All cast in this fanfiction belong to God, their agencies and their parents

When I Fall © Bianca Jewelry

Choi Seungcheol X Jang Doyoon (GS)

Hong Jisoo X Yoon Jeonghan (GS)

Kim Mingyu X Jeon Wonwoo (GS)

Kwon Soonyoung X Lee Jihoon (GS)

Yao Mingming X Wen Junhui

Rating: T

Warning: GS. Boys Love. AU. OOC.

.

Hong Jisoo

Read 12:34 [sent a photo]

Read 12:34 sulking Angel~

12:40 [insert sticker love]

12:40 Cute.

Read 12:43 dasar tidak gentle. berani-beraninya menggantung temanku dan pergi begitu saja.

Read 12:43 [insert sticker angry]

Read 12:44 kapan pulang?

12:50 [insert sticker cry]

12:50 [insert sticker sorry]

12:51 masih belum tahu.

12:51 apakah dia baik-baik saja?

Read 12:53 sangat baik, tenang saja.

Read 12:53 cepat pulang, dia menunggumu.

12:54 don't worry, asap.

Read 12:55 Good. See u, Hong.

12:59 [insert sticker wave]

.

Selesai dengan chat singkatnya dengan Jisoo, Doyoon meletakkan ponselnya dan bertanya kepada gadis yang duduk di depannya. "Jisoo tidak pernah mengabarimu?"

Jeonghan menggeleng.

"Chat duluan?"

Jeonghan mengangkat kedua bahunya. "Malas."

Mereka sedang makan siang di sebuah restoran. Jeonghan memainkan ponselnya sementara Doyoon memperhatikan orang yang berlalu-lalang dari balik kaca jendela, hingga makanan yang mereka pesan diantar oleh pelayan.

Setelah makan dalam diam, Jeonghan berdeham untuk menarik atensi Doyoon setelah ia menyeruput habis minumannya. "Menurutmu…"

Doyoon menatap gadis di depannya, menunggu Jeonghan untuk melanjutkan kalimatnya.

"Jisoo akan kembali?"

Doyoon mengangkat kedua bahunya. "Mungkin…"

Gadis dengan marga Yoon itu menghela napas kecewa.

"Lagipula, tumben sekali kau mau digantung seperti itu."

Jeonghan meringis. "Katanya… Orang bisa menjadi bodoh karena cinta."

"Duh, kenapa aku merasa tersindir ya…"

Si gadis Yoon terkekeh. "Bukan maksudku… Perjuanganmu juga sudah selesai 'kan. Gantian aku."

Doyoon meraih tangan Jeonghan dan meremasnya pelan. "Semangat Yoon!"

Jeonghan tersenyum. "Terima kasih." Tiba-tiba senyuman Jeonghan berubah menjadi seringai. "Kapan menikah?"

Wajah Doyoon jadi memerah dan ia salah tingkah. Doyoon memukul pelan tangan Jeonghan. "Kenapa jadi membahas diriku? Kita sedang membahas Jisoo sepertinya."

"Tidak usah malu-malu begitu dong. Topik tentang Jisoo sudah selesai dan sekarang aku ingin membahas dirimu."

"Tapi aku maunya membahas Jisoo."

"Tega ya… Aku ingin sehari saja tidak memikirkan dia," ujar Jeonghan dengan suara memelas.

"Biar saja," balas Doyoon cuek.

"Doyoon-ie~ Please~" Jeonghan merajuk sambil melengkungkan bibirnya ke bawah.

Doyoon terkekeh. "Iya."

"Jadi. Kapan menikah?" tanya Jeonghan dengan mata berbinar.

"Tolong bahas apapun selain pernikahan."

"Aku maunya membahas itu."

"Aku tinggal nih," ancam Doyoon sambil membawa tasnya dan meninggalkan Jeonghan duluan menuju kasir.

"Do! Tunggu…" ujar Jeonghan dan mengikuti Doyoon.

.

"Siapa itu?" tanya Youngmin sambil melirik wallpaper ponsel Jisoo ketika Jisoo meletakkan ponselnya di meja. Foto Jeonghan yang sedang tidur. Foto yang diam-diam diambil oleh Jisoo saat Jeonghan menginap di apartemennya. "Pacarmu?"

Jisoo buru-buru membalik ponselnya. "Belum resmi sih," jawabnya dengan malu-malu.

Saudara sepupu dari Hong Jisoo yang bernama Kwak Youngmin itu tersenyum. "Segera resmikan dan kenalkan pada ibumu."

Jisoo cuma bisa tersenyum menanggapinya. "Sudah bertemu dengan ibu kok."

"Wah." Youngmin tersenyum penuh makna. "Kapan kembali?"

"Awal bulan Oktober sepertinya."

"Masih tidak mau meneruskan perusahaan ayahmu?"

Jisoo menggeleng.

"Bagaimana dengan café?"

"Lancar. Baik-baik saja."

"Syukurlah."

"Ayo hyung, kalau sudah selesai."

Youngmin mengangguk, lalu mereka pergi dari restoran di pinggir jalan itu untuk menikmati suasana malam Los Angeles.

.

.

Setengah terkejut dan setengah tidak percaya dengan apa yang dilihatnya saat membuka pintu apartemen, di hari ulang tahunnya yang jatuh pada tanggal 4 Oktober, ia melihat Hong Jisoo dengan senyum kucingnya sedang berdiri di hadapannya.

Jeonghan sempat memukul pelan dada Jisoo sebelum ia memeluk lelaki itu dengan sangat, sangat erat. Jisoo balas memeluk Jeonghan dan sesekali tangannya mengusap kepala gadis itu. Setelah puas berpelukan layaknya Teletubbies, Jeonghan melepas pelukannya. "Masuk?"

Jisoo mengangguk dan mengikuti Jeonghan memasuki apartemen.

"Kapan sampai?" tanya Jeonghan setelah menyuguhkan segelas air untuk Jisoo dan duduk di sebelah lelaki itu.

"Tadi pagi."

Jeonghan terperangah mendengar jawaban Jisoo. "Kenapa malah ke sini dan tidak istirahat?!"

Jisoo terkekeh. "Rindu."

Pipi Jeonghan memerah samar. Setengah tidak percaya Jisoo bisa menjadi cheesy.

"Aku istirahat di sini ya."

Jeonghan mengangguk. "Kau boleh pakai kamarku."

"Di sini saja cukup," kata Jisoo lalu berbaring di sofa dan menjadikan paha Jeonghan sebagai bantal. "Selamat tidur, Angel."

Jeonghan tidak bisa berkata-kata. Jisoo yang seperti ini membuat dirinya terkejut. Dengan ragu-ragu ia menyentuh rambut Jisoo kemudian mengelus kepala lelaki itu. Jeonghan juga menyanyikan lullaby pengantar tidur. Perempuan itu tersenyum ketika melihat Jisoo sudah terlelap dan meringkuk di pangkuannya, persis seperti anak kucing.

.

Sang pemuda Hong membuka matanya dengan perlahan ketika hari mulai sore. Ia mengerjapkan matanya beberapa kali untuk membiasakan cahaya yang masuk. "Jam berapa ini?" tanyanya dengan suara serak khas orang bangun tidur sambil memutar tubuhnya menghadap sandaran sofa.

"Jam empat," jawab Jeonghan sambil mengelus kepala Jisoo.

"Jam enam kita pergi ya."

"Ke mana?"

"Nanti juga akan tahu," jawab Jisoo sok misterius. Jisoo mendudukkan diri lalu menguap. "Tadi waktu aku mau tidur, aku seperti mendengar malaikat bernyanyi."

"Oh ya? Cuma dengar? Lihat wajahnya juga tidak?"

Jisoo menoleh untuk melihat Jeonghan kemudian tersenyum. "Lihat, dia cantik."

Jeonghan ikut tersenyum dengan pipi yang dihiasi rona merah muda.

"Aku numpang mandi di sini ya?" tanya Jisoo meminta izin sambil meraih tasnya.

"Iya. Mau pinjam handuk dan peralatan mandi?"

Jisoo menggeleng. "Tidak perlu, aku bawa kok."

"Oke."

Setelah mengambil semua peralatan yang dibutuhkan untuk mandi dari dalam tasnya, Jisoo pergi ke kamar mandi, sementara Jeonghan pergi ke kamarnya untuk memilih baju apa yang akan dikenakannya nanti. Jeonghan hampir saja membongkar seluruh isi lemarinya. Ia bingung harus mengenakan apa dan tiba-tiba ia merasa seperti gadis yang baru pertama kali jatuh cinta yang akan pergi ke kencan pertamanya. Akhirnya, baju pilihannya jatuh pada terusan tanpa lengan berwarna merah muda. Yakin dengan pilihannya, Jeonghan membereskan lagi semua baju-bajunya dan bersiap untuk mandi.

Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul enam kurang, setelah keduanya siap, mereka meninggalkan apartemen Jeonghan dan pergi ke tempat parkir. Jisoo meletakkan tasnya pada bagasi lalu membukakan pintu untuk Jeonghan. "Masuklah."

Jeonghan sempat tertegun ketika melihat mobil Jisoo lalu ia duduk di kursi penumpang dengan ragu. Jisoo menutup pintu lalu beralih ke belakang kemudi.

"Mobilmu?" tanya Jeonghan hati-hati.

Jisoo mengangguk.

"Aku kira kau lebih suka pergi dengan sepeda."

"Khusus untuk hari ini. Memang mau kubonceng dengan sepeda?"

Jeonghan terkekeh. "Tidak masalah sih."

"Kapan-kapan ya."

"Oke," kata Jeonghan.

Jisoo mulai menstarter mobilnya dan mengemudikannya meninggalkan apartemen Jeonghan menuju salah satu restoran mewah di tengah kota.

Dan yang membuat Jeonghan tertegun adalah mobil Jisoo adalah mobil sport mewah (yang Jeonghan tidak ketahui apa jenisnya). Dan mungkin dari semua lelaki yang pernah mengajaknya berkencan dengan mobil, mobil Jisoo adalah mobil yang paling mahal, menurut Jeonghan. Padahal menurut Jeonghan lagi, dalam kesehariannya, Jisoo adalah lelaki biasa-biasa saja yang lebih suka naik sepeda dan tidak memiliki tampang untuk mengendarai mobil sport. Mungkin inilah yang dinamakan jangan melihat buku hanya dari covernya saja.

Sekitar setengah jam kemudian, Jisoo dan Jeonghan sampai pada restoran yang dituju. Untuk yang kesekian kali dalam hari ini, Jeonghan terperangah ketika ia berada di depan pintu masuk restoran itu. Pasalnya, restoran yang mereka kunjungi adalah restoran dengan menu makanan yang satu porsinya memiliki harga di atas rata-rata.

"Soo-ya," ujar Jeonghan pelan sebelum memasuki restoran.

"Ya?"

"Kita mau makan di sini?"

Jisoo mengangguk. "Kenapa?"

Jeonghan meringis. "Aku tidak membawa uang lebih."

Jisoo tersenyum. "Tenang saja, aku yang traktir," katanya. "Ayo."

Jisoo melangkah masuk ketika pintu restoran itu dibuka oleh pramusaji. Tak lupa ia melempar senyumnya kepada sang pramusaji lalu ia menghampiri meja resepsionis dengan Jeonghan yang mengikutinya dari belakang.

"Selamat malam Tuan, ada yang bisa saya bantu?" tanya seorang perempuan dengan ramah dari balik meja resepsionis.

"Reservasi jam setengah tujuh atas nama Hong Jisoo," jawab Jisoo.

"Sebentar ya," kata si perempuan. Setelah mengecek reservasi atas nama Jisoo, ia memberi kode kepada pramusaji yang berada di dekat sana untuk mendekat. "Tuan Hong Jisoo, meja sepuluh, akan diantar teman saya ya. Selamat menikmati."

"Terima kasih," kata Jisoo. Lalu ia dan Jeonghan mengikuti pramusaji laki-laki yang mengantarnya.

"Silakan Nona," ujar sang pramusaji setelah menarik kursi untuk Jeonghan.

"Terima kasih," kata Jeonghan sambil tersenyum.

Keduanya melihat-lihat menu yang ada lalu memesan. Setelah si pelayan laki-laki pergi, Jeonghan melirik buket bunga mawar merah yang berada di atas meja.

"Untukku?" tanya Jeonghan.

Jisoo mengangguk. "Untukmu."

"Terima kasih," kata Jeonghan setelah menghirup aroma dari bunga itu lalu meletakkan pada pangkuannya.

Tak lama kemudian, makanan datang. Dua orang yang duduk berhadapan itu memakan makanan mereka sambil saling mencuri pandang. Setelah makanan mereka habis, Jisoo memberika kode pada pelayan. Seorang pelayan datang untuk membersihkan meja mereka, lalu pelayan lain datang dan menyajikan sebuah kue ulang tahun.

"Selamat ulang tahun," kata Jisoo.

"Terima kasih," balas Jeonghan sambil mengulas senyum terbaiknya. Ia memotong kue dan memberikan sepiring pada Jisoo lalu memotong kue untuk dirinya sendiri.

"Untukmu," kata Jisoo sambil mendorong sebuah kotak di atas meja.

Jeonghan mengambilnya lalu membuka kotak itu. Sebuah kalung emas putih berbentuk hati dengan sayap berada di dalam kotak itu. Jeonghan menutup kotak dan mengembalikannya pada Jisoo. "Ini berlebihan Soo," katanya.

"Tidak suka ya?" tanya Jisoo dengan nada kecewa.

"Bukan begitu," jawab Jeonghan lalu menyuap sepotong kue ke dalam mulutnya. "Sejujurnya kau tidak perlu memberiku ini semua. Kau berada di sini saat ulang tahunku sudah lebih dari cukup. Dan aku lebih butuh penjelasan darimu daripada kalung itu."

Jisoo berdeham. "Aku harus menjelaskan dari mana?"

"Kenapa kau menciumku waktu itu?"

"Tidak tahu, tubuhku bergerak begitu saja."

Jeonghan menghela napas.

"Aku tidak akan minta maaf, karena…" Jisoo berdeham dengan pipi sedikit merona. "Aku tidak menyesal telah menciummu."

Pipi Jeonghan terasa panas, ia langsung mengalihkan pandangannya dari Jisoo dan memakan kuenya lagi.

"Yoon Jeonghan."

"Y-ya?" Jeonghan kaget ketika nama lengkapnya dipanggil. Detak jantungnya yang sudah tidak terkontrol semakin parah ketika melihat wajah Jisoo.

"Mau jadi teman hidupku?"

Jeonghan tersenyum geli. Baru kali ini ada lelaki yang menembaknya dengan kalimat seperti itu. "Kau sedang melamarku atau memintaku menjadi pacarmu?"

"B-boleh kalau mau menikah langsung," jawab Jisoo dengan gugup.

Dijawab seperti itu, gantian Jeonghan yang gelagapan. "M-maaf Soo, aku belum siap kalau langsung menikah."

Jisoo tersenyum. "Pacaran dulu kalau begitu."

Jeonghan mengangguk sambil tersenyum.

.

"Sudah sampai," ujar Jisoo setelah memarkirkan mobilnya di depan gedung apartemen Jeonghan.

"Jisoo."

"Ya?"

"Terima kasih untuk hari ini."

"Sama-sama. Masuklah… Sudah malam."

Jeonghan tersenyum. "Sampai jumpa," katanya lalu membuka pintu mobil.

"Goodnight, honey."

"Goodnight."

.

TBC

.

HALO GAES, maaf telat posting. Tiba-tiba kena WB dadakan ehe~ /cry

Happy belated birthday buat mas Han tertjintah.

Kalian apa kabarnya? Kangen deh huhu.

Next update… Kalau tidak mager /dibuang

Terima kasih sudah meninggalkan jejak, berminat untuk meninggalkan jejak lagi? :3