. Pria yang baru ditemuinya dan baru menyelamatkannya satu kali. Tapi dulu, ketika Sasuke menanyakan langsung tentang apa yang dicari oleh gadis itu, Sakura bahkan tidak memberitahukannya. Lantas kenapa? Kenapa hanya pada pria itu?
Apa Sakura tidak yakin bahwa Sasuke bisa membantunya juga? Atau mungkin Sakura memang tidak ingin Sasuke mengetahuinya? Tapi, kenapa?
Panas. Sasuke merasa seluruh tubuhnya terbakar. Rasa-rasanya ia ingin membakar semua yang ada di hadapannya sekarang. Ia ingin menebas semuanya, terutama pria kuning itu, Naruto. Ia sangat kesal. Tidak. Ia sangat marah.
Kenapa Sakura lebih memilih Naruto? Kenapa dengan pria itu? Apakah Sakura menyukainya? Dengan segera mata Sasuke lantas berpindah menatap Naruto.
Naruto menelan ludahnya saat mandapati mata hitam itu menatapnya dengan tatapan keinginan membunuh yang besar. Membunuh? Hei, yang benar saja! Memangnya apa yang telah ia lakukan? Ia hanya ingin membantu Sakura, tidak lebih. Apa itu salah? Naruto bahkan tidak berniat macam-macam. Apalagi bertindak macam-macam. Sedari tadi ia hanya berbicara dengan Sakura. Oh, sial!
Naruto segera menarik tangannya yang masih berada di atas bahu Sakura. Oke, hanya berbicara dan dua kali memegang bahu Sakura. Tapi, ini 'kan hanya bahu!
"Baiklah, sepertinya aku harus pergi untuk melihat Hinata. Jaa!" ucap Naruto sambil melambaikan tangannya dan bergegas pergi sebelum katana itu melayang ke arahnya.
"Kenapa?" tiba-tiba Sasuke melontarkan kata-kata yang membuat Sakura memberikan tatapan bingung padanya, tepat setelah sosok pria kuning yang menyebalkan itu menghilang dari pandangan Sasuke.
"Kenapa, kau hanya menceritakannya pada pria itu?" Sasuke kembali bertanya, dengan tatapannya yang masih tajam.
"Kau mendengar semuanya?" Sakura menatap tak percaya. Sejak kapan Sasuke mendengarkan pembicaraan mereka?
"Kau kecewa karena aku mendengarnya dan mengetahui semuanya?"
Tatapan mata hijau itu berubah, "Kenapa kau berpikir seperti itu?" tanya Sakura sedikit tak percaya bahwa laki-laki di hadapannya ini adalah Sasuke. Ia merasa laki-laki ini terlalu ingin tahu.
"Karena kau yang membuatku berpikir seperti itu. Bahkan saat itu kau tidak memberitahuku, apa kau tidak mempercayaiku? Kaupikir aku tidak bisa membantumu?"
Sasuke yang selama ini Sakura kenal tidak terlalu suka mencampuri urusannya. Dan sekarang tiba-tiba ia marah karena Sakura menceritakan sesuatu pada Naruto. Apa itu merupakan suatu kesalahan untuk Sakura? Kenapa ia sebegitu marah padanya? Sebenarnya ada apa dengan pria ini?
"Aku tidak pernah berpikir begitu. Alasanku tidak pernah memberitahukan hal ini padamu karena aku tidak ingin terus menyusahkanmu. Bukankah itu syaratku untuk bisa terus ikut bersamamu? Kau sudah banyak membantuku dan aku tidak ingin menyeretmu juga ke dalam masalahku. Aku tidak ingin semakin menyusahkanmu," jawab Sakura lantang.
Sasuke terdiam. Amarah yang semula menguasai dirinya perlahan surut. Mendengar alasan yang terlontar dari mulut Sakura membuatnya tersadar, bahwa ada sisi dari dirinya yang membuat Sakura mengambil keputusan itu. Untuk tidak menceritakan hal itu padanya. Dengan mudah perempuan ini mengombang-ambingkan perasaannya. Dan Sasuke sendiri tidak bisa berkutik.
"Kau memang menyusahkanku."
Satu tangan Sakura meremas kuat kimono-nya. Mencoba untuk menahan rasa sakit yang tiba-tiba menusuk perasaannya. Kata-kata datar Sasuke barusan sukses menorehkan luka pada hatinya. Selama ini, setelah semua hal yang dialaminya. Setelah semua kejadian buruk yang menimpanya hingga Sasuke selalu datang menolongnya. Tidak pernah satu kalipun kata itu terlontar dari mulut pria itu.
Dan sekarang, kata itu muncul, Sasuke sudah mengatakan bahwa ia menyusahkan untuknya. Jadi, apakah ini artinya semua sudah berakhir? Apakah ini artinya pria itu akan meninggalkannya?
"Apa itu artinya, aku tidak bisa bersamamu lagi?" Tenggorokan Sakura terasa panas. Setiap ucapan yang barusan ia lontarkan seakan mencakar pita suaranya. Terasa perih. Terlebih pria itu tidak langsung menjawab pertanyaannya.
Ia hanya diam. Dan Sakura mengira bahwa diamnya Sasuke adalah sebuah kata 'ya' yang tidak bisa ia keluarkan dari mulutnya.
Tanpa terasa mutiara bening itu jatuh dari mata Sakura. Ia menangis. Air itu terus mengalir membasahi kedua pipinya. Ia tidak bisa lagi menahan luapan kesedihan mengingat bahwa ini adalah akhir dirinya dengan Sasuke. Perpisahan yang akhirnya datang pada mereka.
Sasuke menghela napas berat. Seakan semua beban perasaannya itu bertumpu di kedua pundaknya. Memberatkan hatinya. Tiap tetesan air yang jatuh dari kedua mata Sakura adalah sebuah luka untuknya.
"Saat kecil, desaku mengalami hal yang sama dengan apa yang terjadi pada desamu. Karena alasan balas dendam, aku membunuh para samurai yang menyerang desamu, dan karena alasan balas dendam jugalah aku berniat untuk membunuh kakakku sendiri. Itachi Uchiha. Kakak yang bahkan tidak pernah sekalipun aku temui. Karena aku yakin, dialah awal mula mengapa hidupku seperti ini. Penyebab kenapa Tou-san dan Kaa-san tewas. Di dalam hatiku hanya ada kebencian untuknya. Tujuanku hidup hanya untuk membunuhnya demi membalaskan dendamku. Tidak ada hal lain sampai ... ketika aku bersama denganmu." Mata hitam itu menatap lekat sepasang mata hijau di sana. Mata yang selalu berhasil menjeratnya.
"Ada perasaan lain yang muncul. Aku menemukan perasaan yang telah lama kubuang. Perasaan yang telah lama menghilang." Sasuke melangkah semakin mendekat. Satu tangannya memegang pipi Sakura dan menghapus air matanya, "Dan perasaan itu membuatku tidak ingin kehilanganmu. Perasaan takut ketika aku tidak menemukan sosokmu di dekatku, hingga aku tidak bisa lagi mengendalikannya, karena itulah kau memang sudah sangat menyusahkanku."
Kedua mata itu menatap dekat, dan perlahan-lahan semakin dekat. Ketika jarak tiada lagi memisahkan, dengan penuh kelembutan Sasuke mengecup bibir Sakura. Mengantarkan semua perasaan yang tidak bisa ia sampaikan lewat kata-kata. Kehangatan itu berdesir ke seluruh pembuluh darahnya, memompa kencang jantungnya. Sasuke tahu, dia telah terjerat. Dan sudah terjatuh oleh pesona Sakura. Ia sudah tidak bisa lagi memungkirinya. Ia menyukai semua yang dimiliki oleh Sakura.
Semua yang ada pada perempuan itu, semua yang ia lakukan, selalu membuatnya susah.
Ya, menyusahkan. Segala hal yang menggeluti relung hatinya itu membuatnya seakan-akan tak berdaya. Perasaan itu membuatnya limbung. Pantaskah ia mendapatkannya? Ia yang selama ini hanyalah seseorang yang hatinya dipenuhi dengan dendam. Ia yang hidup hanya untuk membunuh. Pantaskah ia? Namun di satu sisi, ia tidak ingin melepaskan perasaan itu. Ingin digenggamnya saja kuat-kuat. Perasaan untuk melindungi. Perasaan untuk memiliki. Perasaan yang membuat hatinya hangat. Kenyamanan yang sudah lama sekali dia rindukan. Karena berapa kalipun ia mencoba untuk mengelak, seberapa banyak ia mencoba untuk menghindarinya, ia akan terus kembali terjerat.
Lewat pangutan lembut yang membelai bibir Sakura, Sakura dapat merasakannya, kehangatan Sasuke. Kelembutannya. Perasaannya. Meskipun rasanya seperti mimpi, tapi Sasuke sungguh-sungguh telah menciumnya dua kali. Bahkan untuk kali ini, Sasuke juga mengungkapkan isi hatinya. Tentang masa lalu dan dendamnya. Tentang tujuan hidupnya. Sebelum ini, tak pernah sedikitpun lelaki itu membicarakan tentang dirinya sendiri. Ia selalu menutup dirinya. Tidak membiarkan Sakura untuk menyentuh sisi terdalam pria itu. Sisi yang selalu ia sembunyikan. Namun kini, ia memperlihatkan semuanya. Ia tunjukan semuanya pada Sakura. Ia sampaikan semua lewat ciuman ini.
Sasuke, lelaki penolongnya, sungguhkah lelaki itu jatuh cinta padanya? Benarkah ia memiliki perasaan yang sama dengannya? Rasa-rasanya Sakura masih belum bisa memercayainya.
Sasuke kembali menghela napas berat setelah ciuman itu berakhir. Deru napasnya yang hangat menyapu tengkuk Sakura. Dan Sasuke berbisik di telinganya, "Maaf."
Satu kata itu membuat kedua mata Sakura melebar. Namun belum sempat Sakura menanyakan maksud dari kata itu, Sasuke membalikkan tubuhnya. Pria itu berniat pergi meninggalkannya lagi. Persis seperti saat itu, saat ciuman pertama mereka, Sasuke berlalu begitu saja.
Sakura langsung menarik lengan pakaian Sasuke. Dua jarinya berhasil menahan langkah kaki Sasuke hingga pria itu menoleh ke arahnya. Kali ini, tidak akan dia biarkan Sasuke meninggalkannya setelah semua yang telah terjadi di antara mereka. Sasuke harus tahu. Setidaknya, Sasuke juga harus memberinya kesempatan untuk menyampaikan isi hatinya.
Sakura mengumpulkan semua keberaniannya. Tangannya bergetar, bibirnya digigit saking gugupnya. Pandangannya masih tertunduk. "Kalau begitu, biarkan aku untuk terus berada di sisimu ..."
Perlahan Sakura mulai mengangkat wajahnya. Matanya langsung bertemu dengan mata Sasuke. Tajam, tapi kehangatan yang melembutkan sorot matanya membuat hati Sakura seakan-akan merasa tenang dan nyaman.
Dan untuk pertama kalinya, Sakura melihat sudut bibir Sasuke melengkung naik, membentuk senyuman tipis—yang meski begitu tampak amat memesona. "Hm," gumam Sasuke singkat.
Pipi Sakura merona. Lebih-lebih ketika Sasuke membelai pipinya, dan membimbing wajahnya kembali mendekat hingga Sasuke kembali mengecupnya. Malam ini, disinari oleh letusan warna-warni hiasan kembang api dari puncak perayaan itu, mereka saling berbagi perasaan bahagia. Perasaan yang sama meledak-ledak karena perasaan mereka yang akhirnya berlabuh.
Sakura selalu suka sebuah perayaan. Karena ada hal lain yang ia temukan dalam perayaan kali ini. Cinta. Dan Sasuke. Dua hal yang akhirnya bisa ia miliki.
.
.
Naruto mengetuk pelan pintu kamar Hinata. Ia sedikit cemas karena ruangan itu tampak sepi. Naruto berharap apa yang ada di pikirannya kali ini tidak benar. Hinata sudah berjanji padanya untuk tidak pergi secara diam-diam. Dan Naruto sekali lagi mencoba untuk memercayainya.
"Hinata," panggil Naruto pelan karena pintu itu masih belum terbuka.
Baru saja Naruto berniat untuk meninggikan nada panggilannya, pintu kamar itu terbuka. Tangannya yang putih itu bergerak lambat mengeser pintu kamarnya. Rambut panjangnya tergerai dan bagian depannya menutupi wajah Hinata yang kini tertunduk lesu.
Kening Naruto berkerut. Apa yang terjadi padanya?
Tak tahan untuk menerka-nerka, Naruto langsung mengeluarkan apa yang ada di pikirannya, "Ada apa, Hinata? Apa ada sesuatu yang terjadi?'
Naruto menundukkan wajahnya, mencoba untuk melihat wajah Hinata yang sedang disembunyikannya. Dan mata itu terbuka lebar ketika mendapati ada air mata yang mengalir.
"Hinata."
Perempuan itu langsung memeluk tubuh Naruto. Ia tumpahkan lagi air mata itu, ia dekap erat tubuh Naruto hingga wajahnya menempel di dada Naruto. Akibat gerakan Hinata yang tiba-tiba, tubuh Naruto terhuyung dan jatuh terduduk di depan pintu kamar Hinata. Meski begitu Hinata tidak melepaskan pelukannya.
Tangan Naruto yang semula menahan tubuhnya kini berpindah ke kepala dan punggung Hinata. Tangan itu mulai bergerak untuk memberikan belaian lembut untuk Hinata.
"Ada apa? Kenapa kau menangis?"
"Naruto, apa kau pernah patah hati?" tanya Hinata diiringi isak-tangis.
"Kau sedang patah hati?" Tanya Naruto tak percaya dengan apa yang didengarnya. Bukankah itu artinya ada seseorang yang Hinata sukai?
Hinata mengangguk kecil, menggesek pelan dada Naruto, "Kau pasti tidak pernah mengalaminya? Rasanya sungguh menyedihkan, di hari pertama aku jatuh cinta, saat itu juga aku patah hati."
"Kau jatuh cinta? Pada siapa?" Naruto bertanya dengan nada lambat. Tatapan matanya berubah kosong. Entah bagaimana Naruto tahu, bahwa orang itu bukanlah dirinya.
"Sasuke," jawab Hinata cepat. Bersamaan dengan itu Hinata mengeratkan pelukannya. Seakan ia membutuhkan kekuatan untuk menahan rasa sakitnya. "Di mataku dia terlihat sangat berbeda. Seperti hanya ia yang bercahaya di antara yang lainnya. Begitu bersinar. Dia tidak mampu kusentuh. Begitu dingin, namun di dalam hatiku terasa hangat hanya karena melihatnya. Aku tertarik. Aku ingin mendapatkan perhatiannya. Mata itu, aku ingin mata itu melihat hanya ke arahku."
Naruto terdiam. Setiap kata yang ia dengar barusan, sungguh sangat menyakitinya. Serasa sebilah pedang sedang mengulitinya. Seakan semua organ tubuhnya dipaksa keluar. Bahkan tenggorokannya seperti disobek ketika ia mencoba untuk menelan ludahnya. Dan pelukan Hinata saat ini, seperti api yang membakar tubuhnya. Panas dan menyakitkan.
Kenapa? Kenapa laki-laki itu, bukan dirinya?
"Tapi ternyata, bayanganku tidak pernah ada di matanya. Mata hitam itu tidak pernah menatap ke arahku. Ada sosok lain yang membuat mata itu hidup. Sosok yang membuat mata itu terlihat semakin indah. Dan sosok itu bukan diriku." Hinata menggelengkan wajahnya seraya menghapus air matanya yang mengalir semakin deras, "Sosok itu adalah Sakura, dan aku juga menyayanginya. Dan mereka memiliki perasaan yang sama, karena itu aku menyerah."
"Biarkan sejenak aku memelukmu," sambung Hinata yang mulai juga menyandarkan tubuhnya pada Naruto. Melepas semua beban yang menyakitinya, "Aku ingin menangis hari ini saja. Esok hari dan seterusnya, tidak lagi. Meskipun hatiku belum bisa melupakannya."
"Menangislah sepuasmu," ucap Naruto yang juga mengeratkan pelukannya. Kemudian buang perasaan itu. Lalu lihatlah diriku.
Untuk pertama kalinya Naruto merasakan sebuah pelukan yang terasa menyakitkan. Terasa dingin dan kosong. Sama seperti angin yang menerpa tubuhnya. Sama seperti tatapan matanya. Isakan Hinata yang membelah kesunyian di antara mereka, juga ikut membelah perasaan Naruto. Menghancurkannya perlahan-lahan.
Perempuan ini mengeluarkan air matanya untuk pria lain. Perempuan ini, yang berada dalam dekapannya sedang memikirkan pria lain. Perempuan ini, perempuan yang ia cintai, ternyata menyukai pria lain.
Kenapa pria itu bukan dirinya? Kenapa Hinata tidak bisa melihat perasaan cintanya?
Naruto mendegus pelan. Ia tundukkan wajahnya hingga hidungnya menyentuh ujung kepala Hinata. Ia benamkan di sela-sela helaian rambutnya. Dihirupnya wangi yang selalu ia sukai. Mata birunya terpejam, meresapi aroma yang memabukkannya. Tangannya ikut membelai pelan rambut panjang Hinata.
Namun kali ini, semua yang ia lakukan pada Hinata sama sekali tidak membuatnya senang. Tidak membuat hatinya menghangat. Tidak ada ketenangan yang ia dapatkan. Yang ada hanya perasaan luka.
Perlahan mata itu terbuka, dengan posisi yang masih tidak berubah. Kosong. Naruto tidak menatap apapun. Ia hanya kembali memutar pertanyaan Hinata.
"Naruto, apa kau pernah patah hati?"
"Pernah. Tepatnya, saat ini juga." Disandarkan dagunya di atas kepala Hinata. Matanya kembali terpejam beberapa saat. Berusaha untuk meneguhkan perasaannya lagi. Karena luka adalah jalan yang ia pilih untuk mencintai Hinata.
"Tapi aku tidak ingin menyerah karena aku mencintaimu, Hinata." Dan Naruto mengecup lembut ujung kepala Hinata yang terlelap tenang di dalam pelukannya. Di mana jejak-jejak air mata masih membekas jelas di wajah cantiknya.
Bertepatan dengan itu, langit yang gelap mulai dihiasi oleh jutaan cahaya. Ratusan percik api yang merekah dan perlahan menghilang, kemudian berganti dengan cahaya lainnya. Semua keindahan itu bertolak belakang dengan apa yang dirasakan oleh kedua orang ini. Percikan api itu, bagaikan titik air mata yang jatuh. Guratan cahaya itu bagaikan pola luka di hati, dari satu titik kemudian memecah dan membesar.
.
.
"Aku sudah menyiapkan beberapa pasukan sesuai dengan permintaanmu," ucap Hashirama.
Laki-laki itu hanya menoleh sekilas sebelum memfokuskan pandangannya, menatap langit hitam dengan kedua tangannya yang terlipat di depan dadanya.
"Jadi kau akan mulai menyerang?" tanya Hashirama lagi.
"Tentu saja. Putri Hyuuga harus mati sebelum tiba di desa ini." Pria itu kemudian berbalik, "Dan kau lakukan tugasmu sesuai dengan apa yang sudah kurencanakan."
Mata hitam itu masih menatap tegas Hashirama. Mata yang selalu terlihat gelap, mata yang tidak pernah memunculkan emosi apapun kecuali keinginan untuk membunuh. Karena ia juga telah membunuh emosi yang lain di dalam dirinya. Keinginannya hanya satu, menghancurkan Kaisar Hyuuga dan membunuhnya.
"Kau tidak perlu meragukanku, Itachi. Lagi pula masih ada beberapa hari sebelum aku melakukan tugas itu. Sebelum itu, bukankah misimu harus benar-benar berhasil? Kudengar Jenderal Divisi 1 adalah orang yang tidak bisa kauanggap remeh."
Mata hitam itu memicing, merasa tidak terima dengan ucapan Hashirama barusan, "Kau tidak perlu mengurusi apa yang bukan menjadi urusanmu. Kau cukup diam di sini dan pikirkan saja keberhasilan tugasmu."
Bagi Hashirama, udara malam yang dingin tenyata tidak seberapa bila dibandingkan oleh tatapan mata Itachi barusan. Rasanya mata dan ucapannya lebih menusuk dan membuat semua bulu di tubuhnya meremang.
"Besok, aku akan memulainya. Besok, adalah awal dari kehancuran Kaisar Hyuuga. Tak akan kubiarkan siapapun menghalangiku," sambung Itachi yang mengeratkan genggamannya pada handle katana-nya. Ia sudah bersumpah tidak akan memberikan nyawanya pada dewa kematian sebelum Kaisar Hyuuga mati di tangannya.
Bersambung
Curcul :
Hai ^^
Semoga suka sm chap ini hehehe, semoga suka sm adegannya. Jadi, chap ini ada pairing yang bahagia dan satu lagi patah hati, cucok bgt kan. Kasian sama bang Naru (sini bang, ade peluk biar ngak sedih) hehehe…
Dan saya bikin akhirnya Sasusaku bersatu bukan karena banyak yg ngak suka SasuHina, dsb. Tapi memang dr awal udah saya setting begini. Karena, setelah ini saya akan masuk ke konflik utama cerita karena Itachi juga udah mulai beraksi (Hana girang).
Dan untuk beberapa ripiu yang saya bold sepenuhnya. Saya Cuma mau menyampaikan, belajarlah untuk menjadi pembaca yg cerdas. Kalau males atau ngak suka yasudah tinggalkan aja cerita ini, jgn membiasakan diri senang memprotes hal yang tidak disukai tapi ketika menyukai sesuatu memilih diam, gitu. Bukan maksud untuk menyinggung, tapi klo tersinggung ya maaf2 dah wkwk. Pan ngak maksud begitu hihihi
Sampai ketemu chapter selanjutnya ya.
30-05-15
.
[U W] – Istri sah Taka, One Ok Rock :* –
