Author: Meonk and Deog.

Title: Make sense.

Genre: Romance and Drama.

Pair: HaeHyuk.

Slight Pair: YeHyuk, HaeRy, YeWook.

Cast: Lee Donghae, Eunhyuk/Lee Hyuk Jae, Kim Yesung/Jongwoon, Henry.

Rate: M.

Warning: Yaoi, Boys love, typos (possibly), bad grammar, OOC, OC, AU and etc.

Disclaimer: As you know we didn't own cast, not at all. But for stories however, this is totally and naturally ours.

Summary: "Seharusnya akal sehat bisa menjadi tameng untukmu lebih mengerti apa itu obsesi. Berhenti menyakiti Donghae dan Yesung di waktu yang bersamaan, karena kau bukan Raja drama yang harus terus menggunakan naskah dalam keseharian."

Don't like, Don't read.

NO COPAST! DON'T BE A PLAGIARISM!

YOU CAN BASH AUTHORS OR THIS STORY! BUT FOR CAST, WE WONT TOLERIR THAT!

Enjoy plase~

.

.

.

Author POV.

Ia mendengar bagaimana pria itu berusaha untuk mengatakan bahwa ini bukan cinta. Dirinya salah, sekalipun ia sering kali berbisik atas penyesalan yang rahasia. Dia mendengar dengan jelas bagaimana pria itu menyatakan secara lantang bahwa Henry tidak pernah menyukai Donghae—tidak sama sekali. Atau perasaan ini hanya sebatas rasa kasih sayang seorang adik yang disalah artikan. Henry mencoba untuk diam tentang itu, dia menerima Donghae menolak perasaannya. Tetapi tidak dengan penyangkalan. Dia bosan mendengar Donghae meyakinkannya. Henry diam dalam perasaannya yang kalut, ia tidak bisa mengendalikan dirinya ketika pria itu berkata buruk tentang perasaannya. Donghae adalah orang yang dia percaya, mereka bersama selama lebih dari tiga tahun. Tapi pria ini bahkan tidak bisa mengerti dirinya—atau mungkin berpura-pura tidak mengerti.

Ini kesekian kalinya Henry mencoba untuk tidak bertemu Donghae, tapi pria itu bersikeras datang kerumahnya tengah malam dan memaksanya untuk mengangkat telpon. Ia merasa dirinya dipermainkan, dimonopoli dalam kenaifan dan dikendalikan semudah yang Donghae inginkan. Henry duduk tegak diatas sofa, dia ingin mengusir Donghae—dia melakukannya sejak tadi. Tapi pria itu berdiam diri seperti patung.

"Ini bahkan sudah jam dua malam hyung, aku ingin istirahat. Aku harus tidur."

"Kau bisa tidur."

"Tapi tidak saat kau disini. Aku lelah, aku bersumpah." Donghae mencoba menarik dirinya sama seperti Henry, tapi ia sama sekali tidak bisa. Donghae menyayangi Henry, ia menemukan kenyamanan ketika Henry tersenyum dan menatapnya secara intents. Itu rasa yang tidak bisa diberikan Hyuk Jae, dia butuh Henry sebagai pegangannya dan sebagai pengandali diri atas kebodohannya pada Hyuk Jae. Donghae menarik nafasnya dalam, hazelnya bermain pada wajah Henry yang kain memucat. Dia harus menahan Henry sampai besok—atau sampai pria ini menyerah untuk pergi.

"Aku akan pergi jika kau memilih untuk tetap tinggal. Kumohon batalkan penerbanganmu besok." Henry tersenyum kecil, Donghae bahkan tidak pantas untuk menyuarakan protesnya sementara ia ditolak mentah-mentah. Dia membenci Donghae ketika laki-laki itu bersikap plin-plan dan semaunya.

"Aku akan mendapatkan apa setelah itu? Kau bahkan sama sekali tidak menganggap perasaanku." Tubuh tegap Donghae memberikan respon spontan dengan menggelengkan kepala. Kontenplasinya luruh pada kaca ruang tamu dan kini wajahnya menatap tepat obsidian Henry yang berapi. Henry tidak akan mendapatkan apapun, tapi Henry akan menjadi satu-satunya orang yang mau memberikan ketulusannya pada Donghae.

"Tidak ada."

"Kalau begitu biarkan aku pergi."

"Aku tidak mau."

"Hyung!"

"Aku mengenalnya ketika aku SMA. Saat itu usiaku masih 17 tahun." Kening Henry mengkerut hebat, telinganya berdengung dan meneriakkan kata 'Tidak.' untuk cerita selanjutnya. Dia tidak mau mendengar apapun tentang pria itu, tidak juga tentang Donghae. Ini saatnya Donghae mendengar dirinya, ini saatnya dia yang bercerita.

"Hentikan."

"Aku menyuruh temanku untuk mengenalkanku padanya, dan dua hari kemudian aku menyatakan perasaanku. Cukup bodoh, tapi anehnya dia menerimaku. Dia bilang dia juga menyukaiku. Tapi sampai saat ini aku tahu itu semua bohong."

"Apa ini tentang dia?" Dia menaruh sedikit simpati pada cerita Donghae, ketika pertama kali ia bertemu dengan Hyuk Jae, Henry tahu dia bukan orang yang baik. Persepsinya diperkuat dengan cerita ini. Ia pernah melihat pria itu tersenyum ketika Donghae mendapatkan NG dan fakta terburuk yang dia dapatkan—rumor antara Hyuk Jae dan Donghae disebarkan oleh manager pria itu sendiri. Ini informasi yang konyol, dia menghancurkan dirinya sendiri dengan semua itu.

"Aku merasa beruntung bertemu lagi dengannya, seperti ada angin segar lagi setelah kejadian enam tahun lalu. Aku merasa diriku memiliki kesempatan, aku ingin membuatnya mengerti perasaanku tapi lagi-lagi aku harus kecewa. Kau tahu, aku tidak akan menyerah." Henry menutup matanya, membiarkan warna monokrom pekat mengambil kendali atas indera terbaiknya.

"Aku mengerti, aku tidak akan berusaha untuk membuatmu menyerah. Karena itu biarkan aku pergi."

"Itu bukan pilihan Henry-ah."

"Kalau begitu kau sama saja dengannya, mempermainkanku—" Henry membuka matanya ketika dia mengucapkan kalimat itu. "—membuatku terlihat begitu bodoh, dan kau seperti memberi kesempatan padahal sama sekali tidak."

"Kau bisa mengundurkan diri menjadi managerku, tapi jangan pernah pergi."

.

.

.

Bibirnya naik ke atas ketika ia mencoba untuk mengoreksi semuanya. Dia membiarkan fragmen cerita berjalan sesuai apa yang orang-orang inginkan dan jatuh kedalam kekalahan yang berulang. Ini bukan tentang Yesung yang mencampakkannya, ini tentang pengkhianatan dan mengenai dirinya sendiri. Hyuk Jae tahu tidak ada satupun orang yang lebih baik daripada Donghae—mungkin. Tapi ini pertama kalinya pria itu menolaknya dengan tidak mengangkat telepon.

Hyuk Jae diam selama lebih dari tiga jam disarafnya yang kaku. Ia tidak menyelinap ke apartemen Donghae tanpa persetujuan pria itu sedangkan ia tidak ingin dianggap menyedihkan. Hyuk Jae mendesah dalam perpaduan emosi yang tak menentu, Hyuk Jae merasakan panas pada nafasnya sementara suhu disekitar sejak tadi kian merendah. Dia menggigil, dia lelah menunggu dan dia menganggap dirinya bodoh kali ini. Ia tertawa atas aksinya sendiri, ia menahan tangis untuk itu. Tetapi ia tidak pernah bisa pergi—atau menyerah kepada diri sendiri. Sekuat apapun ia mencoba, dirinya selalu bergantung pada dua orang.

Dua orang yang selalu ia benci, dua orang yang selalu ingin ia lenyapkan. Hyuk Jae mengeraskan rahang ketika pria itu mendekat kearahnya. Langkahnya santai tanpa penyesalan, tanpa membiarkan pikirannya tahu bahwa Hyuk Jae menunggu lebih dari tiga jam. Namun ketika Donghae makin mendekat, reaksinya jadi berbeda. Pria itu mengendurkan garis alis dan mulut diwaktu yang bersamaan. Memberikan reaksi jika ia membiarkan kontenplasinya lepas pada banyak dugaan. Hyuk Jae menunggunya dan dia tidak tahu—itu kesalahan.

"Ya ampun! Kau menggigil?!" Responnya tangkas dengan tangannya yang mengambang diudara kemudian mencoba meraih wajah Hyuk Jae yang memucat. Namun Hyuk Jae juga punya penolakan yang lebih keras dengan memalingkan wajah.

"Aku sudah memberikanmu kode rumahku, kenapa masih menunggu?!" Donghae bahkan mengkerutkan kening ketika Hyuk Jae mengulum senyum. Pria tampan itu menautkan satu alisnya dan membuat ekspresinya seolah-olah berkata, 'Apakah itu benar-benar dikatakan oleh Lee Donghae untuk membantunya? Atau hanya untuk menghinanya?' prasangka Hyuk Jae selalu buruk, tapi ia tidak pernah menyangkal bahwa itu tidak tepat. Seperti kali ini—Donghae bersikap seolah-olah tidak tahu sementara ia telah mendapatkan tujuh panggilan dari Hyuk Jae diponselnya.

"Kau berpikir aku menunggumu? Kau puas dengan itu? Apakah aku terlihat begitu menyedihkan karena aku menunggumu?"

"Hyuk Jae-ah, ini bahkan pertemuan pertama kita setelah malam itu. Aku tidak ingin memulai pertengkaran."

"Kau tahu itu sudah terlewat selama tujuh hari tapi kau bahkan tidak mengangkat telponku. Kau berniat untuk menjadi Yesung? Atau kau marah karena aku melakukan ini semua padamu?" Donghae marah dalam ketidak mampuannya untuk menolak kata-kata Hyuk Jae. Pria itu selalu menang dalam percakapan apapun, Hyuk Jae selalu punya cara untuk mengintimidasi dirinya. Entah lewat tatapan mata atau kebohongannya yang membeludak. Donghae memilih menyerah ketimbang diam dan terus menjadi pihak yang disalahkan bahkan ketika dia tidak melakukan apapun.

"Aku tidak akan menjawab apapun, aku tahu kau kemari bukan untuk itu. Masuklah, diluar sangat dingin."

"Aku tidak mau masuk sebelum kita bicara."

"Kita bicara didalam." Hyuk Jae mengaitkan tangannya dipinggang kemudian tertawa lepas. Dia mempertanyakan sejak kapan Donghae memiliki kemampuan untuk mendesaknya begitu baik. Dia tidak butuh Donghae yang memberontak—dia butuh Donghae yang penurut seperti dulu.

Bruagh.

Tubuh Donghae terhuyung hingga menghantam lantai dingin ketika tinju keras tepat menyentuh pipinya. Dia diam dalam aksinya yang tak berdaya, dia membiarkan pria itu melapisi wajahnya dengan berbagai kombinasi kemarahan yang menyerang tindakannya. Dan Donghae bahkan tak menghindar ketika Hyuk Jae mendekat lagi dan mencoba menyerang wajahnya. Donghae akan seperti ini sampai pria itu puas—dia akan diam dan membuat Hyuk Jae menyerah pada dirinya sendiri.

Hyuk Jae menghentikan aksinya ketika wajah Donghae nyaris benar-benar tenggelam dibeberapa luka lebam. Dia menangis ketika dia memukul pria itu, bukan ini yang dia inginkan tapi Donghae kerap kali menjadi provokatif sekalipun itu hanya pemikiran subjektifnya. Hyuk Jae menjatuhkan diri tepat disamping tubuh Donghae—dia menangis makin keras ketika dia sadar ini bukanlah pilihannya sejak dulu.

"Seharusnya tidak seperti ini! Seharusnya kau kalah enam tahun lalu, bukan menghancurkanku! Aku akan jatuh cinta padamu seperti pasangan-pasangan lain, aku selalu mencoba untuk tulus, tapi ketika kau mengatakan kau akan mengikuti semua langkahku itu semua jadi menjijikkan! Aku menbencimu sejak saat itu." Buliran dimatanya jatuh dan mendominasi keseluruh wajah. Dia ingin menghancurkan Donghae di volume suaranya yang keras, menusuk pria itu hingga kembali membawanya kemasa lalu. Namun, ada ruang yang seperti mencekat, ruang dimana dia terlihat lebih buruk dari apa yang Donghae pikirkan. Gemeletuk giginya makin terdengar dalam dan sorotan matanya menampilkan sisi kemarahan yang begitu besar.

"Dan ketika aku tahu namamu muncul di televisi, diriku terus dimonopoli pikiranku, 'Lee Donghae jahat, Lee Donghae adalah satu-satunya orang yang membuat Lee Hyuk Jae seperti ini.', kemudian aku berpikir untuk mengejarmu. Mendapatkan apa yang harus kudapatkan dan merebutnya lagi. Tapi ini semua tidak berjalan mulus." Otot leher Donghae bergerak sesuai irama pergerakan pria itu. Sketsanya buram diindera penglihatan Donghae, tapi warna-warna nyaris blur itu kembali menyatu ketika dia memaksa untuk membuka mata lebih lebar.

"Lee Hyuk Jae, kau gila. Kau benar-benar menyeramkan."

"Aku tahu, aku berpikir tentang hal itu kepada diriku sendiri. Aku gila ketika aku tidak mendapatkan apa yang seharusnya kudapatkan. Bukankah ini curang? Kau menang dua kali dan aku hancur." Mata pria bersurai blonde itu kebas oleh airmata.

"Tidak ada satupun yang hancur."

"Nyatanya kau masih berpegang teguh pada posisi yang sekarang." Donghae menumpu tubuh dengan sikunya yang berdarah, posisinya tepat dijalur dimana ia bisa melihat dengan jelas jika laki-laki itu tengah menangis.

"Aku akan melepaskan posisiku, jika itu maumu." Sesuatu didalam pikiran Hyuk Jae seperti bergejolak, ada suara gema yang tertangkap di relung akal sehatnya. 'Apa yang Donghae ingin korbankan lagi?' dan 'Apakah Hyuk Jae kembali memantapkan hatinya untuk sekali lagi menjadi pihak yang akan kembali seperti dulu?'

Dirinya yang berbeda tersenyum didalam hati, pengharapan lain tentang masa depan mengendalikan setengah dari hati nuraninya. Namun sekali lagi dia menangis, dia tidak tersenyum seperti apa yang dititahkan dirinya sendiri. Dia terisak, dia merasa begitu menyedihkan. Dia kalah oleh dirinya sendiri—dia dikalahkan oleh kegilaannya. Kemudian tubuh Hyuk Jae merangkak kearah Donghae, dia menelan ludah untuk memberi jeda dan adegan paling menyedihkan, nyatanya ia ejawantahkan hari ini. Hyuk Jae menyentuh kaki Donghae dengan tangannya, mencengkramnya kuat dan berbisik.

"Ini kesempatanku yang terakhir, berikan aku posisimu, apapun yang terjadi aku harus mendapatkannya—jika tidak aku akan lagi-lagi menyakiti diriku sendiri. Aku minta maaf dan tolong aku." Donghae menghapus sisa airmata diwajahnya, dia merengkuh tubuh kurus itu kedalam pelukannya dan menghapus sebagian jarak. Dia pernah bilang, dia tidak akan pernah membuat Hyuk Jae menangis, tetapi sekarang dia melakukannya lagi.

"Aku akan melepaskannya, aku akan memberikan semuanya. Dan kumohon, berhentilah terlihat menyedihkan. Kau bukan satu-satunya orang yang tersakiti disini. Aku mencintaimu seperti apa yang pernah kukatakan dulu—tapi itu akan berbeda jika aku berhadapan dengan Hyuk Jae yang seperti ini lagi."

"Maafkan aku, aku sangat minta maaf."

.

.

.

Kakinya bergerak gemetar ketika rangsangan berbeda nampak kepermukaan. Pemuda ini menggigit garis kemerahan sebentar, sketsa dari fragmen-fragmen blur itu perlahan menyatu. Menampakkan sosok yang paling dia takuti selama hampir satu bulan ini. Dia mencoba tersenyum dibibirnya yang kelu, tapakan kakinya bahkan lebih lamat dari jeda kedipan mata. Dia menunduk untuk beberapa momen dan dia berpikir bahwa ini saatnya jika dia harus melakukan itu. Hyuk Jae menelan ludah sebelum bicara, menyatukan pandang setelah itu memfokuskan obsidiannya kepada si sipit yang menatapnya begitu tajam.

"Ini projek pertamaku, aku tahu sunbaenim pasti sudah mendengarnya." Hyuk Jae merendahkan nada bicara sebelum menunduk, kemudian tangannya merentang, memberikan kertas script lalu bergumam, "Mohon bantuannya."

Yesung ingin tertawa dihatinya yang kelam, 'Apakah ini Hyuk Jae yang baru?' atau 'Apakah setelah tidak pernah bertemu selama hampir satu bulan watak pria itu jadi benar-benar berubah?'

"Aku tahu, tapi kau akan membuang-buang waktumu untuk bicara tentang masalah skenario denganku. Itu bukan jenisku." Hyuk Jae menegapkan tubuhnya lagi, senyumnya perlahan meluntur tergantikan oleh airmuka yang mengeras.

"Kau tidak mengerti formalitas?" Kening Yesung mengkerut lagi—sepertinya laki-laki ini lupa bahwa Hyuk Jae tidak akan pernah berubah.

"Kau pembohong, kau mengkhianatiku. Yang membuatku tidak percaya adalah kau bahkan membenciku." Wajah Hyuk Jae terasa kebas ketika sarkasme itu meluncur sehingga dia terpaksa mengadahkan muka kearah atas. Ada begitu banyak alasan yang dia punya untuk menyudutkan semua orang, termasuk kehadiran Yesung yang membantunya sekaligus menjatuhkannya.

"Kenapa tidak bisa percaya?"

"Kau tidak punya alasan untuk membenciku." Hyuk Jae menganggukkan kepalanya dan menyeringai singkat.

"Butuh berapa alasan?"

"Alasan paling kompleks."

"Saat itu satu tahun setelah kita berhubungan." Hyuk Jae mengusap rahangnya. "Aku ingat ketika aku datang ke pemotretanmu, aku harus berlari kesana kemari untuk membawa semua barang yang kau butuhkan padahal aku bukan asistenmu. Dan kupikir, semua orang yang ada disana memperlakukanku sama sepertimu."

"Kau konyol! Itu bukan alasan!" Rahang Yesung mengatup begitu kuat, giginya bergemeletuk sementara dia berusaha agar tidak menggeram.

"Itu salah satu alasan! Diam, biarkan aku bicara Kim Jong Woon!" Itu teriakan paling keras yang pernah ia dengar, Yesung menelan ludah. Ia tidak tahu apa yang terjadi kepada dirinya, tetapi ada gejolak yang membuatnya sangat takut. Seperti apa dia memperlakukan Hyuk Jae serta alasan apa yang membuat pria itu begitu membencinya menurutnya begitu menakutkan. Dia merasa dirinya tidak pernah melakukan apapun—sama seperti Donghae. Dia baik, itu yang dirinya tahu.

"CEO Lee—pamanmu, bicara tentang seberapa buruknya aku dan selalu membandingkanku denganmu. Dia bilang, aku tidak punya bakat sementara Kim Jong Woon adalah bintang yang bersinar. Dia mengatakan itu, bahkan kepada pelatih tariku."

"Kau tahu itu bukan salahku!"

"Ya aku tahu itu bukan salahmu, tapi itu terjadi karena dirimu. Kau tidak tahu bagaimana malunya aku dihadapan traine yang lain!" Hyuk Jae menghela nafas sebelum bicara, udara pendek-pendek yang menyengat begitu menyiratkan kemarahannya. Ekspresinya kembali memburuk, wajahnya merah padam seakan-akan ia ingin mengatakan seluruh kesalahan Jong Woon hari ini juga.

"Dan yang terakhir, aku benci keberhasilanmu!"

.

.

.

Mata bulatnya serupa tatapan rubah, dia berdehem disaat ekspresi pria itu makin menghangat. Bayang-bayang tentang penyesalan tersirat pasti dari pemuda teduh didepannya. Ini kali pertama mereka berhadapan bukan sebagai 'Hyung dan dongsaeng', ini kali pertama Henry juga Donghae tersenyum tanpa perhatian yang dirahasiakan. Dia bebas seperti pertama kali bertemu dengan Donghae. Mereka saling melempar sunggingan dibibir, saling berbisik tentang seberapa hebat persahabatan mereka hingga menyentuh angka lima tahun. Semuanya berlalu begitu cepat hingga tidak ada satupun yang bisa lepas dari jangkauan ikatan ini.

Henry menunduk malu-malu, menggaruk tengkuk sesekali dan tersenyum sekali lagi. "Hyung, cuacanya cerah ya?"

"Benarkah? Kupikir mendung." Henry mencebik, niatnya untuk mencairkan suasana tandas ditelan kecanggungan.

"Apa kau bersenang-senang dengan Manager barumu?" Donghae menggerakkan kepala kearah bawah-mengangguk.

"Ya, yang sekarang lebih baik daripada pemuda kecil yang selalu merengek padaku." Kerucut dibibir Henry menandakan bahwa perkataan Donghae tadi telah menyentil ulu hatinya. Henry tidak pernah menyesal karena telah berhenti menjadi seorang Manager pria itu dan menyatakan perasaannya. Momen menyakitkan yang bergulir seperti ditimpa beberapa adegan menyenangkan. Walau ditolak berkali-kali—Henry tahu perasaan itu tidak salah. Dan dia juga tahu, Donghae sempat goyah beberapa kali.

"Apa kau bersenang-senang dengan penyanyi Cina itu? Aku lupa siapa namanya."

"Namanya Zhoumi, hyung."

"Ah, iya! Dia tampan!"

"Dia milikku!" Donghae terkikik ketika secara tak sengaja mendapatkan respon yang ia inginkan. Dia menyesap kopi americano-nya lagi lewat sedotan. Kemudian selama sesaat suasana begitu hening, hanya helaan udara yang seperti meramaikan. Tidak ada bunyi seperti tadi, nafas yang bertarung dan mengepul menjadi satu-satunya dominasi dikondisi ini.

"Henry-ah…."

"Hm?"

"Aku berniat berhenti dari semua ini, aku begitu lelah dan aku baru sadar ini bukan jalanku sejak dulu. Aku hanya berniat mengikuti orang itu kemudian menjadi sama tanpa pertimbangan yang tepat. Aku hanya ingin dia melihatku, tapi semuanya jadi begitu buruk." Genggaman Henry digelas kopinya makin melonggar namun ia belum mendapatkan indikasi dari percakapan kali ini.

"Apa dia masih belum menerimamu sampai saat ini?"

"Tidak. Dia menerimaku, tapi dia tidak pernah tulus padaku. Hanya cara ini yang bisa mengubahnya, membiarkan posisiku direnggut orang itu." Senyum diwajah Henry perlahan luntur.

"Kau serius dengan itu? Kau tidak akan menyesal? Menjadi Lee Donghae yang sekarang kupikir begitu sulit, ini pencapaian yang luar biasa."

"Aku menyesal tapi akan lebih menyesal lagi jika aku membiarkan orang itu pergi dua kali."

"Kau hanya terlalu baik dan naïf." Donghae tertawa lagi tetapi sekarang dia menutup mulutnya. Ia terlalu sering mendengar ini dari banyak orang, seperti sebuah keseharian, dia selalu mencoba terbiasa dan melupakan rasa tersinggung yang konyol. Donghae menegakkan punggungnya lagi setelah selesai tertawa. Henry lebih dulu membuka mulut dan memutus perkataan Donghae secara pribadi.

"Jadi apa rencanamu setelahnya?"

"Bagiamana dengan membuat lagu? Bukankah aku hebat dibidang itu?" Henry menggidikkan bahunya—kemudian sorot matanya yang kekanakan menatap tajam hazel Donghae.

"Tapi kau komposer yang amatiran."

"Hei! Aku akan membuktikannya nanti."

.

.

.

Five years later….

Setelah lima tahun memulai debut, dia mendapatkan kebahagiannya. Ketika kali pertama dia berdiri dengan peluh dikeseluruhan wajah, menggenggam apa yang selalu ia inginkan. Merapal banyak bait pidato dan begitu banyak ucapan terimakasih. Dia ingat ketika itu dirinya telah menginjak usia ke-27 tahun. Usia pertama dimana dia menggenggam tiga penghargaan sekaligus. Awalnya dia pikir film indie itu akan sia-sia, aktor yang bermain disana terlihat seperti sampah yang diacuhkan—tidak dipedulikan, padahal bakat mereka jauh lebih baik daripada selebritis idola yang aji mumpung.

Tetapi ia begitu terkejut, filmnya masuk salah satu film terlaris ditahun itu. Namanya dielukan dalam jajaran aktor pendatang baru terbaik—dan tidak sia-sia! Dia mendapatkan tiga penghargaan sekaligus di Busan International Film Festival. Dia menangis, dia tidak bisa melupakan bagaimana cara tetesan airmatanya meluruh jatuh ketika namanya terpanggil dimenit-menit terakhir nominasi. Hyuk Jae bahagia, lebih dari itu.

Di tahun berikutnya, dia memutuskan untuk memilih film action dengan perannya yang antagonis. Itu pertama kalinya dia melihat begitu banyak senjata api dimana-mana. Sebagai pembelajaran dia bahkan menolak untuk menggunakan stunt man. Hyuk Jae perlu totalitas, profesionalisme ia junjung begitu baik, dan loyalitasnya kepada fans tidak main-main. Ia menganggungkan penghargaan terbesar itu, Blue Dragon Awards menjadi pijakan terbaiknya didunia film. Siapa yang menyangka aktor yang sempat mendapatkan banyak kritikan dari pengguna internet sebelum debut, sekarang begitu dielu-elukan. Ini ekspektasi terbesarnya—Best actor adalah bayaran dari semua ini.

Kemudian setelah empat tahun berkecimpung di layar lebar, ia memutuskan untuk debut dilayar kaca. Dia berperan sebagai Pangeran Mahkota yang menggulingkan tahta Raja Goryeo. Dia memerankan dramanya dari dalam hati, menggunakan nuraninya kemudian setelah itu dia mendapatkan apa yang para aktor cari. Ini pertama kalinya dia debut dilayar kaca, tapi sambutannya sangat baik. Hingga ia lagi-lagi mencapai apa yang dia sebut kemenangan. Dia menggenggam Daesang pertamanya erat, dengan rasa percaya diri yang dominan dan memulai hidup sebagai Eunhyuk yang berkharisma.

"Terimakasih!" Dia nyaris berteriak dilorong kosong tempatnya berjalan. Mengayunkan kaki perlahan—gerutuan tentang rasa syukur menemani pijakannya yang bertambah intensitas. Dia ingin segera pulang, bergumam 'Terimakasih.' kepada orang itu lagi dan memeluknya erat. Matanya berkaca-kaca seolah refleksi dirinya kali ini adalah yang paling nyata ketimbang Hyuk Jae yang dulu. Dia tidak lagi berpura-pura, dia tidak lagi menjadi gila atau apapun yang membuatnya terpojokkan. Sekarang dia bertranformasi, berkembang dipeluh yang tak pernah mengkhianatinya dan menjadi pemenang yang sebenarnya.

Namun tapakannya terhenti, sosok dari masa lalu melintas dengan kebahagian yang berbeda lagi. Dari kejauhan, Hyuk Jae bersembunyi. Menatap Yesung dan laki-laki mungil disampingnya dengan pandangan seperti orang bodoh.

"Ryeowook-ah, kita ke tokomu hari ini bagaimana?"

"Tapi sudah tutup, aku juga sudah lelah membuat kue ceri." Hyuk Jae menangkap cebikan dari pria itu, lehernya melongok hingga nyaris memperlihatkan kepalanya dari balik tembok yang menyekat. Ini pertama kalinya ia melihat Yesung dengan jarak sedekat ini sejak lima tahun lalu—sekalipun mereka satu Agensi. Pria itu terlihat sehat dan bertambah tampan. Tanpa sadar dia tersenyum kecil. Pikiran tentang seberapa bodohnya ia karena telah menyakiti laki-laki sebaik Yesung kerap kali muncul dibenaknya.

"Bagaimana kalau kita kerumahku?"

"Huh? Mau apa?"

"Aku ingin makan ceri yang sebenarnya." Kemudian Hyuk Jae mendengar tawa ketika pemuda manis disamping Yesung memekik dan bersemu merah. Dalam pikirannya, ada satu hal yang terus terpacu. 'Jadi pria manis yang pernah dia lihat dulu adalah kekasih Yesung yang baru?'

Sementara Hyuk Jae menunggu agar Yesung dan pria itu benar-benar pergi, Hyuk Jae menelan ludah. Dia melupakan semuanya—dia melupakan semua kebenciannya pada siapapun yang ia anggap mengancam dirinya walau itu sangat sulit. Sampai sekarang dia masih punya ambisi yang besar dan itu akan terus bertambah. Tapi dia akan mewujudkannya dengan cara berbeda—dengan cara yang lebih baik.

"Maafkan aku, Kim Jong Woon."

.

.

.

Dia terpekur ditempat ketika warna hitam monokrom menyapu ruang pandang. Obsidiannya mengedar kesegala sisi sementara tubuhnya mencoba mencari pegangan untuk berpijak. Tangannya telah merayap kedinding apartemen, mencari saklar lampu untuk menghidupkan penerangan yang lebih baik. Matanya mengerjap saat cahaya terang langsung menyerang retina—berkedip sebentar tubuhnya makin merapat kearah tembok kamar.

"Donghae-ah, kau dimana?" Belum ada jawaban, ruangan ini seakan-akan sepi dan tidak ada penghuninya.

"Astaga!" Tubuhnya merosot kearah sofa ketika satu tangan menghentikan pergerakannya dan membenturkan punggungnya tepat menyentuh busa sofa. Matanya membulat ketika bibirnya seperti dilumat sesuautu—benda itu melumatnya dengan agresif dan terkadang memagutnya liar. Dia menikmati itu semua dan sesekali merespon seadanya. Dan diklimaks, dia mendorong dada pria itu agar menjauh dan segera meraup udara sebanyak yang dia mampu.

"Itu hadiah! Lee Hyuk Jae tidak boleh marah. Selamat untuk Daesangmu." Pria itu mengambil tempat disamping Hyuk Jae, meraih tengkuk Hyuk Jae dan mengecupnya beberapa kali.

"Kau sudah pernah mendapatkannya."

"Tapi ini yang pertama untukmu—Chukahanda!" Hyuk Jae memutar bola matanya lalu mencoba untuk berdiri.

"Kau mau kemana?"

"Harus ada perayaan! Kita makan daging bakar bagaimana?" Donghae mengangguk tapi ekspresinya terlihat menimbang—agak segan dia mengedipkan mata beberapa kali.

"Tapi kupikir merayakannya dirumah lebih baik. Aku banyak pekerjaan."

"Tidak ada yang bisa masak disini Donghae."

"Aku makan makananmu tadi malam, dan itu tidak buruk."

"Kita delivery?"

"Terserah, kemari." Donghae menepuk sisi lain dari sofa yang dia duduki. Memberikan senyum terbaiknya dan mengecup bibir pria itu lagi ketika duduk.

"Donghae-ah…."

"Hm?" Donghae menjawab dengan gumamannya sementara bibirnya masih menginvasi garis kemerahan Hyuk Jae dengan mengecupnya berkali-kali, memberikan pagutan dan atensi yang berlebih. Rasanya masih sama sejak tiga belas tahun yang lalu. Dan dirinya yang sekarang seolah-olah tidak mau melepaskan Hyuk Jae seperti dulu lagi.

"Apa kau memaafkanku?" Donghae menghentikan gerakannya lalu menatap intens onyx pria itu. Tentu, dari dulu Donghae selalu memaafkan Hyuk Jae lewat caranya yang sederhana.

"Aku selalu memaafkanmu."

"Kau mencintaiku?" Kecupan dibibir dengan pagutan kasar menjadi jawaban paling kompleks diantara jawaban verbal lainnya.

"Tentu, bahkan yang sekarang lebih dari tiga belas tahun yang lalu."

"Apa kau ingin itu dariku?" Semua indera motorik Donghae serasa membeku dalam sekejap. Keseluruhan dari mekanisme otaknya seakan-akan berhenti dan berteriak ketakutan. Dia selalu menginginkan itu, tapi dia tidak butuh paksaan.

"Aku sangat menginginkannya, tapi aku tidak mau memaksamu. Aku tahu suatu saat nanti kau pasti akan membalasku." Diekspresinya yang samar—senyum itu mengambil alih sebagain dari kondisi dihatinya. Hyuk Jae tersenyum sangat tipis—sementara tangannya merayap kepunggung Donghae.

"Aku mencintaimu, aku membalasnya sekarang." Pria itu tidak muluk-muluk ketika dia terkejut, matanya membulat lebih lebar dan jantungnya berpacu cepat, bahkan ia merasakan rahangnya hampir terjatuh. Namun kemudian ekspresinya kembali stabil—dan ia tersenyum lalu memeluk Hyuk Jae erat.

"Kau harus dihukum karena membuatku terlalu lama menunggu."

"Apa hukumannya?"

.

.

.

13 years ago….

Mereka melangkah pelan menyusuri tapakan dalam perputaran detik-detik waktu. Tersenyum satu sama lain dan menyusun paragraf-paragraf kisah romansa. Namun, salah satu dari mereka sadar bahwa dirinya terkukung dalam perasaan tak terlalu tulus. Dia tidak membenci siapapun—untuk saat ini belum. Salah satu dari adam yang melintas mengeratkan genggaman, mengulas sunggingan bibir ketika mendapat respon kemudian mendudukkan diri dibawah pohon oak. Si pemuda menawan memilih duduk disisi kiri, menyenderkan kepala dibahu si tampan kemudian mengatupkan mata.

"Donghae-ah. Klub tari itu impianku, suatu saat aku ingin jadi artis atau penari. Bukan penari latar. Aku harus jadi yang utama dan menjadi pusat perhatian! Kau harus menotonku!" Nyatanya si antagonis masih polos, pikiran sederhananya dicekat berbagai bilik emosi. Dia hanya tahu dia ingin menjadi hebat, membanggakan semua orang dengan cita-citanya, dan bahkan ingin melihat Ibunya tersenyum dengan impiannya yang dianggap muluk-muluk.

"Kau memang hebat, tidak mungkin jadi penari latar." Lengan Donghae menyusup kebahu Hyuk Jae, mengecup surai hitam pria itu singkat.

"Aku tahu."

"Aku ingin selalu melihatmu menjadi hebat. Aku akan ikut mendaftar, kita lakukan semuanya bersama-sama." Tetapi perasaan si antagonis tidak pernah dihargai. Dia mengoreksi senyum lebarnya menjadi lebih kecil, dan sejak itu dia memantapkan hati, bahwa dia membenci semua pesaingnya.

Dia tidak akan menyerah dan mengkaratkan tuntutan makna Tuhan hanya untuk satu ambisi gila—namun dia akan tetap melakukannya untuk nafsu dan obsesi dikehidupannya yang terasa melelahkan. Hyuk Jae tidak gila, dia hanya berupaya untuk dipandang lebih baik dimasa lalu maupun masa depan.

.

.

.

END

.

.

.

Mind to Review?

.

.

.

Author note:

Huh! Akhirnya FF-ini selesai juga! FF yang paling berkesan menurut kami ketika diketik akhirnya selesai. Itu flashbacknya ditulis tiga belas tahun karena Donghae dan Hyuk Jae pacaran sejak kelas satu SMA. Kami pernah berencana buat FF ini jadi sad ending—seperti glass. Tapi kayaknya ini bakal sangat enggak adil buat karakter Hyuk Jae. Menurut kami dia nggak jahat sih /dibogemDonghae. Cuma yah, di chapter ini juga sudah jelaskan kenapa dia sampe kaya gitu ke Yesung dan Donghae? Dan ini endingnya, ehm. Sejujurnya kalo buat banyak adegan romance di ff ini kayaknya gak bakal bagus jadi kami harap ini gak terlalu mengecawakan. /deepbow.

Maaf untuk typos, diksi yang tidak jelas, ending yang mengecawakan (Kami minta maaf banget sama yang satu ini), alur yang berantakan juga kesalahan lain yang mempengaruhi kualitas FF ini. Kami benar-benar minta maaf /bow.

Terimakasih juga bagi para readers, reviewers, followers dan favorites. Terimakasih banyak /deep bow ^^

Thanks to review: Lee Haerieun| lee ikan| anchofishy| haehyukiddo| dhian930715ELF| HaeHyuk Love (updatenya masih ngaret ya? /slap)| hyukjae86| mizuky yank eny| Annonymous| GyuNiellee| harukichi ajibana| Anonymouss| F-polarise| nurul. p . putri| Lan214EunhaELF| Tina KwonLee| Guest|