A/n : Chapter ini tentang Madara alias Miranda bertemu sang mantan. Maaf lama karena laptop rusak.
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Warning : Mature Content, Typo(s), tak suka tak usah baca, male-Konan, fem-Madara, fem-Nagato, and fem-Jiraiya.
[Meet Ex]
Miranda's POV
"Selamat datang." Ucapku saat aku membuka pintu. Dan Obito bukan membalas malah melihatiku dari atas sampai ke bawah.
"Hoi. Apa kita akan pergi sekarang?" tanyaku sambil melambaikan tanganku di depan wajahnya.
Dia sadar dan meminta maaf. Dia menggiringku ke arah mobilnya. Well, mobil itu pemberianku. Dia membukakanku pintu dan aku masuk. Obito masuk dan menghidupkan mobilnya.
Baru beberapa meter berjalan, aku langsung mendapat ide.
"Ne, Obito. Bisakah kau tutup kacanya dan hidupkan AC. Aku panas." Ucapku pada Obito.
Obito menurutiku. Mobil milik Obito ini gelap jika dilihat dari luar sehingga tak akan bisa melihat yang di dalam. Aku membuka jaket sehingga lenganku terekspos semua karena dressku memang tanpa lengan. Aku lipat jaketku dan meletakkannya bersama dompetku di kursi belakang.
"Tolong jangan ngebut ya. Aku takut." Ucapku dengan nada menggoda. Obito memerah padam.
Aku menarik dressku ke sependek mungkin sehingga Obito bisa tahu aku kepanasan. Saking pendeknya sampai-sampai jika kutarik lagi celana dalamku kelihatan.
"Mi-mira. Apa yang kau lakukan?" Obito mulai panik.
"Oh, aku. Aku hanya kepanasan kok. Tidak apa-apa kan. Lagipula aku ini kan ayahmu." Tunjukku pada wajahku dan lalu mengibaskan tangan untuk mengipas wajahku. Obito terdiam dan menatap ke jalan.
Aku menarik tuas di samping kursi sehingga kursiku turun dan aku dalam keadaan setengah berbaring. Aku melirik ke Obito sesekali. Dia nampak terus melihati pahaku dengan tatapan 'lapar'. Tanpa sadar aku semakin mengantuk. Aku langsung bangkit dan merapikan rokku. Kursiku juga sudah kunormalkan.
"Obito, aku ngantuk. Matikan Acnya." Aku mulai suka menyuruh-nyuruh Obito.
Obito kembali menurut dan melakukan perintahku. Aku saat itu menyadari kalau aku belum pernah duduk dengan kaki rapat. Saat harus memakai rok, aku memakai yang panjang agar tidak diintip. Jadi aku tak merasa aneh jika mengangkang. Aku ingat-ingat lagi aku bahkan belum pernah memakai rok pendek. Tapi karena kali ini aku akan ketemu dengan Mikako, aku harus bersikap feminim.
Obito menghentikan mobilnya. Saat kulihat sekitar, kami ada di karnaval. Kok aku tidak tahu ada karnaval.
Obito membukakan pintuku dan mengajakku keluar. Aku memakai jaket dan membawa dompetku. Lalu kami berjalan berdua ke karnaval itu.
Kami berkeliling-keliling. Lalu Obito mengajakku ke sebuah stand. Stand boneka.
"Kau mau yang mana?" tawarnya.
Aku sebenarnya tidak mau sama sekali. Tapi karena melihat ia aku jadi kasihan. Aku lalu memilih boneka rubah berekor sembilan. Dia mengambil sebuah benda bulat dan melemparkannya masuk ke boneka rubah itu. Dan aku pun mendapat sebuah boneka. Setelah itu aku berjalan dengan boneka di pelukanku. Rasanya enak memeluk boneka. Empuk.
Obito membelikanku cemilan, mengajakku masuk ke rumah hantu, naik bianglala, dan hal yang akan dilakukan seorang pemuda untuk membuat pacarnya terkesan di sebuah karnaval. Yah, mau tak mau aku harus menikmati hal ini. Lagipula Obito yang membayar semuanya.
Hampir dua jam setelahnya, Obito mengajakku kembali ke mobil dan berniat membawaku ke rumah. Aku setuju saja.
Kami pun kembali ke mobil.
"Ne, Obito." Panggilku sebelum ia menghidupkan mesin mobil.
Dia menatapku.
"Apa kau pernah mencium seorang perempuan?" tanyaku. Aku dalam hati menyeringai.
Dia memerah dan gugup.
Tanpa basa basi, aku menciumnya dengan cepat. Ia kaget. Tapi setelah itu ia memelukku dan membuat aku semakin rapat dengannya. Kedua tanganku menyentuh dada bidangnya untuk mencegah dadaku menyentuh dadanya.
Lalu saat aku lengah di tengah ciuman kami, lidahnya masuk ke mulutku dan kami saling bertukar saliva di sana. Sampai saat kami membutuhkan nafas, kami melepas ciuman kami.
Aku menyandar di kursiku. Lalu tersenyum ke arahnya. Dia membalas senyumku dan mulai menghidupkan mobil.
Lalu sekitar lima belas menit kemudian kami sampai di rumah.
"Ah. Aku rindu rumah ini." ujarku.
Lalu kami berdua masuk ke dalam rumah.
"Bu, aku pulang." Ujar Obito saat membuka pintu dan masuk ke dalam.
Tak lama seorang wanita paruh baya keluar. Itu dia. Uchiha Mikako. Istri tercintaku.
Aku bisa melihat ekspresi kagetnya saat melihatku.
"Bu, kau masih mengingatnya bukan?" ujar Obito.
"Ah, tentu tidak. Ayo. Aku baru saja membuat makan malam." Balas Mikako dengan keraguan dikata-katanya.
Dia lalu kembali berjalan ke meja makan di ruang makan. Aku rindu ruangan ini.
"Aku ke kamar dulu. Langsung saja ke tempat ibu!" Ujar Obito. Dia bilang begitu seolah aku tak pernah berada di rumah ini.
Aku tentu saja berjalan ke tempat Mikako berada. Dia sedang mencuci bekas dia memasak tadi. Dengan ia membelakangiku, aku dengan perlahan duduk di salah satu kursi di meja makan. Aku duduk sefeminim mungkin dan dengan tempat yang harusnya bisa dilihat dengan jelas olehnya.
"Lama tidak berjumpa ya, Mikako." Ujarku padanya. Aku bisa melihat tubuhnya menunjukkan kekagetan lalu terdiam. Ia menghentikan aksinya.
"Apa kau keberatan jika duduk sebentar saja denganku? Aku hanya ingin melihat wajahmu kembali." Ujarku kembali.
Dengan perlahan ia berbalik dan duduk di kursi di depanku.
"Untuk apa lagi kau memandangi wajahku seperti itu? Kau sudah punya wajah yang lebih cantik sekarang." Ucap Mikako ketus.
Aku tersenyum tipis.
"Entahlah. Tapi saat melihatmu aku hanya bisa tersenyum." Ujarku. Aku memang benar-benar mencitainya sejak dulu. Mendengar itu Mikako merona tipis.
Tak lama suara langkah terdengar oleh kami dan Obito datang. Dia langsung duduk di salah satu kursi dan tersenyum ke arah kami berdua.
"Baiklah, ayo makan. Ayah, ku bisa memimpin doa sekali lagi." Ujar Obito tentunya membuatku kaget. Aku tak menyangka dia akan mengatakan hal seperti itu.
Aku lalu tersenyum padanya.
"Obito, sudah saatnya aku menyerahkan pimpinan rumah ini padamu. Sekarang aku hanyalah seorang tamu. Sebaiknya kau yang pimpin." Balasku. Aku bisa melihat pancaran kaget dan juga bahagia di matanya.
Doa dipimpin olehnya. Dan setelah selesai . . .
"Mari makan." Ujarnya dengan lantang.
Kami pun makan dengan tenang.
Aku yang memang tidak mau terlalu lama di sini meminta Obito mengantarku pulang ke rumah. Supaya aku tidak terlarut kedalam kesenangan ini. Dimana ada kebahagiaan, nantinya ada kesedihan. Aku tak mau itu terjadi. Lagipula hari sudah petang.
"Datanglah kapan saja, Madara." Ujar Mikako.
Aku yang awalnya berniat membuat Mikako cemburu jadi malah ikut bersenang-senang dengannya.
"Miranda. Namaku sekarang Miranda." Balasku dengan senyum tipis pada Mikako.
"Nama yang indah." Ujarnya juga dengan senyum yang sama denganku.
GREB
Dia langsung memelukku erat. Aku membalas pelukannya, karena mau tidak mau, aku harus mengikuti kata hatiku yang masih ingin terus bersama Mikako.
Setelah itu aku masuk ke mobil. Dan kami pun pergi.
Tak jauh dari rumahku yang dulu itu,
"Obito." Panggilku padanya. Sontak saja ia melirik kearahku.
"Bisakah kita pergi ke kedai di dekat pantai. Yang biasa kita kunjungi?" tanyaku pada Obito.
Obito memasang wajah bingung sebelum mengangguk.
Tak lama kami sampai di tempat tujuan. Kedainya tutup. Namun bukan itu yang kucari, melainkan kursi panjang di depan kedai. Tepat menghadap ke laut. Tempat yang sering sekali Madara dan Obito datangi.
Saat Obito keluar dan membukakan pintu untukku, aku langsung menarik tangannya dan berlari pelan ke arah kursi itu. Aku tak peduli jika rokku tersingkap karena angin. Aku hanya ingin kembali ke tempat itu. Kami lalu berdiri di depan kursi itu. Menghadap ke laut.
"Kau masih ingat tempat ini kan?" tanyaku pada Obito.
"Tentu saja. Bagaimana mungkin aku melupakannya. Ini tempat favoritku saat kecil." Balasnya dengan senyum diwajahnya.
Aku langsung duduk di kursi itu. Dikuti olehnya.
"Aku sebenarnya ingin mengajakmu ke sini. Tapi aku sibuk dan baru sempat saat aku telah menjadi seperti ini." ujarku pada Obito. Tak bisa kupungkiri ada nada sedih di dalamnya.
Obito hanya diam. Tak lama keadaan menjadi hening.
Perlahan aku merasakan sebuah tangan melingkar ke bahuku. Tangan itu menarikku ke arahnya. Tentu saja aku tak melawan dan malah menyandarkan kepalaku ke bahunya.
"Obito. Maafkan aku yang sekarang tak bisa menjaga kalian lagi. Berjanjilah padaku kau akan menjaga ibu." Ujarku pelan.
"Ssst. Tak perlu bilang seperti itu. Aku pasti melakukannya. Dan ayah, aku juga minta maaf. Aku hanya ingin kau bahagia." Balas Obito.
"Aku Miranda. Mulai sekarang aku bukan ayahmu lagi. Aku sepupumu." Balasku balik.
Dia mengeratkan tangannya.
"Ya. Aku juga akan melindungimu." Ujar Obito.
Kami duduk di sana cukup lama. Ditambah matahari terbenam yang membuat kami tak ingin beranjak pergi. Duduk berdua seperti sepasang kekasih. Memang aku agak aneh, tapi perasaan hangat nan nyaman di dadaku membuatku bertahan di pelukan Obito.
Tiba-tiba aku teringat sesuatu. Sontak saja aku menegakkan tubuhku.
"Ada apa?" tanya Obito penasaran.
"Aku harus pergi ke restoran dekat kampus kita. Aku ingin melamar kerja disana." Jawabku.
Obito langsung berdiri dan mengulurkan tangannya.
"Apa yang kita tunggu? Ayo." Tentu saja aku membalas uluran tangannya sambil tersenyum. Kami pun kembali ke mobil dan pergi ke tempat yang kusebutkan pada Obito tadi.
Kami langsung bergegas ke restoran itu. Lima belas menit perjanlanan dan kami sampai di sana. Aku menyuruh Obito untuk pulang dulu dan memberitahunya kalau aku pulang bersama temanku. Dia mau tak mau harus setuju. Di sana sudah ada Yuki dan Haruka.
"Mira, kau sudah datang." Ujar Haruka saat ia menyadari kedatanganku.
Sontak saja Haruka dan satu orang pria lain yang lumayan tua dilihat dari rambutnya yang sudah ubanan. Memakai pakaian khas butler. Mereka menghampiriku.
"Kau Uchiha Miranda?" tanya pria itu.
Aku mengangguk.
"Namaku Yoshimura. Aku sudah dengar dirimu dari Haruka dan Yuki. Kau diterima. Ikut aku." Ujarnya. Mulutku ternganga lebar. Sesimpel itukah?
Haruka dan Yuki memberi isyarat agar aku mengikuti pria itu. Tentu saja aku mengikuti pria itu ke suatu ruangan. Ternyata dia membawaku pergi ke ruangan tipikal manager.
"Silahkan duduk." Ujarnya. Aku langsung duduk di kursi di depannya. Dia menanyaiku beberapa pertanyaan. Dan aku pun menjawabnya dengan mudah.
Tentu saja kali ini aku merasa senang. Bukan saja aku mendapat pekerjaan namun baru kali ini sejak aku berubah menjadi perempuan, ada seorang pria yang menatap lurus ke mataku. Bukan ke dada atau pun bagian tubuhku yang lain. Pria tua yang sopan.
Setelah selesai wawancara singkat, aku diberikan satu set seragam. Sebuah kemeja lengan panjang, vest hitam, dasi pita, dan rok hitam pendek. Aku juga diberikannya sebuah berkas.
"Ini seragam dan juga pedoman di cafe ini. Baca dengan baik-baik. Kau boleh pergi." Ucap pria bernama Yoshimura itu. Aku mengangguk pelan.
"Terima kasih." Balasku sambil membungkuk di depannya.
'Hidup baruku yang damai dimulai.'
End of This Story
Gomenne. Lama update. Karena laptop tercinta dan juga internet di rumah ada masalah. Saya nggak bisa nulis nih fic.
RnR please!
