Seorang pria berambut kelam keriting di depan pintu menurunkan pandangannya saat pintu terbuka dan seorang anak berumur 9 tahun membukanya. Bibirnya yang tersembunyi di balik lebatnya kumis dan jenggot tampak berkedut kecil. Elliot menatapnya dengan malu-malu, belum terbiasa dengan keberadaan pria itu. Mereka jarang bertemu dan Elliot yang pemalu selalu membutuhkan waktu untuk merasa familiar dengannya. Pieta Blanchett sedikit menundukkan badan dan mengacak-acak puncak kepala anak itu.
"Kukira kau sudah melupakanku," dengan penuh canda pria itu melanjutkan, "apa kau tahu aku siapa?"
Elliot melirik dari celah-celah bulu matanya sembari mengetuk-ngetuk jari-jari kaki kanannya ke lantai di belakang kaki kirinya. Dengan suara mencicit ia berkata dengan tidak yakin, "Papa...?"
Pieta Blanchett pun tersenyum, sorot matanya hangat penuh rasa sayang.
"Benar, my dearest Elly."
'Elly, Elly...'
Seseorang pernah memanggilnya begitu.
Elliot mendongak, terkejut dan penuh harapan.
Benar. Benar. Pria ini adalah—
.
.
A fading kitten
Rozen91
Harry Potter © J. K. Rowling
the kitten's unknown feeling
.
.
Di dalam hati Draco Malfoy telah tersimpan suatu piala berisi tulah untuk Elliot Nightingale yang dengan seenaknya menyuruh Hermione berpisah darinya. Biarpun menyandang status sebagai sepupunya, tetap saja dia tidak punya hak untuk mencampuri urusan Hermione sampai ke akar-akarnya, sampai ke masalah yang lebih privat sekalipun. Draco menganggap hal itu sangat menjengkelkan dan tidak bisa dibiarkan.
Perasaan yang ia punya saat itu hanyalah kemarahan dan rasa dingin yang membekukan hati. Iba dan rasa tertarik pada sosok Elliot telah hilang dan ia lihat di matanya hanyalah serangga pengganggu yang harus dibasmi.
Oleh karena itu, tidak ada yang bisa menyalahkan sikap dinginnya ketika remaja itu mencengkeram ujung kemejanya dan memelas histeris padanya. Draco seolah mengatakan bahwa ia sudah muak dengan sikapnya yang seakan selalu meminta belaas kasih semua orang, terutama Hermione. Dan, heh, apa kau yakin sikapnya itu bukan akting? pikir Draco kejam.
Dengan garis mencela di bibirnya ia mendorong Elliot ke lantai.
Sepasang permata hazel yang basah terlihat syok.
"Pertanyaanmu sangat lucu, Nightingale," ucapnya datar, "bukankah seharusnya kau menanyakan hal itu pada dirimu? Kaulah yang berniat merebut Hermione dariku di sini. Jika sesuatu terjadi pada hubungan kami, maka kaulah penyebabnya." Ia menyakukan kedua tangannya, memandang Elliot dengan dagu terangkat tinggi. "Kami saling mencintai dan jika perpisahan itu benar-benar terjadi dari sisi Hermione, Elliot Nightingale," Draco mendesis, "aku tidak akan melepaskanmu. Aku akan mencarimu biarpun kau lari sampai ke ujung dunia sekalipun, lalu kuhancurkan kau sampai tak bersisa."
Draco merasa puas dengan peringatannya. Apalagi dengan keterkejutan yang tampak di wajah Nightingale yang perlahan berubah menjadi kemarahan.
"Aku tidak takut padamu!" balas Elliot sengit.
Draco tergelak. Lalu ia berbalik dan melirik Elliot dari balik bahunya. Tersenyum mengejek. "Coba saja."
Elliot Nightingale apakah kau mencintai Hermione? Oh, jenggot Merlin, menyerah saja. Karena Draco dan Hermione sudah saling mencintai dan mereka tidak memerlukan orang ketiga sepertimu.
"Draco Malfoy!" Elliot berseru dengan wajah sembab yang terlipat geram dan marah, "kau harus berpisah dari Hermione! Kau harus melepaskannya! !"
Sekali lagi sebuah tawa terdengar. Draco menoleh dan meliriknya dari sudut mata. Penuh dengan olokan. "Tidak akan." Lalu sosoknya hilang di penghujung jalan.
Elliot merasakan tetesan air mata yang baru di pipinya. Kedua matanya yang masih merah itu tampak sangat putus asa dan tidak tidak tahu berbuat apa. Ia lantas mencengkeram kepalanya sendiri seraya bersujud ke lantai batu.
Meraung.
xxxx
Matanya merah, dia habis menangis. Ronald Weasley berjongkok dengan tangan di belakang, terulur dan bersiap menerima. Harry mengangguk, membenarkan. Ia sendiri berusaha mengangkat tubuh Elliot dari lantai, mencoba memindahkannya ke punggung Ron.
Mereka tidak tahu apa yang terjadi. Seharusnya Elliot sedang berada di kelas tambahannya, namun McGonagall yang tak sengaja melihat mereka yang sedang terbang dari jendela, mencegat dan menanyakan perihal anak itu. Mereka berpikir Hermione sudah mengantar Elliot. Atau Elliot kabur dari kelasnya? tanya Harry, tak sengaja menyuarakan isi pikirannya.
Ron membelalak, menatanya dengan mata terbuka lebar. Kau serius? Darimana dia belajar bolos?
Harry menepuk jidat. Ron, berhenti memperlakukan Elliot seperti anak kecil.
Oh, ucap Ron, terkadang aku lupa kalau dia bukan anak-anak.
Ah.
Di suatu sore, setelah terbaring tak sadarkan diri selama hampir 3 jam di lantai batu yang dingin, Harry dan Ron berhasil menemukannya dan membawanya kembali ke asrama Gryffindor. Tubuhnya sangat dingin dan matanya bengkak dan berwarna merah, tertidur pasti karena kecapaian setelah menangis. Harry dan Ron tidak tahu apa penyebabnya. Mungkin Hermione tahu sesuatu? Mereka memutuskan untuk mengantar Elliot ke kamarnya dulu—menyelimutinya dengan hangat di tempat tidur setelah itu pergi menemui Hermione.
Akan tetapi, sangat membingungkan.
Hermione ada di kamarnya tapi ia tidak mau keluar menemui kedua sahabatnya.
Apa sudah terjadi sesuatu?
Mereka ingin tahu dan mencari solusi. Yang hanya bisa mereka dapatkan dari Elliot ketika sudah bangun nanti.
Sejujurnya, kedua sepupu itu telah membuat Harry dan Ron sangat khawatir. Kedua orang itu tidak turun untuk makan malam.
Tok. Tok.
"'Mione? Kau ada di dalam?"
Yang membuka pintu adalah Ginny yang hendak turun untuk makan malam. Ia buru-buru menutup pintu sebelum Harry sempat melihat ke dalam. Ron menatap gadis itu tidak setuju.
"Dia sedang tidur. Sebelum tertidur, dia bilang tidak ingin ikut makan malam. Sudah kenyang, katanya."
Harry dan Ron saling pandang. Well, kalau begitu, mereka harus mengajak Elliot.
"Elliot," bisik Harry lembut pada buntalan selimut yang hanya memperlihatkan punggung pada mereka berdua, "apa kau tidak lapar?
Tidak ada jawaban.
"Kau makan sangat sedikit saat makan siang, lalu tertidur di koridor. Di sana dingin sekali tahu!" kata Ron sembari duduk di tepi ranjangnya. "Elliot?"
Hening sejenak.
Tiba-tiba seseorang yang bersembunyi di dalam kukungan selimutnya itu berkata,
"Aku ingin pulang."
Jiwa yang masih kanak-kanak menginginkan demikian.
Tapi hal itu tidak mungkin terjadi, Elliot.
Namun, keberuntungan berpihak padamu ketika Harry dan Ron menganggap sikapmu yang sulit dan merajuk itu sebagai gejala homesick. Dan mungkin juga kau dan Hermione bertengkar karena masalah itu—mengingat bagaimana sifatmu dan sifat Hermione yang sama-sama keras kepala. Untung saja mereka berpikir begitu.
Dengan demikian, rahasia tetap terjaga dan masalah pun berhasil diatasi.
xxxx
2 hari telah berlalu dan tidak ada tanda-tanda bahwa Hermione Granger dan sepupunya, Elliot Nightingale, telah berbaikan. Entah bagaimana, mungkin karena mereka saling menghindari—atau hanya Hermione sendiri yang begitu karena Elliot selalu bersungut-sungut sembari mengedarkan pandangan, mencarinya.
Konfrontasi dengan Elliot membuat Hermione sangat kebingungan tentang cara untuk menghadapi kelanjutannya. Hermione sadar betul kalau watak Elliot yang keras kepala dan kekanak-kanakan sangat susah untuk ditaklukkan—kecuali gadis itu menuruti permintaannya. Tingkah lakunya yang gelisah dan tidak fokus itu lama-kelamaan akhirnya menarik perhatian Draco Malfoy.
Dan, Hermione, tidak perhatian terhadap suasana hati Draco selama 2 hari belakangan ini adalah suatu kesalahan besar. Sorot matanya membeku sementara ekspresi wajahnya sedingin suhu di luar kastil. Ketika sinar matanya semakin menggelap maka itulah pertanda badai akan datang.
Hermione yang sibuk dengan pikirannya sendiri tidak hampir tidak menyadari bahwa kelas pilihan telah selesai. Ia bergegas mengemasi barang-barangnya. Waktu itu hujan salju telah turun dna hinggap di bingkai jendela yang tertutup. Kelas telah kosong dan Hermione masih memasukkan perkamen dan bukunya ke dalam tas.
Tiba-tiba seseorang memegang tangannya. Hermione memekik kaget, lantas menjatuhkan satu perkamennya yang langsung terguling dari meja ke lantai.
Sepasang manik hazel gadis itu bisa melihat badai yang berkecamuk di raut wajah albino Draco Malfoy. "Draco, lepaskan tanganku."
"Apa yang kau pikirkan?" tanya Draco dengan nada setenang air. Hermione menatapnya awas. Pemuda itu melanjutkan, "Aku mendengarnya, lho."
Hermione memucat. "Men...mendengar apa?"
Draco tidak menjawabnya. Senyum yang terulas bibirnya tampak tipis dan tenang, namun yang menghantarkannya adalah wajah yang dingin—sama sekali tidak membuat hati siapapun tenang. Ia berkata, "Setelah kau pergi, dia melampiaskan amarahnya padaku. Oh, Hermione sayang, Elliot menyuruhku untuk melepaskanmu."
"Draco..." Sang gadis Gryffindor setengah meringis.
"Sangat kurang ajar, bukan? Dia pasti sangat menyukaimu hingga berani berkata begitu padaku, kekasihmu!" Suaranya meninggi bersamaan dengan dua bola mata kelabu melotot. "Hermione," Draco mendesis, menghentakkan tangan gadis itu mendekat, "apa kau selama ini tengah mempertimbangkan ucapan Nightingale sialan itu?"
"Draco!" Hermione menelan ludah, merintih, "kau menyakitiku!"
Cengkeraman pemuda itu lantas mengerat. "Aku tidak akan membiarkannya merebutmu dariku."
Cukup sudah.
PLAK!
Dada Hermione naik turun. Hidungnya kembang-kempis. Sorot matanya keras dan kesal. "Apa kau sudah sadar? Lepaskan tanganku."
Draco meliriknya, lalu pandangan jatuh pada tangan yang ia pegang. Ah. Gelang berwarna merah kini mewarnai kulit pergelangan tangan Hermione. Seolah terkena bara api, ia sontak melepaskan tangannya.
Iris hazel menatapnya tidak senang. "Kau tak perlu merasa khawatir aku akan pergi darimu. Aku tahu apa yang harus dilakukan. Kita perlu membuat Elliot mengerti dirimu, dan mengerti bahwa kita saling mencintai. Draco, jika Elliot mengenal sisi baikmu, hatinya yang keras pasti akan luluh. Karena itulah, kalau kita berusaha dia akan menerimamu dan hubungan ini. Aku yakin hal yang sama akan bisa dilakukan pada Ron dan Harry."
"Kalau tidak! ?" serang Draco, "Bagaimana kalau mereka berkata tidak? Hermione, Jangan naif. Mereka pasti ingin menjauhkanku 100 km darimu setelah kau beritahu hubungan kita."
"Draco," gadis di depannya menoleh, memandangnya lekat-lekat, "percaya padaku."
Adu tatapan berlangsung tidak sampai 30 detik. Sorot mata Draco Malfoy perlahan melunak, kemudian pemuda itu menghela nafas. Ia menutup wajah dengan kedua telapak tangannya. Gestur yang timbul karena rasa malu dan bersalah. "Apakah tanganmu sakit? Maafkan aku, sepertinya iblis baru saja merasukiku."
Hermione mengernyitkan alis, memandangnya iba namun tidak berniat menghiburnya. Ia menundukkan wajah sembari mengelus pergelangan tangannya. Mereka tenggelam dalam keheningan untuk waktu yang lama.
Ketegangan ini. Emosi Draco yang meledak. Semua terjadi karena Elliot yang dengan seenaknya mencampuri urusan Hermione. Tetapi Hermione sudah terlanjur sayang untuk bersikap marah pada Elliot.
Karenanya, masalah ini harus segera diatasi sebelum pihak-pihak yang lebih keras terlibat. Hermione belum mau berurusan dengan kemarahan Harry dan Ron.
Demikianlah kesimpulan yang pasangan itu dapatkan. Dengan niat berusaha merubah hati Elliot, mereka sepakat untuk melakukan pembicaraan serius di antara mereka bertiga. Hermione, Draco, dan Elliot.
xxxx
Mungkin Elliot sudah mengira-ngira bahwa Hermione dan Draco akan datang menghampirinya. Entah berdiskusi, negosiasi, atau melaksanakan rencana drastis untuk menutup mulutnya.
Di tempat pertemuan yang telah dijanjikan, pemuda berambut coklat itu menoleh dan menatap. Sorot matanya tajam dan penuh tekad.
Apapun itu yang ingin Hermione bicarakan, tidak ada yang pernah mendengar permulaannya ketika Elliot memutuskan untuk memecahkan sunyi lebih dulu. Rupanya dia sendiri sudah punya kata-kata yang tak bisa ditahan lama di mulutnya.
"Hermione, aku menyimpan perasaan padamu." Elliot tersenyum, memandang gadis itu dengan penuh rasa sayang. "Cinta."
Hermione berjengit, sementara Draco terlihat gusar. Hendak menyatakan cinta di depan kekasihnya sendiri, eh? Berani sekali.
"Draco Malfoy," iris hazel beralih, membalas tatapan dingin seseorang yang berdiri di dekat pintu, "aku juga punya perasaan terhadapmu."
Tatapan matanya menyorot tajam. Ia mendesis, "Kebencian."
"Aku sudah memperingatkanmu, anak sialan," geram Draco, mendekat dengan postur tegang yang membuatnya terlihat seperti banteng. "Berani-beraninya—"
"Draco, berhenti!" tuntut Hermione, berusaha menahannya. Akan tetapi, kejengkelan Draco pasti sudah naik ke ubun-ubun sampai ia baru menyadari Hermione tengah menarik-narik bajunya ketika ia sudah dekat dengan remaja yang baginya sangat tidak tahu malu itu.
Elliot tampak tidak mau kalah. Ia membusungkan dadanya, menantang Draco. Hal itu justru semakin memancing emosi pangeran Slytherin di depannya.
"Kau tidak pantas bersama Hermione," katanya kasar, "kau hanya akan menyakitinya saja!"
Pergelangan tangan yang memerah terlintas di pikirannya. Draco langsung naik pitam. Emosi yang tak terkendali keluar begitu saja. Draco tidak bisa menahan diri.
Horor adalah apa yang tergambar di wajah Elliot Nightingale. Pemandangan singkat yang tertangkap oleh kesadarannya itu membuat Draco merasa seolah jantungnya merosot. Tinjunya sebenarnya sudah melayang namun ia dengan susah payah, menggeretakkan gigi, bermanuver ke samping hingga tinjunya menabrak tembok.
"Draco!"
Pemuda itu terengah-engah, mencoba mengatur kembali nafasnya. Waktu itu, ia melirik remaja yang sudah ia anggap sebagai serangga pengganggu. Mendadak sesuatu yang berwarna hitam seolah bergumul di dalam hatinya, membuatnya tidak enak badan dan ingin muntah.
Karena Elliot menatapnya seperti melihat monster mengerikan di hadapannya.
Hal itu...entah kenapa terasa sangat tidak nyaman.
'Kenapa?' batin Draco, 'Elliot, kenapa kau menatapku seolah aku baru saja... mengkhianatimu?'
Tepat setelah pertanyaan itu melewati proses di otaknya, mendadak darah teruras habis dari wajahnya. Kini Draco Malfoy tampak pucat dari biasanya. 'Apa?' tanyanya, memaksa otaknya untuk berpikir keras, 'apa yang dipercayakan Elliot padaku! ? Kepercayaan apa yang kukhianati! ?'
Elliot tidak memberikannya waktu untuk berpikir. Wajahnya saat itu memerah, marah dan kesal. Tapi, ada satu lagi perasaan yang lebih besar daripada dua tadi. Itu...apa?
"Kau mau memukulku, hah!? Akhirnya kau perlihatkan juga isi hatimu yang sebenarnya! Aku sudah menduga hal ini akan terjadi!" Elliot menjerit, menatapnya dengan sorot mata terluka, dua alis coklat melengkung ke atas, "Seperti halnya aku yang membencimu! Kau pun juga, sebenarnya, sangat membenciku, 'kan! ?"
Elliot...Elliot...
jangan menangis...
"Tapi aku lebih membencimu lagi! !"
Seolah ingin membuktikan sesuatu ia meneriakkan kalimat itu sekuat tenaga.
Ingin membuktikan...bahwa...Elliot tidak terpengaruh biarpun Draco membencinya setengah mati.
Tidak akan terpengaruh.
Sama sekali tidak masalah!
Ketika itu, untuk pertama kalinya ia memperlihatkan sosok kekanak-kanakannya yang terlihat sangat manja. Ia tidak menutup muka ataupun menyembunyikan air mata. Elliot hanya bisa memejamkan matanya dan membiarkan cairan hangat itu mengalir sementara mulutnya terbuka lebar, memperdengarkan suara kepedihannya.
Mungkin pemandangan itu sangat aneh bagi dua orang selain dirinya di sana.
Mereka hanya bisa terpaku dan menatap.
Tak berdaya.
Ketika kesadaran itu datang seperti sambaran petir, Hermione bergerak cepat untuk memeluk Elliot. Mencoba menenangkannya. Menghiburnya. Oh, Elliot! pekik Hermione yang juga mulai merasa sedih. Ia melingkarkan tangannya di punggung remaja itu. Elliot terisak, menangis tersedu-sedu. Ketika ketegangan meninggalkan otot-ototnya, Hermione menuntunnya untuk merendah di lantai. Ujung-ujungnya Elliot membenamkan wajahnya di pangkuan Hermione, terisak-isak tanpa mampu bisa menghentikannya. Tangannya meremas kain seragam di pinggang sepupunya. Mencengkeram. Tak mampu bertahan dengan kesedihan yang sangat menyakitkan.
Sesuatu yang telah lama ditahan di dalam hati.
Draco...masih berdiri di tempatnya. Hanya bisa mengulurkan tangan. Ia menahan diri untuk tidak bergerak dan melakukan apa yang dilakukan Hermione pada Elliot.
Pada anak itu.
Ada yang berdiam di ujung lidahnya, namun Draco mengatupkan bibir. Menelannya kembali.
xxxx
Di dalam dinginnya malam, Elliot menyusup ke dalam selimut ibunya yang masih tertidur lelap. Dia tahu bahwa sang ibu sangat kelelahan setelah pulang kerja. Tapi...tapi...
Elliot menitikkan air matanya.
...dia sangat merindukan ibunya.
Sudah lama mereka tidak punya waktu untuk bermain bersama.Seperti dulu.
Dan ketika Elliot kecil memejamkan mata, samar-samar ia mengingat kehangatan, kelembutan dua tangan besar yang mengangkatnya tinggi-tinggi ke udara. Seseorang yang tertawa dan memanggil namanya.
'Elly, Elly...'
Mama, dimanakah orang itu berada sekarang?
Elliot sangat ingin bertemu dengannya.
.
.
.
"Albus."
"Oh," Dumbledore mengintip dari balik kaca matanya, "Severus?"
Severus Snape berjalan mendekat hingga ia berdiri di depan meja sang kepala sekolah. Raut wajahnya yang selalu tampak merengut itu kini makin terlihat jelas dan dalam. Cahaya lampu pijar mengenai sisi wajahnya. Sang Phoenix yang bertengger memandang sosoknya tanpa berkedip.
"Aku ingin membicarakan tentang Elliot Nightingale. Minerva mungkin tidak mau mengakuinya, tapi aku merasa ada yang aneh. Albus, apa kau tidak merasakannya?"
Albus hanya diam menatap. Severus memperlihatkan rasa terganggu saat ia mengatakan, "Kadang-kadang aku merasa... Nightingale terlihat seperti... kau tahu." Profesor Ramuan tersebut menyampaikan kalimat lengkapnya hanya lewat tatapan. Dumbledore memejamkan mata, mengehmbuskan nafas.
Jeda sesaat.
Ini adalah hal yang tabu.
Jika membenarkan perasaan Severus Snape maka juga membenarkan fakta bahwa Hogwarts tidak hanya saja kecolongan, namun juga telah dengan tangan terbuka menyambut seorang penyusup ke dalamnya. Hanya karena sebuah surat.
Namun, jika Severus sudah mengatakan hal itu, berarti perasaan ganjil yang dimiliki Dumbledore saat pertama kali bertemu anak itu memang bukan hanya sekedar perasaan semu semata.
"Kenapa, Severus," tanggap Albus Dumbledore, "Aku juga berpikir demikian."
Akan tetapi, mereka harus menunggu sampai sebuah bukti berhasil didapatkan.
Sehingga kecurigaan itu tidak akan berakhir dengan salah paham.
.
.
.
Mama...
Aku...
kenapa hanya aku saja yang—
_bersambung_
lalala yeyeye~
:)
