Story by : Anave Tjandra

Chapter 8

FREE FALL

.

.

Rate T

.

.

Pria ini benar-benar tepat waktu, pikir Baekhyun dalam hati. Chanyeol tidak terlambat atau lebih cepat satu menit pun dari waktu yang dijanjikannya.

Tepat seteah 30 menit berlalu, Chanyeol sudah muncul lagi diruang tamunya dan Baekhyun hanya bisa menghela napas pasrah menyadari bahwa sekarang pria itu memiliki akses penuh menuju kediamannya.

Chanyeol mengenakan polo shirt abu-abu yang menonjolkan rambut pirang dan mata emasnya. dipadukan dengan celana skinny jeans berwarna biru yang membungkus ketat paha kokohnya. Baekhyun hanya bisa menelan ludah diam-diam saat melihatnya.

Baekhyun pikir, ia tidak akan pernah terpengaruh oleh seorang pria. Tapi kenyataanya, sekarang ia malah meneteskan air liur hanya dengan memandang Chanyeol yang duduk dengan santai di sora ruang tamunya.

"Kau sudah siap?" tanya Chanyeol sambil memberikan senyum lebar.

Baekhyun membuang wajahnya dan kembali masuk ke dalam kamar. Ia mencoba untuk membuang waktu dengan berlama-lama melakukan hal apa pun yang terpikirkan olehnya. Di mulai dari membuka lemari dan pura-pura mencari barang, kekamar mandi dan duduk di atas kloset selama beberapa saat, bahkan ke dapur untuk membongkar kulkas yang sebenarnya kosong.

Ketika akhirnya ia merasakan perutnya berbunyi kencang karena lapar, Baekhyun harus mengalah dan ikut dengan pria itu. bagaimanapun, ia peru keluar untuk mengisi perutnya yang kosong.

"Apakah kita bisa makan terlebih dahulu?" tanya Baekhyun pada Chanyeol akhirnya.

Chanyeol menganggukan kepalanya dan berkata, "Tentu. Kita melewatkan sarapan tadi pagi."

Chanyeol bangkit dari duduknya dan memandang Baekhyun dari atas hingga ke bawah.

"Kau memiliki jaket?" tanyanya.

"Ada," jawab Baekhyun dengan kebingungan yang kentara.

"Bawalah kalau begitu,"

Baekhyun membuka mulut untuk membantah, tapi tidak jadi karena ia tidak ingin mencari masalah baru dengan Chanyeol. Akan lebih mudah jika Baekhyun menurutinya. Lagipula, tidak akan merepotkan jika hanya membawa jaket.

Wanita itu lalu kembai masuk ke kamarnya dan keluar dengan membawa sebuah jaket kulit hitam yang jarang dikenakannya. Ia tidak memiliki banyak kesempatan untuk mengenakan jaket kuit tersebut.

"Ayo!" ucap Chanyeol sambil meraih jaketnya sendiri yang terbuat dari kulit sapi dan berdiri.

Pria itu berjalan terlebih dahulu dan Baekhyun mengikuti langkahnya. Saat mereka sudah tiba di basement, tanpa sadar Baekhyun berjalan menuju mobilnya sendiri seperti kebiasaanya jika sudah turun ke area parkir.

Chanyeol menarik lengan Baekhyun yang melangkahkan kakinya menjauh, ia tahu apa yang sedang dilakukan wanita itu. menghentikan langkah Baekhyun, Chanyeol menerima tatapan bingungnya.

"Kita akan berangkat dengan motorku," Chanyeol memberi tahu Baekhyun sambil menelengkan kepalanya ke arah sebuah motor besar yang terparkir di sudut basement itu.

"Motor?" ulang Baekhyun.

"Ya, motor,"

Baekhyun menggeleng. "Aku tidak yakin dengan itu, Mister Park."

Chanyeol menyengir dan menarik wajah Baekhyun ke arahnya. Sebelum wanita itu sadar, Chanyeol sudah melumat bibir Baekhyun yang sebenarnya sudah sangat menggugah seleranya sedari tadi. Ia senang saat tanpa sengaja wanita itu menyebut nama keluarganya, memberinya sebuah alasan untuk melumat bibir Baekhyun.

Menjauhkan wajahnya, Chanyeol menatap ke dalam mata biru yang memandangnya dengan tatapan tidak fokus. Wanita itu sengaja tidak mengenakan kacamatanya dan mengenakan lensa kontak sebagai gantinya. Membuat Chanyeol dapat melihat langsung ke sepasang mata indah Baekhyun.

Baekhyun mengerjapkan matanya dan melangkah mundur. Dengan panik, wanita itu menoleh ke sekitar mereka untuk memastikan bahwa tidak ada yang menyaksikan ciuman mereka karena hal itu akan menimbulkan skandal yang rumit.

Chanyeol terkekeh melihat reaksi wanita itu. "Tidak ada orang lain selain kita di sini Bee"

Baekhyun memberikan tatapan tajam. Namun tatapan itu sia-sia karena Chanyeol lebih tertarik memandang bibir merah Baekhyun yang penuh karena ciumannya.

"Ada CCTV disini!" geram Baekhyun marah.

"Apakah artinya aku boleh menciummu jika tidak ada CCTV?"

"Tidak! Tidak ada ciuman! Titik!"

Chanyeol semakin terkekeh. Namun ia tidak membalas ucapan Baekhyun lagi dan malah menggandeng tangan wanita itu. ia berjalan menuju motornya dan memberikan sebuah helm pada Baekhyun.

Baekhyun menggeleng, menolak untuk memakai benda itu.

"Aku tidak mau memakainya."

"Kau harus memakainya jika ingin mengendarai motor."

"Aku tidak ingin naik motor," Jawab Baekhyun.

Chanyeol menaikkan alisnya "Kenapa?"

"Tidak ada alasan. Aku hanya tidak ingin naik."

"Kau takut naik motor?" tebak Chanyeol sambi menahan senyum. Ia sudah dapat melihat jawabannya saat mata Baekhyun memancarkan kepanikan.

"Tentu saja tidak!" bantah Baekhyun, tetap saja ia keras kepala.

"Kalau begitu, tidak ada alasan bagimu untuk tidak naik motorku," jawab Chanyeol.

Baekhyun mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Ia bukannya takut naik motor, hanya saja ia belum pernah naik kendaraan itu seumur hidupnya. Ia tidak tahu apakah benda itu aman untuk dinaiki dan ia tidak tahu apakah ia akan bisa duduk sambil menjaga keseimbangannya di sana. Oke, sepertinya ia memang takut naik motor.

Namun ia tidak akan mengakui hal itu kepada Chanyeol. Sudah cukup sering harga dirinya jatuh di hadapan pria itu dan Baekhyun tidak berniat untuk kalah lagi kali ini.

Ia langsung mengambil helm yang masih diulurkan oleh Chanyeol dan memakainya. Baekhyun sedikit kesulitan saat harus mengancingkan helm tersebut dan Chanyeol membantunya dengan senang hati.

Setelah itu, Chanyeol membantunya untuk mengenakan jaketnya juga sebelum dirinya sendiri memakai jaketnya. Jadi, ini alasan pria itu menyuruhnya membawa jaket. Seharusnya Baekhyun tidak menyetujuinya dan mereka bisa pergi dengan mengendarai mobil.

"Kita akan pergi kemana?" tanya Baekhyun saat ia sudah duduk di belakang pria itu.

"Restoran. Aku tahu tempat brunch yang enak."

Baekhyun kemudian diam. Ia duduk tegak dan kaku menunggu Chanyeol menjalankan motornya. Mesin itu sudah meraung selama beberapa saat, tapi Chanyeol tidak berusaha untuk mengendarai benda itu sedari tadi.

"Kenapa tidak jalan?" tanya Baekhyun lagi.

"Kau harus berpegangan," jawab Chanyeol.

Baekhyun memandang kepangkuan dan belakang bokongnya. Ia tidak tahu harus berpegangan dimana. Pertanyaan yang hampir terlontar dari mulutnya tertelan kembali saat Chanyeol meraih kedua tangannya dan merangkulkannya di pinggang pria itu.

Tubuh Baekhyun tertarik kedepan dan ia merasakan bagian depan tubuhnya menekan lembut punggung Chanyeol.

"Pegang yang erat!" seru Chanyeol.

Sebelum Baekhyun dapat memproses ucapannya, Chanyeol langsung memacu motornya dengan kecepatan yang menurut Baekhyun sangat tinggi. Ia menjerit saat tubuhnya hampir terhempas ke belakang, membuatnya mengencangkan rangkulannya di pinggang pria itu.

Diam-diam, Chanyeol menikmati rasa tubuh Baekhyun yang merekat erta di punggungnya. Ia juga tidak keberatan dengan peukan erat kedua lengan wanita itu di perutnya meskipun tangan Baekhyun terkait sedikit terlau atas menurut seleranya. Akan lebih baik jika wanita itu sedikit menurunkan tangannya.

Melintasi jalan kota yang lenggang, tidak butuh waktu lama hingga Chanyeol memberhentikan motornya di depan sebuah restoran. Setelah mematikan kendaraanya, Chanyeol melepaskan helm yang dikenakannya. Ia tidak beranjak dari posisinya karena Baekhyun masih memeluk erat pinggangnya, membuat Chanyeol tersenyum kepada dirinya sendiri.

"Kita sudah sampai Bee," ucap Chanyeol.

Baekhyun menolehkan kepalanya seakan-akan baru menyadari sekelilingnya. Ia langsung melepaskan rangkulannya dan menegakkan tubuh dengan cepat saat sadar bahwa mereka sudah berhenti. Secepat kilat juga Baekhyun melompat turun dari motor Chanyeol dan hampir terjatuh karena kehilangan keseimbangan jika bukan karena Chanyeol yang menahan tangannya.

Chanyeol memberikan sebuah senyuman malas yang menggoda. Tanpa malu-malu, pria itu melepaskan helm yang dikenakan oleh Baekhyun dan turun dari motornya. Ia lalu menyerahkan kunci motornya pada valet yang sudah berada di samping mereka.

Menarik lengan Baekhyun, Chanyeol mengajak wanita itu masuk ke dalam restoran. Mereka menikmati sarapan mereka yang terlambat dalam suasana yang secara mengejutkan cukup beradab. Tidak ada perkataan pedas yang keluar dari bibir Baekhyun ataupun godaan yang keterlaluan dari Chanyeol.

"Apakah kau memiliki saudara?" tanya Chanyeol di tengan brunch mereka.

Baekhyun memasukkan daging yang telah dipotong kecil kedalam mulutnya sambil mengangguk. Ia terlau lapar untuk dapat menjawab pertanyaan Chanyeol dengan kata-kata.

"Well, aku anak tunggal," ucap Chanyeol tanpa ditanya. "Sedikit sepi saat kedua orangtuamu sibuk dalam pekerjaan mereka."

Baekhyun menangkap nada lain dari ucapa pria itu dan mengangkat pandangannya. Chanyeol memberikan senyum yang ceria sambil menikmati makanannya dan Baekhyun memutuskan untuk meladeni pria itu.

"Aku hanya memiliki satu adik laki-laki," ucap Baekhyun.

"Apakah ia seperti dirimu?"

Baekhyun berpikir sejenak. Taehyun, adik laki-lakinya bisa dikatakan adalah cerminan dirinya. Bagaimana mungkin tidak jika mereka memiliki orangtua yang sama dan menjalani masa kecil yang tidak berbeda? Tidak, sepertinya jauh lebih buruk bagi Taehyun karena selain tuntutan Appa dan Mommy nya ia harus tumbuh dan selau dibandingkan dengan Baekhyun.

"Begitulah," jawab Baekhyun.

"Jadi, bagaimana bisa kau masih perawan?"

Baekhyun tersedak mendengar pertanyaan Chanyeol yang tiba-tiba berubah haluan. Ia menepuk-nepuk dadanya dan meminum air putih, sementara Chanyeol tersenyum terhibur melihat reaksi Baekhyun. Sepertinya Chanyeol memang tidak bisa melupakan sifat nakalnya meskipun ia tidak berniat seperti itu.

"Tidak usah khawatir," ucap Chanyeol lagi. "aku akan mengajarimu semua hal yang perlu kau tahu."

Semburat merah menghiasi wajah Baekhyun saat ia mendengar implikasi yang tersirat dalam ucapan Chanyeol. Ia melemparkan tatapan tajam kepada pria itu dan Chanyeol hanya tertawa terbahak-bahak, membuat setengah pengunjung restoran menoleh kearah mereka dengan tatapan penasaran.

Menyelesaikan makan mereka, Chanyeol membayar bill dan menolak keras saar Baekhyun berusaha untuk membayarnya. Ia sampai perlu mengancam untuk mencium wanita itu di depan umum jika memang Baekhyun ingin membayarnya sendiri. Tentu saja wanita itu langsung bungkam karena tidak ada keraguan di antara mereka bahwa Chanyeol pasti akan melakukannya.

Keluar dengan senyum penuh kemenangan, lokasi berikutnya yang ada dalam tujuan Chanyeol adalah danau yang terletak di pinggiran kota. Danau itu cukup terkenal sebagai tempat wisata karena hari ini adalah hari sabtu, Chanyeol yakin tempat tersebut cukup ramai.

"Kau berniat untuk piknik?" tanya Baekhyun setengah mengejek.

Chanyeol memberikan senyum misterius kepadanya dan Baekhyun tahu bahwa apa pun itu, ia tidak akan menyukainya. Terbukti saat pria itu berhenti di bawah sebuah tower yang menjulang tinggi di atas mereka.

Sinar matahari menyilaukan pandangan matanya saat ia mengadahkan kepala. Namun Baekhyun masih dapat melihat apa yang ada di atas puncak tower tersebut. Bunge jump! Chanyeol mengajaknya untuk bermain bunge jumping!

"Kau bercanda!" pekik Baekhyun saat ia menyadari di mana mereka berada.

Chanyeol menggelengkan kepalanya. "Tidak, aku serius."

Wajah Baekhyun seketika memucat. "Aku tidak akan naik!"

"Pengecut," gumam Chanyeol

Baekhyun menolehkan wajahnya ke arah Chanyeol. Ia tahu bahwa pria itu sengaja memanasinya hanya untuk membuatnya menuruti keinginan pria itu. namun, Baekhyun adalah orang yang keras kepala dengan harga diri yang lumayan tinggi.

"Aku bukan pengecut!" bantah Baekhyun.

"Penakut kalau begitu?"

"Aku tidak takut!" bahtahnya lagi dengan kekesalan yang mulai berkumpul.

Chanyeol memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana dan berjalan melewati Baekhyun. "Ayo, kalau begitu."

Baekhyun mengatupkan rahangnya. Ia tidak ingin mengikuti langkah Chanyeol namun ia juga tidak bisa begitu saja mundur sekarang. Memandang kerlingan Chanyeol yang seolah menantangnya, Baekhyun akhirnya memaksa kakinya untuk melangkah.

Ia mengikuti Chanyeol masuk ke dalam lift yang akan membawa mereka ke atas. Lift yang terbuat dari besi itu tidaklah tertutup sepenuhnya dan lebih mirip dengan sebuah kandang. Ada sedikit rasa penyesalan sekarang setelah ia meihat ke pemandangan di bawah mereka.

"Berniat mundur?" bisik Chanyeol di telingannya.

Baekhyun semakin mengeratkan rahangnya dan mendelik kepada pria yang berdiri di sampingnya. "Ti-dak,"

Chanyeol mengulum senyum. Ia yakin Baekhyun sebenarnya tidak ingin melompat dari sana, tapi terlau keras kepala mengakui kekalahannya. Sebenarnya, Chanyeol sudah menang saat ini karena berhasil membuat Baekhyun naik ke atas. Tahap pertama sudah lewat, ia hanya perlu memastikan bahwa Dosennya melompat.

Saat pintu lift terbuka, Baekhyun membutuhkan segenap tekadnya untuk melangkah keluar. Angin kecang berhembus menerpa wajahnya dan ia bersumpah dapat merasakan pijakannya bergerak dibawah kakinya.

Mengintip ke bawah tepi, Baekhyun dapat melihat betapa tinggi posisi mereka sekarang. Ia dapat melihat keseluruhan danau dari posisinya dan jantungnya mulai berdegup kencang. Seketika, kepala Baekhyun menjadi terlalu pusing untuk berpikir, bahkan ia tidak begitu sadar saat petugas menyuruhnya mengisi formulir dan mulai memasangkan alat pengaman.

Ia pikir bisa melakukannya. Baru setelah ia dan Chanyeol berdiri dari posisi melompat dengan tangan pria itu yang mengenggamnya, Baekhyun sadar bahwa ia tidak bisa. Tidap perduli bahwa mereka akan melompat bersama, Baekhyun tidak akan bisa melakukannya.

"Stop!" seru Baekhyun.

Chanyeol menaikkan alisnya. "Ada apa?"

"Aku berubah pikiran," ucap cepat. Ia dapat merasakan tangannya lembab dan jantungnya berdegup kencang.

"Tidak bisa," jawab Chanyeol. "Sudah sampai di sini, kau tidak boleh mundur,"

Baekhyun menggeleng. Ia tahu bahwa ia sudah tidak memedulikan lagi harga dirinya. Jauh lebih mengerikan memaksa dirinya meompat dari ketinggian 100 meter.

"Aku tidak bisa."

"Kau bisa, kita akan melompat bersama."

"Kau saja yang melompat. Aku akan menungu di bawah," tawar Baekhyun.

Chanyeol mengigit pipi dalamnya menahan senyum. Baekhyun terihat seperti anak kecil saat ini dan entah mengapa membuatnya merasa senang.

"Baiklah dengan satu syarat," ucap Chanyeol.

"Apa pun," jawab Baekhyun secepat kilat.

Canyeol tertawa. "Kau bahkan belum mendengarnya."

"Aku tidak perduli. Cepat katakan agar aku bisa melepaskan pengaman sialan ini."

Pria itu berpura-pura berpikir sejenak , sementara Baekhyun muai mengigit ibu jarinya.

"Kiss me," ucap Chanyeol.

Baekhyun membelalakan matanya. "Apa?"

"Cium aku dan kau boleh mundur."

Baekhyun merasa pening. Kenapa ia merasa bahwa apa pun pilihannya sama-sama merugikannya? Yang benar saja! Berciuman atau melompat? Ia yakin Chanyeol sengaja melakukannya.

Menolehkan kepalanya, Baekhyun melihat ke sekelilingnya. Ada dua orang petugas yang menyegir ke arah mereka, sangat jelas bahwa mereka mendengar percakapan itu.

"Now?" bisik Baekhyun.

Chanyeol mengangguk. Ia tidak perduli petugas yang berada di dekat mereka dapat menyaksikan ciuman Baekhyun untuknya. Mereka bloleh melihat asal tidak menyentuh miliknya.

Baekhyun menghela napasnya. Ia tahu bahwa mereka sudah pernah berciuman beberapa kali dan bahkan melakukan hal yang lebih dari itu. Tapi sebelumnya, Chanyeol lah yang lebih dahulu melakukan hal-hal yang lebih dahulu melakukan hal-hal tersebut kepadanya, bukan sebaiknya. Well, kecuali tadi pagi.

Wajah Baekhyun merona menginat kejadian tadi pagi. Ia tidak tahu apa yang membuatnya menjadi implusif, yang jelas ia langsung menyesali tindakannya itu. Seharusnya ia lebih bisa mengendalikan amarah. Tapi, siapa yang tahu bahwa melihat bekas ciuman wanita lain di leher Chanyeol berhasil menyulut amarahnya.

"I'm waiting," gumam Chanyeol.

Mengepalkan tangannya, Baekhyun mengalungkan kedua tangannya dileher Chanyeol. Ia dapat merasakan kakinya gemetar karena harus bergerak dilantai tinggi itu, namun tahu bahwa ia tidak memiliki pilihan lain.

Maka, Baekhyun mengecup bibir Chanyeol singkat. Ia hanya berniat untuk menempelkan bibir mereka lalu menjauh. Namun, Chanyeol lebih cepat darinya. Pria itu langsung merangkulkan kedua lengannya pada tubuh Baekhyun dan menariknya lekat. Bibir Chanyeol juga langsung melumat bibir Baekhyun.

Saat bibir Chanyeol mulai menciumnya, Baekhyun tak bisa untuk tidak terbuai. Ia menikmati gerakan bibir pria itu dibibirnya dan serta merta lupa dengan posisinya. Kakinya pun berhenti gemetar. Tapi, debar jantungnya sama sekali tidak melambat, malah berdetak dalam irama yang berbeda.

Baekhyun merasa melayang karena ciuman Chanyeol.

Melayang? ini lebih terasa seperti terbang.

Entah kenapa Baekhyun mendapat firasat buruk. Ia membuka mata dan bertatapan dengan mata Chanyeol yang mengerling nakal. sebelum Baekhyun melepaskan pelukan mereka, Chanyeol memiringkan tubuhnya dan memeluk Baekhyun erat.

Chanyeol menjatuhkan tubuh mereka berdua! Baekhyun menjerit.

Baekhyun menjerit dan terus menjerit sambil memejamkan matanya. Ia dapat merasakan adrenalin mengaliri tubuhnya dan memacu jantungnya cepat.

Beberapa detik yang terasa berabad-abad kemudian, Baekhyun membuka matanya dan memandang danau sekitarnya dalam posisi yang terbalik. Telinganya dapat mendengar deru tawa Chanyeol, sementara ia berusaha untuk menghirup oksigen banyak-banyak.

Baekhyun yang tidak ingat lagi apa yang ia lakukan setelah itu. Yang ia sadari, ia langsung terduduk lemas begitu menampakkan kakinya didaratan lagi.

"Kau baik-baik saja?"

tanya Chanyeol sambil berjongkok dihadapannya

Baekhyun tidak menjawab. Masih terlalu shock dengan apa yang baru saja terjadi.

Chanyeol merasa khawatir ketika melihat bibir pucat Baekhyun. Buru-buru ia membelikan wanita itu minum yang langsung ditenggak habis oleh Baekhyun.

"Sudah merasa lebih baik?"

Chanyeol mendapatkan sebuah pukulan didadanya sebagai jawaban. Wanita itu mendorongnya keras hingga ia jatuh terduduk diatas rumput.

"Kau gila!" teriak Baekhyun dengan wajah memerah. Bukan karena malu, namun karena amarah yang menyergapnya.

Menerima luapan emosi Baekhyun, Chanyeol tidak berusaha melindungi diri dan malah tersenyum. katakan ia nekat atau gila, namun ia hanya ingin Baekhyun keluar dari tembok es yang dibangunnya.

Wanita itu terus memukuli dada Chanyeol dengan kesal hingga kehabisan tenaga. Baekhyun hampir menangis karena kesal dan kemudian hanya bisa menundukkan kepalanya pasrah. Terlalu banyak energi terbuang dari tubuhnya dalam waktu beberapa menit saja.

Tanpa merasa bersalah, Chanyeol malah berpindah posisi kebelakang tubuh Baekhyun dan mendudukkan wanita itu diantara pahanya yang terbuka. Ia menarik tubuh Baekhyun agar dapat bersandar didadanya dan wanita itu tidak menolak.

"Maaf," bisik Chanyeol ditelinga Baekhyun. "Aku hanya ingin membuatmu keluar dari balik dinding yang kau bangun."

Baekhyun terdiam. Ia masih menundukkan kepala, berusaha mencerna ucapan Chanyeol. Ia tidak mengerti maksud pria itu. Dalam satu minggu terakhir, ia lebih banyak menunjukkan emosinya jika dibandingkan selama 25 tahun ia hidup.

"Kau terlalu kaku dan selalu kembali menjadi dingin kepadaku," gumam Chanyeol. "Tidak perduli bagaimana aku selalu berhasil memancing emosimu, kau akan kembali kebalik dinding pertahananmu dan menjauh."

Pria itu lalu melanjutkan, "Meskipun aku senang menggodamu dan menginginkan tubuhmu, aku ingin lebih dari itu. Aku ingin bisa melihat emosimu meski diluar ranjang."

Wajah Baekhyun kembali merona. Telinganya panas mendengar ucapan Chanyeol yang terus terang.

"Kenapa?" tanya Baekhyun. Ia dapat mendengar suaranya serak dan lirih.

"Aku belum bisa mengatakannya, "jawab Chanyeol." Tidak sebelum aku yakin seratus persen. Tapi, Bee, satu hal yang kutahu adalah…. seperti bunge jumping barusan, bagaimana adrenalin menjalari seluruh tubuh kita dan bagaimana kita jatuh karena tarikan gravitasi, seperti itulah perasaanku sekarang. I think I'm falling for you. Unlike many others, for me, it's like a free fall where I can't stop it. I'm free falling in love with you."

Pundak Baekhyun membeku mendengar penuturan Chanyeol. Bagaimana mungkin?Bagaimana bisa Chanyeol berkata seperti itu hanya dalam kurun waktu satu minggu?Dan bagaimana bisa Baekhyun merasakan dadanya berdesir lembut karena ucapan Chanyeol?

Ini tidak masuk akal. Pria itu pasti sedang bercanda dengannya.

Chanyeol mengusap kepalanya lembut. "Berhentilah berpikir terlalu keras," tuturnya lagi. "Aku mengatakan ini bukan untuk membuatmu berpikir. Aku hanya ingin kau bersiap-siap karena sepertinya untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku serius tentang perasaanku sendiri."

Pria itu lalu bangkit berdiri dan mengulurkan tangannya pada Baekhyun.

"Ayo, pulang," ajaknya lembut.

Baekhyun mendongakkan kepalanya dan melihat senyum tulus mengukir bibir Chanyeol. Pria itu tidak terlihat sedang menggodanya atau memanipulasinya. ia terlihat yakin dan jujur saat ini dan itu membuat Baekhyun bimbang

Apakah mungkin?

.

.

.

.

to be continue

...

..

Preview Next chap :

"Kris?"

"Kau memanggil nama kecilnya?"

"Siapa dia?"

"Bukan urusanmu, Mister Park."

"Panggil aku Chanyeol, Brengsek!"

.

.

.

.

note

adakah yg masi menunggu? hehehe

see you next chap

"Selamat Berbuka dengan yg manis2" hehehe