"Selamat pagi, Levi."

Levi menoleh. Seijuurou sudah ada di meja makan, dengan celemek membalut piyama sutranya dan wajah berseri-seri seperti habis menelan matahari.

Ada cairan panas yang mengaliri leher. Seijuurou tidak pernah tersenyum selebar ini sebelumnya. Tidak dalam riwayat hidup mereka sebelum ini. Levi dapat menangkap senandung manis yang menyisip dari mulutnya, hal yang belum pernah Seijuurou lakukan sebelum ini. Seingat Levi, ia selalu memasak dan menyapanya dalam kesunyian, seolah sadar bahwa mereka ada dan akan tetap ada.

Levi menarik napas dalam-dalam, menarik sudut-sudut bibirnya—sekalipun otot itu sedikit berkedut selagi ia berusaha—dan menyahut, "Pagi."

"Jarang-jarang kau bangun sesiang ini," kekeh sang omega. "Terlalu capek atau bagaimana?"

Levi memilih untuk tidak menjawab. Ia terlalu lelah menenggelamkan diri dalam basa-basi yang tidak perlu.

Tapi kekasihnya itu tidak juga menyerah. "Sudah lapar?" tanya Seijuurou. Nada itu terdengar begitu ringan dan ceria di telinga Levi. "Aku sudah membuatkan teh hitam untukmu. Kau tidak bisa memulai pagimu tanpa ini, kan?"

Levi hanya mengangguk tanpa suara. Rasa panas itu kini berpindah ke perutnya.

Barangkali Seijuurou sudah terbiasa oleh kebisuan itu, atau dia sengaja menyimpan pertanyaan-pertanyaannya dalam hati, sebab senyumnya tidak kunjung lenyap. Minuman favorit Levi tersaji di sana, mengepul-ngepul dan menyentuh wajah Levi dalam kehangatan imajinernya.

"Masih hangat dari penggilingan," guraunya. "Sebaiknya cepat diminum."

Levi menggumamkan kalimat apresasi, tanpa benar-benar memandang raut kekasihnya. Bukan benci. Bukan pula marah. Perasaan yang sekarang mengaduk dadanya ... jauh lebih kompleks dari itu.

Pada permukaan tehnya, Levi melihat pantulan wajah Seijuurou. Seijuurou yang bermuka datar, canggung, selalu memalingkan wajah ketika mereka bertatapan—Seijuurou yang membuat jantungnya melompat agresif untuk pertama kalinya.

Seijuurou yang ia temui malam itu, di Pesta Gala.

Seijuurou yang tariannya dapat membuatnya berdiri, dan meyakinkan Levi bahwa tidak ada burung lain yang dapat menaklukkannya sebagaimana Seijuurou dapat membuatnya jatuh hati padanya.

Seijuurou yang berhasil ia menangkan dalam persaingan antar alfa.

Seijuurou yang menepis tangannya dengan tegas ketika ia ingin menyentuhnya, tapi kemudian mengajaknya menyatu.

Seijuurou yang—

Pantulan wajah itu perlahan-lahan mengabur. Memudar. Digantikan oleh wajah Levi sendiri.

yang sekarang telah menghilang.

Gerutu ditelan samar-samar, bersamaan dengan cecair kopi yang mengaliri kerongkongan. Dibiarkannya emosi itu turun, turun, dan lenyap. Masa berduka sudah selesai. Seharusnya Levi tidak membiarkan dirinya terus-menerus tenggelam dalam kesedihan yang ia ciptakan sendiri.

"Aku sudah belajar memasak sarapan yang enak," kata Seijuurou lagi. "Tentu saja bukan sup tofu—kau bisa mati bosan kalau terus-terusan makan itu, kan?"

Padahal Seijuurou yang dulu tidak peduli. Dia biarkan Levi mencicipi sup tofu buatannya siang dan malam—bersikeras bahwa sajian sederhana itu sudah lebih dari cukup. Kalau tidak suka, ya, tidak usah makan. Sesederhana itu. Asal Levi mendapat jatah malam, makan apapun tidak masalah. Ia sudah terlalu terbiasa oleh rutinitas itu, sehingga adegan ini masih serupa cambukan yang begitu mengagetkanbaginya.

"Kau akan masak apa?" menekan semua perasaan itu dalam-dalam, Levi memilih untuk terjun dalam topik.

Seijuurou menyingkirkan poni yang menutupi alis sembari menata perlengkapan masak di atas konter. "Aku ingin coba memasak omelet seperti yang biasa kaubuat." Senyum itu memudar sedikit. "Sekalipun aku tidak yakin rasanya akan seenak masakanmu—"

"Yang seperti itu tidak usah dipedulikan."—karena selama ini kau tidak pernah peduli. Setidaknya, kau berusaha untuk terlihat tidak peduli. "Aku tidak keberatan makan sup tofu, kalau itu yang kausukai."

"Begitu?" tensi ceria pdaa sang kekasih berkurang sedikit. Kecewa kah? "Kalau begitu kuharap kau sedikit bersabar."

"Hmm."

"Kalau kau lapar, aku bisa menghangatkan sisa makanan kemarin—" tapi kalimat itu tidak pernah selesai, sebab apa yang terjadi setelahnya sungguh tidak terduga.

Atas dorongan impulsif, Levi beranjak dari tempat duduknya, menyergap omeganya dari belakang, lalu melingkarkan kedua tangannya pada pinggang Seijuurou, membiarkan wajahnya menyedot seluruh aroma pagi hari sang belahan jiwa. Dirasakannya punggung Seijuurou menegak kaget.

"L-Levi?"

"Ssh." Lengkung leher dikecup. Wajah Seijuurou pasti sudah membara sekarang, dan alih-alih tertarik memandangi wajahnya, ia lebih menikmati posisi yang sekarang: membiarkan otot-otot lelaki itu bereaksi. Menegang, waspada, namun tidak menolak kecupan tambahan.

Ada perasaan hangat pada diri Levi ketika menyadari bahwa sekalipun Seijuurou tidak pernah bersikap manis padanya di rotasi waktu yang lalu, lelaki itu menyimpan semua detail, juga memori akan mereka berdua dengan begitu baik. Bahwa sekalipun Seijuurou terlahir lagi dalam tubuh baru, memori itu tidak akan pernah menguap pergi.

Bersamaan dengan itu, ingatan-ingatan akan masa lalu kembali muncul. Yang semula mengabur, kini membentuk imaji jelas di dalam otak.

.

.

Phoenix memiliki begitu banyak keistimewaan, sebagaimana Seijuurou-nya merupakan kompilasi dari berbagai keunikan yang membuatnya menarik.

Ia memiliki tubuh yang indah—seperti Seijuurou.

Suaranya lembut dan menggetarkan hati—seperti suara Seijuurou, yang selalu menuntunnya ke dunia yang penuh warna.

Dan ia abadi dalam kesementaraannya.

Konon, phoenix merupakan lambang dari proses reinkarnasi, di mana ia akan lahir kembali dari abunya. Dan seperti Seijuurou, yang tubuhnya tengah sekarat dan akan menghilang, ia akan hidup kembali dari kematian itu.

"Aku ingin kau berjanji," kata Seijuurou. Di sela-sela napas beratnya, ia berusaha menguntai kata—dan upaya itu selalu berhasil meremas jiwa Levi. "Bahwa sekalipun aku mati nantinya—kau akan tetap mencintaimu."

"Kau tidak akan mati, Seijuurou," Levi menggenggam tangannya dengan begitu kuat, mencegah nyawa kekasihnya meluncur lepas begitu saja. "Kau yang paling tahu. Kau tidak akan mati—"

"—tapi akan terlahir kembali. Ya. Aku tahu." tawa Seijuurou terdengar seperti desah agoni, dan Levi terus mengecupinya. Menjaga mata itu terus terbuka untuknya. "Mungkin aku akan berubah. Mungkin aku tidak lagi memperlakukanmu seperti biasa—tapi—"

Levi berdiri. Tangannya menggenggam kekasih hatinya dengan kekuatan berlebih. Matanya intens menghunjam wajah tirus itu. "Seijuurou?"

Napas itu makin putus-putus. Jarum jam terus bergerak tanpa ampun. Kebersamaan mereka semakin tipis, dan keduanya tahu itu. "Tapi bukan berarti aku berhenti menyayangimu," engahnya lembut—begitu lembut sampai-sampai telinga Levi harus menempel pada bibirnya. "Jadi berjanji—berjanjilah untuk mencintaiku kembali, sama seperti ketika kau jatuh cinta padaku untuk pertama kalinya."

Levi menggeleng, berusaha mengingkari rasa perih yang menyambangi dadanya. "Aku tidak bisa mengulangi perasaan itu."

"Tapi kau bisa memulai dari awal."

Tangan Seijuurou mendingin. Levi bahkan tidak berani melepaskan tangan itu, sebab mereka bisa saja berpisah kapan saja.

"...aku janji," kata Levi. "Asal kau juga memberiku kesempatan."

Bibir pucat itu menyunggingkan senyum. Senyum perpisahan kah?

"Akan kuingat janji itu baik-baik, Levi." Entah dari mana kekuatan itu muncul, Seijuurou menelusuri rambut Levi. Lalu gemetar menyentuh permukaan pipinya. Levi menekan telapak tangan Seijuurou, menjaganya agar tidak merosot jatuh. Seijuurou menatapnya, dalam dan penuh emosi, dan Levi tidak dapat mengingkari perih pada dadanya.

Tapi mereka diam, mengikat harapan yang tertanam di dalam benak masing-masing, percaya bahwa perpisahan ini adalah bagian dari rotasi kehidupan.

Ketika mata Seijuurou semakin berat, bibir Levi menyentuh kelopak matanya. Mengantar sang kekasih pada dunia barunya; tempat di mana para omega tidak akan merasakan sakit lagi.

Seijuurou akan hidup lagi. Ia akan lahir dan bertumbuh dalam tubuhbarunya, dan Levi—layaknya orangtua—akan belajar untuk mencintainya,sebagaimana ia akan membimbing Seijuurou untuk rotasi waktu berikutnya.

.

.

"Levi?" gugup, Seijuurou memanggil. "Ini sama sekali tidak seperti kau yang biasanya—"

Kau juga tidak seperti biasa. Dan tidak akan pernah lagi. "Memang kenapa?" tukas Levi. Pelukannya pada Seijuurou mengerat. "Tidak suka?"

"Bukan begitu—hanya saja—"

Oh, bocah ini. Levi gemas menekan lekuk pinggangnya, memutar tubuh lelaki itu, dan mengulum bibirnya dalam kecupan hangat. Seijuurou terkesiap, dan jantungnya berdebar begitu kencang ketika tangan Levi menyusuri dadanya. Tetapi ia tidak berhenti. Dan Seijuurou tidak menolak.

Di sela-sela napasnya, Seijuurou berbisik, "—aku tidak menyangka akan melihatmu seperti ini."

"Seperti kejutan?"

"Seperti kejutan." Ia mengangguk. "Tapi kejutan yang menyenangkan."

Levi mengangkat alis. Ada ketertarikan dalam wajahnya ketika menyahut, "Begitu?"

"...ya."

"Jadi kau menyukainya?"

Seijuurou bernapas lembut. "Ya."

"Bagus." Kali ini senyum Levi murni, dan bukan hasil paksaan. "Lagipula, kau yang sekarang ini—"

Sepasang iris merah mengerjap. Menunggu sang kekasih menyelesaikan kalimatnya.

"—tidak buruk."

Kembali, keduanya menyatu. Memadukan dua tubuh dalam satu pertalian afeksi. Levi dan Seijuurou, berdua, dengan pertumpahan emosi yang melebur menjadi satu entitas. Melupakan waktu dan tempat, melupakan masa lalu serta perubahan-perubahan yang terjadi dalam perjalanannya.

Seijuurou yang dulu ia cintai telah tiada. Seijuurou yang sekarang berbeda, namun ia siap bertumbuh. Dan Levi bersedia tumbuh bersamanya.

Sebab Seijuurou adalah hidup Levi, dan Levi adalah hidup Seijuurou.