Hinata menghampiri Kurenai dan menyerahkan secarik kertas berisi tulisannya.
"apa ini?" tanya Kurenai.
Hinata mengatakan "ini adalah surat pernyataan refleksi diri yang ku buat" Anak-anak yang akan ke lapangan olahraga terhenti, heran? apa yang dilakukan Hinata.
"Bukankah sensei berjanji seandainya aku menulis surat pernyataan maka sensei akan mengembalikan lagi hak istimewa yang pernah ku peroleh" tanya Hinata menuntut.
Kurenai membenarkan, "jadi sekarang apa yang kau inginkan"
"Aku menyetujui ajuan Transfer keluar negeri." ucap Hinata tanpa ragu.
Seketika itu juga Naruto sangat terkejut.
Bukan hanya Naruto saja yang terkejut, anak-anak lain pun terkejut dengan perubahan sikap Hinata yang tiba-tiba ingin pergi keluar negeri.
"Apa keluar negeri?" Gumam Naruto tak percaya. ia tak tahu mengenai masalah seperti ini. Hinata bahkan tak menceritakannya sama sekali pada dirinya. Atau gadis itu memang sengaja menyembunyikannya.
Warning : GAJE, OOC, TYPO, AU,dll.
Disclaimer :
Naruto © Masashi Kishimoto
Karakter di fic ini bukan milik saya tapi milik hak cipta
Masashi Kimoto
Rated : T
Pairing : NaruHina
Main Chara : Hinata dan Naruto.
Another Chara : Sakura, Sasuke, dan Shion Ect.
Genre : Romance, Hurt/comfort & Friendship
Uzumaki Naruto: 17 tahun.
Hyuuga Hinata: 16 tahun.
Haruno Sakura: 17 tahun.
Uchiha Sasuke: 17 tahun.
Shion : 16 tahun.
Kurenai dan Hinata berada disebuah ruangan bercat putih bersih. Mereka berdua duduk berhadapan, Hinata memusatkan pandangan pada senseinya. Lama, menunggui dan memperhatikan setiap gerak-gerik senseinya yang seakan sedang membaca sebuah surat pernyataan dari dewan perguruan tinggi yang telah ia terima dari seseorang yang penting, sudah lima belas menit berlalu tapi tak membuat gadis didepannya jengah. Kurenai membaca surat pernyataan yang dibuat oleh Hinata dengan teliti dan memeriksa berkas-berkas laporan tentang data diri gadis ini untuk diserahkan kepada dewan sekolah. Setelah merasa sudah lengkap, Kurenai memasukan surat pernyataan itu pada dokumen kesiswaan.
Kurenai beralih menatap muridnya dengan intens, "Apa menurut mu ini sudah menjadi keputusan yang benar? Ku dengar.. Kau sempat menolak tawaran ini dari wakil kepala sekolah. Jadi apa sekarang pikiranmu telah berubah? Kau mulai tertarik dengan tawaran ini.." Muridnya tercenung diam sebelum akhirnya menarik nafas panjang untuk menjawab.
"Bukankah setiap orang menginginkan prestasi yang membanggakan pada dirinya sendiri, lagi pula kesempatan ini hanya akan datang satu kali, jadi aku tak akan membuangnya dengan sia-sia. Aku akan memanfaatkan kesempatan ini dengan sangat baik untuk masa depanku nanti.." Jawab Hinata dengan jelas.
Kurenai mendesah kasar lalu kembali menatap gadis didepannya dengan senyuman yang tak dapat diartikan. "Sebenarnya aku sama sekali tidak terlalu perduli dengan keputusanmu, tapi yang membuatku penasaran kenapa kau berubah pikiran?"
Alis Hinata terangkat, bingung. Kenapa gurunya jadi tertarik dengan pemikirannya sendiri. Apakah aneh jika ia merubah keputusannya untuk menyetujui surat penawaran itu. Bukankah itu adalah sebuah kebanggan terbesar yang dapat diterima dari sang guru karena muridnya telah berhasil.
"Aku rasa tidak ada alasan untukku menolak penawaran ini, lagipula tidak ada ruginya juga jika aku menerima tawaran ini." Jawab Hinata sembari memperlihatkan senyum kecilnya pada Kurenai. "Bisa dibilang juga kalau sekarang aku mempunyai tujuan. Aku ingin masuk ke Universitas bertaraf internasional dan ini kesempatan besar bagiku" Lanjutnya menyakinkan.
"Bagimu, itu akan menjadi tantangan yang bagus. Tapi bagaimana dengan keluarga dan teman-temanmu yang tidak menyetujui atau keberatan dengan keputusanmu? Kau tahu teman-teman pasti akan berfikir kalau kau telah menghianati mereka."
"Itu bukan urusanku." Sahut Hinata dengan nada malas tak peduli.
Sekarang giliran Kurenai yang merasa heran dengan jawaban muridnya ini, "Apa benar teman dan keluargamu itu bukan urusanmu?" Tanya Kurenai mengulangi perkataannya tadi.
"Seperti yang ku harapkan bahwa kau cukup cerdas dalam bersikap. Tapi kalau kau membiarkan teman atau keluarga mengganggumu, kau tak akan bisa mendapatkan yang kau inginkan. Siapkan saja mental mu untuk mendapatkan yang kau inginkan dan akan ada hal yang harus dikorbankan untuk mencapai keinginan mu ini." ujar Kurenai dingin dengan nada sedikit memperingati.
Hinata mengangguk paham, merasa ia akan siap dengan semua nanti.
.
.
~oOoOoOo~
.
.
Anak-anak yang berada di lapangan olahraga heran dengan sikap Hinata yang tiba-tiba berubah. "Apa kau tidak merasa aneh dengan sikapnya tadi?" Ujar Karin yang mulai bergosip ria dengan tiga sekawannya. "Yang mengejutkan lagi ketika gadis itu berkata kalau ia menerima penawaran beasiswa di luar negeri.."
Matsuri mengangguk menyetujui perkataan Karin tadi,"Aku juga terkejut, tapi tidak mengherankan juga kalau ia mendapat beasiswa keluar negeri. kalian tahu sendirikan kalau Hinata itu Pintar bahkan ia sangat cantik. Hanya saja sikapnya yang terlalu dingin dan pendiam membuat para lelaki enggan mendekatinya, apalagi ada Naruto yang selalu disampingnya jadi kesempatan para pria untuk mendekatinya juga semakin kecil. ah.. beruntung sekali dirinya.." Kata Matsuri sembari mengkhayalkan bahwa dirinya lah yang berada di posisi Hinata sekarang.
Tuk!
"Aawww! Sakit Sara-chan.." Ujar Matsuri meringis kesakitan mengelus-elus dahinya yang memerah akibat jitakan Sara.
Karin tertawa melihat reaksi wajah Matsuri yang aneh, "jangan melamun yang aneh-aneh? tidak mungin kau bisa berada di posisinya" Kata Sara seolah-olah membaca pikiran Matsuri sedari tadi.
"Memangnya aku melamun apa!..." Teriak Masturi tak mengaku.
Sara mendesah kasar lalu pandangan terarah pada Sakura dan Ino yang tengah duduk beristirahat disampingnya, "Apa kalian mengetahui sesuatu."
"Tidak?" Jawab Ino menggeleng tak mengerti. Sedangkan Sakura pun menunduk diam.
"Dari awal aku sudah menduga bahwa gadis itu memiliki sifat yang buruk." Ucap Shion semakin memperburuk suasana hati Sakura dan Ino.
"Tapi saat dia menentang nenek sihir, dia terlihat keren sekali." Puji Matsuri sedikit memberi pembelaan pada Hinata.
Sara membenarkan, "Ya, tapi bagaimana dengan Hinata yang saat ini sangat berbeda. Apa mungkin Hinata bertengkar dengan kalian berdua." Tuduh Sara pada ino dan sakura tiba-tiba.
Ino menggeleng "tidak."
"Kami sama sekali tak bertengkar dengan Hinata". Ujar Sakura tentu saja ia tak ingin mengatakan hal sebenarnya tentang insiden kemarin.
"Hinata itu bukan tipe gadis yang suka bertengkar..." bela Sakura lagi. Mereka semua mengangguk membenarkan perkataan Sakura, Hinata memang bukan gadis yang suka bertengkar apalagi sekedar merasa sensi belakang. Yang mereka tahu Hinata adalah gadis yang pintar dan bijak jika sedang menghadapi masalah. Secontoh ketika Sakura sedang menghadapi kesulitan saat ujian tes hari senin waktu itu, hanya Hinata yang berani membelanya seorang diri didepan kelas. Tapi sekarang mungkin sosok teman mereka yang satu ini akan menghilang sebentar lagi... Hanya tinggal menghitung hari saja.
.
.
~oOoOoOo~
.
.
Naruto memandang kosong ke arah lapangan dimana teman-temannya sedang melakukan aktivitas jam pelajaran olahraga. Lalu apa yang sedang ia lakukan disini sendirian, tepatnya di depan ruang kepala sekolah. Menunggu seseorangkah. Hingga membuat wajahnya yang tampan bak karisma pangeran Ace terlihat begitu amburadul. Pikiran dan tubuhnya tak berada ditempat yang sama saat ini.
Membingungkan? Kenapa aku bersikap menyedihkan seperti ini. Bukankah ini adalah kabar gembira, Hinata bisa mendapat beasiswa ke luar negeri. Hanya saja kenapa tubuhku tidak mau mengikuti apa yang ku suruh, tersenyum dan mengucapkan selamat, mengajak adik kecil ku berjalan-jalan selagi ada kesempatan, dan membuat kenangan indah untuk terakhir kalinya. Tapi kami tidak akan terpisah untuk selama-lamanya bukan, Aku masih bisa berkunjung ke sana jika sudah libur sekolah, berkomunikasih jarak jauh, dan saling bertukar hadiah saat hari natal. Benarkan, semua itu masih bisa ku lakukan.
Takut? apa yang aku harus takutkan. Ia akan baik-baik saja. Tapi bagaimana dengan diri ku. Hinata yang selalu bersama ku tiba-tiba menghilang berada ditempat yang jauh. Bagaimana bisa Aku memanggilnya untuk menemani diri ku dikala sedih dan perasaan takut sedang menghantui. Kami tidak akan saling bertemu sesering dulu...
Klek!
Pintu ruangan kepala sekolah terbuka lebar dan menampilkan seorang gadis yang mengucapkan terima kasih kepada sosok lain disana sembari membukukkan badan. Tanpa merasa atau menyadari kehadiran lain di tempat itu, Hinata berjalan pergi tanpa menoleh kebelakang sedikit pun untuk melihat pemuda yang sedari tadi telah setia menunggunya disana. Tapi apalah daya, Naruto sama sekali tidak memperdulikkan hal itu, ia hanya berjalan pelan mengikuti gadis itu dari kejauhan. Jadi apakah sekarang perasaannya yang telah menuntun dirinya untuk mengikuti gadis itu lalu bagaimana dengan Shion. Sebenarnya pemuda itu sama sekali tidak mengerti apa perasaan yang tengah ia rasakan kini. Yang sekarang ia tahu adalah mengikuti kata hatinya walaupun jika nanti ia akan menyesal di kemudian hari nanti. Gadis itu, yang ia pikirkan hanyalah gadis itu...
.
.
~oOoOoOo~
.
.
Kurenai mendudukkan diri di kursi kerjanya. Rasa beban di pundaknya terasa semakin berkurang. Hah... ia memijat pangkal hidungnya sambil sesekali ia melirik pada handphonenya. Apa aku harus mengabarinya lagi? gumamnya dalam hati.
Sebenarnya ada satu rahasia Kurenai yang membuat ia harus bekerja sebagai seorang guru di sekolah ini. Berusaha mati-matian untuk mendapatkan posisi yang cukup menguntungkan baginya. Untuk mendapatkan segala macam info-ino penting tentang putri sahabatnya. Kalau saja ia tidak bersimpatik pada sahabatnya itu, mungkin Sahabatnya kini tak akan pernah bertemu putrinya lagi.
Drt.. drt...
Seakan malas hanya untuk melihat sang penelepon Kurenai langsung mengangkatnya, "Moshi-mosi"
"Moshi-Moshi, Kurenai-Chan bagaimana kabarmu hari ini?" tanya sang penelepon dari seberang sana.
"Hmm.. Baik. Bagaimana dengan keadaanmu sendiri" Tanya balik Kurenai tersenyum simpul.
"Baik.." Jawab sang penelepon.
"..."
"Bagaimana kabarnya?" Tanya sang penelepon lagi.
Kurenai semakin menarik garis lengkungan di bibirnya, "Dia seorang anak yang selalu bersemangat. Kalau kau melihatnya, kau juga akan menyukainya.. Hana!."
Hening!
Terdengar suara helaan nafas yang dibuang dengan kasar dari seberang. "Aku sudah terlalu lama terdiam tanpa berbuat apa-apa. Sekarang, aku akan merelakannya pergi. Tapi sekarang, ketika aku mau merelakannya pergi, itu malah membuatku khawatir. Selama ini Aku selalu ingin bersamanya. Tapi akankah Hinata merasa nyaman, akankah kami baik-baik saja? Sekarang dia beranjak remaja, bagaimana kalau Hinata salah jalan setelah kepetusannya? Aku sangat takut. Aku takut dan khawatir." Ujar Hana dengan nada sangat frustasi.
"Tenanglah.. cepat atau lambat ia akan tahu kebenarannya. Jadi bersabarlah.." Kata Kurenai menyakinkan.
.
.
~oOoOoOo~
.
.
Dengan sedikit tergesah-gesah Sakura dan Ino menemui Hinata di kelas. "Apa yang terjadi padamu, Hinata-chan? Apa kau melakukan ini karena kami berdua?" Tanya sakura dengan rasa bersalah. Hinata memandang mereka sebentar lalu mengalihkan pandangannya pada buku-buku di meja untuk dibereskan. Seakan kehadiran dua temannya kini sudah tak berarti lagi baginya. Tak memiliki arti yang berharga sama sekali.
"Aku minta maaf kalau memang kau melakukan itu karena aku dan Sakura." Kata Ino memohon.
Hinata yang sudah membereskan buku segera bangkit dari tempat duduknya dengan tangan kanan menarik tali tasnya bersiap untuk pulang, "Maaf? Maaf untuk apa?" ucap Hinata dingin dengan nada sedikit ketus. Sakura dan Ino diam menunduk tak tahu harus mengatakan apa lagi.
Hinata menatap jengah pada sosok didepannya, "Kalau kalian tak tahu untuk apa minta maaf, kenapa kalian minta maaf?" Kata Hinata kesal. Sontak seisi kelas mulai mengalihkan perhatiannya pada ketiga siswi itu, yang membuat mereka terdiam bukan karena pertengkaran gadis-gadis itu, tapi suara keras yang Hinata keluarkan tadi. Padahal sebelumnya Hinata sama sekali tidak pernah membetak seseorang, sekali pun orang itu memang sangat menyebalkan. Tapi yang ini berbeda, lantas apa yang membuat Hinata membentak kedua temannya itu?
Sakura mulai memberanikan diri untuk bicara, "i..itu karena sepertinya kau kelihata marah padaku dan Ino".
"Keputusan ku bukan karena kalian, jadi kalian berdua tak usah mempedulikan ku." Sahut Hinata melemparkan pandangan dingin dan berlalu meninggalkan keduanya.
Sebelum melangkah keluar melewati pintu kelas, Hinata sudah dicegat terlebih dahulu Shion."Oh ya, hari ini jadwal membersihkan kelas bersama-sama. Semuanya diharapkan untuk tidak meninggalkan kelas tanpa terkecuali kau Hyuuga. Apa kau akan pulang tanpa membantu kami membersihkan kelas?" Ucapnya dengan kalimat penuh penekanan diakahirnya.
"Kenapa aku harus ikut? kegiatan ini sama sekali tidak menguntungkan untuk diriku sendiri" Ujar Hinata di kala rasa kedongkolannya muncul kembali.
"Karena kau juga menggunakannya jadi kau juga harus ikut membersihkannya. Memangnya kami ini kelompok bersih-bersih?" sahut protesan yang keluar dari mulut Karin
"Hei Hyuuga Hinata, bukankah kita semua sudah sepakat untuk menjadwalkan piket kelas bersama-sama? Bukankah kau bilang bagus kalau semuanya mendapatkan giliran." Ujar Shion menegur Hinata, setelah mendapat dukungan penuh dari perkataan Karin.
Hinata maju melawan ucapan Shion, "Yang namanya bagus belum tentu efisien. Bagi ku yang lebih mengutamakan usaha dan waktu untuk belajar bersih-bersih hanya membuang waktu. Tapi bagi kalian yang tak melakukan apapun selain bermain membersihkan kelas tak akan memakan waktu kalian."
Shion mengerutkan dahinya, kenapa Hinata sekarang malah sudah mulai berani.
"Hyuuga, kau ini kenapa?" tanya Shion yang sekarang sudah berada disampingnya.
"Kenapa apanya?" tanya Hinata balik.
"Kenapa kau membentak kami? Memang apa salah kami.. Kami hanya ingin meminta bantuan padamu, tapi kenapa kau malah memperlakukan kami seperti orang asing. Apa kau menyalahkan kami?" Tanya Shion kesal, ia ingin sekali memojokan Hinata saat ini. Agar gadis itu tau apa yang tengah teman-temannya rasakan saat ini.
"Shion apa yang kau katakan?" Ujar sakura menegurnya tak terima karena Hinata mulai terpojok. Apakah ia tak sadar kalau mereka berempat telah menjadi pusat perhatian dikelas, apalagi Shion telah mengatakan hal yang seharusnya tidak ia ucapkan.
"..."
"Kenapa kau tak menjawab? Apa perkataanku benar, bahwa kau hanya menganggap kami sebagai orang asing? apa kami benar-benar bukan temanmu? apa kau tidak menganggap pengorbanan kami selama ini, Selamat ini kau bersikap dingin karena kau tak mempercayai siapa pun, bukan. Kau tidak pernah merasa simpatik pada kami, kau pikir kami ini hanya tempat buangan ketika kau merasa sendiri. Hinata, jawab aku.." Tanya Sion bertubi-tubi dan kali ini benar-benar sangat memojokan diri Hinata. Dari sekian suara bisa terdengar suara bisik-bisik membenarkan perkataan Shion tadi. kalau bisa dilihat dari sisi lain Sakura dan Ino hanya satu-satunya teman yang Hinata punya. Tapi disisi lain Hinata sama sekali tidak menganggap mereka ada jika ditanyakan ia punya teman atau tidak. Menyakitkan sekali...
"SHION Apa yang telah kau lakukan? Apa kau sadar apa yang telah kau katakan.." Cerca Sakura ikut terbawa emosi, Orang ini memang sangat keras kepala. Sekarang apa yang harus ia lakukan..? Kalau ini terus berlanjut, apa jadinya hari esok..
"Hinata? Kenapa kau hanya diam" ujar Shion semakin mengeras dan memanaskan suasan dikelas.
Disisi lain, Sara Cs tampak risih melihat pertengakaran kedua siswi itu, walaupun mereka tidak dikatakan sebagai teman akrab. Tetap saja kalau melihat pertengkaran ini sepertinya sangat tidak mengenakan. Apa lagi Sara sudah lama satu sekolah dengan Hinata. Jadi dia tahu dengan siapa saja gadis itu bergaul dan bagaimana perkembangan sikap Hinata selama ini. Tapi bukan berarti Sara sangat memperhatikan gadis itu. Dia juga bukan siswi yang tahu menau tentang latar belakang Hinata, walau begitu sara tidak pernah membenci gadis itu baik sikap atau perkataannya.
"Sara... Kalau pertengkaran ini tidak kunjung selesai pasti kurenai sensei akan segera datang kesini.." Bisik Karin.
Sara tampak bergeming sejenak, "Kita tak perlu ikut campur, ini masalah mereka. Jadi biarkan mereka selesaikan dulu masalah mereka..." sahut Sara tanpa menoleh sedikit pun ke arah lain, pandangannya masih terfokus pada Hinata.
"Baik Ketua kelas!" Seru Karin dan Matsuri secara bersamaan.
"Hyuuga?" Gumam Shion sembari melemparkan tatapan bencinya pada gadis itu, "Apa yang sedang kau fikirkan.." Shion menatap lekat pada sosok gadis bersurai indigo gelap yang tengah menunduk. Sepertinya gadis itu sudah benar-benar terpojok... sekali lagi Shion memberikan senyuman liciknya entah pada siapa?
Kembali pada posisi Hinata sekarang. Sepertinya pikiran dan tubuhnya telah hilang entah kemana, dunia seakan menyorotkan lampu kekhawatiran pada dirinya. Seakan dirinya perlu diberi simpatik. Benci, Hinata sangat membenci perasaan sepeti itu.. Seolah kalau dirinya sangat lemah dihadapan orang lain.
"Hinata?"
Hinata mengerjap-ngerjapkan mata, seolah suara itu telah menjadi sumber kesadaran lamunanya. "Hmm.."
"Jadi kau benar-benar menganggap kami sebagai temanmu, benar?" tekan Shion sekali lagi.
"Shion cukup!" Teriak Sakura yang sudah kehilangan kesabarannya. "Hentikan, kita bicarakan hal ini baik-baik.." lanjutnya lagi.
"Apa kau tadi tidak lihat, aku sudah berusaha berbicara baik-baik padanya. Tapi malah dia yang membentak kita.." Kata Shion tak mau kalah.
"Tapi kau tidak perlu emosi seperti itu.." Kata Sakura lagi, sekali lagi rasanya ia ingin melempar piring cantik pada wanita didepannya ini.
"Biarkan saja! Dia juga bukan orang yang harus di istimewakan.." Kata Shion dengan puncak emosinya.
Hinata berdecak kesal seakan tak terima dengan seluruh todongan pertanyaan dari Shion, "Hmm.. Aku bukan teman kalian.. Itu benar.. kalian hanyalah orang asing dalam kehidupanku. aku tak pernah menganggap kalian sebagai temanku, aku tak pernah memintamu untuk menjadi temanku, aku tak memintamu untuk berkorban demi diriku. Bahkan aku bisa mengurusi diriku sendiri tanpa ada kalian bersama ku. sadarlah, bukankah disini hanya kalian yang telalu membanggakan ku menjadi teman kalian. Aku sama sekali tidak meminta bantuan apa-apa dari kalian..." Katanya dengan ketus.
"Aku merasa kasihan pada kalian yang terus hidup dalam bayang-bayang seseorang.." Lanjut Hinata menatap sinis Shion, "Dan apa kau lupa? Aku ini siswi yang memiliki hak istimewa, aku tidak perlu melakukan apapun yang tidak ingin kukerjakan dikelas. Aku bebas melakukan apapun, bukankah diriku ini sangat beruntung memiliki kompentesi dasar yang istimewa, aku cerdas sampai-sampai pihak sekolah menginginkanku untuk masuk sekolah luar negeri, semua perkataanku benar apa adanya! Jadi kau tidak memiliki wewenang untuk menyuruhku melakukan tugas bersih-bersih, Benarkan Sara-san?"
Sara yang sedari tadi diam menonton, tersentak ketika Hinata memanggil namanya. "Iya itu benar.." Jawab sara pasrah mengiyakan. Memang benar, siapa saja siswa atau siswi yang memiliki hak istimewa tidak dianjurkan mengikuti kegiatan kelas yang hanya membuang-buang waktu, atau sekedar mengantri makan dikantin saat jam istirahat. Karena mereka punya hak istimewa.
Disisi lain Shion terbekuk menciut nyalinya, semua perkataan Hinata seolah berbalik memojokan dirinya. Ia masih tak percaya dengan apa yang didengarnya barusan. Gadis indigo itu benar-benar terlihat angkuh tapi berwibawa, entah kenapa diri Shion merasa rendah sekali. Bagaimana bisa gadis indigo ini berani mebuatnya bungkam dalam sekejap mata. Sungguh rasanya saat ini ia ingin menggalih lubang sedalam-dalamnya ketika melihat tatapan menusuk dari Hinata yang diarahkan padanya.
"Tapi bukankah itu namanya diskriminasi?" Ujar salah satu siswa memprotes. Mereka benar-benar tak menyangka ucapan seperti itu keluar dari mulut Hinata. "Apa kau sekarang menjadi ketua?" Kata mereka men-cap Hinata sebagai propokator masalah.
"Diskriminasih dalam kehidupan itu nyata, seharusnya kalian belajar menyadari bahwa manusia itu sangat naif.." Gumam Hinata.
"Sudahlah kalian jangan bertengkar lagi!" seru Ino mengambil jalan tengah diantara kedua sisi Hinata dan Shion.
"Jangan ikut campur Yamanaka!" Sahut Karin sinis.
"APA! Sialan kau..Kalkun" maki Ino kesal.
"Apa kau bilang Pig.." Balas karin emosi. Dan terjadilah pertengkaran antar dua kutub yang berbeda dikelas. Hinata tidak mendengar cercaan siswa dikelasanya, ia pergi melenggang meninggalkan keributan dikelas.
Diluar kelas ia melihat sesosok pemuda tengah menatapnya sendu. Hinata terpaku ketika melihat iris shapiernya yang menawan, sungguh hatinya kembali berdebar-debar.
Naruto melihat Hinata masih berdiri diam disana. Hinata tak mengatakan sepatah kata pun, ia berlalu dari sana melewati pemuda itu tanpa meliriknya sedikitpun.
.
.
~oOoOoOo~
.
.
Di pintu gerbang Naruto tengah berdiri menunggu seseorang. Sudah lima belas menit tapi sosok yang ia cari tak kunjung muncul, sampai detik-detik terakhir sekolah terkunci. Gadis itu keluar dengan sepeda kuning cerah yang dikendarainya. Naruto ingin menyapa, Namun, sayang Hinata lewat begitu saja dan tak menghiraukannya. Jelas saja, Naruto kecewa. Tapi, ia tak menyerah. Ia terus mengikuti Hinata dari belakang. Saat ia mengayuh sepeda semakin cepat, Hinata sendiri dibuat risih karena Naruto yang selalu mengikutinya dari belakang.
Hinata memberhentikan sepedanya dan membalikan badannya dan berkata "Aku tahu, Apa yang ingin kau tanyakan padaku. Tapi, bisakah kau tak menanyakannya?".
"Tak ada yang ingin aku tanyakan." Jawab Naruto berbohong. Pemuda itu mengayuh sepeda mensejajarkan posisinya dengan Hinata.
Hinata kembali melajukan sepedanya "Terus kenapa kau mengikuti ku terus?".
Naruto tertawa "Pede banget. Sekolah kan udah selesai, sekarang waktunya pulang…dan aku cuma mau pulang." Naruto melaju pergi mendahuluinya, tapi ia salah arah kemudian kembali lagi.
"Sebenarnya apa yang ingin kamu tanyakan?". Tanya Hinata dengan tatapan penuh selidik.
"Ihhh! Aku bilang aku gak mau tahu. Aku nggak penasaran tentang apapun. Aku juga nggak tertarik sama urusanmu. Kau kan gadis yang kuat?"
"Lalu Alasan kau mengikutiku apa?"
"Karena aku khawatir!" Kata Naruto keceplosan, Hinata terdiam mendengarnya, kemudian Naruto berkilah "Mmmmm, itu jawaban yang ingin kamu dengar, kan? Tapi, aku? Ngapain aku mengkhawatirkanmu?" Naruto langsung pergi meninggalkan Hinata yang hanya bisa menghela nafas kasar.
Naruto menggerakan sepedanya untuk berajalan, tapi kenapa begitu terasa berat, ia berbalik melihat kebelakang dan ternyata ban sepedanya bocor. Kami sama, kenapa hal seperti ini malah terjadi sekarang. Musibah apa lagi ini. Rantai sepedanya rusak. Ia menarik sepedanya dengan paksa berlari mengejar gadis itu. Hei... sepertinya hal ini pernah terjadi padanya. Tapi, ia lupa kapan itu terjadi
Dan lagi suara udara meletus mengangetkannya, Naruto berjongkok untuk melihat kebocoran diban belakang sepedanya, tampaknya ini disengaja tapi siapa yang melakukannya? Sebuah paku menusuk kulit karet ban sepedanya. Pasti ada yang sengaja menaruhnya di tengah jalan seperti ini.
Dasar Kurang kerjaan! gerutu Nauto dalam hatinya.
Pemuda itu menengadah untuk melihat jarak diantara dia dan gadis itu, "Hinata?" Panggilnya meminta pertolongan. Suara cukup keras tapi kenapa gadis itu tidak mau berhenti. Dengan sekuat tenaga Naruto berlari mengejarnya sampai limit kekuatannya habis.
Naruto terdiam sejenak lalu memanggil gadis itu, Mungkin pemuda itu kini sudah lelah berlari, ia tak sanggup lagi. Harapannya sekarang hanya Hinata, Semoga gadis itu mendengar panggilannya. "HINATA-CHAN!"
Gadis itu mendengarnya, Hinata berhenti dan menoleh ke belakang. "Ada apa?".
Naruto merengek seperti anak kecil sambil berteriak "Rantai sepedaku rusak...~Aku tak bisa pergi mendekatimu. Tak bisakah kamu yang datang padaku?". Hinata terdiam, tapi ia langsung berlari ke arah Naruto.
"Hey, kenapa kau kelihatan pucat? Kau merengek karena rantai sepedamu yang rusak?". Naruto pun mengiyakannya.
Samar-samar Hinata tersenyum dan berkata "Uzamaki Naruto, kapan kau akan tumbuh dewasa?". Naruto pun kembali tersenyum dan raut wajahnya menjadi begitu bahagia mendengar omelan Hinata. Omelan yang menunjukan bahwa gadis itu masih mengkhawatirkan dirinya..
.
.
~oOoOoOo~
.
.
Mereka duduk dan makan berdua ditaman. Naruto memakan semuanya dengan lahap. Hinata mengelap bibir Naruto yang terkena makanan dengan tangannya. "Makan aja sampai belepotan, dasar bayi berpopok besar!"
Naruto sendiri yang mendapati ejekan seperti itu hanya tersenyum kecil, "Jadi, apakah dokter itu benar-benar ibu kandungmu? Kau bilang kau akan memanggilku jika sedang dalam kesulitan. Jadi, kenapa kau malah melarikan diri waktu itu, sebenci itukah kau pada ibumu?". Melihat Hinata yang tak berkata apapun, Naruto kembali bersuara.
"Aku bisa memaafkan mu untuk masalah itu, aku rasa mungkin kau sedang tertekan saat itu makanya aku tak pernah menanyakan pasal keluargamu. Tapi persoallan tentang sekolah mu diluar negeri aku... aku.."
"Aku tak mau membahas hal itu, Hyuuga dari keluargaku hanya aku yang tersisa" Hinata berdiri dan beranjak pergi.
Tapi, Naruto menahannya dan berkata "Hyuuga Hinaya. Kau itu gadis kecil ku yang manis. Jadi, mulailah hidup sebagai Hyugga Hinata yang baru. Jangan berdiri disana seperti kamu seorang penjahat. Aku tahu kenapa kamu gak peduli. Tapi, aku sangat benci ketika melihat kau menyembunyikan semua emosi mu itu.".
Hinata memotong perkataanya "Jadi, itulah kenapa aku selalu bilang supaya kamu tak usah memperdulikanku…".
"Tapi, buatlah supaya aku tak mengkhawatirkanmu! kau kesepian, Kita selalu bersama-sama sejak kecil. Aku tahu kamu! aku tidak akan membiarkan mu pergi keluar negeri jika sikap mu tidak mau berubah. Pokoknya, kau itu Hyuuga Hinata. Sampai kapan, kau hanya akan mengelak dan mengatakan pada dirimu sendiri bahwa 'itu bukan aku'?"
Mereka terdiam sejenak. Kemudian, Naruto berkata "Aku mengatakan jika aku akan membantumu. Membantu kamu untuk hidup sebagai gadis yang ceria". Ujar Naruto tersenyum pedih sambil mengeratkan genggamannya pada gadis itu. Mendengar itu Hinata terdiam dan matanya berkaca-kaca.
"Hinata, mulai sekarang kalau kau ingin bercerita tentang masalah yang kau hadapi datanglah kepadaku. Jangan menutupinya apapun dari ku, mengerti" Mendengarnya Hinata hanya tersenyum kemudian mengangguk pelan mengiyakan perkataan pemuda itu. Hinata kemudian berbalik dan melihat wajah Naruto, Yang tak kuasa menahan air matanya lagi. Naruto memegang pundak Hinata. Lalu menarik gadis itu kedalam rengkuhannya, memeluk gadis itu dalam diam. Pemuda itu menyadarinya bahwa debaran jantung ini bukan milik sang gadis melainkan miliknya sendiri.
Tanpa ragu Hinata membalas pelukannya dan membenamkan wajahnya di dada bidang Naruto. Tanpa sadar air matanya turun, ia akan sangat merindukan masa-masa seperti ini nanti.
"Bisakah kita memulainya dari awal lagi, Hinata?" Gumam pemuda itu dengan suara baritonnya yang meredup. Ia mengecup puncak kepala gadis itu dan mengelus rambutnya perlahan, Hinata bisa merasakan ada perbedaan sikap Naruto kali ini.
Hinata melepaskan pelukannya lalu menatap Naruto bingung, "Apa?"
"Kita mulai dari awal.." Ujarnya sambil mengelus pipiku dan mencium keningku, walau hinata tidak mengerti maksudnya? ia memilih diam menerima perlakuan pemuda itu. Naruto mengusap pelan bekas air mata yang turun di pipiku.
"Aku tahu aku sangat terlambat. Tapi aku harap perasaanmu kepadaku tidak berubah..."
.
.
TBC
.
.
Author: Konichiwa… mina-san. Ini Fic pertamaku, jadi kalo banyak kekurangan tolong dimaklumin ya. Cerita ini terinspirasi dari beberapa film yang pernah aku tonton. aku sangat senang kepada para pembaca yang meluangkan waktunya untuk membaca fic abal ini hehehe.. .. sampai jumpa di chapter selanjutnya..
Berhubung aku lagi sibuk banget jadi agak mengurangi waktu buat menghayal atau buat jalan cerita fic selanjutnya… Apa lagi sekarang lagi UTS...
Chapter Kilatnya akan diusahakan... Tapi Gak janji..
Apa lagi aku bikin fic ini ngebet banget.. jadi mohon dimengerti ya!
Dan maaf kalo mengecewakan para reader semua.. Dan terima kasih buat yang telah mengingatkan ku akan fic ini!
Di chapter ini saya tak terlalu telaten jadi tolong di maklumi jika ada kesalahan kata dan huruf dalam penulisan..
Saya berterimakasih kepada reader yang telah memberi reiviewnya! ARIGATAOU :D
Dan maaf kalau belum ada balasannya di PM!
NaruHina# Hinata harus pergi... jangan baper yah.. ;)
Novita # hai novita salam kenal juga... makasih ya udh dikoreksi chap sebelumnya, aku bisa bales lewat mana aja... Soal fb aku gak bisa nemuin punya kamu?
abcd# iya.. iya.. happy ending
naruto boruto# ini udah dingin blm hinata nya...
ina# terimakasih atas pujiannya...
