Title: LOVE IS RED
Category: Plays/Musicals ยป Screenplays
Author:
Language: Indonesian, Rating: Rated: T
Genre: Crime/Hurt/Comfort
Published: 03-24-15, Updated: 04-04-15
Chapters: 9, Words: 3,815

Chapter : Chapter 9

Maaf kalau ada typo atau kesalahan penulisan kalimat ^_^ Saya hanya manusia biasa :v

Happy Reading dan tolong tinggalkan jejak kalian :D

LOVE IS RED-

Genre : Crime, yaoi-shounen ai

Boys x Boys

Cast : Kim Myung Soo,Lee Sungyeol Infinite

R&R

Happy reading,readers ^_^

xXx

.

.

.

Sungyeol membaringkan tubuhnya diatas ranjang nya yang hangat. Matanya senantiasa terbuka sejak tadi. Bibirnya terus mengukir sebuah senyum manis disana. Sementara khayalannya melayang layang jauh mengingat pengalaman kencan pertama nya sejak kencan terakhir hampir setahun lalu. Ia sudah pernah berkencan sebelumnya, namun entah mengapa merasakan kembali masa masa itu setelah masa sulit sangat membekas dihatinya. Angannya terus menari nari diatas kepalanya hingga melupakan bahwa ia masih bersama seseorang lagi didalam ruangan itu.

"hei. .kenapa kau tersenyum seperti itu? kau nampak mengerikan. . " tegur seseorang disebelahnya membuat Sungyeol berjingkat dan kembali masuk dalam dunia nyata. Ia memiringkan tubuhnya dan melihat Sung Gyu sedang memandanginya dengan rasa heran.

"kau sedang senang sekali tampak nya. . " tambah pria berambut coklat terang itu.

"apa? Ah tidak. .aku hanya melamun. . " jawab Sungyeol berupaya menghindar.

Sung Gyu mendekatkan wajahnya ke sahabatnya itu membuat Sungyeol menggeserkan tubuhnya. "apa? " tanyanya. Sung Gyu tertawa.

"kau tidak pandai berbohong Sungyie. .aku sudah jadi sahabatmu dari SMA, jangan kau kira aku tak mengenalmu dengan baik. . "

Sungyeol memanyunkan bibirnya. ya, ia akui pria satu ini sangat sulit untuk ditipu, ia bahkan lebih mengenal Sungyeol daripada dirinya sendiri.

"jadi. .apa yang membuat adikku ini merasa sangat senang sekarang? " tanya Sung Gyu sambil mengusap surai Sungyeol dengan lembut.

"kau akan marah jika tau. . " balas Sungyeol pelan. Sung Gyu mengerutkan keningnya. Ia mengambil posisi lebih dekat dengan pria disebelahnya itu.

"aku akan lebih marah jika kau tak mengatakan sesuatu hal yang akan membuatku marah. . " ucapnya dengan nada serius.

Sungyeol menghempaskan nafasnya. Ia selalu kalah jika beradu argumen dengan pria yang sudah dianggapnya kakak itu. ia memandangi flatpon rumah dengan tatapan kosong. Ia mempertimbangkan apakah ia akan memberi tahu Sung Gyu atau tidak.

"sepertinya aku jatuh hati. .untuk kedua kalinya Gyu. . "

Sung Gyu membeliak senang. Ia nyaris memekik bahagia mendengar kalimat barusan dari Sungyeol. hei, ini tidak berlebihan, sudah dua tahun berlalu sejak kasus itu dan ia tak melihat Sungyeol menjalin hubungan dengan seseorang lagi hingga membuat ia takut Sungyeol akan menyendiri seumur hidupnya. Jadi ini adalah berita yang sangat bagus bukan?

"jinja? Siapa? Siapa orang itu?wanita? pria? "

Sungyeol tersenyum kecut melihat ekspresi luar biasa yang ditunjukkan pria tampan itu.

"namja. . " jawabnya pelan.

Sung Gyu menganggukkan kepalanya pelan. Ia sudah tau Sungyeol sangat sulit keluar dari orientasinya dan ia tak mau memaksa kan hal itu.

"tak apa. .asal ia juga mencintaimu dan kau mencintainya. . "

Sungyeol tersenyum kecil. "lalu. .siapa calon adik iparku itu hem? " tambah Sung Gyu.

"aku tak bisa memberi tahumu sekarang Gyu. .aku akan memberitahumu saat aku siap. . "

"baiklah. .tapi kau harus cepat atau aku akan mati penasaran. .oke? " tanya Sung Gyu sembari mencubit kecil hidung bangir Sungyeol.

"arasseo. . " balas Sungyeol pelan. Ia menutup matanya mencoba untuk tidur. Sesaat kemudian ia merasakan sebuah benda basah menempel dikeningnya pelan.

"berbahagialah saeng. . "

Sungyeol menahan sesak didadanya. Ia merasakan Sung Gyu mematikan lampu dan perlahan air matanya turun dengan lambat.

"mianhae. .Hyung. . "

.

.

xXx

.

.

.

Setahun yang lalu. .

Sungyeol menekan pelipisnya. Ia menahan nyeri yang singgah disana sejak tadi. Ia melihat jalanan yang sepi sejak setengah jam yang lalu. Ia mendesah jengkel. Mengapa disaat seperti ini satupun taksi yang lewat? Sementara kepalanya sudah terasa sangat berat dan tangannya sudah lelah mengangkat plastik hitam besar berisi bahan bahan masakan untuk cafe. Ia melirik jam tangannya dan melihat angka pendek sudah menunjukkan pukul 23.00 malam.

Ia menghentakkan kakinya kesal. Kalau saja ia tak meninggalkan hapenya di cafe ia sudah sejak tadi menelpon Sung Gyu atau Hoya untuk menjemputnya. Lagipula kemana dua pria itu? biasanya mereka akan panik dan langsung menyusulnya jika ia terlambat. Namun ini sudah sangat larut dan satupun dari mereka tidak ada yang menampakkan diri didepannya.

Sungyeol masih berkutat dengan kekesalannya saat sebuah mobil hitam memundurkan mobilnya mendekati Sungyeol. Kaca mobil terbuka dan menampakkan seorang pria muda duduk disana. Sungyeol menaksir usia pria itu setara dengannya.

"hei kau sendiri? " tanyanya. Sungyeol memperhatikan pemuda itu.

"hemh. . " jawabnya.

"mau kuantar? " tanya pria muda itu lagi. Sungyeol menggeleng sopan.

"ani. .tidak usah repot. .aku akan menunggu taksi. . "

"disini sangat jarang dilewati taksi, lebih baik kau ikut dengan ku. .tidak aman pria manis sepertimu sendirian. . " ujar pria itu dengan nada merayu.

"tidak usah. .aku bisa mengurus diriku sendiri. " balas Sungyeol tegas. Dia bisa melihat aura tidak enak dari pria yang coba menggodanya itu.

"oh ayolah. .aku memaksa. . " katanya sambil membuka pintu mobilnya mencoba untuk turun. Sungyeol akan mengeluarkan kalimat penolakan yang lebih kasar namun terhenti ketika sebuah tangan merangkulnya dengan kuat membuatnya terkejut setengah mati. Ia melihat sosok yang merangkulnya itu dan menemukan wajah dingin Myung Soo berdiri disana.

"jangan ganggu dia. . " ucap Myung Soo dingin sambil menatap tajam pada pria yang sudah turun dari mobilnya itu. pria itu berdecak kesal melihat kehadiran Myung Soo.

"memang kau siapanya? " tanya pria didepan mencoba bersikap garang.

Myung Soo memberikan seringai andalannya yang menakutkan.

"aku kekasihnya. .pergilah sebelum aku mematahkan tangan dan kakimu. . "

Pria didepannya bersurut mundur. Hatinya merasa ngeri melihat seringai seorang maniak yang ditunjukkan Myung Soo. Ia memasuki mobilnya dan bergerak meninggalkan dua pria itu.

Myung Soo menarik nafasnya lega.

"kau baik baik saja tuan Lee? " tanyanya sambil melihat kearah pemuda dalam rangkulannya.

"tuan Lee? " tanyanya terkejut mendapati Sungyeol yang memandanginya dengan ekspresi takut. Tubuh Sungyeol melemas. Nyeri dikepalanya semakin menjadi. Ia ambruk diikuti dengan teriakan panik dari bibir Myung Soo.

Sungyeol menggigil. Tubuhnya gemetar hebat.

.

.

Tolong aku. .

Sung Gyu.

Sungyeol kehilangan kesadarannya.

.

.

xXx

.

.

.

Sungyeol membuka matanya dengan berat. Nyeri dikepalanya sudah menghilang dan kesadarannya sudah kembali dengan sempurna. Ia merasakan sinar matahari yang lembut menyapu kulitnya membuat rasa hangat yang nyaman disana. Sungyeol bangkit dari tempatnya. Ia membiasakan dirinya dan menyadari ia sedang tak berada dikamarnya. Matanya mengawasi setiap sudut ruangan dan sama sekali tak memiliki ide dimana dia berada sekarang. Kepalanya mencoba mengingat kejadian yang menimpanya tadi malam. Ia menemukan potongan saat Myung Soo mendekapnya kuat. Tunggu dulu! Myung Soo?

Tubuh Sungyeol sontak membeku mengingat nama itu. ia mengingat seringai jahat yang ditampakkan Myung Soo tadi malam didepannya. Ia merasakan tubuhnya mulai gemetar dan rasa takut mulai membekapnya dalam kebisuan. Bisikan demi bisikan rasa ngeri menyerangnya dari setiap sisi. Sungyeol membekap kepalanya berupaya membuang rasa takut yang sudah menguasai setiap inchi ruang hatinya. Myung soo! Wajah mengerikan itu hadir dalam setiap kejapan matanya. Myung Soo yang menyerangnya dengan stik golf. Hingga wajah berdarah Sung Gyu yang sekarat.

"argggghhhhh! " teriakan keras keluar dari bibir Sungyeol menahan ledakan rasa sakit dan takut yang menjalar disekujur tubuhnya.

"tuan Lee! Kau baik baik saja? Apa yang terjadi? " sebuah suara memasuki ruangan dengan nada panik. Sungyeol melihat pria itu berdiri disana. Myung Soo. Rasa geram muncul dihatinya.

"tuan Lee. .gwenchana? " tanya Myung Soo hati hati. Ia mendekati Sungyeol dengan perlahan.

Sungyeol memekik kuat. Tubuhnya refleks menghindari pria yang mendekatinya itu.

"JANGAN MENDEKAT! MENJAUH DARIKU! MENJAUH! "

"tuan Lee. .apa yang terjadi padamu? " tanya Myung Soo panik. ia masih berusaha menjangkau tubuh Sungyeol yang ketakutan melihatnya.

Sungyeol menggeram. Tangannya dengan cepat meraih gunting yang tergeletak dimeja. Ia mengarahkan gunting dengan ngeri kearah Myung Soo.

"jangan mendekat! "

Myung Soo menelan liurnya. Entah apa yang difikirkan nya hingga tak menghiraukan peringatan dari Sungyeol. ia terus melangkahkan kakinya mendekati Sungyeol yang menggigil disudut kamar. Sungyeol gusar. Ia menyerang dengan cepat saat Myung Soo sudah sedemikian dekat dengannya. Gunting tajam itu berhasil menembus perut terbuka Myung Soo. Pria tampan itu mengerang parau.

Sungyeol bergetar hebat saat sebuah pelukan hangat mendarat ditubuhnya.

Myung Soo memeluknya !

"gwenchana. .aku takkan menyakitimu. . " ucap Myung Soo lirih sambil mengusap surai Sungyeol lembut. Air mata perlahan turun dan membasahi rambut Sungyeol.

Sungyeol membeku. Kesadarannya bangkit. Semua kenangan buruk yang hadir padanya memudar perlahan. Yang ada sekarang hanya Myung Soo yang memeluknya dengan hangat. bibirnya kelu. Bulir demi bulir mengalir lambat disetiap sudut matanya.

"kau akan baik baik saja. .kau akan baik baik saja. . " ucap Myung Soo melemah. Perutnya yang terluka mengeluarkan banyak darah yang menguras kesadarannya.

Pria tampan itu ambruk.

Hingga akhirnya keheningan terbenam dalam tangis dan teriakan pedih Sungyeol.

.

.

xXx

.

.

.

Sungyeol memeluk dirinya sendiri dalam keheningan yang tercipta. Ia menggigiti kuku jarinya dengan gemetar. Sementara air mata tak henti membasahi matanya. Ketakutan yang sejak tadi melingkupinya membuatnya manahan sesak yang berat didadanya. Berulang kali matanya menatap ruang ICU tempat Myung Soo dibawa.

Tubuhnya sontak berdiri melihat seorang dokter keluar dari ruangan itu. Sungyeol mendekatinya dengan tergesa.

"dokter. .dokter. .bagaimana keadaan teman saya? " tanyanya cemas.

"keadaan nya cukup membahayakan, gunting yang menembus perutnya membuatnya kehilangan banyak darah. .beruntung itu tidak mengenai organ vitalnya. . "

Sungyeol menggigit bibirnya sampai terasa sakit.

"kondisinya sudah stabil. .ia akan sadar beberapa jam lagi. . " ucap dokter melanjutkan kalimatnya. Sungyeol menganggukkan kepalanya. Ia mengucap terimakasih pada dokter yang bergerak meninggalkannya itu. Sungyeol mendekati ruangan ICU dan melihat tubuh Myung Soo yang terbaring melalui kaca kecil yang terdapat dipintu. Rasa sesal mulai menumpuk didadanya dan membuatnya merasa sakit.

.

.

"Cepatlah sadar Myung Soo. .aku harus meminta maaf padamu. . "

Bisik Sungyeol lirih.

.

.

xXx

.

.

.

Myung Soo membuka matanya perlahan, ia membiasakan diri dengan keadaan yang sangat terang. Berulang kali ia mengerjapkan matanya mencoba untuk beradaptasi. Sinar hangat dan sapaan angin lembut menyapu permukaan kulit halusnya. Matanya terkejut melihat ia sedang berdiri disebuah padang rumput yang hijau dan luas. Sejauh matanya memandang yang ada hanya tebaran rumput bak permadani yang indah. Angin musim semi perlahan berhembus membawa daun daun kecil berwarna merah yang cantik. Myung Soo merentangkan tangannya. Ia merasakan hawa kebebasan yang sangat besar disana. Ia ingin disini selamanya. Kaki nya mulai berlari selangkah demi selangkah mengintari padang rumput yang luas dengan gembira. Hingga akhirnya ia kelelahan dan merebahkan dirinya direrumputan.

Myung Soo seperti anak kecil yang baru pertama kali melihat sabana yang indah. Dirinya tak henti mengagumi luasnya sabana yang bergoyang perlahan dihembus sang angin.

"kau senang disini? " suara itu membuyarkan kekaguman Myung Soo. Ia menoleh karah sumber suara.

"tuan Lee. . " serunya ketika menemukan Sungyeol sedang berdiri dibelakangnya mengenakan kemeja putih. Wajah pria itu terlihat segar dan semakin manis.

"kau senang disini? " tanya Sungyeol lagi. Myung Soo mengangguk.

"baiklah. .kau boleh disini selalu. . " ucap Sungyeol pelan. Myung Soo mendekati pria manis itu. "maukah. .maukah kau menemaniku disini? " tanyanya dengan kelu.

Sungyeol mengangguk. Myung Soo tersenyum senang. Ia mengajak Sungyeol untuk duduk disebelahnya. Sungyeol menurut.

"apakah ini nyata? " tanya Myung Soo. Sungyeol diam. Ia menatap pria disebelahnya.

"kalau ini hanya mimpi. .apa kau ingin terbangun? " ujar Sungyeol balik bertanya.

"aku tak mau. .aku. .aku ingin selalu disini berdua dengan mu. . " jawab Myung Soo menundukkan kepalanya. Ia merutuki dirinya sendiri yang tak bisa berbohong dengan perasaannya.

"meskipun didunia nyata aku sedang menangis disampingmu? "

Myung Soo mengangkat kepalanya. "aku sedang menangisimu sekarang. . " lanjut Sungyeol tanpa menghiraukan ekspresi kebingungan Myung Soo.

"apakah kau masih ingin tinggal. .Myung Soo? " tanya Sungyeol lagi. Pria disebelahnya terdiam. ia mencerna kalimat itu dengan baik.

"tidak. .aku tidak mau bersama mu didunia mimpi. .aku ingin bersama mu didunia nyata. . "

"kalau begitu bangunlah. .aku tak ingin menangis terlalu lama. . " balas Sungyeol sambil menyunggingkan senyum manisnya. Perlahan tubuhnya mulai memudar. Myung Soo berteriak dan mencoba menggapai Sungyeol yang berupa bayang2. Hingga sebuah tangan menggenggam tangannya dengan hangat. matanya terbuka sempurna. Ia melihat Sungyeol terisak pelan dengan mata terpejam disampingnya sambil memegang tangannya erat. Myung Soo menatap haru pria yang tenggelam dalam kesedihannya itu.

"jangan menangis lagi. . " ucapnya lemah. Sungyeol membuka matanya mendengar suara yang sangat dikenalinya itu. ia nyaris memekik senang melihat Myung Soo tersadar dan sedang memandanginya dengan lembut.

"kau. .kau sudah sadar? " tanyanya seperti orang bodoh. Myung Soo tersenyum.

"hmh. .aku tak tahan mendengar isakan mu. .hatiku merasa sakit. . "

Sungyeol mengusap matanya. Segudang rasa sesal menguar di dalam dadanya.

"mianhae. .Myung Soo. . " katanya sambil menjatuhkan dirinya dipelukan Myung Soo.

Myung Soo terbeliak kaget. Ia tidak tuli. Ia jelas mendengar Sungyeol memanggil namanya barusan. Air mata nya mulai turun. Hatinya teramat senang mendengar pria itu akhirnya memanggil nama nya. Ia membalas pelukan dalam Sungyeol dan mengusap surai pria yang kembali menumpahkan rasa sesalnya itu.

"gwenchana. .Sungyeol. . " bisiknya pelan.

.

.

xXx

.

.

.

Kalian tau rasanya ketika kalian menyukai seseorang, dan seseorang itu sedang merawatmu dengan kasih sayang dan perhatian? Sangat sempurna! Tak ada kesenangan atau kebahagiaan lain yang bisa melampaui hal itu. setidaknya, hal itu lah yang sedang Myung Soo rasakan. Pria dengan wajah tampan nan memikat itu tak hentinya mengukir senyum manis dibibirnya melihat Sungyeol sejak tadi dengan cerewetnya menyuapkan bubur yang hambar kemulutnya.

Jujur saja dia sangat tidak menyukai rasa bubur yang aneh itu. Hanya saja rasanya sangat nikmat ketika tangan Sungyeol sudah mulai memaksa sendoknya masuk kedalam mulut Myung Soo. Belum lagi cerita cerita seru yang Sungyeol ceritakan sejak tadi membuat Myung Soo tak hentinya mensyukuri luka yang dideritanya. Kalau ia boleh berharap, ia tak ingin sembuh dan menahan pria itu terus bersama nya. Keinginan yang konyol.

"bagimana dengan luka mu? " tanya Sungyeol disela kesibukannya memotong apel. Myung Soo tersenyum ringan. "lukanya sudah mengering dan dokter bilang besok aku sudah bisa pulang. . " jawabnya. Sungyeol mengangguk paham.

"apa tak apa apa kau terlalu sering kemari ? bagaimana dengan pekerjaan mu? "

"tak apa. .seminggu ini pelanggan memang sangat ramai, namun kami sudah mengerjakan beberapa tenaga tambahan. .jadi aku bisa sering menjenguk mu . .lagipula. .ini salahku. . "

Sungyeol menghempaskan nafasnya.

"hei jangan berkata seperti itu. .sudah kukatakan tidak masalah. .lagipula aku yg lebih dulu membuatmu takut. . " ujar Myung Soo mencoba menenangkan hati Sungyeol.

"kalau begitu. .kita berdua salah. .jadi biarkan aku merawat mu sampai kau benar2 sembuh. . "

Kata Sungyeol sambil menyuapkan potongan apel kemulut Myung Soo. Myung Soo menerimanya dengan senang.

"baiklah tuan pemaksa. . " jawabnya dengan nada bergurau. Myung Soo sangat senang sekarang, ia sangat ingin memeluk pria didepannya dengan kuat untuk menumpahkan rasa rindunya. Hanya saja ganjalan dihatinya masih menahannya.

"bolehkah aku meminta sesuatu? " tanyanya kemudian. Sungyeol menghentikan gerakan mengupasnya. Ia menatapi wajah Myung Soo yang memandanginya intens. Ia mengangguk.

"makan malam lah lagi dengan ku. . " ujar Myung Soo dengan nada pelan. Ia takut Sungyeol akan marah dan menolaknya kali ini. Ekspresi Sungyeol yang terkejut perlahan memudar berganti dengan ekspresi lucu. Tawa kecil keluar dari mulutnya membuat Myung Soo menunduk malu.

"kau sangat tidak pandai mengajak seseorang. . " kata Sungyeol sambil menahan tawanya. Myung Soo tersenyum kecut.

"kau meno. . "

"aku menerima. . " potong Sungyeol memutus kalimat Myung Soo.

Myung Soo berbinar. "kau serius? "

"ya. .ayo kita berkencan untuk yang kedua kali. . " ujar Sungyeol yakin.

Myung Soo seolah mendapat undian jutaan dollar.

"ya. .ayo berkencan lagi. .Sungyeol. . "

.

.

xXx

.

.

.

Alunan music classic mengalir lembut memenuhi segenap penjuru restoran italy yang Sungyeol dan Myung Soo datangi. Sudah seminggu sejak kepulangan Myung Soo dari rumah sakit dan Sungyeol memenuhi janjinya. Ia tak ingin mengecewakan pria tampan itu lagi.

Dan disinilah mereka berdua, duduk berhadapan dengan canggung. Sungyeol hanya memakai kemeja biasa berwarna biru dengan jaket tebal yang melindunginya dari cuaca dingin berpadu dengan jeans belel yang berwarna abu abu kusam dilengkapi dengan sepatu snikers vans nya yang casual. Sementara Myung Soo berdandan sangat formal dengan suit hitam yang membalut tubuhnya dengan kemeja biru laut lembut nya dibagian dalam lengkap dengan dasi hitamnya yang menambah nilai ketampanan nya berpadan dengan celana armani hitam dan pantofel nya yang serasi dengan suit yang digunakan. Satu kata untuk menjelaskan pemandangan ini. Pelayan restoran yang berkencan dengan seorang CEO garmen. Sungyeol menggerak gerakkan tubuhnya dengan gelisah. Ia tak menyangka Myung Soo akan mengajaknya kemari, ia berfikir pria itu akan mengikuti kemana maunya seperti kencan sebelumnya dan menurut saja diajak makan di warung kecil yang menyediakan soju dan gurita kering. Dan lihat dandanan itu, ia sangat sempurna, sementara Sungyeol.? sangat euh! Bibirnya yang manyun sejak tadi memancing rasa penasaran Myung Soo.

"kau kenapa? Tidak suka dengan tempat ini? " tanyanya.

"ha? Oh. .aniyo. .aku suka. .restoran yang bagus. . " jawab Sungyeol gugup.

"hanya saja akan lebih bagus kalau kau mengatakan padaku dan aku tidak akan berpenampilan sebodoh ini. . " tambah Sungyeol. Myung Soo tersenyum kecil. Ia akhirnya mengerti kenapa pria kurus didepannya sejak tadi merasa gelisah dan tak nyaman.

Myung Soo tiba2 melepaskan jas hitamnya dan menggulungnya dengan santai. Tangannya kemudian melepas dasinya dan menyisakan kemeja putihnya saja. Sungyeol memandangi kegiatan pemuda itu dengan heran.

"kenapa kau melepasnya? " tanya Sungyeol heran.

"sekarang sudah merasa nyaman? " tanya Myung Soo tak menjawab pertanyaan Sungyeol. Sungyeol berdecak takjub, ia akhirnya mengerti maksud Myung Soo.

"hmh. .hanya perlu tambahan sedikit dibagian ini. . " ujar Sungyeol sambil berdiri dan menjangkau rambut Myung Soo. Sungyeol mengusak perlahan rambut hitam klimis itu hingga berantakan. Kegiatan itu membuat Sungyeol dapat melihat jelas wajah tampan Myung Soo yang menurut dengan tenang ketika tangan Sungyeol mengusak rambutnya.

"dia tampan sekali. . " bisik Sungyeol dalam hati. Apa? Hei tunggu dulu!

Sungyeol segera menghentikan aksinya dengan gugup. Degup jantungnya sudah melewati batas normal sekarang. Ia segera kembali duduk dan menyesap air putih didepannya.

"bagaimana? Sekarang sudah lebih baik? " tanya Myung Soo lagi.

Sungyeol melihat penampilan Myung Soo yang yah, bisa dibilang seperti habis terserang topan itu. Sungyeol mati2an menahan tawanya.

"ya. .kau lebih baik sekarang. . "

Myung Soo tersenyum. " baiklah. .ayo kita mulai memesan. . " katanya tenang sementara Sungyeol masih sibuk dengan kegiatannya menahan tawa nya yang nyaris lepas.

.

.

xXx

.

.

.

Sudah 6 bulan berlalu dan Sungyeol semakin dekat dengan Myung Soo. Keduanya semakin sering menghabiskan waktu berdua dengan bermain ke waterpark,arena bermain ski, ice skating, atau sesekali menghabiskan akhir minggu untuk menaiki Namsan Tower. Kegiatan tambahannya itu jelas mengundang rasa curiga dan penasaran kedua sahabatnya. Hoya dan Sung Gyu. Hingga suatu sore saat Sungyeol meminta izin untuk pergi Sung Gyu menahannya.

"kau mau kemana? " tanya Sung Gyu.

"aku. .aku akan pergi sebentar menemui teman ku. " jawab Sungyeol lugas.

"kau selalu beralasan yang sama Sungyie. .siapa teman mu itu? kau membuat kami khawatir. .lihat Hoya, dia sampai mengusulkan untuk menyewa orang untuk mengikutimu. . "

Sungyeol menatap ngeri pada Hoya yang tersenyum lebar padanya.

"aku hanya menemui teman lama. .sebentar saja. .bolehkan boleh? " rayu Sungyeol dengan wajah imutnya. "hehe. .tidak boleh. "

Senyum manis Sungyeol menghilang. Gagal. Ia harus memikirkan cara lain merayu pria didepannya itu.

"yasudah. .aku tak akan memasakkan makan malam lagi untuk kalian berdua. . " ucap Sungyeol akhirnya disertai nada merajuk. Sung Gyu mengusak kepala pria yang dianggapnya adik itu.

"tak masalah. .kami bisa memasak sendiri. . "

"Hyunggg. . " seru Sungyeol kalah. Sung Gyu tertawa melihatnya.

"arasseo. .kau boleh pergi. .tapi ingat. .kau harus berhati hati. .dan ingat. .jika kau bertemu dengan pria bernama Myung Soo itu, kau haru menghindar darinya. .kau mengerti? "

Sungyeol menggigit bibirnya. ia teringat ketika dulu ia dan Sung Gyu pernah bertemu dengan Myung Soo disebuah minimarket dan Myung Soo menyapa mereka. Sung Gyu dengan cepat menyembunyikan Sungyeol dibalik punggungnya dan menatap tajam pada Myung Soo.

"jangan pernah mendekatinya lagi. .atau kau akan berurusan dengan ku. . "

Kalimat itulah yang keluar dari mulut Sung Gyu dan membuat Myung Soo mundur perlahan. Melangkah sedih dan Sungyeol dapat melihat ekspresi sendu yang ditunjukkan pemuda tampan itu. sejak itu ia tak pernah sekalipun berani mengatakan pada Sung Gyu ia sudah bersahabat dengan Myung Soo. Ia tau pria yang sudah seperti kakak baginya itu akan sangat marah.

"ara. .aku akan mengingatnya. . " desis Sungyeol. Sung Gyu mengusap lembut surai adiknya itu. "baiklah. .berhati hatilah dan jangan pulang terlambat. . " ujar Sung Gyu sambil berjalan menuju Hoya yang terlihat kerepotan dengan menu dinampan nya.

Sungyeol melihat miris pada pria yang berjalan menjauhinya itu. dan berganti pada Hoya.

"mianhae. . " bisiknya lirih sebelum melangkah kan kakinya meninggalkan Cafe.

.

.

xXx

.

.

.

"kapan kau akan mengajaknya kemari Sungyie.? "

Sungyeol mengehentikan gerakan nya mencuci piring yang menumpuk. Ia melihat kearah Hoya yang bertanya. "siapa ? " tanyanya tak mengerti.

Hoya tersenyum tipis.

"kau jahat sekali Sungyie. .kau menceritakan pada Sung Gyu sementara kau bersembunyi dariku. . " ucap pria itu sambil mendekati Sungyeol dan mulai membantu pekerjaan Sungyeol.

Sungyeol masih berkutat dengan pikirannya mencoba menangkap maksud perkataan pria disebelahnya itu.

"namja itu. .kata Gyu kau akan mengenalkan nya pada kami. . "

Sungyeol mengangguk paham. "belum saatnya . . " katanya pelan.

"sampai kapan? Kau selalu mengatakan alasan itu. .kau tau? Sung Gyu sudah sangat penasaran. .ia bahkan mengusulkan padaku untuk membayar org untuk mengikutimu. . "

"bukankah itu idemu? " balas Sungyeol. Hoya terhenyak dan tertawa kecil menutupi keadaannya yang tertangkap basah.

"ah itu karena aku mengkhawatirkan mu Sungyie. .lagipula kami harus memastikan org itu adalah org yg tepat untuk mu. . "

Sungyeol membisu. Ia tau dua pria itu sangat khawatir dengan nya sejak kejadian dua tahun lalu. Mereka bahkan sudah memperlakukan Sungyeol seperti kristal tipis yang akan hancur dalam sekali sentuh jika tidak dijaga dengan baik.

"aku mengerti. .hanya saja akibat hal itu dia jadi takut untuk mengenalkan nya pada kalian. . lagipula, kami belum resmi berpacaran. . "

"tunggu dulu. .jaangan katakan kau menyukainya tanpa tau bagaimana perasaannya padamu. . " ujar Hoya. Sungyeol mengangguk.

"ya. .sepertinya aku menyukainya tapi tidak tau bagaimana dengannya. . "

Hoya menepuk dahinya. "astaga, jadi ini masih belum pasti? Dan kau belum mengatakan padanya? " Sungyeol menggeleng.

"aku tak berani. . mengatakan padanya. . "

Hoya tertawa kecil. "itu adalah hal yang biasa. .suatu saat kau pasti berani mengungkapkan nya. . "

"bagaimana jika dia menolak? " tanya Sungyeol.

"ia akan rugi karena menolak pria semanis ini. .dan akan sangat sial seumur hidupnya. . "

Jawab Hoya berapi api. Sungyeol menatapnya ngeri. Sahabatnya yang satu ini sangat diluar dugaan kalau sudah membicarakan cinta. Lihat dia, dia saja masih betah menjomblo sampai sekarang dengan alasan harus ia dulu yang menemukan kekasih baru mereka akan menyusul. Alasan konyol. Sungyeol menghela nafasnya. Ia memandang kosong pada piring piring kotor yang berserak.

.

.

Haruskah aku mengatakan dengan jujur padanya?

Tentang perasaan ku. .

.

.

.

TBC-