Akhirnya, inilah chapter terakhir.
Bagaimanakah kelanjutan hubungan sasusaku? Oiya, di sini juga akirnya dimunculin cewek yang jadi korban pengkianatannya Kakashi alias istrinya Kakashi hehehe….! Siapakah dia??!! O..O..Siapa dia….(kuis jadul di TVRI trus pindah ke Metro TV).
Udalah, baca aja!
Chapter IX
Ruangan depan gedung sekolah masih tampak ramai dengan anak-anak yang tampak over-excited walaupun sekolah sudah selesai. Nama-nama peserta lulus ujian sudah dipampang di sebuah papan berukuran 1x3 meter. Nama-nama itu diurutkan menurut nilai tertingginya. Salah satu anak dengan rambut hitam ala ekor ayam dengan bosan hanya melihat sebentar papan dan menemukan namanya ada di urutan teratas daftar, kemudian matanya mencari-cari daftar lain tanpa mempedulikan suara-suara berisik di sekitarnya. Dia membaca nama-nama dengan sabar, tidak mau ada yang terlewat, kemudian matanya berhenti saat menatap jari yang menutupi sebuah baris.
Mata Sasuke beralih dari jari itu pada pemiliknya yang tampak tersenyum. Sasuke hanya menatapnya terkejut lalu dengan tidak sabar menyingkirkan tangan gadis berambut pink itu.
38. Haruno Sakura
Sasuke masih tidak percaya walaupun Sakura tampaknya sangat kecewa begitu Sasuke mengucek matanya dan tetap memastikan angka itu benar dan nama di belakangnya juga tidak salah. Tetapi tetap saja, peringkat 38 dari 240 siswa?!
"Huh! Aku tidak menyangka ternyata kau lumayan juga", puji Sasuke akhirnya saat mereka memasuki komplek perumahan di Oto.
"Hee… Itu bukan hanya lumayan. Memangnya kau tidak lihat ekspresimu tadi?! Itu hebat!", suara Sakura terdengar tidak terima.
"Kau mulai kedengaran sombong!", tambah Sasuke sambil menyembunyikan senyum di wajahnya.
"Begitu?", gumam Sakura saat menghentikan mobilnya di depan pintu kayu dengan plat bertuliskan Uchiha. Sasuke meliriknya sedikit kemudian dia memaksakan dirinya segera melepaskan seat beltnya dan segera keluar dari mobil Sakura. Sasuke keluar dan menutup pintunya bersiap mengucapkan terima kasih dan selamat jalan, tetapi ternyata Sakura sudah keluar juga dari mobil dan menghampirinya.
"Kau mau mampir?", Sasuke menawarinya. Sakura terlihat berpikir sebentar kemudian tersenyum dan menggeleng pelan.
"Tidak.", katanya kemudian, lalu dia menatap plat nama Uchiha dan menatap Sasuke.
"Terima kasih, sudah membantuku sampai sekarang. Aku benar-benar berterima kasih padamu. Aku tidak tahu bagaimana ceritanya kalau kau…. tidak ada. Terima kasih banyak Sasuke-kun!", Sakura menunduk di hadapan Sasuke benar-benar membuat Sasuke salah tingkah.
"E? Iya. Sama-sama, kau juga menolong", Sasuke akhirnya ikutan menunduk. Sakura tersenyum lalu menyandarkan punggungnya di mobilnya.
"Akhirnya selesai juga. Tidak perlu belajar lagi"
"Hooi! Memangnya kau sama sekali tidak ada rencana melanjutkan kuliah ya?", Sasuke terdengar kurang suka dengan kelegaan Sakura tetapi Sakura kembali hanya menanggapinya dengan tersenyum.
"Mulai sekarang aku tidak akan merepotkanmu lagi, ini benar-benar terakhir kalinya aku mengganggumu. Jadi, kau tidak perlu kuatir aku akan tiba-tiba muncul dan mengacau lagi, kau sudah bisa tenang dengan ujian masuk universitas. Hehe… jadi, bisa dibilang selamat tinggal", Sakura tersenyum mengatakannya dengan matanya masih saja menancap pada papan nama Uchiha. Sasuke hanya menatapnya heran, kenapa rasanya benar-benar seperti sudah mau berpisah saja?!
"Heh! Kita masih belum wisuda. Masih akan sering bertemu di sekolah kan?!", tolak Sasuke.
"He?", tanggap Sakura dan dia kembali tersenyum "Ya", gumamnya kemudian menunduk menatap kedua tangannya yang menggenggam kotak kecil berwarna hitam di tangannya.
"Ini. Untukmu", Sakura mengulurkan kotak itu pada Sasuke.
"Eh? Apa ini?", mata Sasuke menatap kotak di tangan Sakura ragu-ragu.
"Umm… untuk ucapan terima kasih sudah membantuku selama ini, lalu permintaan maaf karena selalu mengganggumu, terus hadiah selamat lulus, hadiah juara 1, kado semangat ikut ujian universitas dan kado perpisahan", jawab Sakura cerah. Tetapi sekali lagi kata perpisahan yang meluncur dari mulut Sakura membuat Sasuke benar-benar merasa tidak nyaman. Mereka belum akan berpisah, masih banyak waktu sampai upacara kelulusan nanti. Sasuke menatap kado di tangan Sakura kemudian secara reflek menarik tangan Sakura yang mengulurkan kado itu padanya membuat Sakura menubruknya, lalu sebelah tangannya memeluk Sakura.
"Sasuke-kun?!", Sakura yang sempat bersandar sebentar kemudian mendorong perlahan Sasuke dengan sebelah tangannya yang bebas. Sasuke melepaskan tangannya dari punggung Sakura, tetapi memegang sisi kepala Sakura dan menciumnya. Hanya kecupan ringan di bibir Sakura kemudian melepaskannya. Sasuke sudah bersiap kalau Sakura kali ini akan mendorongnya kuat-kuat atau bahkan menamparnya, tetapi Sakura hanya menatapnya sebentar kemudian memeluknya.
"Uh… Sakura?", Sasuke memegangi bahu Sakura, dia malah terkejut dengan reaksi Sakura.
"Sebentar. Sebentar lagi", suara Sakura terdengar di bahu Sasuke, dan Sasuke melingkarkan kedua tangannya pada tubuh Sakura. Sebentar. Hanya terasa sebentar dan Sakura sudah pergi meninggalkan kontak hitam kecil di tangan Sasuke.
000000000000000000000000
Sakura berhenti di sebuah tikungan menuju rumahnya. Langit mulai terlihat berwarna jingga dan lampu-lampu di pinggir jalan mulai menyala. Cahaya lampu yang memantul di kap mobil Sakura yang menyadarkan Sakura dari lamunannya. Di tikungan inilah dulu biasanya dia menghabiskan waktu bersama Kakashi. Sudah lama, cukup lama terakhir kali mereka bersama. Sakura menghela nafas kemudian menyentuh kait seat belt di bahunya. Hanya menyentuhnya, kemudian jarinya memutar kunci yang menghidupkan mobil.
Sakura memasukkan gigi dan mulai melaju. Hal berikutnya yang disadari Sakura, dia sudah menarik rem tangannya saat sedang melaju kencang di sebuah tikungan, membuatnya melakukan drift paling tidak masuk akal dalam sejarah.
000000000000000000000000
Asuma tiba-tiba menatap keluar jendela. Dia sangat yakin mendengar suara keras tidak jauh darinya. Dia hanya terburu-buru membuka pagar dan berlari ke jalanan. Sepanjang jalan yang dilihatnya tidak ada apa-apa, kemudian setengah berlari Asuma menyebrangi jalan dan mencoba melihat sejauh yang bisa di lihatnya di tikungan-tikungan. Tikungan utara yang menurun tampak seperti biasa. Tikungan selatan…
"He?", Asuma melihat mobil yang tampak di ujung tikungan terakhir. Mobil itu terlihat setengah terbalik. Untungnya ada penahan jalan yang menahan mobil hingga tidak jatuh ke bawah. Asuma segera masuk kembali dan menelfon ambulans dari dalam posnya. Setelah memberi tahu Konan bahwa ada kecelakaan dan akan melihat keadaan, Asuma meninggalkan posnya dan cepat-cepat mendatangi mobil terbalik itu.
Hee… setengah terbalik begitu, latihan drifting ya? Paling pengemudinya sekarang sedang panik. Astaga, untung pagarnya kuat, batin Asuma saat melihat pagar pembatas jalan yang sudah penyok hampir putus.
"He?", gumam Asuma yang mengenali body sebuah supermini dan mulai berjalan lebih cepat, kemudian dia sudah berlari dan memanggil-manggil pengemudinya saat mengenali warna olive mobil tersebut.
"NONA?!", Asuma mendekati bagian depan mobil. Kaca depan oke, artinya nonanya tidak terluka parah, setidaknya membuat Asuma sedikit lega.
"Nona?", Asuma mendekati mobil itu kemudian sisa kelegaannya habis. Tubuh Sakura di dalam mobil tampak terbaring tidak wajar di pintu dengan kaca sampingnya yang hancur berantakan. Seragam putih Sakura serta rambut pinknya, tampak merah, rata dengan darah.
000000000000000000000000
Siang itu di kediaman keluarga Haruno tampak jauh lebih ramai dari biasanya. Mobil-mobil berjajaran yang didominasi sedan-sedan hitam mengkilap tampak memenuhi halaman rumah dan orang-orang tampak mengenakan pakaian hitam-hitam. Tidak terkecuali seorang anak dengan rambut hitam kebiruan yang baru saja keluar dari dalam rumah bersama beberapa anak yang juga memakai pakaian hitam-hitam. Sasuke hanya dengan diam menuruni tangga tanpa menghiraukan dua anak yang berusaha mengajaknya bicara.
"Sasuke-kun! Kudengar kau peringkat 1 ujian nasional ya. Selamat ya!"
"Berarti Sasuke-kun anak SMU paling pintar se-Jepang kan. Waaah…"
"Sehabis ini kau akan melanjutkan ke mana?"
"Kudengar kau akan melanjutkan di luar negeri ya? Eh….. Sasuke-kun?", anak berambut ekor kuda pirang di samping Sasuke tampak kecewa begitu Sasuke tiba-tiba terburu-buru meninggalkan mereka.
Sasuke menghampiri seorang pria berambut putih keperakan di depan sebuah mini cooper hitam yang baru saja memasukkan ponsel ke dalam saku celananya. Pria itu tampak sedang merogoh kantong sebelahnya dan mengeluarkan kunci mobil kemudian dia berbalik saat sadar ada yang menghampirinya….
BRAKKK..!!!
"HYAAA!!!!! SASUKE-KUN!!!"
"KAKASHI!"
"Sasuke-kun…. Kakashi-sensei…."
Dalam sekejap, orang-orang yang berada di halaman memusatkan perhatiannya pada Sasuke dan Kakashi. Seorang wanita dengan rambut pirang pucat panjang dengan panik memegangi wajah Kakashi yang terlihat berdarah.
"APA-APAAN KAU?", wanita itu dengan marah meneriaki Sasuke yang siap mendekati Kakashi lagi. Dua orang dari rombongan Sasuke yang sadar segera menahan Sasuke sekuat tenaga
"HOI! Teme! Apa-apaan kau?"
"Eeeeh…. Sasuke!!!", Neji menahan tubuh Sasuke dari depan dan Naruto menahan kedua lengan Sasuke dari belakang.
"Neji, Naruto. Lepaskan!" suara Sasuke terdengar menggeram datar tanpa matanya sedikitpun melepaskan Kakashi yang mengusap darah dari sudut bibirnya. Rombongan murid perempuan yang bersama Sasuke langsung ketakutan sambil menggumamkan nama Sasuke dan guru matematika mereka. Sasuke yang biasanya kalem itu tiba-tiba tampak mengerikan di depan mereka, lebih dari itu, tanpa alasan yang jelas memukul seorang guru.
"Sasuke, apa-apaan kau?!", Neji dengan sekuat tenaga mendorong Sasuke menjauh dari Kakashi. Dia tidak menyangka sama sekali, ternyata Sasuke jauh lebih kuat dari dugaannya. Sampai-sampai dia dan Naruto kewalahan menahannya.
"KIBA! Bantu kami!", Neji setengah berteriak pada anak laki-laki berambut hitam mencuat yang cuma ikut-ikutan terkejut bersama rombongan anak-anak perempuan. Satu lagi bantuan datang dan menahan sebelah tangan Sasuke. Akhirnya Sasuke melemaskan tubuhnya dan ketiga temannya juga melonggarkan pegangan mereka.
"Kau baik-baik saja?"
"Tidak. Tidak apa", Kakashi membiarkan wanita di sampingnya membersihkan darah yang tersisa di bibirnya dengan sapu tangannya lalu menatap Sasuke.
"Apa-apaan kau ini? Kenapa kau tiba-tiba memukulnya?"
"Yugi..", Kakashi menarik lengan istrinya dengan sabar tanpa mempedulikan Yugito yang masih tidak terima.
"Tch!", beberapa saat kemudian Sasuke mengibaskan tangannya dari dua orang yang memeganginya lalu pergi dengan emosi menuju jazz merahnya dan segera meninggalkan tempat itu, masih diiringi pandangan terkejut, shock, tidak percaya teman-temannya. Tidak satupun dari mereka tahu alasan mengapa Sasuke tiba-tiba memukul gurunya. Hanya Kakashi yang terlihat murung dan tidak menghiraukan kepergian Sasuke.
000000000000000000000000
Besoknya, insiden itu sudah tersebar di seluruh sekolah. Semua murid mengetahuinya, apalagi Tobirama yang kemarin juga datang ke rumah keluarga Haruno. Pagi itu, dia memanggil Kakashi.
"Maaf, itu tidak ada hubungannya dengan sekolah. Hanya masalah pribadi", Kakashi hanya menjawab dengan ringan. Sasuke pasti mengetahui hubungan mereka entah langsung dari Sakura atau Itachi. Yang ada dipikirannya, kenapa Sasuke yang dikenalnya berkepala dingin bisa sepanas itu dan pertanyaan di kepalanya terjawab saat menemukan Sasuke dengan jumper hitam dan kerudung di kepalanya berdiri di bawah gerimis tipis dan bersandar pada mini hitam Kakashi di halaman parkir.
"Aku masih belum puas", kata Sasuke saat Kakashi berada dalam jarak yang cukup dekat. Kakashi sudah siap kalau Sasuke menyerangnya lagi, tetapi Sasuke hanya melipat tangan di dadanya seolah menahan dirinya sendiri agar tidak lepas kendali.
"Kenapa?", Kakashi hanya berdiri diam di tempat dan menggenggam payungnya erat-erat.
"Kau tahu semua ada hubungannya dengan Sakura kan?!"
"Kami sudah lama tidak berhubungan kalau kau mau menuduhku yang macam-macam Sasuke!", Kakashi menatap Sasuke tidak suka. Dia selalu berusaha melupakan Sakura apalagi setelah kematiannya, tetapi tiba-tiba ada orang luar yang datang dan mengungkit-ungkitnya begini benar-benar membuatnya sangat tidak nyaman.
"Aku hanya ingin bertanya satu hal. Tolong jujurlah. Apa kau pernah mencintainya?", Sasuke menatapnya tajam. Kakashi hanya balas menatapnya dengan pandangan bosannya seperti biasa.
"Huh! Dijelaskan juga percuma. Saatnya nanti kau juga akan tahu, kadang yang namanya cinta itu bukan alasan…"
"Hh! Jadi kau memang mencintainya kan! Tidak perlu berbelit-belit.."
"Tahu apa kau?! Anak seperti kau memang hanya bisa mengomentari orang lain. Aku memang mencintainya apa itu membuatmu kesusahan.", Kakashi menggertakkan giginya saat Sasuke tiba-tiba mencengkeram krah kemejanya dengan marah.
"Aku memang tidak tahu apa-apa! Kalian saling mencintai kenapa juga kalian harus berpisah?!", Sasuke tahu kalau dia melanjutkannya lagi, dia tidak akan sanggup menahan emosi dan air matanya.
"Kadang semua tidak sesederhana itu..", jawab Kakashi tanpa berusaha melepaskan tangan Sasuke yang mencengkeram krahnya dan terlihat menunduk di hadapannya.
"Kenapa kalian harus memperumit masalah? Kalau kau mencintainya kenapa kau tidak bersamanya…..", suara Sasuke terdengar lirih, dia berhenti sebentar menahan sakit yang tiba-tiba terasa mencekik tenggorokannya…"dia hamil tahu!".
Kakashi hanya menatap Sasuke dengan shock. Kepalanya kosong. Mulutnya terbuka siap mengeluarkan suara tetapi tidak ada yang keluar. Sejenak seluruh tubuhnya terasa kebas dan lemas, kemudian dia sudah jatuh mendarat di lututnya dengan wajah antara shock, tidak percaya dan sedih di tengah halaman dengan gerimis yang mulai membasahi tubuhnya.
=OWARI=
Hwaaaah…… akhirnya slesai juga fic pertamaku ini, tapi ini fic keduaku yang udah pake label komplit lhoo…^^
Bagemana endingnya? Apa cukup memuaskan? Ato cukup mengecewakan? Ato 'biasa aja, aku juga tau bakalan kek gini'? Ato cukup sinetron banget??!! Hwehehehe…..
Ripiw dooong…:D
Trus, makasi buanyyak bwat para senpai, temen2 sperjuangan yang uda ngasi ripiw dari awal sampey slesei en membantu sya mengimpruv sikil (skill maksutnya), dalam hal nulis ff. Doumo mina-chuann…!!!
Sabaku no panda-kun: Iya tua. Salah satunya om-om pedopil di ujung komplek. Coba tebak hehe… Aku baru tau apa itu fluff. Nggak papa klo panda-kun cuma bikin yang heboh, kan masing-masing punya sikil eh skillnya sndiri. Oiya, aq uda merencanakan 1 pik baru lagi. Riquestmu kuterima dahh…:D
Furukara Kyu: Hyaaaaa!!!!!!!!!!!! Kyu-san!!! Ada saingan lhoo…!!! Ati-ati yaaaah!!!! (gaje).
a.k.a Nadd: hehe…akirnya!!! Signed ripiw dari dirimuuu…!!! Ya ampuun, digombalin ma sasu kok malah dibilang sweet??!! Moga-moga chapter ini puas! Uda paling panjang nih dari smua chapter!
L_i_a: ouw Lia-san! Dirimu beneran kliyatannya uda bosen dah! Tapi moga-moga endingnya nggak bikin engkau menyesal uda ngikutin pik-ku :D. Kasi komen yak :D
sa3: (mangap aja pas ngliat ripiwnya- beberapa saat kmudian stelah sadar) sasasa!!! Apakah dirimu sedang dalam rangka memecahkan ripiw terpendek dalam sejarah ripiwan penpik??!! Selamat! Huehe…. Komen dong bwat endingnya :D
hanaruki-chibi: iya, nggak percuma dia juara kelas, dia juga juara ngegombal tuh! *dibakar sasu*. Ufufufufu……endingnya sasusaku??!! Uda baca sndiri kan kalo endingnya kakayugi :D. Ayouw! Kasi komen!!!!
Hyuuzu-chan: Uwaah! Baru ngeliat fic-q yang mengguncang dunia perfanfic-an yah??!! *ditampar para author*. Oke desu! Ai baca!
Azure Azalea: Hehe…. Sempai emang tau aja dengan diriku yang suka aneh, salah siapa coba yang nularin virus surprise-di-bagian-akhir??!! Inilah akirnya! Gimana? Ngerasa nemu kejutan?
Uchiha Yuki-chan: apaan sih? Ayam kampong itu Cuma bilang kalo dy dipli inlap with saku huehehe…(biza romatis juga ya diriku ini)*ditendang yuki-chan*. Umm.. maap, Ita-pyon cuman muncul 2 episode, diriku nggak sanggup mbayar dy buat muncul lebih dari 2 episode (uda kayak bisnis sinetron aja nih). Pembantu lepelnya konan ya jelaz bedalah…dia bisa merintah dei kok! *dibom dei*. Fine then ini chap terakhir, salam pengemis lagi *_*V
Ja! Makasih smuanyaaaah… uda ngikutin sampe akhir. Bwat readers yang lain yang skedar baca juga makasih yaaa…!!!
Sampe jumpa di fic-ku slanjutnya :D
Oiya, telat gapapa, hepi valentine evribadiiii….!!!
