Prince of Tennis disclaimer by Konomi Takeshi-sensei
Love So Sweet by Rin Shouta
Rate : T
Genre : Romance, Friendship, Drama, Angst
Pair : Perfect Pair (Tezuka Kunimitsu x Fem!Fuji Syusuke aka Fuji Syuko)
Warning : Gender bender. AU (Little Canon), OOC, typos, etc. Niatnya ingin buat yang manis-manis saja, tapi who know? :) Disarankan baca chapter ini sambil mendengarkan lagu Gero x Faneru yang berjudul Summer Rain. Don't like, don't read. I've warned you, 'kay?
#9 Second Year JHS; Summer Rain (Part 2)
Hari Minggu pagi, terlihat beberapa perahu nelayan memasuki area pesisir pantai. Di perahu mereka terdapat tangkapan ikan yang melimpah. Mulai dari ikan yang sejenis dengan sarden, yaitu bonito sampai jenis ikan yang tak bisa diidentifikasikan namanya. Satu per satu kotak berisi ikan tersebut dipindah dan dibawa ke pasar ikan yang berada tak jauh dari pesisir pantai. Pasar ikan itu sudah tampak ramai dengan para agen penjual maupun pembeli biasa.
Saeki Kojirou bersiul melihat hasil tangkapan sang ayah. "Lebih banyak dari yang kemarin, Tousan!" seru pemuda berambut perak tersebut.
"Ohoho! Tentu saja! Kojirou, bantu Tousan bawakan kotak-kotaknya ke sini!" suruh ayahnya.
"Roger!" balas Saeki seraya tersenyum lebar.
Selama perjalanan menuju perahu, pemuda itu tak henti-hentinya menyapa nelayan yang ia kenali adalah teman-teman ayahnya. Sesampainya di dekat perahu, Saeki putuskan untuk membawa kotak berisi cumi-cumi berbagai jenis dan ukuran. Dengan sekuat tenaga ia membawa kotak tersebut sampai ke pasar yang jaraknya tak sampai 1 km.
"Wah, Kojirou. Semangat seperti biasanya, eh?"
Ekspresi Saeki semakin cerah begitu melihat siapa yang menyapanya. "Jii-chan! Ohayou!"
"Ohayou, Kojirou." Nelayan tua yang ternyata bernama Nakajima Ryuichiro tersenyum hingga membentuk garis lurus melengkung ke bawah. Diam-diam rasa nostalgia menyelinap di hati Saeki tiap kali melihat ekspresi dari pria yang sudah menjadi kakek-kakek itu.
"Kukira hari ini Jii-chan tidak menangkap ikan lagi, hehe," ucapnya.
"Fufu, sakit kepala bukanlah halangan untuk pergi berlayar, kau tahu."
"Heee, padahal kemarin siang tidak bisa bangun dari kasur."
"Saa, sekarang sudah lebih baik." Kakek Nakajima kembali tersenyum sambil menepuk bahu kiri Saeki yang tidak digunakan untuk mengangkut kotak berisi cumi-cumi. Ia berjalan di samping pemuda yang sudah dianggap cucu sendiri itu. Ekspresinya tampak berusaha mengingat sesuatu.
"Oh iya, apa kau tahu kalau Syuko dan keluarganya akan liburan ke sini mulai hari ini?"
Kotak yang dibawa Saeki hampir saja terjatuh kalau Kakek Nakajima tidak menahannya.
"Duh, Kojirou! Hati-hati pegangnya! Kalau lenganmu terkilir, bagaimana!?" bentak sang kakek, namun nadanya masih terdengar lembut dan terkesan seperti sedang berbisik.
Kepala Saeki menengok ke samping. Menatap Kakek Nakajima dengan bola mata berkaca-kaca. "Benarkah Syuko-chan liburan ke sini, Jii-chan?" tanyanya hampir tidak percaya.
Anggukan kepala menjadi jawabannya. "Memang Syuko dan Yuuta tidak mengirimmu email?"
Saeki tertawa lemas. "Kami terlalu sibuk dengan kegiatan sekolah dan klub tenis. Jadi..."
"Hmm, begitu, ya? Nanti biar Jii-chan tegur mereka, deh."
"Eh!? Tidak perlu, Jii-chan!" Saeki menghela napas kemudian.
Terkadang ia heran, sebenarnya cucu dari Kakek Nakajima ini adalah dirinya atau Fuji bersaudara, sih? Walau begitu, ekspresi dan senyum bahagia di wajahnya tak mungkin bisa Saeki tutupi lagi. Teman sejak masa kecilnya itu jarang sekali ke Chiba, terutama Fuji Syuko. Terakhir kali ia bertemu anggota keluarga Fuji, yaitu dengan Yuuta dan ibunya, Yoshiko, yang merupakan anak bungsu dari Kakek Nakajima.
"Nanti malam, mampirlah ke rumah. Kita makan malam bersama," ajak Kakek Nakajima.
"Ou!" Tiba-tiba Saeki berwajah suram.
"Kurasa Neesan akan bertingkah memalukan lagi di depan Yusuke-nii," ucapnya setelah mengingat betapa gilanya sang kakak pada anak tertua di keluarga Fuji itu. Memang bukan rahasia lagi kalau kakaknya memendam rasa pada Yusuke. Meski pernah ditolak, namun hal yang membuat Saeki sedikit bangga adalah rasa pantang menyerahnya untuk mendapatkan apa yang ia inginkan.
Sayangnya... hal itu juga yang membuat Saeki cemburu.
Senyum yang terkesan memaksakan diri tampak di wajah tampannya.
"Maa, setelah ini aku akan mampir ke rumahnya, Jii-chan," putus Saeki dengan nada ceria lagi.
Kakek Nakajima hanya mengangguk dan tersenyum.
Love So Sweet
"Wah, rumah ini masih sama seperti terakhir kali aku ke sini," ucap Fuji Yusuke seraya menjatuhkan tubuhnya di atas sofa empuk. Yuuta ikut duduk di sofa panjang yang lain setelah menaruh tas berukuran besar di dekat kakinya. Orang tua mereka geleng-geleng kepala melihat tingkah anak sulung mereka. Pandangan Yoshiko terarah pada Fuji yang terlihat berjalan mendekati grand piano hitam di pojok ruang tamu. Shinosuke duduk di sofa single seraya ikut memperhatikan anak perempuannya.
"Mainkan satu lagu, Syuko," pinta sang ayah.
Fuji tampak berpikir sebentar. Senyum tipis muncul di wajahnya ketika jari-jarinya bergerak menekan tuts piano. Alunan musik Piano Concerto in G 2nd movement karya Ravel terdengar memenuhi ruangan.
Rasa kantuk berhasil menguasai tubuh Yusuke hingga ia sukses tertidur. Yoshiko duduk di samping Fuji dan berbagi senyum ketika sang anak menengok ke arahnya. Kepala Yuuta terkantuk-kantuk, namun berusaha untuk tetap terjaga. Iseng, ia menendang kaki sang kakak dan dihadiahi tatapan membunuh. Namun Yuuta sudah kebal, ia terus menendang kaki Yusuke hingga kakaknya benar-benar terbangun dari alam bawah sadarnya.
Melihat interaksi saudara laki-lakinya, Fuji tertawa dan memilih untuk menghentikan permainan pianonya. Lagipula gadis itu sebenarnya tidak terlalu hafal nada-nada dari musik tersebut. Tanpa aba-aba ia berlari mendekati Yuuta kemudian memeluknya sambil tersenyum lebar.
"Aneki, lepaskan akuuu!" protes adiknya yang manis.
"Sekarang gantian aku yang menjahilimu, Yuu-chan~" balas Fuji.
"Oh God... tapi sesak, Aneki!" protes Yuuta lagi.
"Wah, masih akur seperti dulu ternyata."
Semua pasang mata tertuju pada sosok di ambang pintu. Ekspresi terkejut perlahan berganti menjadi ekspresi hangat dan senang. Yuuta berdiri setelah berhasil lepas dari pelukan maut sang kakak yang kini berlari untuk memberikan pelukan mautnya pada si tamu.
"Kojirooooou!" seru Fuji.
Saeki hampir terjungkal kalau tidak sekuat tenaga menahan berat tubuhnya dan Fuji. Ia membalas pelukan hangat itu. Tangan kanannya menepuk pelan puncak kepala Fuji.
"Kau makin tinggi, Kojirou," ucap temannya itu sambil melepas pelukannya dan mendongak.
"Aku 'kan masih dalam masa pertumbuhan, Syuko," balas Saeki.
"Pfft, tinggimu melebihi Syuko sekarang. Padahal dulu kau lebih pendek, Kojirou," sahut Yusuke.
Entah kenapa Saeki bisa mendengar nada mengejek di sana. Ia duduk di sebelah Yuuta, sementara Fuji membiarkan pahanya dijadikan bantal oleh Yusuke sebagai balasan dirinya duduk di sofa tersebut. Ibu mereka menyiapkan teh dan cemilan di dapur. Yuuta menatap malas pada sang ayah yang terlihat tidak ingin jauh-jauh dari istri tercinta. Mereka berempat pun larut dalam pembicaraan mengenang masa lalu dan kehidupan mereka yang sekarang. Kemudian Yusuke yang lapar mengajak mereka makan siang di rumah makan langganan mereka dulu.
Ketika mereka sampai di rumah makan yang dimaksud Yusuke, seorang pelayan memberi sambutan 'selamat datang'. Saeki langsung menepuk kening. Ia lupa kalau kakaknya kerja part time di rumah makan tersebut dan kini sudah berhambur ke pelukan Yusuke.
"Oh, astaga! Mimpi apa aku semalam bisa bertemu denganmu, Yusuke-san!" seru sang kakak.
Yusuke tertawa lemah. "Sebelum itu, bisa lepas pelukanmu, Mira-chan? Aku sesak."
"Gomen, gomen!" ucap Saeki Mira sambil melepas pelukan mautnya.
"Halo, Mira-neechan~" sapa Fuji yang berdiri di belakang kakaknya.
Dari sudut pandang Mira, gadis yang sudah dianggap adik sendiri itu terlihat semakin cantik. Tingkahnya pun lucu karena ia hanya menelengkan kepalanya sambil tersenyum manis, membiarkan tubuhnya ditutupi oleh tubuh Yusuke. Mira berseru kegirangan memanggil nama Fuji. "Syu-chaaaaan~" Kini tubuh Fuji menjadi korban dari pelukan mautnya.
Yuuta yang tak ingin ikut-ikutan jadi korban memilih untuk langsung duduk di kursi kosong dekat pintu masuk. Saeki geleng-geleng kepala dan duduk berhadapan dengan Yuuta. Yusuke ikut duduk di sebelah sang adik.
"Mira-neechan, apa kabarnya?" tanya Fuji.
Mira melepas pelukannya. "Baik~ Dan aku masih berusaha move on dari kakakmu loh, hehe."
Rasa bersalah muncul di hati Fuji ketika mendengarnya. Kenapa kakaknya tidak bisa menerima cinta gadis di hadapannya ini? Padahal Mira adalah gadis yang baik, walau tingkahnya sedikit ekstrim. Wajahnya pun termasuk cantik dan mungkin ia bisa menjadi primadona di kampusnya.
"Apa tidak ada orang yang menarik di mata Neechan, selain Niisan?" tanya Fuji lagi.
"Ada sih, tapi entahlah. Haha, sudahlah. Ayo duduk, pasti kau sudah lapar~"
Dengan profesional Mira melayani mereka. Sesekali ikut melayangkan guyonan saat keempat konsumennya tersebut bicara, terutama saat giliran Saeki yang bercerita. Fuji memperhatikan gadis yang umurnya sekitar lima tahun lebih tua darinya itu. Terkadang ia tertangkap basah dan dibalas senyuman tipis dari Mira. Fuji sendiri sebenarnya merasa simpati dan cemas.
"Jangan khawatir. Mira kuat, kok."
Fuji menengok ke arah kakaknya. Niisan ternyata sadar tapi bersikap biasa saja, pikirnya.
"Kalau kau melihatnya seperti itu, Neechan takkan senang, Syuko."
Kepala Fuji mengangguk setelah mendengar ucapan Saeki.
Sekitar setengah jam berlalu, satu porsi es serut sudah dihidangkan di depan Fuji. Dua saudara laki-lakinya pergi ke pantai lebih dulu. Saeki masih setia menemani sambil memakan es serut pesanannya. Fuji tersenyum melihat tingkah teman sejak masa kecilnya yang tidak berubah. Pemuda itu masih suka mengambil bagian porsi terdalam es serut lebih dulu dibandingkan langsung mencampur semua sirup dengan serutan es.
Tiba-tiba ia teringat sesuatu. "Bagaimana kabar, Oji?"
Saeki tertawa pelan. "Baik, tapi kami menyuruhnya untuk tidak banyak melakukan aktivitas."
Kali ini Fuji yang tertawa. Oji yang ia maksud adalah kakek yang saat ini resmi menjadi pelatih klub tenis Rokkaku Chuu. Fuji sempat menjadi muridnya sebelum ia pindah ke Tokyo. Bahkan Oji juga yang memperkenalkan tenis pada mereka. Seandainya Fuji sekeluarga tidak pindah, Fuji dan Yuuta pasti akan melanjutkan SMP di Rokkaku Chuugakkou bersama Saeki.
Setelah es serut mereka habis, Saeki mengajak Fuji pergi ke pantai. Seperti biasa, pantai di kota Onjuku ini ramai dengan pengunjung, baik dari wisatawan asing maupun domestik. Pantai ini juga menjadi perwakilan area renang Pesisir Sotoboso dan tiap akhir bulan September diadakan Surfing Carnival. Jadi, tidak heran jika terjadi peningkatan pada jumlah wisatawan.
"Syuko!" Sebuah topi jerami ditaruh di atas kepala Fuji. Yusuke tersenyum puas. "Cocok!" ucapnya seraya berbalik dan bermain air bersama Yuuta yang sedang asyik mencari sesuatu yang Fuji yakini adalah kerang putih. Di tangan kanan sang kakak, ada sebuah ban karet untuk berenang, tapi bukan berarti ia tak bisa berenang, ya.
"Yusuke-niisan masih overprotective padamu ternyata, termasuk dari sinar matahari," komentar Saeki sambil tersenyum geli.
"Aku takkan mengelak soal itu, Tuan Tampan yang Tak Berguna," balas Fuji sarkastik.
Jleb. Saeki merasa hatinya tertohok. "Sekarang aku tidak seperti itu, tahu. Tiap pagi aku selalu membantu Tousan membawa hasil tangkapan ke pasar," gerutunya dengan nada sedikit bangga.
Bola mata biru Fuji terlihat berkilat karena rasa tertarik pada fakta baru tersebut.
Saeki yang sadar akan kilatan rasa tertarik itu hanya menyeringai tampan.
Melihat perubahan ekspresi di wajah Saeki, Fuji langsung meninju pelan lengan atas temannya tersebut. "Jangan besar kepala. Bagiku kau tetap Tuan Tampan yang Tak Berguna," ucapnya seraya berjalan mendekati bibir pantai.
Kakinya berhenti sekitar sepuluh meter dari tempat sang kakak sedang mengambang dengan ban renang. Pandangan Fuji tidak lepas dari air laut yang terlihat tak berujung. Ia pun berjongkok lalu mencari sesuatu. Merasa tidak ada yang menarik perhatiannya, Fuji pun kembali memandangi laut lepas. Langit tampak sedikit tidak bersahabat. Ia berpikir, mungkin sebentar lagi akan turun hujan. Akhir-akhir ini memang sedang musim hujan sebagai tanda pergantian musim, dari musim semi menjadi musim panas.
"Sepertinya akan turun hujan," ucap Saeki menyuarakan pikiran Fuji secara tidak langsung.
Fuji tersenyum lembut tanpa menengok pada lawan bicara yang sudah berjongkok di sampingnya. "Aa. Mungkin hanya gerimis."
Ucapan mereka pun menjadi kenyataan. Air hujan sedikit demi sedikit membasahi bumi. Langit tetap terlihat mendung, namun tak ada tanda-tanda akan turun hujan hingga menimbulkan badai. Bahkan sinar matahari masih berusaha melawan langit mendung supaya wilayah di sekitar Pantai Onjuku kembali terang.
Tanpa sadar, senyum Fuji berubah. Bibirnya terkatup rapat. Kedua ujung alis mengkerut diikuti tatapan yang sulit dipahami, termasuk oleh Saeki.
"Aku rindu pelangi," bisiknya pelan.
Entah kenapa muncul rasa sakit di hati Saeki. Dari sudut pandangnya, ia merasa Fuji sedang mencari sesuatu, seseorang lebih tepatnya. Jangan-jangan...
"Padahal kau baru ke sini satu hari. Sudah kangen?" balas Saeki, sok tahu.
"Aneh, ya? Padahal kemarin aku baru melihatnya."
Kali ini Fuji membalas tatapan Saeki dan itu menguatkan dugaannya. Gadis ini merindukan seseorang yang ditemuinya kemarin. Ekspresi pemuda yang cukup eksotis itu memucat, walau dirinya berusaha mati-matian untuk memasang wajah seperti biasanya. Rasa penasaran muncul di hati Saeki. Ia ingin mengetahui siapa sosok yang dibicarakan Fuji secara tidak langsung ini.
"Oh. Melihat siapa?"
"Pelangi."
"Kau tahu maksudkuapa, Syuko."
Diam. Fuji terlihat tidak ingin mengatakannya. Kontak mata di antara mereka terputus. Gadis itu kembali memandangi laut.
Saeki masih setia memperhatikan wajah Fuji yang terlihat tidak ekspresif seperti biasanya. Perlahan helaan napas keluar dari mulutnya. Saeki memilih ikut menatap laut yang mulai diterangi sinar matahari dan membuat warnanya menjadi sebiru bola mata Fuji.
"Akhir-akhir ini kita tidak pernah kirim kabar satu sama lain," ucap Saeki mengawali pembicaraan. Ia masih berniat untuk mengetahui sosok pelangi ini.
"Kau pasti sibuk dengan klub dan sekolah, aku pun demikian," balas Fuji.
"Aku tahu." Saeki tersenyum. "Tapi aku ingin tahu kabarmu di sana. Apa kau punya banyak teman? Apa nilaimu masih sebagus saat di sini? Bagaimana dengan permainan tenismu? Apa kau semakin menyukai tenis di sana? Aku ingin tahu semuanya, Syuko," akunya dengan wajah tertunduk sedih.
"Gomen, Kojirou." Rasa bersalah terlihat jelas di wajah Fuji.
Saeki menggenggam tangan kanan gadis itu. "Apa dia baik padamu?"
Kepala Fuji mengangguk sekali. Ia tertawa pelan. "Kalau tidak baik, mana mungkin aku menyukainya." Tangan kanannya membalas genggaman tangan Saeki. "Dulu kau bilang, aku harus mencari laki-laki yang baik, kan?"
"Hmm... aku tak bisa berpendapat apa-apa sebelum melihatnya sendiri."
"Suatu hari ini aku akan mengenalkannya padamu."
"Aa. Harus." Sebelum itu, aku harus mempersiapkan diri untuk tidak terlihat sedih di depan mereka, pikir Saeki dalam hati. Tiba-tiba tubuhnya seperti kehilangan kekuatan dalam sekejap, ia pun menjatuhkan tubuhnya begitu saja di atas pasir.
"Haaah... ada yang mendahului ternyata," gumam laki-laki itu pelan.
"Huh?" Raut wajah penasaran hinggap di wajah Fuji.
Kedua tangan yang saling menggenggam, Saeki angkat ke atas dan mengeratkan genggamannya. Ia tidak tahu bagaimana ekspresinya sekarang. Apa terlihat sedih, tersenyum seperti orang bodoh, atau keduanya. Yang pasti laki-laki itu bisa melihat kalau Fuji bahagia sekarang, walau mungkin ia terlalu cepat menyimpulkan.
"Kau terlihat bahagia. Aku senang, Syuko."
"Saa, dou ka na?"
TezuFem!Fuji
Sebuah amplop cokelat di dekat lampu belajar menarik perhatian Tezuka Kunimitsu. Ia sudah membaca isinya lebih dari tiga kali, tapi rasa penyesalan tetap ada di hatinya. Tangan kanan memijat daerah di antara kedua alis. Semakin dipikirkan, penyesalan itu semakin terasa menyesakkan. Tapi ia tak bisa melakukan apa-apa. Semua sudah terjadi. Yang harus ia lakukan sekarang adalah fokus untuk pertandingan Kantou bulan ini.
Perhatiannya tertuju pada sikut tangan kiri. Dokter selalu mengatakan untuk tidak memaksakan diri, tapi tangan kirinya adalah tangan dominan. Meski sudah berusaha membiasakan diri dengan tangan kanan, namun yang namanya kebiasaan sulit dirubah.
Tezuka menatap bulan sabit yang samar-samar terlihat dari balik tirai. Ia jadi teringat kejadian sekitar satu tahun yang lalu. Saat untuk pertama kalinya ada seseorang yang sadar bahwa dirinya adalah tangan kidal tanpa ia beritahu.
Orang yang dimaksud ialah Fuji Syuko. Si jenius. Gadis manis yang akhir-akhir ini muncul di benaknya setiap waktu.
Tok tok tok.
"Kunimitsu?"
Suara sang ibu terdengar sebelum pintu kamarnya terbuka. Tezuka Ayana tersenyum di ambang pintu. Kedua alis Tezuka mengernyit. Senyum Ayana terlihat tidak biasa.
"Ada apa, Okaasan?" tanya Tezuka tanpa beranjak dari kursi belajarnya.
"Ada gadis cantik ingin bertemu denganmu di teras," jawab Ayana dengan ekspresi bahagia.
Rasa kaget terlihat jelas di wajah tampan Tezuka. Tanpa bertanya lebih lanjut, ia bangkit dari kursi lalu berlari melewati Ayana yang sudah memberi jalan lebih dulu sebelum ditabrak oleh anak tunggalnya itu. Samar-samar Tezuka bisa mendengar suara tawa pelan sang ibu bersamaan dengan suara gaduh pijakan kakinya menuruni anak tangga.
Dari dasar anak tangga, sosok gadis dimaksud Ayana sudah terlihat. Gadis itu tersenyum lebar sambil memperlihatkan sekantong plastik di tangannya. Tezuka tak bisa berkata apa-apa selain menatap takjub pada sang tamu.
"Fuji-san..." gumamnya pelan. Perlahan Tezuka berjalan mendekati tamu tak diundang itu yang ternyata adalah Fuji Syuko. Kakinya berhenti tepat di ambang pintu.
Fuji terkekeh pelan. "Kichatta."
Kawaii... Tezuka berusaha untuk tidak merona walau gagal.
"Sesuai janji, aku mampir membawa oleh-oleh dari Chiba!" serunya sambil menunjukkan kantong besar berisi beberapa kotak di dalamnya. Fuji tersenyum lebar dan menunggu pemilik rumah untuk menerima oleh-oleh yang ia bawa.
Tezuka menghela napas, namun ekspresinya melembut. "Kau tidak lelah?" tanyanya seraya menerima kantong besar tersebut.
"Rasa lelahku hilang setelah melihatmu," jawab Fuji spontan.
Bola mata hazel Tezuka sedikit melebar karena kaget. Ia menutupi hidung dan bibir dengan tangan kiri. Pandangannya beralih asalkan tidak memandangi Fuji. Laki-laki itu merasa wajahnya berubah panas layaknya sedang terkena demam.
Malu. Salah tingkah. Tezuka sangat paham apa yang terjadi padanya. Tapi kenapa efeknya sebesar ini? Padahal hanya satu kalimat spontan dari seorang teman sekelas. Dari seorang Fuji Syuko.
...atau memang karena dari Fuji?
Masih dengan menutupi sebagian wajah, Tezuka melirik pada sang tamu. Reaksi Fuji pun tidak jauh berbeda darinya. Gadis itu juga terlihat salah tingkah dan berusaha menyembunyikan wajahnya yang memerah dengan menundukkan kepala, walau sia-sia.
"Ehem! Kenapa tidak diajak masuk, Kunimitsu?"
Momen canggung itu diakhiri secara paksa oleh kehadiran Nyonya Tezuka.
Dalam hati Tezuka merasa lega. Ia tak bisa mencairkan suasana canggung tersebut sendiri. Apa yang dilakukan Fuji juga sepertinya tidak akan membantu, justru malah akan semakin canggung pikirnya. Setelah berdeham, Tezuka berhasil mengeluarkan suaranya yang terdengar datar seperti biasa.
"Apa kau tidak keberatan untuk makan malam di sini, Fuji-san?" tanya Tezuka sambil berharap ajakannya diterima dengan senang hati.
"Apa... tidak apa-apa?" tanya balik Fuji, terlihat merasa tidak enak karena menjadi pengganggu.
Belum sempat Tezuka menjawab, Ayana sudah memotongnya. "Tidak apa-apa! Jarang sekali kami makan malam dengan teman Kunimitsu. Ayo, ayo!" ucap sang ibu seraya menarik lengan Fuji untuk ikut bersamanya ke ruang makan.
Ekspresi Fuji terlihat senang. Ia tersenyum pada Tezuka sebelum menghilang di balik dinding ruang makan. Kemudian terdengar seruan wanita cantik itu memperkenalkan Fuji sebagai teman Tezuka pada suami dan ayah mertuanya, Tezuka Kuniharu dan Tezuka Kunikazu.
"Kunimitsu! Tutup pintunya dan cepat ke sini!" suruh Ayana.
Tezuka geleng-geleng kepala melihat tingkah hiperaktif ibunya.
Pintu rumah kediaman Tezuka pun tertutup rapat. Di malam itu, rumah Tezuka menjadi lebih ramai dari biasanya. Hanya dengan kedatangan satu tamu. Fuji Syuko.
To Be Continued
Akhirnya bisa update juga... Saya sudah mulai sibuk kuliah, makanya gak bisa update serajin awal-awal. :') Sebenarnya beberapa hari yang lalu mau saya update, pas baru ngerjain 85%, laptop gak bisa nyala. Saya panik karena belum sempet di backup. Terus untungnya laptop bisa nyala lagi dan viola! Saya bisa update hari ini. :')
Soal Saeki, kayaknya juga gak kaget ya karena mereka teman sejak masa kecil. Wajar kalau ada rasa cinta di sana. Sayangnya Fuji terlalu dense... Angst-nya gak kerasa, I knew... Tapi momen TezuFujinya gak masalah, kan!? TAT Apa kurang sweet? Progresnya juga lamban, I knew... Bakal boring kayaknya... #pundung
Demo, ganbaru!
Thank you for your time to read this fanfic agaaaain! XD Miko-san mo, arigatou for your review! #bow :') Sudah dilanjut yaaaa XD
Soal Pantai Onjuku, ini asli ada di Distrik Isumi, Chiba, Jepang. Saya gak tau Rokkaku aslinya di mana selain Chiba. Iseng saya cari refrensi dan dapat kota Onjuku ini. Maaf kalau salah, saya hanya mengandalkan internet. :') #bow Dan dengan ini, chapter Summer Rain selesai! YEAY!
Chapter depan, Comforting. Kayaknya bakal lebih singkat dan gak ada part-partnya. Tapi Chapter selanjutnya: Seishun Bunkasai yang dibagi jadi lebih dari 3 part. I hope you could wait patiently... #bow
Oke, ja!
CHAU!
