Disclaimer:
Naruto © Masashi Kishimoto, miliknya kemarin, sekarang, dan nanti
The Voice © Jinsei Megami, cuma ceritanya doang yang Meg punya :'(
.
Rated: T
Genre: Friendship, Romance
Main Pair: Naruto x Hinata
Warning: AU, OOC, Typo(s), selipan liriknya udah dihapus (maap, Meg nggak mau ngelanggar guideline lagi)
.
Summary:
Yuuna, penyiar radio yang dicintai Naruto adalah siswi SMA Konoha. Namun dia masih tidak tahu identitasnya. Satu-satunya jalan agar dia muncul adalah memaksanya tampil di welcoming party. Hanya agar Naruto bisa memastikan perasaannya pada Yuuna, juga pada Hinata. Dan ternyata Yuuna adalah...
.
Read first, baru boleh nilai suka apa nggak... ^^
Enjoy read, Minna~
.
Jinsei Megami Proudly Present
THE VOICE
[chapter 8: jamming with reality]
.
.
.
.
Hari senin biasanya adalah hari yang dibenci para pelajar di manapun. Namun senin ini berbeda bagi para siswa SMA Konoha. Tak ada pelajaran yang membuat pusing. Karena welcoming party –yang bertujuan agar para siswa baru merasa diterima oleh keluarga besar SMA Konoha –digelar hari ini. Di halaman belakang SMA Konoha yang luas. Di mana banyak di tanam pohon sakura yang tahun ini pun mekar dengan lebat dan indah.
Bila lewat depan, mungkin tak ada yang menyangka dengan keramaian yang terjadi di belakang.
Acara sudah berlangsung setengahnya.
Hari sudah menjelang siang.
.
.
.
.
Ino dan Sakura yang jadi presenter di acara welcoming party tersebut. Banyak siswa yang berdiri di depan stage yang hanya setinggi setengah meter itu untuk menikmati suguhan yang diberikan siswa-siswa kelas dua dan tiga. Banyak juga yang menikmati performance sambil duduk di atas tikar dan dibawah guyuran guguran bunga sakura.
Setelah performance dari Kiba dengan menampilkan akrobatik yang dilakukan Akamaru, Ino dan Sakura naik ke stage lagi.
"Arigatou Akamaru..., Kiba... Mudah-mudahan Akamaru nggak menggigit-gigiti tiang stage, ya." perkataan Ino disambut gelak tawa siswa yang menonton, dan Kiba dan Akamaru yang cemberut.
"Just joke, Kiba...," balas Sakura. "Nah next. Aku ingin tanya, ada yang tahu Akatsuki FM?"
"YAA...," seru penonton.
"Biar aku tanya yang sebelah sini. Kalau dengar Akatsuki FM, sukanya dengar acara apa?" tanya Ino.
"TEEN TIME!" jawab beberapa siswa di sebelah kiri stage.
"Kalau yang sebelah sini?" tanya Sakura pada siswa-siswa di sebelah kanan stage.
"TEEN TIME!" Jawaban yang sama dari kubu kanan.
"Oke," kata Sakura lagi. "Kalau suka Teen Time, pasti tahu dong siapa penyiarnya?"
"YUUNA...," seru para siswa serentak. Mereka memang sudah mendengar gosip bahwa Yuuna akan perform di acara mereka.
"SIAPA?" tanya Ino dan Sakura bersamaan.
"YUUNA..." Dan mereka menggila.
"Oke, kita sambut..." Ino membuka dan bersiap memanggil penyiar radio itu. Kemudian berseru dengan Sakura, "YUUNA..."
Tepukan meriah seperti menyambut Yuuna yang akan naik ke stage.
Sepuluh detik.
Sepuluh detik berlalu tanpa ada yang naik ke sana. Sakura dan Ino saling pandang. Ino mendengus. Gadis itu harus dipaksa rupanya. Ino dan Sakura mengerti mereka harus berimprovisasi membagi tugas. Sakura akan mengisi kekosongan sesaat selama Ino membujuk gadis itu entah untuk keberapa ribu kali.
Ino ke backstage dan menemukan gadis itu berdiri diam di pojok dengan gitar usangnya. Dengan beberapa siswa yang menjadi panitia, maupun performer lain yang melihat ke arah gadis itu dengan raut tidak percaya. Sama-sama tidak percaya dengan hal yang sama. Gadis itu ternyata Yuuna? Unbelievable!
"Aku nggak bisa, Ino," katanya tanpa Ino yang mulai.
"Kau bisa. Kau selalu bisa."
"Tapi nggak di depan banyak orang begini. Kau tahu aku malu. Aku nggak bisa, Ino."
"Apa yang menjadi moto Teen Time?" tanya Ino padanya. Mencoba membangkitkan rasa percaya dirinya.
"Speak your feeling, mind, and beats," jawabnya.
"Apakah kau melakukan itu sekarang?" Gadis itu menggeleng. Ino menghela napas. Ia mencoba sabar. "Jadi apakah sekarang kau yang perlu diteriaki moto yang biasanya keluar dari mulutmu lima kali seminggu itu? Apa kau nggak lebih malu kalau begitu?"
"Aku takut aku nggak bagus."
"Rasa takut itu hanya dalam pikiranmu saja. Rasa takut itu nggak nyata. Kau sendiri yang bilang begitu, kan?" kata Ino.
Si penyiar itu mengangguk.
"Sekarang mau naik?"
Gadis yang sekarang mengepang rambutnya ke samping mengangguk mantap.
Ino tersenyum. Dia kembali ke atas stage. Memberikan kode dengan acungan jempolnya pada Sakura yang mulai kehabisan bahan gurauan. Sakura sangat bersyukur.
.
.
.
.
Tepukan meriah memandu gadis itu untuk naik ke atas stage. Namun tepukan itu perlahan berhenti begitu orang-orang yang melihat gadis yang dengan canggung naik ke stage dengan membawa gitar akustik di tangannya.
Mereka tidak percaya. Mungkin ini hanya salah satu lelucon Sakura dan Ino. Gadis itu mana mungkin penyiar yang mereka gemari.
Gadis itu duduk di kursi bar yang sengaja di letakkan di tengah stage dengan stand mic di depannya. Gitarnya sendiri sudah dipasang perangkat wireless.
Sebelum dua presenter itu meninggalkannya, dia ingin memastikan lagi, "Naruto benar-benar nggak ada, kan?"
"Bernyanyi sajalah...," kata Sakura dengan lelah.
"Tunjukkan pada orang-orang yang meremehkanmu itu, Hinata!" kata Ino lagi. "Tunjukkan bahwa mereka salah jika mereka hanya menilai sesuatu dengan mata mereka saja!"
Ya, Yuuna memang adalah Hyuuga Hinata.
Mereka sibuk dengan spekulasinya masing-masing. Sibuk menggerutu kerena dikira telah ditipu atas kehadiran Yuuna. Malah ada yang mencemooh tentang apa yang dilakukan gadis pemalu itu di atas stage. Tak ada yang memperhatikan gadis yang duduk di atas stage dengan gitar di pangkuannya yang sedang memposisikan mic agar sesuai dengan tingginya di atas kursi.
Hinata melihat ke orang-orang di hadapannya.
Hinata juga mulai membuka mulutnya dan bersuara, "Ha-Hai semua... A-aku Hyuuga Hinata, kelas 3.2.. Ta-tapi kadang aku juga mem-membawakan Teen Time. Adik-adik kelas satu, ng... se-semoga kalian se-senang di sini, ya."
Hinata malah berkata dengan terbata-bata. Membuat semua semakin sangsi padanya. Ada yang meremehkannya dan ada teman-temannya yang memandang prihatin dan kasihan padanya. Namun ada juga yang memandangnya penuh harap seperti guru-gurunya. Dia bisa saja turun dan kabur. Tapi itu sama saja mempermalukan dirinya lagi. Terlebih akan menjatuhkan harga diri Sakura dan Ino yang telah bersusah payah demi acara ini.
Demam panggung mulai menjangkitinya. Sial!
Dia mengatur napasnya sesaat.
Ini hanya sesuatu yang sama tetapi berbeda. Bedanya biasanya dia bernyanyi dan bermain gitar hanya di depan Itachi dan satu-dua staf Akatsuki, dan sekarang dia harus tampil di depan lebih dari seratus orang.
Dia ingat pertanyaan Itachi tentang kapan dia akan mau muncul di luar Akatsuki. Dan dia ingat jawabannya.
Saat dia siap.
Dan dia siap sekarang.
Dia pasti bisa. Ya, dia memang bisa.
Hinata mulai memainkan gitarnya dengan indah. Sukses membuat satu persatu perhatian teralihkan padanya dan menoleh dengan penasaran.
Dia bernyanyi. Seperti yang biasa dia lakukan di tiap akhir siarannya. Menyanyikan lagu yang saat ini sangat sesuai dengan keadaan hatinya.
Ia memetik gitar membuat melodi pengiring lagu yang menjadi soundtrack film fenomenal Twilight. Lirik dalam 'A Thousand Years' memang sangat Hinata sekali –setidaknya untuk saat ini –.
Semua orang membelalakkan matanya. Semua orang terpana. Semua orang tak percaya dengan apa yang mereka dengar. Dia tidak lip sing. Berarti ini benar suara gadis itu.
Benar. Suara ini memang suara yang biasa mereka dengar sebagai pemandu Teen Time. Dia memang Yuuna. Kebenaran yang sulit dibenarkan oleh semua orang.
Well, tidak semuanya, sih. Kecuali orang-orang yang memang sudah tahu siapa sesungguhnya gadis itu sebelumnya.
Hinata memejamkan matanya sejenak. Memunculkan wajah Naruto dalam benaknya. mengingat apa yang beberapa hari lalu dikatakan pria itu.
"Hinata-chan, setelah kau pergi kuliah ke luar negeri, apakah kau akan melupakanku?"
"A-aku nggak tahu."
Dia membuka matanya lagi. Bukannya 'tidak tahu'. Tentu saja dia tahu. Hinata tak mungkin melupakan Naruto. Walaupun jarak dan waktu memisahkan mereka nanti, walaupun mungkin bukan Naruto jodoh yang ditakdirkan Tuhan untuk Hinata. Cinta pertama selalu mempunyai kesan tersendiri. Hinata tak mungkin melupakan Naruto.
Sial! Berarti akan sulit baginya untuk move on.
Hinata tersenyum. Dia memang bodoh. Huh, siapa suruh kau jatuh cinta pada Namikaze Naruto, Hyuuga Hinata? Namun sampai waktunya nanti, dia telah memutuskan untuk tetap sabar menunggu.
Sementara itu, di backstage di mana dua gadis dan satu pemuda berdiri, sang pemuda tak mengalihkan pandangannya sedetikpun dari satu titik di atas stage. Iris sewarna langit siang itu tak membulat lagi seperti awal dia melihat dan mendengar Hinata bernyanyi di atas stage. Matanya berkilat dengan tatapan teduh mendamba. Awalnya diapun seperti yang lain saat melihat Hinata naik ke atas stage di saat seharusnya Yuuna-lah yang naik. Dia kira ini salah satu lelucon sepupu dan sahabatnya dan wujud pengejekan terhadap dirinya.
Tapi ternyata bukan.
Inilah kebenaran yang dikatakan Sakura yang harus dilihat dengan mata dan didengar dengan telinganya sendiri. Dia mungkin tak akan percaya jika tak menjadi saksi mata.
"Jadi bagaimana? Apa yang akan kau lakukan selanjutnya?" tanya Sakura di samping Naruto. Matanya masih memandang temannya yang ternyata mempunyai suara seindah pemiliknya.
"Nge-jam," jawab Naruto sambil membuka koper gitar yang dibawanya, dia memasangkan wireless pada gitarnya yang barusan diberikan Sai selaku seksi perlengkapan. "Saat pertama kali kudengar dia siaran dan bernyanyi di Teen Time, yang kupikirkan saat itu adalah aku ingin sekali nge-jam dengannya. Aku memang pernah melakukannya. Tapi saat itu aku kan nggak tahu dia itu Yuuna."
"Kapan kau nge-jam dengannya?" tanya Ino penasaran.
"Nggak akan kuberi tahu," balas Naruto. Dia tidak mau menambah bahan gosip sepupunya.
Di atas stage, Hinata melihat Sai yang naik ke atas panggung lewat sudut matanya. Cowok yang selalu tersenyum itu membawa sebuah kursi bar dan stand mic lagi dan diletakkan satu setengah meter di sebelah Hinata. Dia hanya berpikir itu untuk persiapan perform selanjutnya. Dia tetap konsentrasi pada lagunya.
Tanpa dia sadari satu orang lagi naik ke stage setelah Sai turun.
Pria itu menyentuh fedora hat coklatnya dan sedikit memiringkannya. Ia lalu berjalan sambil menarik lengan jaketnya bergantian kanan dan kiri sampai ke bawah sikunya.
Dia memutar gitar yang diselempangkannya di punggung ke depan. Tapi matanya tak lepas dari sosok Hinata yang kini mengenakan flowing dress selutut warna soft lime dengan tambahan jaket kulit warna krem dan dilengkapi dengan flat shoes warna khaki dengan aksen pita. Rambutnya yang dikepang satu hanya disampingkan ke depan melewati bahu. Sederhana tapi terlihat anggun. Dia tidak pernah salah tentang Hinata.
Hinata memang indah.
Naruto masih melangkah. Selangkah...
Demi selangkah.
Naruto pun duduk di kursi kosong.
Hinata masih tak sadar Naruto ada di sampingnya.
Para siswa, guru, dan staf yang menonton mereka bertepuk tangan dengan riuh.
Hinata tak mengira alasan mereka begitu riuh adalah karena sesuatu semeter di sebelahnya. Dia baru saja akan menyanyikan lirik selanjutnya saat petikan gitar beda koord yang dengan cerdas dibuat menyatu dibagian peralihannya menyalipnya.
Spontan langsung membuat Hinata langsung menolah ke sebelah kirinya. Hinata langsung terperangah. Hinata tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Dia hanya memandang Naruto, tidak percaya dengan penglihatannya. Naruto sedang memainkan gitarnya.
Pandangannya tidak ke arah penonton. Pemuda itu memandang tepat ke mata amethys Hinata. Berhubung Hinata juga sedang memandangnya, pandangan mereka beradu. Kali ini tak ada satupun dari mereka berdua yang berniat mengalihkan pandangannya. Maka dari itu Naruto pasti bisa melihat keterkejutan di mata Hinata.
Naruto? Di sini? Bukankah kata Sakura, Naruto sedang dalam perjalanan udara menyusul orang tuanya ke Macau? Sebenarnya ingin bertanya pada Naruto, tapi di cepat tersadar. Apa yang mau dia tanyakan? Semuanya jelas. Teman-temannya telah membohonginya. Teman-temannya menjebaknya.
Persetan dengan rasa malu. Persetan dengan harga diri. Dia ingin cepat pergi dan menghilang dari sini. Dia ingin segera mengubur dirinya sendiri di hutan Nara bersama dengan para rusa, atau mungkin terjun dari tebing Hokage. Sekarang sebelum...
Sebelum Naruto mulai bernyanyi dan menghancurkan niatnya. Kalau begini, mana bisa dia pergi?
Di saat Hinata membisu, Naruto malah bersuara. Memulai bait pertama dari lagu 'Just The Way You Are'-nya Bruno Mars. Menyisipkan pesan tentang betapa mengagumkan Hinata. Terlepas gadis itu Yuuna atau bukan, Hinata tetaplah Hinata. Gadis yang membuatnya terpukau.
Bagi Hinata, terlambat untuk pergi. Terlanjur. Naruto pastilah sudah tahu siapa sebenarnya Yuuna. Entah apa yang akan dilakukan Hinata. Dia bingung. Dia hanya mampu memandang Naruto yang seakan memakunya di kursi itu tanpa bisa beranjak atau menoleh sedikitpun. Seakan ada belenggu tak kasat mata di sana.
Membuatnya terbang, tenggelam, dan meleleh sekaligus.
Mata lazuardi Naruto terus saja menatap lurus Hinata dengan teduh. Ternyata Yuuna yang dicintainya adalah Hinata yang juga mulai mengisi hatinya.
Kini dia hanya harus membalas perasaan Hinata dengan perasaan yang sama yang lebih kuat. Kini dia hanya harus menjaga gadis itu sebaik-baiknya dan mencintainya dengan tulus.
Naruto bangkit dari kursinya. Memutar gitarnya ke belakang tubuhnya. Berjalan tiga langkah menghampiri gadisnya yang duduk dengan gitar usang yang pernah Naruto lihat di ruang siarnya di pangkuannya. Mata Naruto dengan intens memandang Hinata. Membuat Hinata harus menahan debaran jantungnya yang makin abnormal.
Naruto mengakhiri nyanyiannya tepat didepan wajah Hinata. Dibanding bernyanyi, lebih tepat jika dibilang bicara.
Tangan kanan Naruto menyentuh belakang kepala Hinata. Mengunci kepala Hinata. Dan Naruto mengecup kening hinata lembut dan lama. "I'll love you too for a thousand more, Hinata-chan. Thank you for loving me."
Hinata makin tak bergeming. Matanya yang indah itu masih membulat tak percaya. Dia tak yakin dengan apa yang barusan menimpanya.
Apa barusan Naruto mengecup keningnya? Apa yang didengarnya benar? Bahwa tak sampai setengah menit yang lalu, dari bibir yang kini tersenyum manis di depan wajahnya itu keluar pernyataan cinta untuknya? Hanya untuknya? Apakah akhirnya kini dia mendapatkan buah dari kesabarannya menunggu selama ini?
Oh, Kami-sama..., apakah ini nyata?
Hinata merasakan jantungnya berdetak abnormal. Mungkin kelenjar pankresnya sedang memproduksi adrenalin yang berlebihan, sehingga debaran jantungnya bisa secepat ini. Dan jika sekarang di dadanya menempel alat electro cardiograf, mungkin garis-garis vertikal diagonal di sana sudah melewati normal. Mungkin sebentar lagi dia akan kena serangan jantung.
Para siswa bertepuk tangan riuh. Mereka bahkan berteriak menggila. Pipi gadis-gadis yang melihat adegan itu merona, tak terkecuali Sakura dan Ino.
Ino yang merekam kejadian itu dari awal di hadapan mereka jadi sesak napas, Wajahnya memang memerah. "Sial! Aku nggak percaya mereka bisa se-cute itu."
Naruto yang melihat sepupunya merekamnya, kali ini tidak berkeberatan. Hanya kali ini.
"Sebentar lagi," gumam Sakura sambil melihat ke jam tangannya. Ino menoleh pada sahabat pink-nya itu. Apanya yang sebentar lagi? Sakura meneruskan, "2..., 1..." Sakura menghitung apa, sih? "Sekarang!"
Dan Hinata pingsan.
Ino menoleh ke Hinata, lalu ke Sakura. Ternyata dia sedang menghitung kapan Hinata akan pingsan. Yah, dia mengerti, sih. Mereka saja tidak kuat dengan adegan itu dan berdebar-debar, apalagi si gadis pelakonnya?
Mereka berniat naik dan membantu, tapi para sensei sudah berdatangan.
"Apa yang kau lakukan pada Hinata, Naruto?" seru Shizune sudah ada di sisi Hinata. Menyangga punggung Hinata, menggantikan lengan Naruto di sana.
Naruto menjadi kaku dan kikuk ketika Hinata dibopong oleh Yamato-sensei dan dibawa ke UKS. Naruto mengikuti sambil membawa gitarnya dan gitar Hinata. Meninggalkan orang-orang dan bisik-bisik mereka.
Ino mematikan handycam-nya dan berdua dengan Sakura kembali memandu acara. Menenangkan para siswa yang ribut berspekulasi atas kejadian yang baru mereka saksikan. Ino dan Sakura sudah seperti anjing penggembala domba saja.
.
.
.
.
Hinata sudah dibaringkan di atas tempat tidur di ruang UKS. Tsunade malah ikut ke sana. Ikut menyalahkan Naruto, "Naruto..., apa yang kau lakukan, bocah?"
"Apa yang aku lakukan?" Naruto membela dirinya, "Baa-chan tadi kan lihat sendiri aku hanya bernyanyi."
"Dan menciumnya –"
"Di dahi. Hanya di dahi, Baa-chan!"
"Tapi lihat apa akibatnya, bocah! Dan jangan panggil aku 'baa-chan'! AKU MASIH MUDA!"
"Ya...,ya... Kalau umur enam puluhan itu bisa dibilang muda," gumam Naruto sambil memutar matanya.
"AKU DENGAR, BOCAH!"
"Ngh..." suara itu berhasil mendiamkan mereka. Mereka menoleh ke sosok yang mula membuka mata setelah dirangsang indera penciumannya dengan wewangian oleh Shizune.
Hinata melihat banyak orang di ruangan dengan bau chlorin itu di sekelilingnya. Dia mencoba duduk, tapi ditahan oleh Naruto. Naruto takut gadis yang disayanginya itu belum kuat. Hinata mengatakan bahwa dia baik-baik saja dan memohon maaf kepada semuanya jika dia selalu menyusahkan banyak orang. Hinata juga meminta maaf kepada Naruto.
"Apanya yang harus dimaafkan sih, Hinata-chan?" balas naruto tetap sambil cengengesan.
Para sensei saling berpandangan. Sepertinya mereka sudah tidak diperlukan lagi di sini, kecuali Tsunade yang harus diseret oleh Shizune agar meninggalkan tempat itu.
Mata Naruto mengikuti para sensei dan nenek tua itu sampai mereka keluar ruang UKS.
"Ng..., Na-Naruto-kun." panggilan Hinata membuatnya menoleh.
Naruto duduk di tepi tempat tidur dan memandang Hinata. "Ya?"
"To-tolong. Tolong ka-katakan padaku kalau welcoming party belum mulai," pinta Hinata sambil menunduk dan memainkan selimut dengan tangannya.
Naruto menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. Dia malah nyengir. "Hehehe... Bagaimana ya, Hinata-chan. Soalnya acaranya sudah mulai dari tadi, malah sepertinya sudah mau acara puncak, tuh."
Hinata mengangkat wajahnya, berarti...
"Kenapa, Hinata-chan? Kau berharap jam session kita tadi mimpi, ya? Kau kira ciuman di dahimu nggak nyata, ya? Wah..., kalau kamu mengharapkan begitu aku kan jadi sedih, Hinata-chan." Naruto sengaja menggoda Hinata, wajah jahilnya muncul. Dia kini senang jika wajah merona Hinata muncul. Karena kini dia tahu, wajah yang bersemu itu karena dirinya. "Padahal aku sudah susah payah merajuk pada Sakura agar mau membujukmu dan mau membohongimu, tahu. Aku juga sudah merelakan Ino merekam aksiku tadi, padahal dia pasti menggunakan itu sebagai bahan gosipnya berminggu-minggu."
Wajah semu Hinata tambah merah. Tapi kali ini ditambah rasa bersalah. "Go-gomen..."
"Eh? Kenapa kau yang minta maaf? Harusnya aku yang minta maaf."
"U-untuk?"
Naruto bergeser lebih dekat dengan Hinata. Dia memajukan wajahnya lebih dekat juga. "Untuk ciuman di dahi itu. Maaf ya, nggak minta izinmu dulu. Kuharap kau nggak merasa dilecehkan."
"Ke-kenapa ka-kau men-menciumku, Na-Na-Naruto-kun? Kenapa kau melakukan itu?"
"Karena aku mau."
"Padahal ada orang lain yang kau sukai."
"Eh?" Naruto menegakkan tubuhnya dan tertawa lepas, "Hahaha... Hinata... Ma-masa kau..., masa kau cemburu pada dirimu sendiri? Masa kau nggak sadar bahwa apa yang kau lakukan tadi lebih dari sekedar kata-kata untuk membuktikan siapa kau dan siapa Yuuna? Kau lucu sekali sih, Hinata-chan. Aku makin gemas melihatmu."
"Ta-tapi..., tapi tetap saja yang ka-kau sukai adalah sosok Yuuna dan bukan Hyuuga Hinata," balas Hinata meminta penjelasan lebih dari Naruto.
"Ya ampun, Hinata-chan... Oke, aku akan mengakui sesuatu. Ini sungguhan. Sebenarnya aku sendiri sebenarnya sedang galau karena mencintai dua orang sekaligus. Aku suka dengan kelembutan dan kebaikan hatimu, tapi disisi lain aku juga suka dengan kebahagiaan yang ditebarkan Yuuna. Kau tahu? Saat mendapati ternyata Yuuna dan Hinata-chan adalah orang yang sama, aku senang sekali. Aku benar-benar lega. Aku bahagia."
Hinata blushing. Lagi.
Naruto mengambil gitarnya dan menyerahkannya pada Hinata, "Mulai sekarang gitarku ini milikmu, aku nggak mau ada gitar milik orang lain yang ada di pangkuanmu. Kenapa kau melihatku begitu? Iya, aku tahu, aku tahu gitar yang kau pakai tiap kali bernyanyi di akhir acara Teen Time itu punya Itachi. Sasuke yang bilang. Aku mau kau memainkannya setiap kau bermusik. Aku nggak rela kau pakai gitar itu lagi."
Hinata menatap gitar di pangkuannya. Mata Hinata membulat. Dia tahu gitar ini. Gibson Acoustic tipe SJ-250 Monarch. Gitar yang sekarang berada di tangannya sekarang ini bukanlah gitar sembarangan. Gitar yang luar biasa bagus. Terakhir kali Hinata mengeceknya waktu dia mengambil tema tentang gitar di Teen Time, harga barang ini sekitar 25.000 dollars. Gitar yang mahal sekal.
"A-aku yang masih pemula pakai gitar yang biasa saja, Naruto-kun."
"Kau bicara apa sih, Hinata-chan? Lagipula, permainan gitarmu sudah seperti gitaris profesional, lho."
Hinata makin memerah.
"Kenapa kau bisa berbeda 180 derajat saat siaran? Apa karena aku?" Naruto sudah mulai besar kepala. Narsisnya kumat hanya karena Hinata. Hinata mengangguk. Tapi sepertinya narsisnya beralasan. "Apa yang sudah kulakukan memangnya?"
"Bagiku, kau motivatorku."
Kini giliran Naruto yang blushing sambil nyengir dan menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. "Wah, aku jadi malu. Dan apa sikap kikukmu itu juga karena aku?"
Dia tidak bermaksud apa-apa menanyakan kebiasaan Hinata yang itu. Dia hanya punya feeling kalau itu juga ada hubungannya dengan dirinya. Naruto makin besar kepala saja.
Hinata mengangguk lagi. "Entah kenapa aku selalu begitu kalau ada kamu, Naruto-kun."
Naruto benar-benar tak tahan melihat kelakuan Hinata yang seperti itu.
"Kamu lucu banget sih, Hinata-chan. Menggemaskan!" Naruto memeluk Hinata erat, Hinata hampir pingsan lagi, "Ya ampun Hinata-chan... Bagaimana ini kalau kau begini terus?"
"Eh?"
"Soalnya kan, mulai sekarang aku akan sering begini." Lalu Naruto mengelus kepala Hinata, "Begini." Lalu menangkupkan kedua pipi Hinata dalam kedua tangan Naruto, "Begini." Kemudian menautkan jemari Hinata dengan jemarinya, "Begini." Dan memeluk Hinata, "Dan..." Naruto kembali menangkup pipi hinata dan memandang lembut gadis itu, "Begini." Menempelkan bibirnya ke bibir ranum Hinata.
Baru sedetik Naruto menciumnya, Hinata pingsan lagi.
"Ah, Hinata-chan!" serunya. Lalu berteriak memanggil guru UKS-nya, "SHIZUNE-SENSEI... TOLONG! HINATA-CHAN PINGSAN LAGI."
Tapi malah kepala sekolah Tsunade yang datang, "APA LAGI YANG KAU LAKUKAN, BOCAH?"
"Baa-Baa..., Baa-chan?"
.
.
.
.
[the end? not exactly, actually]
[please wait for epilogue...]
[a/n]
Last chapter! Wow! Nggak kerasa, ya? Hahah..., yaiyalaaah, Meg update fic ini tiap hari... (-_-)a
Yup! Yuuna emang Hinata. And Yup! Yuuna dari h-YUU-ga hi-NA-ta. Meg emang nggak bisa nyari nama yang lebih misterius, sih. Yaudah, Yuuna ajah. Lagian nama Yuuna itu menurut Meg kesannya manis, sama kayak Hinata. Dan kayaknya cuma karakter-karakter di sini aja yang nggak sadar Yuuna siapa. Hahah...
Abisnya, kan banyak juga orang-orang yang punya suara sama, kayak mama & tante-tante Meg. Sumpah ya, Meg pernah ketipu ditelpon ama tante Meg, Meg kira itu mama Meg. Sial! *curcol* Makanya mereka nggak pada nyadar Yuuna itu siapa, apalagi Hinata pemalu gitu.
Akhirnya ada romantic scene NaruHina juga... *yah, walau segitu doang sih, romance-nya... (-_-)a
Maapin banget kalo akhir fic ini kayak gini, Meg juga nggak bisa bikin ini jadi 100 chapters (ng... siapa ya, yang minta gitu?), walaupun Meg mungkin bisa aja sih masukin konflik yang lebih rumit, tapi nanti nggak ada yang mau baca lagi, & takutnya Meg jadi blank, gimana dong?
Untuk fic perdana Meg emang mutusin ngambil tema yang ringan-ringan aja, soalnya kalo yang konflik yang berat Meg butuh semedi dulu kayaknya. Meg takut malah uncomplete. Kan Meg masih newbie... Mungkin di fic Meg selanjutnya?
Maap ya, kalo ada yg kecewa ama fic ini, tapi untuk kesekian kalinya Meg terima kasih banyaaaaaak... buat readers & reviewers semua yang udah baca fic Meg sampai chapter ini, yang nge-review chapter kemaren: Hoshi no Nimarmine... angle... scorpion vx... Izkaa lovnh... Armelle 'AquaMar' Eira... Fran Fryn Kun... livylaval... Algojo...
lawliet uzumakie: "Iyaya? Cepet banget... soalnya Meg update tiap hari sih, ya?"
guest (yg kemaren): "Hei, kamu! Mana Meg tau dirimu muhrim-an ama Meg apa nggak?!" *Haaah... emang nggak bisa meluk ya?* Hahaha
.
Ini memang udah chapter terakhir, tapi Meg bikin epilog, soalnya di depannya kan ada prolog. Baca epilognya juga ya...
Please review...
