"Ya, Papa, aku janji aku akan terus berada di Crypton, menjadi atlet seperti Papa dulu, membuat Papa bangga dengan diriku! Aku janji tidak akan mengecewakan Papa! Aku janji aku akan terus berada di Crypton apapun yang terjadi!"
Circle.
Aku terbangun dengan perasaan campur aduk. Rasanya sungguh sangat tidak mengenakkan, seolah aku baru saja muntah dan kemudian menelan kembali muntahanku sendiri—ueek!
Aku mencecap sendiri lidahku, berusaha mengecek apakah aku memang benar-benar muntah selagi aku tidur dan tidak menyadarinya sama sekali atau memang ini cuma pengandaian dari perasaanku yang kacau. Tidak ada yang berbeda, kurasa aku cuma berhalusinasi.
Aku menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan. Apakah cuma perasaanku saja atau memang ranjang di Crypton terasa begitu sempit dan panas? Seolah-olah.. ada orang lain yang tidur di sampingku—oh no! Aku menoleh ke sisi kananku, berharap bahwa aku lagi-lagi aku berhalusinasi, namun aku segera membeku ketika menemukan mata sebiru lautan memerangkapku. Tuhan!
"Selamat pagi, Len-kun!"
"Kyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!" Dan... "Aduuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuh!"
Aku menjerit-menjerit sekuat yang aku bisa dan segera menjauh dari tempat pemuda tampan berambut biru itu secepatnya. Namun, keterbatasan ruang menghambatku. Kepalaku terbentur pegangan ranjang, membuatku meringkuk kesakitan sementara pemuda yang mendadak berada di sebelahku justru tertawa puas.
Tuhan... penderitaan apa pula ini... rasanya aku ingin menangis... menangis... menang—
"Jangan nangis, Len-kun," suaranya yang lembut terdengar di telingaku—nggak, Rin, suaranya nggak lembut! Dan dia juga nggak tampan!—"cowok nggak nangis, Len-kun, yang nangis itu cewek!"
Oke, aku siap menghadapi kenyataan bahwa identitasku diketehui oleh cowok tampan—coret, Rin! Kaito-senpai nggak tampan! Dengar aku? Nggak tampan!—bernama Shion Kaito yang entah bisa menebaknya hanya karena mulutku yang susah dijaga.
Aku menatapnya dengan tajam. Mau apa orang ini ada di tempat tidurku?!
Dan kemudian, seolah aku benar-benar bertanya padanya, Kaito-senpai mendadak menjawabnya. "Karena aku ingin membangunkanmu, Len-kun. Bukankah setiap cewek suka dibangunkan cowok tampan di pagi hari?" Dia nyengir lebar. "Kayak... dibangunin malaikat nggak?"
Ya! Malaikat pencabut nyawa!
"Jadi, Len-kun, aku ingin kita cepat-cepat meneruskan obrolan kita kemarin."
Jantungku langsung berdebar cepat. Sekarang banget?!
"Kau tahu, obrolan sebelum Oliver-kun menghantamku—sial, aku nggak nyangka anak klub hoki bisa sebegitu sadisnya." Dia menggelengkan kepalanya dan kemudian menatapku curiga. "Jangan-jangan dia tahu kalau kau," berbisik pelan, "cewek," kembali ke suara asal, "ya?"
Kurasa Len cuma ngasih tahu IA-sensei doang—mungkin. Entahlah.
"Jadi, apa alasanmu berada di Crypton? Kau ingin menggoda siapa? Ted? Yuuma? Dell? Nero? Aku?"
Tuhan, memangnya alasan seorang cewek masuk ke asrama cowok cuma untuk mengejar cowok ya?
"Atau... Mikuo?"
Dahiku langsung mengerut mendengar nama terakhir. "Hah?!"
"Oh, berarti benar," dia nyengir lebar, "kau suka Mikuo ya?"
"Nggak mungkin aku bisa suka sama orang idiot besar kayak dia!"
"Hemm," dia masih nyengir, kurasa dia nggak percaya, tapi aku nggak peduli. Biarkan dia berasumsi hingga asumsi pada akhirnya dapat membunuh dirinya sendiri! "Nggak apa-apa lho padahal kalau kau memang suka padanya, Len- kun, nggak akan ada yang ngelarang. Justru malah aku bantuin deh!"
Aku memutar bola mataku.
"Jadi, kau mau menguntit siapa memangnya? Ted? Yuuma? Dell? Nero? Aku?"
"Aku nggak datang kesini buat menguntit seseorang, Kaito-senpai." Aku menatap matanya. "Sebenarnya aku... aku..."
"Dengar ya, aku nggak peduli kalian mau pacaran atau apa, tapi bisa nggak jangan melakukannya di kamarku?"
Aku menoleh ke bawah dan menemukan Senpai Idiot sedang berkacang pinggang, menatapku tajam penuh dengan aura kebencian. Dia berdiri tepat di pintu kamar dengan pakaian celana pendek, kaos tanpa lengan, dan handuk di lehernya. Kelihatannya habis olahraga.
Ketika aku melihat wajah menyebalkannya, ingatanku kembali ke suasana kemarin.
"Aku benci sekali pada orang seperti kau, Kagamine Len!"
Yeaah, aku juga benci sekali pada orang seperti kau, Hatsune Mikuo!
"Kaito," lanjut Senpai Idiot kemudian, "aku nggak peduli kalau kau memang suka dia—mau kau goda, mau kau cium, mau kau tiduri juga boleh, tapi jangan lakukan di kamarku, bego! Kau bisa ambil dia, bawa dia, kalau bisa jangan kembalikan lagi deh!"
Kaito-senpai tertawa dan mengangkat bahunya. "Yakin nih Mikuo-kun? Aku beneran boleh bawa dia pergi?"
Pemuda biru kehijauan itu memutar bola matanya. "Lagian Kagamine Len sama sekali nggak ngapa-ngapain juga kan disini?" Dia menatapku tajam. "Pulang saja deh sana!"
Kau dengar aku, cowok menyebalkan! Aku juga ingin sekali pulang! Ingin sekali pulang, kau cowok bodoh jelek! Aku ingin pulang! Tapi aku nggak bisa membiarkan Len begitu saja, bego! Nggak bisa!—tentu saja aku hanya menjawabnya dalam hati, memangnya apa yang bisa kulakukan?
"Hemm, begitu ya. Nah, Len-kun, sekarang kau mandi saja dan kita kencan sehabis itu yah."
"Hah?!"
"Oke?" Kaito-senpai mengedip santai dan kemudian turun dari ranjang. "Kau mau ikutan kencan kami, Mikuo-kun?"
Senpai Idiot berdecih. "Kau memuakkan, Kaito!"
"Hemm, begitu ya?" Aku bisa mendengar Kaito-senpai tertawa dan kemudian mendorong Senpai Idiot itu keluar kamar.
"Kenapa aku harus keluar bersamamu?"
"Nggak apa-apa kan? Dan aku punya beberapa hal yang ingin kubicarakan denganmu, Mikuo-kun!"
Aku sempat menangkap kedipan dari Kaito-senpai sesaat sebelum mereka keluar. Dia sengaja walaupun aku tidak mengerti apa maksudnya. Nggak apa-apa kok ada Senpai Idiot itu disini—yah walaupun aku jelas lebih suka kalau dia menghilang saja dari dunia ini—toh aku nggak akan buka baju di depan dia kan?
Aku menghela napas panjang. Aku bakalan ngomong apa memangnya nanti?
.
.
.
.
"Langsung saja, jelaskan saja kenapa kau berada di Crypton pada saat ini."
Aku menatap pemuda berambut biru gelap yang sedang duduk di ruang makan, memainkan omelet yang tinggal separuh porsi di hadapannya. Kelihatannya dia kenyang karena dia cuma memotongnya dalam ukuran kecil dan mencelupkannya ke dalam saus.
Langsung banget nih? Beneran nih?
Aku menarik kursi di hadapannya dan duduk menatapnya. "Umm, Senpai..."
"Kita nggak akan berargumen mengenai jenis kelaminmu, Len-kun, aku tahu bahwa aku benar dan kita disini untuk membahas mengenai alasan seorang penguntit seperti kau—"
"Aku bukan penguntit!" potongku cepat.
"Bukan?" Kaito-senpai memiringkan kepalanya sambil tersenyum. Dia telah meninggalkan omelet-sisa-mainannya tadi dan mulai fokus padaku. Kurasa dia menemukan mainan baru dibandingkan sarapannya tadi: aku. "Kau cewek pertama yang kutemui menerobos masuk ke Crypton dan menyamar menjadi cowok." Dia tertawa—aku merasa keperibadiannya berubah. "Gimana caranya kau melewati pemeriksaan fisik di awal tes masuk?"
"Senpai ingin aku menjawab pertanyaan yang mana duluan?" Aku memasang ekspresi datar. Dia banyak maunya deh!
"Umm... oke deh," mata biru lautnya berbinar penuh semnagat, "aku mulai dari bagaimana caranya kau melewati pemeriksaan tes fisik?"
"Dengan menyewa pengganti."
"Serius? Itu ilegal, Len-kun. Kau masuk kesini secara ilegal berarti!"
Dipercaya ya yang barusan? "Nggak, Senpai."
"Terus diapain?"
Aku menarik napas panjang dan menatap mata biru lautnya dalam-dalam. "Maukah Senpai berjanji dulu padaku bahwa Senpai akan menjaga rahasiaku?"
"Tergantung tingkat kepentingan," dia mengangguk pelan, "tapi sejauh ini aku merasa aku bisa menjaga rahasiamu."
Dia nggak bisa dipercaya! "Aku nggak akan ngomong kalau gitu."
"Dan aku akan langsung memberitahu semua orang kalau begitu," dia tersenyum lagi, "mana yang kau pilih?"
Dia... menyebalkan! "Baiklah, Senpai, kita coba saja." Aku memaksakan senyum. "Aku datang ke Crypton untuk mengantikan adik kembarku."
"Kagamine Len?"
"Yap. Kagamine Len."
"Dan kau sendiri?"
"Kagamine Rin."
"Oh." Dia mengamatiku cukup lama. "Jadi, kau dan Len yang dikeluarkan Mikuo-kun dari klub adalah orang yang berbeda?"
"Yap."
"Hubunganmu dengan Len-yang-dikeluarkan-Mikuo-kun?"
"Dia adik kembarku."
"Kalian kembar identik?!"
"Yap."
Jeda lama. Lama sekali sekitar tiga puluh detik hingga membuatku nggak nyaman. Memangnya punya kembaran identik itu hal yang sebegitu mencengangkannya ya?
"Hebat sekali! Aku baru tahu kalau kembar cowok-cewek bisa identik! Sperma dan ovumnya beda kan?"
Tuhan, dia ngomong apa sih? "Mana kutahu, pokoknya aku dan dia kembar identik. Aku nggak peduli mau spermanya beda atau ovumnya beda, urusan dunia sana itu!"
"Hoo... hebat sekali!" Matanya masih berbinar kagum. "Mikuo-kun bahkan tidak menyadarinya sama sekali!" Dia bertepuk tangan. "Kalian seriusan punya wajah yang sama persis? Memangnya nggak ada bedanya sama sekali?" Tangannya terulur dan dia menyentuh poni pirangku. "Warna rambutnya? Bola mata kalian juga warnanya sama?"
Aah... Jemarinya yang menyentuh kulitku terasa sangat lembut... Tuhan... Kenapa kau baru mempertemukanku dengan cowok seganteng ini di situasi serta waktu yang salah sih...
Khayalanku akan terus berlanjut jika saja Kaito-senpai tidak mendadak mencubit pipiku. Aku langsung kembali ke dunia nyata—berada di Crypton dan sedang dalam masa interogasi. "Masa nggak ada bedanya sama sekali sih? Aku nggak begitu memperhatikan Len yang dulu sih, aku cuma kenal dia karena Mikuo-kun pernah cerita mengenai anak yang nyasar ke Crypton. Pernah lihat sekali dua kali, itu pun cuma sekilas dan dari jauh doang."
Aku meraih tangan Kaito-senpai—pengen kugenggam deh—dan menepisnya. Enak saja dia cubit-cubit pipi orang seenaknya! "Len—maksudku aku—dulu pernah terlibat apa dengan Senpai Idiot itu?"
Alis Kaito-senpai terangkat sebelah. "Siapa yang kau panggil dengan kata sifat idiot itu, Len-kun?"
"Hatsune Mikuo."
Dia nyengir lebar. "Kau sungguh punya nyali memanggilnya dengan sebutan itu, Len-kun."
"Dia yang nyuruh kok!" Aku membela diri. Benar kan? Dia sendiri yang mengatakan hal itu pada saat aku pertama kali mengenalnya di pembagian asrama kemarin. Yah, dengan beberapa revisi sih, nggak apa-apa kan? Yang penting dua kata itu memang diucapkan di saat yang sama.
Sekarang Kaito-senpai justru tertawa. "Kau sungguh unik, Len-kun! Darimana pula bisa Mikuo-kun menyuruhmu memanggilnya seperti itu?"
"Mana kutahu, otaknya kan kacau."
"Hei hei, boleh kutahu, kau benci sekali kelihatannya dengan Mikuo-kun ya?"
"Aku cuma bereaksi seperti yang dia lakukan, Senpai, dia membenciku dan aku akan membencinya. Gampang kan?" Aku tersenyum lebar.
"Aku nggak pernah tahu kalau Mikuo-kun membencimu, dia nggak cerita sama sekali."
"Oh ya? Dia bilang langsung kok padaku." Ya, dia bahkan bilang kalau aku memuakkan dan dia sangat-sangat-sangat-sangat-sangat-sangat-sangat membenciku melebihi apapun yang ada di dunia ini. "Dan dia juga mengeluarkan Len dari klub tanpa alasan yang jelas."
"Kukira Mikuo-kun mengeluarkan Len—maksudku kau—karena dia ingin menolongmu."
Menolong dari sisi mana?
"Entahlah," dia mengangkat bahu, "kadang Mikuo-kun agak sulit dimengerti."
Dia selalu sulit dimengerti. Ngomong-ngomong, mereka sahabat baik ya? Memangnya nggak apa-apa aku menjelek-jelekkan Senpai Idiot di depan Kaito-senpai?
"Terus, kenapa mendadak kau harus menggantikannya?"
Kenapa aku harus memikirkan soal Senpai Idiot itu juga? Aku menggelengkan kepala. Syukurlah Kaito-senpai kembali ke topik awal. "Karena dia ingin ikut sekolah koki di Hokkaido."
"Aku baru pertama kali dengar ada murid Crypton yang suka masak."
Memangnya Len nggak boleh jadi anomali? "Itu keinginan terakhirnya sebelum kemudian dia akan menyerah pada mimpinya. Awalnya dia bercita-cita menjadi koki."
Dahi Kaito-senpai berkerut. "Pengen jadi koki, tapi masuk Crypton? Itu hal aneh dan gila!"
"Emm, itu juga yang sebenarnya sedang aku selidiki sekarang, Senpai." Aku menatap piring omelet, warna kuningnya mengingatkanku pada Len. "Len nggak suka Crypton, tapi dia nggak punya pilihan lain."
"Orang tua kalian yang menyuruhnya untuk berada disini?"
Aku mengangguk lagi.
"Hemm, begitu ternyata. Pantas saja Mikuo-kun sempat mengeluarkan adikmu dulu." Kaito-senpai tersenyum. "Dia nggak ingin adikmu memaksakan diri."
"Hah?!"
"Kalau dia nggak nyaman di Crypton, maksudku nggak punya teman, nggak ada klub yang mau menerimamu, otomatis orang tua kalian akan melihat bahwa kau punya masalah disini dan itu artinya—"
"Len—maksudku aku—nggak akan membiarkan hal itu terjadi," aku memotongnya cepat sambil menatap matanya. "Biar pun semua hal terburuk terjadi padaku di Crypton, aku akan tetap berada disini."
"Dia... bodoh ya?"
Ya... Len memang bodoh! "Untuk itulah, Senpai, aku harus menolongnya!"
"Dengan cara menyamar menjadi dirinya dan berada di Crypton selama summer camp?"
Aku mengangguk. Aku sudah memutuskan untuk menolong Len, karena itulah apapun yang terjadi aku akan tetap menolong Len. "Aku mohon Senpai dapat merahasiakan ini dari orang lain." Aku menunduk dalam-dalam. Kalau Kaito-senpai membocorkan rahasia ini, aku... aku akan...
"Nggak akan, Rin. Kalau kamu ketahuan, aku yang bakalan tanggung jawab."
Nggak! Jika Kaito-senpai nggak mau bekerja sama denganku, aku akan melakukan apapun untuk menyumpal mulutnya! Aku serius! Apapun yang terjadi, aku harus menolong Len selama summer camp berlangsung!
"Hemm..." Aku bisa melihat Kaito-senpai tersenyum. "Kau berharap aku akan membiarkan kau menipu semua orang begitu?"
Aku mengamatinya lekat-lekat. Dia ini... orang baikkah? Orang jahatkah?
Senyumnya melebar dan dia mencondongkan badannya ke arahku. "Kau berani bayar berapa atas tindakan tutup mulutku, Len-kun?"
Kenapa aku bisa mengira bahwa dia adalah cowok tampan idamanku di awal perjumpaan kita? "Ucapan terima kasih," aku memaksakan diri tersenyum.
Kaito-senpai tertawa. Dia tertawa. Terus tertawa. Sepuluh detik. Dua puluh detik. Satu menit—Tuhan, sampai kapan dia mau ketawa?!
"Senpai..." Aku mencoba menghentikan tawanya, bisa gawat juga kalau dia sampai mati gara-gara tertawa tanpa henti—atau itu justru hal baik karena artinya rahasia Len nggak akan ketahuan kan?
Dia mengangkat tangannya dan aku menunggu sekitar lima detik hingga dia mengontrol dirinya sendiri langsung menjadi Kaito-senpai yang tampan dengan senyuman lembut—hebat juga bisa langsung berhenti setelah ketawa begitu keras kayak tadi. Dia mengangguk dan senyumnya melebar. "Baiklah."
Eh? "Senpai bersedia menjaga rahasiaku?"
Kaito-senpai mengangguk pelan. "Kenapa nggak?"
"Umm... aku cuma akan ngasih bayaran ucapan terima kasih," aku mengingatkannya. Bisa gawat kalau sampai dia memerasku atau menjadikanku budak selama aku berada di Crypton.
Dia kembali mengangguk.
"Seriusan?"
"Kalau kau nggak berhenti menanyakan hal itu, aku akan mencabut janjiku barusan, Len-kun."
"Yayayayayayayayayayayayayayayayayayayayayayayayayayayayayayayayayayaya." Mulutku segera menutup dan Senpai kembali tertawa.
"Tapi, aku ingin kau selalu menyampaikan seluruh isi rencanamu agar aku bisa melindungi rahasiamu itu jika sesuatu terjadi."
"Umm... ya! Pasti! Aku akan memberi tahu Senpai apapun yang ingin aku lakukan!" Aku masih menatapnya, penasaran kenapa dia mau membantuku.
"Kau masih penasaran kenapa aku mau membantumu?" Kok Senpai bisa baca pikiranku? "Kau teralu gampang ditebak, Len-kun, teralu gampang." Dia tertawa. "Kau mau tahu?"
"I—iya."
"Habisnya... menarik kan?" Senyumnya kembali mengambang.
Hah? "Apanya?"
Telunjuknya terangkat ke arahku. Aku maksudnya? "Dan terutama..." Kepalanya menoleh ke arah luar lapangan yang menghadap ke arah danau. Aku bisa melihat banyak murid Crypton disana.
Ada siapa disana memangnya? Alisku terangkat, tapi Kaito-senpai tak kunjung menyelesaikan kalimatnya. Tuhan... dia sungguh suka sekali membuat anti-klimaks!
"Jadi, begitulah."
Apanya yang begitulah? Aku memutar bola mataku. Kaito-senpai ngomongnya suka ngelantur deh. "Yeah, Senpai." Aku tersenyum. Aku nggak peduli apapun alasannya Kaito-senpai mau membantuku, yang jelas aku bisa menjaga rahasia Len—untuk sekarang.
Tuhan, kumohon bantulah aku! Lindungi aku dan bantulah aku!
.
.
.tobecontinued..
author note.
makasih buat kamu yang udah baca sampai disini ;)
selamat ulang tahun, Circle. ;D
update akan bergantung pada hits cerita yah! ;)
bolehlah kalau mau berpendapat di kolom review hehe ;)
