Chapter 9
Karena kejadian kemarin aku mendapat izin dari Bu Shizune untuk tidak mengikuti MOS. Tetapi hukuman membersihkan gudang belakang sekolah tetap dilaksanakan. Dan sekarang disinilah aku berada bersama Sasuke dan perlengkapan kebersihan yang kami pinjam dari Cleaning Service sekolah ini. Lagi-lagi Sasuke tak mau bicara padaku. Aku bingung sebenarnya dia marah kenapa sih?
Saat selesai pun sama saja, dia malah meninggalkanku sendiri di gedung ini dan membawa pergi semua alat kebersihan itu. Padahal gudang ini belum seratus persen bersih. Lihat saja, masih ada banyak debu di atas piano tua ini. Huh..
Saat di kamar kulihat Sasuke sedang berganti pakaian. Tak ada Sasori di kamar ini, tapi kudengar bunyi gemericik air dari kamar mandi, pasti Sasori sedang mandi. Sasuke hanya melirikku sekilas dan berjalan keluar kamar. Aku ikuti dia dan ternyata dia menuju ke lift. Saat pintu lift tertutup, kuamati angka lantai lift yang berganti-ganti. Dan ternyata angka menunjukkan lantai lima alias atap gedung ini. Saat pintu lift terbuka aku masuk dan menekan angka lima, untuk menyusul Sasuke.
TING
Pintu terbuka dan menampilkan sosokku dengan kaos putih longgar dan celana training pendek selutut yang menampilkan kakiku yang menurutku lumayan putih dan panjang. Sasuke melihat ke arahku dan menaikkan satu alisnya. Dan setelah itu, mengalihkan wajahnya ke arah lain dan tak menghiraukan kehadiranku. Lalu, aku berdiri di sebelahnya.
"Sasuke", panggilku.
"...", tak ada jawaban.
"Sasuke", panggilku yang kedua kalinya.
"...", tak ada jawaban lagi yang membuatku sedikit naik pitam, tapi kucoba bersabar. Mungkin panggilanku kurang keras.
"Sasuke", panggilku sekali lagi tapi dengan keras.
Dia hanya menoleh dan kemudian mengarahkan wajahnya ke arah lain lagi. Huh.. sungguh menyebalkan. Saking sebalnya, kudorong dia dan kupegang kerah bajunya. Dia hanya menatapku tanpa ekspresi.
"Kau kenapa sih? Dari kemarin kayak begini terus? Kamu marah sama aku? Kalau marah ngomong aja!", ucapku dengan wajahku yang cukup dekat dengan wajahnya.
Dia hanya diam, dan itu benar-benar membuatku naik pitam. Kudorong dadanya dengan tanganku dan meninggalkannya. Tapi belum sempat aku pergi jauh, ia sudah memegang pergelangan tanganku. Kupandangi dia dengan tajam dan dia hanya diam tanpa ekspresi seperti tadi.
"Kalau nggak mau ngomong, nggak usah narik-narik tanganku", ucapku tak sabar karena sebal.
"...", huh.. tak ada jawaban. Dia bisu atau apa sih?
"Kalau nggak ngom..", kejadian begitu cepat, sehingga sekarang posisiku sekarang seperti Sasuke yang kupegang kerahnya tadi tetapi Sasuke tak memegang kerah bahuku melainkan kedua tangannya ada di kanan dan kiri kepalaku. Dia tiba-tiba menciumku dan melepaskan bibirku secepat ia menciumnya. Aku terbelalak kaget. Itu ciuman pertamaku, dan lelaki di depanku ini telah mengambilnya. Tidak...
"Sasuke", ucapku tak jelas yang malah terdengar seperti bisikan.
"Gaara, aku tahu ini salah. Tapi itulah yang kurasakan kepadamu. Saat di bus, pertama kali kita bertemu, aku sudah merasakannya. Aku tahu ini benar-benar salah, dan aku tak suka kau berbicara tentang gadismu itu. Bagaimana kau memujanya dan menyebut namanya. Aku tidak suka", dia memandangku dengan tatapan yang sulit aku artikan.
"Sasuke..", aku tak bisa berkata apa-apa. Karena memang yang kurasakan sekarang memang sama seperti apa yang dirasakan Sasuke.
"Mungkin lebih baik kita menjaga jarak, agar aku bisa berpikir jernih dan melupakanmu. Aku juga akan tukar kamar dengan seseorang dari kelas lain", ucapnya lalu meninggalkanku. Aku tak bisa bergerak dan hanya manatap punggungnya meninggalkanku.
Aku berpikir sejenak, aku tak ingin kehilangan orang yang menyukaiku dan kusukai. Aku tak ingin menyesal nantinya. Untuk urusan 'kebenaran' aku akan memberi tahunya belakangan. Yah.. memang seperti itu.
Aku melihat ke arah Sasuke dan ia masih belum jauh. Kukejar dia dan kupeluk ia dari belakang. Dari ketegangan yang kurasa di tubuhnya aku yakin ia terkejut.
"Sasuke, jangan..", aku tak bisa melanjutkan kalimatku.
"Jangan apa?", tanyanya padaku. Lalu ia berbalik dan memegang bahuku. Aku hanya menunduk.
"Jangan apa, Gaara?", tanyanya padaku sekali lagi.
"Jangan.. jangan pindah kamar. Jangan berhenti menyukaiku", aku memberi jeda karena aku malu mengatakannya, "karena aku juga menyukaimu", aku berhenti bicara saking malunya.
"Tapi kau sudah punya kekasih. Bagaimana kau bisa menyukaiku, hm? Bukannya kau sudah lama dengannya?".
"Memang seperti inilah kenyataannya. Aku menyukaimu, seseorang yang baru beberapa hari ini kukenal. Aku sudah tidak menyukai gadis yang selama ini menjadi pacarku. Dan juga kau seorang laki-laki, sama sepertiku. Aku tahu ini salah, tapi aku tak ingin menyesal nantinya. Soal Ino, aku akan bicara padanya. Kalaupun tak bisa bicara dengannya, aku akan tetap bersamamu", ucapku sambil menangis. Maaf Gaara, aku membuatmu namamu malu di depan Sasuke. Tapi ini satu-satunya cara agar aku tak menyesal. Sungguh maaf, Gaara..
"Hei, kenapa menangis, hm? Jangan menangis", ucapnya sembari menghapus aliran air mata di pipiku, "Kau laki-laki bukan, sih? Jangan menangis, oke?".
Aku mengangguk, padahal aku di sini laki-laki, tapi aku menangis di depannya. Aku benar-benar terlihat lemah. Maaf Gaara, sekali lagi maaf..
"Jadi, kita akan mulai hari ini?", tanyanya padaku.
Aku mendongakkan kepalaku dan menatapnya. "Apa maksudmu?", tanyaku.
"Ya.. mulai, mulai segalanya".
"Aaa.. hmm", kurasakan darah mengalir di sekitar pipiku dan membuat pipiku panas, "Iya. Mungkin iya. Dan soal Ino, mungkin kita harus berpura-pura dulu di depannya. Aku tak tahu harus bilang seperti apa kepadanya".
Kulihat Sasuke mengernyit tidak suka dan berkata, "terserah soal dia".
"Sasuke, tapi aku harus mencari alasan yang tepat untuk memutuskannya. Sungguh, beri aku waktu untuk bicara dengannya. Hanya di depannya kita berpura-pura teman. Oke?", ucapku padanya.
"Hn, terserah", ucapnya ambigu, tetapi membuatku senang.
Aku mengeluarkan HP dari kantong celana trainingku. Dan mengetik pesan untuk Ino, agar bertemu di taman nanti jam sembilan. Mengingat ini sudah jam tujuh. Aku selesai mengetik pesan untuknya dan mengembalikan HP-ku ke kantong.
"Ada apa?", tanyanya padaku.
"Tidak, tidak ada. Besok orang tuaku ke sini membawakan aku obat untuk kebutuhan bulananku", ucapku.
"Oh.. sepertinya bila jadi, malam Sabtu kakakku, Itachi, akan kemari. Kau akan kukenalkan dengannya", ucapnya. Aku tak tahu sejak kapan topik tentang Ino berubah menjadi topik tentang keluarga begini. Syukurlah..
Lalu, karena terlalu lama berdiri kami memutuskan untuk duduk di bangku terdekat kami. Aku duduk dan menyandarkan kepalaku di pundaknya. Aku sebenarnya ingin jujur kalau aku ini perempuan, tapi mengingat perkataan Bu Shizune agar aku tak bilang ke siapa-siapa, aku jadi mengurungkan niatku.
Aku pejamkan mata dan kuhirup wangi tubuh Sasuke. Benar-benar menenangkan...
Kubuka mataku dan kulihat seleret sinar di langit kejauhan.
"Make a wish, Gaara", ucap Sasuke padaku.
Aku mengangkat kepalaku dari pundaknya dan mulai berdoa..
"Tuhan, semoga pilihanku in tidak salah dan aku tak menyesal telah memilih jalanku ini", ucapku dalam batin.
Aku menoleh ke arah Sasuke dan Sasuke juga menoleh ke arahku. Dia melihatku, ke arah mataku. Cukup lama kita berpandangan. Pipiku sudah merona merah dibuatnya. Lama-lama, wajah kita saling berdekatan dan ...
.
.
.
"Sasuke, ini yang kedua", ucapku malu-malu.
"Bukan, ini yang ketiga. Dan ini yang keempat", Sasuke menciumku lagi, tetapi itu hanya sekejap. Sasuke berdiri dan mengajakku untuk kembali ke kamar. Aku mengikutinya dari belakang. Aku benar-benar senang...
TBC
Akhirnya..
Buat:
Sa-chan Rivaille -ohoho : makasih.. oke bakal aku lanjutin
Kirana Uchiha88 : oalah, makasih ya, aku jadi tahu hehehe.. hahah.. oekdeh..
Lukireichan : okedeh.. salam kenal juga
sofi asat : okd.. belum tahu.. tapi bentar lagi tahu kok..
Eysha 'CherryBlossom : Sasuke cemburu gara2 gaara aka sakura ama sasori ngomongin ino..
hanazono yuri : yosh.. okeeey.. :D
febri feven : oalah.. okdeh bakal dilanjut
leota pinkyce : makasih.. oke bkal dilanjut
