Chapter 9

.

.

.

Sudah seminggu sejak Itachi menjadi guru baru Naruto. Dan sejak itu pula Itachi melihat keanehan pada diri muridnya tersebut. Entah mengapa ia merasa tak asing. Padahal ia yakin, ia baru pertama kali bertemu dengan Naruto.

Saat ini ia sedang memperhatikan seluruh kelas yang serius mengerjakan kuis dadakannya. Ia dapat melihat Inuzuka Kiba, sahabat Naruto, berkali-kali menggaruk kepalanya.

Disebelahnya si pemalas kelas ini Nara Shikamaru. Ia terlihat santai dalam mengerjakan soal. Berkali-kali menguap dan beberapa kali terantuk di meja.

Dan yang paling menarik perhatian Itachi, Namikaze Naruto, putri bungsu keluarga Namikaze. Si bungsu ini terlihat mengerjakan dengan sangat tenang. Tenang dan juga pasti.

"Waktu mengerjakan kalian kurang dari 5 menit. Hasil akan langsung dibagikan nanti selesai pembelajaran. Dan yang terendah akan mendapatkan hadiah dariku" Itachi menyeringai senang melihat perubahan mimik wajah murid-muridnya.

Ia berjalan mengelilingi kelas, memastikan tidak ada yang melakukan kecurangan. Sesekali ia mengintip jawaban murid-muridnya lalu tertawa tertahan ketika melihat jawaban mereka.

Ketika ia sampai didekat Naruto, sesuatu terjadi. Cincin yang selama ini ia jadikan kalung mulai bergetar. Matanya melirik sedikit pada Naruto. Semakin ia fokus pada Naruto, semakin kuat getarannya.

Tanpa ia sadari, ia berdiri mematung di belakang Naruto yang memang duduk dibangku paling belakang. Menatap pemilik surai pirang tanpa berkedip mengabaikan getaran kalung dilehernya.

"Menjauh kau dari milikku!"

Sebuah suara keras mengejutkan Itachi. Saking terkejutnya ia sampai terjatuh terduduk dibelakang Naruto. Karenanya ia menarik perhatian seluruh kelas.

Menyadari situasinya, Itachi segera berdiri. Mencoba mengalihkan perhatian mereka dengan memerintahkan untuk segera mengumpulkan kertas mereka.

"Apa itu tadi?"
.

.

.
Kiba terlihat sedang mengerjakan tumpukan soal dari Itachi. Berkali-kali umpatan untuk sang guru tampan terdengar dari mulutnya. Saking kesalnya ia mencengkram pensilnya sangat erat hingga tangannya memutih.

Naruto yang berada disampingnya hanya tersenyum geli. Mengabaikan kotak bekalnya yang terbuka. Diliriknya Shikamaru yang tertidur tak memperdulikan gerutuan Kiba.

"Mau ku bantu Kiba?" Tawar Naruto.

"Bolehkah?" Kiba menatap Naruto dengan mata berbinar.

"Tentu saja, datanglah ke rumahku nanti. Akan aku bantu kau disana"

Mendengar itu Kiba melonjak senang. Dengan segera ia menyingkirkan tumpukan soal-soal itu dari atas mejanya. Dan segera digantikan kotak bekalnya yang dibuka secara tidak sabar.

"Kau tak mau ikut kerumahku Shika?"

"Hmm... Akan aku usahakan"

Mendengar jawaban Shikamaru membuat Naruto tersenyum senang. Ia menyuapkan bekalnya dengan diikuti senyuman.

"Hei Nara, kau dicari Uchiha senpai"

Sebuah suara mengganggu acara tidur Shikamaru. Dengan malas-malasan ia mengangkat kepalanya. Kali ini gerutuan keluar dari mulut Shikamaru.

"Ada apa? Kau terlihat tak senang Shika?" Kiba bertanya penasaran.

"Uchiha senpai ingin aku mewakili sekolah ini mengikuti olimpiade matematika" Shikamaru mendecih keras "padahal aku tak ingin mengikutinya. Kenapa ia keras kepala sekali!" Shikamaru berjalan pelan menjauh.

"Bodoh, gantikan saja dengan Naruto. Dia juga jenius sepertimu kan" Kiba memberi saran pada Shikamaru dan dibalas dengan pukulan sayang dari Naruto dikepala Kiba.

"Kau benar, ayo Naruto" Shikamaru menyeret Naruto yang kini sedang meronta-ronta ingin dilepaskan.

Didepan kelas sang senpai terlihat terheran-heran dengan Shikamaru yang menarik paksa seorang gadis. Sangat terlihat sekali bahwa gadis itu sangat kesal. Lagipula buat apa Shikamaru menyeret gadis itu, dia hanya ada perlu dengan Shikamaru.

"Nara-kun aku..."

"Aku tahu apa yang ingin senpai katakan, seperti yang kukatakan kemarin aku menolak" Shikamaru dengan tidak sopannya memotong ucapan senpai nya tersebut.

"Tetapi..."

"Aku merekomedasikan dia sebagai penggantiku" Shikamaru menarik Naruto lebih dekat.

Mata onyx itu bertemu dengan sepasang mata sapphire jernih. Mata yang sanggup menghipnotis orang-orang. Begitu juga dengan si pemilik mata onyx.

"Nah senpai perkenalkan ini Namikaze Naruto, teman sekelasku" Naruto membungkukkan sedikit badannya mencoba bersikap sopan.

"Naruto ini Uchiha Sasuke, senpai kita" Sasuke menganggukkan kepalanya kaku. Matanya tak lepas dari sosok didepannya.

"Uchiha senpai..."

"Sasuke desu" Sasuke memotong perkataan Naruto.

"Umm Sasuke senpai..."

"Sa-su-ke"

"Ah hai, Sasuke-san?" Naruto memanggil tak yakin. Shikamaru yang melihat interaksi keduanya terlihat sedikit pusing. Sedang Sasuke terlihat kesal.

"Kau hanya perlu memanggilku Sasuke, Dobe!"

"Tentu saja TE-ME-senpai" Naruto tersenyum membalas ejekan Sasuke. Walau jelas terlihat senyum itu dipaksakan oleh pemiliknya yang sedang kesal.
.

.

.
Naruto terus menghela napas sejak melangkah keluar dari lingkungan sekolah. Ia tak habis pikir dengan salah satu sahabatnya. Dengan tak berperikesahabatan, dia memaksa Naruto mengikuti olimpiade menggantikannya.

Belum lagi senpainya yang terlihat aneh. Sejak mereka berkenalan entah berapa kali senpainya tersebut mencoba mendekatinya. Naruto tentu saja tidak buta. Sebuah benang merah mencoba mengikatnya sejak tadi.

Tetapi hal itu tidak akan pernah terjadi. Karena sebenarnya senpainya itu telah bertemu dengan benang merahnya. Hanya saja senpainya itu sangat terlalu peka untuk menyadarinya.

Hari ini Naruto memilih pulang sendiri menggunakan kereta. Ia sedang ingin sendiri. Sebenarnya ia ingin menenangkan diri. Kejadian tadi membuat dia merasa tak nyaman. Bukan tentang Shikamaru sahabatnya ataupu Sasuke, tetapi ini tentang guru barunya, Itachi sensei.

Kereta yang membawanya pulang baru saja berangkat. Saat ini kereta terlihat sedikit penuh. Sialnya Naruto tak kebagian tempat duduk.

Sepanjang perjalanan dihabiskan Naruto untuk melamun. Inginnya ia tak terlalu memikirkan Itachi sensei. Tetapi sikap dewa rubah itu mau tak mau membuat ia memikirkan tentang Itachi sensei.
Naruto membenarkan tasnya ketika telinganya mendengar stasiun tujuannya telah dekat. Ia bersiap-siap mengambil pintu sebelah kiri untuk keluar.

Langkah kakinya lebar membuat ia berjalan begitu cepat. Entah mengapa jantungnya berdegup cepat. Matanya bergerak liar memperhatikan keadaan stasiun yang terlihat ramai.

Sejak keluar dari kereta Naruto merasa seperti diawasi. Semua indranya menegang mencoba siaga untuk mengantisipasi apapun yang terjadi.

"Cepat keluar dari tempat ini gaki"

Tak banyak bertanya Naruto mengikuti saran Kyuubi. Ia berlari secepat mungkin untuk keluar dari stasiun. Tak ia perdulikan orang-orang yang tak sengaja ia tabrak.

Berhasil keluar, dengan terengah ia menoleh kebelakang. Tanpa sengaja matanya bertemu dengan sepasang mata berwarna merah. Matanya memancarkan kegelapan yang pekat membuat Naruto mampu bergetar ketakutan.
.

.

.
Seperti yang dijanjikannya tadi di sekolah Naruto benar-benar membantu Kiba mengerjakan tugasnya. Ia bahkan mendapat bonus makan malam bersama dengan keluarga Namikaze.

"Nee Naru, aku sangat beruntung dapat berteman denganmu" entah mengapa Kiba berkata seperti itu.
"Aku juga beruntung kau menjadi sahabatku Kiba" Naruto tersenyum menanggapi ucapan Kiba.

"Jangan-jangan kau nanti akan menjadi keluarga Inuzuka Naru" Kiba memegang dagunya memasang pose berpikir sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.

"Dan aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi" Kurama yang mendengar celetukan Kiba dengan segera memukul kepala Kiba.

"Niisan kejam sekali" Kiba menatap Kurama kesal sambil mengusap kepalanya yang di pukul oleh Kurama.

Malam itu suara ramai terdengar dari arah ruang tamu keluarga Namikaze. Menjadi sebuah melodi membahagiakan bagi seseorang. Ia terus memeperhatikan interaksi antara sang pemuda Inuzuka dan kakak tertua di keluarga Namikaze dan jangan lupakan suara tawa yang terdengar merdu dari putri bungsu keluarga Namikaze.
.

.

.
Itachi menatap cincin yang selama ini menemaninya. Ia ingat dulu saat dia kecil salah satu kerabat jauhnya memberikan cincin itu kepadanya.

"Kau harus menjaganya Itachi, cincin ini yang akan membawakan kebahagiaannya padamu"

Sampai sekarang ia masih tak mengerti maksud dari kerabatnya itu. Dan sekarang cincin ini bereaksi keras dengan kehadiran seorang Namikaze Naruto. Tapi mengapa harus Naruto.

Jangan lupakan suara misterius itu. Ia tidak takut hanya heran saja. Memang milik siapa yang ia ganggu. Itachi benar-benar dibuat pusing.

Tok tok tok

"Aniki, kau belum tidur kan?"

Mendengar suara adiknya dengan segera Itachi meletakkan cincin itu didalam laci. Entah mengapa ia tak ingin adiknya mengetahui tentang keberadaan cincin tersebut.

"Masuk saja Sasuke, aku tak menguncinya"

"Aku tidak berniat untuk masuk, tetapi kaasan ingin berbicara denganmu"

Itachi menghela napas lelah. Melihat kelakuan adiknya yang tsundere itu terkadang menggelikan tetapi bisa jadi menjengkelkan. Seperti saat ini.

"Aku akan segera turun"
.

.

.
Karin menatap marah pada kekasihnya, bukan, mantan kekasihnya. Sungguh tak memiliki perasaan mantan kekasih didepannya ini. Setelah dia memutuskan dirinya dan sekarang meminta bantuannya untuk membantu dia mendekati Naruto. Yang benar saja!

"Kau masih marah padaku karena memutuskanmu Karin?" Suigetsu mencoba mengambil tangan Karin yang langsung ditarik menjauh oleh pemiliknya.

"Tentu saja! Kau pikir wanita mana yang tidak marah mendengar kekasihnya menyukai orang lain! Oh dalam kasus kita adalah mantan kekasih!" Karin membuang pandangannya memilih tak melihat wajah tampan yang dulu pernah dipujanya.

"Tetapi aku sudah meminta maaf padamu Karin" Suigetsu mencoba menurunkan emosinya yang sejak tadi terus meninggi.

"Lalu sekarang kau ingin aku membantumu untuk mendapatkan Naruto setelah kau meminta maafku padaku? Sungguh sangat BAGUS sekali!" Karin menyilangkan tangannya didada memasang pose angkuh.

"Aku tidak memintamu untuk membantuku mendapatkannya aku hanya ingin meminta no hpnya atau paling tidak email saja cukup" sungguh Suigetsu belum pernah merendah sampai seperti ini.

"Kalau begitu selamat berjuang untukmu"

Karin berdiri dan memilih untuk segera pergi. Ia sudah muak melihat wajah Suigetsu. Ia memang sakit hati, tetapi ia lebih tidak rela adiknya mendapatkan laki-laki seperti Suigetsu. Adiknya terlalu terhormat untuk laki-laki gila itu.

"Ah dan satu lagi, aku memang memberimu maaf tetapi bukan berarti aku akan membiarkan adikku dekat denganmu. Lagipula kau masih harus berhadapan dengan seluruh Namikaze jika kau ingin mendapatkan matahari mereka"

Karin segera menjauhi mantannya itu. Ia berharap ia takkan pernah bertemu dengan Suigetsu. Rasa cinta yang dulu ia berikan pada Suigetsu saat ini hilang tak berbekas. Rasa itu berganti menjadi rasa geli dan jijik.

"Ah kenapa aku dulu harus menerima laki-laki menjijikkan itu"
.

.

.
Deidara dan Kurama sedang sibuk saling menatap di ruang tamu. Kening mereka berkerut dalam. Sesekali gumaman tak jelas keluar dari keduanya bergantian. Kushina yang melihat kedua putranya hanya dapat tersenyum geli.

"Kenapa kalian berdua terlihat sefrustasi itu?" Kushina menghampiri kedua putranya dengan dua gelas jus jeruk ditangannya.

"Satu bulan lagi bukankah Naruto ulang tahun yang ke 16 tahun bukan kaasama" Deidara beralih menatap sang ibu yang sedang meletakkan jus jeruk di depan keduanya.

"Lalu?"

"Kami ingin memberikan kado kepadanya tetapi kami tak tahu harus memberikan apa" Kurama mengacak rambut panjangnya frustasi.

"Kalian masih memiliki waktu yang banyak untuk mempersiapkannya bukan"

"Karena itu masih lama kami ingin yang terbaik untuknya" Deidara meremas tangannya gelisah ketika ia tak kunjung menemukan ide yang menurutnya bagus.

"Kalau begitu berjuanglah kalian" Kushina meninggalkan kedua anaknya yang terlihat kesal kepadanya.

"Kaasama benar-benar tidak membantu"
.

.

.
Tidak biasanya Naruto mengabaikan Kyuubi. Saat ini ia sangat marah pada dewa rubah itu. Ia marah karena Kyuubi meminta sesuatu yang tidak mungkin padanya.

"Tolonglah kali ini kau turuti permintaanku gaki"

Naruto memutar matanya malas. Ia pandangi rubah yang sudah 10 tahun menemaninya. Masih merasa marah, ia melangkahkan kakinya menuju balkon kamar. Ia benar-benar tak ingin membahas hal ini lagi, tapi tidak untuk sang rubah.

"Naruto"

"Bukankah aku selalu menuruti apapun yang kau katakan Kyuu, tapi ini sudah keterlaluan!"

"Naruto dengar, aku hanya ingin melindungimu saja"

"Apapun alasanmu Kyuu, itu tidak membenarkan apapun!" Naruto mencengkram pembatas besi yang terpasang di balkon kamarnya erat.

Kyuubi menggeram marah melihat kekeras kepalaan Naruto.

"Kenapa kau sangat keras kepala! Aku hanya ingin melindungimu! Kau tak mengerti apapun Naruto!" Kyuubi menyalak keras memperlihatkan gigi-gigi tajamnya pada Naruto.

"Cukup aku tak ingin membahas hal ini lagi, mau tak mau, suka tak suka aku tetap tak bisa menjauhinya"

Dengan itu Naruto pergi, ia keluar dari kamarnya menghindari Kyuubi. Sedang Kyuubi memandang sendu Naruto. Ia tahu permintaannya adalah hal yang mustahil tetapi ia tak ingin kejadian itu terulang kembali. Sudah cukup sekali ia rasakan. Sekarang ia tidak akan membiarkan hal itu terjadi lagi.

"Mungkin aku harus benar-benar melakukan itu atau dia... Ck kuso!"
.

.

.

Kurama terdiam di kursinya. Ia membiarkan manganya terbuka ditangannya. Barusan tanpa sengaja ia mendengar Naruto berteriak pada rubah miliknya. Selama ini Naruto sangat menyayangi rubah miliknya itu. Tak pernah sekalipun Naruto membentak rubah itu.

Bukanlah hal aneh seseorang mengajak berbicara hewan peliharaannya, tetapi interaksi antara Naruto dan Kyuubi terasa aneh ditelinga Kurama. Seakan-akan Naruto benar-benar berbicara pada seekor rubah. Tetapi sedetik kemudian Kurama mentertawakan pemikirannya, ia menggelengkan kepalanya dan kembali mencoba fokus pada manga yang baru saja ia beli itu.

Baru saja Kurama tenggelam pada manga yang ia baca, tiba-tiba saja rubah milik Naruto duduk tenang dihadapannya. Kurama sangat terkejut, saking terkejutnya ia bahkan sampai terjatuh di lantai kamarnya.

"Aku tahu kau mendengarkan pertengkaran kami barusan Namikaze Kurama" Kurama memandang horor rubah didepannya.

"Kau tentu sudah tahu namaku dari cara Naruto memanggilku selama ini, tetapi aku akan memperkenalkan diriku secara resmi kepadamu"

Sang rubah berjalan pelan mengitari Kurama yang terduduk kaku. Ia menatap tajam mata Kurama mencoba memberikan intimidasi. Dan berhasil, Kurama terlihat gemetaran. Kyuubi terkekeh pelan melihat Namikaze tertua itu.

"Tak kusangkan seorang Namikaze terkuat takut pada seekor rubah kecil" Kyuubi menatap Kurama dengan pandangan mengejek. Tetapi dengan cepat ia merubah wajahnya menjadi serius.

"Perkenalkan namaku Kyuubi, aku adalah dewa rubah Kurama jika kau ingin tahu"

"Dewa rubah?" Kurama tak tahu harus berekspresi seperti apa, ia sudah cukup terkejut ketika rubah milik adiknya berbicara padanya.

"Jadi kau adalah dewa yang menjaga adikku?" Kurama menatap Kyuubi antusias.

"Bukan" Kurama menatap Kyuubi tak mengerti "Akulah yang bertanggung jawab dengan hilangnya kehangatan Naruto selama ini"

Tubuh Kurama terasa sangat lemas mendengar pernyataan itu. Rubah yang selama ini menemani Naruto adalah yang paling bertanggung jawab dalam perubahan Naruto.

"Apa?!"

TBC

Hai reader-tachi apa kabar? hehehe maaf aku menghilang gitu aja, fanfic ini masih lanjut kok hanya saja aku akan jarang publish disini. Kalian bisa menemukan fanfic ini di wattpad, akunku masih menggunakan Mizutani Miki kok. Disana mungkin aku akan lebih aktif dari pada di sini karena di wattpad aku bisa menulis dari HP sih. Di semester tua ini aku akan jarang membuka fanfiction karena harus fokus dengan tugas akhir aku sebelum wisuda, jadi tolong dimaafkan ya. Ah bagaimana dengan chapter ini? Semoga kalian tidak bosan ya. Kritik dan Sarannya jangan lupa. Terimakasih sudah membaca :)