A/N: Terima kasih bagi yang telah mereview cerita ini pada chapter sebelumnya. Dan maaf juga kalau menurut kalian saya doyan hiatus lama-lama, hal itu dikarenakan saya tidak memiliki ide untuk melanjutkan cerita ini. Lalu ada yang mengatakan bahwa Quarterback (QB) dan Cornerback (CB) dalam satu play, tetapi maksudnya di chapter sebelumnya itu adalah Center. Karena Cornerback bertugas menghalagi Wide Receiver dalam menangkap bola, sedangkan Center melindungi pembawa bola saat bermain dalam offensive (jah, saya jadi ceramah panjang lol). Baiklah, selamat menikmati chapter berikut ini.
Disclaimer: Eyeshield 21 doesn't belong to me; it belongs to Riichiro Inagaki and Yusuke Murata
Warning: OC, OOC, a slight lemon
XXXXXXXX
TO BE PARENT 9
XXXXXXXX
Setelah lama sejak Hiruma melamar Mamori, maka inilah saat yang ditunggu-tunggu semua orang. Karena, pada pagi yang damai itu, adalah hari upacara pernikahan Mamori dan Hiruma akan dilaksanakan. Tempat pesta pernikahan mereka akan digelar maupun gereja yang akan menjadi saksi pemersatu cinta mereka pun sudah ramai didatangi para undangan. Salah satu dari mereka adalah ayah Hiruma. Pria yang berusia setengah abad itu sudah datang di gereja sejak pagi buta.
Sena, Monta, Suzuna, Kurita, dan Komusubi yang pada saat itu baru saja datang, terheran-heran saat mereka melihat seorang pria setengah baya berpakaian tuxedo hitam sudah berada di dalam gereja, padahal gereja masih dalam keadaan kosong. Dan pada saat itu mereka belum menyadari bahwa pria itu adalah Hiruma Yuya alias ayah Hiruma. Saat Sena dan yang lainnya mulai mencari tempat duduk masing-masing, pria itu dengan ramahnya tersenyum pada Sena dan yang lainnya. Sena dan yang lainnya hampir saja salah tingkah karena melihat senyuman pria itu.
"Kalian temannya Youichi, ya?" tanya pria itu. Suaranya terdengar agak parau.
"Eh, i-iya… Yo-Youichi itu kan nama Hiruma-senpai… Paman kenal dengannya?" Sena dengan agak gugupnya duduk di samping pria itu.
"Ya. Aku sudah lama mengenalnya. Sejak ia masih seorang anak yang polos hingga menjadi seorang pria dewasa yang bertanggung jawab…" ujar pria itu sambil menundukkan kepalanya dalam-dalam.
Po-polos? Tanpa sadar yang lainnya sudah bersweat drop ria mendengar ucapan pria tersebut. Mereka pun mulai penasaran, sebenarnya, siapakah pria ini? Kenapa ia bisa memanggil nama depan Hiruma dengan mudahnya? Apakah mungkin pria ini masih ada hubungan kekerabatan dengan Hiruma?
XXXXXXXX
Mamori mematut dirinya di depan cermin. Rambutnya yang merah dan sepanjang bahu digelungnya ke atas, bibirnya dipoles dengan lipstick berwarna merah ruby, dan wajahnya sudah dipakaikan make up. Wajahnya yang cantik benar-benar terlihat menyilaukan mata, apalagi tubuhnya dibalut dengan gaun putih panjang, meski ia bisa melihat ada sedikit perubahan pada sekitar daerah perutnya. Kini ia benar-benar akan menikah dengan Hiruma. Jantungnya terasa berdebar-debar dengan kencang.
Sebuah tangan mendarat di atas bahunya, membuat Mamori menoleh sedikit, "Mamori, anakku. Sekarang kau sudah besar ya, tak kusangka kau akan menjadi seorang istri dari pria yang kau cintai. Padahal rasanya seperti baru kemarin saja aku mengantarkanmu ke sekolah," kata ibu Mamori. Ia menitikkan airmatanya.
"Sudahlah Kaa-san. Jangan menangis di hari pernikahan anakmu ini," sahut Mamori sambil tersenyum, tetapi matanya berkaca-kaca.
"Ya, berhentilah menangis. Ini adalah hari pernikahan Mamori," tiba-tiba muncul ayah Mamori dari ambang pintu, "Wah, kau sudah benar-benar tumbuh dewasa, ya, Mamori. Bahkan sebentar lagi aku akan mendapatkan cucu," ia melempar senyum pada Mamori.
"Otou-san," Mamori berusaha menyeka airmatanya.
"Ayo, cepat. Sang mempelai pria sudah menunggumu dari tadi," ayah Mamori menawarkan lengannya, sehingga Mamori bisa meraih lengannya dan mereka bisa berjalan beriringan menuju altar.
"Oh, ya, Mamori," panggil ibunya.
"Iya?"
"Ini buket bungamu, jangan sampai kau melupakan yang satu ini," ibunya menyerahkan seikat bunga mawar merah yang sudah dirangkai dengan indahnya.
Setelah mengucapkan terima kasih, Mamori dan ayahnya segera berlalu pergi.
XXXXXXXX
Alunan musik piano terus mengalun di dalam gereja, bersamaan dengan dentingan lonceng. Di tengah-tengah kerumunan undangan di gereja, tampak Hiruma yang tengah berdiri di tengah altar. Dan bisa terdengar juga suara histeris Monta yang sepertinya sedang menangis di hari berbahagia ini. Tetapi semua keributan langsung menghilang saat muncul sang mempelai wanita yang dengan anggunnya berjalan menuju altar sambil merangkul lengan ayahnya. Semua orang yang berada di gereja langsung terpana dengan kecantikan Mamori.
"Yaa~! Mamo-neesan cantik sekali~," seru Suzuna sambil memperhatikan kedatangan Mamori dengan terpana.
"MAX~! MAMORIKU!"
"Ssst, Mo-Monta!"
Kini Mamori dan Hiruma berdiri di depan altar dan pendeta yang akan menyatukan mereka.
"Para hadirin sekalian, pada hari ini, pada pernikahan suci yang akan mempersatukan Hiruma Youichi dengan Anezaki Mamori," ucap sang pendeta yang akan mulai membacakan ikrar.
Pada saat itu, tanpa sadar Mamori menggenggam tangan Hiruma erat-erat. Ia benar-benar merasa gugup. Apalagi saat sang pendeta mulai membacakan pertanyaan. Ia mendengar pertanyaan yang diberikan oleh sang pendeta seperti suara bisikan halus di telinganya. Yang bisa didengarnya hanyalah jawaban yang keluar dari mulut Hiruma saat sang pendeta bertanya padanya. Dan akhirnya tiba di mana sang pendeta bertanya tentang pertanyaan yang sama pada Mamori.
Kemudian sang pendeta beralih lagi pada Hiruma, "Hiruma Youichi, sekarang ucapkan janji nikah saudara dengan sungguh-sungguh. Dengan kebebasan dan tanpa paksaan. Demi nama Allah Bapa, Allah Anak, dan Allah Roh Kudus. Saya, Hiruma Youichi, menerima engkau, Anezaki Mamori menjadi satu-satunya istri dalam pernikahan yang sah, untuk dimiliki dan dipertahankan, sejak hari ini dan seterusnya, dalam suka dan duka, semasa kelimpahan dan kekurangan, di waktu sakit dan di waktu sehat, untuk dikasihi dan diperhatikan serta dihargai, seperti Kristus mengasihi JemaatNya sampai kematian memisahkan kita, menurut titah kudus Tuhan dan iman percaya saya kepadaNya, kuucapkan janji setiaku kepadamu."
Dan Hiruma pun mampu mengulang janjinya dengan mulus.
Lalu sang pendeta beralih pada Mamori, "Anezaki Mamori, sekarang ucapkan janji nikah saudara dengan sungguh-sungguh. Dengan kebebasan dan tanpa paksaan. Demi nama Allah Bapa, Allah Anak, dan Allah Roh Kudus. Saya, Anezaki Mamori, menerima engkau, Hiruma Youichi menjadi satu-satunya suami dalam pernikahan yang sah, untuk dimiliki dan dipertahankan, sejak hari ini dan seterusnya, dalam suka dan duka, semasa kelimpahan dan kekurangan, di waktu sakit dan di waktu sehat, untuk dikasihi dan diperhatikan serta dihargai, seperti Kristus mengasihi JemaatNya sampai kematian memisahkan kita, menurut titah kudus Tuhan dan iman percaya saya kepadaNya, kuucapkan janji setiaku kepadamu."
Mamori pun mampu mengucapkan ikrarnya dengan lancarnya.
Tibalah saatnya pengenaan cincin. Hiruma memasukkan cincin ke jari manis tangan kanan Mamori, begitu pula dengan Mamori. Ia memasukkan cincin ke jari manis tangan kanan Hiruma. Dan pada akhirnya, mereka pun melakukan wedding kiss di hadapan para undangan yang hadir. Semuanya bersorak girang saat mereka melakukan wedding kiss, kecuali Monta yang pada saat itu malah menangis histeris. Untungnya Sena sudah siap membungkam mulutnya, jika tidak mungkin suara Monta bisa memecahkan kegembiraan pada saat itu.
Hiruma pun juga tanpa ragu segera membopong tubuh Mamori dan berlalu keluar. Para undangan dan jemaat gereja yang lain juga mengikuti mereka. Saat Sena hendak ikut yang lainnya untuk keluar gereja, Sena mendapati pria yang ditemuinya di gereja tadi pagi masih terduduk diam di dalam gereja. Sena mendekati pria tersebut.
"Emm, paman tidak ikut pergi ke luar dan mengikuti pesta pernikahan Hiruma-senpai?" tanya Sena pada pria tersebut.
Pria tersebut menoleh, "Oh. Aku ingin berdoa sebentar. Aku akan menyusul nanti."
Sena mangut-mangut. Ia segera berlalu keluar, tetapi ia kembali membalikkan badannya ke arah pria itu, "Kalau boleh aku tahu," kata Sena, "Siapa nama paman?"
Pria itu tersenyum, "Hiruma Yuuya. Hiruma Yuuya."
"Oh," Sena membalas senyuman pria itu. Ia pun menyegerakan dirinya menyusul teman-temannya yang lain. 'Hiruma, ya? Nama yang persis seperti Hiruma-senpai. Hmm,' sesaat kemudian Sena baru menyadari sesuatu sambil sweatdrop.
XXXXXXXX
Pesta pernikahan Hiruma dan Mamori berlangsung dengan meriah. Semua undangan yang berada di sana disuguhkan dengan berbagai hidangan. Bahkan di sana terdapat Yamato, Gaou, Taka, Shin, Akaba, Marco, dan anggota tim yang lain yang pernah berhadapan dengan tim Deimon. Pesta pernikahan Hiruma benar-benar berlangsung dengan meriah sekali. Bahkan di pojokan bisa dilihat Kurita bersama Komusubi dan Gaou tengah menikmati makanan yang tersedia di sana.
"Huwaaa... aku tak menyangka ternyata aku bisa menikmati makanan seenak ini di pesta pernikahan Hiruma. Kalau begini bagus kalau Hiruma terus-terusan mengadakan pesta pernikahan..." seru Kurita di sela-sela acara makannya.
Sena dan Monta hanya sweatdrop mendengar perkataannya, "Itu, sih mana mungkin..."
"Aku juga ingin menikah... Mamo-neesan dan Yoo-niisan beruntung sekali bisa menikah dengan mengadakan pesta semeriah ini..." kata Suzuna sambil melirik ke arah Sena seolah-olah berkata, 'Pokoknya kalau aku sudah menikah nanti, pestanya harus lebih meriah dari pada ini!'
Sena yang merasa dari tadi ada yang memandanginya, langsung bergidik. Tetapi arah pandangannya tertuju pada pria setengah baya yang dilihatnya di gereja tadi. Sena mengucek-ngucek matanya, 'Apakah paman itu benar-benar Ayah Hiruma-senpai?'
Di lain tempat, Hiruma dan Mamori berdiri berdampingan. Tetapi tampak beberapa kali Mamori duduk di atas kursi yang disediakan, mungkin karena kelelahan, apalagi ia sedang hamil saat ini. Beberapa orang yang ada di sana menyempatkan diri untuk mengucapkan selamat pada Hiruma dan Mamori sambil membawakan berbagai macam hadiah untuk pasangan baru menikah tersebut. Bahkan ada beberapa yang minta difoto, terutama Otawara dan Mizumachi yang dengan narsisnya minta difoto hingga 5 kali.
Sebelum pesta pernikahan berakhir, ayah Mamori menyempatkan dirinya untuk berceramah sebentar mengenai putrinya. Kemudian dilanjutkan dengan acara minum-minum yang diikuti banyak anggota pemain tim amefuto lainnya. Acara berakhir ketika hari mulai menjelang malam. Saat Hiruma hendak menaiki mobil limusinnya sambil menggendong tubuh Mamori, ia melihat sesosok pria tengah berdiri di samping pintu masuk gedung tempat pesta pernikahannya dilaksanakan. Pria itu berdiri dengan tenangnya, sedangkan tangan kanannya memegang segelas wine berwarna merah. Sambil tersenyum, ia mengangkat gelasnya tinggi-tinggi ke arah Hiruma. Hiruma mengerutkan keningnya sedikit, tetapi kemudian bibirnya berkedut sedikit, tersenyum pada pria itu.
'Otou-san, terima kasih,' bisik Hiruma pelan.
Mamori menengadahkan kepalanya ke arah wajah Hiruma, "Kau bilang apa tadi?"
"Bukan apa-apa. Ayo kita pergi sekarang," kata Hiruma.
XXXXXXXX
Sesampainya di apartemen tempat mereka akan melewatkan malam pertama mereka, Hiruma langsung keluar dari mobil limusinnya sambil menggendong Mamori. Ia menurunkan Mamori ketika mereka sampai di depan pintu apartemen, lalu Hiruma kembali menggendong Mamori hingga mereka sampai di kamar mereka. Hiruma sebelumnya telah membeli apartemen ini untuknya dan Mamori. Apalagi dalam beberapa bulan mereka akan mempunyai seorang anak yang akan mengisi kehidupan mereka.
Di kamar mereka, Hiruma segera membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur mereka. Begitu juga Mamori.
"Aku tak percaya akhirnya kita menikah," bisik Mamori ke telinga Hiruma.
"Hn," Hiruma meletakkan telapak tangannya ke perut Mamori yang mulai membuncit, "Dan aku akan memiliki anak dari kau, istri sialan. Kekekeke..."
"Hiruma-ku-"
Belum sempat Mamori protes, Hiruma segera memotong perkataannya, "Jangan memanggilku dengan nama itu. Sekarang, panggil aku dengan namaku. Youichi."
"Eh?" Mamori memerah.
"Kita sudah menikah. Sudah sepantasnya kau memanggilku dengan nama panggilanku, bukan?" jelas Hiruma.
Mamori segera bangkit dari tempat tidur dan berbisik pelan, "Yo-Youichi..."
Hiruma menyeringai lebar, ia pun segera menarik lengan Mamori dan bibir mereka saling bertemu, mereka berdua berciuman. Hiruma memasukkan lidahnya ke dalam mulut Mamori dan tangannya meraba-raba selangkangan Mamori.
"Yo-Youichi..." bisik Mamori, ia mendesah.
Hiruma berhenti menciumnya, "Ya... Bagaimana kalau kita melewatkan malam pertama kita sekarang juga?"
Mamori kembali memerah, mengangguk pelan.
Hiruma membuka kancing bajunya dan melepaskan ikat pinggangnya. Lalu ia segera membaringkan tubuhnya di sebelah tubuh Mamori. Mamori dengan senang menerima kehadiran Hiruma dengan mendekat pada Hiruma. Mereka kembali berciuman.
"Besok, kita akan memulai kehidupan baru," kata Mamori di sela-sela ciuman mereka.
"Ya..."
XXXXXXXX
A/N: Saya gak tahu, apakah agama yang dipeluk oleh Hiruma. Apakah dia seorang kristiani atau bukan, lagipula sepertinya Hiruma itu antara agnostik dan atheist. LOL. Dan mungkin dalam 2 chapter cerita ini akan berakhir. Jadi, review :)
