4+ words. Bosen-bosen dah kalian bacanya. Kemaren-kemaren aku potong karena aku pikir bakal bosen banget bacanya tapi aku pikir-pikir lagi bakal lama banget ni ff kelarnya kalo aku potong-potong gitu jadi ya biarlah kalian bosen bacanya cs ffnya jadi pajang pake
Aku baca reviewnya dan buat yg bilang ff ini alurnya sama ama ff Taoris di aff mangap ya, aku gak pernah baca aff dan di awal aku udah bilang klo ini ff remake novel terjemah jadi gak mungkin aku remake yg aff. Sejujurnya aku gak suka baca ff b. inggris karena aku tipe-tipe yang gampang bosen untuk ngartiinnya kecuali itu artikel cs gak bakal sepanjang ff. mau sebagus apapun tu ff kalauu udah bahasa inggris aku lambai tangan deh. Tapi wajar sih kalau beberapa ffmemang suka sama ama ff yang lainnya. aku ngerti banget dah yang kayak gitu mah.
Hue.. bahasanya susah dingertiin ya. Mangapkan aku. Aku memang gak ngubah ceritanya dari novell asli terjemahnya. Bahasanya emang berat dan butuh waktu buat ngerti ama kalimatnya. Untuk kedepannya aku bakal edit bahasanya biar lebih mudah dimengerti sama kalian. nc mah pasti ada ya tapi nanti pas mereka udah disepanyol.
Terakhir aku Cuma mau bilang makasih buat yang udah pada baca dan review. Buat sidernya moga cepet bertobat n nampakin diri.. muehehhehehe
.
.
.
"Oke, jadi kita akan mengaatur ulang lantai kamar mu, lantai kayunya berwarna maduyang cantik tapi kau yakin ingi meletakkan karpet di bawah lemari?" aku bertanya, duduk di sofa samping Baekhyun dan mulai menyesap Bloody Mary-ku yang kedua.
Kami sedang membahas rancangannya selama hampir satu jam saat aku mencoba untuk membuatnya sadar jika aku tak akan langsung mengiakan rancangannya dan mengajukan protes disana sini padanya. Dia juga akan melakukan hal yang sama denganku. Selama kami berteman, Baekyun percaya dia akan memenangkan setiap argument. Baekhyun melihat dirinya sebagai seorang jagoan yang dapat melawan siapapun dalam hal apapun. Dia tidak terlalu mengetahui kalau Sehun dan aku menemukan bahwa kami hanya harus membiarkannya berpikir ia telah mendapatkan apa yang ia mau, yang membuatnya lebih bisa mengerti keadaan. Sebenarnya, aku selalu tahu aku juga menginginkan karpet di bawah lemari- tapi dengan lasan yang berbeda dengannya.
"Iya, iya, iya! Lantai ku itu harus ada karpetnya- yang benar-benar tebal dan mewah! rasa hangat dan lembutnya akan membuatku nyaman pada pagi hari karena biasanya lantai kamar ku akan terasa sangat dingin ketika pagi datang." serunya, hampir gemetar dengan kegembiraannya. Aku benar-benar berharap Tao akan ada di sekitar sini dan melihatnya dengan keadaan seperti saat ini. Dan ia berada cukup lama untuk beromantis-romantisan dengan baekhyun. Dia perlu melepaskan beberapa energinya yang berlebihan itu.
"Oke, Baek, kurasa kau benar. Karpet di bawah lemarimu bisa diterima. Tapi untuk itu, kau harus mengembalikan padaku sandaran dua kaki untuk putaran rak sepatu yang aku pilih." Aku berbicara hati-hati, berpikir apakah dia akan melepaskannya.
Dia berpikir untuk sesaat, melihat ke rancangan lagi, menenggak cocktailnya, dan mengangguk. "Ya, ambil kembali sandaran dua kaki. Aku mendapat karpetku, dan aku bisa hidup dengan itu." Dia mendesah, menawarkanku tangannya untuk menegaskan kesetujuannya dengan ucapan ku.
Aku menjabatnya dengan bersungguh-sungguh dan menawarinya tangkai seledriku. Monggu masuk dengan santai dan mulai mondar-mandir di depan pintu. Mengais di bawah retakan yang ia temukan.
"Aku yakin makanan Thailand kita hampir datang. Aku akan mengambil uangku." Kataku, menunju ke arah pintu saat aku mengambil tas di meja dapur. Baru saja aku bilang, aku dapat mendengar langkah kaki di lorong.
"Baek, buka pintu, orangnya ada di luar," aku berteriak, mengobrak-abrik tas untuk menemukan dompetku.
"Laksanakan," dia berteriak, dan aku mendengar pintu dibuka. "Oh, hai Luhan!" katanya, dan kemudian aku mendengar suara aneh.
Aku bersumpah, demi Alkitab di pengadilan hukum, aku mendengar kucingku berbicara. "Porrrrreeeennnya," kata Monggu, dan aku langsung berputar.
Dalam waktu lima detik, ribuan hal terjadi: aku melihat Luhan dan Purina di lorong, tas dari Whole Foods di tangan luhan, kunci di depan pintu. Lalu aku melihat Baekhyun di pintu, nampak bertelanjang kaki dan bersandar dengan santai di depan pintu. Aku melihat Monggu menekuk kakinya bersiap-siap untuk melompat dengan cara yang pernah aku lihat saat aku menyembunyikan Catnip di atas kulkas. Aku juga seakan mampu melihat bayi lahir, orang tua meninggal, saham yang diperdagangkan, dan orgasme yang di palsukan. Semua dalam lima detik. Aku melarikan diriku ke pintu dalam gerak lambat yang mengingatkan ku pada setiap film aksi yang pernah dibuat.
"Tidaaaaaakkkk!" aku berteriak saat aku melihat wajah panik Purina dan ekspresi hasrat murni melintasi wajah Monggu saat dia bersiap untuk beraksi. Jika aku melihat pintu lebih awal, mungkin bahkan dua detik lebih awal, aku bisa mencegah kekacauan yang sedang terjadi.
Luhan membuka pintunya dan tersenyum dengan senyum bingung padaku saat aku melihat matanya. Tidak heran jika dia bertanya-tanya kenapa aku memberangsak pintu dan berteriak tidaaaakkk. Dan kemudian Monggu melompat. Melompat. Menyerang. Purina melihat Monggu melompat lansung ke arahnya, dan dia melakukan hal terburuk yang dapat dia lakukan. Dia lari. Dia lari ke dalam apartemen Luhan. Tentu saja seorang gadis yang mengeong saat dia orgasme akan takut dengan kucing.
Monggu mengejar, dan saat aku berdiri di lorong dengan Luhan dan Baekhyun, kami mendengar jeritan dan ngeongan menggema kembali pada kami. Itu anehnya terdengar familiar, dan aku ingat Luhan pernah membawanya pulang pada awal kepindahanku. Aku menggelengkan kepalaku untuk mengembalikan keadaranku.
"Minseok, apa-apan ini? Kucingmu baru saja-" kata Luhan, dan aku menempatkan tanganku di atas mulutnya saat aku bergegas melewatinya.
"Kita tidak punya waktu Luhan! Kita harus menangkap Monggu!" Baekhyun mengikutiku ke dalam apartemennya.
Aku mengikuti jeritan dan ngeongan ke bagian belakang apartemen, menyadari bahwa tempat Luhan mencerminkan tempatku. Apartemenya sangat menggambarkan kehidupan lelaki lajang, dengan TV layar datar dan sound system yang mengagumkan. Aku benar-benar tidak punya waktu untuk menggeledah dan mengamati, tapi aku menyadari ada sepeda gunung di ruang tamu, serta foto-foto yang indah di seluruh dinding dan di terangi cahaya dari sconces retro. Aku tidak bisa mengagumi lebih lanjut apartemen luhan, karena saat itu juga aku mendengar Monggu beraksi di kamar tidur.
Aku berhenti di depan pintu, dan mendengar Purina menjerit. Aku melihat ke belakang punggungku. Melihat pada Luhan dan Baekhyun, yang mana keduanya memasang ekspresi takut dan bingung- meskipun ekspresi Baekhyun juga menunjukan sedikit rasa geli dan terhibur.
"Aku akan masuk," kataku dengan suara rendah dan berani.
Dengan menghirup napas dalam aku mendorong pintunya terbuka dan melihat Tempat Tidur Penuh Kenikmatan untuk pertama kalinya. Ada sebuah meja di tengah kamar. Meja rias di salah satu dinding, yang atasnya tertutupi dengan recehan. Lebih banyak foto-foto di dinding. Dan ada benda itu: ranjang tidurnya.
Tiup terompretmu kawan. Ayo bertepuk tangan. Tebar confetti
Ranjang itu menempel di sebelah dinding, dindingku. Ranjangnya adalah ranjang California King raksasa, lengkap dengan kepala tempat tidur kulit yang empuk. Empuk. Itu harus ada bukan? ranjang itu sangat besar. Dan dia mempunyai kekuatan untuk menggerakkan benda itu dengan pinggulnya sendiri? Sekali lagi Lower Minseok duduk tegak dan mencatat info itu. Aku berusaha memusatkan perhatian dan mencoba untuk fokus, aku memaksa mataku menjauh dari Pusat Orgasme.
Aku mencari dan memperoleh target buruan ku : ada di kursi kulit yang diletakkan di depan jendela. Purina bertengger di atas kursi, tangan di rambutnya, mengerang, mengaduh dan juga menangis. Roknya robek dan ada tanda cakaran kecil di stokingnya. Dia berusaha dengan segala kesempatan yang di milikinya untuk menjauhkan kucing di lantai yang ada di depannya.
Dan Monggu?
Monggu sedang mondar-mandir. Mondar-mandir di depannya, mengerahkan semua pesona yang ia punya. Ia kembali pada posisi seperti ia akan melompat, lalu mondar-mandir di satu jalur dan melirik ke wajah Purina dengan acuh tak acuh. Jika Monggu bisa memakai sebuah blazer, dia akan melepasnya, diletakkan di pundak kucingnya, dan menunjuk ke arah Purina. Melihat itu semua yang bisa aku lakukan hanyalah menahan diri untuk tidak jatuh dan tertawa. Aku melangkah ke arahnya, dan Purina membentakkan sesuatu dengan bahasa Rusia. Aku mengabaikannya dan memfokuskan semua perhatianku ke kucingku.
"Hey, Monggu. Hey. Dimana anak baikku?" bujukku, dan dia berbalik. Dia melirik ke arahku, dan dia menyentakkan kepalanya ke arah Purina seolah-olah dia sedang membuat perkenalan ronde pertama.
"Siapa teman barumu?" rayuku lagi, menggelengkan kepalaku pada Purina saat dia mencoba untuk mengatakan sesuatu. Aku mengangkat jariku di depan bibirku. Hal ini akan memerlukan keahlian yang hebat.
"Monggu, kemari!" Baekhyun berteriak dan langsung masuk ke dalam. Dia selalu mempunyai masalah dengan semangatnya itu .
Monggu berlari ke arah pintu bersamaan dengan Baekhyun yang berlari ke arah Monggu, Purina mengarah ke ranjang saat aku berlari ke arah Baekhyun dan bertabrakan dengan Luhan di luar pintu kamar tidur, pria itu masih membawa tas Whole Foods sialannya. Produk organic yang dipilih dengan pertimbangan yang sangat hati-hati menjadi pilihan Luhan dan Purina saat aku melewati mereka, melompati beberapa belanjaan di lantai saat aku menuju ke pintu depan. Aku menangkap Monggu dan memeluknya erat.
"Monggu, kau yang paling tahu lebih baik lari menjauh dari Mommy untuk saat ini," ancamku, saat Luhan dan Baekhyun akhirnya melihatku.
"Apa yang kau lakukan, cockblocker? Apa kau mencoba untuk membunuhku?" bentak Luhan.
Baekhyun berputar cepat ke arahnya. "Jangan panggil dia seperti itu, kau...kau...kau wallbanger!"dia balas membentak Luhan dan memukul dadanya.
"Oh, tutup mulut kalian berdua!" teriakku.
Lalu datanglah Purina ke lorong mendekati kami, hanya memakai satu sepatu dan terlihat marah. Dia mulai berteriak dengan bahasa Rusia. Baekhyun dan Luhan terus berteriak, Purina menjerit, Monggu berusaha untuk melonggarkan pelukanku dan aku berada di tengah-tengah kekacauan ini, mencoba mencari tahu hal sialan apa yang terjadi dua menit terakhir ini.
"Kendalikan kucing sialanmu itu!" Luhan berteriak, saat Monggu mencoba untuk bebas.
"Jangan berteriak ke Minseok!" Baekhyun berteriak, memukulnya lagi.
"Lihat rokku!"teriak Purina.
"Apa seseorang memesan pad thai (kuetiauw khas Thailand)?" aku mendengar suara asing lain di atas kekacauan ini. Aku melihat seorang petugas delivery berdiri di puncak tangga, enggan melangkah lebih jauh. Semua orang berhenti.
"Tidak dapat dipercaya," Baekhyun bergumam dan berjalan masuk ke dalam apartemenku, mengarahkan petugas delivery untuk mengikutinya. Aku memasukkan Monggu ke dalam dan menutup pintu, memotong teriakannya. Luhan mengantar Purina masuk ke apartemennya, memberitahunya dengan lembut untuk menemukan sesuatu, apapun itu di kamarnya untuk di pakai.
"Aku akan ke sana satu menit lagi," katanya dan mengangguk lagi untuk menyuruhnya masuk ke dalam. Dia melotot padaku sekali lagi dan masuk ke dalam, sembari membanting pintu. Luhan berbalik ke arahku dan kami melihat satu sama lain, sama-sama mulai tertawa pada waktu yang sama.
"Apakah itu tadi benar-benar terjadi?" dia bertanya di antara tawanya.
"Aku takut itu tadi benar-benar terjadi. Tolong katakan pada Purina aku benar-benar minta maaf," jawabku, menyeka air mata dari mataku.
"Akan aku sampaikan, tapi dia butuh menenangkan diri sesaat sebelum aku mencoba- tunggu, kau tadi memanggilnya apa?" tanyanya dengan kening berkerut bingung.
"Umm, Purina?" balasku, aku masih tertawa.
"Kenapa kau memanggilnya seperti itu?" tanyanya, ia tidak lagi tertawa.
"Serius? Ayolah, apa kau tidak tahu?" kataku.
"Tidak, katakan padaku," katanya, ia menggerakkan tangannya untuk mengacak rambutnya.
"Oh, man, kau serius ingin aku mengatakannya? Purina...karena dia, ya Tuhan, karena dia mengeong!" seruku, sembari kembali tertawa.
Dia merona dan mengangguk. "Benar, benar, tentu saja kau mendengar itu." Dia tertawa.
"Purina," katanya di sela napasnya dan tersenyum. Aku dapat mendengar Baekhyun berdebat dengan petugas delivery di dalam apartemenku, mendebatkan tentang potongan spring rolls yang hilang.
"Dia sedikit takut, kau tahu?" kata Luhan, menunjuk pintuku.
"Kau tidak tahu saja," kataku. Aku tetap bisa mendengar Monggu meratap di balik pintu. Aku menekan wajahku ke tepian dan membukanya hanya satu inchi.
"Diam Monggu," desisku. Sebuah kaki keluar melalui celah, dan aku bersumpah dia membalasku.
"Aku tidak tahu banyak tentang kucing, tapi apakah ini semua normal?" Tanya Luhan.
"Dia memiliki ketertarikan aneh pada gadismu sejak- sejak malam kedua aku tinggal di sini. Aku pikir dia jatuh cinta."
"Aku mengerti. Aku pasti akan menyampaikan perasaannya ke Nadia," katanya. "Saat waktunya tepat tentu saja." Luhan tertawa dan bersiap untuk kembali ke dalam.
"Kau sebaiknya jangan berisik di dalam sana malam ini, atau aku akan mengirim Monggu kembali," Aku mengancam.
"Tuhan, tidak," katanya.
"Well, kalau begitu putar music. Kau harus melakukan sesuatu," aku memohon. "Atau dia akan memanjat dinding lagi."
"Aku bisa memutar musik. Kau mau music apa?" tanyanya, berbalik untuk melihatku dari depan pintu. Aku kembali ke pintuku dan menempatkan tanganku pada pintu.
"Apapun kecuali band besar, oke?" jawabku lembut. Jantung ku serasa merosot ke perut melihat matanya dan merasa sedikit melayang karena tatapan itu.
Sebuah pandangan kecewa melintas di wajahnya. "Kau tidak suka band besar?" tanyanya, suaranya rendah.
Aku menekan jariku di tulang selangkaku, kulitku terasa memanas dibawah tatapannya. Aku melihat matanya mengikuti tanganku, membuatku lebih panas lagi dengan intensitas tatapannya.
"Aku menyukainya," bisikku, dan matanya kembali ke mataku dengan ekspresi terkejut yang nampak jelas. Aku tersenyum dengan senyuman malu dan menghilang kedalam apartemenku, meninggalkan ia yang kembali tersenyum kepadaku.
Baekhyun masih berteriak kepada petugas delivery saat aku datang untuk menguliahi Monggu, sebuah senyuman kecil terlihat di wajah kami. Lima menit kemudian, dengan mulut yang penuh dengan mie, aku mendengar Purina meneriakkan sesuatu dengan bahasa Rusia yang tidak terdefinisi dan membanting pintunya. Aku mencoba menyembunyikan seringaianku, berpura-pura menggigit sesuatu yang sangat pedas. Tidak ada dinding yang digedor malam ini, kurasa...Monggu akan sangat tertekan.
Sekitar pukul 08.30 malam, aku beranjak ke tempat tidur, Luhan memutarkanku beberapa lagu melalui dinding kami. Bukan band besar, tapi lagunya sangat bagus. Prince. "Pussy Control."
Aku tersenyum untuk diriku sendiri, senang dengan rasa humor nakalnya. Teman? Sudah pasti. Mungkin. Sangat memungkinkan untuk berteman dengannya.
"Pussy Control." Aku memikirkan itu lagi dan tertawa. Pilihan yang bagus, Luhan. Pilihan yang bagus
.
.
.
Malam berikutnya aku sedang menuju ke tempat yoga ketika aku mendapati diriku berhadapan dengan Luhan sekali lagi. Dia datang menaiki tangga saat aku turun.
"Kalau aku bilang, 'kita harus berhenti bertemu seperti ini,' akankah terdengar basi seperti yang terdengar di telingakuku?" tawarku.
Dia tertawa. "Sulit untuk dikatakan. Cobalah."
"Oke. Wow, kita harus berhenti bertemu seperti ini!"Seruku. Kami berdua menunggu sesaat dan kemudian tertawa lagi.
"Yep, basi," katanya.
"Mungkin kita bisa menemukan solusi dengan sesuatu seperti jadwal, berbagi hak pemakaian lorong atau sesuatu yang lain." Aku menggeser berat badanku dari satu kaki ke yang lain. Bagus, sekarang aku terlihat sepertinya harus buang air kecil.
"kau mau pergi kemana? Aku sering sekali bertemu dengan mu ketika kau akan pergi," katanya sambil menarik dirinya ke dinding dan bersandar dengan nyaman di sana.
"Well, jelas aku akan pergi ke tempat yang sangat mewah." Aku menunjuk celana yogaku dan cami (camisole). Kemudian aku menunjukkan botol air dan tikar yoga.
Dia pura-pura berpikir dengan sangat hati-hati, dan kemudian matanya melebar. "Kau akan ke kelas tembikar!"
"Ya, ke sanalah aku akan pergi...sialan." Dia menyeringai padaku. Aku tersenyum kembali.
"Jadi kau tidak akan pernah memberi tahu ku berita eksklusif tentang apa yang kalian bicarakan saat brunch kemarin. Apa yang terjadi dengan teman-teman kita?" tanyanya, dan aku sama sekali tidak merasakan getaran samar di perutku saat merujuk pada kata kita. Tidak sama sekali...
"Well, aku bisa dibilang teman perempuanku cukup tertarik pada teman priamu. Apa kau tahu bahwa mereka akan pergi ke symphony benefit (pertunjukan orkestra untuk amal) minggu depan?" ucapku, langsung ngeri membayangkan bahwa aku pergi ke sana.
"Aku mendengarnya. Tao mendapat tiket gratis setiap tahun. Bonus dari pekerjaan, ku kira. Pembawa acara berita olahraga selalu pergi ke simphony, kan?"
"mungkin, terutama ketika seseorang mencoba untuk memperkuat tentang-status sosial- manusia," aku menambahkan sambil mengedipkan mata.
"Kau juga berfikir begitu, huh?" Dia mengedipkan mata kembali, dan kami tersenyum lagi. Teman? Pasti sebuah kata yang memberikan kemungkinan kuat untuk dapat melakukan semua kegiatan ini.
"Kita harus membandingkan catatan setelah itu, melihat bagaimana Fantastic Four lakukan. Apakah kau tahu bahwa mereka sudah melakukan kencan ganda di sepanjang minggu?" kataku. Sehun telah mengaku bahwa mereka sudah pacaran terus-menerus pada ku, tetapi mereka selalu pergi berempat. Hmm...
"Aku mendengar sesuatu tentang itu. Mereka semua tampaknya bergaul dengan baik. Itu bagus, kan?"
"Itu bagus, ya. Aku sebenarnya akan pergi dengan mereka minggu depan. Kau harus ikut," Aku menyingkirkan ketakutanku dengan santai. Ini semua untuk gencatan senjata, hanya gencatan senjata...
"Oh, wow. Aku ingin, tapi aku akan keluar negeri. Aku akan pergi besok, sebenarnya," katanya. Jika aku tidak mengenalnya dengan lebih baik, aku akan mengatakan dia tampak hampir kecewa.
"Benarkah? Ada pemotretan?" kataku, dan menyadari kesalahanku. Seringai yang ku kenali datang kembali sebagai balasan.
"Sebuah pemotretan? Mengecekku?" Aku merasa wajahku berubah dari merah muda ke merah tomat yang indah.
"Jonmyeon menceritakan apa yang kau lakukan untuk bertahan hidup. Dan aku melihat gambar-gambar di apartemenmu. Ketika kucingku mengejar gadis Rusiamu? Kau ingat?" Dia tampak menggeser berat badannya sedikit pada pilihan kata-kataku.
Hmmm, titik lemah?
"Kau memperhatikan foto-fotoku?" tanyanya.
"Aku melakukannya. Kau punya satu set besar sconces." Aku tersenyum manis dan melihat langsung selangkangannya.
"Sconces?" Gumamnya, berdehem.
"Pekerjaan yang berbahaya. Jadi kemana kau pergi, sih? Ke Negara mana, maksudku." Aku sengaja menyeret mataku kembali kepadanya, dan melihatnya tempat di dekat wajahku. Heh, heh, heh...
"Apa? Oh, um, Irlandia. Pengambilan gambar sekelompok pesisir pantai untuk Conde Nast, dan kemudian pergi ke beberapa kota-kota kecil," jawabnya, membawa tatapannya kembali padaku. Sangat menyenangkan rasanya melihat dia sedikit bingung dan gugup.
"Irlandia, menyenangkan. Well, bawakan aku sweater."
"Sweater, oke. Ada lagi?"
"Sebuah pot emas? Dan shamrock (tanaman semanggi)?"
"Bagus. Aku takkan meninggalkan toko suvenir yang berada di airport," gumamnya.
"Dan kemudian ketika kau pulang ke rumah, aku akan melakukan tarian Irlandia untukmu!" Aku meringis dan mulai tertawa betapa konyolnya percakapan ini.
"Aw, Gadis Bergaun Tidur, kau baru saja menawarkan diri untuk menari untukku?" katanya dengan suara rendah, melangkah sedikit lebih dekat pada ku.
Dan hanya seperti itu, efeknya membuat keseimbangan kekuasaan ku pada diriku sendiri goyah.
"Luhan, Luhan, Luhan," aku menghela napas, menggeleng. Terutama untuk menghapus pengaruhnya yang mendekatiku. "Kita sudah membahas ini. Aku tidak punya keinginan untuk bergabung dengan harem."
"Apa yang membuatmu berpikir aku akan memintamu?"
"Apa yang membuatmu berpikir kau tidak melakukannya? Selain itu, aku berpikir itu akan mengacaukan gencatan senjata, bukan?" Aku tertawa.
"Mmm, gencatan senjata," katanya.
Lalu aku mendengar langkah kaki di tangga bawah. " Luhan? Apakah itu kau?" Sebuah suara memanggil. Dengan serta-merta ia melangkah mundur, menjauh dariku. Aku menunduk dan menyadari kami telah beringsut mendekat ke arah satu sama lain di sepanjang percakapan kami.
"Hei, Katie, di atas sini!" panggilnya.
"Seorang harem? Aku akan menonton dindingku malam ini," kataku pelan.
"Hentikan itu. Dia memiliki hari yang sulit di kantor, dan kami akan pergi ke bioskop. Itu saja." Dia tersenyum malu-malu padaku, dan aku tertawa. Jika kami akan menjadi teman, aku mungkin sebaiknya bertemu dengan para harem, demi Tuhan.
Sesaat kemudian Katie bergabung dengan kami, yang aku, tentu saja, tahu sebagai Spanx. Aku menahan tawaku agar tak keluar saat aku tersenyum padanya.
"Katie, ini adalah tetanggaku, Minseok," kata Luhan. "Minseok, ini adalah Katie." Aku mengulurkan tanganku, dan dia melihat kami secara bergantian dengan tatapan aneh yang menganggu.
"Hai, Katie. Senang bertemu denganmu."
"Kau juga, Minseok. Kau seseorang yang bersama si kucing?" tanyanya, ada binar di matanya. Aku menatap Luhan meminta pejelasan, dan ia hanya mengangkat bahunya dengan cuek.
"aku merasa bersalah untuk itu, meskipun Monggu akan berpendapat bahwa ia juga merupakan manusia dan nampak nyata ."
"Oh, aku tahu. Anjingku dulu suka menonton TV dan menyalak sampai aku menemukan sesuatu yang dia suka. Betapa mengganggunya dia." Katie tersenyum. Kami semua berdiri sejenak, dan itu mulai terasa sedikit canggung.
"Oke, kids, aku pergi yoga dulu. Luhan, semoga perjalananmu aman, dan aku akan memberitahumu gosip para pasangan baru ketika kau kembali."
"Kedengarannya bagus. Aku akan pergi sebentar, tapi mudah-mudahan mereka tidak akan mendapat terlalu banyak masalah selama aku pergi." Dia tertawa ketika mereka mulai menaiki tangga.
"Aku akan mengawasi mereka. Senang bertemu denganmu, Katie," kataku, sembari menuju ke bawah.
"Kau juga, Minseok. 'Malam!" Serunya kembali kepadaku. Saat aku berjalan menuruni tangga, lebih lambat dari yang diperlukan, aku mendengar dia berkata pada Luhan, "Gadis Bergaun Tidur Pink cantik."
"Diam, Katie," dia membalasnya, dan aku bersumpah Luhan menepuk pantatnya. Lengkingannya sedetik kemudian menegaskan hal itu.
Aku memutar mataku saat aku mendorong pintu terbuka dan menuju ke jalan. Ketika aku sampai ke gym, aku menukar kelasku dari yoga menjadi kick boxing.
.
.
.
.
"Aku ingin vodka martini, tanpa es dengan tiga zaitun, tolong." Bartender mulai bekerja saat aku melihat sekeliling restoran yang ramai, mengambil kesempata istirahat dan menjauh sejenak dari Fantastic Four.
Setelah dua minggu mendengar tentang semua kencan ganda yang luar biasa, aku setuju untuk pergi keluar dengan mereka dan mengubahnya menjadi Fantastic Five. Itu menyenangkan, dan aku bersenang-senang, tapi setelah bergabung dengan dua pasangan baru sepanjang malam aku butuh jeda sejenak. Menonton orang-orang di bar adalah cara yang bagus untuk mendapatkan beberapa waktu istirahat. Di sebelahku ada pasangan yang menarik: pria beruban dengan wanita yang lebih muda dariku yang ku rasa baru memermak payudaranya. Gadis pintar! Kau mendapatkan apa yang kau inginkan. Maksudku, jika aku harus terlihat tak wajar, dalam artian pacar dari seorang pria tua jelek aku ingin payudara yang lebih besar juga.
Aku tidak pernah berpikir aku akan menikmati hidup sendirian, tapi akhir-akhir ini aku menemukan aku cukup menikmati kehidupan tanpa pria dalam hidupku. Aku sendirian, tapi aku tidak kesepian. Orgasme dikesampingkan, aku kadang-kadang merindukan ditemani oleh seorang pacar, tapi aku suka pergi sendirian ke banyak tempat. Aku bisa bepergian sendirian, jadi mengapa tidak? Meskipun begitu, pertama kali aku pergi ke bioskop seorang diri aku pikir itu terasa aneh—aku mungkin akan berlari ke seseorang yang aku kenal saat keluar dan berada di belantara Kosta Rika adalah hal yang mustahil, tapi berlari ke seseorang di bioskop San Francisco? Itu hal yang lebih aneh lagi-tapi itu hebat! Dan sendiri di dalam sebuah restoran juga aku baik-baik saja. Ternyata aku bisa berkencan dengan diriku sendiri.
Namun, makan malam dengan teman-temanku sudah cukup menghibur. Cara kedua pasangan baru mengitari satu sama lain saat menyenangkan untuk ditonton. Baekhyun dan Sehun, keduanya membuat kesalahan pada diri mereka sendiri dengan berfikir bahwa laki-laki yang didengungkan di kepala mereka saat ini adalah pasangan yang sempurna bagi satu sama lain. Saat itulah aku melihat Sehun dalam kerumunan, tinggi badannya dan rambut merah yang cantik menempatkannya nampak berbeda dan mencolok bahkan di antara ratusan orang. Restoran yang nampak panas, dan bar bahkan lebih panas, tempat ini penuh sesak dengan orang-orang dan tuntutan kesenangan.
Aku bisa melihat Sehun mengobrol dengan seseorang, dan saat aku mengalihkan tatapanku ke samping aku menemukan Baekhyun dan Kris. Apa yang aneh? Tao, bukan Kris, terlihat menjadi pasangan percakapan Sehun. Kris tampak benar-benar terpesona pada Baekhyun, tangannya bergerak melalui udara dan ia mendengarkan semua perkataan baekhyun dengan seksama, terpesona sepenuhnya akan temanku itu. Dari tempatku berdiri, jarak memberiku kejelasan yang sempurna untuk terus memerhatikan interaksi mereka. Aku tidak bisa menahan senyum. Mereka telah menemukan para pria yang selalu mereka pikir mereka inginkan, tapi sekarang mereka masing-masing tampaknya terpesona pada pria yang lainnya...ah baiklah, rumput tetangga selalu lebih baik, kan?
Sehun melirikku dan melihat ku di bar, tidak lama kemudian dia minta diri dan menuju ke arahku. "Bersenang-senang?" tanyaku saat ia menduduki bangku di sebelahku.
"Aku menikmati waktu yang menyenangkan," renungnya. Dia kemudian mengatakan kepada bartender bagaimana cara membuat koktailnya dengan tepat.
"Bagaimana Tao malam ini?" Matanya menyala sebentar, dan kemudian dia tampak menguasai dirinya kembali.
"Tao? Baik, ku rasa. Kris tampak hebat, bukan?" Dia menutupi, menatap ke kelompok yang telah kami tinggalkan di mana Baekhyun dan Kris masih nampak asyik mengobrol. Kris memang terlihat tampan dengan celana jins dan kemeja yang persis cocok dengan mata coklat karamelnya-nya -matanya berubah gembira pada saat menatap Ms. Byun.
Bagaimana bisa mereka tidak melihatnya?
"Tao terlihat cukup tampan juga malam ini," aku mengalihkan pembicaraan, memfokuskan kembali pada pembawa acara olah raga yang berotot. Sweater hitam ketat, celana chino (skinny jeans)-dia yang setiap incinya tampak fashionable.
"Yep," katanya dingin, menjilati sedikit garam (hiasan tepi gelas untuk minuman cocktail yang biasanya terbuat dari garam atau gula) dari tepi gelasnya.
Aku tertawa dan meletakkan tanganku pada lengannya. "Ayolah, pretty girl, ayo kita kembali pada priamu," kataku, dan kami bergabung kembali dengan grup.
Aku pulang lebih dulu sebelum teman-temanku, merasa lelah tapi juga senang. Sekali lagi aku akan menghabiskan malam sendirian dan hidup untuk menceritakan kisah tersebut. Aku bertanya-tanya apakah wanita lajang lain memahami kegembiraan yang berasal dari orang kelima yang tidak tertarik akan kencan buta. Untuk tidak perlu berbasa-basi dengan beberapa pria yang kau sudah atur siapa orangnya, untuk tidak perlu khawatir tentang beberapa idiot dengan napas potongan daging-berlapis-saus lada yang mencoba untuk memaksa lidahnya bergoyang menuruni belakang tenggorokanmu, dan tidak perlu untuk menjelaskan kepada si idiot yang sama mengapa kau bersikeras memanggil taksi untuk pulang ke rumah ketika Camaro super cepatnya diparkir tepat di sana.
Aku menikmati-atau harus aku katakan sebagian besar menikmati- bermacam-macam hubungan sejak SMA, tetapi tidak benar-benar pernah jatuh cinta untuk waktu yang lama. Tidak sejak tahun terakhir saat perguruan tinggi. Dan sejak hal itu hancur berantakan, aku hanya punya serangkaian teman kencan biasa, tidak pernah benar-benar merasa sepenuhnya terikat pada siapa pun. Oleh karena itu masa keabsenanku dari kencan saat ini muncul. Minseok bagian bawah mungkin selalu setuju dan siap untuk berkencan, tapi Otak dan Hati tampaknya selalu memiliki keberatan mereka sendiri. Ditambah lagi, sekarang O-ku juga absen, siapa yang tahu seberapa lama ia akan absen, dan aku menemukan gaya hidup soliterku, mandiri, tidak terikat, lebih dan lebih menarik dari semua kencan tak jelasku itu.
Saat aku merenung atas pemikiran tersebut, dalam perjalanan pulang menuju rumah di dalam taksi, telepon ku berbunyi. Aku mendapat pesan teks dari nomor yang tak kukenal.
Malam ini menyenangkan?
Siapa yang berani mengirimi aku sms?
Apakah aku mengenalmu?
Saat aku menunggu jawaban, aku membungkuk dan melepaskan sepatuku. Sepatu hak tinggi yang fantastis, tapi sialan, sepatu itu menyakiti kakiku. Teleponku berbunyi lagi, dan aku membaca.
Beberapa orang menyebut diriku Wallbanger.
Aku sedikit membenci diriku bagaimana jari kaki telanjangku sekarang terlihat keriting kerenanya. Jari kaki bodoh.
Wallbanger, huh?
Tunggu sebentar - bagaimana kau mendapatkan nomorku?
Aku tahu itu mungkin Baekhyun atau Sehun. Gadis sialan. Mereka benar-benar pemaksa akhir-akhir ini.
Aku tidak bisa mengungkapkan sumberku.
Jadi, apakah malam ini menyenangkan?
Oke, aku bisa memainkan game ini.
Kenyataannya ya. Dalam perjalanan pulang sekarang.
Bagaimana Emerald Isle? Kesepian belum?
Disini indah sebenarnya, sedang sarapan.
Dan aku tidak pernah kesepian.
Aku percaya itu. Apakah kau membelikan aku sweater?
Sedang aku lakukan, ingin mendapatkan yang bagus.
Ya, tolong beri aku satu yang bagus.
Tidak akan menanggapi yang satu itu...bagaimana kucingmu?
Aku tak akan menjawab itu.
Ada sesuatu yang kau inginkan?
Oh ya, ada bung dank au tahu apai itu
Aku tahu apa yang kau maksud. Sulit untuk tidak menyentuh itu.
Oke, kita hentikan ini. Aku akan menganggap kau tak melakukannya
Sindiran-sindiran yang terlalu kentara untuk dilihat secara langsung.
Oh, aku tidak tahu,
Wow. Aku menikmati gencatan senjata ini lebih dari yang aku harapkan.
Aku harus mengakui itu baik bagi ku juga.
Sudah sampai rumah?
Yep, baru saja berhenti di depan gedung kita.
Oke, aku akan menunggu sampai Kau berada di dalam.
Taruhan kau tidak sabar untuk masuk ke dalam.
Kau setan, kau tahu itu?
Aku sudah tahu. Oke, sudah di dalam. Baru saja menendang pintumu,ngomong-ngomong.
Terima kasih.
Hanya menjadi tetangga yang baik.
Selamat malam, Minseok.
Selamat pagi, Luhan.
Aku tertawa saat aku memutar kunci di lubangnya dan masuk ke dalam. Aku tenggelam ke sofaku, masih tertawa. Monggu secepatnya melompat ke pangkuanku, dan aku mengelus-elus bulu halusnya saat dia mengeongkan ucapan selamat datangnya. Teleponku berbunyi sekali lagi.
Apakah kau benar-benar menendang pintu?
Diam. Makan sarapanmu.
Aku tertawa lagi saat aku mengubah silent mode teleponku untuk malam hari dan berbaring di sofa. Monggu bertengger di dadaku saat aku sedikit bersantai, memikirkan wallbanger sialan itu di kepalaku. Rasanya mengejutkan seberapa jelas aku bisa membayangkannya: jeans pudar lembut, sepatu hiking ala Jake Ryan dari Sixteen Candles, sweater rajut turtleneck berwarna off-white dari Irlandia, rambutnya yang berantakan. Berdiri di atas pantai berbatu di suatu tempat, laut sebagai latar belakang. Sedikit terbakar sinar matahari, sedikit berantakan dengan tangan di saku. Dan senyum itu...
.
.
.
Tbc
