"Baekhyun tak mau turun?" Joongki bertanya pada istrinya yang tengah berjalan mendekatinya. Pria paruh baya itu tengah duduk tenang menikmati malam malamnya, tapi pikirannya terus tertuju pada putra bungsunya yang dari tadi siang tak kunjung keluar dari kamar. Sewaktu ia dan istrinya tiba di rumah, yang menyapanya hanya Luhan sedangkan putranya sendiri sedang tidur dan kata teman sepermainan putranya itu, putranya baru marahan dengan Chanyeol. "Apa yang kubilang? Anakku tak cocok dengannya!"
Hyekyo yang baru saja duduk di kursi meja makan langsung menyipitkan mata menatap suaminya. "Bukankah kau yang merencanakan perjodohan?"
"Aku tak tahu jika anaknya Raewon itu Chanyeol. Seharusnya sejak awal aku tak mengusulkan ide perjodohan itu." Joongki bedecak.
"Diam dan jangan menjilat ludahmu sendiri. Aku sedang lapar dan tak ingin bertengkar, habiskan makananmu."
Joongki menelan makanannya yang sudah dikunyahnya dengan susah payah agar terdorong masuk ke kerongkongan saat merasakan tajamnya tatapan istri tercintanya. Ia berusa kembali memfokuskan diri pada piring di hadapannya dan makan dengan tenang. Malam ini ada giliran ia mendapat 'jatah', ia tak ingin membuat marah istrinya dan hilanglah kesempatannya bermesraan dengan istri cantiknya.
Hyekyo berdeman dan itu menarik perhatian Joongki untuk melirik istrinya. Apakah istinya ingin berbicara padanya? Untuk meminta maaf mungkin.
"Ryeowook-ah, tolong ambilkan beberapa bungkus roti, snack dan susu lalu antarkan ke kamar Baekhyun. Letakan saja di nakas dekat tempat tidurnya." Hyekyo tersenyum menatap Ryeowook yang sedang berada di dapur terbuka tepat di sebelah meja makan.
Ryeowook mengangguk dan dengan segera menyiapkan nampan lalu memenuhi nampan kosongnya dengan pesanan Nyonya besarnya.
Joongki menghela napas menyadari jika harapannya palsu. Ia kembali menghabiskan makan malamnya tapi suara menjelegar dari arah pintu masuk mengejutkannya.
"Hai semua! Aku pulang~ Apa kalian merindukanku~?"
.
OoooO
.
Perhaps Love
.
"Who are you?"
.
OoooO
.
Cast:
Chanyeol, Baekhyun beserta orang-orang disekitarnya
~Royal OTP~
.
Chanyeol milik Baekhyun. Baekhyun milik Chanyeol. Baekhyun dan Chanyeol milik orangtuanya. FF ini milik Cactus93
.
OoooO
.
^^Semoga kalian menikmati FF ini^^
.
OoooO
.
.
Shinhye memperhatikan anaknya yang terlihat murung di seberang tempatnya duduk menikmati sarapan. Anak laki-laki yang biasanya rajin mengeluarkan candaan itu nampak tak begitu semangat pagi ini.
"Eomma, aku sudah selesai. Aku pamit sekolah dulu."
Shinhye dan Raewon saling menoleh dan berpadangan.
"Kau tak menghabiskan sarapanmu?" Raewon bertanya.
"Aku sudah kenyang, Appa." Chanyeol menjawab dengan lesu.
"Semalam Hyekyo menelponku," ucapan Shinhye sukses membuat perhatian Chanyeol terpusat kearahnya, "Kau bertengkar dengan Baekhyunnie? Baekhyunnie sampai tak makan malam dan mengurung diri dikamar." Shinhye memincingkan mata menatap anaknya dengan curiga.
"Benarkah itu, Eomma?" bola mata Chanyeol melebar.
"Kau itu sebagai pria sejati harus memberi banyak perhatian. Appa tahu jika ini pengalaman pertamamu berpacaran, baru seminggu saja kalian sudah bertengkar. Joongki pasti kecewa padamu."
Mendengar nama ayah Baekhyun membuat bulu kuduk Chanyeol berdiri. Sebuah keberuntungan saat ia kemarin mengantar Baekhyun pulang dan tak bertemu dengan ayah Baekhyun, tapi ia merasa dirinya pengecut jika ia terus saja menghindar. "Maafkan aku, Appa." Chanyeol menundukan kepalanya.
"Eomma berharap sepulang sekolah kamu mengunjungi rumah Baekhyun dan menyelesaikan masalah kalian. Baekhyun itu masih kecil, Chanyeol-ah. Baekhyun masih membutuhkan bimbingan dan Eomma ingin kau lebih memahami dirinya. Jika permasalahan tak bisa diselesaikan sehingga kau putus deng-"
"Aku masih berpacaran dengan Baekhyun, Eomma! Kami belum putus!" dengan cepat Chanyeol memotong ucapan ibunya dan membuat wanita itu tersenyum. "Aku berjanji saat pulang kerumah nanti, Baekhyun sudah tak marah kembali padaku."
Raewon dan Shinhye tersenyum bangga melihat kilat optimis dari pandangan mata putranya.
.
OoooO
.
"Baek, ayo sarapan." Hyekyo yang tengah duduk ditepi ranjang anaknya dengan tangannya mengelus penuh kasih rambut halus anaknya. Sayangnya, Baekhyun menggeleng dengan tetap memeluk erat boneka pikachu-nya dan menguburkan wajahnya pada kepala boneka kesayangannya itu.
"Kenapa setiap hari senin kau itu terus saja membolos sekolah. Ayo cepat cuci muka dan turun ke bawah, sayang."
Tak ada jawaban lagi. Hyekyo menghela napas, ia harus mencari pembicaraan agar anaknya tertarik.
"Kau marah dengan Chanyeol?"
"Iya! Aku benci Chanyeol hyung. Chanyeol hyung jahat tak mempercayai perkataanku." Adu Baekhyun dengan tetap mempertahankan posisi tidur membelakangi Hyekyo. "Aku tak mau bertemu Chanyeol hyung."
"Hmm… jadi kau putus dengan Chanyeol, ya?" mengingat sepertinya kemarin minggu anaknya bertengkar dengan pacar pertamanya, tak salahkan bagi seorang ibu menanyakan hubungan asmara putra bungsunya.
"Putus?" Baekhyun langsung berbalik badan menatap ibunya. Dahinya mengernyit kebingungan.
"Itu…" Hyekyo memutar otaknya merangkai kata yang dapat dimengerti otak polos anaknya "Prince Charming dan Princess Baekkie sudah tak saling mencintai lagi kemudian mereka berpisah." Ketika mengakhiri ucapannya Hyekyo berjengit melihat anaknya dengan sigap telah duduk dengan mata sayunya terlihat sudah siap mengeluarkan air mata dan-
"Prince Charming dan Princess Baekkie masih saling mencintai dan mereka hidup bahagia selamanya hiks."
Anaknya merengek dengan dongeng rekaannya sendiri. Hyekyo menutup mata, ibu jari dan telunjuknya bergerak memijit dahinya, mengingat dulu dia nyidam apa sampai dia mempunyai anak yang begitu… hmm menggemaskan? –lebih tepatnya merepotkan.
"Bukankah Princess Baekkie tadi bilang membenci Prince Charming? Bahkan Princess Baekkie tidak mau bertemu dengan Prince Charming."
"Princess Baekkie mau bertemu Prince Charming huwee. Aku mau bertemu Chanyeol hyuuuung, Eommaaaa."
Kali ini Hyekyo menghela napas lega. Sepertinya anaknya sudah bisa berbaikan dengan Chanyeo. Setidaknya Baekhyun tidak merajuk la-
"Eomma ayo sekarang kerumah Chanyeol hyuuuung."
Hyekyo menghapus kalimat terakhirnya tadi. Anak bungsunya kembali merajuk dengan mengelurkan aegyo.
"Eomaaa ayo ki-" Baekhyun menghentikan ucapannya saat ibunya begitu cepat berganti ekpresi dan menatap datar kearahnya. Ini gawat. Sepertinya batas kesabaran ibunya sudah mencapai batas.
"Eomma tadi menyuruhmu untuk apa?"
Baekhyun meneguk ludahnya dengan paksa, "Ma….kan?"
"Cepat turun kebawah dan sarapan. Dari minggu kemarin setiap hari senin kau selalu saja tak berangkat sekolah, untung saja nilai ujianmu kemarin bagus. Chanyeol juga seharusnya sekarang sudah ada di sekolah tidak sepertimu dasar anak manja yang hobi membolos dan merengek. Eomma sibuk minggu depan ada pagelaran fashion show dan kau semakin membuat Eomma pusing saja. Kemari kau biar Eomma jewer telingamu." Hyekyo bersiap mengulurkan tangannya meraih telinga Baekhyun. Ia berusaha menahan tawa melihat anaknya merangkak mundur turun dari ranjang yang berlawanan dari tempatnya duduk. Baekhyun langsung berlari keluar kamar sambil menutupi kedua telinganya dengan telapak tangannya sambil berteriak.
"Appaaa! Eomma ingin menjewer telinga Baekkie! Appaa tolooong Baekkieee!"
Suara Baekhyun yang kencang menjelegar diseluruh penjuru rumah. Hyekyo yang masih dikamar Baekhyun yang bertema mermaid itu tertawa terbahak-bahak dengan tingkah anaknya, tapi beberapa saat kemuadian terhenti saat mengingat sesuatu, "Yak! Byun Baekhyun! Cuci muka dan sikat gigi dulu sebelum sarapan!."
.
OoooO
.
Kyungsoo duduk sendirian di taman belakang sekolah. Punggungnya ia sandarkan pada pangku kayu kokoh itu. Pandangan matanya lurus keatas menatap hijaunya daun pada pohon tinggi dihadapannya, tapi tatapannya tak fokus. Mengabaikan keramaian taman karena seminggu penuh sebelum liburan hanya ada classmeeting yang tak terlalu penting. Pikirannya berlari menyusun masalah yang ia hadapi akhir-akhir ini. Kyungsoo menggigit bibir bawahnya saat tak sengaja mendengar cibiran beberapa orang yang berjalan melewati bangku tempat ia duduk, dan bahkan ia merasakan lemparan kerikil yang tepat mengenai tubuhnya. Ia lelah dengan ini semua. Mengapa hidupnya tak pernah dianggap? Tak pantas kah ia mendapat kebahagiaan? Seharusnya dari dulu ia menolak keinginan Nyonya Oh yang menawarinya sekolah disini, tapi hati kecilnya sedikit mensyukuri karena bersekolah disini ia jadi bisa dekat dengan seseorang.
Jemarinya memeluk erat kotak makan berwarna biru yang berada tepat di pangkuannya. Saat ia kekelas Sehun, anak itu tak mau menerima kotak bekal yang ia buat. Bahkan dirumah, anak itu mengabaikannya. Sekarang tak ada orang yang peduli padanya…
"Kyungsoo-ya? Kau sendirian?"
…atau mungkin tidak.
Kepala Kyungsoo menoleh pada sosok yang lebih tinggi daripadanya yang kini sudah duduk tepat disamping kirinya.
"Itu bekal untuk Sehun, kan?"
Kyungsoo mengangguk, "Kau mau makan bekal ini, Jongin-ah?"
"Bukankah itu untuk Sehun?" Jongin mengernyit.
Senyum pilu terlukis pada wajah manis Kyungsoo, "Dia menolaknya. Sepertinya dia marah padaku." Pandangannya kembali mengarah pada batang pohon yang berdiri kokoh didepan. "Sejak pulang kerumah kemarin ia enggan bicara padaku."
Melihat raut pedih Kyungsoo, membuat Jongin menerka-nerka. Perasaan mulai tak enak memikirkan perkiraannya sendiri, "Apakah… kau … menyukai Sehun?" Jongin menggigit bibir bawahnya, menunggu jawaban Kyungoo. Laki-laki bermata bulat itu langsung menoleh kearahnya dengan raut wajah terkejut kemudian terkekeh.
"Ya, aku menyukainya, Jongin-ah" Kyungsoo mengakhiri perkataannya dengan senyuman lembut dan jawaban jujur Kyungsoo itu sukses membuat hati Jongin nyeri. "Pertama kali aku bertemu dengan Sehun disaat aku kelas 4 dan Sehun masih berada setahun dibawahku. Ibuku yang saat itu baru mulai bekerja dengan keluarga Oh, terkadang aku mampir kekediannya dan melihatnya bermain dengan riang. Sejak saat itu aku selalu menganggapnya sebagai adik kecil yang menggemaskan. Aku menyukainya karena aku menganggapnya sudah seperti adikku sendiri."
Perasaan lega membanjiri benak Jongin. Tanpa Kyungsoo sadari, Jongin tersenyum puas dengan kalimat terakhir yang Kyungsoo ucapkan dan ia terus memperhatikan perubahan ekspresi Kyungsoo yang tadinya sendu kini berubah menjadi senyum lembut saat mengakui Sehun sebagai adiknya. Satu sisi inilah yang ia sukai dari Kyungsoo, selalu berpikiran positif dan penuh kasih sayang. Ia tak ingin menambahi pertanyaan karena menunggu Kyungsoo dengan keinginannya sendiri bercerita tentang masa lalunya, meskipun itu juga berkaitan dengan masa lalu musuhnya, tapi Jongin mulai luluh melihat bagaimana Kyungsoo begitu menyayangi Sehun.
"Kau tahu Jongin? Sehun itu adalah anak adopsi dari keluarga Oh."
Pernyataan Kyungsoo sontak membuat Jongin tersentak. Bagaimana mungkin si Oh Sehun itu ternyata mempunyai masa lalu yang kelam.
"Kata ibuku, sejak usia Sehun belum menginjak setahu, Keluarga Oh sudah mengadopsinya. Pertama kali aku melihat Sehun itu seperti anak kecil bergelimpah harta dan kasih sayang yang selalu tersenyum riang ceria, tapi saat aku tinggal di kediaman keluarga Oh sekitar dua tahun lalu, semuanya nampak bertunah. Anak itu berubah menjadi sosok laki-laki pendiam dan penuh rasa kesepian.
Sehun di adopsi karena Nyonya Oh sudah lima tahun menikah belum mempunyai keturunan dan dokter memprediksi hanya kemungkinan kecil Nyonya Oh bisa mengandung. Tapi sekitar empat tahun keluarga Oh mengadopsi Sehun, Nyonya Oh mengandung. Awalnya memang keluarga itu bisa membagi kasih sayang antara putra kandungnya dan putra yang ia adopsi, sayangnya lama kelamaan Sehun merasa terabaikan. Apalagi saat Tuan Oh kembali ke kampung halamannya di Kanada dan lebih memfokuskan bisnisnya disana tanpa mengajak Sehun yang saat itu masih SMP dan sekitar dua tahu mereka kembali ke kemari, anak kandung Nyonya Oh ingin mempunyai rumah yang lebih besar dan mempunyai kolam renang.
Aku akui anak kandung Nyonya Oh yang selalu dimanja menjadikan anak itu mempunyai sifat egois dan tentu saja Nyonyah Oh menurutinya hingga membeli rumah dengan halaman luas dan tak lupa kolam renang dan letak kediaman baru keluarga Oh yang baru lumayan jauh dengan kediaman Oh pertama. Sehun enggan, memohon Nyonya Oh agar tak menjual rumahnya dan diizinkan tinggal di kediaman Oh yang pertama. Tanpa pikir panjang Nyonya dan Tuan Oh menyetujui dan menjadikan ibuku sebagai pengawas Sehun. Nyonya dan Tuan jarang berkunjung bahkan sebulan sekalipun tak ada."
"Aku jadi bersimpati dengan anak itu."
Kyungsoo terkekeh mendengar celetukan Jongin, "Ya. Aku berharap kau mau berteman dengan Sehun. Aku ingin Sehun menambah temannya karena setahuku teman yang dianggap Sehun hanyalah Chanyeol."
"Benarkah itu? Aku tahu jika anak itu memang cuek tapi teman sekelasnya…?"
"Di ponsel Sehun hanya menyimpan lima nomor. Nomor Chanyeol, nomor Tuan dan Nyonya Oh, nomor telepon rumah, dan nomorku. Tak ada nomor yang lain."
"Ck. Anak itu benar-baner mengerikan. Anak itu… ugh."
Ucapan Jongin terhenti saat Kyungsoo menyenggol lengannya dengan sikunya, tapi ia tak marah karena Kyungoo malah memberi senyum heart-shaped-nya. "Kau terus saja memanggil nama Sehun dengan 'anak itu'."
Jongin terkekeh, ia sedari tadipun tak menyadarinya. Ia menggaruk tengkuknya dan meminta maaf, "Maafkan aku, Kyungsoo-ya."
Kyungsoo mengangguk, tangannya bergerak membuka bekal lalu menyerahkannya pada Jongin, "Makanlah, aku tak suka masakan yang telah aku buat susah payah terbuang sia-sia."
Tanpa babibu Jongin menerima kotak itu, menyakiti perasaan Kyungsoo adalah hal yang terlarang dalam kamusnya. Lagi pula sebuah keberuntungan bisa makan masakan Kyungsoo. Ia langsung mengambil sumpit yang terletak disampig kotak dan memakan –mantan- bekal Sehun dengan lahap. "Masakanmu terbaik Kyungsoo-ya!"
Kyungsoo tertawa melihat Jongin berbicara dengan mulut penuh makanan.
"Beruntung sekali Chanyeol yang selalu kau buatkan bekal."
Entah mengapa Kyungsoo merasa tersindir. Sepertinya ia harus jujur tentang rencana Sehun. "Sebenarnya… " Kyungsoo bingung harus mulai bercerita dari mana, "… aku membuatkan Chanyeol bekal karena perintah dari Sehun."
Jongin mengangkat kedua alisnya, menghentikan suapannya dan kembali mendengar cerita Kyungsoo.
"Sehun pemurung saat menginjak SMP tapi ia mulai sedikit lebih ceria ketika dia mengenal sosok yang ia anggap sebagai kakak. Aku tak kenal sosok itu karena Sehun saat itu tipe orang yang tak mau berbagi apalagi aku termasuk orang yang baru baginya karena aku baru pindah ke kediaman keluarga Oh. Dan ternyata orang yang dianggap kakak oleh Sehun itu sama dengan orang yang menolongku. Hmm.. tentang kejadian saat aku terkunci dalam gudang saat kelas satu, aku kira Chanyeol yang menolongku."
"Kenapa bisa begitu? Dari kemarin kau terus bertanya-tanya tentang hal ini." Jongin menaikan alisnya dan entah mengapa Jongin yakin ia melihat semburat kemerahan di pipi Kyungsoo.
"Karena aku melihat foto Chanyeol di mading yang tengah mengenakan jaket itu. Aku bercerita dengan Sehun dan aku memperlihatkan foto pemilik jaket itu Umm aku mencuri foto itu dari mading." Perkataan Kyungoo sontak membuat Jongin tertawa dan Kyungsoo menggigit bibir bawahnya lalu kembali meneruskan cerita, "Tanpa disangka, sosok yang dianggap Sehun sebagai kakak adalah orang yang sama dengan Chanyeol. Mulai saat itulah Sehun mempunyai ambisi bersekolah di SMA ini dan mendekatkanku dengan Chanyeol."
"Mengapa Sehun ingin menjodohkanmu dengan Chanyeol?"
Kali ini Kyungsoo menggembungkan pipinya, "Itulah yang tak bisa aku pahami dan Sehun tak pernah menjawab pertanyaanku jika berkaitan dengan hal ini."
"Apakah… kau tak suka dijodohkan dengan Chanyeol?"
"Jujur, awalnya aku tertarik dengan Chanyeol tapi ada sese-" Kyungsoo langsung menutup bibirnya dengan telapak tangannya. Hampir saja ia keceplosan.
"Sese?" Jongin memancing Kyungsoo meneruskan pembicaraan.
Kyungsoo terdiam berusaha mencari alasan lain. Ia tak mau Jongin mengetahui jika ada seseorang yang lebih menarik perhatiannya dari pada Chanyeol dan orang itu adalah orang yang saat ini sedang makan bekalnya. "Umm, Chanyeol kan sudah mempunyai pacar." Kyungsoo mengakhiri kalimatnya dengan kekehan kaku.
Jongin mengernyit. "Maksudmu Baekhyun?"
Untunglah Jongin bisa tertipu dan Kyungsoo mempunyai pembahasan tentang pacar mungil Chanyepl. "Dulu aku pernah bertemu dengan Baekhyun saat mencari Chanyeol dan berniat mengerjai anak itu." Kyungsoo menghentikan ucapannya saat melihat ekspresi keterkejutan Jongin dan terkekeh. "Tapi sayangnya melihat dia yang begitu menggemaskan, aku malah mengantarkannya pada Chanyeol. Tak pernah aku melihat senyuman tulus yang diberikan pada Baekhyun. Mungkin pendekatanku selama ini sia-sia."
"Kau memang anak baik." Jongin tersenyum dan telapak tangannya bergerak mengusak pucuk kepala Kyungsoo dan suksek membuat Kyungsoo terdiam kaku. Ia menolehkan kepalanya menatap Jongin dan kedua pasang mata itu perpandangan menghasilkan suasana yang canggung.
"Ma-af." Jongin langsung menarik tangannya dari kepala Kyungsoo. Keduanya kembali menatap mata masing masing lalu saling memberi senyum simpul.
.
OoooO
.
Classmeeting yang membebaskan para siswanya berkreasi membuat Chanyeol juga tak ada kerjaan dan sukses membuatnya murung sendirian memikirkan kekasih mungilnya. Jongin entah pergi menghilang kemana dan Sehun malah pulang kerumah beberapa menit yang lalu. Chanyeol benar-benar sedang suntuk memikirkan bagaimana cara merayu hati Baekhyun.
Setelah selesai denga urusan PMR dengan Dr. Cho, ia langsung pergi ke kantin membeli sesuatu untuk mengganjal perutnya karena tadi ia tidak niat sarapan dirumah. Setelah ia mengambil makanan yang dia inginkan, ia berjalan mencari tempat duduk. Kepalanya menoleh kesana kemari mencari spot kosong.
"Hei, Chanyeol-ah. Duduk sini!"
Chanyeol tersenyum, menghampiri seseorang yang tadi menyapanya. "Kau memang selalu bisa diandalkan Jongdae-ya." Ia meletakan nampan dimeja lalu menepuk bahu sahabatnya dengan riang. "Hai, Minseok-ah." Tak lupa Chanyeol menyapa pacar pendiam Jongdae yang duduk berseberangan dengannya dan Jongdae. Minseok hanya mengangguk dan melanjutkan makannya.
"Tak biasanya kau sendirian, dimana Jongin?" Jongdae bertanya.
"Aku tak tahu, tadi katanya dia mau ke toilet tapi sampai sekarang tak menucul juga." Chanyeol menjawab setelah memasukan sesuap makanan kemulutnya.
"Tadi aku melihatnya di taman bersama Kyungsoo." Celetukan Minseok membuat Chanyeol mengernyit.
"Wah, kali ini giliran Jongin mencari pacarnya." Jongdae terkekeh dengan ucapannya sendiri, tapi Minseok dan Chanyeol juga ikut terkekeh dibuatnya. "Dan kau masih dengan Baekhyun, Chanyeol-ah?"
Raut Chanyeol kembali murung.
"Kau sudah putus dengannya?"
Chanyeol mendengus kesal. Mengapa semua orang berasumsi jika ia putus dengan Baekhyun?
"Aku masih jalan dengannya, hanya ada sedikit salah paham."
"Sama anak kecil saja kau tak bisa meluluhkan hatinya."
"Kau kenal dengan Baekhyunnie, Minseok-ah?" Chanyeol menaikan alisnya.
"Tentu saja aku yang bercerita tentang Baekhyun dengan pacarku."
Chanyeol langsung memandang malas kearah Jongdae, "Dasar mulut bebek. Mulut embar."
"Yak! Habis pacar kamu menggemas-" ucapannya terhenti saat merasakan tatapan tajam dari kekasihnya. Ia langsung menggaruk tengkuknya dan kembali duduk diam. Niatan menggoda Chanyeol sudah hilang.
Chanyeol sedikit terhibur melihat pasangan yang sudah jalan setahun itu. Kalau dipikir-pikir tak ada salahnya curhat dengan orang yang lebih berpengalaman pacaran. "Aku marah dengannya karena salah paham mengenai Sehun."
"Sehun?" Jongdae mengulang.
"Ya. Aku tak mempercayai perkataan Baekhyun jika Sehun pernah menendang bokong Baekhyun." Chanyeol lesu, melengkungkan bibirnya kebawah.
Jongdae terdiam, ia mengingat-ingat lagi tentang pertemuan keduanya dengan Baekhyun. "Tapi.. Sehun memang benar menendang pantat Baekhyun dan aku melihatnya sendiri."
"Apa?"
.
OoooO
.
Chanyeol menghentikan laju mobilnya di tepi jalan tepat di samping jajaran pertokoan. Ia bingung membeli bingkisan apa untuk Baekhyun. Ya, anggap saja sebagai bingkisan bujuk rayu agar Baekhyun mau memaafkannya.
Ia menghempaskan punggungnya pada sandaran jok yang empuk. Bola matanya menyusuri pertokoan pinggir jalan, fokusnya berhenti menatap dua sosok laki-laki yang berbeda tinggi badan mencolok berdiri didepan toko ice cream dan ia yakin salah satu laki-laki itu adalah sosok yang sangat Chanyeol kenal. Laki-laki mungil yang masih marah padanya sedang menghentak-hentakan kakinya dan terlihat seperti merengek dan hampir akan menangis. Ia buru-buru keluar dari mobil dan berlari kearah kedua sosok itu. Saat tiba dihadapan sosok laki-laki yang lebih tinggi, Chanyeol langsung mencengkeram kerahnya laki-laki itu dan mendorongnya laki-laki yang lebih tinggi itu lalu menarik laki-laki yang lebih mungil dalam pelukannya.
"Baekhyun-ah, kau tak apa? Kau tak terluka, kan?" Chanyeol meneliti seluruh tubuh Baekhyun dengan cermat.
"Yak! Apa-apaan kau!"
Orang yang didorong Chanyeol tadi balas mendorongnya. Keduanya kini saling menatap dengan tajam saling mencengkeram kerah pakaian masing-masing.
"Chanyeol hyung! Baekbeom hyung! Hentikan!"
Keduanya bersamaan menoleh menatap Baekhyun, "Kau mengenalnya?" keduanya mengucap kalimat tanya yang sama.
Baekhyun menelusupkan tubuh mungilnya diantara keduanya, membuat mereka saling melepaskan cengkeraman. Anak mungil itu malah dengan semangatnya memeluk tubuh jangkung Chanyeol membuat cengkramannya terlepas dan lebih memilih balas memeluk Baekhyun , "Hyung, maafkan aku. Chanyeol hyung dan Baekhyunnie tak boleh putus, ya?" lalu mendongakan wajahnya menumpu dagunya pada dada bidang Chanyeol dan memandang Chanyeol dengan wajah penuh harapan.
"Siapa yang putus?" Chanyeol kebingungan.
"Kemarin aku tak benar-benar marah dengan hyung, kok. Kita masih pacaran, kan? Iyakan Chanyeol hyung~" Baekhyun mengusak kepalanya kedada Chanyeol membuat laki-laki jangkung itu tertawa kegelian.
Seseorang yang lain yang merasa dianggurkan, berdeham dengan keras. Ia melipat tangannya dan memandang penuh penilaian kearah dua orang yang masih berpelukan yang kini juga balas menatapnya.
.
OoooO
.
Chanyeol merasa dirinya diinterogasi untuk kedua kalinya dalam hidupnya dan pada ruangan yang sama, di ruang tamu kediaman Byun bahkan ia duduk di posisi sofa yang sama.
Walaupun sebaya dengan Chanyeol, Baekbeom duduk dihapadan Chanyeol dengan gaya –sok- berkuasanya menatap penuh penilaian kearah Chanyeol. Ia masih dendam orang yang mengaku dirinya sebagai kekasih adiknya dan orang itu bisa-bisanya dengan sangat tak sopannya mendorongnya sampai membuat bokongnya berdenyut ngilu. Untung saja dia pria sejati dan tak menggunakan bokongnya untuk dinikmati pasangannya, tapi tetap saja rasa kesal memenuhi benaknya.
Sedangkan Baekhyun, anak itu bersembunyi di dapur ditemani dengan Ryeowook dan Jongwoon. Kakaknya itu menuruni sifat ibunya yang galak. Baekhyun tak mau kena marah lagi. Tadi saat didepan toko ice cream, kakaknya enggan membelikan ice cream lagi untuk dibawa pulang, jadinya ia merengek di depan toko tapi entah datang dari mana, kekasihnya langsung mendorong kakaknya. Karena sampai sekarang keinginan untuk makan ice cream-nya masih membendung di benaknya, sembari menunggu kakaknya memarahi kekasihnya, ia menyurung Jongwoon diam-diam untuk membeli ice cream kesukaannya. Tak lupa ia menyuruh Ryeowook untuk menyembunyikan ice cream-nya di tempat teraman agar tak ditemukan kakaknya dan meminta tolong untuk dibawa kekamar saat kakaknya masuk kekamar. Kakaknya itu adalah satu-satunya orang yang tak mempan dengan aegyeonya, sampai sekarang Baekhyub masih gencar mencari cara lain. Tapi naasnya aegyeo Luhan-lah lebih mempan menakhlukkan hati kakaknya. Baekhyun tak suka itu.
Setelah selesai dengan urusan keinginan perutnya, Baekhyun langsung berlenggang dengan santai melangkahkan kakinya mendekati kedua orang yang baru saja Baekhyun sadari jika keduanya mempunyai umur yang sepantaran. Dengan polosnya Baekhyun duduk di samping kekasihnya yang masih setia menundukan kepala dengan kedua telapak tangannya menggenggam kedua lutut yang saling bersinggungan.
Baekbeom mengernyit memandang setiap pergerakan adik manjanya yang begitu tak mengetahui situasi. Anak itu meraih lengan tangan kanan Chanyeol agar merangkul tubuhnya. Ia yakin adiknya sudah dipelet oleh Chanyeol. Pikiran yang tidak-tidak langsung menghantui
"Kau pernah mencium adikku?"
"A-aku."
"Aku pernah mencium Chanyeol hyung!" Baekhyun langsung menangkup pipinya malu saat mengingat kejadian ia dengan berani mencium Chanyeol disekolah kekasihnya dulu, mengingat tentag ciuman Baekhyun teringat sesuatu, "Ah! Chanyeol hyung sudah berjanji akan menciumku, kan?"
Baekhyun menengadah mengingat kejadian Chanyeol yang menginap dirumahnya saat ia sakit, tanpa memikirkan keadaan Chanyeol yang saat ini pucat dan wajah kakak kandungnya memerah karena amarah.
"Yak! Kau Pak Chanyeol! Berani-beraninya kau mela-"
"Hei! Apa-apaan ini?" teriakan susulan dari arah pintu utama mengalihkan perhatian mereka bertiga.
.
OoooO
.
TBC
.
OoooO
.
"Budayakan review pada FF yang telah selesai kalian baca. Jika kalian mengabaikan kolom review berarti menurutku FF ini tak layak untuk dilanjutkan. Jangan mematahakn semangat author dalam berkarya."
.
A/N
Jangan skip bagian Kyungsoo jika kalian bingung tentang Sehun. Kunci Sehun kehidupan lama Sehun ada di Kyungsoo.
Jangan kayak temenku berinisial C –ehem LOL- yang ngeskip pair lain yang bukan chanbaek di dalam satu FF hahaha. Aku membuat tiga pair OTP kesayanganku bukan untuk cerita romansa mereka sendiri-sendiri tapi juga mereka membantu jalan cerita chanbaek.
Sejak awal aku buat cerita ini aku pengen main utama lbh sering fluff drpd pair sampingan btw wkwkkk aku pengen buat konflik yang berasa dari eksteren dan CB sebagai pembantu, tapi untuk saat ini CB yang begindang begindung dulu mungkin ya. Kencan aja gagal terus LOL
Ff ini jujur aku potong seperempat bagian, maaf /bow/
Aku merasa jika aku memaksanya malah tak puas dengan hasilnya
Maaf lagi aku g bisa ngasih thanks to review for this chapter. Chap besok aku rangkep ya
Aku baru ada kerja tambahan, ff ini g aku edit bahkan aku belum sempet nonton infinity challenge-nya EXO hiks
Hari ini apdet jamaah bersama:
- Baekbychuu
- RedApplee
- Railash61
- Exorado
- Byun Min Hwa
- Baekhyeol
- Sigmame
- Flameshine
- JongTakGu88
- Oh Yuri
Silakan mampir ke ff kece mereka^^~
Cukup sekian, jangan mengabaikan kolom review. See you~ /kiss bye/
