Objeknya adalah Deep, Peach, dan Chick.
WHO ARE YOU
WANNA ONE (Produce 101 Season 2) – Bae Jinyoung x Park Jihoon, Other. T. YAOI, AU, OOC, and Typo. Romance, Drama.
©baejinbaejin
CHAPTER 9
Targeted
Beep.. beep.. beep.
Seketika mata Park Jihoon membuka dan tangannya meraih ponsel yang berada diatas nakas terdekat dari posisinya saat ini. Ibu jarinya menyentuh layar untuk mematikan alarm lalu ia menaruh ponselnya kembali. Terdengar suara hembusan udara keluar dari hidung Jihoon ketika ia berniat untuk menutup matanya kembali.
Kulitnya bersinggungan dengan benda hangat yang melingkari tulang rusuknya dibawah selimut. Jihoon merabanya dan merasakan buku-buku jari di ujung objek yang ditelitinya. Perlahan, Jihoon membalikan tubuhnya dan melihat wajah mungil dengan mata tertutup menyapanya.
Wajah lelaki Park itu kembali memerah saat ini.
Mata Jihoon menatap Bae Jinyoung yang tertidur lekat-lekat. Mulai dari kening sempitnya, alis mata kanannya yang tergores karena dirundung dahulu, bulu mata panjangnya, hidung mancungnya, kulitnya yang tidak bernoda, lalu sampailah ia di bibir mungilnya.
Jemari Jihoon menyingkirkan poni Jinyoung dan melihat Jinyoung tidak bereaksi. Berpikir cukup lama untuk memberikan kecupan, akhirnya Jihoon memantapkan dirinya untuk menyentuh bibir mungil Jinyoung dengan bibirnya sendiri. Hanya sentuhan singkat, namun cukup membuat Jinyoung menggeliat dan terbangun dengan wajah Jihoon yang tak jauh dari wajahnya.
Jinyoung tersenyum kecil. "Selamat pagi?"
Senyum serta suara serak yang sedikit crack dari Jinyoung membuat Jihoon ikut tersenyum. "Selamat pagi," Jihoon tidak bosan-bosannya memandang Jinyoung, lalu ekspresinya berubah ketika ia ingat sesuatu. "Eh.. kau Jinyoung, 'kan?"
"Menurutmu?" Godanya.
"Aku tidak tahu," Jawab Jihoon jujur. "Kalau kau Guanlin aku akan turun dari ranjang saat ini juga."
Sebelah alis lelaki itu terangkat. "Kenapa?"
"Karena aku ini tipe yang setia, aku tidak akan cuddling dengan lelaki lain selain kekasihku, tahu?" Jawab Jihoon lagi. "Nah sekarang jawab pertanyaanku untuk memastikan kau Jinyoung atau bukan."
"Oke," Jawab lelaki itu cepat, namun akhirnya mengerutkan keningnya seolah menyadari sesuatu ketika Jihoon masih sibuk berpikir pertanyaan apa yang bisa membuktikan kalau lelaki ini adalah Jinyoung atau bukan. "Jihoon, Guanlin itu selalu bersamaku 24 jam jadi pertanyaan apapun tentangku pasti dia juga tahu jawabannya."
"Eh.. iya juga ya." Jihoon menggaruk kepalanya kikuk.
Maklum, masih pagi dan baru bangun tidur jadinya Jihoon masih kurang konek. Jinyoung hanya bisa tertawa lalu menangkup pipi Jihoon gemas, sedangkan Jihoon langsung cemberut diperlakukan seperti itu. Kini Jinyoung yang mengecup Jihoon sebelum akhirnya lelaki yang lebih muda itu turun dari ranjang. Menampilkan dirinya yang memakai kaus tanpa dengan dengan celana pendek.
Jihoon mendudukan dirinya diranjang lalu mengekori Jinyoung yang sekarang pindah ke sampingnya. Tangan Jinyoung mengulur pada Jihoon.
"Ayo."
"Kemana?"
"Sikat gigi, cuci muka, lalu sarapan."
Yang diajak hanya bisa mengangkat ujung bibirnya dan meraih tangan Jinyoung. Yang lebih muda sedikit menariknya dari ranjang untuk berdiri dan mengekorinya ke kamar mandi. Kegiatan-kegiatan sepele seperti ini justru adalah momen paling menyenangkan untuk keduanya.
Setelah mengagetkan Jihoon dengan banyaknya kardus sereal, kardus pancake siap masak, dan kardus-kardus makanan lainnya yang siap saji, akhirnya Jihoon memilih untuk menonton Jinyoung memasak pancake untuk mereka berdua.
Jihoon jarang berada di dapur karena selama hidupnya dia tinggal bersama ibunya sehingga makanan pasti akan disiapkan wanita yang disayanginya itu. Paling-paling hanya menghangatkan makanan atau membuat telur orak-arik.
Matanya berbinar ketika Jinyoung menaruh satu piring berisi enam tumpuk pancake hangat dihadapannya dan juga dua piring kosong disampingnya. Hidung Jihoon penuh dengan aroma vanilla nan menggoda dari adonan pancake-nya. Jinyoung duduk disebrangnya dan menaruh satu tumpuk pancake di piring Jihoon.
"Ini menteganya," Jinyoung menaruh kotakan mentega dingin dari kulkas disana. "Selai, madu, sirup mapel, nutella, es krim, sereal. Terserah seleramu saja, oke?"
"Terima kasih!"
Jinyoung menepuk puncak kepala Jihoon sambil tersenyum. Memakaikan bermacam isian ke pancake-nya, Jihoon membuat Jinyoung kagum. Beda jauh dengan milik Jinyoung yang hanya diberikan mentega yang mulai mencair dan sirup mapel, Jihoon memasukan hampir semua bahan yang disediakan Jinyoung.
"Ini baru jam.. sembilan," Kata Jinyoung setelah melirik jam dinding lalu memandang Jihoon lagi yang asik mengunyah. "Kau sudah selapar ini setelah bangun tidur satu jam lamanya?"
Jihoon cemberut. "Aku ini menghargaimu yang sudah susah-susah masak. Masa aku makannya malas-malasan. Nanti kau tidak mau memasak untukku lagi.."
"Alasan macam apa itu, Jihoon?" Jinyoung tertawa.
"Shhh, sudah diam. Kalau sedang makan tidak boleh bicara, Jinyoung."
"Baiklah.."
Jihoon sama sekali tidak kepikiran tentang orang yang pernah menguntitnya seminggu lalu akan menguntitnya lagi.
Kali ini lelaki itu berjalan dari apartemennya menuju minimarket yang ada disebrang gedung apartemennya untuk membeli makanan kecil guna menemaninya mengerjakan tugas. Salahnya, lelaki itu baru kepikiran untuk jajan ketika jarum pendek jam menunjukkan angka dua belas malam.
Lelaki itu memang sering turun dan keluar apartemen hanya untuk jajan namun tidak biasanya ia seperti diperhatikan oleh orang. Biasanya meskipun sudah tengah malam daerahnya tinggal tetap ramai dan aman-aman saja.
Jihoon sadar kalau ia diperhatikan dan diikuti sejak lelaki itu hendak menyebrang jalan. Tentu adab menyebrang adalah melihat kiri dan kanan. Seseorang dengan baju hitam-hitam dan topi berjalan kearahnya dari sebelah kirinya. Jihoon yang langsung memikirkan prasangka buruk itu buru-buru menyebrang ketika lampu bergambarkan manusia itu berubah menjadi hijau.
Dia berlari masuk menuju minimarket dan bersembunyi dibelakang rak yang sialnya hanya setinggi dagunya. Jihoon sedikit melipat lututnya ketika berjalan. Entah ini kesialan atau keberuntungan karena minimarket itu juga sedang sepi.
Suara pintu dibuka membuat Jihoon terkesiap. Jihoon mengangkat sedikit tubuhnya dan mengintip siapa yang masuk ke dalam toko. Benar saja, lelaki itu masuk ke dalam dan seperti mencari-cari orang. Jihoon makin menurunkan tubuhnya dan berlari kecil menuju rak paling belakang. Sudah tidak terpikirkan lagi tentang makanan yang ingin ia beli.
Jihoon menghadap ke arah kaca transparan dimana dia bisa melihat posisi orang yang mencurigakan itu. Orang yang memakai jaket olahraga hitam serta celana training hitam dan topi hitam itu berjalan ke koridor tempatnya bersembunyi dan Jihoon berpindah ke koridor tengah.
Tangannya meraih saku celananya lalu mengambil ponselnya, dia buru-buru mencari nama Jinyoung.
"Hoi."
"G-Guanlin?" Tanya Jihoon dengan kening yang mengerut.
"Yep, aku sedang memakai tubuhnya. Ada apa?"
"Kau dimana?"
"Bersama Seonho," Jawabnya santai. "Kenapa?"
"Kau kencan?!" Jihoon memekik tertahan.
Terdengar suara kekehan dari ujung sana. "Mumpung Jinyoung sedang tidur,"
Jihoon melirik kaca lagi dan melihat orang itu beradu pandang dengannya. Sial-sial-sial, pikir Jihoon panik. Otomatis Jihoon langsung berlari keluar minimarket tanpa memperdulikan sang kasir yang menatapnya heran. Sambil berlari menuju gedung apartemennya lagi, Jihoon mulai merengek.
"Hei, ada apa?"
"Hueee.. aku diikuti lagi, Guanlin!" Adu Jihoon masih sambil berlari.
"Orang yang sama?"
"Aku tidak tahu!"
Jihoon masuk ke dalam gedung apartemennya setelah memasukan password dan berlari menuju pintu lift. Dari pintu kaca, dia bisa melihat seseorang berdiri di ujung jalan sembari menatap lurus kearahnya. Jihoon langsung masuk ke dalam lift ketika pintunya terbuka.
"Aku akan cek kesana."
Jihoon menggeleng kencang, meskipun Guanlin tidak akan melihatnya. "Tidak, jangan. Terlalu bahaya, Guanlin. Aku sudah kembali ke apartemen, aku tidak apa-apa."
"Syukurlah kalau kau sudah aman, tetapi aku harus beri pelajaran pada orang yang menguntitmu itu," Katanya terdengar marah. "Lagipula aku ingin tahu alasannya."
"Aku takut.. aku takut dia melukaimu atau–"
Suara Jihoon terputus karena mendengar suara tawa Guanlin. "Kau meragukanku, ya? Aku akan baik-baik saja, Jihoon. Sudah, nanti ku telepon lagi."
Tepat saat telepon dimatikan oleh Guanlin, pintu lift terbuka lalu Jihoon keluar dan berjalan menuju unitnya. Jihoon tidak tahu apakah menelepon Jinyoung –dan ternyata Guanlin yang mengangkatnya, lalu membuat Guanlin ingin mencari tahu sendiri siapa yang menguntitnya adalah sebuah kesalahan atau tidak.
Seonho dikejutkan dengan kehadiran Jinyoung –atau Guanlin, entahlah Seonho-pun tak tahu, di kedai tempatnya bekerja paruh waktu. Lelaki tinggi dengan atasan biru jeans duduk di pojok ruangan lantai dua dengan tangan yang menopang dagunya. Seonho mengantarkan es kopi milik lelaki itu.
"Es kopi?" Tanya Seonho disampingnya.
"Jinyoung tidak suka kopi," Kata lelaki itu selagi Seonho menaruh pesananya di meja. "Jadi.. kau paham kan?"
Si pelayan menahan senyumnya dengan susah payah. "Iya, aku mengerti."
"Jam berapa kau selesai?"
"Tengah malam."
"I'll wait."
Seonho mengangguk kecil dan kembali ke konter tempatnya menunggu pesanan yang sudah jadi untuk di antar ke masing-masing meja pengunjung. Selagi tidak ada kerjaan, Seonho melirik Guanlin yang sedang menunduk memainkan ponselnya. Lalu tidak lama ponselnya yang ada di laci bergetar.
Seharusnya ia tidak membukanya.
"You're cute wearing that outfit.." –Jinyoung-hyung atau Guanlin aku juga tidak tahu T-T
Buru-buru Seonho mengetik balasan pada Guanlin.
"Apa kau baru saja menggodaku? -_- Aku tidak boleh menggunakan ponsel selama bekerja, jadi ini balasan terakhirku."
Seonho memasukan ponselnya ke laci tepat ketika pesanan datang untuk diantar. Lelaki itu membawa baki dan mengantarkan pesanan ke meja tepat disamping meja Guanlin duduk. Guanlin betah memandanginya sedangkan yang jadi objek pandangan hanya bisa mengabaikannya.
Daripada salah tingkah.
Setelah satu jam lamanya Guanlin menunggu Seonho bekerja, akhirnya lelaki itu masuk ke dalam ruang khusus karyawan. Lelaki itu mengganti baju seragamnya dan membuka ponselnya untuk memberitahu Guanlin untuk turun menuju pintu keluar khusus karyawan yang waktu itu dia datangi bersama Jihoon.
Senyumnya mengembang ketika melihat pesan masuk dari Guanlin. Lelaki itu benar-benar mengabaikan kata Seonho kalau dia tidak akan membalasnya.
"Karena kau tidak akan membalasnya lagi sampai satu jam ke depan. Aku ingin bilang, aku, Lai Guanlin, menyayangimu, Yoo Seonho. Ini Guanlin, bukan Jinyoung. Oke?" –Jinyoung-hyung atau Guanlin aku juga tidak tahu T-T
Setelahnya, Seonho membalasnya dengan menyuruh Guanlin untuk turun dan keluar menuju pintu keluar khusus karyawan. Sembari berjalan menuju pintu keluar, Seonho mengganti nama kontak yang terakhir kali ia bertemu dengan Guanlin, Guanlin bilang kalau itu nomor yang ia pakai. Namanya berubah menjadi 'Lai Guanlin'.
"Panggil aku Guanlin."
Seonho menoleh ke arah pengemudi mobil di samping kirinya. Sejak tadi ia berusaha menghindari memanggil nama karena masih canggung baginya untuk memanggil orang yang ia kenal sebagai Jinyoung menjadi Guanlin.
"G-Guanlin."
Lelaki itu tersenyum kecil. "Tidak usah gemetaran begitu, aku tidak akan menggigitmu jadi jangan takut."
"Bagaimana untuk tidak takut jika aku teringat kau adalah orang yang menghajar senior-senior dulu," Cicit Seonho pelan. "I-ini kita mau kemana?"
"Tidak tahu," Seonho merinding kecil mendengar suara tawa Guanlin yang jelas-jelas berbeda dengan suara tawa Jinyoung. "Kau tidak bilang dimana tempat tinggalmu, jadi aku hanya berputar-putar di sekitar Sungai Han."
"Kenapa kau tidak bertanya?" Tanya Seonho lagi.
"Karena aku tidak ingin buru-buru mengantarmu pulang," Jawab lelaki itu jujur. "Aku menunggumu satu jam disana karena aku ingin bertemu denganmu, mengobrol lama denganmu. I've missed you, remember?"
Seonho jadi bingung untuk membalas apa ke Guanlin. Kalau boleh jujur, Seonho juga merindukannya meskipun menganggap kalau Jinyoung memiliki imajinasi yang terlalu tinggi setelah lelaki itu bilang kalau dia memiliki kepribadian ganda.
Sekarang ia memikirkan kenapa dengan sialnya Seonho bisa jatuh cinta dengan alter yang tidak nyata.
Nyata, namun kenapa harus alter yang tidak kekal dan berwujud seperti manusia biasa. Sampai sekarang ia masih berdebat apakah ia menyukai Jinyoung asli atau Guanlin. Memikirkan apakah fisiknya yang membuatnya jatuh cinta atau jiwanya.
"Apa yang biasanya orang kencan lakukan, Seonho-ya?"
Wajah Seonho memanas ketika mendengar kata kencan keluar dari mulut Guanlin. "Aku tidak pernah kencan, Gu-Guanlin. Jadi aku juga tidak tahu apa yang mereka lakukan."
Senyum Guanlin merekah. "Aku tidak tahu kalau mendengarmu tidak pernah berkencan bisa membuatku senang," Lalu ia tertawa kecil. "Aku juga pemula. Melihat apa yang dilakukan Jinyoung bersama Jihoon, mereka tidak seperti berkencan. Yah.. kau tahu, makan bersama di kampus, pulang-pergi bersama, yada yada.."
"Mereka satu kampus?"
"Iya, Jihoon seniornya di kampus dan mereka sekarang sudah berkencan selama.. aku tidak tahu, tidak penting juga. Cukup tentang Jinyoung dan Jihoon," Guanlin menggenggam tangan Seonho yang daritadi hanya memainkan gantungan kunci berbentuk anak ayam di ransel yang ia pangku. "Biasanya mereka berpegangan tangan seperti ini."
"O-oh.."
Seonho menjadi kaku dan tidak tahu harus apa selain membiarkan Guanlin mengelus punggung tangannya. Menyusuri buku-buku jemarinya dan menyelipkannya untuk bertautan jemari.
"Tidak apa-apa kan kalau begini?" Tanya Guanlin.
Anggukan kecil menjadi jawaban. Seonho menangkup tangan kanan Guanlin merasakan sedikit kecewa ketika lelaki itu melepasnya ketika ada telepon masuk di ponsel Jinyoung –yang berbeda dengan ponsel miliknya. Guanlin mengangkatnya dan menyentuh tombol speaker.
"Hoi." Sapa Guanlin.
"G-Guanlin?" Suara Jihoon bergetar.
"Yep, aku sedang memakai tubuhnya. Ada apa?"
"Kau dimana?"
"Bersama Seonho," Jawab Guanlin sambil menoleh ke arah Seonho yang juga sedang mendengarkan percakapan mereka. "Kenapa?"
"Kau kencan?!" Tanya Jihoon kaget.
Guanlin hanya bisa terkekeh kecil. "Mumpung Jinyoung sedang tidur," Lalu terdengar suara berisik pintu toko yang dibuka dari ujung sana. Suara angin dan langkah kaki berlari ditambah suara rengekan Jihoon. "Hei, ada apa?"
"Hueee.. aku diikuti lagi, Guanlin!" Adu Jihoon.
"Orang yang sama?" Tanyanya geram.
"Aku tidak tahu!"
Guanlin langsung membelokan mobil ke kiri secara tiba-tiba dan membuat Seonho sedikit kaget. Lelaki itu mengebut. "Aku akan cek kesana."
"Tidak, jangan. Terlalu bahaya, Guanlin. Aku sudah kembali ke apartemen, aku tidak apa-apa."
"Syukurlah kalau kau sudah aman," Kata Guanlin tenang, namun ia tetap tancap gas. "Tetapi aku harus beri pelajaran pada orang yang menguntitmu itu," Nadanya naik lagi, benar-benar moody. "Lagipula aku ingin tahu alasannya."
"Aku takut.. aku takut dia melukaimu atau–"
Guanlin tertawa kecil. "Kau meragukanku, ya? Aku akan baik-baik saja, Jihoon. Sudah, nanti ku telepon lagi."
Langsung saja telepon itu dimatikan oleh Guanlin yang fokus mengemudi. Melupakan sekejap seseorang yang duduk ketakutan memegangi sabuk pengaman disampingnya. Seonho juga tidak berani berkata apa-apa karena dia tidak mengerti tentang apa yang terjadi. Tidak berani bertanya juga pada Guanlin.
Meskipun sekarang Jinyoung sedang tidak sadar, Guanlin tahu betul kalau ini adalah hal yang akan Jinyoung lakukan juga jika Jinyoung sedang menjadi user.
Tangan Guanlin mengulur dan menepuk kepala Seonho. "Maaf, tetapi aku harus membereskan hal ini dulu sebelum mengantarmu. Karena.. orang ini orang terpenting bagi kami."
"Tidak apa-apa," Seonho tersenyum kecut. "Lagipula kau masih ingin bersamaku 'kan, Guanlin?"
"Aku senang kau bisa mengerti."
Seonho hanya bisa memandang lurus ke jalanan gelap yang disorot lampu mobil. Guanlin juga tidak berkata banyak selagi ia mencari-cari orang yang terlihat mencurigakan di daerah Jihoon tinggal. Sepertinya menyetir lima belas menit saja sudah terlambat untuk mencarinya.
"Aku rasa kita telat," Guanlin terkekeh kecil. Dia kesal, namun tidak mampu mengekspresikannya dihadapan Seonho. "Lebih baik kuantar kau pulang."
"Hm.. apa kau sudah makan?" Tanyanya pelan.
"Belum, kau belum makan ya?"
Seonho menoleh kearahnya. "Aku tahu tempat makan enak di dekat tempatku tinggal," Jawabnya sembari tersenyum. Meskipun sebenarnya Seonho sudah makan, lelaki itu juga ingin Guanlin tinggal lebih lama. "Kau mau menemaniku?"
"Sure," Jawab Guanlin semangat. "Beritahu aku jalannya, ya?"
"Hn."
Berbicara dengan Seonho membuat Guanlin tidak tahu waktu. Sampai akhirnya jarum pendek di jam tangan Guanlin sudah mencapai angka tiga. Lelaki itu menurunkan Seonho di depan gang kecil yang mobil tidak bisa masuk.
"Terima kasih banyak, Guanlin." Ujar Seonho dengan senyum manisnya.
Guanlin hanya menganggukkan kepalanya lalu tersenyum lebar. "Istirahatlah, besok kau latihan 'kan? Semangat!"
Yang lebih muda tertawa kecil melihat kepalan tangan Guanlin ketika mengucapkan kata semangat padanya. Seonho menirunya dan melambaikan tangan sebelum berbalik badan dan berjalan menuju tempat tinggal sederhananya. Guanlin menjalankan mobilnya setelah tidak bisa melihat Seonho lagi.
Setelah mobil hitam milik Guanlin sudah tidak terlihat lagi, sebuah van berhenti diposisi Guanlin berhenti tadi. Seorang lelaki yang berpakaian sama dengan orang yang mengikuti Jihoon turun dari van dan berdiri di gang kecil arah Seonho jalan tadi.
"Katakan pada boss kalau Deep mulai bertemu dengan lelaki yang berbeda," Ujarnya pada orang lain di dalam van. "Objek dua, Chick."
"Hati-hati, jangan sampai ketahuan."
"Aku tidak sebodoh orang yang mengintai Peach," Katanya malas. "Sudah sana pergi. Tadi saja kita hampir kehilangan jejak Deep. Siapa tahu dia bertemu dengan orang lain lagi."
Lelaki di dalam van mengangguk dan menutup pintu mobil. Mobil itu langsung meninggalkannya sendirian didepan gang kecil itu. Setelah berbalik badan dan berjalan cukup cepat, dia bisa melihat objek yang dinamakan 'Chick' berjalan membelakanginya lalu masuk ke salah satu rumah kecil.
Senyum sinis mengembang di wajahnya.
WHO ARE YOU
-TO BE CONTINUE-
A/N: Lah update mulu ini ff lol.
Alay ih kesel hahaha. Tadinya rencananya ngga gini tapi yaudalah ya. Udah terlanjur. By the waayyy~ gimana gimana? Tida jelas kan? Emang… genrenya drama kok, jadi jangan protes kalo agak2 lebay dikit hehehe ga deng. Kritik saran ditunggu~ maaf kalo ada typo ya!
Terus yang ngikutin Jihun dan Seonho adalah… aku! Karna aku gemash sama mereka pengen culik pengen jadiin boneka dirumah hehehe ga deng. Kayanya udah mulai ketawan deh siapa yg jahat. Duh… galau akutu. Takut kebaca banget jalan ceritanya. Yg udah tau diem-diem aja ya hehehe.
Terus… Baejin pacarannya ngga dobel kok haha simbiosis mutualisme dong ya kalo Baejin punya dua pacar, Seonho punya dua, Jihun punya dua, Guanlin juga punya dua. Hadu pusing aku jadinya. Tapi ngga kok. Fokusnya main user alias Jinyoung-Jihun, tapi Guanlin bisa-bisa aja kalo mau ketemu Seonho. Kayanya terakhir aku tanyain ke Seonho, dianya gapapa kalo Guanlin adanya di waktu-waktu tertentu aja (yauda iy tersera author aj)
Next chapter juga kayanya dalam waktu dekat karna setengah cerita udah selesai. Niat aku nyelesain ini biar bisa nulis ff baru LOL. Udah gitu aja sih kayanya. Makasih banyak buat yg udah baca, review, follow, favorite, dan nyemangatin aku ngerjain skripsi HUHUHUHU terhura akutu.
Makasih banyak yaa!
