Title: Without word

Cast: Kyuhyun, Changmin, cast lain menyusul seiring cerita berjalan

Desclaimer: Semua cast milik Tuhan YME, but this story is mine

Genre: Brothership, friendship, family, no-romance

Rating: Fiction T

Warning: Just fanfic, don't like don't read, typos, OOC, masih author baru, alur membosankan, cerita pasaran

Summary: -

Happy reading

Puput257™

"Tuhan, bisakah Engkau memberi kepastian tentang hidupku?"

Chapter 9

Kyuhyun terusik dari tidurnya saat merasakan sebuah tangan melingkari perutnya. Ia tersentak lalu membuka kedua maniknya. Sumpah serapah sudah ia siapkan pada seseorang yang tidak lain tidak bukan adalah Changmin.

Kyuhyun sudah bersiap melontarkan kalimat-kalimat yang memenuhi otaknya. Namun gumaman dari Changmin yang masih nyenyak tertidur sambil memeluknya, membuat Kyuhyun mengurungkan niatnya.

"Kyu...mmm...mianhae...nyam nyamm...hmm... mashitta." Igauan Changmin membuat namja bersurai ikal itu melupakan rasa kesalnya. Ia justru tersenyum tipis setelahnya.

Kyuhyun melepas pelukan Changmin. Ia beranjak dari ranjang sepelan mungkin. Berharap Changmin tidak terusik akibat gerakannya. Kyuhyun melirik jam di kamarnya. Pukul 3 sore. Ia melangkahkan kaki jenjangnya menuju kamar mandi.

.

Changmin membuka matanya saat mendengar suara air dari kamar mandi. Ia menengok ke samping, kosong. Berarti Kyuhyun sedang di kamar mandi. Ia mengucek kedua matanya lalu menguap.

Changmin masih enggan untuk bangun. Ia masih berbaring sambil memandang langit-langit kamar Kyuhyun. Pikirannya justru melayang entah kemana.

Suara pintu yang dibuka menyadarkan Changmin dari lamunan. Dilihatnya Kyuhyun yang keluar dari kamar mandi. Sahabatnya itu hanya memakai celana boxer dan kaos putih pendek serta handuk yang bertengger manis di kepalanya. Kyuhyun nampak belum tahu jika Changmin sudah terbangun.

"Kenapa kau tidak membangunkanku?" Tanya Changmin saat melihat Kyuhyun berjalan menuju lemari pakaian. Kyuhyun nampak sedikit terkejut, ia berhenti sejenak. Sedetik kemudian ia kembali berjalan menuju lemari pakaian lalu lekas memilih pakaian yang akan ia kenakan.

"Tidak kubangunkan pun kau tetap akan bangun dengan sendirinya." Jawab Kyuhyun acuh, menimbulkan decakan dari mulut Changmin.

"Aish... Jawablah dengan sedikit berperasaan."

Kyuhyun hanya tersenyum tipis di sela kegiatannya memakai baju.

"Kau menginap dimana?"

Kyuhyun duduk di kursi samping meja kerjanya-setelah selesai berpakaian.

"Di apartment Eunhyuk hyung. Wae?" Jawab Changnin. Namja itu merubah posisinya menjadi duduk di atas kasur.

Kyuhyun berpikir sejenak. "Tidak apa-apa. Hanya saja, kenapa tidak di rumahmu yang dulu? Bukankah rumahmu itu masih di rawat dengan baik?"

"Aniyo, disana terlalu sepi. Aku tidak mau sendiri di rumah." Changmin menggelengkan kepalanya pelan membayangkan ia hanya sendiri di rumah.

.

.

.

"Eoh, Kyu... kau sudah bangun?" Ahra sedikit berjengit saat mendapati Kyuhyun duduk di sampingnya. Dongsaengnya itu sedang memainkan ponsel, entah untuk apa.

"Uhm..." balas Kyuhyun. Ia kembali fokus dengan ponsel di tangannya.

Ahra sedikit mengerutkan kening. Apa Kyuhyun tidak menyadari kejadian tadi? Apa Changmin yang terbangun lebih dulu? Atau...memang ide jahilnya gagal?

"Kyunie...apakah... tidak terjadi sesuatu yang... aneh?" Tanya Ahra lagi. Yeoja itu nampak ragu dengan pertanyaannya. Semoga Kyuhyun tidak curiga.

Kyuhyun memutar pandangannya pada Ahra, "Maksud nonna?"

Ahra membuka mulutnya sebentar lalu kembali mangatupkan mulutnya, "Eobseo, lupakan."

Ahra sedikit merengut setelah berhasil menyimpulkan. Ide jahilnya gagal. Hah... ia tidak bisa melihat adiknya yang mencak-mencak atau marah-marah tidak jelas. Padahal Ahra ingin melihat adiknya berteriak-teriak seperti dulu.

Sejak appanya meninggal, Kyuhyun memang berubah drastis. Dongsaengnya itu mencoba bersikap lebih dewasa. Ahra mengerti maksud Kyuhyun. Ahra tahu, Kyuhyun berusaha menjadi sosok namja yang kuat seperti appanya. Walau Kyuhyun tidak mengucapkan secara langsung, namun Ahra dapat memahaminya dari sikap Kyuhyun.

Suara langkah kaki yang mendekat membuat Ahra menolehkan kepalanya. Nampak seorang namja tampan dengan tinggi kelewat batas berjalan ke arahnya.

Changmin yang belum sempat menyapa Ahra pun tersenyum ke arah yeoja itu. Ahra yang melihatnya juga balas tersenyum. Dipeluknya tubuh tinggi Changmin yang sudah lama tidak Ahra jumpai.

"Bagaimana kabarmu?" Tanya Ahra setelah melepas pelukannya.

"Aku baik, nonna. Nonna sendiri bagaimana?"

"Aku juga baik, seperti yang kau lihat sekarang."

Ahra menggiring Changmin duduk di sampingnya-dan Kyuhyun. "Kapan kau tiba?"

"Tadi pagi. Aku langsung menemui Kyuhyun setelah menaruh barangku di apartment Eunhyuk hyung."

Changmin meringis mengatakan hal itu. Ahra hanya menggelengkan kepalanya. Changmin itu sebelas dua belas dengan Kyuhyun, jika sudah punya keinginan, harus segera dipenuhi. Tidak peduli dengan keadaannya sendiri yang entah masih lelah atau apapun.

Kyuhyun yang sejak tadi menjadi pendengar setia obrolan Changmin dan Ahra hanya mendengus. Ia merasa menjadi orang yang paling jahat sekarang. Bukan. Bukan jahat seperti karakter penyihir di cerita dongeng. Ia merasa jahat karena membuat Changmin rela mengorbankan waktu istirahatnya setelah perjalanan panjang dari Jepang hanya untuk menemuinya.

Kyuhyun meletakkan ponselnya. Bosan dengan kegiatannya sekarang. Ahra dan Changmin masih membicarakan hal yang menurut Kyuhyun tidak penting. Kyuhyun memutar pandangannya lagi. Dimana eommanya?

"Eomma dimana, nonna?" Kyuhyun bertanya tiba-tiba, membuat Ahra dan Changmin menghentikan obrolannya. Sejak keluar dari kamar, Kyuhyun tidak menemui keberadaan eommanya.

"Uhm, eomma." Ahra tampak masih berpikir. "Omo?! Aku lupa." Sedetik kemudian yeoja itu memekik tiba-tiba. Changmin dan Kyuhyun tersentak karena suara Ahra.

"Aigo, noona lupa. Tadi eomma pergi ke supermarket naik taksi. Noona harus menjemputnya sekarang. Beruntung kau bertanya tentang eomma, Kyunie. Jika tidak... aigo."

Ahra yang sedang kelabakan, menjelaskannya sambil melongok mencari kunci mobil. Yeoja itu sampai tidak menyadari kunci mobil yang ada di meja samping Kyuhyun.

"Aish...dimana kuncinya?" Ucapnya sambil mengobrak-abrik laci di samping televisi.

Kyuhyun hanya geleng-geleng kepala. Jika sudah panik memang seperti ini, noonanya akan heboh sendiri.

"Noona, ini kuncinya." Kyuhyun menghentikan kegiatan Ahra dengan memegang tangan noonanya, lalu menyodorkan kunci yang Ahra cari.

"Eoh, terima kasih, Kyunie. Noona pergi dulu. Ugh, terlambat 20 menit." Ahra bergumam tidak jelas sambil melirik jam dinding. Ia berlalu dengan cepat, sudah seperti yeoja yang terlambat datang ke acara pernikahannya sendiri. Padahal hanya terlambat menjemput eommanya, tapi sudah sepanik itu.

"Oh, Kyunie! Tolong rapikan lacinya juga!" Teriak Ahra dari luar pintu.

Kyuhyun menggelengkan kepala-lagi.

"Apa selalu sepanik itu?" Changmin angkat bicara. Ia hanya melongo sejak Ahra berubah menjadi sepanik tadi. Seingatnya, dulu Ahra yeoja yang kalem dan tenang menghadapi segala sesuatu.

"Sejak eomma pernah dijambret dan hampir tertabrak motor, noona jadi se protektif itu pada eomma. Ia langsung panik saat lupa menjemput eomma atau apapun yang berhubungan dengan eomma."

Kyuhyun kembali duduk di samping Changmin setelah selesai merapikan laci yang diobrak-abrik oleh Ahra.

"Yah.. walau sebenarnya eomma bisa menjaga diri sendiri. Noona terlalu takut terjadi hal yang sama pada eomma." Lanjut Kyuhyun lagi. Changmin terdiam. Ia belum tahu soal ini.

"Ahra noona sangat menyayangi ahjumma." Changmin tersenyum mengatakannya. Ia memandang poto keluarga Cho yang terpampang di antara ruang tengah dan ruang tamu.

Kyuhyun mengikuti arah pandang Changmin. "Pasti. Hanya eomma yang noona dan aku miliki sekarang ini. Walau noona sudah punya namjachingu, tapi ia selalu menomorsatukan keluarga. Terutama eomma."

Changmin mengangguk membenarkan, "Memang benar. Mau sesibuk apapun dengan kekasih atau pekerjaan, tetap saja. Pada akhirnya keluarga yang menjadi nomor satu."

"Dulu aku selalu protes pada appa yang jarang pulang. Namun sekarang aku mengerti rasanya bekerja keras demi keluarga. Inilah yang appa lakukan dulu demi kami. Dan saat teringat kerja kerasnya, aku merasa merindukan dan membutuhkan appa." Senyumnya berganti dengan gurat kepedihan. Ada saatnya ia berubah menjadi Kyuhyun yang dulu, Kyuhyun yang membutuhkan Tuan Cho.

Changmin merangkul bahu Kyuhyun. Terbesit rasa menyesal karena mengungkit tentang mendiang Tuan Cho lagi.

"Maafkan aku yang membuatmu bersedih. Kau menjadi teringat mendiang appamu."

"Gwenchana, bukan salahmu. Aku saja yang terlalu merindukannya." Ucap Kyuhyun dengan senyum yang kembali terlukis di bibirnya.

"Kau pulang ke Seoul untuk selamanya kan."

Ini bukan pertanyaan, namun sebuah pernyataan yang terlontar dari Kyuhyun. Changmin menahan napasnya sejenak lalu menghembuskannya pelan. Tangannya beralih menggaruk leher yang sama sekali tidak gatal.

"A-aku... tidak bisa memberi kepastian. Appa yang mengatur rencana kepulanganku ke Seoul tahun ini. Untuk seterusnya... aku tidak tahu."

Changmin terdengar frustasi mengatakannya. Kalau boleh jujur, kepulangannya ke Seoul sangat mendadak. Seminggu lalu setelah selesai dengan proyek terbarunya, Tuan Shim menyuruh Changmin pulang ke Seoul.

Hell, ia bahkan hanya bisa melongo sampai hampir meneteskan air liur akibat terlalu lama membuka mulutnya. Beruntung Tuan Shim cepat menyadarkannya.

Setelah tersadar dari kegiatan melongo nya, Changmin bahkan langsung berteriak seperti tarzan. Tidak sampai disitu, ia juga memeluk Tuan Shim dengan erat. Satu keberuntungan lagi, Tuan Shim memberitahu Changmin saat di rumah, bukan di kantor. Bisa dibayangkan bagaimana kelakuan Changmin jika itu terjadi di kantor. Imagenya sebagai putra Direktur perusahaan yang cool bisa luntur seketika.

Namun kesenangan Changmin langsung lenyap setelah sang appa mengatakan, "Kau harus siap jika sewaktu-waktu appa menyuruhmu kembali ke Jepang."

Sungguh, Changmin ingin menggigit ayam yang sedang di masak eommanya saat itu. Ia pikir, ia akan pulang ke Seoul selamanya. Tapi apa boleh buat. Changmin bersyukur, setidaknya ia bisa kembali pulang ke Seoul. Yah, walau hanya sementara.

"Baiklah, aku mengerti." Jawab Kyuhyun lesu. Entah lah, hari ini perasaannya berubah-ubah dengan cepat. Ia sedikit kecewa. Ingat, hanya sedikit saja. Kyuhyun pikir kepulangan Changmin akan selamanya, namun harus bagaimana lagi. Changmin kembali ke Seoul saja, Kyuhyun sudah bersyukur.

"Uhm... Kyu-ah. Bagaimana kabar yang lain. Apa kau masih bertemu dengan yang lain?" Changmin mencari topik lain.

Kyuhyun menyandarkan badannya pada sofa. "Setahuku, mereka baik. Seharusnya kau tahu itu."

"Ya, mereka selalu memberi kabar. Lalu...?"

"Seperti yang kau tahu, hanya Hyuk... uhm Hyukjae yang masih sering kutemui. Donghae hyung, ia pindah ke Busan karena pekerjaannya. Aku terakhir bertemu dengannya awal bulan lalu. Sungmin hyung dan Siwon hyung, mereka sangat beruntung bisa bekerja di perusahaan yang sama." Kyuhyun menarik napas sebentar.

"Dan di luar negeri tentunya," tambah Kyuhyun lagi. Changmin hanya mengangguk saja.

"Yunho hyung, ia bahkan terus berpindah pindah setiap tahun. Sebagai prajurit, itu memang resikonya." Kyuhyun menjadi teringat saat Yunho pamit padanya. Ah, saat itu sangat menyedihkan.

"Apakah kau merindukan mereka?"

PLETAKK

"Auch... kenapa kau menjitakku?!" Ia bersungut. Apa yang salah dengan pertanyaan yang dilontarkannya pada Kyuhyun?

"Pabbo! Tanyakan itu pada dirimu sendiri." Jawab Kyuhyun. Harusnya Changmin mengerti tanpa harus bertanya padanya. Jelas. Kyuhyun merindukan mereka. Sahabatnya.

Changmin mendengus, "Okay, aku mengerti. Aku, kau, kita merindukan mereka." Ia menghela nafas sebentar. "Hhah... padahal aku berharap bisa bertemu mereka. Lima tahun terasa sangat lama."

Kyuhyun tidak menjawab. Ia memejamkan kedua matanya. Changmin ikut bersandar pada sofa yang mereka duduki.

Sekian lama mereka terdiam. Sampai suara Changmin memecah keheningan.

"Kyu-ah..."

"Hmm," gumam Kyuhyun.

"Aku ingin bicara sesuatu padamu." Nada bicaranya terdengar serius, membuat Kyuhyun membuka kedua matanya.

"Wae?"

"Aku..."

"Wae? Ada apa?"

"Aku..."

"Ne?"

"A-aku... aku lapar."

DOENGG

Kyuhyun kira, Changmin akan bicara hal yang sangat penting. Suaranya tadi benar-benar meyakinkan. Dan ternyata, itu hal yang penting bagi Changmin.

Kyuhyun menghela napas. Satu lagi yang harus Kyuhyun ingat. Makanan itu segalanya untuk Changmin. Kekasih sejati Changmin-sama seperti Kyuhyun dengan PSP. Dan satu lagi, mereka memang melewatkan makan siang hari ini.

Kyuhyun menarik Changmin menuju dapur. Semoga saja masih ada sisa... oh ini terlalu berlebihan. Maksud Kyuhyun, semoga masih ada makanan di dapur. Dan mereka beruntung, masih terdapat makanan-yang sepertinya belum tersentuh.

"Baiklah, kurasa kita hanya perlu memanaskannya saja." Kata Changmin dibalas anggukkan oleh Kyuhyun.

.

.

.

"Ah... kenyangnya. Masakan eommamu memang benar-benar enak, Kyu-ah." Seru Changmin sembari menepuk perutnya yang kenyang. Sudah lama ia tidak merasakan masakan Nyonya Cho. Yah, selama 5 tahun terakhir ini tepatnya.

Kyuhyun hanya melirik pada Changmin. Sedikit heran, bagaimana spesies manusia-seperti Changmin-bisa menghabiskan makanan sebanyak itu dalam waktu yang cepat-menurut Kyuhyun. Ia bahkan baru selesai dengan sepiring makanannya. Lalu Changmin? Ugh, beruntung Kyuhyun tidak melihat cara Changmin makan tadi. Lihat saja, Changmin melibas 5 piring sekaligus.

Astaga! Ia lupa. Changmin memang spesies manusia yang makan banyak-sangat banyak. Tapi Kyuhyun tidak habis pikir. Kemana semua makanan yang di makan Changmin selama ini? Changmin bahkan masih terlihat kurus-walau dengan otot yang terbentuk di tubuhnya.

Mungkin saja semua makanan itu habis untuk pertumbuhan ke atas Changmin. Itu yang Kyuhyun pikir saat masih di tingkat akhir dulu. Eh, tapi sekarang Changmin sudah tidak dalam masa pertumbuhan, bukan? Lalu... ah sudahlah.

Kyuhyun beranjak merapikan meja makan. Membawa semua piring kotor ke tempat cucian piring. Changmin yang melihatnya ikut beranjak.

"Biar kubantu," ucapnya sambil mengambil piring di tangan Kyuhyun dengan paksa. Membuat Kyuhyun hampir melempar piring di tangannya ke arah Changmin.

Kyuhyun mendesis jengkel. "Yak! Shim Changmin, jangan mengagetkanku." Dibalas dengan ringisan oleh Changmin.

Kyuhyun hanya bisa mendesah panjang kemudian mendekat ke arah Changmin. Di dorongnya tubuh Changmin yang bersiap menyingsingkan lengan baju. Membuat si empunya hampir menabrak rak di sampingnya.

"Sana, biar aku yang mencuci. Kau yang meletakkannya pada rak saja." Tanpa menunggu persetujuan Changmin, Kyuhyun menggulung kaos lengan panjangnya dan memulai pekerjaannya. Changmin menurut, walau dalam hati ia merasa jengkel. Kyuhyun memang selalu semena-mena terhadapnya. Yah, walau harus Changmin akui, terkadang ia juga melakukan hal yang sama pada Kyuhyun. Satu sama, seperti itu kira-kira.

"Kyu-ah..." bisik Changmin, ia menanti Kyuhyun yang masih membilas piring-piring itu.

"Hm. Ada apa?" Jawab Kyuhyun yang masih sibuk dengan kegiatannya.

"Lima tahun lalu..." Kyuhyun menghentikan kegiatannya. Ia melirik Changmin yang menumpukan badan nya pada dinding sambil memandang langit-langit dapur. Entah apa yang Changmin lihat.

"Waktu persahabatan kita..."

"Merenggang?" tukas Kyuhyun. Changmin melebarkan matanya. Lalu beralih menatap Kyuhyun.

"Jadi kau... k-kau juga merasakannya?" tanya Changmin. Padahal Changmin pikir, hanya dirinya saja yang merasakan hal itu.

Kyuhyun mematikan kran air. Changmin mengangkat sebelah alisnya, padahal piring-piring itu belum selesai di bilas. "Kau pikir aku bodoh sampai tidak menyadarinya? Apa ada dua orang sahabat yang sudah lengket seperti permen karet, tiba-tiba berubah menjadi dua orang yang seolah tidak saling kenal?" Kyuhyun terkekeh saat mengatakannya.

"Lalu... apa kau sadar penyebabnya?"

Kyuhyun mengangkat bahunya, "Entahlah. Kupikir kau terganggu dengan aku yang di sampingmu. Jadi, aku memilih menjauh."

Changmin yang mendengarnya menatap tidak percaya ke arah Kyuhyun. Sejak kapan ia terganggu oleh Kyuhyun? Ia bahkan terlalu membutuhkan Kyuhyun saat itu.

"Kenapa kau berpikir seperti itu? Aku bahkan sempat berpikir yang tidak-tidak saat itu." Ucap Changmin dengan nada bicara yang sedikit meninggi. Ia tidak tahu, tiba-tiba emosinya naik.

Kyuhyun yang mendengarnya hanya mendelik ke arah Changmin. "Apa maksudmu dengan 'yang tidak-tidak', eoh? Kau kenal aku. Aku akan menjauh jika orang yang di dekatku merasa terganggu. Apa aku salah?" Nada bicaranya juga ikut meninggi.

Changmin mengusap wajahnya kasar. "Kenapa saat itu kau tidak datang?" tanya Changmin tanpa menjawab pertanyaan Kyuhyun. Ia mulai bisa mengontrol emosi.

Kyuhyun mengerutkan dahi, "Maksudmu? Kapan aku tidak datang?" Okay, mereka lebih suka menjawab pertanyaan dengan pertanyaan sepertinya.

Kyuhyun berpikir keras. Ia bahkan selalu pergi bersama Changmin walau di luar jam sekolah. Well, kecuali 3 bulan... ah mungkin hampir 4 bulan, saat mereka sedikit merenggang.

"Saat itu..."

Flshback

Changmin menaiki motornya. Hari ini Changmin akan menemui Kyuhyun di tempat biasa. Setelah hampir sebulan tidak bertemu Kyuhyun karena liburan-di Jepang, akhirnya Changmin bisa menemui sahabatnya itu. Kenapa tidak langsung ke rumah Kyuhyun?

Kyuhyun bilang, ia tidak di rumah. Jadi, ia akan langsung ke tempat biasa setelah pulang dari urusannya.

Changmin memarkirkan motornya di pinggir jalan. Padang rumput. Hah, sepertinya sudah lama sekali ia tidak kesini.

Changmin melirik arlojinya, sudah jam 3 lebih 15. Kyuhyun bilang akan tiba jam 3, tapi dimana ia? Changmin merogoh sakunya. Pabbo! Ponselnya tertinggal di meja. Ia terpaksa menunggu tanpa tahu kabar dari Kyuhyun.

Sedangkan di lain pihak, Kyuhyun baru keluar dari rumah Yonna-teman Ahra. Tadi, Ahra memintanya mengantarkan berkas-yang Kyuhyun tidak tahu tentang apa-ke rumah Yonna, karena noonanya itu harus pergi luar kota. Kyuhyun sudah menolak, tapi melihat wajah Ahra yang seperti akan menangis itu membuatnya terpaksa meng-iyakan.

Kyuhyun memacu motornya dengan kecepatan sedang. Argh, ia sudah terlambat. Pasti Changmin sudah menunggunya.

"Oh, heck! Lampu merah." Umpat Kyuhyun saat berhenti di lampu merah. Beruntung jalanan Seoul hari ini lengang. Mungkin sebagian penduduk Seoul sedang di luar kota-karena ini masih hari libur panjang.

Kyuhyun memacu motor dengan kecepatan penuh setelah lampu hijau menyala. Semoga ia tidak terlambat.

Changmin melirik arlojinya lagi. Sudah hampir satu jam, dan Kyuhyun belum datang. Ayolah, dimana bocah pucat itu?

Ia terus menunggu sampai malam menjelang, namun Kyuhyun tidak datang.

"Kyu-ah... kenapa kau tidak datang? Apakah karena aku hanyalah sahabatmu jadi kau tidak menganggap ini hal penting?"

Changmin terpaksa pulang dengan rasa kecewa yang menggerogoti jiwanya. Apa Kyuhyun melupakannya? Apa selama sebulan ini Kyuhyun melupakannya?

Di taman kota-dekat Seoul High School, terlihat seorang namja yang masih duduk di kursi taman. Kyuhyun, ia masih menunggu Changmin. Sudah berulang kali Kyuhyun menelpon Changmin tapi tidak diangkat. Waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam dan ia masih duduk sendiri disana.

"Aish, jangan-jangan Changmin hanya melucu." Keluhnya sambil mengacak rambut.

"Brrr.." ia bergidik. Hei! Ini peralihan musim panas ke musim gugur. Kenapa terasa sangat dingin? Apa memang tubuhnya yang sedang tidak fit ini kembali berontak?

Kyuhyun memilih pulang. Sepertinya Changmin memang tidak sungguh-sungguh menemuinya. Lebih baik ia tanyakan saat mereka sudah masuk sekolah saja. Secara, mereka jarang berkomunikasi lewat telpon. Bukan apa-apa, mereka terlalu sering bertemu. Jadi, terkadang ponsel bukan barang yang mereka perlukan.

Kyuhyun beranjak dari kursi tanpa menyadari nyawa keduanya-inhaler-masih tergeletak di kursi.

Flashback end

Changmin memandang Kyuhyun dengan pandangan sedikit...tajam. "Apa yang akan kau katakan?" Ucapnya setelah mengingatkan Kyuhyun tentang hari itu. Ia juga tidak tahu kenapa pembicaraannya dengan Kyuhyun bisa seserius dan setegang ini.

"Dimana kau menunggu?" Tanya Kyuhyun. Lagi-lagi mereka menjawab pertanyaan dengan pertanyaan. Nada bicaranya juga tidak kalah serius.

Changmin mendengus, "Tentu saja di tempat biasa. Padang rumput."

Kyuhyun menjentikkan jari. Ekspresinya tidak tegang seperti tadi. "Itu kesalahan kita. Aku datang. Sungguh. Tapi aku menunggu di tempat biasa kita yang lain. Taman."

Changmin membuka mulutnya. "Lalu tidak menghubungiku setelahnya?"

"Hei, Tuan Shim. Aku bahkan menelponmu berulang kali tapi kau tidak mengangkatnya." Keluh Kyuhyun. Suasana sedikit mencair.

"Aku tahu bagian itu. Tapi setelahnya?"

"Hahh, kau... apa kau bodoh? Kita bahkan jarang berkomunikasi lewat telpon karena lebih sering bertemu secara langsung."

Changmin mengatupkan mulutnya. Itu memang benar.

"Sekarang aku ganti bertanya. Kenapa kau bersikap seperti 'terganggu' jika ada aku? Aku bahkan selalu mengekorimu saat di sekolah, tapi kau menghindar dariku." Kyuhyun bertanya dengan nada yang kembali serius. Entahlah, ia merasa kembali ke masa lima tahun lalu.

Changmin mengangkat wajahnya, "Aku pikir kau melupakanku. Jadi, aku melakukannya agar kau sadar. Walau akhirnya kau justru diam dan menjauh. Tapi sungguh, aku kecewa padamu waktu itu." Nada bicaranya berubah merendah. Ada rasa menyesal, frustasi, dan kecewa di dalamnya.

Kyuhyun menghela napas. Sekali lagi ia ingatkan, Changmin terlalu sensitif masalah persahabatan.

"Maafkan aku, harusnya aku bertanya soal tempat biasa yang mana. Dan harusnya aku tidak menjauh darimu." Jawab Kyuhyun tulus, ia menunduk. Mereka tidak menyadari sejak kapan mereka sudah duduk di kursi makan seperti sekarang.

Jika saja tidak dalam suasana yang seperti ini, mungkin Changmin akan mengejek Kyuhyun. Jarang-jarang Changmin mendengar Kyuhyun bicara setulus itu.

Changmin menggeleng, "Aniyo, ini bukan sepenuhnya salahmu. Aku juga terlalu egois tanpa berpikir bagaimana perasaanmu. Maafkan aku."

Jujur, Changmin juga merasa bersalah. Ia juga terlalu bodoh berpikir yang tidak-tidak soal Kyuhyun.

"Intinya, kita hanya salah paham."

"Benar," jawab Changmin mengangguki ucapan Kyuhyun.

"Jadi..." ucap Kyuhyun lagi dengan jeda yang panjang. Changmin menarik napas. Mereka saling beradu pandang, seolah sedang berbicara lewat tatapan mata.

"Kita sama-sama pabbo!" seru keduanya berbarengan. Entah, bagaimana mereka bisa mengatakannya secara bersama. Mereka bahkan hanya saling memandang. Ataukah ikatan persahabatan yang menghubungkan pikiran kedua namja itu?

Kurang dari tiga detik, terdengar tawa yang meledak dari kedua namja itu.

"Hahaha... jadi saat itu kita berjauhan karena hal yang sepele? Aigo... Hahaha," Changmin memegangi perutnya yang terasa keram akibat terlalu banyak tertawa. Ia juga tidak habis pikir, bagaimana ia dan Kyuhyun bisa sebodoh itu?

Kyuhyun masih tertawa dengan kedua mata yang tertutup, terlalu lucu baginya. "Aigo... benar-benar bodoh. Hahaha..." kata Kyuhyun dengan tawa yang masih menghiasi bibirnya.

"Kita benar-benar bodoh, bukan?" Tanya Changmin pada Kyuhyun yang masih tertawa.

Kyuhyun menghentikan tawanya tiba-tiba, "Aku tarik ucapanku." Katanya dengan nada serius.

"Haha... kenapa wajahmu seperti itu, eoh?" Tanya Changmin masih dengan suara tawa darinya. Kyuhyun tetap memasang ekspresi serius-dan dingin.

Melihat ekspresi Kyuhyun yang seperti itu, membuat Changmin menghentikan tawanya. "Apa maksudmu?"

"Untuk perkataanku soal 'kita yang bodoh' tadi, aku tidak setuju. Cukup kau yang bodoh, tidak denganku." Jawab Kyuhyun lalu kembali meneruskan kegiatan mencuci piring yang sempat tertunda tadi.

Changmin hanya memandang Kyuhyun yang beranjak dari kursi. Jika dalam komik, mungkin di atas kepala Changmin akan muncul tanda tanya yang besar.

1 detik

2 detik

3 detik

"Yak! Kyuhyun-ah, kau tega sekali mengaitaiku!" Teriak Changmin setelah tersadar, hanya di balas dengan seringai oleh Kyuhyun.

.

.

.

Eunhyuk melirik arloji. Pukul 5 lebih. Tapi, kenapa bocah tiang itu belum menghubunginya?

Eunhyuk masuk ke mobil. Ia baru keluar dari rumah orang tuanya. Sejak mulai bekerja, Eunhyuk memang memilih tinggal di apartment pribadi. Selain lebih dekat dengan tempat kerja, ia juga belajar hidup mandiri sejak saat itu.

Di urungkannya niat untuk menyalakan mesin mobil. Ia mengeluarkan ponsel, mencari nama Changmin pada daftar kontak. Lebih baik menelpon Changmin terlebih dulu.

Terdengar nada tunggu di seberang panggilan.

"Yeoboseyo, hyung." Changmin menjawab panggilannya.

"Yeoboseyo, Min. Kau dimana?"

"Aku di rumah Kyuhyun. Wae?"

"Kau jadi menginap di tempatku, bukan?"

"Tentu, hyung. Jemput aku di rumah Kyu-ah."

"Hei, see-..."

Tut tut tut

"Aish... dasar tidak sopan." Gerutunya setelah mendengar panggilannya terputus. Ia melemparkan ponsel pada jok di sampingnya.

Ia menghela napas. Terbiasa dengan Kyuhyun yang selalu seenaknya sendiri membuat Eunhyuk tidak kaget mendapat perlakuan seperti tadi. Yah, walau terkadang itu membuatnya jengkel.

Jika dipikir-pikir lagi, Kyuhyun dan Changmin memang punya banyak kesamaan. Hampir semua yang Kyuhyun suka, Changmin juga suka.

Senyum tipis terulas di bibir namja yang sempat menggerutu itu. Bicara soal Changmin, ia jadi ingat waktu namja kelewat tinggi itu memberi kabar jika ia akan kembali ke Seoul. Dan juga Changmin yang memaksa untuk menumpang di tempatnya.

Sedikit kesal karena Changmin punya rumah yang besar tapi tidak mau pulang ke sana. Changmin bilang ia tidak mau tinggal sendiri di rumah sebesar itu. Dan setelah Eunhyuk menyetujuinya, ia sampai harus menutup telinga saat Changmin berteriak senang di ujung telepon.

Eunhyuk bahkan tersenyum lebar saat ini. Ia kembali teringat sahabatnya. Setelah lulus kuliah, sebagian dari mereka memilih berpisah. Bahkan Yunho langsung masuk ke pelatihan militer setelah lulus di tingkat akhir.

Rindu? Tentu saja, ia bahkan menghabiskan sebagian besar masa-masa di tingkat akhir bersama sahabatnya. Tapi apa mau dikata, mereka punya hidup sendiri sekarang.

Eunhyuk menyalakan mesin kemudian melajukan mobilnya ke rumah Kyuhyun.

.

.

.

"Siapa?" Tanya Kyuhyun saat melihat Changmin menuruni tangga. Mereka sedang berbincang soal kejadian yang-menurut Kyuhyun hanya Changmin yang bodoh-tadi, saat ponsel Changmin-yang ada di kamar Kyuhyun-berbunyi.

"Eunhyuk hyung," jawabnya singkat lalu menghampiri Kyuhyun yang sibuk dengan kekasihnya-PSP.

"Oh," respon Kyuhyun tanpa mengalihkan pandangannya dari benda persegi itu.

"Tadi pagi aku menelponmu tapi tidak tersambung." Ucap Kyuhyun pada Changmin.

Changmin terlihar berpikir, "Mungkin aku masih di pesawat. Jam berapa kau menelpon?"

"Sekitar setengah sembilan," jawab Kyuhyun. Changmin manggut-manggut, "Aku masih di pesawat."

Changmin mengulurkan tangannya. "Pinjam," Kyuhyun menggerakkan tangannya ke kanan. Menghindari Changmin yang akan mengambil PSP dari sisi kiri.

"Aniyo," tambahnya masih fokus pada layar PSP.

Changmin menekuk wajahnya, "Kau bahkan sudah 22 tahun dan masih bermain PSP?" Keluhnya dengan nada sedikit menyindir. Ia masih berdiri sambil melipat kedua tangan di depan dada.

Kyuhyun hanya mengangkat bahunya acuh. Pasti Changmin akan bicara panjang setelahnya.

"Lalu kenapa?" Tanya Kyuhyun. Changmin memilih duduk di samping kiri Kyuhyun, sedikit mengintip layar PSP di depan Kyuhyun.

"Tidak adakah kegiatan yang lain selain itu? Berkencan dengan yeoja misalnya. Kau sudah 22 tahun, Kyu-ah." Kyuhyun mendengus. Eomma dan noona bahkan tidak pernah memaksanya berkencan.

"Lalu kau sendiri? Apa kau sudah punya kekasih? Ku pikir kau hanya berkencan dengan makanan." Kyuhyun mempause gamenya sejenak, menunggu jawaban dari Changmin.

Senyum lebar tercetak di wajah Changmin, membuat Kyuhyun bergidik. "Aku tidak perlu kekasih sekarang. Bukankah aku memilikimu sekarang, Kyu-ah?"

Hell, jawaban Changmin membuat Kyuhyun merinding. Nada bicaranya terdengar seperti seorang psikopat yang sering ia lihat di film.

"Aish... Mulutmu harus di saring, Chwang." Kyuhyun bergidik.

"Kenapa, Kyu-ah? Aku sudah memilikimu, bukan?" Oh, bahkan wajah Changmin bernar-benar terlihat seperti psikopat. Kyuhyun kembali bergidik, sedikit jijik dengan perkataan Changmin.

"Kau terlihat seperti orang gila sekarang." Kyuhyun beringsut ke ujung sofa bagian kanan saat Changmin semakin menempel padanya.

"Benarkah?" Tanya Changmin dengan wajah yang... mesum.

"Yak! Shim Changmin, hentikan leluconmu!" Kyuhyun menonyor kepala Changmin menjauhi wajahnya.

"Ppffftt... hahaha... wajahmu sangat lucu." Changmin tertawa melihat Kyuhyun. Sahabatnya itu terlihat jijik dan ketakutan di saat yang sama. Changmin tidak tahu, tiba-tiba ia ingin menjahili Kyuhyun saja. Mungkin balasan untuk kejadian tadi.

"Pppfffttt...hahaha."

"Hentikan tawamu, Chwang! Itu menjijikkan," kata Kyuhyun. Ia tahu jika Changmin sedang menjahilinya. Tapi tetap saja, ekspresi dan perkataan Changmin membuatnya jijik.

"Hahaha..."

Ting tong

Kyuhyun yang kesal memilih meninggalkan Changmin yang sibuk tertawa. Melihat siapa yang datang saat jam seperti ini.

CKLEEKK

"Oh, Hyuk," seru Kyuhyun saat melihat Eunhyuk di depan pintu.

"Boleh aku masuk? Bocah kelebihan kalsium itu menyuruhku menjemputnya." Katanya dengan nada yang kesal namun wajahnya mengukir senyum.

"Uhm...masuklah. Dia di ruang tamu ."

Eunhyuk yang sudah terbiasa keluar masuk rumah Kyuhyun pun langsung menuju ruang tamu.

Changmin melihat Eunhyuk yang berjalan ke arahnya. "Hyu-..."

PLETAKK

"Ouch,... ssshhh. Kenapa menjitakku?" Keluh Changmin saat Eunhyuk tiba-tiba menjitak kepalanya. Ia baru akan menyapa sahabatnya itu, dan kenapa Eunhyuk menjitaknya? Sudah dua kali ia mendapat jitakkan hari ini.

"Kau sangat tidak sopan padaku. Sudah menumpang, menyuruh-nyuruhku pula. Kau pikir aku pembantumu, eoh?"

Changmin meringis, "Hehe... mianhae, hyung." Ia memeluk Eunhyuk yang lebih pendek darinya.

"Aish..." dan Eunhyuk akan selalu luluh pada Changmin. "Arra...arra. Sudah, lepaskan." Changmin melepas pelukannya.

Kyuhyun memperhatikan keduanya dengan senyum tipis. Mereka memang sahabat. Namun anehnya, jika mereka berkumpul bersama, pasti akan ada keributan kecil. Kyuhyun tanpa sadar tertawa sendiri. Membuat kedua orang tadi serempak menoleh pada Kyuhyun.

"Kyu, kau sehat?" Tanya Eunhyuk. Kyuhyun yang sadar ia tertawa sendiri hanya melirik Eunhyuk.

"Eung..." ia kehilangan kata-kata.

.

.

.

Changmin melongokkan kepalanya keluar jendela, "Kapan kita bisa bertemu lagi?"

"Kau bisa kesini setiap hari. Setelah aku selesai mengajar."

"Baiklah, sampai jumpa. Sampaikan salamku pada ahjumma dan noona."

"Kami pulang, Kyu."

"Ya, nanti kusampaikan. Hati-hati."

Mobil Eunhyuk melewati pagar rumahnya. Kyuhyun berjalan masuk ke rumah. Namun ia urungkan saat melihat mobil Ahra datang.

"Eomma dan noona darimana? Kenapa lama sekali?" Tanya Kyuhyun saat melihat Nyonya Cho dan Ahra keluar dari mobil.

Kyuhyun menghampiri mereka yang terlihat kesusahan membawa belanjaan.

"Gomawo," ucap Nyonya Cho. "Tadi eomma dan Ahra sekalian mengunjungi teman di rumah sakit." imbuhnya lagi.

Kyuhyun menganggukkan kepalanya. Mereka bertiga memasuki rumah. Kyuhyun berjalan di tengah dengan Ahra dan Nyonya Cho disampingnya.

"Dimana Changmin?" Ahra melongok ke kanan kiri saat tak menemui keberadaan Changmin.

"Baru saja ia pulang. Bersama Hyukjae."

"Changmin akan tinggal di tempat Hyukjae?" tanya Nyonya Cho

"Ne, eomma."

"Kenapa tidak tinggal di rumahnya dulu?"

"Dia tak mau tinggal di rumah sebesar itu sendirian."

Ketiga manusia itu meletakkan belanjaan di meja dapur.

"Eomma pikir, Changmin menginap disini. Aish... padahal eomma sudah belanja sebanyak ini." Wajah cantik yang sudah tidak muda lagi itu sedikit kecewa.

Kyuhun mengelus bahu sang eomma, "Tidak apa, eomma. Besok ia juga akan kesini lagi."

.

"Bagaiamana tadi?" Tanya Eunhyuk. Mereka masih dalam perjalanan pulang ke apartement Eunhyuk.

Changmin berdehem sebentar, "Baik," jawab Changmin singkat.

"Baik? Lalu?" Eunhyuk memincingkan matanya. Sesekali ia menoleh pada Changmin karena ia juga harus fokus menyetir.

Changmin sedikit berpikir saat menjawab, "Ku pikir semua masalah sudah selesai dengannya."

Eunhyuk menangkap keraguan pada kalimat Changmin, "Kau yakin?"

Changmin yang menyadarinya mengatur napas. Ayolah, ia dan Kyuhyun sudah benar-benar 'kosong-kosong' sekarang ini. Ia tidak perlu ragu. "Aku yakin." Jawab Changmin tanpa ragu.

"Bagus. Lain kali kalian jangan melakukan itu lagi. Kalian bahkan butuh 5 tahun untuk meluruskan semuanya." Eunhyuk menepuk bahu Changmin dengan tangan kiri.

Changmin berandai-andai, "Ya. Jika saja aku tidak pindah, mungkin masalahnya tidak akan selama ini, hyung."

Ya, Changmin memang sedikit menyesalinya. Andai saja ia bisa mengundur 1 atau 2 bulan, mungkin masalah tadi sudah selesai sejak 5 tahun lalu. Tapi, sudahlah. Yang terpenting ia dan Kyuhyun memang sudah jelas satu sama lain.

"Jangan menyesalinya. Itu pelajaran untuk kalian, selesaikan masalah secepatnya. Jangan menunda-nunda." Eunhyuk sudah terdengar seperti appanya. Changmin memutar bola matanya malas. Walau ada benarnya juga sebenarnya.

"Aku... ah ani. Kami tidak akan membantu kalian jika hal seperti ini terjadi lagi." Ancam Eunhyuk dengan wajah serius. Namun sedetik kemudian ia mengulas senyum.

Eunhyuk memang sudah menceritakan semua pada Changmin. Kyuhyun juga sudah mengetahui tentang misi rahasia Eunhyuk untuk mengembalikan persahabatan Kyuhyun dan Changmin dulu.

Changmin juga menyunggingkan senyum, "Arraseo. Aku mengerti."

"Bisakah kita terus bersama?"

TBC

Huahhh... Author comeback again*ditimpuk readers. Gimana? Ada yg kangen gak? Ini seminggu lebih awal dari perkiraan loh. Mianhae, jeongmal mianhae buat semua kalo chapter ini jelek T_T Agak susah ngembaliin mood abis ujian.

Buat yg setia jadi reades trus masih setia review, gomawoyo. Author cuma bisa ngucapin terima kasih aja.

Mmm kalau gak meleset, chapter depan udah end*krik

Sekali lagi, jeongmal gomawo*bungkuk90°

Pai-pai. See u next chapter*bow

Balesan review

Guest chapter 8 . Nov 29

Gak sakit kok, cuma kecapean aja. 5 tahun memang bukan waktu yg sebentar, jadi memang banyak yg berubah. Gomawo reviewnya

lia chapter 8 . Nov 27

Gomawo udah review

lydiasimatupang2301 chapter 8 . Nov 26

Bhakks, samaan kita chingu. Syukur ini udah selesai, trus lumayan lah kaga ada yg remidial :3. Ini udah usaha buat update cepet lo. Gomawo

EkaOkta3424 chapter 8 . Nov 26

Ya, tapi cuma dalem bayangan aja, kenyataannya gak. Kkk chingu suka couple ini? Kalau author sebenarnya gak terlalu nge shipperin ini couple. Cuma suka aja interaksi dua sahabat ini di dunia nyata. Gomawo

Awaelfkyu13 chapter 8 . Nov 25

Belum, tunggu aja end nya. Mungkin gak selamanya, seperti chapter ini. Dia pulang ke Seoul juga karena appanya, jadi kalo sewaktu-waktu disuruh pulang juga harus siap. Kyuhyun? Tenang, dia baik-baik aja kok*lirik Kyu. Gomawo

Wonhaesung Love chapter 8 . Nov 25

Makasih doanya. Ujiannya author bisa lancar berkat doa dari chingu. Gomawo

pcyckh chapter 8 . Nov 25

Iya. Cie kita samaan. Gak beneran, ini belum ada 3 minggu udah update. Gomawo

little Dark Wolf 99 chapter 8 . Nov 25

Oh, pantes ada yg aneh pas baca. Maafin author yg bikin nangis chingu. Kkkk pinginnya dibuat gitu, tapi nanti gak sesuai alur yg author buat. Jadi.. ya seperti itulah. Gomawo reviewnya

angel sparkyu chapter 8 . Nov 25

Wkkk semua mikirnya si Kyu bakalan nendang Chabgnin, ya? Kyu juga punya sisi malaikat loh. Gak tega lah ngeliat sahabatnya kek gitu. Gomawo

Anna505 chapter 8 . Nov 25

Ne, gomawo buat doa sama reviewnya. Ujiannya lancar kok

Nanakyu chapter 8 . Nov 25

You're welcome. Author juga suka liat mereka berdua, kek ada manis-manisnya gitu*krik. Niatnya mau 3 minggu, eh gak tega ternyata. Gomawo

mifta cinya chapter 8 . Nov 25

Ne, jail nya emang keturunan*digaplok appa sama eomma Cho. Hmm, author juga suka pas itu, jadi punya delusi yg tinggi tentang Kyu yg jadi guru. Gomawo reviewnya

melani. chapter 8 . Nov 25

Kkkk gak jadi 3 minggu, tenang aja. Author gak tega selama itu. Gomawo

kyuli 99 chapter 8 . Nov 25

Kkkk, tapi author bukan pelwak loh. Cie ada yg sama lagi. Eh, emang chingu line berapa kok panggil author 'eonni'? Author line 99*gak ada yg tanya.

Beruntunglah chingu yg udah bisa nonton konser. Author mah cuma fangirls layar kaca -_- *menyedihkan. Gomawo udah review

meimeimayra chapter 8 . Nov 25

Yak, kek nya greget tapi... ya sudahlah. Gak sakit, cuma kecapean aja jadi agak pucet. Gomawo udah review