Disclaimer : Kuroko no Basuke milik Fujimaki Tadatoshi
Warning : AU, Shounen-ai. Banyak kekurangan dalam fanfiksi ini, kritik dan saran diterima.
.
Thanks buat Hirara-san yang udah mau repot-repot ngetik panjang buat kasih saran. Mulai sekarang Vee akan coba belajar penggunaan EYD yang benar.
Langsung aja kalau begitu. Enjoy!
.
"Eh, jadi kau mau berebutan denganku, Seijuuro?"
.
Suasana mendadak berat. Kuroko masih mematung seperti itu. Pergelangan tangannya telah bebas dari cengkraman Akashi, membuatnya terduduk di lantai sambil menatap kosong ke depan, shock. Apa benar yang barusan Akashi lakukan itu kenyataan?
Jantungnya berdetak kencang, memonpa cairan merah agar bergerak lebih cepat dari seharusnya. Apa Kuroko punya jantung dan darah? Anggap saja ia memilikinya.
Akashi tertawa. "Berebutan, eh? Tanpa berusahapun Tetsuya akan menjadi milikku."
"Kau berhayal, Sei. Apa respon seperti itu tampak baik di matamu?" tanyanya sambil mengalihkan pandang ke arah Kuroko.
Raut kaget tak kunjung hilang dari wajah sang Zashiki Warashi. Matanya yang sebelumnya memang kosong, terlihat semakin kosong,rona belum hilang dari kedua pipinya. Perasaan hantu itu campur aduk. Ibunya sendiri, yang menciptakan dirinya (untuk beberapa alasan tak bisa disebut melahirkan), tak pernah berlaku seperti itu. Tapi Akashi, lelaki bersurai merah dengan tatapan tajam, berani menciumnya, di hadapan orang lain pula. Sebenarnya tak masalah. Kehilangan ciuman pertama tak akan menjadi ujung hidupnya. Tapi malunya itu loh!
"Tentu saja. Ia memang minim ekspresi. Kau tak akan tau kalau sebenarnya di dalam sana ia senang . Benar kan, Tetsuya?"
Kuroko diam, tak tau harus berkata apa. Ia senang? Sepertinya tidak. Tapi dadanya terasa berdesir. Apa itu kata lain dari senang?
Helaan nafas terdengar dari lelaki bersurai oranye, ia menumpukkan berat tubuhnya pada sandaran sofa, mengabaikan rasa tidak nyaman di celana akibat tumbahan sengaja dari Akashi. "Lihat?" Ia terkekeh pelan. "Kuroko bahkan tak meresponmu."
Akashi berdecih, membuang muka dari Kuroko. "Dia memang seperti itu."
"Eh? Begitukah?"
"Sudahlah Kotarou. Hentikan semua perdebatan ini. Pergi kau sana dari pandanganku."
Dengan sinis Hayama melempar pandang ke arah Akashi, mulai bosan dengan tingkah aku-selalu-benar milik Akashi.
"Akashi-kun no baka," kata Kuroko datar, kemudian menghilang. Ah... seandainya Akashi dan Hayama melihat semburat tipis di pipi pucat Kuroko, mungkin prespeksi mereka akan berubah. Setidaknya Kuroko beruntung karena tirai jendela yang tertutup, menghalangi cahaya pembawa kehidupan menyusup masuk.
Lagi-lagi keheningan mendominasi, tapi tak bertahan lama karena tawa Hayama menggema di ruang tamu. Akashi melempar tatapan tajam yang mengisyatkan berhenti-tertawa-atau-kurobek-mulutmu, yang sukses membuat Hayama bungkam.
"Sepertinya aku harus menata barang-barangku terlebih dahulu," katanya canggung tanpa memandang Akashi, kemudian menghilang di balik pintu kamarnya.
V
Pagi-pagi. Tapi suasana di apartemen Akashi sudah beragam. Di sudut kanan, terlihat Akashi yang tertekuk wajahnya. Sedang di sudut kiri terlihat Hayama dan Kuroko yang tengah bercengkrama dengan gelas susu di tangan si Baby Blue dan secangkir kopi di tangan si Oranye.
Entah kenapa tak ada yang ingin keluar dari apartemen untuk sekedar berjalan-jalan atau menjalankan aktifitas lainnya. Ah... sepertinya memang tak ada yang harus dilakukan. Akashi baru akan masuk kuliah beberapa minggu lagi, sedang Hayama berkata ingin di rumah (entah ada jadwal kuliah atau tidak).
"Eeeh... jadi kau bisa meminum susu? Tak ada yang lain?"
Akashi tak suka jika diabaikan. Bahkan semua orang tak suka jika diabaikan, benar begitu? Dan lelaki bersurai merah itu termasuk salah satunya. Entah sudah berapa kali ia mencoba berbicara dengan Kuroko. Tapi saat ia mendekati hantu itu, Kuroko malah menghilang dan muncul di samping Hayama, seperti meminta perlindungan.
Itu menyebalkan.
"Apa tak bosan dengan original? Aku bisa belikan yang lebih enak dari itu."
Mata Kuroko berbinar, sejenak gelas susu di tangannya terlupakan sepenuhnya. "Memang ada yang lain dari ini, Hayama-kun?"
Hayama mengangguk bersemangat. Entah sudah berapa lama tak ada orang yang bersikap seperti Kuroko. Dalam keseharian, biasanya ia yang dianggap paling bodoh sehingga tak ada yang mendengarkan kata-katanya. Tak jarang juga ada yang terlalu frontal, menyebutnya bodoh secara terang-terangan. Salah satu contohnya bisa dilihat sekarang.
"Bodoh! Tak usah perhatikan ia, Tetsuya. Susu original sudah cukup untukmu, tanpa pewarna maupun bahan pengawet."
"Aku mau, Hayama-kun."
Diabaikan.
"Tetsuya, aku bilang cukup, berarti benar-benar cukup. Aku tak mau tubuhmu kelebihan gula, lantas jadi gemuk. Kau mendengarku, Tetsuya?"
"Kapan kita membelinya? Apa bisa sekarang, Hayama-kun?"
Diabaikan lagi.
Hayama melonjak senang, kemudian menggandeng tangan Kuroko. "Kalau begitu ayo berangkat sekarang."
Kuroko mengangguk sambil tersenyum kecil. "Tapi aku tak mungkin keluar dengan baju ini," katanya sambil mengamati kimono berwarna biru cerah yang dibelikan Kise tempo hari.
"Tak apa, kau masih terlihat imut dengan pakaian itu, bahkan lebih cocok begitu."
Wajah Kuroko merona, sedang Akashi menggertakkan gigi kesal. "Hei kalian, berhenti sekarang juga!"
Apanya yang pembawa keberuntungan? Akashi bahkan merasa kalau sekarang Kuroko membuat amarahnya ingin meledak-ledak. Itu bukan keberuntungan, kan?
"Nah Kuroko, kira-kira kau lebih suka rasa vanilla atau coklat? Uhm, bagaimana kalau kopi? Ah tidak, usiamu sepertinya belum cocok dengan minuman semacam kopi. Berapa usia... "
Ucapan Hayama berhenti lantaran action figur seorang tentara berukuran tujuh belas senti melayang ke kepalanya, membentur lapisan kulit berselimut oranye, menciptakan bola mini di samping kiri. "Ittee! Seijuuro, kau mau membunuhku!" bentaknya sambari berbalik dan memandang Akashi dengan tetesan bening di ujung mata. Jemarinya mengusap pelan benjolan yang diciptakan Akashi.
Dan dengan jahatnya Akashi menyeringai puas ke arah Hayama.
"Akashi-kun!"
Sedikit banyak Akashi kaget saat mendengar suara Kuroko (yang biasanya datar) berubah menjadi penuh emosi. Ia telan semua perasaan kaget dan kesalnya. Ia melangkah maju dan mengambil kembali action figur yang tergeletak di lantai, lalu menghampiri Kuroko.
Menggeram pelan, Akashi menarik pergelangan tangan Kuroko. "Bukankah aku sudah bilang berhenti? Apa kau tak mendengar!" bentaknya tepat di depan Kuroko.
"A-ku... aku... aku..."
Cengkraman itu perlahan mengendur, berganti dengan usapan pelan dibelakang kepala Kuroko, membuat yang bersangkutan mulai merona wajahnya."Kau dengar aku tadi, Tetsuya? Aku tak suka kalau kau mengabaikanku. Mau berjanji tak akan mengulanginya lagi?"
Hayama hendak membuka mulutnya, tapi Akashi menatapnya tajam, membuatnya kembali bungkam.
"Mau berjanji, Tetsuya?"
Entah takut atau memang menyutujui, Kuroko mengangguk.
Akashi menyeringai lebar penuh kemenangan, tak dapat tertangkap oleh Kuroko karena perbedaan arah pandang yang signifikan. Tapi seringaian itu terlihat jelas oleh Hayama, yang wajahnya sontak berubah menjadi tertekuk dan penuh kerut kejengkelan. "Bagus. Jadi, apa kau benar-benar ingin susu degan rasa lain?"
"Tidak."
"Jangan berbohong."
"Aku tidak berbohong, Akashi-kun."
"Kau berbohong."
"Baiklah aku berbohong. Sekarang Akashi-kun puas?"
Pelukan itu terputus, Akashi menatap Kuroko sejenak, kemudian beralih ke arah Hayama. "Kotarou, belikan ia milkshake dengan rasa yang berbeda-beda. Aku bisa mengganti uangnya saat kau kembali dengan minuman-minuman itu."
"Aku?" tanya Hayama tak habis pikir. Yang ingin membelikan Akashi, tapi kenapa ia yang disuruh pergi?
"Tentu saja kau. Apa kau melihat seseorang bernama Kotarou di sini, selain dirimu?"
Hendak membantah, Akashi lantas berkata, "lupa dengan bayaran sewamu, Kotarou?"
Perubahan subjek obrolan yang tiba-tiba membuat Hayama menggernyit bingung. "Aku bisa membayarnya sekarang. Biar kuambil dulu."
Baru beberapa langkah, Hayama berhenti. "Bukan uang yang kuinginkan, Kotarou."
"Lalu, apa yang kau inginkan?"
"Aku ingin kau menuruti kata-kataku, tiga hari setiap bulan, untuk mengganti uang sewa."
"APA?!"
Akashi menarik Hayama dengan kasar, membuka pintu, kemudian mendorong lelaki hingga hampir terjatuh. "Kau tak kuizinkan masuk sebelum membawa apa yang diinginkan Tetsuya."
"Tapi..."
Pintu tertutup.
Akashi kembali ke dalam, tapi tak menemukan Kuroko dimanapun. "Tetsuya, keluarlah sebentar. Ada yang ingin kubicarakan denganmu."
"Aku lelah, Akashi-kun," sahut Kuroko menolak, padahal sebenarnya ia hanya malu bertatap muka dengan Akashi karena kejadian kemarin.
"Kau marah?"
Tak ada jawaban.
Akashi menghela nafas. Sepertinya Kuroko memang marah. Mungkin karena ciuman kemarin. Akashi tak habis pikir, bagaimana hal sepele seperti itu membuat Kuroko tak mau menampakkan diri? Ia ingat dengan ciuman pertamanya, dengan orang yang namanya tak ingin ia sebut, tapi reaksi orang itu justru berkebalikan dengan reaksi Kuroko. Kalau orang itu dengan senang hati menerimanya, tak seperti Kuroko yang justru marah.
Kuroko memang tak seperti kebanyakan orang. Ia memang bukan orang, kan?
"Memang berapa usiamu? Lima belas? Heh... sepertinya kau belum pernah berciuman sebelumnya."
Kuroko sungguh ingin keluar dari topik yang kini dibahas Akashi.
"Tidak Akashi-kun, aku enam belas."
Tapi entah kenapa Kuroko tak bisa diam dan ingin terus menjawab lontaran kata-kata yang keluar dari mulut Akashi.
"Enam belas?" gumam Akashi.
Mata lelaki itu membulat tak percaya? Kuroko? Enam belas? Bagaimana bisa hantu yang terlihat seperti remaja muda itu sudah enam belas? Lihat wajahnya, tingginya, postur tubuhnya. Asumsi Akashi, mungkin setiap Zashiki Warashi memang memiliki pertumbuhan yang lambat. Terlepas dari semua itu, dimatanya sosok Kuroko sungguh menawan.
Gelengan halus dari Akashi membuat Kuroko menampakkan diri dan berdiri di sampingnya. "Ada apa, Akashi-kun?" tanyanya heran.
Sudut bibir sang tuan rumah terangkat, tetapi tak sempat tertangkap oleh mata Kuroko karena sedetik kemudian senyuman itu lenyap. "Bukannya kau baru mengatakan 'lelah'?"
Kuroko bergerak-gerak gugup, kedua tangannya menaut-naut bimbang. "E-eh... apa aku barusan bilang begitu?"
Tangan yang menyatu itu ditarik paksa, menghilang dibalik kedua tangan besar milik Akashi. "Kau khawatir denganku, benar?"
Tangan itu ditarik oleh si surai baby blue. Hangat mendekati panas, tangannya terasa nyaman tak kala lelaki itu menggenggamnya. "Lepaskan Akashi-kun, tanganmu panas."
Tawa kecil Akashi keluar, membuat telinga Kuroso serasa dibelai nada-nada khas yang selalu bisa membuatnya terhanyut. "Sejak kapan kau berubah menjadi tsundere, Tetsuya?"
"Apa itu tsundere?"
"Sikap saat kau tak mengungkapkan perasaanmu dan malah melakukan kebalikannya."
"Aku tidak begitu!"
"Kau begitu."
"Tidak."
"Kau begitu."
Tak ada yang mau mengalah, lantas Kuroko menghela nafas bosan. "Baiklah, aku begitu."
"Kemarikan tanganmu."
Kuroko diam, tak berniat mengulurkan tangannya. Akashi menghela nafas. "Baiklah, kau keras kepala."
"Ya, aku keras kepala. Jadi, apa yang ingin Akashi-kun bicarakan tadi?" tanya Kuroko, mengembalikan percakapan ke arah yang seharusnya.
"Ini soal Kutarou."
"Tak usah mengkhawatirkan itu, Akashi-kun. Aku tak berminat menjadi bahan undian kalian."
Akashi mengangkat tangannya, meletakkanya di depan dada, lantas menatap Kuroko dengan raut muka jengkel. Bagaimana Kuroko selalu bisa menebak apa yang ingin dikatakannya?
"Kami tak menjadikanmu undian Tetsuya. Hanya saja... tidak, bilang padaku kalau ia melakukan hal-hal yang aneh."
Lelaki itu berlalu dan masuk ke dalam kamar dan meninggalkan Kuroko sendiri.
Begitu saja?
Dasar tak bertanggung jawab.
V
"Tadaima."
"Are, tak ada orang dimanapun. Kuroko? Sei?"
Hayama meletakkan enam cup milkshake di atas meja. Tangannya agak gemetar karena membawa beban berat. Meskipun kedai milkshake terletak di sekitar taman—di depan gedung apartemen, tapi tetap saja cukup melelahkan.
Huh, padahal ia tak membeli seluruh rasa satu persatu.
"Hayama-kun, aku mau yang itu," kata Kuroko sembari berusaha meraih cup bergambar kepala kucing.
Hayama melonjak kaget karena kehadiran Kuroko. Tapi tak lama, tubuhnya merileks kembali. "Tak mau yang lain?"
"Tak ada kucing di minuman yang lain."
Hayama mengamati milkshake yang lain. "Eh, benar juga. Salahku. Harusnya aku meminta cup seperti itu untuk yang lainnya."
Kuroko menyesap minumannya. Seketika itu mata sang Zashiki Warashi membulat.
Terdiam.
Tak ada kata-kata yang dapat mempresentasikan perasaannya saat ini. Bahkan tangan Hayama yang bersandar di pundaknya tak terasa.
"Enak?"
Kuroko mengangguk.
"Dimana Seijuuro?"
Kuroko menggeleng.
Diam-diam Hayama tersenyum senang. Lega menyelimuti hatinya.
"Apa sebegitu enaknya sampai kau tak bisa berhenti meminumnya, Tetsuya?"
Sedotan yang ada di bibir Kuroko terlepas, ia menoleh dan mendapati Akashi berjalan dengan muka masam. Kerutan tak suka tertera jelas di wajah Akashi. "Jangan terlalu dekat dengannya, Kotarou. Paling tidak kau harus berdiri dua meter darinya."
"Siapa kau?"
"Tiga hari, ingat?"
Tangan itu ditarik dengan ekspresi tak rela.
Mengalun dengan nada monoton, bel pintu membuat Akashi mengarahkan tatapan tak sukanya pada benda tak bersalah itu. "Siapa yang bertamu di saat begini?"
"Sepertinya temanku. Tak kusangka mereka akan datang."
"Siapa yang mengizinkanmu mengundang orang ke sini?"
Hayama berlari ke arah pintu dan mengabaikan pertanyaan Akashi.
Ragu-ragu Kuroko melirik Akashi, membuat rona samar di pipinya. Entah kenapa, sejak kejadian tempo hari, Kuroko menjadi blushing sendiri saat berhadapan dengan pemilik dua warna mata itu.
Kembalinya Hayama diikuti dengan dua orang di belakangnya. Tatapan Kuroko terpaku dengan pemilik warna rambut kelabu yang berjalan di sisi kiri.
"O-okaasan?"
"Tetsuya?"
Mata Akashi menatap heran kedua figur yang tengah bertatap muka itu.
Tatapan mata itu bersatu, menghasilkan emosi yang membeludak. Berlari kecil, lelaki bersurai kelabu itu menghampiri Kuroko dan membenamkan si Baby Blue di dalam dada, mengabaikan tatapan marah yang dikeluarkan Akashi Seijuuro. Detik demi detik berlalu dalam keheningan. Hayama dan temannya terlalu speechless untuk sekedar menggerakkan tubuh, apalagi bertanya.
Cerobohnya Akashi, membiarkan Kuroko tetap menampakkan diri. Sekarang ia menyesal sendiri tak kala mendapati pemandangan yang sedang disuguhkan.
Hayama dan temannya benar-benar gagal paham, sedang Akashi bertambah masam wajahnya.
Kuroko dan lelaki berambut kelabu tetap berdiam seperti itu sampai Akashi memisahkan paksa keduanya, membuat Kuroko tersentak ke belakang, lalu menabrak meja. Hayama reflek saja membantunya berdiri.
"Kau tak apa-apa, Kuroko?"
Kuroko menggeleng. "Aku baik-baik saja, Hayama-kun." Tatapannya beralih ke Akashi. "Akashi-kun! Apa yang barusan kau lakukan itu?" tanyanya, agak membentak sebenarnya. Tanpa menghiraukan Akashi, Kuroko berjalan dan memeluk lelaki berambut kelabu yang membalas dengan sentuhan ringan di ujung kepala.
Entah kenapa, pelukan posesif Kuroko pada surai kelabu membuat Akashi ingin mengarahkan kepalan tangannya ke kepala terdekat, dan itu adalah kepala Hayama.
Hayama merasakan firasat buruk.
"Kau sudah besar, Kuroko. Terakhir kali kuingat kau masih sebesar ini," kata si Kelabu dengan nada datar.
"Tidak, Okaasan. Saat itu aku sudah sebatas dada Okaasan."
Tunggu... Akashi berusaha menyatukan kepingan-kepingan kaca pecah yang tercecer. Tiba-tiba lampu bersinar terang benderang.
"Kau ibu dari Tetsuya?"
TBC
.
Yang review pake akun Vee bales via PM aja ya ^^
Guest : Ini udah dilanjut. Arigatou~ ^^ , UKKnya 'cukup' lancar kok. Makasih udah mau baca, ditambah review lagi.
Thanks buat yang udah review, fave, or follow. Vee bisa lanjutin sampai ch ini berkat kalian semua. Arigatou ^^
