"JAEMIN HYUNG!"

Sontak Jisung terbangun dari posisi terlentang menjadi duduk. Keringat dingin deras membanjiri kening dan punggungnya. Dadanya naik turun dengan cepat seiring dengan napasnya yang tak stabil.

Manik matanya refleks memandang sekeliling kamarnya yang masih temaram. Ia bergidik menyadari suasana ruangan pribadi miliknya itu saat ini mengingatkannya dengan mimpi buruknya beberapa hari yang lalu. Syukurlah tak ada bayangan atau bisikan mengerikan yang muncul.

Namun, kenyataan itu masih belum bisa memudarkan rasa takut hebat dari mimpinya yang tertinggal kuat dalam benaknya.

Ia masih ingat dengan jelas.

Bagaimana teriakan Jaemin mengalun dengan kencang dari balik pintu kayu di hadapannya kala itu.

Dan samar-samar kata "Prince", yang diucapkan oleh suara yang sama yang telah menghantuinya beberapa malam ini.

Jisung menautkan seluruh jemari dari kedua telapak tangannya yang besar.

"Kumohon ...,"

"Tolong Jaemin hyung,"

Pandangan memohon ia layangkan ke arah jendela kamarnya yang tak tertutup tirai. Memperlihatkan malam tanpa bintang dengan hembusan angin kencang yang tak menyenangkan.

"... Mark,"


x

x

x

Inspired by Rise of the Guardians

Ajeng Hyakuya present

x

x

x

The Guardians

Chapter 8

Hurts, Guilty, Lust

x

x

Main Cast :

Lee Taeyong as Jack Frost

Moon Taeil as Santa Claus

Kim 'Doyoung' Dongyoung as Easter Bunny

Chittaphon 'Ten' Leechaiyapornkul as Fairy Tooth

Lee 'Mark' Minhyung as Sandman

Jung Jaehyun as Pitch Black

Seo 'Johnny' Youngho as Man in the Moon

Yuta Nakamoto as Momotaro

Dong 'Winwin' Sicheng as Fenghuang

Lee 'Haechan' Donghyuck, Huang Renjun, Lee Jeno, Zhong Chenle, Na Jaemin, Park Jisung as City Kids

Kim Jungwoo as Zeus

Qian Kun

Wong 'Lucas' Yukhei as Nian

Side Cast : SM members

Genre : Fantasy, Romance, Friendship, Supernatural, Action, Angst

Rating : T (Rating can change to M in the future)

Warning : Boys Love, Graphic Depiction of Violence, Typos, Disturbing Content, Implicit Sexual Scene

Pairs : JaeYong, IlYoung, JohnTen, MarkHyuck, YuWin, ChenSung, NoRen, NoMin, LuWoo

x

x

x


Tak terasa Mark akhirnya tiba di Kota Seoul, masih ramai dan penuh gemerlap seolah tak mengenal istirahat. Tentunya usai mengitari belahan dunia, memberikan mimpi baik dan menyenangkan pada para anak-anak dengan pasir emasnya.

Setiap ia menginjakkan kaki di ibukota Korea Selatan itu, ia pasti teringat pada kawan-kawan manusianya. Dari Renjun yang paling tua sampai Jisung yang paling belia.

Dulunya yang terlintas pasti kenangan-kenangan indah mereka bermain bersama. Saling bercanda satu sama lain, saling usil dan ledek, mengunjungi tempat-tempat menyenangkan di sekitar kota.

Tapi sekarang, yang ia ingat hanya bagaimana wajah ketakutan mereka setelah disiksa secara mental oleh teror Pitch Black.

Jung Jaehyun.

Jujur ia sudah tak sabar untuk segera menjaga mereka bersama rekan-rekan Guardian-nya. Masih ada rasa cemas yang tersisa di hatinya, kalau-kalau kejadian Pitch menyerang Haechan dan lainnya secara tiba-tiba kembali terulang.

"Hm?"

Sesuatu dalam alam bawah sadarnya, seperti sebuah panggilan, membuat Mark spontan menoleh ke arah perumahan yang tak jauh dari tempatnya berdiri.

Sang Sandman terkesiap tanpa suara, menyadari maksud panggilan itu.

"Jaemin," bisiknya.

...

Pintu kamar Jaemin terbuka dengan cepat. Beberapa sekon kemudian lampu kamar dinyalakan. Mengubah kamar yang gelap gulita menjadi terang.

Kyungsoo buru-buru menghampiri anak semata wayangnya yang terbaring tak nyaman di atas ranjang. Ia yang duduk di sebelah Jaemin lekas menaruh telapak tangannya di dahi sang anak. "Astaga," gumamnya begitu merasakan rasa panas pada dahi yang ia sentuh.

"Jongin!" panggil Kyungsoo dengan keras.

"Ya, Kyungie," sahut sang suami dari arah tangga. Tak lama kemudian menyusul Kyungsoo ke dalam kamar.

"Jaemin kenapa?"

Kyungsoo menoleh ke arah Kai, "Jaemin demam tinggi," sebelum kembali memandang cemas anak tunggal mereka. "Cepat ambilkan baskom air dingin dan kompres," pintanya.

Jongin mengangguk singkat dan bergegas kembali ke bawah mengambil barang-barang yang diminta sang istri.

Kyungsoo memandang lekat-lekat Jaemin yang tengah bernapas berat dalam tidurnya. Dari tatapan itu tersirat rasa khawatir dan cemas yang besar. Ia sudah memiliki perasaan tidak enak, gelisah, saat tidur tadi. Dan benar saja, Jaemin demam dengan temperatur tinggi dalam tidurnya.

"Bertahanlah, Jaemin,"

Di saat Kyungsoo tengah menatap sang anak, tanpa ia sadari, bayangan hitam tak berbentuk melingkupi tubuh Jaemin.

...

Rasanya kejadian itu terjadi begitu singkat, cepat bagaikan kilat yang menerangi seluruh tempat dalam sekejap sebelum petir yang dengan gema suaranya yang menggelegar menyambut indera pendengaran.

Seingat Jaemin, ia terkunci di sebuah tempat gelap dalam dunia mimpi. Pemuda bermarga Na itu berusaha keluar dan meminta tolong pada Jisung. Hingga sepasang tangan dingin menutup matanya dan menarik tubuhnya ke dalam kegelapan tanpa akhir. Sampai tarikan itu berhenti dan ia berdiri kaku di sebuah tempat yang ia sendiri tak tahu ada di mana, terasa begitu asing dan sangat jauh.

Jaemin dengan ragu membuka kelopak matanya perlahan-lahan.

Dan ia pun disambut dengan seseorang yang berdiri tak jauh darinya.

Orang yang sama yang telah meneror ia dan teman-temannya dua hari silam.

Pitch Black.

"Halo, Jaemin,"

Lelaki belia itu terkesiap dan reflek mundur beberapa langkah. "A—apa yang kau inginkan?!"

Jaehyun tersenyum dengan misterius. Sepasang obsidiannya berkilat sekilas. "Prince," desisnya.

"Prince?"

"Nightmare Prince," sambung Jaehyun. "Mereka sepertinya belum memberitahukan hal ini pada kalian,"

"Tentang apa?" tanya Jaemin, spontan terdorong oleh rasa ingin tahu.

Jaehyun lantas semakin memperkecil jaraknya dengan Jaemin. Sementara Jaemin yang terkejut dengan pergerakan Jaehyun yang mendadak hanya bisa berdiri kaku bagaikan patung di tempat. Dalam batinnya, ada dorongan kuat untuk berlari sejauh mungkin dari sosok berbahaya itu. Tapi kali ini, entah kenapa ia-ia—

... ia tidak bisa.

Jaehyun mengangkat tangan kanannya, sejurus kemudian menyisir lembut nan pelan surai karamel Jaemin dengan jemarinya.

"Na Jaemin,"

Entah kenapa namanya terdengar begitu indah ketika diucapkan sosok di hadapannya. Suaranya begitu merdu. Tanpa sadar menghipnotis Jaemin untuk terpaku pada sang Boogeyman.

"Seharusnya kau menyadari, bahwa ada yang menderita karena bersahabat denganmu," bisiknya lembut dengan suara serak. Nada suaranya berubah dari merdu menjadi sensual. Orang awam mungkin sudah bertekuk lutut lemah tak berdaya ketika suara yang begitu seksi itu beresonansi dalam tulang pendengaran mereka.

"Siapa?"

Jaehyun memandang intens lewat pandangan mereka yang terkunci satu sama lain. "Semakin lama kau menyadarinya, semakin besar bencana yang akan timbul karena sikap acuhmu itu,"

Tangan Jaehyun bergerak turun begitu lambat, seolah mengapresiasi tiap sudut rupa wajahnya, lalu mengusap pipi Jaemin sekilas penuh dengan afeksi.

"Tidak usah tegang,"

Senyum indah yang menampakkan lesung pipi itu menyapa penglihatan Jaemin.

"Aku sudah janji tidak akan menyakiti kalian,"

"Terutama kau,"

"Kau sangat spesial,"

Mendengar pujian itu, sebuah rasa senang dan bangga yang tak bisa ia definisikan merebak dalam dada lelaki bermarga Na itu. Bagaikan bunga yang mekar kelopaknya setelah sekian lama menanti.

"Oleh karena itu, aku akan memberitahukan siapa Prince yang kucari,"

Jaehyun pun mencondongkan kepalanya ke sisi samping Jaemin.

Satu nama terucap dari gerak bibir Jaehyun.

Dan mata kosong Jaemin pun kembali hidup dengan percampuran rasa tak percaya, terkejut, mustahil.

Puas akan reaksi bisu dari Jaemin, sang Nightmare King lalu kembali berbisik. Kali ini rangkaian kata yang kemudian merasuk ke dalam pikiran pemuda itu bagaikan mantra ajaib. Mantra yang hanya ia yang tahu berisi kuasa apa.

Setelah selesai, ia menarik diri dan kembali ke posisi semula. Kali ini garis melengkung bibirnya berubah makna dari estetika menjadi maksud licik tersembunyi.

Namun tak bertahan lama, senyuman Jaehyun lenyap dari wajahnya dan ia lantas meloncat mundur ke belakang dengan cepat.

Beberapa sekon kemudian, sebuah panah keemasan besar menancap persis di tempat Jaehyun berdiri barusan dengan telak. Mungkin saja jika sang Boogeyman tidak lekas menghindar, panah itu sudah menghujam dadanya.

Seolah kembali pada kesadarannya, Jaemin mengedipkan mata cepat dan pandangannya tertuju pada panah besar di hadapannya. Namun entah kenapa kakinya mendadak terasa sangat lemas, sudah tak kuat menopang tubuhnya untuk berdiri.

Sepertinya ia akan jatuh.

"Jaemin!"

Untungnya Mark datang tepat waktu dan segera menopang tubuh Jaemin yang lemas dengan lengan kirinya. "Kamu nggak apa-apa?!" tanyanya spontan, cemas.

Jaemin menatap sang roh pasir mimpi sayu. "Mark ... " gumamnya lirih, nyaris tanpa suara.

Menatap wajah pucat Jaemin sejenak, Mark pun lalu melemparkan pandangan tajam penuh kebencian pada sang Pitch Black. "Pitch," geramnya.

"Apa yang sudah kau lakukan pada Jaemin?!"

"Aku hanya berbincang sebentar dengannya. Jangan khawatir. Begitu ia bangun, ia akan baik-baik saja," jawab Jaehyun dengan kalem dan tanpa rasa bersalah sedikit pun.

"Oh, iya. Sebelum aku pamit untuk pergi, tolong titipkan perkataanku ini pada Santa Claus,"

"Aku akan selalu menemukan anak-anak itu,"

Bayangan-bayangan berbentuk sulur hitam pekat pun muncul dan mulai membungkus diri Jaehyun dengan cepat. Ia kemudian menyatu dalam kegelapan dan lenyap tak tersisa. Menyisakan sang Sandman dan Jaemin.

"Tunggu!"

Teriakan Mark menggema sia-sia dalam ruangan gelap antah berantah itu.

...

"Ah, Jungwoo!" panggil Lucas lantang dengan nada gembira.

"Lucas,"

Setelah melambaikan tangan kecil, Jungwoo setengah berlari menghampiri sang kekasih yang sedari tadi menanti kedatangannya di halaman rumah mereka yang luas.

Lucas pun memeluk pinggang ramping Jungwoo, mempersempit jarak antara keduanya. Meski tinggi keduanya hanya selisih beberapa centimeter, entah kenapa setiap dipeluk seperti ini, Jungwoo selalu merasa jauh lebih kecil dan lemah.

"Kau sudah menemukannya?"

Jungwoo mengangguk malu-malu. "Sudah,"

"Bagaimana dia?" tanya Lucas antusias.

"Sehat. Alisnya tebal, pipinya imut. Ada tampannya, ada cantiknya. Dia juga punya pertunjukan sulap yang keren,"

"Oh, begitu. Bagus,"

Seringai antusias merekah lebar di wajah rupawan sang jelmaan Nian. "That's my baby," bisiknya rendah nan sensual, selalu sukses membuat Jungwoo merasakan sensasi merinding yang menggelitik tulang belakangnya.

Lucas memiringkan kepalanya sedikit, mempertemukan belahan bibirnya dengan milik Jungwoo. Melumat sensual daging kenyal itu hingga terdengar suara kecipak. Sedangkan Jungwoo menutup mata, melenguh kecil mencoba mengimbangi Lucas yang nampak bernafsu 'memakan' bibirnya.

Usai cumbuan itu berakhir, Lucas mengecup singkat dahi sang kekasih. "Makasih ya, baby. Udah repot-repot nyariin dia buat aku,"

Jungwoo tertawa kecil. "Sama-sama,"

"Nah, istirahat dulu di dalam. Duduk atau tidur. Kamu pasti capek,"

Sorot mata Jungwoo menghangat dari sebelumnya. "Aku sayang kamu," gumamnya seraya mengembangkan senyum manis yang menampakkan sepasang gigi kelinci mungilnya.

Lucas mengerlingkan mata.

"Aku lebih sayang kamu, Zeus manisku,"

...

"Kamu yakin sudah mendingan?" tanya Kyungsoo, masih ada rasa cemas tersirat dalam sepasang mata bulat besar yang tetap terlihat imut meski sudah termakan usia itu.

Jaemin mengangguk mantap. "Iya, eomma. Aku yakin,"

Kyungsoo lantas memegang dahi Jaemin sejenak, lalu mendesah singkat. "Dahi kamu masih hangat gini, kok. Sudah, tiduran dulu. Istirahat," titahnya.

Jaemin pun mendengus pelan. "Baik, eomma," gumamnya, bibirnya agak mengerucut maju.

Niatnya, sih, ingin membujuk ibunya lebih jauh, tapi sayangnya ibunya sendiri kebal berbagai rayuan. Ayahnya sendiri yang cerita padanya saat Jaemin kelas tiga SD dulu. Waktu Jaemin bertanya secara lugu bagaimana keduanya pada akhirnya bisa menikah, ayahnya menjawab kalau yang namanya jodoh itu pasti nggak kemana.

Yaaa … memang tidak nyambung, sih.

"Kalau ada apa-apa, panggil saja eomma. Eomma mau memasak dulu untuk makan siang,"

Putra tunggal Keluarga Na itu hanya mengangguk empat kali dengan lesu sebagai balasan.

Padahal ia mau berkumpul dengan yang lainnya dan bermain lagi di game arcade. Ia paling malas kalau harus berdiam diri di rumah saat libur panjang seperti ini. Malah ia sekarang ingin masuk sekolah saja. Bukan untuk pelajaran tentunya, tapi untuk bertemu teman-temannya setiap hari tanpa harus ijin keluar rumah.

Tak lama setelah ibunya keluar dan menutup pintu kamarnya, Jaemin pun melirik ke arah smartphone-nya yang tiba-tiba berdering. Ia kemudian mengambilnya dan menggeser ikon telepon, mendekatkan ponselnya tersebut ke telinga kanannya.

"Yeoboseyo?"

"Oh, Jisung,"

"Aku nggak apa-apa. Cuma sedikit demam,"

"Iya, bener aku nggak apa-apa, Jisungie,"

"Sebaiknya kita tidak menceritakannya pada yang lain. Cukup aku, kau, dan Mark saja yang tahu,"

"—aku mohon. Aku nggak mau yang lainnya khawatir,"

"Udah, nggak apa-apa. Kamu nggak salah, kok,"

"Iya. Annyeong~"

Usai panggilan telepon itu berakhir, Jaemin pun menghela napas panjang. Benar-benar tak terlintas di dalam pikirnya kalau acara menghampiri alam mimpi untuk menemani dan bermain dengan Jisung akan berakhir dengan mimpi buruk mengerikan bersama sang Nightmare King.

Omong-omong soal dia, seketika terlintas perkataan Pitch Black saat itu yang masih terekam jelas dalam ingatannya.

Seharusnya kau menyadari, bahwa ada yang menderita karena bersahabat denganmu

Pemuda Na itu kembali berbaring di atas ranjang. Kedua tangannya saling menekuk di atas kepalanya. Ia memandang bingung penuh terka pada langit-langit kamar.

Siapa memangnya?

...

Jeno memeluk gulingnya seraya memejamkan mata erat penuh euforia, seolah-olah guling besar itu adalah labuhan hatinya saat ini.

Pemuda bermarga Lee itu tak bisa berhenti tersenyum seperti orang gila, mengingat-ingat momen intim yang ia habiskan bersama Renjun kemarin. Meski sekadar memeluk pemuda Huang yang bertubuh mungil itu dari belakang dan dari samping ketika mereka duduk di sofa bersama setelahnya.

Apalagi saat Renjun yang biasanya kalem dan agak-agak judes, jadi malu-malu dan salah tingkah.

Gemes banget, sumpah!

Setelah lebih tenang, Jeno pun membuka kedua matanya. Ia tidak membuka jendela kamar beserta tirainya sedari tadi pagi, dari bangun tidur sampai selesai mandi dan sarapan. Pemuda itu yakin sekarang pasti sudah hampir siang, meski suasana luar masih redup bak kala fajar menyingsing. Mungkin langit tengah diselimuti awan-awan kelabu tebal. Mengingat sebentar lagi musim dingin akan tiba.

Entah kenapa, Jeno sendiri lebih nyaman dalam keadaan temaram seperti ini. Kalau pun menyalakan lampu di kamarnya dan ruangan lain dalam rumah, rasanya hanya akan buang-buang listrik. Mengingat ia selalu sendirian di rumah.

Tapi tidak apa-apa.

Toh, Jeno sudah besar. Sudah biasa sendiri. Terutama semenjak kedua orangtuanya semakin sibuk bekerja lima tahun belakangan ini. Hanya bisa pulang sebulan sekali, atau malah tiga bulan sekali.

Meski sendiri itu sakit.

"Doyoung…!"

Spontan sang kelinci paskah berbalik badan begitu mendengar panggilan bernada lembut nan halus itu. Ia pun memberi komando lewat gestur tangan agar kumpulan telur yang ia hias hari ini bergerak kembali ke tempat penyimpanan.

"Oh, Jungwoo," ucap Doyoung begitu Jungwoo sampai di sampingnya. "Apa kabar?"

"Baik,"

"Ada apa?"

"Ingin berkunjung?"

Doyoung lantas bingung, mencerna maksud dari dua patah kata dari Jungwoo. Sebenarnya dia bermaksud balik bertanya padanya atau tidak tahu alasan sebenarnya dirinya sendiri mengunjungi sang Easter Bunny?

"Kamu kelihatan seneng banget hari ini," komentar Doyoung seraya menekuk kedua tangannya di depan dada.

"Pasti soal kekasihmu, kan?"

Jungwoo mengangguk-angguk cepat dengan antusiasme yang luar biasa.

Doyoung pun memutar bola matanya, mendesah maklum.

...

"Aku pergi dulu, ya. Pastikan semuanya aman. Oke?"

Beruang grizzly coklat tua di hadapannya memberikan gestur hormat.

Taeil melempar bola kristal salju dalam genggamannya ke arah depan, yang kemudian berubah menjadi sebuah portal yang bersinar dan setinggi orang dewasa.

Ia lalu bersiul kencang. Dan datang seekor burung hantu yang kemudian bertengger di pundak kirinya. Sudah sekian lama ia tak bersama burung hantu kesayangannya. Saat penjagaan seperti ini, ia juga bisa menggunakannya untuk terbang mengitari sekitar wilayah Seoul untuk mencari tahu jika ada sesuatu yang tidak beres.

"Ayo,"

"Ke tempat Easter Bunny,"

...

"Doyoung,"

Jujur Taeil tak menyangka kalau ia akan ditransportasikan ke wilayah bawah tanah tempat Doyoung tinggal. Ia kira Doyoung sedang berada di mana. Atau mungkin sudah di Seoul. Karena setahu Taeil, Doyoung itu tipikal yang selalu tepat waktu.

Taeil menoleh ke salah satu sudut. Sontak ia tertegun dalam diam.

Tak jauh dari hadapannya, Doyoung tengah duduk bersama seorang lelaki dengan posisi membelakangi Taeil. Lelaki asing itu memeluk Doyoung dengan penuh afeksi.

Terbersit rasa tak nyaman di dadanya melihat pemandangan itu.

"Kalau begitu, aku pulang dulu,"

"Iya, hati-hati,"

Begitu lelaki dengan rambut biru itu telah pergi cukup jauh, Taeil tanpa buang-buang waktu lekas menghampiri sang kelinci paskah.

"Doyoung,"

"Oh, Taeil," gumam Doyoung, raut wajahnya begitu terkejut. Sepertinya tak menyangka kalau Taeil akan datang ke tempatnya tanpa pemberitahuan.

"Aku kira kamu sudah ke sana,"

Doyoung pun menepuk dahinya. "Oh, iya! Maaf aku baru ingat,"

"Siapa dia?"

"Hm? Oh, dia Jungwoo, teman baruku. Dia tak sengaja masuk ke tempat ini karena tersesat,"

Teman.

Kalau teman kenapa harus memeluknya seperti itu?

Seperti seorang kekasih?

Kenapa rasa tak nyaman yang menyelimuti dadanya berubah menjadi setitik rasa sakit?

...

Sebuah portal bercahaya muncul tak jauh dari ketiga Guardian, membuat atensi mereka beralih pada kedua sosok yang telah dinanti. Dari dalamnya, keluar dengan bersama-sama Santa Claus dan Easter Bunny. Sedetik kemudian portal itu pun lenyap tak berbekas.

"Maaf kami terlambat," ucap Taeil.

"Tidak apa-apa,"

"Karena semua sudah berkumpul, kita akan segera mulai pengawasannya," ujar sang Jack Frost.

"Jadi, di mana rumah mereka, Mark?"

"Jeno, Haechan, Renjun, dan Jaemin berada dalam satu komplek perumahan, kalau tidak salah blok sebelah situ. Rumah Chenle dan Jisung terpaut dua rumah di sana," jelas Mark seraya menunjuk daerah-daerah yang dimaksud. Sang Sandman lalu mengeluarkan napas singkat.

"Aku punya rencana. Jadi kita akan terbagi menjadi dua. Kelompok pertama dengan jumlah yang lebih banyak akan menjaga di sekitar anak-anak yang lebih tua dan kelompok kedua dengan jumlah lebih sedikit akan menjaga sekitar rumah Jisung dan Chenle. Semuanya setuju?"

Keempat yang lain mengangguk seirama.

"Sekarang, pembagian tim," tutur Taeyong.

*Flashback*

"Kamu yakin nggak apa-apa?"

Jaemin mencoba untuk berdiri tegak, meski akhirnya gagal karena kakinya terasa seperti jeli. Mark pun dengan sigap menaruh lengan kanan Jaemin di pundak kanannya, menggenggam erat bagian pergelangan tangan. Sedangkan tangan kirinya melingkar di pinggang Jaemin.

"Mark," panggil Jaemin parau.

"Tolong jangan ceritakan ini pada Guardian lainnya,"

"Tapi kamu nyaris celaka tadi, Jaemin! Aku nggak bisa ngerahasiain ini dari yang lain," sahut Mark. Bukan maksud ia kesal pada Jaemin. Tapi masalah ini menyangkut keselamatan temannya sendiri. Setidaknya jika ia memberitahu rekan-rekan Guardian-nya, mereka bisa mengantisipasi hal semacam ini terulang kembali. Apalagi dunia mimpi tidak bisa sembarangan dimasuki, bahkan oleh Mark sekalipun.

"Aku mohon. Aku tidak mau membuat mereka khawatir," pinta pemuda Na itu dengan mata sayu, yang dipengaruhi oleh kondisi tubuhnya—atau jiwanya, yang melemah.

Mark terdiam, ragu.

"Baiklah. Sekarang, ayo. Aku antar kau pulang ke dunia nyata,"

*Flashback End*

"Mark?"

"Mark?"

Tersadar dari acara mengingatnya, Mark spontan menoleh ke arah kirinya. "Ya?"

Ten menghela napas tanpa suara. Setelah berdiskusi mengenai pembagian wilayah yang dijaga, ia dan Mark mendapat jatah mengawasi di sekitar rumah anak-anak yang paling muda, Chenle dan Jisung. Setibanya di salah satu rumah mewah di antara rumah keduanya, Ten menjadi bingung karena Mark terus melamun, memikirkan sesuatu begitu lama.

"Kamu melamun terus dari tadi," komentar sang peri gigi.

"Oh, hehehe. Maaf,"

Mark pun beranjak bangun dari posisi duduknya di atas atap. Menyusul Ten yang sedari tadi berdiri.

Namun, tanpa sepengetahuan Mark, Ten mengamatinya selama ia melamun tadi. Dan Ten menyadari sesuatu. Mimik wajah itu, ia paham betul makna di baliknya. Tentu saja, karena ia juga mengalaminya saat ini.

Ekspresi wajah seseorang yang tengah memendam rahasia menyakitkan.

...

Jaehyun sendirian memandang ke Sungai Han yang terbentang luas di hadapannya. Permukaan airnya yang tenang memantulkan berbagai cahaya lampu dari seberang, ibarat langit malam yang dipenuhi oleh taburan bintang yang bersinar lembut dari kejauhan.

Lucas memberitahunya kemarin bahwa ia belum bisa bergabung dengan rencana besarnya seutuhnya. Katanya, ia ingin menemukan seseorang terlebih dahulu. Setidaknya masing-masing dari mereka sudah melaksanakan rencana-rencana kecil yang akan bermuara pada rencana besar. Seperti Jaehyun yang menghampiri Jaemin dalam dunia mimpinya dan mengenai Lucas, hanya jelmaan Nian itu saja yang tahu.

Sang Boogeyman mengangkat tangan kanannya yang sedari tadi mengenggam sebuah tabung. Jaehyun memandang tabung kecil itu sejenak. Ia lalu membuka bagian tengahnya. Di mana sebuah gigi kecil yang putih sempurna, hampir bagaikan berlian, ditata sedemikian rapinya.

Jaehyun menyentuh gigi tersebut. Matanya terpejam perlahan. Sekelebat ingatan terlintas dengan cepat namun jelas dalam kepalanya.

Seorang laki-laki manis yang baru menginjak usia dewasa.

Seorang wanita muda yang berpostur mungil namun penuh keanggunan.

Tengah bermain di danau yang membeku.

Saling tersenyum dan tertawa satu sama lain.

Kelopak matanya kembali membuka. Tanpa sadar satu nama terucap dari bibirnya.

"Taeyong,"

Bayangan-bayangan di sekitarnya, dari yang terletak di bawah jejeran kursi kosong hingga pantulan cahaya malam pada pohon, mulai bergejolak liar. Seolah merasakan gairah gelap yang tercetak jelas pada manik hitam kelam itu.

Ah, betapa ia berhasrat untuk bertatap mata dengan sang Jack Frost lagi. Bertukar serangan demi serangan dengannya. Membisikkan kata-kata beracun yang manis pada telinganya. Ingin segera sang Jack Frost jatuh dalam ketidakberdayaan. Ingin segera membawanya. Ingin segera memiliknya.

Jaehyun pun menutup tabung itu dan memasukkannya dalam saku mantel coklatnya.

"Sebentar lagi, permainan akan memasuki babak kedua," ucap Nightmare King itu monolog, seolah ia berbicara dengan lawan-lawannya.

Jaehyun tertawa kecil dengan sinis.

"Kalian semua sudah salah besar mengira penyeranganku kemarin sebagai awal babak pertama,"

Jika sang Pitch Black bisa menamai setiap babak.

Maka ia akan menamai babak pertama sebagai permulaan.

Dan babak kedua sebagai perpecahan.


.

.

.

To Be Continue

.

.

.


chococaramello : Iya, Ajeng Noren shipper. Tapi juga suka Nomin kok. Wah, kita sama. Sama-sama tergantung kuota. Kadang kalau mau hemat kuota, biasanya sih Ajeng nonton yang udah diterjemahin atau ada subtitle terjemahan di youtube.

Nurul1707 : Makasih banyak. Aduh, Ajeng nggak nyangka banget kalau cerita Ajeng ini bagus. :") Ajeng jadi pengen kayak kamu, bisa update V Live terus. Tapi apa daya kuota nggak mencukupi. T_T Makasih juga buat kamu yang udah setia ngikutin fanfic ini.

flyhjgh : Iya, loh, Jen. Entar dikutuk. XD Oke!

sunbaeris : Ajeng juga sebenernya bingung kok bisa kepikiran bajunya buat Jaehyun yang itu. X))

missinghunhan12 : Mau tahu? Ikuti terus ceritanya. Oke. Makasih buat pengertiannya.

Jadi, waktu chapter 7 kemarin rilis, Ajeng bener-bener kaget dan nggak nyangka kalau beberapa hari kemudian NCT update videonya Chenle, Jisung, sama Jaemin ke tempat bermain itu. Minus Haechan, sih. Dan mereka juga main permainan yang ngelempar bola basket itu!

Btw, happy birthday buat Taeyong [1 Juli], Mark [2 Agustus], dan Jaemin [13 Agustus]! Aduh, Ajeng jahat banget ya baru ngucapin ultah ke mereka. Padahal udah kelewat 2-3 bulan. Mianhamnida. T_T

Selamat buat NCT Dream atas comeback-nya yang sukses kemarin September. Lagu We Go Up enak banget. Side track-nya juga bagus-bagus. NCT Dream Show juga keren. Banyak cover lagu NCT lain, terus ada MFAL bareng Jaemin. Syukurlah cover Baby Don't Stop Jeno sama Mark, sama-sama seme. Nggak bisa bayangin kalau misalnya jadi sama Jaemin atau Renjun. Auto ambyar nanti. X))

Oh, iya. Buat yang baru-baru ini. Sumpah, Ajeng nggak nyangka banget waktu dapat berita kalau NCT 127 diundang ke Jimmy Kimmel Live Show! Terus diundang di Good Day LA sama Red Carpet AMA. Sumpah! Ajeng bangga banget sama pencapaian NCT, rasanya sampai mau nangis. T_T

Yang udah nggak sabar buat comeback-nya NCT 127, mana suaranyaaaaaaaaaa?! XD

Well, jangan lupa review, ya. Silahkan yang mau bertanya atau mau ngobrol lewat DM. Ajeng juga menerima kritik, saran dan komentar apapun.

Sampai di sini dulu.

Ajeng Hyakuya pamit.

Annyeong!

A.N. : Ajeng sebenarnya baru sadar waktu baca-baca referensi Rise of the Guardians, kalau sebenarnya kuda-kuda hitam yang jadi anak buahnya Pitch Black itu namanya Nightmares, bukan fearling. Tapi pada akhirnya, Ajeng memutuskan buat tetap menamai mereka fearling di fanfic ini. Supaya tidak rancu dengan Nightmare King dan Nightmare Prince.