The Affair

.

BTS fanfiction by soonshimie

BTS is GOD'S, BIG HIT'S, THEIR PARENT'S, ARMIES, BUT THIS STORY IS MINE

HOPE U LIKE IT!

.

.

"Love is a smoke made with the fume of sighs, Being purged, a fire sparkling in lovers' eyes, Being vexed, a sea nourished with lovers' tears. What is it else? A madness most discreet, A choking gall and a preserving sweet." -William Shakespeare

-FINAL CHAPTER-

Menjadi arsitek bukan hanya harus mau berpikir rumit untuk hitungan konstruksi bangunan, tapi juga harus mau menghadapi pertemuan penting dengan pemborong dan klien mengenai pekerjaan ketika kau sedang ingin menikmati waktu santai.

Taehyung berencana untuk menjadikan hari ini adalah lazy day off-nya karena urusan lapangan sudah ditangani oleh Choi Seungcheol, rekan kerjanya. Bisa dibilang kalau Taehyung adalah kepala proyek pembangunan tower 3 gedung stasiun televisi ini, ia cukup berdiam diri di apartemen, menonton Law & Order SVU dan menerima semua laporan di iPad-nya. Tapi hari ini, Tuhan sedang tidak mengizinkan Taehyung untuk leyeh-leyeh.

Designer suit adalah salah satu tetek-bengek yang harus Taehyung perhatikan dalam dunia kerjanya meskipun sebenarnya ia cukup tidak peduli. Orang yang paling cerewet dalam hal urusan baju-baju Taehyung adalah Jungkook—and of course, Yoongi too—dan kebanyakan di closet Taehyung adalah Ermenegildo Zigna dengan berbagai warna.

Setengah jam mengemudi, Taehyung sudah tiba di Park Hyatt Seoul.

Rekannya yang lain, Joshua Hong dan kontraktor dari perusahaan properti keluarganya, Kim Junmyeon sudah menunggunya di salah satu private dining room bersama kepala bagian infrastruktur kantor stasiun televisi dan dua orang timnya. Taehyung mengamati cepat wajah-wajah di depannya, berpikir apakah ada berita buruk yang terjadi di lapangan semisal kecelakaan karyawan atau kesalahan pemborong namun senyum di wajah mereka menunjukkan tidak ada apapun yang terjadi.

"Pembangunan lancar-lancar saja," kepala infrastruktur, Kepala Yoon tersenyum ketika memberitahu saat pertemuan dimulai, "memang belum selesai, tapi Park sajangnim sangat puas dengan hasil kerjasama pembangunan ini. Beliau mematenkan biro arsitek Anda dan perusahaan properti keluarga Anda sebagai pihak nomor satu. Beliau juga mengajak kerjasama dengan Anda, bahwa jika ada pembangunan atau perbaikan lagi, kantor kami akan menggunakan jasa Anda. Bukan perusahaan yang lain."

Senyum Taehyung nyaris tidak bisa ditahan. Portofolio kerjasama perusahaannya akan semakin banyak dan menunjukkan bahwa ia bisa berkembang sangat pesat. Kantor stasiun televisi yang menjadi kliennya, yang termasuk juga kantor Yoongi (dan Jungkook), adalah salah satu stasiun televisi terbesar di Korea bersama dua stasiun lainnya. Biro arsitek Taehyung baru berdiri tiga tahun yang lalu, sementara perusahaan properti ayahnya memang sejak lama dibentuk. Tapi dengan kerjasama ini, Taehyung jelas ikut terkena imbasnya.

"Secepatnya Park sajang meminta lembar kerjasama ini ditandatangani," kata Kepala Yoon, diikuti seorang wanita di sebelahnya yang mengulurkan map, "Anda tidak perlu khawatir dengan komisi yang Anda terima setelah berkerjasama dengan kami."

"Ah, itu," Taehyung menyunggingkan senyum maaf, "Kim Taekwon sedang tidak ada disini. Perusahaan properti keluarga saya dipegang oleh kakak saya Kim Taekwon, dan saya tidak berani menandatangani surat perjanjian kerjasama atas namanya. Saya mohon maaf."

"Bukan masalah, Kim Taehyung-ssi," kata Kepala Yoon lagi dengan nada tenang, "Anda bisa menghubungi kami jika Anda dan Kim sajangnim setuju dengan kerjasama ini. Kami juga tidak memaksa Anda untuk menerimanya karena ini hanya tawaran."

Taehyung mengangguk. "Saya akan mendiskusikan hal ini. Terimakasih atas tawaran berharga Anda, Kepala Yoon."

Kepala Yoon mengangguk dan bersamaan dengan itu pintu PDR diketuk. Seorang pelayan di dekat pintu membuka pintunya dan pelayan dengan kereta makanan masuk.

"Makanannya sudah tiba," Kepala Yoon tersenyum, "mari, silakan. Ini adalah bentuk terimakasih kantor kami atas kerjasama pembangunan ini."

Bentuk terimakasih dari kantor besar memang tidak main-main.

Okroshka, botvinya, cocido montañés, ravioli, segala makanan dunia yang hanya bisa Taehyung lihat di Food Network kini terpampang di depan matanya.

Seandainya Taehyung lupa etika, ia sudah menghabiskan semua menu menggiurkan disana tanpa perlu malu. Karena siapapun pasti bakal gila kalau melihat makanan enak ketika perut sedang lapar. Untungnya roti bakar Taehyung cukup kuat untuk menahannya agar tetap waras.

Taehyung mencicipi sup ravioli dan rasa gurih meledak di lidahnya.

Ia harus meminta Jungkook untuk membuatkan makanan ini kapan-kapan. Sup ravioli langsung menggeser kaki babi dalam daftar makanan favoritnya.

Percakapan di meja itu ringan saja. Komentar tentang makanan yang terhidang, lalu merambat ke restoran dan mal baru yang rencananya baru-baru ini akan dibangun. Andrea Bocelli ikut menemani samar-samar dari speaker dan suasana terasa menenangkan.

"Saya mendengar kabar kalau Taehyung-ssi adalah suami dari salah satu produser cemerlang kami, Min Yoongi-ssi."

Satu kalimat dari Kepala Yoon menggerus Taehyung dengan telak.

"Saya cukup terkejut mendengarnya. Saya kira Min Yoongi-ssi belum menikah, tapi ternyata dia memiliki Anda sebagai suaminya," Kepala Yoon tersenyum, "istri Anda adalah permata kantor kami. Ia memiliki dedikasi tinggi dan kemampuan intelek yang hebat. Setiap acara yang dia handle selalu mendapatkan rating tertinggi dari para pemirsa. Park sajang sangat mengagumi kerja keras Min Yoongi-ssi, Taehyung-ssi. Anda sangat beruntung untuk mendapatkan perempuan secerdas dia."

Taehyung tersenyum kecut. Melanjutkan kunyahan ravioli-nya yang tertunda demi mendengarkan pernyataan Kepala Yoon. "Ne, terimakasih atas pujiannya, Kepala Yoon."

Kepala Yoon mengangguk dengan senyumnya yang masih terbit di wajahnya. "Seandainya saya tetap tidak mengetahui bahwa Min Yoongi-ssi sudah bersuami, saya berencana untuk menjodohkan putra saya dengannya."

Taehyung masih menyunggingkan senyum meskipun ia lebih tidak peduli.

"Hei Taehyung," Minjae menoleh pada Taehyung, menyenggol rusuk lelaki itu, "kau dengar itu?"

"Apa?"

"Sejak kapan Andrea Bocelli punya musik mirip nada dering ponsel?"

Raut wajah Taehyung berubah kemudian lelaki itu buru-buru merogoh saku. Ponselnya yang berbunyi dan Minjae menyindirnya dengan cara yang konyol. "Tunggu sebentar. Ibu saya menelepon," Taehyung tersenyum meminta maaf sebelum melangkah keluar PDR supaya telepon dari Ibunya tidak mengganggu.

"Halo, Eomma?"

"Taehyung-ah, berapa nomor unit apartemenmu?"

"Hm? 1403. Kenapa?"

"1403? Di lantai 14?"

"Iya," Taehyung meyakinkan, namun seketika raut wajahnya perlahan berubah kaku, "Eomma... datang kesini?".

"Iya. Eomma sudah sampai di lobi apartemenmu. Maaf ya, Eomma nggak memberitahumu dan Yoongi sebelumnya."

Taehyung merasa palu imajiner memukul kepalanya. Ia terkejut dengan ibunya yang mendadak datang ke Seoul, tidak memberitahunya sama sekali, dan tahu-tahu sudah ada di lobi. Bagaimana ia menjelaskan semua ini? Masalah perceraiannya dengan Yoongi? Tentang Jungkook? Tentang semuanya?

"Yoongi ada di apartemen?"

"Ah, itu," Taehyung menelan ludahnya kasar, bingung hendak menjawab bagaimana, "aku berangkat pagi sekali, Eomma, dan Yoongi masih tidur. Ada hal yang harus kuurusi sejak pagi di kantor. Karena hari ini hari kerja, jadi kupikir Yoongi sekarang sudah berangkat kerja." Ia menggigit bibir bawahnya, memukul-mukul kening seperti orang gila.

"Begitukah? Apa Eomma harus menelepon Yoongi?"

Taehyung mengusap wajahnya frustrasi. Semuanya terasa semakin rumit di akhir. "Itu... biar aku saja," ujarnya, "Eomma tunggu saja di lobi. Kantor Yoongi lebih dekat daripada kantorku. Mungkin dia bisa pulang sebentar."

"Mm-hm. Baiklah. Karena Eomma ada di Seoul, nanti malam kita makan bareng-bareng di Lotte, ya. Sekalian jalan-jalan. Eomma pusing di Daegu, kakakmu itu sibuk sekali dengan pekerjaannya, Eomma jadi merasa diasingkan. Dan sepertinya Eomma agak lama di Seoul. Tidak apa-apa, kan? Eomma tidak mengganggu program anak pertama kalian, kan?"

Taehyung buru-buru bersandar di dinding berlapiskan marmer hitam sebelum ia kehilangan keseimbangan. Matanya terpejam frustrasi dan hal terakhir yang ia inginkan adalah mati saat itu juga. "Terserah Eomma," jawabnya pasrah.

"Call! Agenda malam hari sudah ditentukan!" ibunya tertawa di ujung telepon dan Taehyung hanya bisa mengusap wajah, "pulang lebih cepat, ya. Eomma rindu kalian berdua."

Dan telepon ditutup.

Taehyung mendesah, tangannya jatuh lemas ke samping tubuh sementara matanya masih terpejam. Kebingungan dan kepanikan menyelimuti otaknya; ia tidak bisa kabur kali ini, menyiapkan alasan pun tidak mungkin dan satu-satunya hal yang bisa ia lakukan adalah menyusun skenario rumah-tangga-baik-baik-saja dengan Yoongi.

Maka Taehyung menyambungkan panggilan pada Yoongi dan ia baru sadar Yoongi mengiriminya pesan suara.

"Taehyung, have you given up on us?"

Kalimat itu membekukan Taehyung seketika. Ia bingung hendak membalas pesan suara Yoongi atau tidak namun ia memilih untuk menelepon perempuan itu.

Lima kali nada sambung, teleponnya diangkat.

"Yoongi," Taehyung yang pertama kali bersuara, "we need to talk."

"...Tentang apa?" suara Yoongi pelan dan lirih, suara seorang wanita yang berusaha untuk kuat.

"Eomma datang ke Seoul."

"Eomonim?"

"Iya. Sekarang sudah ada di apartemen."

"Lalu?"

"Lalu," Taehyung menggantung kalimatnya di udara, mengatur kata-katanya dengan tepat namun tetap saja tidak ada yang pas, "kita harus berpura-pura."

"Apa? Berpura-pura?" ulang Yoongi tidak percaya, "kenapa kita harus berpura-pura? Kau ceritakan saja apa yang sudah terjadi. Kita sudah bercerai, kan? We don't an act being a perfect husby-wifey if we were broken instead."

Kata-kata Yoongi begitu tajam dan seolah menebas semua alasan Taehyung. "Tapi Yoongi, ini bukan waktu yang tepat untuk menjelaskan apa yang sudah terjadi."

"Bukan waktu yang tepat? Omong kosong dengan waktu yang tepat, Taehyung. Kau menyembunyian perselingkuhanmu dariku sejak lama karena menunggu waktu yang tepat sampai aku sendiri yang mengetahuinya. Lalu kau bilang sekarang juga bukan waktu yang tepat? Kau mau ibumu yang menemukan bahwa kita sedang bersandiwara?"

"Yoongi please," Taehyung menghela napas panjang, "maafkan aku yang memaksamu, tapi kumohon, aku berjanji aku sendiri yang akan menjelaskannya pada Eomma."

Hening sejenak dan Taehyung bisa mendengar isakan lirih dari ujung telepon.

Taehyung tidak tahu sudah berapa kali Yoongi menangis karena dirinya.

"You hurted me in many ways, Taehyung. Did you know that?"

Taehyung terdiam.

"Aku wanita, Taehyung. Aku punya hati dan perasaan."

"Maaf..."

"Aku berusaha untuk menyembuhkan diriku tapi kau melukaiku lagi."

Lidah Taehyung terasa kelu. Semua maaf yang siap diujung lidahnya seolah menghilang di udara. Mungkin Taehyung menganggap dirinya sendiri tidak peduli, tapi kata-kata Yoongi tetaplah membuatnya sadar bahwa ia sudah melukai Yoongi sedalam ini.

"Terserah kau," Yoongi berujar lagi, suaranya terdengar serak, "terserah kau dan aku tidak peduli."

Lalu Yoongi memutus sambungan telepon dan meninggalkan Taehyung dalam kebekuan.


"Shit."

Yoongi mengusap wajahnya kasar begitu telepon dari Taehyung mati. Ponselnya tergenggam erat seolah ia menyalurkan semua kekuatannya disana dan berusaha menghancurkan benda itu.

Ini ide gila. Taehyung mengajaknya untuk berpura-pura. Lelaki itu pikir sudah berapa liter air mata yang Yoongi habiskan hanya untuk menangisinya dan perasaan yang sudah ia korbankan selama ini?

Tapi tetap saja Yoongi tidak bisa memberikan jawaban yang lebih keras lagi daripada "terserah kau aku tidak peduli".

Yoongi mendesah, menghapus air matanya sebelum menghubungi ibu mertuanya yang Taehyung bilang sudah berada di apartemen mereka. Berdeham beberapa kali untuk melegakan tenggorokannya dan membuat suaranya sebiasa mungkin. "Halo, Eomonim."

"Aaaah, menantu cantikku!" suara Ibu Taehyung terdengar senang, "sudah lama lho kamu tidak menelepon. Eomonim kangen sekali."

Yoongi tersenyum kecut. "Ne, Eomonim. Yoongi juga kangen," ujarnya sepat, "Eomonim kenapa tidak bilang-bilang kalau datang ke Seoul?"

"Taehyungie sudah meneleponmu, ya?"

"Iya. Baru saja," mengajakku untuk berpura-pura tidak ada yang terjadi. Yoongi menarik napas panjang, menyandarkan punggungnya di sofa apartemen.

"Eomonim memang sengaja tidak menelepon supaya jadi kejutan," di ujung telepon, Ibu Taehyung tertawa renyah, "maaf ya, kalau Eomonim mengganggu program anak pertama kalian."

Program anak pertama? Bulan madu saja tidak pernah.

"Taehyungie bilang Eomonim sudah ada di apartemen."

"Mm-hm. Eomonim disuruh menunggu di lobi, kata Taehyungie kantormu lebih dekat dari apartemen daripada kantornya."

"Ah, jadi Eomonim sudah ada di lobi lantai 1?" Yoongi bangkit dari duduknya, meraih mantel baby pink yang tergantung di kapstok kamar, "tunggu disana sebentar ya, Eomonim. Yoongi akan menyusul."

"Lho? Hari ini Yoongi tidak bekerja?"

"Tidak. Yoongi..." kata-kata Yoongi menggantung sejenak di udara, "...Yoongi sedang tidak enak badan."

"Tidak enak badan? Tidak enak badan bagaimana?"

Ibu Taehyung adalah tipikal ibu-ibu kaya yang cerewet dan terlalu perhatian dengan detail hingga terkadang terasa menyebalkan. Ketika menjelang pernikahan dulu, gaun pengantin yang dipakai Yoongi berkali-kali ganti model karena ibu Taehyung selalu mengomel dan minta ini-itu. Kalau Yoongi berada di posisi desainer gaun pengantinnya, ia mungkin sudah pusing dan muak karena didatangi klien hampir lima kali dalam sehari.

"Meriang biasa, Eomonim. Sedikit pusing juga, tapi tidak apa-apa," kata Yoongi berusaha meyakinkan, "Eomonim tunggu saja di lobi, ne? Yoongi sudah siap-siap turun."

Kemudian panggilan dimatikan. Yoongi beranjak menuju kaca di raksepatunya, memastikan ia tidak terlihat menyedihkan setelah kejadian kemarin. Bibirnya yang pucat dan matanya yang sayu cukup menjadi modal untuk benar-benar tidak enak badan.

Kalau begini, rencana Seoul's one day trip dengan Jimin jelas gagal.

Yoongi menekan panggilan untuk Jimin seraya menutup pintu apartemen. Melangkah sedikit terburu karena tidak ingin membuat ibu Taehyung menunggu lebih lama.

"Yoongi, kau sudah siap? Aku baru saja mau—"

"Jimin, maaf," potong Yoongi penuh penyesalan, "aku tidak bisa."

"Apa? Kenapa?".

"Ibu Taehyung datang kesini," Yoongi menjawab lirih, "mertuaku."

"...O-oh."

Suara Jimin terdengar canggung. Yoongi menggigit bibir bawahnya, merasa bersalah pada Jimin karena sudah membatalkan janji hari ini. "Ini diluar perkiraanku. Ibu Taehyung datang kesini tiba-tiba, tidak meneleponku atau Taehyung sendiri, dan aku tidak mungkin meninggalkannya karena bagaimanapun beliau masih mertuaku selama surat cerai belum keluar," terang Yoongi lagi, "maaf, Jimin. Sungguh."

"Ya. Tidak apa-apa," Jimin menjawab, masih canggung dan terkesan agak kaku, "lalu, bagaimana dengan kau dan dia?".

"Skenario," kata Yoongi dengan tawa terpaksa, "kami akan bermain rumah-tangga-baik-baik-saja. Ini semua usul Taehyung."

"Dan kau tidak menolak?"

Yoongi tersentak. Kesan kaku dan canggung dalam suara Jimin berganti dengan kesan dingin. "Aku sudah menolaknya, but he insisted me to do."

"Oh ya, tentu saja. Lelaki seperti dia akan terus memaksamu melakukan skenario bodoh itu kecuali kau memang benar-benar berhenti mencintainya," Jimin berujar dingin, siapapun tahu ada ketidaksukaan yang besar dalam nada bicaranya, "jadi jadwal kita dibatalkan? It's okay, it's not a big deal, though. Aku pulang ke Busan, oke?"

Yoongi bergeming tidak menjawab. Napasnya terasa berat. Ia hanya berdiam di depan lift yang masih tertutup karena Yoongi tidak memencet tombolnya.

Kalau Yoongi boleh egois, ia tidak akan peduli dengan Taehyung dan ibunya dan memilih basement untuk kembali ke apartemen Jimin. Kembali ke pelukan lelaki itu. Kembali ke dalam kehangatan lelaki itu yang baru Yoongi sadari sekarang.

"Ya," Yoongi menjawab lirih pada akhirnya, "berhati-hatilah."

Jimin tidak menimpali jawaban satu katapun namun panggilan ditutup oleh Jimin lebih dulu.

Yoongi menghela napas panjang, menyimpan ponselnya di saku mantel. Semuanya terasa salah, termasuk apa yang Yoongi rasakan sekarang. Dua hari yang lalu ia masih mencintai Taehyung. Semalaman ini ia tidak ingin menjauh dari Jimin. Yoongi mengerang frustrasi. Semua hal tentang perasaan selalu tidak memiliki ujung yang jelas.

Tapi Jimin benar. Skenario bodoh ini tidak seharusnya dilakukan.


Setelah menghabiskan nyaris satu jam lebih di Park Hyatt Seoul, Taehyung menyetir mobilnya kembali ke apartemen.

Tiba di apartemennya, dadanya seperti ingin meledak karena jantungnya berdentum-dentum keras. Kegugupan menyerangnya dan membuat tengkuknya terasa lembap. Taehyung menahan jemarinya mengambang di udara, keragu-raguan membuka password apartemen melingkupinya.

"Taehyung, kenapa tidak segera masuk saja?"

Taehyung berjengit kaget, mendongak melihat pintu unitnya terbuka dan ibunya berdiri sambil tersenyum. Napas Taehyung tercekat. Ini dia. "Eomma," sambil berusaha menetralkan degup jantungnya, Taehyung tersenyum kemudian maju dan memeluk ibunya, "Taehyung kangen sekali."

Taehyung memiliki postur tubuh tegap yang tinggi. Tinggi ibunya bahkan hanya sampai bahunya. "Iya, Eomma juga kangen sekali dengan Taehyung," balas ibunya lembut, mengusap punggung Taehyung yang dilapisi, "kamu habis lari-lari di tangga, ya?"

Taehyung menyunggingkan senyum tipis. Ia menggeleng sebagai jawabannya kemudian merangkul ibunya memasuki apartemen.

Di depan televisi, Taehyung melihat Yoongi sedang menata meja dengan berbagai toples makanan ringan dan tiga gelas air jeruk. Yoongi mendongak, membuat mata mereka bertemu pandang dan sesuatu menyengat punggung Taehyung.

"Air jeruk, ya? Yoongi tahu sekali kesukaan Eomma," Ibu Taehyung tersenyum senang merasa tersanjung, menatap Yoongi yang hanya tersenyum tipis dan berbalik ke dapur.

Mata Taehyung mengikuti punggung Yoongi kemanapun wanita itu bergerak.

"Eomonim, sekarang sudah hampir jam makan siang," Yoongi berujar seraya menyibukkan diri di dapur, "kubuatkan bulgalbi, ya."

"Apakah tidak terlalu lama kalau membuat bulgalbi?" tanya Ibu Taehyung, "harus memanggang daging dulu, lho."

"Tidak apa-apa. Aku sudah menyiapkan irisan dagingnya, lagipula setengah jam lagi sudah makan siang. Bulgalbi matang ketika jam makan siang tiba," Yoongi tersenyum, mengambil daging sapi dari dalam kulkas dan bahan-bahan bulgalbi lainnya.

"Taehyung-ah, ayo bantu Yoongi," Ibu Taehyung menepuk bahu Taehyung yang masih menanamkan pandangannya di punggung Yoongi, "supaya kamu tahu caranya memasak. Daripada cuma bisa masak ramen kan?" ibunya terkekeh pelan, lembut menatap wajah Taehyung.

Taehyung mengangguk, beranjak untuk menghampiri Yoongi dengan ragu-ragu.

Kemudian, kecanggungan hebat melingkupi keduanya.

Yoongi memilih sibuk dengan daging-dagingnya, menyiapkan berbagai bumbu dan mengupas kulit kentang. Taehyung berdiri bingung di sebelahnya, sebelum lelaki itu bergerak lebih dekat untuk menyentuh bahu Yoongi.

"Siapkan saja pemanggangnya," kata Yoongi. Nadanya datar.

Taehyung menurut, mengeluarkan pemanggang dan mulai menyiapkan api.

Kemudian, canggung lagi.

"Ini menggelikan," Yoongi bersuara setelah lebih dari sepuluh menit kebekuan membungkus mereka, "kau bilang kita berskenario, kan? Kenapa kau canggung sekali?"

Taehyung terdiam. Mengambil sebuah kentang kemudian mengupas kulitnya dengan peeler. "Entahlah," katanya lirih.

"Memang seharusnya kita tidak berbohong, Tae," Yoongi menghela napas, "we should tell Eomonim what's really happening between us. Kebohongan lebih lama akan menimbulkan kebohongan yang lebih besar lagi."

Taehyung terdiam lagi. Menatap Yoongi yang sedang memanggang daging lekat-lekat. Ia baru sadar poni Yoongi sudah terlalu panjang dibanding ketika ia menyadarinya. Sisi wajah perempuan itu sedikit tertutup oleh helaian cokelatnya yang lembut. "Aku—" Taehyung menelan ludahnya kasar, "—minta maaf."

Yoongi bergeming. Menyibukkan diri dengan membolak-balik daging di atas pemanggang.

"Maaf memang tidak cukup untukmu," Taehyung berujar, mencoba menjelaskan meskipun ia tahu Yoongi bisa saja tidak mendengarnya, "kau boleh membenciku selamanya. Mungkin sampai mati."

"Apa dengan membencimu membuatmu kembali padaku?" Yoongi mendongak, menatap sepasang bola mata Taehyung yang kelam; bola mata yang Yoongi sukai sampai kemarin, "apa dengan membencimu membuat lukaku sembuh? Membuat semua situasi ini baik-baik saja?"

"Ketika semua sudah berakhir, maka berakhirlah," lanjut Yoongi, masih menengadah untuk menatap Taehyung yang membeku di tempatnya, "kita tidak perlu mencoba membangun kebenaran diatasnya. Kau memang tidak mencintaiku, apa baiknya berpura-pura di depan Eomonim? Eomonim mungkin saja marah, tapi kemarahan itu memang yang seharusnya terjadi. Kau terlalu takut. Kau terlalu memikirkan dirimu sendiri. Kau egois. Kau ingin melindungi dirimu sendiri."

"Don't leave the deep scars once again, Tae," Taehyung bersumpah ada sesuatu yang menyobek jantungnya ketika melihat air mata luruh di pipi Yoongi, "losing you was the scar I don't want to suffer again."

Taehyung bungkam. Namun tubuhnya bergerak menarik Yoongi hingga perempuan itu tenggelam dalam dekapannya.

"What can I say is just sorry, Yoongi," bisik Taehyung, merasakan getaran halus dalam pelukannya. Yoongi terisak. "Dan laki-laki pecundang sepertiku tidak pernah pantas untukmu."

"Kau bukan pecundang," Yoongi berujar pelan mirip bisikan, "kau hanya tidak mencintaiku. Itu saja."

"Maka kita harus mengatakan yang sesungguhnya pada Eomonim, Tae," kata Yoongi, melepaskan pelukannya kemudian mendongak dan menorehkan senyum meyakinkan di wajahnya, "karena bersembunyi di belakang kebohongan adalah sia-sia."

Taehyung mengangguk. Yoongi benar. Tidak ada gunanya berbohong lagi.

Bulgalbi dan sup kentang terhidang di atas meja tepat jam dua belas siang. Taehyung ikut menyiapkan tiga mangkuk nasi dan peralatan makan lainnya, membuat ibunya melontarkan pujian yang membuat Taehyung sendiri menyeringai. "Rajin sekali, Taehyungie? Yoongi-ya, kau harus tahu kalau Taehyung tidak pernah mau membantu menyiapkan meja makan kecuali Eomma yang menyuruhnya."

Yoongi tersenyum kecil. Meletakkan tiga gelas air putih di sisi masing-masing mangkuk. Diliriknya Taehyung yang sedang membersihkan sendok dan sumpit dengan serbet sebelum di letakkan di sisi lain masing-masing mangkuk.

Rasa sakit menjalar cepat di dadanya namun secepat itu pula rasa sakit itu menghilang.

Ini adalah momen terakhirnya bersama Taehyung sebelum surat perceraian keluar dan resmi memisahkan mereka.

Taehyung duduk berdampingan dengan Yoongi, dengan ibu Taehyung duduk di hadapan mereka berdua. Ibu Taehyung memuji betapa lezatnya makan siang yang dibuat Yoongi, betapa Taehyung yang beruntung mendapatkan istri secantik dan sesempurna Yoongi.

Tapi tetap saja. What is worse than realizing that we would never be good enough?

Tepat setelah sendok dan sumpit diletakkan, Yoongi memberanikan diri mengangkat wajah dan berujar tegas namun dengan suara yang gemetar. Suara yang berusaha menyembunyikan keputusasaannya. Suara yang berusaha menunjukkan bahwa hal ini adalah yang terbaik yang seharusnya dilakukan, sesakit apapun akibat yang diterima.

"Eomonim, kami memutuskan untuk bercerai."


Tidak mudah memang mengatakan kejujuran. Namun kebohongan akan lebih tidak mudah lagi di penghujung hari.

Ini bukan April Mop. Yoongi mengatakan secara lugas tentang keputusannya dan Taehyung untuk bercerai. Atau keputusannya. Taehyung tidak mengatakan apapun, tidak merespon apapun tentang gugatan itu, namun dengan diamnya Taehyung tentang gugatan cerai dari Yoongi, Yoongi sudah tahu apa jawaban Taehyung selanjutnya.

Ibu Taehyung naik pitam. Murka setelah Taehyung menjelaskan penyebab mengapa ia dan Yoongi bercerai. Jungkook dipanggil. Perempuan itu datang dengan wajah ketakutan, nyaris menjadi korban tamparan ibu Taehyung namun Yoongi cepat mencegahnya.

"Eomonim tidak perlu menampar Jungkook-ssi," kata Yoongi, berusaha menenangkan gejolak amarah yang meluap-luap dalam diri mertuanya, "dan tidak ada yang perlu ditampar disini."

"Perempuan jalang!" tidak berhasil dengan tamparannya, ibu Taehyung memuntahkan semua kata-kata kasar tentang pelacur dan sebagainya, "beraninya menghancurkan rumah tangga orang lain! Jangan berlagak seperti cecurut! Diam saja, gemetar di sudut rumah!"

"Eomonim!" Yoongi nyaris meninggikan suaranya, tidak menyangka ibu Taehyung semarah ini, "Jungkook-ssi bukan jalang seperti yang Eomonim katakan! Pernikahan kami adalah karena perjodohan, Taehyung sudah memiliki Jungkook-ssi sebelum pernikahan kami dilaksanakan. Tidak ada salahnya bagi Taehyung untuk mempertahankan Jungkook-ssi. Taehyung hanya tidak bisa menolak permintaan terakhir Abeoji. Itu saja!"

"Kamu dilukai dan kamu membelanya?!" mata ibu Taehyung nyalang menatap Yoongi, tidak luput juga telunjuknya yang mengarah pada Jungkook seolah menunjukkan bahwa ada sampah menjijikkan yang harus dibuang.

Yoongi terdiam. Napasnya ikut naik-turun karena amarah ibu Taehyung yang menguar. Ia menoleh ke belakang. Jungkook duduk dengan kepala tertunduk dalam dan Taehyung yang duduk di sebelah Jungkook dengan tubuh menegak kaku. Namun bukan itu yang Yoongi lihat.

Tapi tangan Taehyung dan Jungkook yang bertautan di bawah meja. Gemetar hebat. Namun erat seolah tidak akan saling melepaskan.

Sembilu kasat mata kembali menohok Yoongi. Pandangannya memburam. Hal itu sudah menjadi bukti bahwa Taehyung mencintai Jungkook sepenuh jiwanya. Jungkook, dan bukan Yoongi.

"Eomonim," Yoongi kembali bersuara, menarik napas panjang dan menghembuskannya pelan-pelan, "aku tidak dilukai. Aku baik-baik saja, karena aku memahami bahwa Taehyung mencintai Jeon Jungkook, bukan Min Yoongi."

Perut Jungkook menegang setelah mendengar kalimat bernada final dari Yoongi. Taehyung menengadah dan menemukan Yoongi tersenyum lembut padanya.

Senyum yang menggambarkan bahwa Yoongi sepenuhnya merelakan Taehyung untuk Jungkook.

"Tidak ada gunanya juga jika Taehyung terus menyembunyikan hubungannya dengan Jungkook dari semua orang. Hidup di bawah bayang-bayang bukanlah sesuatu yang menyenangkan. Jungkook-ssi bukan perebut. Ia murni memiliki Taehyung sebelum aku, dan secara tersirat akulah yang merebut Taehyung darinya," Yoongi menjelaskan dengan suara lembut dan nada yang tenang. Ditatapnya wajah kaku ibu Taehyung yang tidak menyangka menantu kesayangannya mengucapkan hal seperti itu. "Aku berencana mengunjungi Lee & Ko dalam minggu ini, mengurus surat perceraian secepat mungkin supaya masalah juga selesai secepatnya," terang Yoongi lagi, "aku menjamin tidak ada pihak yang dirugikan dalam hal ini. Mungkin aku sedikit terluka, namun hal itu tidak lebih dari sekadar perasaan yang hadir sekilas."

"Eomonim," Yoongi tersenyum, berlutut di hadapan ibu Taehyung yang menatapnya dengan raut yang sukar dijelaskan, "ini mungkin sulit untuk dilakukan. Tapi aku mohon, terimalah Jungkook seperti Eomonim menerimaku."


The Bastille menyanyi keras di speaker sementara Toyota Avalon itu melaju mulus melewati jalan tol.

Jimin menyetir mobilnya dengan tenang, sesekali mengetuk-ngetukkan jemarinya ke kemudi mobil mengikuti irama lagu. Bayangan Busan, rumah, ibu dan kedua adiknya membuatnya sedikit lebih tenang daripada ketika menerima telepon dari Yoongi bahwa trip mereka dibatalkan.

Sejujurnya, Jimin cukup menyesal karena sudah berbicara dalam intonasi dingin pada Yoongi yang jelas-jelas dalam posisi tidak menguntungkan. Jimin bisa saja meminta maaf, namun ia sedang tidak ingin menghubungi Yoongi saat ini.

Lagu yang disetel Jimin terhubung dari ponselnya melalui bluetooth. Jimin punya banyak koleksi lagu di ponselnya—terimakasih untuk Tidal yang menyediakan banyak lagu keren yang Jimin suka dan membuatnya tidak perlu menghabiskan banyak memori untuk menyimpan lagu.

Ponselnya terpasang di phone holder di dashboard mobil. Layarnya yang lebar membuat Jimin otomatis melirik jika ada sesuatu yang masuk ke ponselnya.

Kali ini, KakaoTalk dari Yoongi.

Kening Jimin mengerut heran. Diraihnya ponselnya kemudian menyentuh notifikasi KakaoTalk itu sehingga pesan dari Yoongi terbuka.

'We chose to tell his mom what's really happening. Rasanya menyiksa tapi kau benar, skenario itu bodoh. Hati-hati menyetirnya, ya. Salam untuk ibumu.'

Garis tipis yang dibentuk bibir Jimin melebar hingga menjadi senyum lega.

Pesan itu pendek saja. Tersirat, namun membuat perjalanannya ke Busan terasa jauh lebih ringan.


Dua minggu setelah Yoongi menjatuhkan cerai pada Taehyung, surat perceraian keluar. Dua kolom tanda tangan sudah diisi olehnya dan Taehyung dan mereka resmi bercerai. Awalnya keputusan ini sangat ditentang; ibu Taehyung yang murka luar biasa dan nyaris menampar Taehyung karena—ada beberapa gumaman tentang kurang ajar yang keluar. Kedua orangtua Yoongi juga sama tidak percayanya namun Yoongi berhasil menyelesaikan perkaranya baik-baik. Lalu, mereka benar-benar resmi bercerai.

"Terimakasih," Taehyung tersenyum setelah keluar dari kantor firma hukum Lee & Ko yang membantu menangani perceraian mereka, "terimakasih dan maaf."

"Terimakasihnya dua kali?" canda Yoongi, tertawa, mengulurkan tangan untuk berjabat tangan dengan Taehyung, "kau lega, kan? Aku juga kalau begitu."

"Well," Taehyung mengedikkan bahunya, "I have to go. Bukannya aku kabur dan ingin cepat-cepat jauh darimu, ya. Kau harus tahu kalau kau adalah perempuan terbaik yang pernah kukenal, bahkan di atas Jungkook."

"Don't compare me with her," Yoongi berujar, masih tersenyum, "aku yakin Jungkook juga tidak suka disamakan dengan perempuan lain. Yeah, I have to go too. Kalau kau butuh sesuatu, jangan segan-segan untuk meneleponku. Kita bercerai bukan berarti kita tidak pernah saling kenal, kan?"

Yoongi mengulurkan tangan untuk menepuk hangat bahu tegap Taehyung. "Kalau kau juga membuat Jungkook menangis, aku tidak akan segan-segan membunuhmu," ia terkekeh lagi sebelum berbalik dan melangkah pergi.

"Oh ya," Yoongi menahan langkahnya, menoleh melewati bahu pada Taehyung yang masih berdiri di tempat yang sama, "sampaikan salamku untuk Jungkook," lanjutnya, meneruskan langkah kemudian.

Taehyung tersenyum, menatap punggung Yoongi sampai wanita itu masuk ke mobil dan melaju pergi.


Dua minggu itu pula, Jimin beristirahat di Busan tanpa perlu memikirkan seluruh pekerjaan dan beban dalam hidupnya. Busan membantu memulihkan semua rasa penat dan Jimin tahu sudah saatnya ia harus kembali ke Jerman.

"Terimakasih, Paman," Jimin mengulas senyum sopan pada supir taksi yang baru saja membantunya menurunkan koper. Pintu masuk bandara Incheon terbuka lebar seolah menyuruh Jimin untuk cepat-cepat menjemput penerbangannya.

Setelah memberikan beberapa won sebagai tip atas ungkapan terimakasihnya, Jimin memasuki bandara sambil menyeret kopernya.

Ah. Jerman. Dari Incheon lalu mendarat di Frankfurt, kemudian Jimin akan berkendara mobil menuju Papenburg.

Jimin mendesah, memandangi boarding pass yang terselip di paspor. Setengah jam lagi ia kembali menghirup udara Jerman, meninggalkan ibu dan kedua adiknya sampai liburan Natal tiba. Sedikit-banyak Jimin merindukan Jerman, kesibukannya di shipyard company, apartemennya yang nyaman, makanannya. Apapun.

Setelah melewati gate pemeriksaan, Jimin menyeret kopernya menuju ruang tunggu. Harum roti dan kopi dari gerai makanan membuat nafsu makannya naik, namun menyadari ada seseorang yang dikenalnya berdiri dari duduknya di sofa seberang membuat langkah Jimin terpaku di tempat.

Seseorang itu Yoongi, tenggelam dalam sweater oversized merah, celana panjang hitam dan syal abu-abu, membuat Jimin begitu terkejut hingga terpaku. Kedua pipinya memerah; musim gugur tahun ini dipenuhi badai dan angin kencang.

Karena jujur saja, Jimin would never expected Yoongi would waited for him, alone in this chilling fall season, setengah jam sebelum penerbangan Jimin ke Jerman.

"Hai," Yoongi tersenyum, mengangkat tangan menyapa, "sudah jam setengah sepuluh, sebentar lagi penerbanganmu, kan? Kau harus cepat-cepat pergi ke gate-mu karena setengah jam itu bukan waktu yang—"

Kata-kata Yoongi urung terselesaikan bersamaan dengan Jimin yang memagut bibirnya. Lembut, manis dan memabukkan.

Mata Yoongi terpejam; tangannya terangkat mencengkeram mantel cokelat Jimin. Lembut membalas deep kiss dari lelaki itu. Ia tidak akan pernah menolak ciuman dari Jimin setelah ini. Because she was completely falling for him. Karena lelaki itu, Park Jimin, selama 12 tahun tidak pernah berhenti mencintainya. Bahkan sampai hari ini. Besok. Lusa. Dan selamanya.

Jimin menyudahi ciumannya, tersenyum menatap Yoongi yang masih merona; entah karena udara dingin atau karena tindakan nekatnya barusan. Menunduk, Yoongi menjilat bibirnya gugup—yang diasumsikan otak kotor Jimin sebagai 'menikmati ciuman darinya'.

"Setengah jam sebelum penerbanganku dan akhirnya aku mendapatkan ciuman yang kutunggu selama 12 tahun," kata Jimin penuh kemenangan seraya mengangkat kepalan tangannya ke udara.

Yoongi mengerjap. Senyum lebarnya tidak bisa disembunyikan lagi.

"Atau seorang laki-laki mengepalkan tinjunya ke udara karena sudah mendapatkanku, seperti Judd Nelson."

Well, Jimin already got her now.

###

Every story has its beginning, plot and ending. Whether it is happy or sad, those ending was the beginning of the other. Maka dengan berakhirnya cerita Taehyung dan Yoongi, bersamaan dengan itu, cerita tentang Taehyung dan Jungkook serta Yoongi dan Jimin baru saja dimulai.

.

.


author's note: FINALLY FINAL CHAPTER! Alhamdulillah... *sujud syukur*

cie happy ending cie. cie balik sama kopelnya sendiri-sendiri :p maaf sejuta kali buat taegi shipper, aku nggak bisa nyatuin taehyung-yoongi kalo taehyungnya udah ditalak gitu sama yoongi. soalnya kalo dipersatukan, ceritanya bakal kayak cinta fitri nantinya :p berseason-season, wkwkwk.

nanggung banget ya 9 chapter doang? yang mau ada chapter 10-nya, ayo angkat tangan, trus voting, mau taekook/minyoon/yugyeom-jungkook, ato terserah deh.

i wrote this ff with all my feels. senang, sedih, ngamuk, terluka /halah/ dan semoga feelsku nyampe ke kalian semua para readers. maklum masih amatiran kan, udah ada banyak senpai-senpai yang kalo nulis feelsnya kerasa banget sampe kebaperan berhari-hari, nah, karena itulah aku buka kritik selebar-lebarnya sepuas-puasnya ke kalian, dengan tujuan aku bisa lebih baik lagi kedepannya :) honestly i'm got so shock with your reviews, my dearest readers. makasih banget huhu :') terharuuu~ dan sekarang the affair udah selesai, nggak nyangka :')

i'm so grateful to say THANK YOU ARIGATOU KAMSAHAMNIDA MAKASIH XIE XIE ASDFGHJKL APALAH APALAH. yang ikut gregetan, ikut kebaperan, ikut nunggu, ikut baca, SEMUANYA :')

author's note-nya panjang ya? pasti bosen wkwk.

semangat ya ujian akhir sekolahnya^^)9 belajar dulu, baru nonton bangtan di MAMA 2016 kalo udah kelar belajarnya :D

sekali lagi, makasih banyak untuk yang selalu baca dan nunggu-nunggu updatenya the affair :) soonshim sayang kaliaaaan~ {}

Woof ya!
-Soonshimie.