Pair: ChanHun (Chanyeol-Sehun)

Other pair: temukan di dalamnya.

Genre: YAOI, romance, humor/comedy

Rate: M

Chapter 9

ChanHun

.

.

.

.

.

Sehun memainkan pensilnya dengan random di atas meja. Sayup-sayup dia masih bisa mendengar kegaduhan yang riuh dari arah gor lapangan basket. Dia memutuskan berhenti menonton saat babak kedua baru saja dimulai.

Seperti biasa, moodnya sudah terlanjur hancur gara-gara ciuman tadi.

"bisa-bisanya aku menikmati itu" ia tersenyum kecut, menohok hatinya sendiri.

Dia tidak mempedulikan bagaimana ekspresi mendung Joohyuk sepanjang pertandingan duduk di sebelahnya, juga tatapan nyinyir beberapa orang yang masih menjadikan insiden ciumannya bersama Chanyeol sebagai bahan gosip terbaik.

Cara terbaik menenangkan dirinya hanyalah dengan meninggalkan gor lapangan basket dan kembali ke kelas.

Saat ini Sehun memandangi tas milik Joonmyun yang tergantung di samping meja, menimang-nimang apakah dia harus pulang duluan meninggalkan Joonmyun atau tidak. namun Sehun akhirnya memilih untuk pulang duluan tanpa menunggu Joonmyun.

"kau tidak menonton pertandingan basket?"

Dia berhenti melangkah saat berselisih arah dengan Donghae. Hei, kemana saja guru kesehatan ini? sejak kemarin Sehun tidak melihatnya.

"tadi sudah. aku harus pulang Pak, sampai jum─"

"aku dengar Chanyeol melakukan hal konyol padamu, apa dia mengganggumu lagi?"

"memangnya kapan dia tidak bertindak konyol? Apalagi padaku, dia kan senang sekali membuatku kesal" Sehun menjawab enteng, sebenarnya sih untuk menutupi kegugupannya saja. bisa gila dia jika ada guru yang tau soal ciumannya dengan Chanyeol.

Donghae sempat diam sebentar, menilai ke dalam mata Sehun apakah anak ini berbohong atau tidak. namun akhirnya dia pun mengangguk saja.

"baiklah. Pakai jaketmu dengan benar, udara sudah benar-benar dingin di luar. inhaler ada di dalam tasmu?"

Sehun mengacungkan jempolnya sebagai jawaban. "aku pergi dulu, sampai jumpa" setelah membungkuk hormat, Sehun pun melanjutkan langkahnya.

ChanHun

Akhir-akhir ini Ibu jarang menghubungi Sehun melalui pesan ataupun telpon. Ada sedikit rasa rindu untuk wanita itu di hati kecil Sehun, tapi dia sadar Ibu sekarang punya kekasih dan sudah pasti prioritas utamanya sudah berganti.

Sehun melanjutkan game di laptopnya dengan sesekali melirik ke layar ponsel. Biasanya sang Ibu mengirim pesan berisikan ucapan selamat tidur pada jam-jam segini.

Tanpa diduga Sehun justru berhenti memainkan jari-jarinya pada laptop karena tidak fokus. Dia sendiri tidak mengerti kenapa dia jadi begini.

"apa gara-gara ciuman tadi?" gumamnya. Kemudian dia menggeleng kepala, merasa bodoh sudah berpikir begitu.

Samar-sama suara Ayah terdengar dari luar kamar tengah memanggilnya. Dengan langkah berat, Sehun pun keluar.

"kau sudah tidur ya?"

"belum. Ada apa?"

"ada temanmu yang datang"

Teman? Sejenak Sehun melihat senyum usil Ayahnya. Perasaan Sehun tidak enak, pasti yang datang adalah orang yang tidak diharapkannya sama sekali.

Dengan penasaran Sehun pun menuju ke pintu depan, membukanya sedikit dan dia sudah bisa lihat figur semampai seseorang.

"Chanyeol hyung?"

"hei. Selamat malam" Chanyeol menoleh dan menunjukkan cengiran khasnya.

"kau.. mau apa ke sini?"

"kau bertanya seperti tidak punya dosa sama sekali" ia berdecak.

"memangnya aku dosa apa? dosa sudah mengenalmu? Itu mungkin benar"

"aku pacarmu loh"

Sehun berdegup mendadak. "aku kan bercanda sayang" dia tersenyum dibuat-buat.

"sekolah kita menang pertandingan dan itu berkat aku yang mencetak angka terakhir. Kau malah menghilang dan tidak memberiku selamat sama sekali"

"moodku sedang tidak baik tadi, jadi aku langsung pulang saja"

"apa? Cuma gara-gara itu?" sungut Chanyeol.

"kau yang membuat moodku hancur berantakan, kenapa kau menciumku di depan umum? Dasar gila"

"memangnya kenapa? Kau kan pacarku"

"tapi aku bukan barang pameran"

Pada detik itu Chanyeol melihat ekspresi Sehun yang berkilat sedih, tapi dia jago menyembunyikannya kembali dengan angkuh seperti biasa.

"ayo masuk, kita bisa beku di luar begini" Sehun masuk lebih dulu tanpa menutup pintu mengisyaratkan Chanyeol agar mengikutinya ke dalam.

Chanyeol mengikutinya, melepas sepatu lalu menggantinya dengan slipper sambil melangkah di atas lantai kayu yang hangat.

"aku ingin mengajakmu kencan"

"tidak di cuaca begini. kau mau asma-ku kambuh?" Sehun berkutat di dapur untuk membuatkan minuman hangat. Tamu tetap saja harus dijamu dengan baik.

"memangnya tidak apa-apa di sini? Nanti Ayahmu lihat"

"kita bukannya akan berbuat mesum kan? santai saja hyung"

Yang lebih tua cuma menggedikan kedua bahunya lalu duduk di sofa. Sehun menyusul di sebelahnya dan memberikan secangkir coklat panas.

"mana ucapan selamatnya?"

Sehun menghela napas, " ya Tuhan menyebalkan sekali. selamat ya hyung, berkat kau sekolah kita menang"

"kau tidak ikhlas mengucapkannya"

"hyung selamat ya sudah jadi pahlawan sekolah" ia kali ini tersenyum manis. Sampai-sampai Chanyeol hampir terjungkal karena tertawa.

"baiklah itu cukup imut, terimakasih" ia mengusak pelan rambut Sehun kemudian mencicip coklat hangat di tangan.

Lalu saat itu Ayah keluar dari ruang kerjanya, melihat ke arah mereka barang sebentar sambil lalu untuk ke dapur.

"Ayah, sengaja ya?" Sehun bertanya datar.

"apa?" sang Ayah berusaha santai, tapi tetap terlihat wajah jenakanya.

"tenang Paman, aku tidak akan berbuat mesum pada Sehun" lalu Chanyeol menerima cubitan panas di pahanya.

"Ayah hanya memastikan.. tidak salah kan?" dia tertawa kikuk.

"aku masih waras Ayah, mana sudi digagahi orang seperti ini?" Sehun bisa merasakan pelototan galak dari sebelahnya.

"orang seperti itu pacarmu kan?" sindiran final dari Ayah sukses membungkam mulut Sehun. Ayah sudah kembali ke ruang kerjanya setelah membawa semangkuk ramen instan.

"hahaha Ayahmu menang"

"diam kau. Cepat habiskan coklatmu lalu pulang sana"

"beginikah caramu memperlakukan pacar?"

"maaf saja tapi pacarku yang dulu tidak ada yang sebrengsek dirimu"

"berarti aku yang pertama" dia nyengir lagi.

"jangan buat aku ingin menamparmu"

"memangnya orang sepertimu bisa punya mantan ya?"

Sehun benar-benar menampar pipi Chanyeol, tapi pemuda semampai itu hanya tertawa sambil memegangi pipinya.

"aku hanya bercanda, kenapa kau sungguhan menamparku?"

"karena wajahmu memang pantas ditampar" Sehun menghabiskan coklat panasnya.

Sunyi menemani mereka karena keduanya tidak punya topik lain yang bisa diangkat. Tapi di momen ini lah Chanyeol bisa menikmati wajah Sehun yang kalem dan cantik bahkan hanya dari samping.

"minggu depan ulang tahunku" suara Chanyeol memecah keheningan.

"oh.. kau ingin hadiah?"

Chanyeol tertawa lagi, "tentu saja. kau kikuk sekali, pernah memberi hadiah untuk pacar kan?"

"tidak. kalau ulang tahun diberi selamat saja, sudah cukup"

"aku ingin hadiah"

"ya sudah.. nanti aku berikan" Sehun menutupi rasa gugupnya. Perlahan dia merasa pipinya menjadi panas.

"tidak perlu mahal, asal kau memberi hadiahnya dengan senyuman dan hilangkan sifat rasismu sebentar saja sudah bermakna sekali"

"iya baiklah. kau memasuki usia dua puluhmu?"

"belum. Sembilan belas"

"kau ikut ujian Universitas kan?"

"ya, karena aku belum minat wamil" Chanyeol menyeringai dan mendekatkan wajahnya pada Sehun. "khawatir sekali padaku, hm?"

Sehun mundur dan bersandar pada sofa, "tidak, aku cuma tanya"

"kalau aku sudah lulus nanti kau jangan nakal di sekolah"

Kau yang sudah menipuku. Ingin rasanya Sehun berteriak seperti itu.

"memangnya aku bisa apa? populer juga tidak"

"si Joohyuk itu kan menyukaimu"

"Joohyuk cuma teman"

"dia menganggapmu lebih dari itu. kau tidak bodoh kan?"

"ya.. itu sebabnya aku juga mencemaskan tentang dia setelah kau menciumku di lapangan tadi"

Chanyeol kembali menjauh dari hadapan Sehun, dia ikut bersandar pada sofa. "kau takut membuatnya patah hati?"

"lebih tepatnya sakit hati"

"dia harus mengerti kalau kau itu milikku"

"cih, katakan itu di depan wajahnya sana"

"aku akan mengatakannya. Kalau dia tidak mengerti juga aku terpaksa menggunakan tinjuku"

"hei, dia itu aktor.. wajahnya adalah aset. Bukan sepertimu yang cuma mengandalkan kekuasaan untuk hal yang kau inginkan"

"omonganmu itu selalu saja benar"

Keduanya kembali diam, satu topik kelihatannya sudah selesai dan mulai mencari topik pembicaraan lainnya.

"kau tidak mau pulang? Semakin malam udaranya akan semakin dingin"

"aku minta nomor ponselmu"

Mereka saling bertatapan, namun bedanya cuma Sehun yang menatap seolah-olah dia kaget.

"jadi kau belum punya nomor ponselku?"

"kau seperti kucing liar yang sulit didekati, bagaimana bisa aku tau nomor ponselmu bodoh?"

Sehun hanya tertawa lalu dia menyebutkan nomor ponselnya dan Chanyeol langsung menyalin nomor tersebut di ponselnya namun sesaat kemudian dia berpikir lagi.

"mana ponselmu?"

"ada di kamar"

"bawa kemari. Aku ingin memastikan kau tidak memberi nomor palsu"

Sehun berdecak sambil menggeleng kepala. Dia beranjak ke kamar untuk mengambil ponselnya kemudian kembali lagi ke ruang tengah memperlihatkan ponsel itu di hadapan Chanyeol dengan ekspresi seolah berkata; "puas?"

Ia menekan tombol dial untuk memanggil Sehun, memperhatikan layar ponsel Sehun apakah tersambung atau tidak.

"halo?"

Chanyeol melotot ke arah Sehun, kemudian Sehun langsung tertawa geli melihat respon pemuda itu.

"siapa ini?"

"ah maaf Paman, Sehun salah memberikan nomor padaku. ini aku Park Chanyeol"

"oh begitu. tidak apa-apa, Chanyeol"

"maaf mengganggumu, Paman" Chanyeol berujar kikuk, tangannya mencengkram kerah baju Sehun yang masih tertawa terpingkal-pingkal lalu memutus sambungan dengan Ayah Sehun barusan.

"sialan kau Oh Sehun" geram Chanyeol meski tak berteriak karena dia takut Ayah Sehun akan mendengar umpatannya.

Yang lebih muda berusaha menghentikan tawanya, "kau terlalu tegang dan serius, santai saja Park"

"cepat berikan nomormu yang benar!"

Saat menyebutkan nomornya lagi, Sehun masih melanjutkan kekehannya karena berhasil membodohi Chanyeol.

"aku akan mencobanya lagi"

"itu sungguhan nomor ponselku"

Belum sempat Chanyeol menekan tombol dial, ponsel Sehun sudah menyala dan berdering menandakan ada panggilan masuk.

Dengan mata besarnya, Chanyeol dapat melihat deretan nomor yang memanggil Sehun di layar ponselnya tersebut. dia hapal sekali nomor siapa itu dan segera saja dia merebut ponsel Sehun tanpa mendengarkan semburan protes dari sang pemilik.

Ia pun menjawab panggilan itu dengan seringai di bibir, "hai hyung"

"Chanyeol?" nada terkejut terdengar dari line seberang.

Sehun mengumpat, ternyata Dennis yang menghubunginya. Dia kan memang terlalu malas untuk menyimpan nomor Dennis.

"dimana Sehun? kenapa kau yang memegang ponselnya?"

"dia tepat berada di sebelahku sekarang. kami sedang kencan"

Dennis tak dapat lebih terkejut lagi dari ini. berkencan? Bukankah Sehun sudah tau rencana busuk Chanyeol? kenapa sekarang mereka justru berkencan?

"kalau begitu berikan ponselnya pada Sehun sekarang, aku harus bicara dengannya"

"ada keperluan apa dengannya? Sampaikan saja padaku, sama saja kok"

Di sebelahnya, Sehun mendadak pening. Dia berusaha merebut ponselnya kembali sebelum Dennis bicara macam-macam dan rencananya untuk balas dendam justru terkuak. Tapi Chanyeol dengan kuat mencengkram kedua tangannya agar diam.

"ini tentang Ibunya"

"kau jangan bohong hyung, itu cuma alasanmu saja"

"kembalikan ponselku!"

"jadi kau mau ngobrol dengan pria lain di hadapanku?" Chanyeol jadi tersulut emosi.

"kau jangan konyol, Park" desis Sehun.

"Sehun? hei, sebenarnya kalian berdua kenapa?" suara Dennis terdengar oleh Sehun meski samar.

"kau bahkan memberinya nomor ponselmu yang benar, sementara untukku tidak"

"kalau Ayahku dengar kau akan diusir"

Chanyeol mendadak bungkam. Sehun menampik kasar tangan Chanyeol yang mencengkram kedua tangannya sejak tadi lalu merebut ponselnya.

"mau apa kau?"

"apa yang kau lakukan bersama Chanyeol? kau lupa soal informasi dariku waktu itu?"

"ini bukan urusanmu" Sehun langsung memutus sambungan sepihak. Lebih baik nanti saja menjelaskan pada Dennis, karena sekarang Chanyeol masih berada bersamanya.

"jangan terima telpon darinya lagi"

"aku tidak tau kalau dia yang menelpon karena aku memang tidak pernah menyimpan nomornya"

Tanpa bicara lagi, Chanyeol melanjutkan niatnya yang tadi belum terlaksana; menghubungi nomor Sehun. tentu saja dia tidak mau tertipu lagi.

"tersambung" kata Sehun malas karena ponselnya berdering, panggilan masuk dari nomor tak dikenal.

"angkat" perintah Chanyeol.

"untuk apa? jarak kita bahkan tidak sejengkal"

"cepat angkat, atau aku akan menciummu"

Dengan berat hati Sehun pun mengangkat panggilan tak penting itu. "apa?"

"aku mencintaimu"

Suara itu terdengar jelas di telinga Sehun dan membuatnya cukup merinding. Dia berdeham lalu memasang ekspresi bengisnya seperti biasa untuk menutupi rasa gugup.

"aku juga" lalu dia langsung memutus sambungan.

"juga apa?"

"diamlah. Sana cepat kau pulang, aku muak melihat wajahmu"

"tapi kau mencintaiku"

"aku tidak bilang begitu"

"kau bilang aku juga" ia sambil menirukan cara Sehun bicara tadi.

"aku akan panggil Ayahku"

"baik baik, aku pulang. Dasar tukang adu"

Sehun mengantar Chanyeol hingga ke depan pintu. pria itu sudah memakai sepatunya dan bersiap untuk pergi.

"aku ingin pamitan dengan Ayahmu"

"nanti saja aku yang sampaikan padanya. udaranya sudah semakin dingin, kau bisa beku di jalan"

"perhatian sekali padaku" Chanyeol mengecup bibir Sehun dengan manis. Dia tersenyum melihat respon Sehun yang hanya pasrah menerima.

"kalau kau mati di jalan nanti orang-orang akan mencurigaiku duluan. Sudah sana pulang"

"tidak bisa lebih lembut lagi pada pacarmu ya?"

"pulanglah sayang~" ulang Sehun dengan gaya yang dibuat-buat.

"nah begitu lebih baik. sampai jumpa"

Ia hanya memperhatikan punggung kekar Chanyeol yang menjauh melewati pagar rumahnya. Sehun tak habis pikir kenapa Chanyeol tidak membawa kendaraan dan lebih memilih jalan kaki?

"dasar konyol"

ChanHun

"Joohyuk? dia tidak masuk lagi hari ini, mungkin ada jadwal syuting"

"oh baiklah, terimakasih" setelah tersenyum pada seorang murid di kelas Joohyuk itu, Sehun kembali ke kelasnya.

Joonmyun sudah menyelesaikan tugas matematikanya dan beralih pada Sehun yang baru saja kembali entah dari mana.

"kau dari mana? Makan bersama yang lain di kantin?"

"tidak, aku mencari Joohyuk"

"ada apa kau mencarinya?"

"dia tidak menghubungiku sama sekali sudah tiga hari ini. biasanya dia mengirim pesan"

"mungkin kegiatannya sedang padat. Kau tau kan dia itu aktor"

Tapi Sehun punya kemungkinan lain di otaknya. Joohyuk bisa saja merasa kecewa padanya semenjak kejadian di lapangan basket tempo hari.

"Joonmyun-ah, kau jago membuat kue?"

"kue? hanya jenis tertentu saja. kenapa?"

"kau bisa ajari aku?"

"kau mau belajar membuat kue?" Joonmyun cukup terkejut dengan perkataan Sehun karena selama dia mengenal Sehun, temannya itu bukan tipe yang hobi di dapur.

"jangan keras-keras!" Sehun langsung membungkam mulut Joonmyun menggunakan telapak tangannya.

Kedua mata Joonmyun melirik ke arah lain, memberi kode pada Sehun bahwa ada seseorang yang datang ke kelas mereka.

"Yixing hyung?"

"hei, kau akan datang ke kompetisi nanti kan?" Yixing bertanya tanpa basa-basi.

"akan aku usahakan hyung"

"setidaknya berikan kami dukungan"

"seluruh sekolah mendukung kalian, bukan cuma aku"

Yixing tertawa karena Sehun menangkis ucapannya tanpa terduga. "aku tau kau masih merasa kecewa"

"sudah tidak usah dibahas" Sehun mengibaskan tangannya tanda tak peduli. "ini sudah keputusanku kok"

"tapi kau harus tetap datang. kau masih mencintai dance kan?"

"sampai kapanpun itu" ia tersenyum simpul. "bagaimana persiapannya?"

"berjalan lancar. Pokoknya aku harus melihatmu di kompetisi nanti, oke?"

Sehun hanya bisa mengangguk dan terus memberikan senyum termanisnya untuk Yixing.

Kini perhatian Yixing beralih pada Joonmyun. "ah, Joonmyun, ada seseorang yang ingin bertemu denganmu di luar"

"eh? siapa?" Joonmyun nampak terkejut karena sejak tadi dia hanya diam enggan ikut campur pembicaraan Yixing dan Sehun yang sedikit sensitif mengenai kompetisi dance.

"ayo keluar saja dulu. Sehun, sampai jumpa di kompetisi nanti"

"sampai jumpa hyung. sudah sana, temui orang itu" Sehun menarik pelan tangan Joonmyun agar pemuda itu mau beranjak dari kursinya.

Dengan keheranan, Joonmyun pun bangkit dan mengikuti langkah Yixing keluar dari kelas mereka.

Sehun bisa melihat ternyata senior Wu Yifan lah yang sedang menunggu di depan kelas. Mungkin dia bermaksud hanya menemani Yixing, tanpa diduga Yixing justru dengan usil membawa Joonmyun ke hadapannya.

Kedua pemuda itu sama-sama kaget. Joonmyun pasti ingat sekali senior itu lah yang pernah menyatakan perasaan padanya saat perkemahan tempo hari dan Sehun tau Joonmyun juga pasti menyukai senior Yifan, dilihat dari bagaimana sikap malu-malu Joonmyun saat ini.

Bahkan Joonmyun tak menoleh sama sekali padanya, hanya terfokus ke arah sosok tampan senior yang sedang salah tingkah berbicara dengannya di luar sana.

Sehun jadi berpikir lagi untuk datang ke kompetisi dance. meskipun memutuskan untuk tak menekuni dance lagi, tapi dia tetap mencintai hobi nomor satunya itu. ia takut tak akan bisa melupakannya jika datang ke kompetisi dan melihat euforia para peserta yang bersemangat.

Menyakitkan baginya yang sudah tak bisa lagi menari di atas panggung.

"aku ingin makan kue.."

ChanHun

"resep kue kering?"

"hm"

"astaga kapan kau membeli buku resep itu, Sehun? kau tertarik dengan kue?" sang Ayah terkekeh pelan dan takjub pada kelakuan aneh putranya yang baru.

"belum lama ini aku beli. Aku cuma senang melihat bentuk dan warna-warnanya yang lucu"

"apa Google dan Naver tidak menunjukkannya padamu sampai harus membeli buku?"

"saat itu aku kebetulan sedang di toko buku untuk menunggu Joonmyun"

"mau Ayah belikan kue kering?"

"aku sudah beli tadi"

Ayah menggelengkan kepalanya akibat tingkah absurd Sehun. "baiklah, Ayah mandi dulu dan setelah itu kita memesan makan malam"

Sehun hanya bergumam untuk menjawab Ayahnya lalu fokus kembali pada buku. Tersirat di benaknya untuk mulai belajar membuat kue, sebagai hitungan pengganti hobi menarinya. Karena Sehun akan terus memikirkan segala hal tentang menari jika dia tidak sibuk pada sesuatu.

Ponselnya bergetar menandakan satu pesan yang masuk.

From: Joonmyun

Kau sudah mengerjakan tugas fisika?

Fisika? Sehun lumayan ahli dalam pelajaran itu jadi sudah pasti dia tidak akan menunda-nunda tugasnya.

To: Joonmyun

Sudah. Kau belum?

From: Joonmyun

Baru saja aku selesaikan. Boleh aku menginap? Aku bosan sekali di rumah :(

To: Joonmyun

Sudah terlalu malam Joonmyun, kau mau naik kendaraan apa ke rumahku?

From: Joonmyun

Jemput aku kalau begitu

Sehun menghela napas. Terkadang ocehan Joonmyun bisa keluar tanpa ada dosa mengiringinya. Polos.

To: Joonmyun

Kau pikir aku sudah punya SIM?

From: Joonmyun

Ayolah, Polisi tidak akan menilang

To: Joonmyun

Kalau aku ditilang, kau harus tanggung jawab

Secara tak rela, Sehun akhirnya beranjak juga meninggalkan buku resep kue miliknya di atas meja. Dia membuka pintu ruang kerja Ayahnya dan melihat ke sekitar untuk memeriksa keadaan.

Ah ya, Ayah kan sedang mandi.

Dengan santai Sehun mengambil kunci mobil yang ada di atas meja kerja Ayah. keluar dari ruang kerja, Sehun menuju ke lantai atas tempat kamar Ayah dan kamarnya juga berada.

"Ayah, aku pakai mobilnya ya! oke, silahkan saja!" dia berteriak meminta izin, namun dia juga yang langsung menjawabnya karena Ayah pasti tidak akan mengizinkan. Dan kemudian dia memutuskan kabur secepatnya.

.

.

.

.

.

"wah Sehun, kau bisa menyetir rupanya!"

"kau ini bodoh atau idiot? Tadi kau yang menyuruhku menjemputmu"

Joonmyun tertawa dan seenaknya saja masuk ke dalam mobil Sehun ─ralat, itu mobil Ayah Sehun.

"sejak kapan kau bisa menyetir?" Joonmyun mulai bertanya saat Sehun juga sudah masuk ke dalam dan mereka berbarengan memakai sabuk pengaman masing-masing.

"baru-baru ini. Ayah yang mengajariku, tapi aku tidak diperbolehkan membawa sendiri"

"lalu tadi bagaimana kau meminta izin padanya?"

"aku bilang bahwa kau yang memaksaku, lalu Ayah berkata bawa anak bodoh yang menyuruh temannya yang masih berusia tujuh belas tahun menyetir mobil itu ke hadapanku, aku tidak merestui hubungan persahabatan kalian" sungut Sehun dengan gestur bicara dibuat-buat.

"apa Ayahmu marah padaku?" kali ini Joonmyun sungguhan takut.

"kau membuatku harus menghentikan waktu senggang yang berharga"

Setelah menerima segala sarkasme sahabatnya, Joonmyun hanya bisa bungkam. Yang penting di dalam hatinya dia senang tidak akan kesepian lagi di malam minggu ini.

"aku minta maaf.." bisik Joonmyun.

"tidak apa-apa. maaf kalau aku kasar, sebenarnya aku hanya bercanda"

"bercandamu selalu terlihat seperti serius"

Itu seperti satu sayatan panjang yang mengenai dada Sehun. rasa luka yang pahit menohok dirinya sendiri berkat ucapan Joonmyun.

Lagi-lagi Sehun mengutuk kebodohan yang sudah dia lakukan. dia hanya ingin punya sahabat dan Joonmyun sudah cukup menakjubkan bertahan di sampingnya hingga detik ini. Sehun sadar semua perkataannya pada Joonmyun lebih sering menyakitkan dibanding menyenangkan.

"aku bukan sahabatmu"

Joonmyun langsung menoleh kaget mendengar gumam pemuda di sampingnya. "Sehun maafkan aku, jika malam ini aku memang menjengkelkan aku tidak akan meminta hal apapun─"

"harusnya kau tidak usah selalu bersamaku, kau pantas mendapat teman yang lebih baik dibanding aku"

Pemuda Kim itu paham apa maksud Sehun sekarang. Joonmyun menatap Sehun tanpa cela, tersenyum hangat bersyukur telah bertemu dengan seseorang seperti Sehun.

"aku tidak pernah punya teman yang jujur, mereka dekat denganku hanya karena pemandangan mewah yang Ayahku suguhkan di rumah. Kau tidak seperti itu Sehun, itu sebabnya aku nyaman bersamamu"

Sehun tau Joonmyun bukan orang sembarangan. sejak awal, dia tau bagaimana keadaan keluarga Joonmyun. Namun Sehun menunjukkan sikap tak peduli karena Joonmyun memang tidak ingin memperlihatkan yang sebenarnya.

Mereka memiliki perasaan yang tulus. Yang Sehun dan Joonmyun perlukan hanya lah memahami sifat satu sama lain, juga menerima apapun kekurangannya.

Di antara deru mesin mobil, terdengar kekehan lembut Sehun yang membuat Joonmyun akhirnya merasa lega.

"kita ini memang bodoh, Joonmyun-ah"

Joonmyun ikut tertawa ketika Sehun dengan malu-malu mengusak pelan rambutnya.

.

.

.

.

.

"mobil milik siapa itu?" tanya Joonmyun ketika melihat mobil yang terparkir di depan pagar rumah Sehun.

"tamu tak diundang" sahut Sehun sambil memarkirkan mobil ke dalam garasi. dia tidak menjelaskan apapun walau Joonmyun menunjukkan raut kebingungan.

Mereka turun dari mobil dan masuk ke dalam rumah. Sehun hanya cuek saat melihat Ayahnya tengah duduk di sofa bersama dengan Dennis, tamu tak diundang yang dia maksud.

"menyenangkan menyetir mobil malam-malam tanpa SIM?"

Joonmyun langsung membungkuk 90◦ karena merasa sangat bersalah menyuruh Sehun untuk menjemputnya. "maafkan aku─"

"Ayah marah padaku?"

Joonmyun tak melanjutkan lagi kalimatnya karena Sehun yang sengaja menginterupsi.

"kau bertanya tapi wajahmu seperti menantangku. Mana mungkin aku marah"

Dennis tak berani bicara karena sudah cukup dia melihat ketegangan di antara Sehun dan Ibunya, jadi sekarang dia juga tidak mau hal itu terjadi di antara Sehun dan sang Ayah yang masih tersenyum meski Sehun berbuat onar.

"tidak apa-apa Joonmyun," Ayah mendekati Joonmyun dan menepuk bahu pemuda yang sudah ketakutan itu. "kau justru berhasil membuat Sehun menunjukkan kemampuan menyetirnya"

Mendengar itu, Sehun memutar kedua bola matanya dengan malas.

"ayo Paman antar ke kamar Sehun, kau harus langsung istirahat. Ah iya Sehun, Presdir bilang ingin bicara empat mata denganmu"

Seiring dengan perginya Ayah dan Joonmyun, Sehun pun duduk di sofa yang bersebrangan dengan sofa yang ditempati oleh Dennis.

"kau mau bicara apa?"

"bukankah kau yang berhutang penjelasan padaku, Sehun?"

Helaan napas meluncur dari mulut Sehun, "aku punya alasan pribadi mengenai situasiku dengan Chanyeol saat ini"

"apa itu? kau jatuh cinta sungguhan padanya?"

Dari ekspresi cuek, kemudian kini Sehun mulai menjadi geram. "dengan memberitauku soal rencana Chanyeol bukan berarti aku berhutang nyawa padamu, hyung"

"aku tidak meminta apapun darimu, Sehun. kau seharusnya memikirkan dirimu sendiri jika kau meladeni permainan Chanyeol. kau yakin ini bisa membuatmu senang? kau pikir aku tidak tau maksudmu? Balas dendam bukan keputusan yang tepat"

"jika itu satu-satunya cara agar aku bisa membuat Chanyeol merasa tolol dan berlutut di depan kakiku, maka aku akan melakukannya"

Dennis menangkap emosi dalam tatapan Sehun yang mengarah padanya. dia tidak mengerti, kenapa Sehun mementingkan keegoisan di atas segalanya?

"apa ini memang dirimu yang sebenarnya?"

"ya, ini memang aku. Aku bisa mengurus diriku sendiri tanpa diatur oleh orang lain. Tanpa Ibuku, tanpa Chanyeol, dan tanpa kau!"

"kau hanya sedang bimbang, Sehun. kau belum merasa ini adalah keputusan yang tepat, kau masih ragu dengan rencanamu"

Sehun tersentak ketika sebersit bayangan yang muncul. Bayangan saat ia menikmati ciuman Chanyeol, pipinya yang memerah oleh tingkah picisan Chanyeol, dan saat ia sedikit berharap semua tindakan manis Chanyeol adalah tulus untuknya.

Jantungnya berpacu cepat. bukan adrenaline, melainkan ketakutan yang selama ini tersembunyi.

"dengar, ini tidak ada hubungannya denganmu. Aku berterimakasih karena kau sudah memberitauku tentang maksud bejat Chanyeol, tapi kau tidak perlu ikut campur.. aku sendiri yang akan memberinya pelajaran"

Ada fakta lain yang bisa Dennis lihat ke dalam bola mata Sehun, serta bagaimana gerak-gerik tubuhnya saat ini.

Dan itu membuat Dennis seperti terbelah menjadi dua. Amat sangat sakit.

"selamat malam Presdir, hati-hati di jalan" Sehun membungkuk tanda kehormatannya pada yang lebih tua, kemudian dia beranjak untuk meninggalkan ruang tengah.

Langkahnya terhenti ketika melewati Dennis yang masih setia duduk tenang di atas sofa, dengan tangannya yang mencengkram lengan Sehun untuk menahannya.

"tidak kah tersisa sedikitpun perasaan itu untukku?"

Pendengaran Sehun belum rusak, dia dengan jelas mendengar ucapan Dennis dengan tekanan yang dalam itu.

"aku tidak mengerti, apa yang kau harapkan dari seseorang seperti aku?"

Seseorang yang bahkan membohongi dirinya sendiri, menipu perasaannya sendiri, membuang jauh-jauh kenyataan yang justru akan selalu melekat di otaknya.

"kau pantas mendapat yang lebih baik, yang mampu menunjukkan kasih sayangnya dengan cara yang lebih baik. tidak seperti aku"

Kalimat pahit itu lah yang membuat Dennis perlahan melepaskan genggamannya pada tangan Sehun. membiarkan Sehun melangkah jauh darinya.

Dari segala keegoisan yang Sehun miliki, Sehun sudah melepaskan satu impiannya dengan perasaan yang sakit.

Kali ini Sehun tidak ingin kehilangan apapun lagi. meski dia sudah sangat jelas mengerti kenapa dia harus membohongi perasaannya sendiri, Sehun masih ingin melihat Chanyeol menangis karenanya hingga meraung kesakitan.

Meski Sehun menyadari bahwa dia sudah benar-benar menyukai Chanyeol.

Aku pembohong yang malang.

Sehun tetap harus memberinya pelajaran.

ChanHun

"gila! Dewi Fortuna memihak padaku! hahaha"

Taehyung, Jongdae, dan Chanyeol terheran melihat Jimin yang berlari dari pagar menuju ke taman. Seperti biasa, mereka berkumpul lagi di rumah Chanyeol hari ini hanya untuk membantunya membersihkan salju.

"kau kenapa Jim? Menang lotre?" setelah bertanya, Taehyung tertawa sendiri.

"aku dapat nomor ponsel Yoongi!" Jimin memperlihatkan kontak Yoongi di layar ponselnya pada mereka bertiga.

"lalu? Itu memangnya seperti dapat penghargaan Daesang?" Jongdae kembali membersihkan salju dan meninggalkan acara kebahagiaan Jimin.

"kau berlari dari mobilmu ke sini hanya untuk pamer nomor ponsel kakek-kakek itu? yang benar saja" Chanyeol mencibir.

Jimin berdecak, "bagiku ini seperti mendapat harta karun. Aku akan ajak dia kencan hehe"

"dia tidak akan membalas pesanmu, kau melambai di depannya saja dia tidak mau lihat" sahut Taehyung yang kemudian tertawa bersama Chanyeol. Jongdae juga ikut tertawa karena dia bisa dengar.

"setidaknya, aku tulus ingin pacaran dengan Yoongi"

Chanyeol dan Taehyung berhenti tertawa, tapi Jongdae malah tertawa semakin kencang setelah mendengar kata-kata Jimin.

Pertempuran mulai terjadi ketika Chanyeol berlari mengejar Jimin untuk menendang pantat seksi itu. Jongdae ikut berpartisipasi dengan melemparkan salju di sekop miliknya ke arah mereka berdua.

"tapi Jimin kan benar. kenapa si bodoh itu harus marah?" Taehyung cukup tenang menonton dari kejauhan.

Lalu seorang pelayan menghampiri Taehyung membawakan tiga cangkir teh hangat untuk mereka.

"Tuan Taehyung, tolong katakan pada Tuan Chanyeol untuk tidak bermain-main dan segera menyelesaikan hukumannya"

"kalau aku boleh tau, kenapa Ayahnya menghukum dengan cara seperti ini?"

"Tuan Chanyeol menghabiskan anggur mahal yang baru saja dibeli oleh Tuan Park"

Taehyung tertawa geli sambil mengangguk karena pelayan itu meminta izin untuk pamit. Dia menghampiri Chanyeol yang masih sibuk menyiksa Jimin.

"jangan bermain-main terus, Ayahmu menyampaikan taman ini harus segera bersih"

"dengar itu Yeol! Jalani hukumanmu sendiri, jangan menyusahkan kami!" setelah berkata begitu Jimin berlari lagi untuk menghindar dari tindakan anarkis Chanyeol.

Dengan kesal, Chanyeol melempar sekopnya ke sembarang arah. "peduli setan!"

"Dennis hyung pulang, kau bisa dimarahi" Jongdae memperingatkan sambil menunjuk sosok Dennis yang baru saja masuk ke dalam rumah.

Sambil berdecak, Chanyeol memperhatikan bagaimana Dennis sibuk berbincang dengan sekretaris Ayah mereka. "jadi dia masih ingat rumah ternyata"

"maksudmu?" tanya Jongdae.

"sejak kemarin dia tidak pulang dan sulit dihubungi. Sepertinya sedang sensitif"

"mungkin saja dia punya rumah baru, dan kau bisa sebebas apapun menguasai rumah ini, Yeol!" pekik Jimin, tapi Chanyeol langsung memukul kepalanya.

"diamlah, Chanyeol harus tetap memperbaiki sifatnya kalau mau dapat warisan" celetukan Taehyung membuat Chanyeol memukulnya juga.

"lagipula, Dennis hyung bukan saudara kandungmu kan" kali ini Jongdae menginterupsi lagi, lebih ke arah memanas-manasi Chanyeol. "seharusnya kau yang berhak atas semua hal yang Ayahmu miliki"

"cih, Ayahku sangat percaya padanya dibandingkan padaku"

"oh iya benar juga, kau kan tukang buat onar" lalu Jimin kena pukulan lagi.

Dennis berjalan menyusuri lorong taman belakang bersama sekretaris untuk menuju ke ruang kerja sang Ayah. dia tidak sama sekali menoleh ke arah mereka yang berdiri tidak jauh dari lorong.

"Dennis hyung!" akhirnya Chanyeol penasaran dan memanggil pria itu. ingin melihat apakah Dennis benar-benar sedang sensitif?

Chanyeol menduga bahwa Dennis kesal padanya karena berkencan dengan Sehun. benarkah itu penyebabnya?

Kembali ia perhatikan tingkah Dennis, tidak menyahut sama sekali dan terus saja berjalan menjauh. Berbeda dengan sekretaris Ayah mereka yang mengangguk tanda memberi salam pada Chanyeol.

Sepertinya dugaan Chanyeol memang benar.

"lihat kan? dia sedang sensitif"

Taehyung memberi tatapan iba, "hah.. seumur Dennis hyung memang seharusnya sudah dapat pendamping hidup"

Dan Chanyeol sangat tau sekali siapa orang yang membuat Dennis berubah menjadi konyol seperti ini.

ChanHun

From: Ibu

Apa kabarmu?

Pesan itu akhirnya sampai ke ponsel Sehun. ia membayangkan apa saja yang selama ini Ibunya lakukan hingga baru bisa memberikan kabar, tapi Sehun tentu tau jawabannya.

To: Ibu

Aku baik. bagaimana dengan Ibu? berjalan lancar dengan Tuan Jaebum?

Sehun tak perlu menunggu pesannya terbalas, dia langsung menyimpan ponselnya kembali di dalam saku mantelnya.

"di sini kau rupanya"

Dia tidak terkejut lagi saat melihat Chanyeol yang menghampirinya. Sehun memang terbiasa duduk di lorong menunggu Joonmyun hingga selesai dari kelas klubnya.

"Joohyuk tidak masuk berhari-hari, kau sedang memikirkannya?" ia duduk di sebelah Sehun dan mengusak pelan rambut pemuda itu.

"aku tidak memikirkannya"

"lalu apa yang membuatmu jadi murung?"

"wajahku memang begini sejak lahir"

"kau memikirkan Dennis─"

"aku tidak memikirkan siapapun, sialan"

Desisan yang tegas itu sukses membungkam mulut Chanyeol. yang lebih tua pun hanya mengangguk dan bersandar ke kursi. Kini dia memperhatikan seluruh gerak-gerik Sehun yang kembali mengeluarkan ponselnya karena terdengar suara notifikasi.

From: Ibu

Semuanya baik-baik saja

Apa ini? jawaban yang agaknya tidak membuat Sehun puas, entah kenapa.

To: Ibu

Makan lah dengan baik

Cuma itu pesan ─yang sepertinya berbunyi agak manis─ untuk Ibu. Sehun menghela napas karena lagi-lagi dia tidak bisa menunjukkan kekhawatirannya dengan baik.

"pesan dari Ibumu?"

"hm"

"kau jarang bertemu dengannya?"

"sangat"

Ia dapat melihat raut wajah Sehun yang lebih mendung dari biasanya. Bukan jutek dan angkuh, tapi mendung.

"apa yang terjadi? Hubungan kalian benar-benar seburuk itu?"

"tidak untuk akhir-akhir ini. mungkin karena dia ingin meminta restu dariku, makanya dia bertingkah sangat manis"

"restu?"

"hm. Ibuku.. bertemu seseorang yang membuatnya nyaman. Begitulah" Sehun menggedikan kedua bahunya.

Chanyeol akui, dia benci melihat Sehun yang benar-benar sedih seperti ini. sejak bagaimana Sehun kehilangan impiannya dalam menari, Chanyeol ngeri melihat Sehun seperti orang yang terkena depresi berat.

Bukankah lebih baik tidak membuatnya semakin badmood? Karena Chanyeol juga akan kerepotan jika badmood Sehun kambuh.

"temanmu itu─ siapa namanya? Aku lupa. dia belum menyelesaikan kegiatan klubnya?"

"Joonmyun. Belum, aku masih menunggunya"

"kirim pesan padanya, kalian tidak bisa pulang bersama dulu hari ini"

"apa? kenapa kau mengaturku seenaknya?"

Tiba-tiba Sehun mendengar suara dari kejauhan, matanya menangkap sosok Yixing dan senior Yifan sedang berjalan bersama ke arah di mana Sehun dan Chanyeol berada. Sehun jenuh sekali, kalau bertemu Yixing pasti pemuda itu akan berceloteh tentang dance lagi.

Chanyeol juga menyadari kedatangan mereka, "Yifan!" dia seenaknya memanggil.

"oh, Chanyeol? ada apa?"

"kau suka pada Joonmyun kan? nanti antar dia pulang, aku harus pergi bersama Sehun. sampai jumpa"

Menurut saja, Sehun tidak sama sekali memberontak saat Chanyeol menggandeng tangannya dan terkesan buru-buru pergi dari lorong itu. bahkan Sehun tidak sama sekali melirik pada Yixing karena dia terlalu jenuh jika harus mengingat tentang kompetisi dance.

Yifan kebingungan dan terus memanggil-manggil nama mereka. dia panik jika harus tiba-tiba ke tahap mengantar Joonmyun pulang, mereka kan baru saja dekat.

Tapi Chanyeol tidak peduli, dia dan Sehun tetap pergi keluar dari gedung sekolah berjalan kaki menikmati dinginnya cuaca.

"wah, tumben sekali kau tidak memukulku?" Chanyeol terkekeh.

"aku malas bertemu Yixing hyung"

"ah.. pasti soal kompetisi itu"

Tanpa keduanya sadari, mereka masih bergandengan tangan dengan manis.

"dia selalu membicarakannya walau dia tau aku merasa kecewa. apa maksudnya? Membanggakan diri? Cih"

"kau merasa dia menghinamu"

"kurang lebih begitu"

Chanyeol kembali menatap Sehun. sungguh, dia suka sekali figur Sehun dari sudut manapun karena anak itu sangat cantik.

"cari lah hobi yang baru. Kesukaanmu bukan cuma dance kan?"

"aku sedang berusaha. omong-omong, kau tidak membawa motormu?"

"tidak. aku sedang kena hukuman dari Ayahku"

Sehun mengangguk-ngangguk, "hukuman yang bermanfaat"

"sialan" decih Chanyeol sambil tertawa pelan.

Mereka tidak saling bicara lagi sampai akhirnya menghentikan langkah kaki di depan pagar rumah Sehun.

Dengan canggung, Sehun melepas genggaman tangan mereka karena merasa kedua pipinya sudah terbakar sampai merah.

"masuk lah. Kelihatannya salju akan turun lagi"

Sehun mengangguk, namun tubuhnya belum benar-benar beranjak untuk meninggalkan Chanyeol.

Perasaan hangat dan manis memeluk hati Chanyeol hingga tak sadar membuatnya tersenyum tulus ketika menatap Sehun. ini berbahaya, tapi Chanyeol akui dia tidak bisa membiarkan Dennis menyentuh Sehun sedikitpun.

"aku senang. kau.. menceritakan keluh kesahmu padaku, walaupun aku tak bisa membantu apa-apa"

Oh tidak.

Itu benar, Sehun baru menyadari bahwa sejak tadi dia dengan mulusnya menceritakan mulai dari tentang Ibu hingga tentang Yixing dan kompetisi dance. di hadapan Chanyeol. pemuda yang seharusnya dia benci.

Pemuda yang seharusnya ia permainkan perasaannya.

"aku pamit, titip salam untuk Ayahmu. sampai jumpa besok"

"Park Chanyeol" secepat mungkin Sehun memanggilnya kembali sebelum Chanyeol benar-benar pergi.

"ada apa?"

Sehun tau apa yang dia pikirkan, dia sedang tidak mabuk ataupun gila, tapi dia ingin mencium Chanyeol untuk ungkapan terimakasih.

Dan dia melakukannya.

Menarik kerah jaket milik Chanyeol, lalu mencium bibirnya dengan lembut. Bahkan kedua kakinya berjinjit lucu karena Chanyeol yang lebih tinggi darinya.

Pada awalnya Chanyeol merasa kaget, namun tentu saja dia tidak bisa menolak bibir manis Sehun yang setiap harinya ia bayangkan dapat kembali ia cium.

Mereka sudah kalah.

Mereka sudah jatuh cinta.

.

.

.

.

.

Tbc.

p.s: maaf untuk update yang sangat lama. Maaf untuk kesalahan dan typonya. Gue harap kalian masih pengen baca ff ini. i love you all~