Are We Friends?
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Genre : Romance
Rating : T+
Warning : AU! Typo(s), agak nganu/?
.
Enjoy guise~
.
.
Kiba melonggarkan dasinya, ia baru saja rapat dengan para petinggi hotel. Rencana pembangunan hotel cabang baru di Sapporo sangat sulit mencapai kesepakatan. Kalau masing-masing orang terus berselisih paham, bisa-bisa makin lama juga pihak donatur mencairkan anggaran. Hal ini hanya membuat Kiba si bos pemalas harus memutar otak lebih cepat dari biasanya.
Ia lantas masuk ruangannya sendiri sambil membanting pintu. Di depannya kini ada laptop yang menyala, banyak email masuk tapi ia belum sanggup membacanya.
"Sekretaris Hinata Hyuuga, segera masuk ke ruangan saya." Kiba bicara lewat speaker yang ada di mejanya.
Tak perlu waktu lama bagi Hinata untuk masuk dengan raut bingung. Pekerjaannya saja membuat laporan beberapa jam yang lalu belum beres, sekarang sudah ada panggilan lagi.
"Ada masalah apa pak?"
Kiba menunjukkan laptopnya ke depan kursi Hinata yang baru saja duduk. "Baca semua email yang masuk."
Hinata menatap lelah bosnya yang selalu memaksa. "Semua pak? Tapi totalnya ada dua ratus lebih pesan."
Kiba melotot untuk membuat Hinata diam. "Bacakan saja, oke? Yang kira-kira penting dibalas, yang tidak penting diamkan saja."
"Baik pak."
Dalam hati Hinata meraung karena tidak tahu harus bagaimana membalas pesan milik bosnya ini, apalagi kalau email yang masuk ternyata berisi pesan pribadi.
"Oh, kebanyakan hanya relasi bapak yang meminta bergabung dengan hotel ini. Apakah perlu saya balas?"
"Bergabung? Maksudnya?"
Sudah dibilang bergabung ya bergabung, kenapa masih saja tidak paham sih? Dasar minta dipukul kepala si bos ini.
Hinata ingin mengumpat kalau saja dia tidak ingat dirinya hanyalah karyawan baru.
"Ya bergabung pak, mereka mau menanamkan saham di hotel bapak."
"Oh," Mulut Kiba membulat sempurna.
"Biarkan saja aku yang membalas itu nanti. Lalu, ada yang lain?"
Hinata mengangguk. "Ada beberapa berkas lamaran kerja juga."
"Lamaran kerja? Kenapa mereka mengirimkannya ke emailku?"
Hinata terkikik pelan. "Mungkin mereka baru pertama kali mendaftar kerja, jadi salah informasi."
"Ya sudah, yang itu diamkan saja."
Hinata mengangguk, ia hampir keluar ruangan kalau saja Kiba tidak menahan lengannya.
"Mau kemana? Aku belum selesai bicara."
"Oh, bapak butuh bantuan lain?"
Kiba mengangguk. "Tentang penawaranku minggu lalu, apa kau sudah setuju?"
Awalnya Hinata tidak mengerti, karena tentunya ada begitu banyak hal yang sudah ia bicarakan dengan Kiba, dan semuanya masalah pekerjaan. Tapi kalau soal penawaran yang sudah sempat dibahas, agaknya Kiba memintanya untuk pindah rumah lagi.
"Ah tentang itu, saya…"
"Ayolah, temani Ino. Aku ingin dia punya banyak hal untuk dilakukan, daripada menceramahiku terus."
Oh, ternyata permintaan ini hanya menyangkut kepentingan dirinya saja. Pantas saja dari awal Hinata tidak percaya saat Kiba bilang jarang pulang, kerjaannya saja hanya duduk di ruangan seharian. Andai Kiba bukan bosnya, Hinata sudah menolak dari jauh-jauh hari.
"Baiklah, saya akan pindah ke rumah teman bapak."
Untuk kali ini saja, ia akan biarkan si bos ini mengaturnya.
"Tapi bulan depan, karena sewa rumah saya masih berjalan."
Senyum di wajah Kiba kian mengembang. "Tentu tidak masalah."
Malam ini Kiba agak pusing karena menatap layar laptop lama sekali. Ia membalas email yang diterima Hinata tadi siang, memilah kalimat yang bagus untuk menyetujui beberapa investor yang ingin bergabung. Kiba sedang dalam masa gawat darurat untuk segera menyelamatkan hotel milik ayahnya. Cabang hotel di Sapporo harus segera dibangun.
Kiba menengok sofa panjang di sampingnya, yang mana ada Ino sedang tertidur lelap sambil meringkuk.
Ino memang selalu ke rumahnya tiap malam, menyiapkan makanan. Terkadang Kiba merasa kasihan karena Ino sendiri pasti lelah setelah seharian bekerja, tapi tidak pernah berhenti peduli barang sedikitpun pada tetangga yang tidak tahu diri ini.
Ino menggeliat dalam tidurnya dan meringkuk lagi. Dia pasti kedinginan.
"Huh, kenapa kau tak ambil selimut sih tadi?"
Kiba bangkit berdiri, berjalan menuju kamar dan meraih satu selimut yang baru dicuci dari dalam lemari. Ia segera keluar lagi dan memakaikan selimutnya ke atas tubuh Ino.
Selesai mengurus si bayi besar, Kiba segera duduk kembali untuk mengurusi email yang belum tersentuh. Tapi ternyata angin malam berhembus kencang lewat jendela yang sedikit terbuka, dan membuatnya yang hanya memakai kaos lengan pendek jadi kedinginan.
Malas menutup jendela, akhirnya Kiba memutuskan untuk tiduran di samping Ino. Walaupun sisa tempat di sofa hanya tinggal sedikit, tapi ia tetap memaksa untuk tiduran, membuat Ino menggeliat lagi dan meluruskan kaki.
"Aku akan tiduran sebentar di sini."
Toh memang sejak kecil mereka sering tidur berdampingan begini di ruang tamu, jadi Kiba pikir Ino tidak akan marah kalau ia menumpang tempatnya sebentar.
"Selamat malam Ino, mimpi indah."
Begitu baru saja menutup mata, Kiba justru tidak bisa tidur. Ia membuka mata lagi, setengah membelalak. Pasalnya Ino yang sedari tadi mencari posisi tidur lebih nyaman justru memeluk perut Kiba.
Desir di hati Kiba muncul lagi, dan ia meneguk ludah saking groginya. Ia sendiri tidak tahu kenapa perasaan seperti ini muncul secara tiba-tiba, dan hanya pada Ino saja ia merasakannya. Padahal kalau ditengok dari durasi pertemanannya, ia dan Ino sudah saling mengenal satu sama lain dalam jangka waktu yang lama.
Yang begini biasa saja dalam pertemanan, bukan?
Ia lantas berusaha mencondongkan wajahnya ke wajah Ino. Astaga, bau alkohol. Rupanya sebelum ke sini Ino sudah mabuk, dan Kiba tidak tahu sama sekali karena fokusnya hanya pada email.
"Kau ada masalah, Ino? Kenapa tidak ceritakan padaku?"
Tapi Ino jelas diam saja, pengaruh alkohol tidak mungkin membuatnya bisa bangun hanya karena mendengar suara lirih Kiba di samping telinga.
.
.
.
TBC
.
Hey, maaf menghilang beberapa bulan. Aku sibuk apply dan resign kerja (jgn ditiru, hehe).
Semoga semua yang baca masih ingat sama alur cerita ini, wkwk. Soalnya aku sendiri lupa. O_o
Ya sudah itu saja, ketemu lagi chapter depan. Bbay, wuuush~ *ngilang lagi*
P.S: check ombak dulu ya, kalau masih ada yang baca, baru aku lanjutin. :P
