"Pinggang ku remuk rasanya"
"Cuma empat jam aku menghajarmu"
"Kau bilang empat jam itu cuma?", Mata rusa berbingkai bulu mata panjang dan lentik itu mendelik, meskipun sudah terkapar lemas dia masih mempunyai tenaga untuk menjepit perut suaminya, "Coba kau berada di posisi ku, sakit bodoh"
"Haruskah aku berada di bawah dan kau di atas, bukankah tadi kita sudah mencobanya?"
Luhan berdecih, tidak ingin membahas lagi betapa hebatnya Sehun menghentak tubuhnya sejak dari empat jam yang lalu sehingga mereka melewatkan kelas dan waktu makan siang mereka, "Kenapa diam?", Sehun membawa tangannya untuk merapikan rambut lepek wanita di bawahnya, "Kau lelah?"
"Kau pikir?"
Yang berstatus sebagai suami terkekeh, membenarkan posisinya untuk menggendong koala sang istri yang sudah kehabisan tenaga, "Kita ke kamar, kau harus mengistirahatkan tubuhmu"
Luhan mengeratkan lingkaran tangan dan kakinya di tubuh suaminya, "Tentu saja aku harus istirahat, aku butuh tidur agar aku bisa bangun dengan wajah segar besok pagi"
"Jika kau tidur makan apa kita malam nanti?", Sehun membaringkan sang istri di ranjang mereka yang berantakan, bukan berantakan karena aksi percintaan mereka karena mereka bercinta di sofa, namun karena sejak Luhan kabur dia memang tidak pernah merapikan tempat tidur mereka.
"Beberapa jam lalu mulutmu mengatakan jika kau akan membantu ku mengurus apartemen kita jika aku mau pulang"
"Apa itu artinya kau benar-benar akan pulang jika aku membantu mu mengurus apartemen kita?"
"Tergantung"
"Tergantung apa?"
"Aku sudah nyaman tinggal dengan Kyungsoo, masakannya sangat enak"
"Haruskah aku mengambil kelas tataboga?"
"Kau akan jadi chef paling tampan kalau begitu"
Sehun membersit hidungnya, menahan bibirnya untuk tidak tersenyum saat Luhan memuji ketampanannya, "Oke istirahatlah, aku akan memasak sesuatu untuk makan malam kita", Sehun bangun dari atas tubuh istrinya, membuka lemari untuk mengambil kimono karena dia sedang malas memakai celana.
"Pastikan kau membersihkan sofa yang baru saja kau kotori"
Jika bukan istrinya ingin sekali dia menendang pantat Luhan yang sedang tengkurap sangat nyaman untuk memulihkan tubuh lelahnya, "Kita berdua yang mengotorinya"
"Kau yang melucuti pakaian ku terlebih dahulu"
"Kau yang mendesah dan meminta Sehun-ah jangan main-main, ayo masukkan sekarang"
"YA!"
Sebelum jam digital di samping Luhan melayang ke kepalanya Sehun langsung berlari terbirit untuk keluar kamar dan mengambil alih tugas seorang istri agar istrinya betah tinggal serumah dengan dirinya, "Aku sudah seperti suami yang takut istri", ia terkekeh geli, mulai memasuki dapur guna menyenangkan hati dan perut istrinya yang luar biasa kejam.
.
.
.
.
.
"Apa aku melewatkan sesuatu, kenapa Luhan tidak menghadiri kelas kalian?", Baekhyun menggeser posisi duduknya di samping teman sekelas Luhan saat Chanyeol datang sambil membawa camilan untuk mereka.
"Salah sendiri kenapa dua hari ini kau tidak kuliah"
Baekhyun mendengus, "Kau yang mengurungku di apartemen mu jika kau tidak lupa"
Chanyeol menyeruput minumannya, terkekeh melihat bibir gadis di sampingnya yang sedang mengerucut sebal, "Aah jadi itu penyebab kalian berdua tidak terlihat selama dua hari kemarin?", Chanyeol menyenggol lengan Minhyun, mengatakan padanya untuk tidak membahas kenapa ia dan Baekhyun tidak masuk kuliah sejak dua hari kemarin.
"Ngomong-ngomong Minhyun-ah, pulang dan pergi dengan siapa Luhan saat aku tidak ada?"
"Aku tidak tahu, tapi kemarin siang dia pulang dengan ku karena bosan menunggu taksi di depan gerbang"
Baekhyun dan Chanyeol kompak terkekeh, "Mana ada orang yang menunggu taksi di depan gerbang, astaga gadis itu"
"Dia malas berjalan ke halte katanya"
"Tapi Minhyun-ah apa kau tahu kenapa hari ini Luhan tidak kuliah?"
"Dia tidak memberiku kabar, dan saat ku telpon panggilanku lansung di reject"
'Itu pasti ulah Oh keparat itu', Baekhyun menggigit kasar keripik kentangnya, Luhan adalah mahasiswi yang cukup teladan, jika tidak ada sesuatu yang terjadi gadis itu tidak akan mau melewatkan kelasnya, 'Apa mereka sudah berbaikan?', Baekhyun bertopang dagu, merasa menyesal karena dua hari kemarin dia tidak mengabari Luhan sama sekali.
.
.
.
.
.
'Bangunkan atau tidak ya?'
Masih di hari yang sama, Oh Sehun bertopang dagu, sudah sejak tadi dia duduk di sofa kamar sambil menatap punggung sang istri yang masih terlelap. Dia sudah memasak dan mengerjakan apa yang Luhan perintahkan, dan sekarang dia berniat membangunkan Luhan dari tidur nyamannya agar setidaknya wanita itu bisa mengisi perutnya yang belum di masuki apa pun sejak tadi siang.
Sehun berpindah duduk di ranjang, mengusap rambut tergerai sang istri guna membangunkannya, "Luh-", tidak jadi, Sehun menarik tangannya kembali karena takut Luhan akan marah jika tidurnya terganggu. Bagaimana ini, masakan pertamanya untuk Luhan -salad tidak ia hitung karena tidak enak- akan terbuang sia-sia jika Luhan tidak bangun. Sehun berfikir kembali, mencari ide agar istrinya yang sama persis dengan rusa galak tidak menerjangnya dengan tendangan.
'Ah itu saja'
Sehun tersenyum, sudah mendapatkan ide yang brilian agar terhindar dari amukan istrinya yang tidak memiliki rasa perikesuamian. Tangan panjangnya mengambil remote pendingin ruangan, menurunkan suhunya menjadi sedingin mungkin dan menjauhkan selimut yang sedang di gunakan istrinya, bahkan rasanya dia ingin menurunkan suhunya menjadi sedingin suhu di Antartika agar sang istri segera menggigil dan bangun dari tidur nyenyaknya. Dan setelahnya Sehun keluar kamar, berpura-pura tidur di sofa yang menjadi saksi betapa bergairahnya ia menyetubuhi Luhan tadi siang.
"Nngh Sehun-ah", si cantik yang tidak kuat dingin menggeliat dalam tidurnya, tangannya meraba-raba guna mencari sesuatu yang bisa menghalau kulit telanjangnya dari hawa yang tiba-tiba terasa sangat dingin.
Tidak menemukan apa yang ia butuhkan mata rusanya terbuka, hari sudah sangat gelap, 'Jam sembilan', mata rusanya semakin terbelalak menyadari ia tidur sudah lebih dari lima jam. Luhan menoleh ke samping guna mencari sang suami, 'Di mana dia?'.
Tanpa curiga sedikitpun Luhan mengambil selimut yang tergeletak di lantai, menggulung tubuh telanjangnya dengan selimut sambil berjalan keluar kamar untuk mencari sang suami.
"Sehun-ah..", setelah menemukan Sehun yang sedang terlelap di sofa Luhan menjadi kasihan, pikirnya Sehun pasti kelelahan karena mengerjakan hampir semua pekerjaan rumah, "Sehun-ah bangun", ia menepuk-nepuk pipi tirus Sehun, mengecup bibirnya karena itu adalah cara paling ampuh membangunkan sang suami.
"Sehun-ah.."
"O-oh kau sudah bangun?", Sehun mengucek mata untuk menyempurnakan acting pura-pura bangun tidurnya, membawa sang istri untuk duduk mengangkang di pangkuannya.
"Kau pasti lelah, maaf ya, aku keterlaluan"
Sehun tersenyum simpul melihat sang istri yang menatapnya kasihan, "Tidak apa-apa, asal kau betah tinggal denganku aku akan melakukan apa saja", katanya yang membuatnya di hadiahi pelukan erat oleh wanita di pangkuannya, "Apa kau lapar? Ayo ke dapur, aku sudah memasak untuk mu", tidak butuh jawaban sang istri, Sehun langsung menggendong Luhan ke dapur, cukup kerepotan karena ada selimut tebal yang melilitnya, dia tidak akan melepasnya, bisa-bisa bukannya Luhan yang makan tapi berakhir dia yang memakan kembali tubuh menggoda sang istri.
.
.
.
Lima belas menit kemudian..
Keduanya sudah kembali ke kamar dengan perut kenyang, di samping Luhan, Sehun sedang menyembunyikan tangannya yang menggenggam remot AC dan menaikkan suhu ruangan menjadi normal kembali, "Luhan-ie, terima kasih sudah memakan masakan ku", untuk mengalihkan istrinya yang kadang lebih jeli dari seorang detektif Sehun menarik istrinya untuk memeluknya dan menjadikan satu tangannya untuk Luhan jadikan bantal.
"Lumayan.."
"Hanya lumayan?"
"Hm, enam puluh nilai untuk lasagna mu"
"Oke tidak masalah, thanks", katanya singkat dan kesal, padahal harapannya adalah Luhan akan memberikannya hadiah berupa ciuman atau setidaknya pujian atas kerja kerasnya, tapi sayang, ia melupakan bagaimana tabiat asli istri yang di miliknya.
Menyadari nada kesal sang suami, Luhan yang sedang dalam misi menaklukkan hati Sehun kini beralih menindih tubuh suaminya, mengecup lama bibir sang suami seperti apa yang otak suaminya pikirkan, "Sudah? Sekarang mau apa lagi?"
Yang di tanya melongo, tidak mengerti dengan perubahan mood sang istri, "Anio..", Sehun menggeleng cepat, menatap bodoh istrinya yang sedang terkekeh merdu, "Terima kasih untuk kerja kerasmu, kau berhasil", seiring dengan pujian yang di lantunkan sang istri, bibir plum itu tersenyum, apa lagi saat wanita di atasnya menatapnya hangat dengan binar mata yang sangat cantik, Sehun di buat terpesona lagi rasanya.
Menghalau wajahnya yang mulai memanas, Sehun merapatkan tubuh mereka, mengusap punggung telanjang sang istri dan berujar, "Kau tahu, aku kadang tidak mengerti dengan dirimu", katanya lirih, menyampaikan apa yang dia rasakan pada istrinya yang kerap kali memainkan emosinya.
"Apanya yang tidak di mengerti, aku Xi Luhan, gadis delapan belas tahun yang sudah kau nikahi sejak tiga bulan yang lalu"
"Tapi rasanya aneh, kadang aku merasa kau sangat baik dan perhatian padaku tapi kadang-kadang kau sangat kejam", -seperti hari ini misalnya.
Si cantik tersenyum, kembali menghujani wajah sang suami dengan kecupan manjanya, "Lalu apa yang kau mau dari ku? Kau mau aku jadi seperi apa?"
Benar kan? Ada yang salah dengan istrinya yang mendadak manis dan sangat hangat padanya, "Apa kau keracunan makanan yang ku buat? Aku rasa aku tidak menambahkan racun di dalamnya"
Tawa Luhan pecah, mata rusanya melengkung indah tanpa melepaskan tatapan hangatnya pada sang suami, "Sudah ku katakan kau mau apa dari ku? Mumpung aku sedang baik pada mu", katanya setelah ia berhasil mengendalikan tawanya.
"Bisakah kau seperti ini terus?"
"Seperti apa?"
"Seperti sekarang, Luhan yang baik, penuh tawa, hangat dan lembut, Luhan yang suka menciumku sambil menatap ku sayang bukan Luhan yang yaa kau tahu maksudku"
Baik, suka tertawa, hangat, lembut dan romantis, baiklah jika itu yang bisa membuatmu jatuh cinta padaku Sehun-ah.
Luhan menunduk, menggesekkan hidungnya dengan hidung mancung sang suami yang sering menjadi korban kekasaran tangannya, "Aku akan menjadi seperti yang kau mau jika itu bisa membuatmu senang", ujarnya yang semakin memperparah kerutan di kening sang suami, "Aku serius"
"Luhan-ie ikut aku"
"Kemana?"
"Membenturkan kepala mu ke dinding"
Luhan terkekeh lagi, padahal biasanya wanita itu akan menjawab 'Sialan, sebelum kau menghancurkan kepalaku aku dulu yang akan memecahkan kepala mu', tapi sekarang wanita aneh itu hanya tertawa dan semakin merapatkan tubuhnya dengan tubuh Sehun.
"Serius Luhan ada apa dengan mu?"
"Wae? Bukankah seharusnya memang begini? Sudah seharusnya aku bersikap baik padamu, maaf jika sebelumnya aku dan mulutku sangat kasar padamu, aku janji akan menjadi Luhan yang lebih menghargaimu"
"Uwaah, aku yakin kau kerasukan hantu di apartment Kyungsoo", -jangan seperti itu Luhanie, aku bisa kualat dan berakhir jatuh cinta padamu, jangan bersikap lembut, jangan menatapku hangat, jangan tersenyum padaku, jangan mencium ku lagi karena aku benar-benar akan gila karena mu.
Melepaskan ciumannya Luhan mengusap kerutan di kening sang suami, "Apa? Kenapa menatap ku bengong seperti itu?"
"Apa kau baru saja menelpon mama mu dan mendapat banyak petuah darinya?", wajar Sehun bertanya seperti itu, pasalnya hanya sang ibu mertua lah yang bisa menjinakkan Luhan, istrinya sangat patuh dengan perintah ibunya yang sudah sangat mereka kecewakan.
Luhan hanya mengendikkan bahunya, baguslah jika Sehun berfikir seperti itu, "Kemarin aku memang menelepon mama"
"Apa kau mengadukan masalah kita?"
"Tidak, aku bukan tukang ngadu, buktinya aku tidak mengadu pada eomma mu"
"Lalu apa yang kalian bicarakan?"
"Dari awal kita menikah mama ku selalu menagih cucu padaku, mama kesepian, segeralah punya banyak anak untuk menemani mama di Beijing, begitu katanya"
"Katakan saja jika kita sudah berkerja keras, haruskah kita ke dokter?"
"Untuk apa?"
"Membuat program kehamilan"
"Kau ingin hamil?"
"Untuk mu sayang, bukan aku, ughh", gemas sekali, rasanya Sehun ingin menarik-narik pipi gembil istrinya yang sepertinya mulai ke mode jahilnya.
"Aku kira kau ingin hamil"
Sehun memutar bola matanya, mulai malas menghadapi Luhan yang suka menggodanya, "Aku benar-benar akan membenturkan kepala mu ke dinding"
Yang cantik menurunkan tubuhnya dari atas tubuh Sehun, beringsut masuk ke pelukan sang suami dan bertanya untuk melanjutkan obrolan ringan sebelum tidur yang sering mereka lakukan, "Sehun-ah, suka model majalah dewasa atau aktris film panas?"
"Dua-duanya"
"Ish tidak boleh seperti itu, pilih satu"
"Kau ingin menjadi seperti yang ku pilih?"
"Iya, anggap saja begitu.."
"Baiklah, model majalah dewasa kalau begitu"
"Kenapa bukan aktris film panas?"
"Aktris pandai berakting, aku tidak suka di bohongi"
"Baiklah alasan di terima", Luhan melingkarkan kaki tangannya ke atas tubuh Sehun, memainkan jarinya di dada menggoda sang suami, "Suka wanita cantik atau menggemaskan?"
"Dua-duanya"
"Tidak boleh serakah sayang"
"Menggemaskan, karena cantik itu membosankan"
Jawaban Sehun membuat Luhan refleks berfikir apakah Hayeong sangat menggemaskan, rasanya tidak, gadis gila itu memiliki wajah yang cukup boros, dia terlihat imut karena rambut pendeknya saja. Jadi haruskah dia memotong rambutnya menjadi pendek seperti Hayeong? Luhan menggeleng ribut, dia tidak mau menjadi Hayeong, dia harus menjadi dirinya sendiri, "Oke, wanita ramah atau kaku?"
"Ramah, tapi harus ramah padaku saja, jangan pada semua orang"
"Heels atau sneakers?"
"Heels"
"Feminim atau casual?"
"Feminim"
"Make up atau no make up?"
"Aku suka make up ala Oh Luhan, sangat cantik"
Si cantik merona parah, dia sedikit berdeham untuk menormalkan suaranya dan kembali bertanya, "Lebih suka di panggil Sehun-ah atau Sehun-ia, atau oppa?"
"Sehun-ie.."
"Kasar atau lemah lembut?", rasanya Luhan nyaris tersedak pertanyaannya sendiri, jika saja otak Sehun lebih jeli seharusnya Sehun sudah bisa menebak kalau saat ini dia sedang membanding-bandingkan dirinya dengan wanita yang Sehun cintai itu.
"Tidak kasar dan tidak juga terlalu lemah lembut, biasa saja"
"Seperti aku?"
Sehun mendengus, "Kau sangat kasar jika kau tidak lupa"
"Aku kan sudah minta maaf, jangan di ingatkan oke?"
"Call.."
"Emm apa lagi ya?", si cantik berdengung sementara Sehun dengan sabarnya menunggu pertanyaan Luhan, sejujurnya dia sangat mengantuk akibat kelelahan yang melandanya, namun dia tidak mau kehilangan momen hangatnya dengan Luhan yang beberapa malam kemarin tidak dia dapatkan, "Ini yang terakhir, kau suka wanita berambut panjang atau berambut pendek?"
"..."
Lama terjadi keheningan di antara mereka membuat Luhan mendongak dan mendengus saat yang di tanya sudah mendengkur, padahal yang terakhir adalah pertanyaan yang sangat penting untuknya, "Selamat tidur Sehun-ah", lirihnya dan mengecup bibir kening sang suami sebelum ikut terlelap guna menyusul Sehun ke alam mimpi.
.
.
.
.
.
Keesokan harinya, sejak pagi-pagi sekali Luhan sudah bangun dan melakukan semua tugasnya sebagai seorang istri. Di jam delapan pagi semua pekerjaannya sudah selesai, dia pun sudah berwajah segar karena baru saja keluar dari kamar mandi.
Menghadap kaca di dressing table-nya Luhan merapikan diri, mulai beraksi untuk menjadi wanita yang Sehun inginkan. Dress, heels, meng-curly rambut panjangnya dan menambahkan jepitan manis di sisi kanan rambutnya sudah Luhan lakukan, make up natural dan lipstick peach-nya membuatnya benar-benar terlihat seperti gadis menggemaskan yang Sehun mau.
Dan setelahnya Luhan berjalan cepat menuju apartemen Kyungsoo karena saat dia bangun tidur dia menemukan belasan panggilan tidak terjawab dari gadis bermata bulat itu. Kyungsoo pasti mengkhawatirkannya karena dia yang tidak pulang dan tidak pula memberi kabar, "Oppa, di mana Kyungsoo?", saat sudah berada di apartemen Kyungsoo, Luhan bertemu dengan kakak kandung Kyungsoo yang sepertinya hendak berangkat ke kampus, sama seperti dirinya.
"Dia sudah pergi sejak satu jam yang lalu", Eunwoo memasang sneakers-nya, kembali menghadap Luhan dan berujar, "Ada apa memangnya?"
"Aku ingin membicarakan sesuatu dengannya", Luhan mengikuti Eunwoo keluar apartment dan berjalan ke parkiran, berniat menebeng karena dia tidak ingin mengandalkan Baekhyun yang sampai detik ini tidak menghubunginya.
"Tentang apa?"
"Rahasia, oppa tidak boleh tahu"
Eunwoo membuka pintu mobilnya, melirik Luhan yang sedang menendang kecil ban mobil di samping mobilnya, "Kenapa? Mau menumpang tidak?", tanyanya geli, semakin geli saat melihat gadis cantik itu tersenyum lebar dan langsung berlari memasuki mobilnya.
"Semalam kau tidak pulang, Kyungsoo sangat mencemaskan mu", saat sudah memasuki mobil Eunwoo langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, kelasnya masih lama akan di mulai, jadi dia akan berjalan santai sambil mengobrol dengan sahabat adiknya yang hari ini terlihat berbeda dari biasanya.
"Itu dia yang ingin ku bicarakan dengannya"
"Sudah berdamai dengan keluarga mu?"
"N-ne?"
"Kau kabur dari rumah aku pikir kau sedang ada masalah dengan keluarga mu"
Luhan mengangguk mengerti, sekarang dia tahu jika Kyungsoo tidak mengatakan yang tidak-tidak tentang dirinya, "Aku kira kalian akan menganggap ku seperti gadis malang yang tidak punya uang untuk membayar kontrakan", katanya polos, keluar dari karakter aslinya yang sangat menjaga image dan berlagak kaku.
Pria berusia dua puluh tahun itu tertawa kecil, "Awalnya aku juga berfikir begitu sebelum bertemu dengan mu, tapi saat melihat penampilan mu aku yakin bahkan kau mampu membeli dua unit apartemen sekalipun"
Refleks Luhan mengibaskan rambutnya, berteman lama dengan Baekhyun membuatnya tertular sifat pongah sang sepupu, "Apartmen ku sejujurnya tepat berada di samping apartmen Kyungsoo"
Ckiiit
Eunwoo mengerem mendadak mobilnya sebelum melajukannya kembali setelah ia berhasil mengendalikan keterkejutannya, "Kau waras? Kabur di tempat yang hanya berjarak sejengkal dari apartemen mu?"
Luhan tertawa renyah, melihat mata melotot Eunwoo membuatnya sangat mirip dengan Kyungsoo; sangat menggemaskan, "Ya begitulah", gumamnya lirih, tidak apa-apa di anggap tidak waras asalkan status istri orang yang dia jabat tidak terbongkar.
.
.
.
.
.
Berbeda dari sebelumnya, jika kemarin dia minta di antarkan hanya sampai gerbang kampus hari ini dia minta antar sampai di parkiran, "Gomawo oppa, maaf merepotkan mu", katanya setelah ia turun dari mobil Eunwoo.
"Tidak masalah, aku titip adikku, katakan pada ku jika seseorang mengganggunya"
Luhan mengangguk, mengantar kepergian kakak dari sahabatnya dengan lambaian dan senyuman manis di wajah cantiknya.
Grep
"YA! Oh Hayeong-ah..", Luhan mengganti teriakannya dengan gumaman halus saat sang 'teman baru' merangkul akrab bahunya dan membawanya ke cafeteria.
"Maaf mengagetkan mu", masih merangkul pundak Luhan, gadis berambut pendek itu memasang cengiran polosnya pada gadis yang sempat ia cemburui, "Di cafeteria ada kekasih ku dan kekasihmu, jadi ayo kita ke sana"
"Ne? Kekasihku?"
"Minhyun"
"Aaah...", sejujurnya Luhan ingin terkekeh, tidak menyangka jika gadis gila itu menganggap serius candaan mereka kemarin.
"Kenapa kau tidak berangkat dengan kekasih baru mu? Bukankah kalian berada di fakultas yang sama?"
"Tidak apa-apa, aku lebih suka membawa mobil sendiri", katanya bohong, mengumpati Baekhyun yang membawa kabur mobilnya sehingga sudah tiga hari ini dia harus menumpang mobil orang lain. Kemudian diam-diam Luhan melirik penampilan Hayeong. Feminim dan sangat chick, gadis itu juga terlihat manis dengan beanie yang menghiasi rambut pendeknya, 'Ternyata seperti ini wanita yang bisa mengambil hati Sehun', tanpa sadar Luhan memerhatikan keseluruhan yang ada pada diri Hayeong, dari mulai cara dia berjalan, cara dia bicara, bahkan cara dia tersenyum pada Sehun pun tidak luput dari perhatiannya.
Sampai di cafetaria rasanya semua mata tertuju pada dia dan Hayeong, padahal hanya mata Baekhyun yang nyaris melompat keluar di ikuti Chanyeol di sampingnya dan bola mata Sehun yang sama melototnya dengan sang sepupu.
"Duduklah Lu.."
Luhan menurut, duduk di samping Minhyun yang sejak kapan sudah duduk di depan Sehun, "Baru datang?", Luhan menoleh pada Minhyun dan mengangguk canggung, apa lagi saat mata sipit Sehun dan Baekhyun kompak menatapnya tajam, "Iya, aku sedikit kesiangan", katanya sekaligus menyindir suaminya yang tidak membangunkannya dengan alasan ingin membiarkan dia istirahat lebih lama.
"Tadi pagi aku ingin menghubungi mu, tapi aku takut kau reject lagi"
"Kapan aku me-reject panggilan mu?"
"Kemarin sore"
Sepasang mata rusa Luhan mendial sang suami, mendengus saat Sehun mengangguk seolah membenarkan tebakannya bahwa dialah yang sudah menolak panggilan Minhyun ketika mereka sedang bercinta kemarin, "Maafkan aku, aku pasti tidak sengaja", Luhan menatap bersalah pada pria di sampingnya, bagaimana pun juga Minhyun sudah sangat baik padanya dan sering menghiburnya ketika ia sedang dalam mood yang buruk.
"Tidak apa-apa, lagi pula kenapa kemarin kau tidak kuliah? Wu Seongsangnim menanyakan mu"
"Kau tidak kuliah, kemarin Sehun juga tidak hadir"
Luhan menggaruk keningnya sementara Sehun mengusap kasar batang hidungnya, "Aku kemarin ke China", hanya itu alasan yang dapat Luhan berikan, sedangkan Sehun hanya diam saja, merasa tidak perlu menjelaskan pada sang kekasih kemana perginya dia seharian kemarin.
Setelahnya semuanya diam, Luhan yang cukup gugup melirik Baekhyun lagi yang masih betah memelototinya, 'Akan ku jelaskan nanti', gumamnya pada sang sepupu, Baekhyun pasti luar biasa kaget melihat ia yang tidak hanya berjalan bersama dengan musuh abadinya namun juga merangkul dan mengobrol akrab, dada gadis itu pasti sedang bergemelutuk panas melihat pengkhianatan yang sedang ia lakukan, "Minhyun-ah ayo ke kelas", Luhan melirik jam tangannya, sepuluh menit lagi kelas akan di mulai sehingga dia nekat menyeret Minhyun dan menjauh dari dua pasang mata milik Sehun dan Baekhyun yang siap mengulitinya hidup-hidup.
Sejujurnya jika saja Luhan tidak datang bersama Hayeong dan duduk di dekat Minhyun dia ingin sekali menyapa dan mengucapkan selamat paginya pada sang istri yang hari ini terlihat sangat berbeda. Luhan memang cantik, tapi hari ini wanita itu terlihat sangat bersinar berkat senyum dan make up di wajah cantiknya. Sehun jadi berfikir, apa Luhan benar-benar serius dengan obrolan mereka tadi malam. Luhan-nya tidak melunturkan senyumnya, Luhan-nya juga tidak menatapnya tajam seperti hari-hari kemarin. Di tambah lagi gaya rambut wanita itu yang membuatnya terlihat sangat cantik dan menggemaskan secara bersamaan, jika saja tidak ada sang kekasih, Sehun sudah pasti akan memuji penampilan baru sang istri.
'Sesungguhnya tanpa kau melakukan apa pun kau sudah sangat cantik Luhan-ah'
.
.
.
.
.
Di kelas, bibir mungil itu tersenyum membaca pesan singkat dari sang suami. Setidaknya hari pertama Luhan berhasil, Sehun memuji dirinya meskipun hanya melalui pesan singkat saja.
"XI LUHAN"
Luhan mengalihkan perhatiannya dari phonsel ke wajah Baekhyun yang sepertinya siap menghajarnya, "Ada apa?", Luhan mendekati Baekhyun, menyeretnya keluar kelas karena tidak mau menjadi pusat perhatian, beruntung kelasnya belum di mulai berkat sang dosen yang lebih sering absen.
"ADA APA KAU BILANG? KAU DI APAKAN OLEH GAD-mmmphh"
Luhan membekap mulut sang sepupu yang sama nyaringnya dengan petasan, "Jangan menjual petasan di sini, tidak laku"
Baekhyun menghempaskan tangan Luhan, menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan guna meredakan emosinya, "Jelaskan padaku..!"
"Kau terlihat seperti seorang kekasih yang sedang memarahi kekasih tidak setiamu"
"Jangan mengalihkan pembicaraan"
Luhan terkikik, mereka jarang berbicara serius seperti ini, biasanya yang mereka lakukan hanya saling sindir dan saling umpati satu sama lain, "Baiklah dengarkan aku.."
"Aku dengar"
"Kemarin gadis gila itu menjodohkan ku dengan Minhyun agar saingannya berkurang"
"Dan kau menerimanya begitu saja?"
"Kami pikir gadis gila itu hanya bercanda, jadinya aku dan Minhyun hanya mengangguk saja"
"Kenapa tidak memberitahu ku, dengan begitu bola mataku tidak perlu melompat keluar melihat adegan romantis mu dengan gadis gila itu"
Yang lebih tua memutar bola matanya, Baekhyun memang sering berlebihan mengekspresikan dirinya, "Salahmu yang tidak masuk kuliah selama dua hari berturut-turut tanpa kabar sedikit pun, kau bahkan membawa mobil ku bersama mu"
Sekarang giliran Baekhyun yang terkikik, "Maaf ya, aku khilaf"
"Khilaf pantat mu, katakan padaku apa kau masih perawan atau tidak?"
"Eiii itu rahasia"
"Katakan atau-,"
"Atau apa?"
"Atau ku adukan pada eomma mu"
"Kalau begitu akan ku adukan pada semua orang kalau kau sudah menikah"
"YAAAA!"
Baekhyun terbahak, suka saat berhasil memenangkan perdebatan di antara mereka, "Makanya jangan di bahas, lihat leherku bersih, itu tandanya aku masih perawan"
Luhan berdecih, "Kau bisa mengelabui semua orang, tapi tidak dengan ku"
"Sssttt, sudah lah nanti ada yang mendengar"
"Kau bilang jika kau tidak ingin menikah muda, bagaimana jika kau hamil"
"Chanyeol punya kondom dan aku punya pil anti kehamilan yang ku curi dari dalam tas mu"
"Pil apa Byun Baekhyun?"
Untuk yang kedua kalinya di pagi hari ini mata sipit Baekhyun terbelalak ke bukaan paling maksimal, wajahnya dan wajah Luhan sudah pucat pasih di hadapkan dengan Sehun yang sedang menebar aura hitamnya, "Byun Baekhyun jawab aku..!"
"Kau menguping?", tuduhnya untuk mengalihkan pembicaraan, namun sayang itu tidak berhasil, Sehun dan keterkejutannya membuatnya untuk pertama kalinya mengkerut takut pada sang mantan kekasih.
"Sehun-ah.."
"Aku tidak bertanya padamu, aku bertanya pada dia", Sehun menunjuk tepat di depan wajah shock Baekhyun, dia tidak sengaja menguping, awalnya dia memang mencari Luhan di kelas wanita itu tapi saat dia tidak menemukan Luhan dia ingin kembali ke fakultasnya, dan di tengah jalan dia menemukan Luhan dan berakhir menguping pembicaraan mereka.
"A-ku, itu..", Baekhyun melirik Luhan yang menatap memohon padanya, Sehun pasti akan marah pada Luhan jika dia jujur dan Luhan pun akan marah padanya jika dia membocorkan rahasia sang sepupu. Bagaimana ini, Baekhyun butuh seseorang untuk menolongnya saat ini. Dan sekali lagi Baekhyun mengutuk mulutnya yang tidak pernah bisa di ajak kerja sama.
"Byun Baekhyun"
Bulu kuduk Baekhyun dan Luhan kompak meremang mendengar geraman tertahan Sehun, "Aku tidak tahu, aku hanya asal bicara", dan setelahnya karena tidak ingin mendapat kemarahan Luhan dia langsung berlari terbirit untuk meninggalkan pasangan suami istri itu. Jika dia kabur hanya Sehun yang marah padanya, tapi jika dia tetap di sana dan mengatakan yang sejujurnya maka habislah dia di tangan Luhan. Biarkan Luhan yang menjelaskannya pada Sehun, dia tidak mau ikut campur masalah rumah tangga sang mantan kekasih dan sang sepupu yang tidak pernah ada habisnya.
"Sepupu mu kabur, mau menggantikannya untuk menjelaskan semuanya padaku?", Niatnya ingin berbaikan dengan sang istri namun saat ini dia justru mencengkeram kuat rahang Luhan saat wanita itu tertunduk tidak berani melihat wajah marahnya.
"Apa yang harus ku jelaskan?", Luhan bertanya gugup, matanya sudah menganak sungai ingin menangis saat Sehun memperlakukannya dengan kasar seperti ini, rahangnya sakit tentu saja, tenaga Sehun sangatlah cukup untuk meremukkan wajahnya saat ini juga.
"Kau mengkonsumsi pil kehamilan? Aku benar?"
Luhan melirik kesekitar, semakin gugup saat suasana sedang cukup ramai, "Jangan bicarakan di sini"
"Ikut aku..", berkat emosinya Sehun menarik kasar tangan Luhan, mendorongnya memasuki mobil dan melajukannya dengan kecepatan tinggi, dia marah, sangat marah karena Luhan membohonginya.
Tiba di area sungai Han Sehun menghentikan mobilnya, emosinya sedikit mereda melihat wajah basah wanita di sampingnya, "Jelaskan..."
"Aku memang mengkonsumsinya, maafkan aku", masih menunduk takut, Luhan menjelaskan sebisanya di sela-sela tangisnya yang menyayat hati Sehun.
"Sejak kapan?"
"Sejak satu bulan setelah kita menikah"
"Kenapa? Tidak mau punya anak dengan ku?"
Luhan menggeleng ribut, mengangkat wajahnya untuk menatap bersalah pada sang suami, "Bukan begitu"
"Lalu kenapa?"
"Awalnya aku memang ingin punya anak dengan mu, tapi saat menyadari betapa tidak harmonisnya rumah tangga kita aku mengurungkannya"
"Lanjutkan.."
"Kau sudah punya kekasih, kau sangat mencintai kekasihmu dan tidak menyukai ku sedikitpun. Aku takut setelah aku mengandung kau akan meninggalkan ku"
"Kenapa kau berfikiran seperti itu?"
"Aku pikir kau akan fokus dengan pendidikan mu dan kekasihmu, makanya aku tidak ingin hamil dulu, lagi pula aku juga harus menyelesaikan pendidikan ku terlebih dahulu"
Sehun melunak, mengusap wajah sang istri dengan tissue yang selalu tersedia di mobilnya, "Kenapa tidak memberitahu ku dari awal?"
"Sejak kapan kita akur dan saling terbuka satu sama lain? Seingatku baru kemarin kau bertingkah seperi seorang suami, sebelumnya kau bahkan tidak pernah menganggap ku ada, kau tidak pernah menganggap ku sebagai istrimu. Apa yang harus ku katakan pada teman-teman ku jika tiba-tiba aku hamil, tanpa suami bahkan tanpa kekasih?"
"Maaf menyakitimu..", ungkapan maaf itu memilik banyak makna, tidak hanya maaf karena baru saja ia berbuat kasar namun juga maaf untuk sikapnya selama ini yang tidak pernah menghargai Luhan sebagai istrinya, "Jadi harus bagaimana? Kau ingin tetap mengkonsumsinya atau ingin hamil?"
"Aku ingin fokus kuliah terlebih dahulu, kau pun juga begitu kan?"
"Hm, kita fokus kuliah dulu", Sehun menyandarkan kepala Luhan di dadanya, memberikan usapan lembutnya pada punggung bergetar sang istri, "Lain kali kau harus jujur padaku, apa lagi jika itu menyangkut tentang masa depan rumah tangga kita"
Menikmati perlakuan lembut sang suami Luhan merapatkan tubuhnya, mendongak memandangi Sehun yang juga sedang menatapnya, "Kau ingin lama hidup dengan ku? Tidak ingin menceraikan ku?"
"Luhan, pertanyaan macam apa itu"
"Wajar aku bertanya, kau sudah mempunyai kekasih"
"Jika aku ingin menceraikan mu maka sejak di hari pertama kau menendang betisku aku sudah menceraikan mu"
"Lalu kenapa tidak jadi?"
"Tidak apa-apa"
"Aku tebak kau pasti mencintaiku?"
"Aku sedang berusaha"
"Eh, ya? Bisa kau ulangi?"
Sehun terkekeh kecil, menarik gemas hidung bangir sang istri yang masih memerah, "Tidak ada pengulangan"
Si cantik merengut, jarinya mulai mencubiti perut suaminya yang sudah kebal, "Ulangi atau tidak ku kasih jatah"
"Tidak apa-apa, aku masih punya kekasih", katanya, berniat menggoda sang istri yang langsung mendengus keras, "Aku bercanda, jangan cemburu"
"Aku tidak sudih cemburu pada gadis gila itu"
"Kalau begitu tadi pagi kau baru saja di rangkul oleh orang gila"
Luhan tertawa kecil, mengelap kasar wajah basahnya dengan punggung tangannya, "Dia yang merangkul ku lebih dulu"
"Dia benar-benar menganggap kau berkencan dengan Minhyun"
"Begitukah? Dia bilang begitu?"
"Hm"
"Ngomong-ngomong kenapa jadi membicarakan dia, aku tidak suka"
"Cemburu?"
"Iya"
"Makanya kau merubah penampilan mu menjadi menggemaskan seperti ini?"
"Iya, aku cantik dan menggemaskan atau tidak?"
"Masih kurang sudah ku puji lewat pesan singkat?"
"Iya, satu pujian satu kecupan"
"Istriku terlihat sangat cantik hari ini"
Cup
"Dan terlihat sangat menggemaskan"
Cup
"Terlihat seperti remaja Junior High School"
"Ya! aku sudah dewasa"
"Benar kau sudah dewasa, sudah menjadi istri orang"
"Kira-kira suami ku suka tidak dengan penampilan baru ku?"
"Dia pasti suka, aku akan membawanya ke dokter mata jika dia tidak memuji mu"
"Ngomong-ngomong kenapa kita jadi mengalihkan pembicaraan, bukankah tadi aku ingin mendengar ulang apa yang kau katakan padaku"
"Yang mana?", berlagak lupa, Sehun menurunkan kaca jendela mobilnya, menghirup udara segar hasil dari hembusan angin di sungai Han yang cukup membuat rambutnya berantakan.
"Yang tadi, jangan berpura-pura lupa. Ayo katakan padaku kenapa kau tidak kunjung menceraikan ku?", Luhan menarik-narik t-shirt sang suami, memaksanya untuk mengulangi jawabannya beberapa saat lalu yang membuat Luhan berdebar, Luhan yakin jika telinganya tidak salah dengar, dia berani bertaruh jika tadi Sehun memang mengatakan ingin berusaha mencintaiya, "Sehun-ah~", dia merengek, berubah menjadi gadis menggemaskan kesukaan suaminya.
"Jangan merengek, tidak mempan"
"Ish, ya sudah aku turun di sini saja"
Tidak mencegah, Sehun membiarkan Luhan membanting pintu mobil, memperhatikan langkah cepat sang istri yang berjalan ke pinggir sungai han sambil sesekali menendang batu kecil yang membuatnya mengeluh sakit, "Kau pakai heels, seharusnya pakai sneakers jika ingin menendang", Sehun menyusul Luhan, memeluknya dari belakang dan menumpuhkan dagu lancipnya di bahu sang istri sambil menikmati pemandangan sungai han untuk pertama kalinya bersama sang istri, "Suka sungai han?", Sehun akan mencatat di dalam hatinya jika sungai han adalah tempat kencan pertamanya dengan Luhan setelah pertengkaran kecil mereka beberapa saat lalu.
"Tidak, di sini panas"
"Wajar ini tengah hari, sudah pernah kemari belum?"
"Pernah"
"Dengan siapa?"
"Kekasih ku"
"Kau punya kekasih?"
"Sekarang sudah jadi mantan"
"Iya maksud ku itu"
"Punya tentu saja, aku cantik"
"Pria itu pasti beruntung karena sudah lepas dari wanita kasar seperti mu"
"Apa maksudmu dengan beruntung huh?", Luhan berbalik, mendelik marah pada sang suami yang meremehkan kecantikannya, "Ku kutuk kau akan cinta mati padaku", katanya, lengkap dengan sepasang matanya yang memicing menatap wajah tampan Sehun, semakin tampan saat rambut hitamnya berantakan akibat sapuan angin.
"Kutuk saja, tidak takut"
"Ku kutuk jatuh cinta dengan Baekhyun mau tidak?"
"Aku sudah pernah jatuh cinta padanya"
"Sedalam apa?"
"Sedalam aquarium di apartemen kita", candanya yang membuat sang istri tertawa, hari ini Luhan sangat ceria, tawanya terdengar sangat merdu, dan Sehun suka itu.
"Kalau kau jatuh cinta padaku bagaimana dengan kekasihmu?"
"Kata orang dua lebih baik"
"Aku tidak mau di poligami"
"Aku sedang berusaha"
"Apa?", Luhan membuat gerakan mengorek kuping, memaksa kembali sang suami untuk jujur padanya.
"Aku sedang berusaha"
"Berusaha apa?", dada Luhan berdebar, jantungnya berdetak cepat, wajahnya memanas menanti jawaban Sehun.
"Berusaha membuatmu tidak merona"
"Tck..", kesal, Luhan melepaskan pelukan mereka, kembali berjalan menyusuri sungai han yang sedang sepi, siapa yang mau menjemur kulitnya di pinggir sungai di tengah hari bolong seperti ini?
"Luhan-ie tunggu..!", Sehun berlari menyusul Luhan, menggenggam tangan wanita cantik itu agar mereka bisa berjalan beriringan.
"Jangan mengikuti ku..!"
"Aku sedang berusaha menyukai mu"
"Aku tidak dengar"
"Aku sedang berusaha mencintaimu, istriku"
Deg
Ya Tuhan, jantung Luhan benar-benar lepas rasanya, apa lagi Sehun mengatakannya sambil tersenyum amat sangat manis padanya, 'Jangan merona Luhan, jangan merona', Luhan membaca mantranya berulang-ulang meskipun dia sendiri tahu jika itu percuma, pipinya pasti sudah terbakar saat ini, panas terik matahari sudah pasti kalah dengan senyum dan tatapan hangat Sehun yang membuat kakinya melumer seperti jelly.
"Aku serius, aku sedang berusaha, jadi ku mohon bantu aku", Sehun menahan tubuh istrinya yang nyaris roboh, melingkarkan kedua tangannya di pinggang Luhan dan menunduk untuk mempertemukan bibir mereka, menyatukan bibir mereka dan menikmati pagutan lembut yang jauh lebih terasa manis dari ciuman-ciuman yang mereka pernah lakukan sebelumnya.
Hah
"Kita harus kembali ke kampus, aku tidak mau bolos lagi", Luhan melepaskan ciuman mereka, membawa tangannya untuk merapikan rambut sang suami yang menutupi mata.
"Tidak mau berkencan dulu?"
"Kencan hanya untuk sepasang kekasih"
"Kita sepasang suami istri"
"Sudahlah jangan banyak omong, antar aku kembali ke kampus"
"Bilang saja kalau kau ingin menemui Minhyun"
"Memangnya kenapa?"
"Tidak sih, padahal niatnya aku ingin membelikan mu permen kapas dan ice cream"
"Aku bukan bocah", Luhan menarik tangan Sehun, membawanya kembali memasuki mobil dan memaksanya untuk mengantarnya ke kampus.
Menuruti sang istri, Sehun langsung melajukan mobilnya, "Luhan-ie apa kau menyukai Minhyun?"
"Kami hanya berteman"
"Yakin?"
"Percaya padaku"
"Jika kau mulai menyukainya kau harus mengatakannya pada ku"
"Untuk apa?"
"Agar aku bisa mensleding kepala-nya saat itu juga"
Si cantik terkekeh, menyandarkan kepalanya di bahu sang suami yang sedang menyetir, "Seharusnya kau berterima kasih padanya, dia sangat baik padaku"
"Bahkan kau mulai memujinya"
"Aku ingin kau cemburu"
"Kalau begitu aku cemburu"
"Tidak asik, kau pasti bercanda"
'Aku serius Luhan-ie'
Tidak perlu waktu lama, pasangan suami istri itu sudah tiba di kampus, Luhan bahkan berjalan mengendap-endap meninggalkan Sehun di belakangnya agar tidak ada yang melihat kebersamaannya dengan Sehun, terutama Hayeong, gadis gila itu sudah percaya padanya bahwa ia berkencan dengan Minhyun, jadi Luhan tidak boleh menghancurkan kepercayaan kekasih dari suaminya itu.
"Hoi.."
"Astaga..."
Pria berlesung pipi itu terkikik senang melihat sang idola melotot kaget melihatnya, "Kau terlihat seperti pencuri", katanya yang membuat gadis cantik di depannya mendelik tidak suka.
"Kenapa kau ada di sini? Kau mengikuti ku?", Luhan kembali berjalan, di ikuti Seokjin yang betah mengintilinya.
"Aku ingin memberikan ice cream dan permen kapas ini untuk mu"
"Ne?", Luhan menatap kaget pada makanan di kedua tangan pria yang mematenkan dirinya untuk menjadi penggemar nomor satunya di dalam hidupnya, "Untuk ku?"
"Iya"
"Kau yang membelinya?", Luhan menoleh ke belakang, mencari Sehun yang sudah lenyap entah kemana.
"Iya aku yang membelinya khusus untuk mu", pria yang kerap di sapa Jin usil dan raja Jin oleh Byun Baekhyun itu tertawa canggung, memaksa Luhan untuk memgambil ice cream dan permen kapas yang sedang ia pegang, "Kau harus memakannya sendiri, jangan membaginya dengan orang lain apa lagi Minhyun"
Kening Luhan semakin berkerut, pasalnya selama ini Jin selalu memberinya setangkai bunga yang dia petik dari taman sekolah dan sebatang coklat yang harganya tidak lebih dari lima ribu won, dan saat pria itu memberinya makanan manis itu tentu saja Luhan kaget, "Terima kasih, aku akan memakannya sendiri", untuk menghargai sang penggemar Luhan menerima pemberian langka Jin, tersenyum canggung padanya dan memasuki kelas yang sedang hening.
"Dari mana saja?", Minhyun berbisik pada gadis di sampingnya, tangannya masih sibuk menulis dan matanya masih fokus menatap lekat layar laptop di depannya.
"Aku ada urusan dengan Baekhyun", Luhan mengutuk dirinya sendiri yang lagi-lagi harus berbohong pada Minhyun, "Kenapa hening sekali, di mana seongsangnim?"
"Dia sudah keluar, dia hanya memberikan kita tugas"
"Tugas lagi?", Luhan membenturkan kepalanya ke bahu Minhyun, sang mantan kekasih memang tidak betah berlama-lama berada di kelas mereka, Kris selalu datang terlambat dan keluar lebih cepat, entah kenapa Luhan tidak tahu, namun dia sangat mensyukuri hal itu.
"Apa yang kau bawa?", membiarkan Luhan menyandarkan kepalanya di bahunya, Minhyun melirik makanan di tangan Luhan.
"Aah ini Ice cream dan permen kapas dari penggemar ku"
"Kau memiliki penggemar?"
"YA! apa maksudmu memasang wajah kaget seolah-olah aku tidak pantas mempunyai penggemar", Luhan menoyor pipi Minhyun, mendelik saat sang 'kekasih' terkekeh renyah, "Sejak kapan kau mempunyai penggemar?"
"Sejak SHS"
"Bagaimana caranya menjadi penggemar mu? Boleh aku mendaftar?"
Luhan terkikik kecil, dia yang sedang dalam mode manjanya melingkarkan tangannya di pinggang Minhyun, tidak pernah menyadari jika kelakuannya sedang di record camera berkualitas High Definition dari phonsel milik Chanyeol yang tersenyum sumringah, "Mati kau Oh Sehun, semoga kau sadar jika tidak segera kau akui maka istrimu akan segera di rebut orang lain", Chanyeol menyimpan kembali phonselnya setelah ia mengirim video berdurasi satu menit itu pada sang sahabat. Bersiul ringan sambil mengerjakan tugasnya yang tidak ada sulitnya sama sekali.
.
.
.
.
.
Hari sudah sore, kelas Luhan dan Sehun sudah berakhir, Sehun yang lebih dulu keluar dari Luhan segera mengambil mobilnya dan menunggu Luhan di gerbang kampus, dia sudah menghubungi Chanyeol untuk menyeret Baekhyun pulang lebih dulu agar Luhan mau tidak mau harus menumpang di mobilnya.
Setelah lima menit menunggu, dari kaca spion Sehun melihat siluet Luhan yang sedang berjalan malas sambil mengumpati Baekhyun, bibir mungil wanita itu bersungut-sungut sementara kakinya menendang apa saja yang ia lewati, Luhan sangat tidak suka naik taksi, Sehun sangat tahu itu.
Tiiiinn
"Luhan-ah ayo.."
Sehun memukul stir mobil, tidak suka saat Minhyun mendekati sang istri, tidak mau kalah Sehun ikut memundurkan mobilnya mendekati Luhan, "Luhan-ie ayo ikut aku", katanya guna mengalihkan perhatian Luhan dari pria bermarga Hwang itu.
Luhan melirik Sehun dan Minhyun bergantian, merasa sangat cantik saat di perebutkan oleh pria paling tampan di angkatan mereka, "Kenapa kalian merebutkan ku? Aku merasa sangat cantik jika seperti ini", katanya yang mengundang Minhyun untuk terkekeh dan Sehun yang mendengus parah.
Minhyun yang sudah terbiasa dengan kepercayaan diri Luhan kembali berujar, "Ayo ikut, aku ingin mentraktirmu makan sea food di restoran favorit ku"
"Perutku sudah kenyang makan satu cup ice cream tadi", Luhan memasang wajah menyesalnya, menatap tidak enak pada Minhyun yang sudah membantunya menyelesaikan tugas.
"Aku ingin ke butik eomma, mau ikut tidak, akan ku ubah penampilan mu seperti cinderella?"
"Cinderella kepala mu"
Sehun semakin mendengus, giliran dengan Minhyun sang istri berbicara sangat lembut, sedangkan dengan dirinya wanita itu tidak segan-segan memberinya umpatan.
"Kalian pulang saja sana, aku akan naik taksi saja", karena tidak ingin mengecewakan Minhyun dan tidak ingin merusak rumah tangganya yang sedang harmonis, Luhan berjalan cepat menuju halte, dia sempat mendial Minhyun dan bergumam maaf sebelum melanjutkan langkahnya guna menunggu taksi yang lewat.
Beberapa menit menunggu Luhan mendesah lega, apa lagi saat Minhyun mengiriminya pesan singkat, "Maaf ya Minhyun-ah", jari-jarinya bergerak lincah mengetik balasan pesan untuk sang teman.
"Tidak apa-apa, tapi kenapa Sehun ingin pulang bersama mu? Apa kekasihnya baik-baik saja jika dia melihat kebersamaan kalian?"
"Pria memang seperti itu, tidak bisa melihat mangsa cantik sedikit saja sudah langsung lupa pada kekasihnya"
"Oke hentikan balasan pesan mu, aku harap kau segera menemukan taksi yang akan mengantar mu pulang"
"Terima kasih Minhyun-ah, kau juga hati-hati", Luhan terkikik, Minhyun pasti luar biasa jengah dengan sikapnya, "Aku kan memang cantik", gumamnya sambil menyimpan phonselnya ke dalam tas.
Tiinn
"Masuk tidak? Mau ku seret atau ku pikul seperti karung beras?"
"Kenapa kau ada di sini? Kau menunggu ku?"
"Menurutmu..?"
Luhan berlari senang, memasuki mobil sang suami karena memang pada dasarnya dia tidak mau naik taksi, "Ayo pulang, aku lapar"
"Kau bilang pada Minhyun jika kau sudah kenyang"
"Aku tidak ingin menyakiti orang, setidaknya aku sedikit kenyang karena ice cream dari Seokjin"
"Kau memakannya?"
"Kenapa?"
"Tidak, hanya saja hati-hati siapa tahu ada racun di dalamnya", kata Sehun asal, "Kau makan sendiri atau kau bagi dengan Minhyun?"
"Makan sendiri, Minhyun tidak suka coklat, dan Ice cream dari Jin kebetulan rasa coklat"
Sehun mengulum senyumnya, membuka pintu mobil untuk Luhan saat mereka sudah sampai di parkiran apartment mereka.
"Kenapa tidak pulang dengan kekasihmu?", Luhan merangkul lengan Sehun, berjalan santai memasuki apartemen mereka yang membuatnya ingin tidur, apartment mereka sangat lah nyaman for your information.
Sehun membiarkan Luhan berbaring malas di sofa, meletakkan heels Luhan ke lemari sepatu yang ada di dekat pintu, "Dia ada urusan katanya", Sehun menjawab singkat, mengambil air mineral untuk membasahi tenggorokan sang istri, "Minum dulu baru tidur, kau harus membersihkan mulutmu dari sisa ice cream yang kau makan"
Luhan duduk, meneguk air putih tersebut hingga tersisa setengah, "Terima kasih, kau sangat tahu jika aku sedang haus"
"Sama-sama", Sehun memilih duduk di lantai sedangkan Luhan kembali berbaring di sofa, "Luhanie lihat ini", Sehun mengeluarkan phonselnya, membuka galeri dan menujukkan video laknat yang membuatnya tersedak saat dia sedang di kelas satu jam yang lalu.
"Apa?"
"Lihat ini", melihat Luhan yang enggan membuka mata Sehun memutar video singkat itu, sehingga membuat Luhan mau tidak mau membuka mata dan refleks membuang phonsel Sehun.
"Itu siapa?", tanyanya bodoh.
"Itu istri orang yang sedang selingkuh dengan teman satu kelasnya"
"Oooh..", Luhan mengangguk lemah, memutar otak untuk mencari cara agar ia tidak kembali bertengkar dengan Sehun, "Biasanya istri yang selingkuh karena kurang kasih sayang dari suaminya", katanya sambil menatap polos wajah sang suami.
"Begitukah?", Sehun yang awalnya ingin marah kini hanya bisa bertopang dagu, meredakan kecemburuannya karena Luhan yang menyindirnya, "Jadi menurutmu wanita di dalam video tadi kurang kasih sayang dari suaminya sehingga dia nekat selingkuh?"
"Aku tidak selingkuh bodoh"
"Lalu tadi itu apa? Kau seperti gadis centil yang dengan gampangnya merangkul pria lain di tempat umum seperti itu"
'YAAAAAA! AKU TIDAK CENTIL', ingin sekali rasanya Luhan berteriak seperti itu, tapi saat dia mengingat kembali jika Sehun tidak menyukai wanita kasar maka Luhan lagi-lagi hanya bisa membaca mantra dan menggigit lidahnya agar dia tidak berteriak, 'Sehun suka gadis baik, Sehun suka gadis lembut', kira-kira seperti itulah mantra yang dia gumamkan yang anehnya berhasil menahan kemarahannya, "Maafkan aku ya?", katanya halus, menangkup rahang suaminya untuk membalas tatapannya, "Aku bersalah, maaf"
"Baguslah kalau kau tahu kau salah"
Melihat reaksi sang suami Luhan jadi mendengus, "Aku mempunyai suami yang sudah mempunyai kekasih, bahkan mereka tidak canggung bermesraan di depan ku, aku bersyukur pada Minhyun yang menghiburku, meskipun kami (aku dan suamiku) tidak saling mencintai tapi seharusnya dia menjaga perasaan ku, bagaimana pun juga aku adalah istrinya, itulah kenapa aku sering merangkul Minhyun, dia membuatku nyaman, dia sangat man-",
Cup
"Aku yang salah, maaf"
Bibir yang baru saja mencurahkan isi hatinya itu tersenyum lebar saat sang suami mengecupnya, "Suami ku memang salah", katanya langsung melompat duduk di atas pangkuan Sehun.
"Kau sedih ya saat aku bersama Hayeong?"
"Aku tidak sedih, hanya tidak suka saja"
"Aku akan mencoba untuk tidak bersamanya saat sedang ada dirimu. Aku akan menjaga perasaan mu asalkan kau mau melakukan hal yang sama"
"Bagaimana ya? Aku dan Minhyun adalah teman, bagaimana bisa aku menjauhinya"
"Tidak perlu menjauhinya, hanya jangan memeluknya sembarangan seperti yang kau lakukan tadi"
"Baiklah, aku hanya akan memeluk suamiku saja", katanya senang. Menemui titik terang untuk melanjutkan rumah tangga seumur jagung mereka, "Tapi bagaimana jika Hayeong memelukmu bahkan mencium mu di depan ku, bolehkah aku menjambak mu?"
"Dia akan menjambak mu balik kalau begitu, dia tidak suka kekasihnya di sentuh gadis lain"
"Aku akan meminta bantuan Baekhyun untuk adu jambak dengannya, kau jangan marah ya?"
"Hm, lakukan sesuka mu, aku tidak akan marah"
Luhan berbinar senang, setelah ini dia akan mengizinkan Baekhyun untuk menyudahi puasanya. Beberapa hari ini Baekhyun memang sedang berpuasa untuk tidak bertengkar dengan Hayeong sesuai perintahnya, dan saat Sehun mengizinkannya maka Luhan akan dengan senang hati memulai kembali pertengkarannya dengan Hayeong, tapi.., Luhan berdengung kembali, dia sudah berbaikan dengan Hayeong, haruskah Luhan bertengkar kembali? Luhan jadi pusing memikirkannya.
"Kenapa?", melihat sang istri yang terdiam terlarut dalam lamunannya Sehun menjadi bingung, seharusnya Luhan senang karena sudah dia izinkan untuk adu jotos lagi dengan musuh abadinya.
"Aku tidak yakin akan bertengkar lagi dengannya"
"Wae?"
'Aku sudah berjanji akan menjadi gadis baik-baik, gadis lemah lembut seperti yang kau mau, jika aku masih mengeluarkan mulut berbisa ku mana mau kau jatuh cinta padaku', Luhan menggeleng saja, memeluk suaminya yang tidak keberatan sama sekali atas sikap manjanya.
.
.
.
.
.
"Luhan-ie kemari..!"
Luhan yang baru saja keluar dari dalam kamar mandi langsung menghadap sang suami yang sedang berbaring nyaman di ranjang sambil menepuk tempat kosong di sebelahnya, "Tunggu sebentar, aku pakai piama dulu"
"Untuk apa pakai piama jika ujung-ujungnya akan ku lepas?"
"Tidak mau, aku ada kelas pagi besok"
"Kemari dengan handuk mu atau ku telanjangi saat ini juga?"
Luhan merengut, berjalan sambil menghentak kuat kakinya agar sang suami mengerti bahwa dia sedang tidak dalam kondisi fit untuk memuaskan nafsunya, "Rambutku masih basah, bagaimana jika aku flu?"
"Aku punya banyak uang untuk membeli obat", Sehun menangkap tubuh sang istri, melempar handuk yang sedang Luhan gunakan ke sembarang arah dan menarik selimut untuk menutupi tubuh polos mereka.
"Masih jadi pengangguran saja sudah sesombong ini", Luhan merapatkan pahanya saat Sehun berusaha membobol vaginanya lagi, dia sangat lelah, tubuhnya pun masih terasa pegal berkat percintaan tanpa henti yang mereka lakukan.
"Buka pahamu..", Sehun berbisik menggoda sambil menjilat cuping telinga Luhan, mengangkat satu paha istrinya dan memasukkan miliknya ke vagina sang istri, "Aah, sakit bodoh", tidak apa-apa Luhan mengumpat, yang penting misi membuat baby segera terwujud, "Aku tidak suka pemanasan", katanya tanpa beban, mulai menggerakkan pinggulnya dan langsung menghentak kuat vagina sang istri, "Luhan-ie berapa puluh persen tingkat keakuratan pil yang kau konsumsi?"
"Tidak tahu, jangan mengajak ku bicara aah..", Luhan mencakar bahu suaminya yang sudah menindih tubuhnya, membiarkan Sehun menghabisinya lagi di saat tubuhnya sudah terasa remuk.
"Aku hanya bertanya, berapa persen kemungkinan kau hamil walaupun kau mengkonsumsi pil itu?"
"Tidak tahu Sehun-aah..", Luhan merengek kesal, sangat tidak suka bercinta sambil berbicara seperti ini.
"Jika kau hamil tidak apa-apa"
"Apa kau akan bertanggung jawab?"
"Tentu saja", Sehun rerius, walaupun dia masih mempunyai kekasih tapi tidak ada sedikitpun niat darinya untuk bercerai dengan Luhan. Sudah dia katakan dia sedang dalam proses menyukai Luhan, bagaimana pun hasilnya nanti dia tidak akan menceraikan Luhan, dia akan tetap menjadi suami Luhan dan Luhan tetap akan menjadi istrinya. Yaa setidaknya karena Luhan tidak mempunyai kekasih.
"Jika aku hamil bagaimana dengan kuliah ku?"
"Kau bisa home schooling, atau kau bisa menundanya selama satu tahun"
"Tidak mau, aaaah..."
Sehun menghentak kasar vagina istrinya saat Luhan menolak usulannya untuk punya anak sebelum merubah posisinya menjadi berbaring menyamping dan menusuk sang istri dari belakang, "Tangan mu..", Mengabaikan protesan Luhan, Sehun meremas kembali dada istrinya sambil mengecupi lehernya yang sudah berpeluh, "Ku doakan kau cepat hamil", bisiknya sambil terus menghentak kuat vagina sang istri.
"Kalau begitu aku akan meminum double pil ku"
"Lakukanlah-," kau akan semakin cepat hamil jika begitu.
.
.
.
.
.
"Sehun-ah, jangan beritahu Kai tentang rahasia kita"
"Tidak akan"
"Bagaimana malam mu? Menyenangkan? Berapa ronde?"
Sehun menendang kaki panjang Chanyeol yang sedang duduk berselonjor sambil bersandar di batang pohon di taman kampus mereka, "Dia ngotot tidak ingin hamil"
"Itu karena kau tidak mencintainya, dia takut kau meninggalkannya"
"Dari mana kau tahu?"
"Dari Baekhyun, kemarin dia ketakutan melihat kemarahan mu"
"Aku tidak marah, aku hanya kaget saja"
"Wajar kau terkejut, aku pun sangat kaget mendengar Luhan menunda kehamilannya"
"Aku sedang berusaha menyukainya"
Chanyeol melepaskan earphone-nya, duduk bersila menghadap Sehun yang sepertinya sedang bertukar pesan dengan Hayeong yang sedang mencarinya, "Kau menyukai Luhan?", Chanyeol tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya, dia sudah tersenyum lebar menatap sang sahabat.
"Aku bilang sedang berusaha, berusaha Chanyeol-ah...", Sehun mendengus malas, "Jangan berharap dulu, kau tidak mungkin memenangkan pertaruhan kita", katanya yang langsung melunturkan senyum semringah di wajah Chanyeol.
"Aku pasti menang, sudah ku katakan jika kau lah yang akan lebih dulu menyukai Luhan"
"Belum tentu, siapa tahu Luhan yang lebih dulu menyukai ku, bahkan sepertinya Luhan memang sudah menyukai ku, kau tahu, beberapa hari ini dia sangat berbeda"
"Berbeda apanya?"
"Aku tidak pernah lagi mendengar umpatannya, bahkan dia tidak pernah lagi menendang betisku atau menggeplak kepala ku"
"Kalau mencubit?"
Sehun terkekeh, "Luhan dan Baekhyun memang memiliki kegemaran mencubit orang", katanya geli, Chanyeol juga pasti sering merasakan apa yang dia rasa. Dua sepupu itu memang cukup kasar, sangat kasar malah.
"Ya setidaknya perut dan lenganku hampir setiap hari mendapatkan jepitan manisnya", curhatnya, membayangkan wajah manis Baekhyun membuatnya tersenyum idiot sehingga Sehun langsung menghadiahinya dengan lemparan daun.
"Aku takut mengecewakan Luhan", Sehun melanjutkan aksi curhatnya, Chanyeol cukup bisa menjaga rahasia dan di jadikan tempat untuk mencurahkan isi hati sehingga kerap kali Chanyeol menjadi tempat pelariannya, "Tapi di sisi lain aku takut kehilangan dia. Jujur saja aku masih menyukai Hayeong dan juga ingin mencintai Luhan, bagaimana ini?"
"Putuskan saja Hayeong, bagaimana?"
"Aku tidak punya alasan untuk mengakhiri hubungan kami"
"Kau menyukai Hayeong, hanya menyukai dan tidak mencintai, kau pun berkencan dengannya karena dia yang terus mengejarmu, apa salahnya memutuskan dia, kau bahkan tega memutuskan Baekhyun"
"Aku memutuskan Baekhyun karena kami tidak saling mencintai, apa lagi saat aku tahu kalau kau menyukai Baekhyun, makanya aku memutuskannya"
"Aku tahu" -maka dari itu aku ingin membalas kebaikan mu dengan cara menguatkan ikatan rumah tangga kalian, kau tidak boleh bercerai dengan Luhan, dia gadis yang baik Sehun-ah. Chanyeol tersenyum simpul melihat Sehun, di balik sikap cueknya Sehun sangatlah baik padanya, Sehun lah yang membuatnya berani mendekati Baekhyun saat hubungan mereka berakhir, "Sehun-ah lihat itu..!", tidak ingin terlarut dalam kekagumannya pada sang sahabat, Chanyeol membawa tatapannya ke depan kelas seni, di mana sang calon pacar sedang adu mulut dengan musuh abadinya.
Sedangkan Sehun dia hanya tertawa kecil, Luhan pasti sudah mengabari Baekhyun tentang obrolan mereka kemarin sore sehingga Baekhyun sudah berani bertengkar dengan Hayeong, "Untung aku tidak satu fakultas dengan mereka", kata Sehun yang di balas Chanyeol dengan anggukan semangat, dia paling suka melihat Baekhyun berwajah garang seperti itu, "Sampai kapan pun Hayeong akan terus menganggap Baekhyun saingannya dan Baekhyun akan menganggap Hayeong sebagai gadis yang sudah merebut kekasihnya, mereka tidak akan bisa berdamai, aku berani bertaruh untuk itu"
"Hanya Luhan yang bisa mendamaikan mereka, lihat..", Sehun menunjuk Luhan yang sedang menyeret Baekhyun menjauh dari Hayeong, "Tapi kenapa Luhan tidak ikut bertengkar?", tanyanya heran, Luhan langsung pergi begitu saja dari sana, tidak meladeni Hayeong yang kembali ingin menjambak rambut panjang Baekhyun.
"BERTENGKAR SAJA SANA AKU TIDAK PERDULI"
Kedua pria tampan itu kompak tertawa saat mendengar teriakan putus asa Luhan, Baekhyun sedang semangat memulai ronde pertamanya dengan Hayeong setelah puasa beberapa hari, jadilah Luhan tidak bisa menghentikan keduanya, dengan cepat Sehun mengirimi Luhan pesan singkat, menyuruhnya ke taman agar sang istri tidak terlibat perkelahian dengan sang kekasih.
Sehun melambaikan satu tangannya pada Luhan saat wanita itu sedang bingung mencarinya, "Di sini..", katanya yang membuat Luhan langsung berlari ke arahnya dan menubruknya dengan pelukan, "Geser sedikit, kau harus sembunyi di balik pohon jika tidak mau di cakar Hayeong"
Luhan menurut, melepaskan Sehun dari pelukannya dan bersandar nyaman di samping Chanyeol, "Lihat Baekhyun, dia sangat semangat menghajar Hayeong"
"Belum seberapa, mereka belum adu jambak"
Luhan terkekeh kecil, menjulurkan kedua kakinya di atas paha Sehun, "Aku pegal..", katanya, berharap Sehun berbaik hati mau memijit kakinya.
Sret
"Ish pelit sekali", Luhan menarik kakinya kembali saat Sehun menurunkan kakinya, "Oiya, Park Chanyeol, aku berani bertaruh jika kau lah yang sudah merekam aku dan Minhyun saat di kelas kemarin?"
Chanyeol memasang earphone-nya kembali, berpura-pura tidak mendengar suara Luhan yang siap mengocehinya, "Baiklah Chanyeol tidak ingin mengaku, akan ku buat Baekhyun berkencan dengan pria lain"
"Aku yang melakukannya", Chanyeol mengaku, Baekhyun sangat penurut dengan Luhan, akan bahaya jika Luhan sampai tega melakukan ancamannya.
"Kenapa? Apa kau tidak tahu yang di namakan privasi?"
"Kau menyelingkuhi sahabat ku, tentu saja aku harus mengadukannya pada Sehun"
"Dasar tukang ngadu"
Pria super tinggi itu mengendikkan bahunya, telinganya tidak terlalu panas mendengar ocehan Luhan karena percayalah, ocehan Baekhyun jauh lebih dahsyat jika gadis itu sedang marah, "Luhan-ah..", panggilnya pelan, ada beberapa hal yang ingin dia bicarakan dengan istri dari sahabatnya itu.
"Ada apa?"
"Bisakah kau mengusir Baekhyun dari apartemen mu?"
Luhan sudah menduga jika apa yang akan Chanyeol katakan pasti tidak jauh-jauh dari sang sepupu, "Kenapa memangnya?"
"Apartemen mu terlalu jauh dari apartemen ku, akan sulit bagiku untuk mengantar jemputnya"
"Katakan saja jika kau ingin dia menumpang di apartemen mu"
Chanyeol terkekeh mendengar sindiran tepat sasaran Luhan, "Bantu aku ya?"
"Pacaran itu harus butuh modal", sindirnya lagi, lupa pada niatnya yang ingin menjadi gadis baik bermulut manis impian sang suami.
"Sepupu mu saja yang terlalu jual mahal"
"Kalau begitu cari gadis lain"
"Aku hanya menyukainya"
"Aku tidak merestui jika kau tidak mau keluar modal saat berkencan dengannya"
"Kau harus merestui kami"
"Tidak"
"Harus"
"Stop..!", Sehun yang jengah mendengar perdebatan tidak penting keduanya langsung menyembunyikan kepala Luhan di dadanya, "Berhenti berdebat, telinga ku panas", katanya sambil memeluk Luhan, menahan sang istri yang ingin melanjutkan perdebatan konyolnya dengan Chanyeol.
"OH SEHUN, XI LUHAN"
Matilah kedua pasangan suami istri itu, sang serigala betina memergoki sang kekasih yang sedang memeluk Luhan dengan sangat mesra, "Sial bagaimana ini?", Sehun berbisik lirih yang membuat wanita di pelukannya terkekeh senang, "Aku tidak mau ikut campur, selesaikan sendiri oleh mu", Luhan balas berbisik, tidak berniat melepaskan pelukannya dengan sang suami.
"XI LUHAAAAAAN~"
.
.
.
.
.
Tbc
Baby!
8,5K
Jelek ya, berantakan ya? Maklumin aja ya ㅋㅋㅋ
Review juseyo
