Beda dengan Tazaki yang selalu menyambutnya dengan senyum—atau minimal bukan wajah yang terlihat bakal meludah ke arahmu—setiap kali membukakan pintu, Kaminaga jadi berpikir ulang kenapa ia akhirnya nekat datang ke kamar Hatano juga.

Oh iya, ia kan mau mengunjungi teman selantainya yang sakit, itu saja kok, tidak lebih; tidak ada juga maksud tersembunyi untuk menumpang curhat. Sama sekali tidak.

"Apa?" Hatano tampak bosan, atau hampir membanting pintu di depan mukanya—tapi semoga sih jangan meludah, apa pun asal jangan itu.

"Temanmu datang karena kau sakit," Kaminaga mengangkat kantung plastik ke depan wajahnya (di saat-saat seperti ini ia begitu puas akan takdir Hatano yang berbadan pendek), "aku pantas diberi setidaknya senyuman."

"Kau bawa apa?"

"Buah-buahan."

"Ada nanas?"

Kaminaga mengerutkan dahi. "Di sini? Di musim seperti ini?"

"Sayang sekali. Senang berbisnis dengan Anda."

Pintu menutup, tapi Kaminaga berhasil menyelipkan ujung sepatunya di celah yang tersisa, lalu dengan hati-hati agar tidak menghantam si penghuni kamar, membukanya paksa. Hatano mungkin memang kecil dan terlihat mudah dipatahkan, tapi ia pernah melihatnya membanting Fukumoto sewaktu sparring main-main di musim panas tahun pertama mereka, dan Kaminaga memutuskan ia tidak mau membahayakan hidupnya dengan mengetes tenaga pemuda itu. Namun berhubung yang bersangkutan sedang tidak sehat, lengkap dengan ujung hidung yang agak memerah, mata sayu, serta hanten* yang sering dilihatnya dikenakan oleh Jitsui, Kaminaga tidak perlu usaha banyak untuk bisa masuk.

Hatano mundur beberapa langkah, ekspresinya sekarang seperti orang yang hak asasinya habis dilanggar. Kaminaga toh tidak gentar, sudah paham kalau temannya yang satu ini selalu punya suasana hati yang buruk setiap kali sedang sakit; semakin parah keadaannya, semakin mudah juga ia dibuat kesal. "Sudah sebegitu bosannya hidup ya, Kaminaga? Lupa sharemate-ku siapa?"

"Jitsui," balasnya sembari menarik lepas tali sepatu dan membukanya asal-asalan, "dan baru saja berpapasan denganku di dekat tangga tadi—mau ke toko alat tulis, katanya—dan kita sama-sama tahu seberapa lama dia kalau pergi membeli perlengkapan menggambar." Ada seringai penuh kemenangan. "Jadi toleransi saja keberadaanku sampai beberapa jam ke depan karena ancamanmu tidak mempan."

Pemuda yang poninya dibelah tengah itu duduk di tempat tidur, putus asa. Ia kembali kelihatan jengkel, tapi setidaknya sudah berhenti berusaha mengusir Kaminaga. Hatano melipat kaki dan meraih game console yang sempat terlupakan. "Lakukan apa pun yang kau suka."

"Akan kusimpan buah-buahannya di kulkas."

"Terserah."

"Lalu aku akan duduk di sini bersama kameraku, mengecek foto dan sebagainya, karena tahulah, aku butuh pergantian suasana."

"Silakan."

"Aku tidak berniat menganggu kok, Pendek, cuma mau mengecek keadaanmu saja."

"Aku baik-baik saja, terima kasih. Biar kunyalakan bohlam di mejaku kalau kau mau mengecek foto."

"Baik-baik saja dengan ingus meler begitu?" Kaminaga melemparnya dengan kotak tisu yang ada di pinggir meja belajar, pura-pura tidak mendengar kalimat Hatano yang kedua (iya—masih, ia masih trauma). "Lap sana, mana mau Jitsui menciummu kalau berlepotan begitu."

Hatano mendecak. "Bukannya aku mau membuat dia ketularan juga." Ditariknya tiga lembar tisu sekaligus dan dibersitnya hidung, lalu diambilnya selembar lagi untuk menyumpal. Ia kelihatan menderita dengan pernapasan yang tersumbat begitu hingga Kaminaga nyaris kasihan. Pemuda itu lalu menggumpal lembaran-lembaran tisu yang sudah digunakannya jadi sebuah bola, lalu menembaknya masuk ke keranjang yang berjaga di sudut ruangan.

"Wah," Kaminaga bersiul, "three-point."

Komentar itu berhasil membuat senyum kecil muncul di bibir Hatano, tapi ia tidak bicara lebih lanjut, mulai sibuk dengan permainannya. Kaminaga sendiri melakukan apa yang tadi ia ucapkan; memasukkan buah-buahan yang dibawanya ke dalam lemari pendingin, menempati meja, dan mengeluarkan kamera. Ada beberapa jepretan dari tempo hari yang belum sempat diperiksanya karena sibuk ujian, dan ia selalu suka menilik ulang foto-fotonya dengan santai serta tidak terganggu oleh pikiran lain, maka Kaminaga sering mendapati dirinya menghabiskan waktu senggangnya untuk itu.

Salah satu objek favoritnya adalah kota. Foto yang diambilnya banyak membingkai jalan-jalan berbatu London, trotoar yang basah dan berkilau sehabis hujan, pemandangan dari seberang Thames hingga ke sudut-sudut taman yang jarang terjamah. Kaminaga suka dengan dinamisnya kota, baginya orang yang berlalu-lalang dan jalur-jalur tube yang sibuk adalah salah satu manifestasi dari arus hidup itu sendiri; yang selalu cepat serta menghanyutkan—dan ia membiarkan dirinya tenggelam. Yang paling menarik baginya adalah kerumunan atau kumpulan kepala di festival, ukiran di pintu kayu sebuah kafe klasik, atau etalase dari sebuah toko buku kuno. Itu gayanya.

Namun jika objeknya menjadi individu, Kaminaga mungkin memiliki satu yang jadi favoritnya. Orang itu punya garis muka yang enak dipandang, senyum tenang serta ramah, dan selalu indah diambil dari angle mana pun. Begitu memeriksa kembali memori kameranya sekarang, baru Kaminaga sadar kalau ia memiliki banyak sekali potret orang itu. Kebanyakan di taman, sedang memberi makan merpati atau tertawa lebar ke arah lensa. Lain waktu adalah pertunjukannya sebagai pesulap jalanan, dengan kartu-kartu di tangan dan puluhan pasang mata yang terkagum di latar belakang. Semakin mundur, semakin banyak foto orang itu dalam berbagai kesempatan; sedang melindungi kepala dari gerimis dengan lembaran koran ketika mereka berjalan ke halte bus, sedang minum dari cangkir kopi ketika mereka makan di sebuah kafe, sedang menunjukkan trik sulap baru padanya ketika keduanya duduk di meja kafetaria universitas.

Kenangan yang ia abadikan begitu banyak hingga jempolnya mulai ngilu menekan tombol kamera, dan dadanya mulai diresapi sesuatu yang kosong mengingat orang itu sedang tidak bersamanya sekarang.

Tazaki. Dari awal Tazaki memang selalu menjadi bagian penting dalam hari-harinya.

Kaminaga jengkel sendiri akan fakta bahwa ia masih menyimpan foto-foto lama; Tazaki dengan gelas kertas di tangan sementara festival musim panas riang di sekitarnya, Tazaki di antara bunga-bunga yang bermekaran, Tazaki dan dirinya sendiri, tersenyum ke kamera meskipun salju menumpuk di belakang keduanya dan mereka mengikatkan syal sampai dagu. Hanya dua atau tiga foto di setiap kesempatan, namun tanpa jepretan yang buram ataupun kurang fokus—semua yang ada di sana adalah foto-foto terbaik yang telah dipilahnya. Untuk apa? Ia menyisir rambut dengan tangan, hal yang terkadang dilakukannya hampir tanpa sadar jika mulai frustrasi; Kaminaga selalu memindahkan semua fotonya ke laptop setelah memeriksanya, tapi lalu untuk apa ia masih membiarkan Tazaki mendiami kameranya?

(Dan mungkin selama ini mendiami hatinya juga, hanya saja Kaminaga tidak sadar.)

Di kameranya juga ada Miyoshi, dalam beberapa kesempatan ketika mereka pergi berdua. Kaminaga tidak akan bohong dengan bilang kalau lelaki itu tidak kelihatan sama indahnya dengan sahabatnya dalam foto (justru Miyoshi sadar akan hal itu dan gemar menampilkan senyumnya yang paling menawan setiap kali bakal dipotret—dasar narsis sialan), tapi Miyoshi tidak pernah memandang ke arah lensanya dengan cara yang sama Tazaki memandang. Pemuda berambut cokelat kemerahan itu hanya menatap lensanya dan refleksi buram dirinya sendiri, sementara Tazaki selalu melihat orang yang berada di balik lensa—Tazaki selalu melihat Kaminaga—karena itulah yang penting baginya. Sadar atau tidak, ia selama ini memang sebenarnya sudah tahu, jika seandainya ia berkata cinta pada salah satunya, siapa yang akan membalas dengan perasaan yang sama.

"Oi, Kaminaga," panggilan Hatano memecah lamunannya, "daripada kau bengong galau begitu, pulang saja sana sebelum ketularan."

Baru ketika itu Kaminaga tersadar kalau sejak tadi ia hanya termenung sambil menatap jendela, memandang kosong pada awan mendung dan langit kelabu. Seketika ia terpikir untuk mengadu ke Hatano soal Tazaki, tapi lalu langsung batal. Maaf ya, Kaminaga enggan mencurahkan hati pada orang yang biasanya ia beri tips-tips percintaan. Gengsi. Jadi alih-alih, ia menoleh sambil memasang muka paling tampan. "Ya ampun Hatano sayang, khawatir aku sakit juga, ya?"

"Cih."

"Tapi kau tahu, aku sebenarnya mungkin memang sakit."

"Apa?" kata Hatano. "Sakit hati?"

Kaminaga tertohok.

"Jangan menatapku begitu, semua juga bisa melihat kalau kau dan Tazaki sedang bertengkar."

"Sejelas itu, ya?"

"Tidak juga sih," Hatano mengembalikan perhatiannya ke game, yang mengeluarkan sesuatu yang sepertinya suara senapan mesin sebelum ia menambahkan, "tapi kau tahulah, untuk urusan begini mata Jitsui paling jeli."

Butuh beberapa saat bagi Kaminaga untuk memproses kalimat itu menjadi bagian yang masuk akal. Terkadang ia terkesan, bagaimana mereka suka memberikan potongan informasi dengan kata-kata yang tidak lugas. Melihat dan menebak korelasi dari hal yang dikatakan dengan hal lain, lalu menyimpulkan keseluruhannya, selalu menjadi permainan yang menarik bagi mereka. Tapi terkadang juga ia cuma jengkel, terutama ketika Kaminaga sedang butuh kejelasan dengan cepat; seperti sekarang.

"Maksudmu, Tazaki sempat bicara dengan Jitsui?"

"Menurutmu?"

"Tidak, mungkin bukan bicara," ralatnya cepat, tidak bisa membayangkan sahabatnya sebagai seseorang yang doyan curhat, Tazaki selalu pendiam, dan ia nyaris tidak pernah membicarakan masalah pribadinya, "lebih seperti bertemu, mungkin?"

"Hmm-mm."

"Me-mereka suka bertemu berdua diam-diam?"

"Apa kau idiot?"

"Manga!" Kepalan tangan Kaminaga memukul telapak tangannya sendiri. "Tazaki kan suka membantu Jitsui mengerjakan manga, pada saat itu juga Jitsui sadar ada yang sesuatu dengan Tazaki?"

Hatano pura-pura mengecek jam. "Butuh selama itu buat kau mengerti? Impresif."

Tapi Kaminaga sudah terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri untuk tersindir oleh komentar Hatano. Apakah sahabatnya sekacau itu hingga orang lain saja bisa menyadari ada sesuatu yang salah? Mungkinkah… mungkinkah Tazaki juga merasakan kebingungan yang sama? Tidak, ia meninju mukanya sendiri secara mental, tentu saja tidak, bodoh, bukan sahabatnya yang sedang kebingungan mengartikan perasaannya sendiri; Tazaki hanya berusaha mencari cara bagaimana ia bisa berhenti menyukai Kaminaga karena mengira perasaannya tidak akan berbalas, tanpa merusak persahabatan mereka.

Mendadak, ada perasaan panik yang menyergap. Kaminaga nyaris melompat berdiri, mengecek arlojinya sendiri dan bertanya cepat, "Di mana Tazaki?"

"Mana kutahu—"

Suara lain bagai terputus. Fokusnya menyempit, sama seperti ruangan yang semakin terasa menghimpit. Ia meraih ponsel sesaat, tapi lalu menjatuhkannya lagi ke dalam saku begitu ingat Tazaki sedang tidak membalas pesan ataupun mengangkat teleponnya. Sekilas juga wajah Jitsui berkelebat, tapi ia harus bertemu dengannya, ia mau mereka bertatap muka dan ia bisa mendengar langsung soal Tazaki! Kaminaga melangkah ke pintu dan mengenakan sepatunya seakan tidak akan melihat hari esok, dan dalam ketergesa-gesaan ia mendangar Hatano memanggil, "Oi, Kaminaga, barang-barangmu—?"

"Aku titip dulu," sahutnya cepat dari celah pintu, "aku harus menyusul Jitsui!"


* Hanten: baju tradisional Jepang, berupa jaket pendek berisi gumpalan kapas untuk musim dingin