Flashback, 15 years ago
Bocah bersurai merah itu terbaring meringkuk seraya memegangi perutnya. Kelopak matanya memang terpejam erat, persis seperti orang yang tengah tidur, namun tak bisa diingkari jika ada raut kesakitan diwajah malaikat itu.
Jejak-jejak air matanya telah mengering, meninggalkan rona merah basah dipipi tembamnya dan hidung mancungnya. Sungguh malang bocah berusia sebelas tahun itu.
Satu langkah dari tempatnya, dua orang remaja lelaki berusia lima belas tahun tengah berjongkok didekatnya, dengan pisau tajam dimasing-masing tangannya dan ditodongkan kearah bocah berambut merah. Kedua remaja itu menyerigai iblis membalas tatapan seorang bocah bermanik hitam yang terdiam kaku didekat pintu atap sekolah.
"Ky—kyuu…" Itachi, bocah berusia dua belas tahun itu terpaku menatap teman sepermainannya.
"Well, well. Lihat siapa yang telah datang?" suara feminim itu terkesan sombong dan mengejek.
Mendengar suara tak asing itu, Itachi lantas menoleh dan pandangannya menajam seketika saat melihat siapa orang dibalik semua ini. "Miko…" Desis Itachi saat melihat perempuan berambut pirang dan bermanik biru itu. "Lepaskan Kyuubi!"
Miko, perempuan berusia lima belas tahun itu tersenyum miring. "Lakukan apa yang kumau, dan kau akan mendapatkannya."
Manik hitam Itachi menatap penuh benci padanya, perempuan yang tempo hari menyatakan cintanya, namun Itachi menolaknya karena hatinya telah jatuh kepada seseorang. Itachi fikir semuanya akan selesai dengan mudah, namun pada kenyataannya, perempuan itu tidak terima dengan penolakan Itachi karena merasa dirinya terlalu sempurna untuk ditolak. "Apa maumu, hah?" Bahkan, untuk menyebut nama perempuan itu, Itachi tidak sudi. Suaranya terlalu bagus untuk menyebut nama seorang bajingan yang menjelma dalam tubuh polos seorang perempuan iblis itu. Cih, tidak semua perempuan itu sepolos kelihatannya.
"Nee-chan… orang itu sangat menakutkan!"
Mendengar suara feminim yang lain, Itachi baru sadar jika ada seorang gadis cilik yang sedari tadi bersama mereka. Fisik gadis itu tidak beda jauh dengan Miko, namun perbedaan usia itu sangat Nampak mengingat jika gadis yang lebih kecil itu bertubuh sangat pendek.
"Shion-chan, bukankah aku bilang jika kamu tidak perlu mengikuti nee-chan. Lihat kan? Nee-chan tidak berbohong jika nee-chan akan bertemu seorang monster."
Shion, adik dari Miko itu menggangguk kecil. "Shion ingin pulang.." rengeknya.
"Tidak, urusan nee-chan disini belum selesai."
"Ta—tapi nee-chan, Shion takut pada monster itu." Telunjuk kecil itu menunjuk kearah Itachi, membuat Itachi menatap bocah itu dengan tatapan membunuhnya. "Nee-chan, nee-chan… lihat, monster itu akan membunuh Shion." Gadis cilik itu memeluk erat boneka barbienya erat.
Itachi memutar bola matanya melihat pemandangan—yang bagi Itachi—menggelikan itu. Lalu pandangannya memutar kearah teman sepermainannya yang terbaring lemas dipinggir atap. Itachi hendak melangkah untuk mendekatinya, sebelum sebuah seruan keras membuat Itachi menghentikan langkahnya.
"Jangan bergerak, atau bocah ini akan mati!" salah satu dari kedua remaja didekat Kyuubi menyentak keras, dengan masing-masing pisau yang diarahkan pada Kyuubi.
Itachi terdiam kaku, dan matanya menatap berang pada kedua remaja itu kala sebuah pisau yang mereka pegang menggores leher Kyuubi hingga setetes darah keluar dari sana. "Aku benar-benar akan memenggal kepala kalian jika kalian berani melukainya lebih dari itu." Itachi berkata dingin dengan wajah datarnya.
Kedua remaja yang berjongkok didekat Kyuubi merinding mendengar suara dingin Itachi, seorang bocah yang bahkan berusia tidak lebih dari dua belas tahun. Tapi melihat peranggaian Itachi yang nampak sangat dewasa, membuat kedua remaja itu yakin bahwa Itachi bukanlah bocah biasa.
"Itachi… aku akan melepaskannya jika kau menuruti satu permintaanku."
Suara itu membuat Itachi mengalihkan perhatiannya, menatap perempuan itu yang sendirian dengan keberadaan Shion lenyap entah kemana. Itachi tidak peduli dan tidak akan pernah peduli. "Cepat katakan."
"Touch me."
Itachi seketika menatap datar kearah perempuan itu. "Never!" dan dengan itu, Itachi berlari cepat kearah dua remaja didekat Kyuubi dan menendang salah satu kepala mereka hingga terpelanting jauh. Remaja itu meringis memegangi kepalanya yang mendapat benturan dari pembatas atap.
Dengan kalap, Itachi memukul mereka satupersatu hingga ia lupa, bahwa dibelakangnya Kyuubi masih tak sadarkan diri dan membuat perempuan itu mendekat.
"Berhenti, Itachi! Atau aku benar-benar akan membunuh bocah sialan ini!" Gadis itu berkata tajam dengan sebilah pisau yang melintang dileher Kyuubi.
Manik hitam Itachi berkabut dengan kebencian. Maka, tanpa fikir panjang Itachi berlari kearah gadis itu dan hendak menerjangnya, sebelum, ujung tajam itu menusuk bahu kecil milik Kyuubi.
Langkah Itachi terhenti seketika. Maniknya memboca kala pisau itu dicabut dari sana hingga membuat darah segar mengucur dari sana tanpa henti. Pisau berlumuran darah itu diarahkan keleher Kyuubi hingga ujungnya kembali menyayat kulit putih Kyuubi, menimbulkan banyak darah menetes dari sana.
Perempuan itu menyerigai melihat kebekuan Itachi. "Aku tidak pernah bermain-main dengan ucapanku, Itachi!"
"You bitch!" geram Itachi.
Kedua remaja yang telah babak belur disana mendekati perempuan gila itu dan menggantikan posisi perempuan itu.
"Buat ini menjadi mudah Itachi. Lakukan apa yang kumau atau kau akan melihat teman kecilmu itu mati kehabisan darah. Ah, kau ingin aku mempercepat kematiannya? Baiklah, akan kulempar bocah itu dari atas gedung lantai lima ini. Dia pasti mati seketika dengan tengkorak yang hancur!"
Itachi mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Menghela nafas kasar, Itachi benar-benar tak punya pilihan lain.
Mengalihkan rasa jijiknya, Itachi pun terpaksa melakukannya.
.
.
.
"Selamat datang, tuan muda Itachi."
Itachi memasuki rumahnya dengan wajah lesu. Para pelayan yang menyambut kepulangannya, ia abaikan begitu saja.
Maniknya menyalak liar kesana-kemari. "Dimana Sasuke." Itachi bertanya kepada salah seorang pelayan dengan nada datar.
"Tuan muda Sasuke berada diruang bermain, tuan muda."
Mempercepat langkahnya menyusuri beberapa koridor, Itachi segera menemukan adik kecilnya yang tengah bermain disana.
Itachi memasang wajah tersenyumnya sebelum berujar semangat. "Sasu-chan… nii-chan pulang~~"
Seorang bocah berusia tiga tahun, yang tengah duduk ditengah-tengah ratusan mainan, menoleh kepada Itachi. Sasuke kecil hanya mengganggkat sebelah alisnya sebelum membuang muka. "Huh."
Wajah Itachi menekuk kesal mendapat perlakuan tak peduli dari Sasuke. "Jahatnya adikku~"
Sasuke kecil mengabaikan suara Itachi—yang baginya terdengar menggelikan, dan memutuskan untuk lanjut bermain dengan lego-legonya.
"Serius. Kenapa adikku tidak pernah bersikap manis, sih?" gerutu Itachi dengan wajah kesal.
Lalu Itachi duduk merenung disebuah sofa. Fikirannya tertuju pada Kyuubi, yang sejak seminggu yang lalu, masih tak sadarkan diri dirumah sakit.
Dokter mengatakan jika Kyuubi tidak hanya mengalami pendarahan pada bahunya saja, tetapi sebelum itu, seseorang tengah menyuntikkan racun kedalam tubuhnya.
Beruntung setelah kejadian itu, Itachi segera membawa Kyuubi kerumah sakit, karena jika tidak bisa saja nyawa Kyuubi tak akan pernah terselamatkan. Minimal, perlu waktu dua bulan untuk menetralkan racunnya. Dan selama itu, bisa dipastikan bahwa Kyuubi akan tetap koma.
Itachi berniat membalas dendam kepada perempuan busuk itu. Dengan mengerahkan seluruh koneksinya sebagai keluarga mafia, pencarian dilakukan hingga kepelosok.
Namun sayangnya, selama seminggu ini pencarian itu belum pernah berhasil. Perempuan itu seperti lenyap ditelan bumi.
Mengingat hal itu, Itachi selalu terbawa suasana hingga mengumpat disembarangan tempat.
"Nii-chan, Cuke ingin pipiiiic…"
Mendengar rengekan itu, Itachi menoleh menatap adiknya. Tubuh mungil itu berdiri gelisah.
Manik Itachi memicing menatap Sasuke kecil, namun sebaliknya, Sasuke mentap Itachi dengan puppy eyes khas Uchiha Sasuke. "Nii-chan~~" Lihat, bocah itu mulai merengek.
Ugh.
Itachi luluh seketika. "Baiklah-baiklah, dasar anak nakal. Kau hanya bersikap manis pada nii-chan jika kau hanya sedang membutuhkan nii-chan saja, ya? Dasar." Itachi geleng-geleng kepala dan segera menggendong adiknya.
"Cepat nii-chan… Cuke ingin pipiic cekarang~~"
Mata Itachi melotot mendengarnya, apalagi dengan sekelebat ingatan betapa adiknya itu sering pipis ketika Itachi menggendongnya. Oh, tidak. Jangan lagi. Batin Itachi ngeri.
Dan Itachi berlarian disepanjang koridor, mengabaikan kekehan geli dari para pelayan yang dilewatinya.
"Ngh.." mendengar helaan nafas lega dari Sasuke, membuat langkah Itachi terhenti seketika.
Itachi menatap horror pada Sasuke yang tengah memejamkan mata. Hanya tinggal menunggu waktu hingga Itachi akan merasan air hangat yang membasahi pinggangnya.
Satu menit berlalu, Itachi tidak kunjung merasakannya.
Tangan Itachi meraba belakang tubuh Sasuke dan mendapati bahwa ada benda tebal dibalik celana mini yang dikenakan Sasuke. Pampers.
Hening beberapa waktu selama manik besar Sasuke bertatapan dengan manik Itachi.
Berusaha memendam kekesalannya, Itachi berujar dengan nada penuh penekanan. "Sasuke… kau mengerjai nii-chan ya?"
Terdengar suara tawa tertahan tak jauh darinya. Itachi menoleh menatap tajam pada dua pelayan yang tengah melirik-lirik kearahnya. Mendapat tatapan menakutkan dari sang majikan, pelayan itu berbalik cepat dan kembali membersihkan sebuah lukisan seolah tidak melakukan apapun, walau sesaat masih terdengar suara tawa tertahan dari sana.
Sebuah tangan mungil menepis tangan Itachi yang masih bertengger dipantat Sasuke.
"Cuke mau turun!~" Sasuke memekik dengan suara cemprengnya. Tubuh mungilnya berontak dalam gendongan Itachi membuat Itachi segera menurunkan tubuh adiknya.
Tubuh mungil itu berlarian menjauh dari Itachi. "Kaa-chan~~ Nii-chan mecuum~~ Huwee~ Kaa-chan~~ Tou-chan~~"
"Sasuke! Nii-chan tidak—ARGHH!" Itachi mengerang frustasi, lalu mulai mengejar langkah mungil adiknya.
Dan sore itu, keributan kembali terjadi dikediaman mewah keluarga Uchiha, di Britania Raya.
.
.
.
Siang itu, Itachi bersiap untuk pergi kerumah sakit menjenguk Kyuubi. Sudah tiga minggu berlalu dan, seperti kata dokter, Kyuubi masih koma.
Adiknya, Sasuke sangat antusias mengetahui jika kakaknya akan mengunjungi Kyuubi. Sasuke dan Kyuubi cukup dekat mengingat Kyuubi sering berkunjung ke kediaman Uchiha. Bahkan, Sasuke lebih memilih untuk bermain dengan Kyuubi daripada Itachi—yang notebene kakak kandungnya sendiri.
"Nii-chan~ Cuke ikut, ya?" mata bulat itu berkedip-kedip polos.
Seperti dugaan Itachi, Sasuke selalu bersikap manis jika ada maunya. Menghiraukan puppy eyes ala Sasuke, Itachi menjawab dengan ketus. "Tidak." Itachi memang berniat membalas perlakuan ketus Sasuke selama ini.
Wajah putih Sasuke perlahan memerah dan mata bulatnya muali berkaca-kaca. "Nii-chan jahaat~~ Huwe—"
Itachi segera menggendong adiknya sebelum tangisan cemprengnya menggema didalam kamarnya. "Baiklah, baiklah. Kau menang, bocah nakal."
"Nii-chan baiiiik, sekalii~" Sasuke tersenyum riang lalu memeluk leher kakaknya erat.
Itachi terkekeh geli dan mencubit hidung mungil adiknya hingga memerah.
Sasuke mengerang tak suka. Mata bulat itu menatap tajam pada Itachi dan dari tatapan itu, Sasuke mengeluarkan aura permusuhan kepada kakaknya.
Itachi terkekeh makin keras melihat wajah kesal adiknya—yang justru terlihat makin cute. "Rasakan itu, dasar adik na—Aw, adow." Itachi mengaduh sakit kala tangan mungil adiknya menarik hidung mancungnya kuat-kuat.
"Racakan pembalacan dari Cacu, ahaha—Ouch."
"Ha, rasakan-rasakan. Bocah nakal pantas diberi huku—ARGH!"
"Ahahaha."
Kemudian, perang kecil dengan tema 'ayo-tarik-hidung-sang-lawan' terjadi diantara duo Uchiha bersaudara.
.
.
.
"Tuan muda, saya ijin untuk kekamar mandi, boleh?" sang sopir bertanya sopan. Badannya bergerak-gerak gelisah seakan menahan sesuatu.
"Ya." Itachi menjawab singkat dan menutup pintu mobil. Ia kemudian berjalan kebelakang badan mobil. Itachi menurunkan Sasuke dari gendongannya sebelum membuka pintu belakang mobil, menariknya keatas dan mulai mencari sesuatu.
Sasuke berdiri tegak seraya mencengkeram erat celana kakaknya. Satu menit kemudian. mata bulat Sasuke menatap seorang anak berambut merah yang berjalan menjauhi area rumah sakit. Sasuke menarik-menari baju kakaknya. "Nii-chan, nii-chan… Itu Kyuu nii-chan~" Telunjuk mungilnya mengarah pada sang anak berambut merah yang semakin menjauh.
"Sasuke, Kyuubi nii-chan ada didalam dan kita akan segera mengunjunginya. Tunggu sebentar lagi." Itachi mengabaikan Sasuke dan berlanjut mencari ponselnya yang tadi terlempar kebelakang jok mobil. "Ah, ketemu."
Itachi lalu menurunkan dan menutup pintu belakang mobil. "Ayo kita segera masuk kedalam—lho, Sasuke?"
Itachi mulai panik dan berlarian kesana-kemari mencari keberadaan adiknya, hingga siluet mungil adiknya terlihat dipinggir jalan. Tidak ingin terjadi hal buruk pada adiknya, Itachi berlari mendekati Sasuke yang berdiri diam dipinggir jalan raya, terlihat jika Uchiha junior itu hendak menyeberang dizebra cross. Walau jalanan cukup lenggang mengingat ini adalah jam kantor, tapi Itachi tetap mempercepat larinya agar Sasuke tidak sampai menyeberang jalan.
Lampu berganti menjadi hijau saat Itachi berada sepuluh langkah didepan Sasuke. "Sasuke!" teriak Itachi, mencoba untuk menghentikan pergerakan Sasuke.
Tapi hal itu nampaknya sia-sia, karena setelahnya, "Kyuu nii-chan! Kyuu nii-chan!" kaki mungil Sasuke berlarian memotong jalan raya seperti tengah mengejar seseorang.
TIIIN! TIIIN!
Dari kejauhan, sebuah mobil berwarna silver melaju kencang kearah Sasuke. Dari suara klakson yang ditekan berulang-ulang, sang pengendara mungkin merasa panik. Tapi diluar dugaan, kecepatan mobil itu semakin lama justru semakin cepat.
Itachi mungin telah berprasangka jika pengendara itu sengaja. Dan dengan segala kemampuannya, Itachi mengingat nomor plat mobil itu seraya mempercepat larinya.
"AWAAAS!" Pekikan suara beberapa orang ditrotoar jalan terdengar nyaring.
"SASUKEE!"
Itachi menarik tubuh mungil adiknya dalam dekapannya, sebelum tubuh keduanya terpental jauh.
Adalah warna merah pekat yang Itachi lihat, sebelum kegelapan merenggut kesadarannya.
.
.
.
Uchiha Fugaku menatap wajah pucat putra sulungnya. Ada raut kesedihan dan keputusasaan disana, hal yang tidak pernah Itachi tunjukkan sebelumnya.
"Ayah, bisakah… kita berhenti dari semua ini? Aku lelah."
Raut datar Fugaku belum juga berubah, masih datar dan dingin. "Ini warisan keluarga, Itachi."
Wajah Itachi menunduk sedih. "Jika begitu… bisakah kita bekerja dibalik layar? Aku tidak ingin Sasuke terlibat lagi—setidaknya hingga Sasuke dewasa nanti. Sudah cukup saingan ayah itu mencelakai Sasuke hingga ia menjadi seperti ini. "
Fugaku hendak berujar, namun Itachi buru-buru memotongnya. "Aku juga ingin melupakan kenangan menyakitkan disini."
"Itachi—"
"Dad, pleasee…"
Fugaku bungkam, lantas menggangguk mengiyakan.
Seminggu kemudian, keluarga Uchiha meninggalkan rumah utama di Britania Raya dan terbang ke tanah kelahiran nyonya besar—Uchiha Mikoto, di Jepang.
Flashback off
.
.
.
Disclaimer: Naruto © Masashi Kishimoto
Genre: Romance, Hurt/Comfort, Crime
Pair: NarutoXSasuke, ItachiXKyuubi
Leght: 6,7k+
Warning: BL/Yaoi! Mpreg! Alur acak-acak!
Don't like don't read!
.
.
Roar!
Chapter 9: The Past and The Truth
.
.
Happy Reading~
.
.
Tap
Tap
Tap
Langkah kaki itu begitu mantap menyusuri tiap belokan koridor rumah sakit. Butuh waktu hampir sepuluh menit lamanya untuk sampai kesebuah pintu dimana orang-orang kelas atas biasanya dirawat.
Cklek
Kaki bersepatu mahal itu kemudian menjejak masuk.
Seorang pemuda yang duduk bersandar diranjang pesakitan melirik seseorang yang baru saja masuk dengan ekor matanya. Ia mendengus pelan saat mengetahui bahwa Naruto-lah yang memasuki ruang inapnya.
Sementara Naruto, pemuda berwajah kusut itu masih belum sadar bahwa Sasuke telah sadar dari obat bius, dan kini Sasuke tengah menatapnya intens. Baru ketika suara dengusan terdengar, Naruto menggangkat wajah menunduknya, dan Naruto hampir menjatuhkan kantong makanan yang dibawanya saat melihat Sasuke telah sadar. "Sasu-chan! Kau sudah sadar?" Naruto terlalu bahagia untuk menyadari, bahwa dirinya telah memanggil Sasuke dengan panggilan sama seperti sepuluh tahun lalu.
Meletakkan kantong makanannya disofa, langkah kaki Naruto menjejak mendekati Sasuke. "Kau baik-baik saja, Sasu-chan?" Tangan besar Naruto menggenggam lembut tangan halus Sasuke.
Sasuke tersenyum miring memperoleh perlakuan penuh kehati-hatian dari Naruto. "Aku selalu baik-baik saja—" katanya, dengan sebelah tangan yang menangkup pipi Naruto dan menghapus setitik air mata yang menggenang disudut mata. "—Nii-sama."
Deg!
Manik biru Naruto membola penuh keterkejutan. Tubuhnya kaku dan bibirnya bergetar ketika berucap, "Ba—bagaimana kau tahu?" Naruto, ingat betul bahwa sebelumnya Sasuke tidak pernah menyadari bahwa dirinya adalah pria dimasa lalu. Dan, Naruto seratus persen yakin jika tidak ada satupun orang yang memberitahu Sasuke.
Oke, setelah Sasuke meledak beberapa saat lalu, obat bius menenangkan Sasuke hingga membuat pemuda itu tertidur lelap. Dan itu adalah baru tiga jam yang lalu. Jadi, dari siapa Sasuke mengetahuinya?
Dan… oh?! Apakah Sasuke baru saja mengukir senyum misterius?!
Naruto mengerjab, lalu menatap mata bulat Sasuke dengan binar mata penuh keseriusan. "Siapa kau?" tanyanya, penuh penekanan disetiap katanya. Aura intimidasi menguar dari tubuhnya, seakan menyatakan diri bahwa siapapun yang menentang perkataannya akan berakhir dineraka. Tangan besarnya menggenggam tangan lembut Sasuke yang masih bertengger dipipinya. Naruto meremas tangan mungil itu pelan, remasan yang menghantarkan getaran menuju jantung Sasuke yang berdegup kencang.
Senyuman itu… bukan milik Sasukenya. Sepanjang Naruto mengingat, Sasukenya tidak pernah mempunyai senyum miring yang terkesan misterius, dan sejenis dengan senyuman licik. Tidak, tidak. Bagaimanapun keadaan Sasuke, pemuda itu tidak akan pernah memiliki senyuman macam itu. Sasukenya terlalu inosen untuk memiliki senyum superior macam itu!
Senyum superior dibibir mungil Sasuke lenyap, berganti menjadi satu garis lurus. Raut emosi di wajah Sasuke dibuat seminim mungkin, walau kenyataannya, satu tegukan ludah dilakukan secara diam-diam. Sasuke, sungguh tidak menyangka jika ekspresi Naruto bisa semenakutkan itu!
"Aku Sasuke." Jawab Sasuke singkat, "Uchiha Sasuke." Tambahnya cepat-cepat.
"Sepuluh tahun aku mengawasimu, Sasuke. Dan selama itu, tidak sekalipun aku melihatmu tersenyum dengan cara seperti itu." Ujarnya, datar. Jenis suara yang tenang namun amat menusuk disaat bersamaan.
Sasuke membuang muka. "Aku hanya selalu melihatnya tersenyum, tapi sekalipun aku tidak pernah mencoba melakukannya. Jadi apa salahnya? Kami memang berbeda." Lirih Sasuke.
Naruto terdiam, mencerna perkataan Sasuke secara masak-masak. Beberapa saat kemudian, sebuah praduga muncul dipikiran Naruto. "Sasuke memiliki kembaran?!" ujar Naruto, setengah tak percaya. "Lalu dimana Sasu—"
"Kami tidak kembar, Naruto!" potong Sasuke cepat.
Tatapan manik hitam Sasuke begitu panik, membuat Naruto kali ini menghela nafas. Tenang, tenang. Semua pasti ada waktunya. Naruto mengulang kalimat itu dalam batinnya.
Kini suara Naruto berubah lembut ketika berujar, "Jadi… kau memiliki alter ego, begitu?" Yang Naruto maksud disini adalah kepribadian ganda.
"Tidak tahu." Sasuke menggeleng. "Tapi, satu hal yang kutahu, aku—Sasuke, terlahir dengan dua jiwa yang memiliki perbedaan karakter dan perbedaan pemikiran."
Naruto diam, menunggu penjelasan lebih lanjut.
"Saat aku berusia tiga tahun, aku mengalami kecekaan yang menyakitkan. Kau tahu? Aku hanyalah bocah yang berlimpah kasih sayang. Dari Tou-chan, Kaa-chan, dan Nii-chan. Mereka semua sangat menyayangiku, hingga sekalipun tidak pernah membuatku terluka. Dan dari kecelakaan itu, aku mengalami cidera ringan diotak, tangan kanan patah, dan beberapa tulang rusuk yang retak. Aku begitu takut untuk merasakan rasa sakit, jadi aku menyerah untuk bangun lagi sehingga aku tidak perlu merasakan rasa sakit itu. Egois memang, tapi itulah aku."
Sasuke menjeda sejenak, dan mendesah kemudian kala sebuah pelukan hangat membungkus tubuh kecilnya. Sebuah usapan lembut yang mengenai puncak kepalanya membuat Sasuke menggeliat lalu menyandarkan kepalanya didada bidang milik Naruto. Aroma maskulin yang menguar dari tubuh itu, sedikit banyak membuat Sasuke tenang.
"Memang benar jika aku tidak merasakan apapun termasuk rasa sakit yang kutakutkan, tapi aku tidak mati—setidaknya belum. Aku masih hidup dengan jiwa lain yang mengendalikan tubuhku. Dialah yang merasakan semua rasa sakit itu, sementara aku hanya tertidur pulas jauh didalam tubuhnya. Dia yang terlihat seperti bayi baru lahir. Aku tahu ini mustahil tapi percayalah, dia mengalami fase seperti bayi pada umumnya. Menangis, merangkak, dan mengeja dalam berbicara. Dia benar-benar seperti bayi." Sasuke, tanpa sadar tersenyum kecil mengingat memori itu. "Dan dia adalah Sasuke yang sejak sepuluh tahun lalu kau panggil dengan nama 'Sasu-chan'."
"Dan kau adalah Suke-chan." Sambung Naruto cepat. Naruto hanya berfikiran jika harus ada perbedaan dengan panggilan mereka.
"Ya, aku memang memanggil diriku sendiri dengan nama itu sewaktu aku kecil—eh? Kau percaya dengan semua cerita ini?"
Naruto tersenyum. "Tentu. Pancaran matamu tidak menampakkan kebohongan apapun."
Sasuke—atau saat ini, Suke, menatap mata biru lekat-lekat. Pandangannya amat teduh, dan menenangkan. Ada banyak cinta disana, dan Sasuke mengakui itu. Rasa sayang yang ada didalam hati Sasuke kian membuncah melihat kesungguhan dimata biru itu. Sejak pertama kali melihat Naruto, sejak pertama kali jantungnya berdetak cepat untuk Naruto, Sasuke sudah amat yakin bahwa Naruto-lah sosok malaikat yang akan benar-benar menjaganya. Benar-benar mencintainya, dalam keadaan apapun bahkan dengan keadaan seperti ini.
Orang-orang mungkin akan berkata bahwa keadaan seperti ini sangat… freak. Out of natural.
Tapi Naruto tidak. Pemuda itu menerima Sasuke begitu saja tanpa berfikir dua kali mengenai keanehan tak biasa itu.
Dan itu, membuat Sasuke semakin yakin untuk menyerahkan hidupnya kepada pemuda bermata biru itu.
Entah sejak kapan, posisi mereka telah berganti. Kini Naruto bersandar dikepala ranjang sedangkan Sasuke duduk diantara kedua kaki Naruto dan Sasuke tengah menyandarkan kepalanya didada bidang Naruto.
"Sekarang, Sasu-chan dimana? Apakah dia saat ini tengah tertidur jauh didalam dirimu, Suke-chan? Hal yang sama yang kau lakukan selama bertahun-tahun belakangan ini?"
Sasuke mendengus mendengar rentetan pertanyaan itu. "Biar kujelaskan beberapa hal penting kepadamu, Naruto. Pertama, selama bertahun-tahun aku tidak hanya tidur, tahu. Aku bangun dan mengawasi Sasu-chan dari dalam tubuh ini. Jika memang aku tertidur, memangnya dari mana aku mengetahui segalanya, seluk beluk tentang kehidupan Sasu-chan selama ini? Bahkan aku tahu jika kau yang membuat Sasu-chan, ah, maksudku, aku tahu jika kau yang membuat tubuh ini… hamil?" Diakhir kata, Sasuke berkata dengan nada bimbang. Dirinya, masih belum percaya sepenuhnya jika tubuh yang ditempatinya ini bisa mengandung, walau kenyataannya tubuh miliknya berjenis kelamin laki-laki.
Naruto meringis mendengarnya. Itu memang sebuah kesalahan, tapi Naruto benar-benar menyesal dengan kesalahan yang telah dilakukannya. "Aku tidak—"
"Tunggu," Sasuke memotong cepat, "Aku masih belum selesai bicara."
"Mm-hm." Naruto hanya bergumam seraya meresapi aroma lembut yang menguar dari tubuh Sasuke.
Sasuke bergidik geli merasakan hembusan nafas hangat Naruto ditengkuknya, tapi memilih mengabaikan perilakunya dan berniat kembali berbicara. "Dan yang kedua… ingat, Naruto. Ini hal yang paling penting. Jadi dengarkan baik-baik."
"Mm-hm, Suke-chan." Ujaran Itu dijawab Naruto dengan gumaman—lagi.
Sasuke mulai gerah dan detik berikutnya, ia berujar setengah berteriak. "Jangan panggil namaku dengan embel-embel itu, Naruto! Itu menggelikan, sangat!"
Naruto berjengit kaget mendengar seruan Sasuke, yang, well… cukup memekakkan telinga. "Suke."
"Hn."—bagus.
"Jadi?"
"Apanya?"
"Sasu-chan sekarang tengah melihat kita, begitu?"
"Tidak."
"Lalu?"
"Mm-hm." Sasuke hanya bergumam, hal sama yang dilakukan Naruto beberapa saat lalu. "Kenapa?"
"Apanya yang kenapa?"
"Kenapa kau melakukan kebohongan ini kepada Sasu-chan? Dia terlalu banyak berfikir tentang janinnya, dan juga tentang janjimu dimasa lalu. Kau mengatainya kasar seolah dia hanyalah seonggok sampah dimatamu, tapi disaat yang bersamaan kau memperlakukannya sangat istimewa seolah dia adalah ratumu. Dan Sasu-chan bingung dengan segala perilakumu. Kau membuatnya sangat… frustasi. Apalagi tentang kenyataan bahwa Sasu-chan mencintaimu, tapi dilain sisi dia juga berfikir tentantang janjinya dimasa lalu bersama seorang pemuda yang misterius baginya. Kau bahkan tidak mengatakan namamu!
Dan bukankah itu hal wajar bila Sasu-chan sangat-sangat frustasi hingga memilih untuk istirahat? Dia terlalu lelah, Naruto."
"Kau dan Sasu-chan mengenal satu sama lain?"
"Tidak. Ada pembatas diantara kami sehingga Sasu-chan saat ini tengah larut dalam dunia mimpinya, atau dengan kata lain, dia tengah koma. Tapi karena aku adalah pemilik dominan dari tubuh ini, aku mengetahui segalanya. Aku melihat apa yang Sasu-chan lihat dan aku merasakan apa yang Sasu-chan rasakan, kecuali dengan rasa sakit pada fisik."
"Jadi, selamanya Sasu-chan tidak akan tahu jika didalam tubuh ini ada jiwa lain yang selalu ingin dipanggil Suke, hmm?"
"Dia bisa tahu jika aku yang memutuskan pembatas itu—Ngh… mengingat aku pemilik dominan tubuh ini. Dan Naruto—berhentilah menciumi leherku, dan segeralah jawab pertanyaanku!"
Naruto menghela nafas lalu mendekap tubuh kecil Sasuke semakin erat. "Sepuluh tahun yang kujalani selama ini… tidak benar-benar sesuai dengan keinginanku. Keinginanku untuk berubah demi kau—maksudku kalian berdua, tidak pernah benar-benar berhasil. Sebelumnya, apa kau tahu jika keluargamu adalah salah satu keluarga mafia?"
"Tidak." Sasuke menggeleng. "Tapi aku sering mencium bau darah ketika Nii-chan pulang, atau noda darah yang pernah kulihat dibeberapa jas yang dipakai Tou-chan."
"Ya, Suke. Dulu, keluargamu adalah keluarga mafia yang menguasai bisinis gelap hampir diseluruh Britania Raya. Tapi entah mengapa, saat usiamu tiga tahun, mereka pindah ke Jepang dan memilih menjadi keluarga sederhana. Tapi dari sana, dibalik layar, keluargamu—termasuk kakakmu, masih menjalankan bisnis itu, hingga kini."
.
.
Flashback
Itachi: 17 y,o
Kyuubi: 16 y,o
Naruto: 15 y,o
.
Siang itu Naruto telah menyiapkan kopernya dan akan segera berangkat kebandara untuk terbang ke Amerika, tepatnya ke Kanada.
Drrt.. Drrt..
Getaran diponsel pintarnya membuat langkah kakinya yang hendak turun kelantai bahwah terhenti. Ia merogoh kantung jaketnya dan melihat siapa yang tengah memanggilnya.
Namikaze Kurama
Naruto memencet tombol hijau dan memulai obrolan. "Halo, Kyuu-nii?"
"…"
Tidak ada balasan dari seberang sana, kecuali suara rintih kesakitan.
"Halo, Kyuu-nii?! Kau kenapa?!" Naruto menyahut lagi, namun tak ada balasan kecuali keheningan.
Naruto harus melihat layar ponselnya untuk memastikan bahwa panggilan masih terhubung karena hanya ada keheningan diseberang sana.
Tidak ingin berdiam diri saja, Naruto kembali masuk kedalam kamarnya dan membuka koper besarnya. Dengan mengapit ponsel diantara bahu dan kepalanya, Naruto mengeluarkan laptopnya.
Terdengar teriakan keras disana dan suara benturan keras. Naruto bahkan hampir menjatuhkan ponselnya mendengar teriakan yang tiba-tiba itu.
Tuut.. tuut.. tuut..
Panggilan terputus.
Naruto mencoba untuk kembali menghubungi nomor kakaknya, tapi itu berbuah sia-sia karena nomor yang dituju sedang tidak aktif.
"Shit! Shit! Shit!" Umpat Naruto kesal.
Dengan satu tangannya, jemari kanan Naruto mengetik lincah diatas keyboard laptopnya. Sedang, tangan kirinya sibuk memencet ponselnya.
"Hallo, sayang? Kenapa tiba-tiba menelfon?" suara anggun diseberang sana, sedikitpun tidak mengurangi kegelisahan dalam diri Naruto.
"Hello, Mom. Kyuu-nii dimana?!"
"Oh, Kurma? Bukankah dia sedang bersamamu, Naruto? Sejak dua hari yang lalu dia berangkat ke Jepang karena rindu padamu, Naruto. Dan, Kyuubi juga akan bersekolah disa—"
Klik.
Panggilan diputus secara sepihak oleh Naruto, bersamaan dengan munculnya angka 100% dilayar laptopnya. Sedetik kemudian, layar komputernya menunjukkan sebuah lokasi di Negara jepang, berupa satu titik kecil berwarna merah.
Dititik itu, ada sebaris nama seseorang yang sangat-sangat familiar bagi Naruto.
'Namikaze Kurama.'
Naruto menyentuh layar laptopnya dan seketika peta lokasi dimana satu titik merah itu terlihat semakin jelas.
"SIALAN!" Naruto mengumpat keras begitu menyadari bahwa lokasi itu terdapat tanda tengkorak besar berwarna merah.
Itu adalah tanda yang sengaja Naruto berikan pada wilayah yang benar-benar harus dihindari.
Dan tanda tengkorak merah itu untuk… wilayah bisnis gelap, illegal, berupa—perdagangan manusia.
Layar ponsel itu diketuk-ketuk dengan jemari panjang. Tiga detik kemudian, suara halus diseberang sana menyapa indera pendengaran Naruto. "Halo?"
"Aku butuh seratus orang untuk mengepung sebuah tempat, SEKARANG!"
"Dimana tempatnya?"
"Aku sudah mengirimkan posisinya."
"Tunggu, akan saya buka—ah, tuan muda Kurama terjebak disana? Kita sudah memiliki lima puluh orang kepercayaan yang telah bekerja disana."
"Bagus. Kirimkan sisanya, dan kau, aku butuh denah yang lebih spesifik."
"Anda ingin bergabung dengan misi ini juga? Baiklah, saya akan memandu anda dari sini, Mr. Namikaze."
"Ingat, jangan memberitahu keluargaku, terutama pada mom. Aku mempercayakan ini padamu, Rick."
"Tentu, tuan. Anda bisa mempercayakan semuanya pada saya."
Klik.
Sedetik setelah panggilan itu berakhir, Naruto segera mematikan laptopnya. Lemari besar yang berada tak jauh dari pintu dibuka lebar-lebar, lalu salah satu titik didasar lemari besar itu ditekan.
Naruto beranjak dan mundur dua langkah.
Tidak memakan waktu lama hingga lemari itu berputar. Dibaliknya, terdapat kotak bertingkat yang berisi berbagai macam senjata.
Dua buah pistol berkaliber 24 disimpan rapi dibalik jaket hitamnya. Dua buah pistol kecil berperam suara disimpan dipinggangnya. Lalu, dua buah pisau mengkilat menempati dibalik kaus kakinya. Tak lupa, beberapa amunisi untuk senjatanya masuk kedalam saku jaketnya.
Sedikit membungkuk, Naruto menarik laci yang berada dibagian paling dasar. Dari sana, sebuah earphone kecil, bagian paling penting, diambil oleh Naruto dan Naruto langsung memakainya.
Terdengar banyak suara darisana, termasuk laporan anak buahnya yang menyatakan bahwa mereka telah siap diposisi dan tengah menunggu perintah dari Naruto.
Merasa siap, Naruto membereskan kembali letak lemari besarnya dan hendak keluar kamar untuk memulai semuanya, sebelum ia teringat akan suatu hal.
Dari balik laci dimeja nakas, dua buah kejut listrik dikantongi oleh Naruto. "Untuk berjaga-jaga," Naruto bergumam pada dirinya sendiri.
Naruto bergegas turun lalu mengemudikan motor sport warna merahnya.
"Tuan," suara Rick terdengar dari earphone yang terpasang ditelinganya.
"Panggil namaku, disaat seperti ini, Rick. Dan jangan terlalu formal." Sedikit berteriak Naruto menjawabnya. Ia mempercepat laju motornya untuk menyelip gesit diantara kendaraan-kendaraan disekitarnya.
"Baiklah, Christ. Aku telah berhasil meretas denah wilayah itu serta system keamanan disana dan CCTV juga. Peluang kita untuk menembus pertahanannya sangat besar, lebih dari apa yang aku bayangkan sebelumnya, karena pertahanannya begitu lemah. Intinya, ada 90% peluang kita untuk menghancurkan tempat itu."
"Ya, bagus." Gumam Naruto. "Rick, aku telah sampai di tempat. Sekarang aku berada di belakang bagunan ini."
"Kau bisa memanjat tembok itu karena laser merah yang terpasang diatas tembok telah kumatikan. Lewati itu hingga kau menemukan dua orang penjaga di pintu belakang. Pria yang tidak memakai jas dan hanya memakai kemeja putih adalah orang-orang kita."
Naruto mengikuti intruksi dari suara diseberang dengan memanjat tembok setinggi dua meter didepannya. Tak butuh waktu lama untuk melewati itu, dan Naruto segera mendapati dua orang berkemaja putih menyambutnya dipintu belakang gedung. "Tuan Christ?" salah seorang itu bertanya.
Naruto membalasnya dengan anggukan ringan.
Satu hembusan nafas dikeluarkan sebelum suara tegas Naruto berdengung diseluruh sambungan earphone, "Misi dimulai."
Melangkah masuk, mata Naruto disuguhi pemandangan sepasang pria dan wanita yang tengah making out, membuat Naruto geram dan segera saja melepaskan dua pelurunya untuk melubangi kepala mereka.
Dor Dor
"Cih," decih Naruto.
Isi didalam gedung ini terlihat biasa, sama seperti sebuah kantor perusahaan seperti kebanyakan. Yang membedakan adalah, tidak ada satupun orangpun yang terlihat baik-baik saja, karena kebanyakan dari mereka telah tergeletak tak sadarkan diri.
"Masuk kesebuah lift yang berada di dekat kamar mandi, yang akan membawamu kelantai bawah dimana bisnis itu berjalan selama ini."
Memimpin didepan, Naruto harus berkonsentrasi antara menembak titik vital para pengganggu dan mendengarkan pengarahan dari suara Rick diseberang sana.
Sebuah tempat layaknya bar dengan berbagai warna lampu yang sangat ramai. Banyak orang-orang yang tengah baku hantam satu sama lain, sedang beberapa terlihat menggunakan pistolnya untuk meregangkan nyawa sang lawan. Banyak dari merka yang—kebanyakan adalah pihak lawan, telah tergeletak dengan bersimbah darah.
Naruto menyerigai puas melihat hasil kerja para orang-orangnya. 'Mereka memang bisa diandalkan.' Batinnya.
"Semua jebakan telah dimatikan, dan kau bisa melewati lorong itu untuk mencapai kesebuah pintu untuk menuju lift yang berikutnya."
Atas bantuan dari beberapa orangnya, Naruto kini telah sampai di sebuah lorong. Banyak pintu disebelah kanan dan kirinya, namun Naruto mengabaikan itu begitu saja. Naruto dan dua orang dibelakangnya melewati sebuah lorong bercayaha remang. Didepan mereka kini, terpampang dua pintu lift yang entah mengarah kemana. "Lift mana yang harus kami lewati, Rick?"
"Pintu lift sebelah kanan adalah lift yang berasal dari lantai paling atas. Sedangkan pintu lift sebelah kiri digunakan untuk turun lebih turun kelantai bawah—kebawah tanah. Jadi, kalian harus menggunakan lift sebelah kiri."
"Sebenarnya ada berapa lantai dibawah tanah, sih?" gerutu Naruto.
"Ada lima, Christ. Kalian saat ini berada di lantai satu dibawah tanah, dan tempat dimana, orang-orang yang disekap berada dilantai empat."
"Baiklah."
Naruto hendak melangkah memasuki lift disebelah kiri, sebelum suara 'ting' dari lift kanan terdengar.
"Ada yang mendekat, tujuh orang di lift kanan."
Merasa tidak ada pilihan lain, Naruto dan dua orang dibelakangnya menodongkan senjatanya pada lift kanan yang mulai terbuka.
Tujuh orang didalam lift yang mengenakan pakaian serba hitam juga tengah menodongkan senjata mereka.
DOR DOR
Baku tembak mulai terjadi, merobohkan dua orang dipihak lawan sementara satu orang dibelakang Naruto tumbang. Hingga akhirnya, Naruto menyadari sesuatu. Bahwa, orang yang berada diurutan paling belakang dari tujuh formasi itu adalah…
"ITACHI?!" pekik Naruto tak percaya. "STOP! STOP! BERHENTI MENEMBAK! INI AKU, ITACHI! NARUTO!" teriak Naruto, sebelum korban berjatuhan lagi.
"NARUTO?!" sama halnya dengan Naruto, kini Itachi juga berteriak tak percaya. Ia menurunkan senjatanya dan menerobos orang-orang untuk keluar dari dalam lift. "Kenapa kau ada disini? Atau jangan-jangan kau itu—"
Naruto memotong cepat. "Bukan. Aku tidak ada hubungannya dengan bisnis gelap ini jika itu yang tengah kau fikirkan. Aku ingin menyelamatkan Kyuu—ah, kakakku yang terjebak disini."
"Kyuu—Siapa?"
"Kakakku."
"Bukankah nama kakakmu adalah Namikaze Kurama?" Itachi bertanya dengan bingung.
"Yep, tapi dia selalu bersikeras agar dipanggil Kyuubi." Jawab Naruto ringan.
"Kita tidak sedang membicarakan Kyuubi, bocah berambut merah dan tanpa marga yang berasal dari Inggris kan?" Itachi mulai gelisah ditempatnya.
"Well, masa kecil Kyuubi memang di Inggris, sih. Saat usianya sebelas tahun, Kyuubi pulang ke Amerika—disana rumah kami. Dan hal yang membuat keluargaku geram adalah, Kyuubi pulang dengan sebuah luka tusukan pisau dibahunya." Papar Naruto, berusaha tenang mengingat kejadian itu. "Dan sialnya, Kyuubi tidak pernah mengatakan siapa pelakunya. Sial!" umpat Naruto.
Wajah Itachi yang semula putih, bertambah putih hingga beriak pucat. Naruto yang menyadari perubahan ekspresi Itachi mengerutkan keningnya, gagal paham. "Jangan-jangan… kau mengenal Kyuu, Itachi?"
"Ya. Kyuu, dia—"
Suara Itachi tidak Naruto dengarkan karena kini ia tengah memfokuskan pendengarannya terhadap suara Rick. "Christ, cepatlah kesana. Kyuubi dalam bahaya. Dua orang pria ingin memperkosanya!"
"APA?!" pekik Naruto, garang. "FUCK!"
Mendengar umpatan kasar Naruto, membuat Itachi berfikir bahwa dirinyalah yang diumpati oleh Naruto. "APA?" Itachi menatap Naruto tajam.
Mata biru Naruto membalas tatapan tajam Itachi dengan pandangan tak kalah tajam. "Hentikan omong kosongmu dan pergilah dari sini. Jangan halangi jalanku untuk menyelamatkan Kyuubi." Ujar Naruto setajam mata pedang.
"A-aku disini untuk menghancurkan tembat si pengkhianat ini." Kata Itachi, sedikit terbata. Damn! Itachi tidak pernah mengira bahwa bocah lima belas tahun itu bisa membuatnya terpaku karena aura iblis bocah itu.
"KYUU HAMPIR DIPERKOSA, YA TUHAAN! CEPAT MENYINGKIR DARI JALANKU, SIALAN!" teriak Naruto.
Itachi tak lagi menyahut, melainkan berjalan lebih dulu memasuki lift. Wajahnya terlihat sangat serius, dan aura hitam pekat menguar dari tubuh atletisnya. Dua pistol digenggamannya dicengkeram erat-erat hingga buku-buku jarinya memutih.
Itachi benar-benar merasa… marah! Tidak ada satupun yang boleh menyentuh Kyuubi! Miliknya!
"Ayo kita habisi bajingan itu, Naruto!"
.
Flashback off
.
.
.
"Mission complete. Sejak saat itu, kami—aku dan Itachi, sama-sama tahu tentang jati diri masing-masing. Dan sejak saat itu pula, hidup kami berubah. Kedua keluarga kami membuat hubungan kerja sana, dan kami… sering terlibat misi bersama. Membunuh, membunuh, dan membunuh, dan membunuh. Itu sudah seperti makanan sehari-hari bagi kami." Naruto mengakhiri ceritanya dengan helaan nafas berat.
Sasuke mendongak, menatap tak percaya pada Naruto. Bibir mungilnya mengatup karena ia benar-benar… speechless.
"Tapi, itu tidak berlangsung lama. Karena, lima tahun setelahnya, ada kabar tak terduga dari pasangan Ita-Kyuu—ah, bahkan aku tak menyangka jika mereka saling mencintai. Padahal, hadiah special dariku untuk Itachi adalah menjodohkan mereka berdua. Tapi yah… ternyata mereka sudah mengenal sangat baik. Kyuubi hamil. Dari sana, Itachi memutuskan untuk berhenti karena Kyuubi memintanya begitu—katanya, sih. Itachi menyerahkan semua tugasnya kepada bawahannya. Well, karena aku tidak ada partner sebaik Itachi, maka aku pulang ke Amerika. Mencoba fokus dengan pendidikanku disana."
"Tentang Kyu nii-chan, dan kehamilannya?" tanya Sasuke, pelan.
"Kyuubi menetap disini hingga sekarang, dia tinggal disebuah rumah yang sedikit jauh dari rumah kalian. Dan, kehamilannya disembunyikan, termasuk keluarga kami berdua. Yang tahu hanya Itachi, aku, dan beberapa dokter yang menanganinya."
"Jadi, saat itu kau tidak benar-benar pergi dari Jepang? Dan baru pergi ke Amerika setelah lima tahun berlalu?"
"Maafkan aku, Suke." Naruto menunduk. "Aku hanya berfikir bahwa kau mungkin terlalu lemah untuk menghadapi situasi yang nantinya akan menjadi makanan sehari-hari kita. Keluargamu mafia, begitupun aku. Ini bukan sekedar permainan, melainkan pertaruhan nyawa. Karena itu, aku sering bersifat kasar padamu hanya karena aku ingin kau sedikit lebih kuat dalam menghadapi situasi apapun, bahkan saat keberadaanmu ditolak seluruh dunia. Aku ingin menguatkan mentalmu, Suke. Setelahnya, aku akan melatihmu sedikit beladiri agar setidaknya kau bisa melawan satu atau dua orang yang mengepungmu. Serta banyak hal lain yang ingin kuajarkan padamu.
Dan, tentang kau yang lupa dengan sosokku, itu merupakan sebuah keuntungan bagiku sehingga aku bisa menjalankan rencanaku itu. Disisi lain, aku juga merasa kecewa, karena orang yang paling aku cintai, justru melupakanku. Tapi, yah.. khusus hal ini memang salahku, karena aku tak pernah mengirim fotoku padamu. Bahkan aku tidak memberitahukan namaku padamu.
God! Pria macam apa aku ini, bisa melakukan hal sekeji ini padamu.
Maafkan aku, Suke."
Sasuke tertegun sejenak, mendengar penjelasan panjang Naruto. "It's ok. Terima kasih telah menjelaskan kesalahpahaman ini." Lirihnya.
Masih menunduk, Naruto berujar pelan. "Kau membenciku, kan, Suke? Aku seorang pembunuh. Itu memang pekerjaan, tapi aku membunuh orang untuk kesenangan."
"Aku tidak." Jawab Sasuke mantap.
Sasuke memang masih tidak menyangka bahwa, pemuda didepannya ini, telah melakukan hal sekeji itu: membunuh orang.
Sasuke tidak bisa menyalahkan Naruto akan keadaan ini, karena satu hal yang diketahuinya, sekalipun seseorang memasuki dunia hitam, maka akan sulit untuk pergi. Dan itu akan terus berlangsung dalam garis keturunan, seperti halnya keluarganya sendiri.
Tapi anehnya, Sasuke tidak sekalipun membenci Naruto karena itu. Apalagi, takut kepada Naruto.
Tidak sama sekali.
Well, mungkin pepatah yang mengatakan bahwa cinta itu buta, memang benar-benar tepat.
Melihat Naruto yang masih nampak menundukkan wajahnya membuat Sasuke berdecak. Dengan kedua tangan kecilnya, Sasuke menangkup pipi Naruto.
Sebuah kecupan ringan mendarat dibibir penuh Naruto, membuat pemuda bermata biru itu terbelalak kaget.
"Perlu dengan cara ini untuk meyakinkanmu, Naruto?"
Naruto berkedip, lantas tersenyum.
Satu tangan Naruto menarik tengkuk Sasuke dan mendorongnya pelan. Bibir mereka kini kembali bersentuhan, menempel dengan sentuhan lembut. Naruto menjilat bibir mungil Sasuke, sebelum memanggutnya dengan gerakan pelan.
Sasuke yang belum pernah berciuman, hanya mengikuti arus. Dengan gerakan malu-malu, Sasuke menggerakkan bibirnya membalas panggutan Naruto.
"Mnmh…"
Suhu udara makin memanas, begitupun dengan panggutan Naruto yang semakin liar. Lidah basah Naruto menjulur keluar, menjilat bibir bawah Sasuke pertanda bahwa Naruto ingin Sasuke membuka bibirnya. Tapi itu tak kunjung terjadi, karena… damn! Naruto baru ingat jika Sasuke tidak pernah berciuman.
Ditengah gelombang api yang membakar tubuhnya, Naruto berbisik pelan diantara jilatannya dibibir mungil Sasuke yang telah basah. "Buka mulutmu, Suke."
Sasuke menurut tanpa banyak protes.
"Nghh…"
Ketika bibir mungil itu membuka, sebuah lidah menerobos masuk dan menyapa tiap sudut mulutnya. Mengabsen gigi-gigi rapi milik Sasuke, juga langit-langit mulut yang sukses membuat Sasuke mendesah panjang.
"Ahh—mmmh…"
Kepala Naruto miring lagi beberapa derajat, mencari posisi yang semakin nyaman dalam ciuman pertama mereka. Tangannya semakin mendorong tengkuk Sasuke hingga lidah aktifnya mampu membelit lidah pasif milik Sasuke. Walau terkesan amatir, Naruto menyukai bagaimana lidah Sasuke bergerak-gerak pasif membalas lumatannya.
"Mnmm—Narutoh…" Sasuke meremas rambut Naruto.
Seiring dengan libidonya yang makin meningkat, celana Naruto juga makin sesak. Tapi mengingat kondisi Sasuke saat ini, Naruto tidak tega jika melakukannya saat ini. Nafsunya bisa tersalurkan kapan-kapan, yang lebih utama adalah kesembuhan Sasuke. Dan Naruto juga berfikir jika seharusnya ia melakukannya jika Sasuke yang lain juga mengetahui tentang kejadian masa lalunya, juga Sasu-chan harus mengetahui jika dalam tubuhnya ada jiwa lain.
Maka dengan pemikiran itu, Naruto menghentikan ciumannya.
Mata biru Naruto menatap Sasuke dalam-dalam. Menatap keadaan Sasuke yang berantakan, dengan bibir mungilnya yang membengkak. Berwarna semakin merah dan merekah. Sementara nafasnya kembang-kempis karena nafasnya tercuri bersamaan dengan ciuman liar Naruto.
Naruto menyerigai bangga dengan apa yang dibuatnya.
Tapi tiba-tiba, sebuah pertanyaan melintas dipemikirannya. "Suke, bukankan ini pertama kalinya kau bertemu denganku secara langsung? Tapi rasanya, kita tidak canggung sama sekali, dan bahkan kita bersikap seperti pasangan suami-istri yang baru menikah. Kenapa, ya?"
Sasuke mengendikkan bahunya. "Entahlah." Tapi diluar dugaan, wajah Sasuke memerah hingga telinga dan lehernya.
Naruto tertawa geli dengan reaksi super menggemaskan itu, membuat Naruto ingin menggoda Suke-nya lebih lama lagi. "Suke, wajah kamu meroh lho." Ujar Naruto dengan nada jahil.
Sasuke membuang muka. "Hn." Gumamnya.
"Suke~~"
"Hn."
"Suke-chan~~"
"Hn!"
Naruto semakin tertawa keras. "Su—"
Sasuke memotong cepat, "Belikan aku ramen!"
"Ramen?" kening Naruto berkerut mendengarnya. "Bukankah kau(Sasu) dari dulu tidak menyukainya?"
"Hn." Gumam Sasuke acuh.
"Makan sushi saja, ya? Tadi aku baru saja membelinya."
"Tidak mau."
"Ah, atau kau mau yang lain, Suke? Yang penting jangan ramen."
"Memangnya kenapa? Tidak boleh?" Mata hitam Sasuke memicing tajam. "Suka-suka aku, kan. Yang makan juga, aku." Suara Sasuke yang lembut telah berganti dengan suara ketus.
"Tapi—"
Mata bulat Sasuke semakin melotot tajam menatap Naruto. "Belikan aku ramen, Naruto. Cepat, dan yang pastinya, harus hangat."
Naruto meringis.
Masalahnya itu, kedai ramen dari rumah sakit ini sangat jauh. Butuh waktu hampir satu jam untuk kesana, dan Naruto tidak mau menyia-nyiakan waktu sebanyak itu untuk meninggalkan momen-momen seperti ini. Pada intinya, Naruto tidak mau meninggalkan Sasuke sendirian.
"Naruto, kau sungguh tidak ingin menuruti keinginan anak kamu, ya?" Sasuke, untuk pertama kalinya setelah belasan tahun tidak melakukannya, kini mengeluarkan puppy eyesnya. Raut wajahnya terlihat sangat menggemaskan walau ada tatapan anak anjing terbuang disana.
Ugh.
"Baiklah, baiklah." Naruto luluh juga pada akhirnya. Ia beranjak dari kasur dan mengecup singkat dahi Sasuke.
Saat tangannya hendak menyentuh kenop pintu, suara Sasuke menginterupsinya.
"Naruto?"
"Iya, sayang?" sahut Naruto, menoleh.
"Tomatnya yang banyak, ya?"
Naruto melotot ngeri, tapi tidak jadi, karena puppy eyes disana membuat Naruto lupa diri.
Pemuda bermata biru itu tidak menjawab, hanya memberi anggukan dan segera keluar dari ruang rawat inap VVIP itu.
Didalam keheningan ruang inap itu, Sasuke tidur berbaring menatap langit-langit bercatkan putih bersih. Tak lama, wajahnya menoleh kesamping, dimana disana, ada sebuah jendela besar dengan gorden yang terbuka.
Mata bulatnya menatap langit biru, dengan fikiran yang mengawang jauh.
.
Punggung lebar itu bersandar pada pintu dibelakangnya, sementara pemiliknya menghela nafas.
Lega.
Setidaknya, Sasuke tidak membencinya, atau hanya Suke.
Hanya perlu menunggu waktu untuk menjelaskan semuanya kesalahpahaman—kebodohan—yang dibuatnya, kepada jiwa Sasuke yang lain.
Naruto kembali menghela nafas, menenangkan fikirannya yang tengah kalut. Karena tidak ingin membuat Sasuke menunggu terlalu lama, maka Naruto memutuskan untuk segera pergi membeli ramen sesuai permintaan Sasuke.
Belum sempat menjejak lima langkah, sebuah getaran disaku ponselnya membuat Naruto menghentikan langkahnya. Saat melihat id caller dilayar ponsel, tanpa fikir panjang Naruto langsung menggangkatnya.
Percakapan itu sangat singkat, hanya berlangsung sekitar tiga menit. Tapi setelahnya, perbincangan singkat itu membuat aura hitam menguar dari tubuh Naruto.
Setelah panggilan itu terputus secara sepihak, Naruto menelfon seseorang.
"Moshi-moshi.." sahutan malas dari seberang sana membuat Naruto menggeram.
"Bawakan seluruh anggotamu untuk menjaga Sasuke dirumah sakit, sekarang juga. Oh, serta jemput Ken disekolah dan seret Kyuubi dibawah penjagaanmu." Jeda sejenak. "Shika, kau mendengarku?" ujar Naruto tajam.
"Iya, iya. Tentu." Suara diseberang sana berubah tegas.
"Jaga mereka dengan baik, atau kepalamu akan kupenggal jika terjadi apap-apa kepada mereka. Dan, oh, khusus untukmu Shika. Belikan dua bungkus ramen di kedai paman Teuchi, dan bilang pada paman jika harus ditambahkan tomat yang banyak. Berikan pada Sasuke nanti."
"Hah?!" seru suara diseberang sana, spontan. "Mana ada ramen pakai tomat? Are you kidding me, Boss?"
"Aku tidak."
"Tap—tapi…"
Klik.
"You son of a bitch!"
Naruto menggeram, marah.
'Lihat saja, apa yang akan kulakukan nanti. Dan kupastikan, kau akan memilih mati daripada berurusan denganku!'
Dengan langkah tegas, Naruto berjalan meninggalkan rumah sakit, mengabaikan tatapan takut serta kagum dari setiap orang yang dilaluinya.
.
.
.
TBC!
.
.
Semoga tidak membosankan :D
Review, please?
.
.
SuzyOnix:
"Selamat hari raya Idul Fitri semua—bagi yang merakan."
[05/07/2016]
