PREVIEW:
"Menikahlah denganku, dan hentikan semua kebohongan ini!";
"I'll stand by you. Won't let nobody hurt you.";
"Aka-chin sedang sakit.";
"Selene. Dia sudah tidak mencintaiku lagi.";
"Jangan-jangan, setelah pernikaannya dibatalkan, Seijuurou jadi…"
.
.
.
.
.
"Satsucchi~, kenapa musim semi selalu merah jambu-ssu? Jangan mentang-mentang ini musim favoritmu, jadi kau mendominasi semuanya. Sekali-sekali gantilah kuning!"
"Eeh? Padahal itu bukan salahku lho, kenapa jadi merah jambu."
.
.
.
.
.
Ada seorang gadis. Rambutnya sebiru langit musim panas, begitu indah. Kedua matanya berbinar setiap kali ia tersenyum. Tawanya beresonansi di udara dan mencerahkan suasana. Dia begitu menawan, rapuh, sempurna.
Ada suatu gambaran dalam kepalaku. Ketika ia menunggangi kuda dan terjatuh. Ketika ia berputar di tengah padang bunga sambil merentangkan tangannya. Gaun panjangnya mengembang dan menari bersama dendelia. Sinar mentari membias di sekitarnya. Ketika percikan air sungai membuatnya tertawa. Ketika dia tiba-tiba muncul di belakangku. Ketika dia tersenyum padaku. Ketika dia menyebut namaku. Ketika dia menangis, begitu pilu dan menyakitkan hingga aku tidak mau mendengarnya.
"Helios…"
Bibirnya yang tipis itu serona teratai, membuka dan mengatup di depan mataku. Kemudian ia mendekat, mata saling menatap. Poninya yang lembut menyapu keningku. Hidungnya yang kecil menyentuh hidungku. Sensasi ini begitu luar biasa ketika bibir kami bertemu. Ia mengusap rahangku dengan ibu jarinya. Dan baru saat itulah kusadari, bahwa wajah cantik yang basah oleh air mata itu hanya untukku.
"Taiga-kun."
Dan aku membuka mata.
.
.
God, I'm (really) in Love! © Kaeru Kodok
.
NOTE:
KagaKuro, HiMura
Chapter super panjang (persiapkan mata Anda)
.
Spring (?) 2014
.
Hasil kesetresan menghadapi UN dan penyakit
(mohon doanya!)
.
.
CHAPTER 9: Spring, Love, and Date
"Ku…roko?"
Kagami membuka matanya perlahan, kemudian berkedip beberapa kali untuk menyesuaikan mata dengan sinar mentari pagi yang menyusup dari jendela yang terbuka lebar. Ia merasakan kehadiran seseorang di sampingnya, lantas menoleh perlahan.
"Taiga."
Orang itu tersenyum lembut. Matanya berbinar bahagia.
"Kuro…"
Bukan. Kuroko tidak berambut hitam. Dia juga tidak menutupi sebelah matanya dengan poni.
"Tatsuya?!"
Kagami terlonjak kaget dan bangun terduduk. Ia menatap berang Himuro yang hanya tersenyum geli di sampingnya, kemudian dengan kesal berkata, "Tatsuya, kenapa kau—mana Kuro... Aargh!"
Tawa pemuda Skorpio itu pun terdengar. "Kau jatuh cinta pada Kuroko?"
"A-apa?! Tidak, itu…." Si rambut merah memalingkan wajahnya. "…m-mungkin." Ia masih malu memperlihatkan wajah bersemunya walau di depan orang yang sudah mengenalnya sejak SD.
"Sudah kuduga. Kau menyebut namanya terus saat tidur."
Ah, jadi sekarang Kagami mengigau? Dan, dari sekian banyak orang, kenapa harus Himuro yang mendengarnya?
"Jika kau mencari Kuroko-chan, dia ada di taman bersama Kiyoshi-san. Cepatlah keluar. Ikan-ikan sedang bagus di jam segini."
Kagami kemudian menggerakkan ototnya yang terasa kaku untuk bangun dari futon. Sebenarnya ia sudah bersiap-siap untuk beringsut menaiki kursi roda lagi, namun Himuro mencegahnya dengan mengulurkan sepasang tongkat bantu jalan.
Kagami menatap kakaknya dengan penuh tanya.
"Kiyoshi-san bilang tulangmu sudah sembuh. Well, belum seratus persen, tapi kau tidak memerlukan kursi roda lagi. Pakailah kakimu. Kau pasti rindu berjalan, kan?"
Ya, Kagami akui itu benar, bahwa ia, pemain andalan tim basket pemenang Winter Cup, yang terbiasa berlari membelah lapangan, melompat di udara, dan bisa begitu bebas kapanpun yang ia mau, merindukan hal sederhana seperti berjalan dan berlari. Bahkan, kakinya terasa gatal ingin merasakan Nike kesayangannya lagi. Duh, memalukan.
"Terimakasih." Pemuda berambut dwiwarna itu menyambut uluran Himuro dengan senyum.
Kemudian ia tertatih-tatih menuju jendela yang tersambung dengan balkon. Dari situ dapat dilihatnya pemandangan dasar laut di pagi hari, dengan sinar lembut mentari yang merambat dalam air dan menerangi aktifitas para ikan cantik di terumbu karang. Dan menilik lebih dekat, sesosok gadis berkimono putih tengah berjongkok di antara karang berwarna-warni. Dia ditemani seorang pria tinggi besar dengan kinagashi hijau lumut dan mantel biru yang terus melebarkan senyumnya setiap kali bercerita. Mungkin karena senyum itu, atau obrolan itu, yang membuat si gadis turut menarik sudut-sudut bibirnya dengan manis. Memang tipis, tapi cukup untuk dapat dilihat mata tajam Kagami.
Ia berbalik pada Himuro. Kemudian menyadari sesuatu. "Bukankah kau bilang tidak nyaman dalam tuxedo?" Ya, si Skorpio 183 sentimeter ini kembali mengenakan pakaiannya di pesta pernikahan Touya dan Alex.
Himuro mengedikkan bahu. "Aku harus pergi. Ada urusan di 'atas'," jelasnya.
"E-eh? Sekolah?" seru Kagami, kembali teringat akan Seirin, tim basketnya, dan pelatih mereka yang super galak.
"Tidak, Taiga. Sekarang hari Minggu." Kagami menghela napas keras. "Yah, bisa dibilang… aku ada kencan. Tenang saja, aku pasti mampir ke butik, kok." Wajah tampan Himuro bersemu di balik poninya.
"Heeh, jadi sekarang kau mulai menerima ajakan kencan, ya?" goda Kagami, tahu bahwa Himuro selalu mendapatkan surat cinta di loker sepatunya dan serbuan fan setiap saat, namun tidak pernah ditanggapi serius. "Siapa gadis beruntung ini?"
"Yah… aku tidak menerima ajakan kencan dari siapapun, sebenarnya. Dan sepertinya lebih kepada aku-lah yang beruntung." Himuro menggaruk belakang kepalanya. "Bagaimana menjelaskannya, ya…. Kau ingat tentang gadis tinggi berambut ungu yang kuceritakan?"
Kagami terdiam sebentar. "Yang kau kasihani karena hanya bisa menatap snacks di minimarket tanpa bisa membelinya? Yang akhirnya kau traktir tiga bungkus Maiubo dan keripik kentang, dan akhirnya setiap hari Minggu kalian selalu bertemu untuk membuang-buang uangmu demi segunung makanan manis? Demi Tuhan, jadi sekarang kau mengencani gadis yang membuat cintamu berpaling dari acar?"(1)
Himuro tertawa. "Ya, gadis yang itu. Aku yang mengajaknya kencan."
Jika sekarang Kagami sedang mengunyah sesuatu, dipastikan ia akan menyemburnya dan terbatuk-batuk hebat. "A-apa?" Demi langit yang terbelah, sejak kapan seorang Himuro Tatsuya mengajak gadis berkencan, dan bukannya diajak?
"Tapi, entahlah. Sifatnya kekanak-kanakan. Aku tidak yakin akan berjalan seperti kencan yang seharusnya. Jadi… aku ingin bertemu kau sebelum pergi karena ingin menanyakan pendapat."
Serius, Kagami akan terbatuk sekarang.
"Sejak kapan aku yang menjadi ahli perempuan, dan bukan kau?" sungut Kagami, begitu berang dan salah tingkah. "Tanyakan Alex!—atau kakakmu. Kau ingat aku pernah berkencan, hah?"
"Aku tidak mau mengganggu sepasang burung cinta itu," sanggah Himuro. "Oh, ayolah, Taiga. Hanya kau yang tahu tentang gadis ini." Kagami benci saat Himuro memohon padanya. Kenapa bisa ada sinar-sinar berkilauan di dekat mata sebelah itu? "Cukup berikan aku saran saja."
Sang Leo kembali mendengus dan menggaruk belakang kepalanya. Saran? Apa yang bisa Kagami berikan? Dia itu payah dalam menghadapi perempuan, dan sekarang Himuro meminta sarannya? "Ciuman. Kau sudah sering dicium Alex, kan? Jadi ini pasti gampang. Gadis childish sekalipun pasti akan mengerti maksudmu jika dicium."
Wajah tampan Himuro semakin merah. Kali ini dengan ekspresi terdungu yang pernah Kagami lihat. "Cium… pipi?"
Kagami sendiri tidak mengerti kenapa kakaknya yang populer itu bisa segitu bodohnya. "Bukan, Tatsuya. Kau mengerti maksudku."
Sesungguhnya, agak susah bagi Himuro membayangkan dirinya mencium seseorang karena perasaan romantis. Ciumannya dengan Alex, kan… sudah biasa. Maksudnya, tanpa ada perasaan khusus pun wanita itu tetap akan menciumnya, kan? Ciuman mereka seperti ciuman kasih sayang ibu pada anaknya—tidak terlalu spesial.
"Ah, iya—tapi aku… dia…"
"Sudahlah." Lagi-lagi Kagami mendengus. Sepertinya hal ini terlalu 'di luar kendali' bagi kakaknya. "Lakukan saja sesuatu yang sama-sama kalian sukai."
"Kau yakin? Kau pernah melakukannya?"
"Sudah kubilang, apa menurutmu aku pernah berkencan dengan perempuan, hah? Jangan tanya saranku kalau begitu!"
Himuro membesarkan matanya yang hanya terlihat sebelah, terdiam sesaat, lantas sebuah senyum geli mengembang bersama tawa. "Bukankah selama ini kau berkencan dengan Kuroko? Maksudku, ayolah, kalian tinggal bersama beberapa hari terakhir, kan? Dan kalian berduaan di auditorium kemarin."
Kagami langsung memerah. Jantungnya berdetak nakal dan memukul-mukul rusuknya. "Ta-tapi itu bukan kencan. Dia juga bukan dalam wujud perempuan saat tinggal di rumahku. Ja-jadi, mana mungkin kami berkencan, kan? Hahaha. Mana mungkin tanpa ada yang berkata apa pun."
Himuro memicingkan matanya. Andai saja poninya tersingkap seperti Touya, maka Kagami bisa melihatnya menaikkan sebelah alis. "Jadi… di lain kata, kau sedang menunggu ajakannya untuk berkencan?"
Dan di lain kata, apakah Himuro ingin mengatakan bahwa Kagami tidak sejantan yang kelihatannya, yang hanya berharap untuk sebuah pengakuan kecil dari seorang gadis? Kagami?
"Mana mungkin!" sentak Kagami, benar-benar salah tingkah. Di pikirannya kini berkelebat tentang persaingan dengan Himuro untuk mendapatkan perempuan, bukan lagi tentang basket melulu. "Aku yang akan mengajaknya kencan!"
"Baguslah!" Himuro kemudian mengatupkan tangan dengan keras. Tampaknya dia terlihat begitu senang. Perasaan Kagami langsung tidak enak. "Jika kau sudah berhasil mengajaknya, bagaimana jika kita double-date? Aku akan berada seharian di taman hiburan, jadi kau tahu di mana mencariku." Kemudian dia berbalik dan membuka pintu geser. "Ayo berjuang!" serunya, sambil tersenyum lebar dan mengepalkan tangan. Kemudian menghilang begitu saja.
Sementara itu Kagami terpaku di tempat, memikirkan setiap perkataan Himuro. Apakah benar ia hanya menunggu ajakan kencan Kuroko? Apakah benar ia ingin mereka berkencan? Terlebih dari itu, apakah benar ia menyukai Kuroko?
—'Kau jatuh cinta pada Kuroko?'—
Ah, kalimat Himuro itu! Apakah benar bukan rasa suka lagi, tapi malah cinta?
Kagami bersyukur di tangannya ada sepasang tongkat yang menyangganya tetap berdiri. Jika tidak, mungkin kakinya sudah bergetar hebat dan jatuh beringsut di tanah. Ia meremas dadanya, merasakan debaran aneh yang menggelitik.
Kemudian pandangan pun melayang ke luar jendela. Gadis itu masih di sana, berdiri sambil tersenyum pada sekumpulan ikan di luar gelembung istana, kali ini sendirian.
'Dewa—jika Kau, atau Kalian benar-benar ada, jawab pertanyaanku ini: apakah benar aku jatuh cinta?' batin Kagami, malu luar biasa.
.
-:-
.
Kuroko menoleh ke belakang saat ia merasakan hawa keberadaan seseorang yang begitu kuat berjalan mendekat.
"Taiga-kun?"
Dan menemukan Kagami tertatih-tatih bersama tongkat berjalan dengan semburat tipis di wajah.
'Sial, aku masih tidak bisa berhenti memikirkannya,' rutuk Kagami.
—'Kau sedang menunggu ajakannya untuk berkencan?'—
'Oh, diamlah, Tatsuya!' Pemuda yang kembali mengenakan mantel merah marun itu menggeleng kuat-kuat. 'Heh, jangan bercanda. Bergandengan tangan saja tidak akan bisa.'
Ya, Kagami ingat sekarang. Tentang semua yang diceritakan Kuroko di beranda kemarin malam. Tentangnya yang ternyata sudah memiliki calon suami, dan tentang mereka yang tidak bisa bersentuhan lagi.
Sungguh, dari sekian banyak wanita, kenapa ia harus jatuh cinta pada wanita abadi yang hampir menikah? Dan kenapa pula pada wanita yang saat pertama kali mereka bertemu, adalah pria? Apakah semua cinta pertama harus sebegitu sengsaranya? 'Hidupku menyedihkan.' Kagami benar-benar merasa sedang dipermainkan dewa.
"Taiga-kun? Ada apa? Kau melamun." Kuroko melambai-lambaikan tangan mungilnya di depan wajah Kagami. Namun justru keberadaannya yang tiba-tiba sudah begitu dekat yang mengagetkannya.
"Se-sejak kapan kau sedekat ini?"
Mata biru itu semakin besar tatkala membulat heran. Ujarnya, dengan suara semanis dan seringan permen kapas, "Bukankah Taiga-kun yang mendekatiku?"
Benarkah?
"Kulihat kakimu sudah membaik," ujar Kuroko, dengan senyum lembut yang menghiasi paras cantiknya. Dan dengan jarak sedekat ini barulah Kagami sadar, bahwa gadis ini mengepang poni airnya searah dengan rambut, dan jatuh ke bawah. Sepasang kristal biru itu jadi terlihat jelas. Sangat menawan.
"Ah, uuh… iya. Sepertinya juga begitu," balas Kagami, benar-benar malu karena sadar telah memperhatikan Kuroko.
"Sepertinya kau tidak sabar untuk bermain basket lagi."
"Ya. Sayangnya aku sudah kehilangan partner yang ahli dalam pass."
Apa yang Kagami bicarakan? Tentang basket, ya? Ah, sekarang Kuroko ingat penjelasan singkat Riko tempo hari.
"Jenis kelamin tidak semena-mena menghilangkan bakat, Taiga-kun. Aku masih bisa bermain basket jika aku mau."
"Uh? Benarkah?" Kalau begitu, bukankah ini kesempatan emas? "Bagaimana kalau kita bermain lagi?" tanyanya, penuh dengan senyum sumringah. Kemudian menambah dengan cepat, "Ta-tapi tidak seru kalau hanya berdua, jadi bagaimana kalau kita ajak Tatsuya? Kudengar dia akan meluangkan waktunya dengan seorang teman seharian ini. Bagaimana, ikut?"
Kuroko memiringkan kepalanya. "Bukankah Himuro-san baru saja pergi ke atas? Poseidon-sama sendiri yang mengantarnya."
"Makanya, kita main di atas!"
Kuroko terlihat berpikir sejenak. Namun, sebenarnya ia tidak perlu repot-repot memutar otak dua kali untuk menjawab, "Oke."
Rasa senang langsung menjalar. Jika Kagami tidak mengenakan tongkat, mungkin dia sudah meloncat-loncat kegirangan.
Ternyata, mengajak kencan tidak sesulit yang diperkirakan, ya. Tapi, apakah ini bisa dihitung kencan? Bukankah Kagami tidak mengatakan apa pun tentang si huruf k itu?
"Tapi apakah kau yakin kita akan bermain basket? Dengan tongkat?"
Kagami tersadar dari kesenangan pribadinya. Kemudian melirik ke bawah. "Aku rasa tidak masalah. Kiyoshi-senpai bilang kakiku sudah membaik."
Kuroko tersenyum. "Kalau begitu, mari kita tanya pendapatnya dulu. Kupikir, mungkin Poseidon-sama punya beberapa ramuan obat."
.
-:-
-:-
.
"Apa yang sebenarnya terjadi dengan Sei? Belum ada yang menceritakannya padaku." Aomine melipat kedua tangannya di depan dada dengan angkuh, lantas menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa di ruang tengah istana Nijimura. Di sofa yang sama, duduklah Kise yang gemetar melihat ekspresi bad mood sang Dewa Bencana.
"Tu-tumben kau mengkhawatirkannya-ssu."
"Bukan dia, tolol!" sentak Aomine, menyembur ke arah sang Dewa Kebahagiaan. "Jika berhubungan dengan Tetsu, bukankah wajar jika aku ikut khawatir? Ckh, cewek itu juga seenaknya sendiri. Bagaimana bisa dia berkeliaran di bumi bersama seorang manusia—dan ternyata manusia itu reinkarnasi cinta pertamanya! Kebetulan macam apa itu?"
"Itulah yang disebut jodoh, Dai-chan," jelas Momoi, mencondongkan tubuhnya. Gadis berambut benang-benang sutra berwarna merah jambu yang berkilauan itu tersenyum pada gadis jadi-jadian yang duduk di hadapannya.
Aomine menyipitkan mata. "Jodoh?" Ia terkekeh. Lantas menyadari sesuatu. "Jangan bilang ini perbuatanmu, Satsuki." Ia menatap Dewi Cinta itu dengan garang.
"Mungkin. Tapi tidak seluruhnya juga."
"Haa? Apa maksudmu?"
Momoi memiringkan kepalanya, lantas mengerling sambil menggerakkan telunjuk di depan wajah. "Ra-ha-si-a."
"Aku benci jika kau merahasiakan sesuatu dariku," Aomine mencibir. "Jadi, ada apa dengan Sei? Masih belum ada yang menjawab."
"Itu juga yang ingin kami ketahui, nodayo." Midorima membetulkan kacamatanya, sesekali diselingi batuk ringan. "Seijuurou juga belum cerita apa pun. Satu-satunya orang yang tahu hal ini sepertinya adalah Raja."
"Oh, Raja?" ulang Aomine, menaikkan alisnya dengan malas. Memang benar, jika ada sesuatu yang terjadi, Nijimura-lah orang pertama yang pasti dan harus tahu. Selain itu, Akashi kan, jendral favoritnya juga. Pasti mereka sempat bertukar cerita. Dan Nijimura bukan orang yang pelit berita, hanya saja ada satu hal yang membuat Aomine malas ke ruangan pribadinya. 'Si Haizaki-bangsat juga pasti ada di sana.' Aomine mengernyit.
"Ngomong-ngomong, hijau," ujarnya pada Midorima. "Apa kau tahu sesuatu yang dapat mengembalikan wujudku dalam sekejap?"
"Midorima Shintarou, Daiki," balasnya penuh penekanan. Lagi-lagi dengan pose membetulkan kacamata. "Jika memang ada ramuan sehebat itu, maka sudah kugunakan untuk diriku sejak dulu."
"Jadi, ada tidak? Jangan bertele-tele."
"Tentu saja tidak ada, bodoh. Namun jika kau mau bersabar untuk proses pembuatan dan efeknya, maka aku ada beberapa."
Aomine menguap malas. "Nah, dari tadi kek, bilang gitu. Berapa lama selesai? Berapa lama hingga efeknya keluar?"
"Sekitar enam jam. Pembuatannya juga memakan waktu yang sama."
"Yah… nggak masalah, lah." Gadis berambut biru itu lantas bangun dari kursinya dengan malas. Ia menguap lebar sambil meregangkan tubuh. Astaga, semalaman ini dia belum tidur hanya karena masalah Akashi. "Buatkan aku yang paling ampuh. Enam jam lagi aku akan menemuimu."
"He-hei, jangan seenaknya menyuruh, Daiki!" seru Midorima, sontak menghentikan langkah sepatu besi biru milik Aomine. Dia juga belum sempat tidur karena harus mengarahkan Takao meracik obat-obatnya. "Lagipula, mau ke mana kau?"
Gadis itu menoleh dengan malas. Ia mengorek telinganya dengan jari kelingking. "Hm? Bukankah sudah jelas? Menanyakan tentang Seijuurou pada Raja. Kenapa?"
Momoi berkedip. "Aku kira kau sedang menghindari Shougo-kun, Dai-chan." Ya, Momoi memang bisa membaca pikiran orang lain. Terutama jika berhubungan dengan perasaan khusus. Hanya saja, dalam kasus Haizaki dan Aomine, warna dari perasaan mereka masih kabur. Entah cinta atau benci.
Aomine membeku di tempat. Bayangan si abu Haizaki dengan senyum miring dan tiba-tiba merengkuh dan menciumnya lagi berjalan bagai gulungan film rusak yang diputar berulang-ulang. Sontak ia merinding hebat. 'Su-sudahlah, nanti hiraukan saja si bangsat itu,' ujarnya dalam hati, sambil mengelus-elus dada.
"Jangan terlalu sering membaca pikiran orang, Satsuki."
Dan dia kembali melangkah.
.
-:-
.
"Seijuurou?" Nijimura menyangga kepalanya di atas meja marmer putih dengan malas. Tanpa sadar kebiasaan lamanya untuk memajukan bibir saat kesal pun muncul. "Kenapa?" Ia menatap Aomine yang berdiri santai di balik mejanya sambil memasukkan kedua tangan dalam saku celana.
"Perlu ditanya, ya? Tentu saja aku penasaran jika berhubungan dengan Tetsu."
"Kali ini tidak ada hubungannya denganmu."
"Sudah kubilang, aku hanya mengkhawatirkan Tetsu."
Nijimura menghela napas keras saat melihat ekspresi batu dari Aomine. Sungguh, mau jadi laki-laki atau perempuan, sepertinya tidak ada yang dapat merubah sifatnya. "Kalau kuberi tahu, apa yang akan kaulakukan?"
"Tergantung penjelasanmu."
Aah, Nijimura semakin sakit kepala. Ia kelelahan, tenaganya terkuras banyak akibat ritual penyegelan, dan saat akhirnya ia bisa memejamkan mata, Aomine menerobos masuk ke kamarnya walau sudah dihalang-halangi Haizaki. Mungkin, malah keributan mereka yang membuatnya tidak bisa tidur.
Dan sekarang, di mana pelayan pribadinya itu? Haizaki selalu saja menghilang saat dibutuhkan.
"Baiklah, terserah." Duh, Nijimura pingin sekali cepat-cepat tidur. Maka dari itu, lebih cepat Aomine keluar, lebih baik. "Asal dengan satu syarat: apa pun keputusanmu nanti, tetap biarkan Tetsuki yang memilih. Itu keputusan Seijuurou."
"Huh? Baiklah." Lagipula, Aomine masih sakit hati tentang keputusan Kuroko menolaknya. Jadi sepertinya tidak mungkin jika ia menyeret Kuroko pulang.
Nijimura kemudian menceritakan segala hal dengan singkat dan padat—tentang kedatangan tiba-tiba Akashi untuk menjemput Kuroko setelah beberapa hari menahan diri untuk tidak turun langsung ke bumi, tentang seseorang yang menghalangi niatnya, tentangnya yang marah dan melukai orang itu, tentang Kuroko yang melindunginya, dan tentangnya yang kehilangan kendali emosi dan berakhir memberikan penderitaan abadi pada orang itu.
Aomine lantas mencengkeram perutnya, mengembungkan pipi untuk menahan semburan tawa—namun tidak bisa. "Bodoh! Sei bodoh!" serunya. "'Merasakan penderitaan yang sama'? Apa-apaan itu? Bilang saja ia iri karena tidak pernah menyentuh Tetsu. Dasar obsesif."
Lagi, Nijimura mendesah keras. Kenapa dari dua jendral Imayoshi, malah Hanamiya, yang mampu menggunakan kepalanya dengan benar, yang tidak dapat pergi dari Dunia Bawah? Kenapa malah Aomine yang harus dihadapinya sehari-hari? Si biru ini semakin membuat kepalanya sakit saja.
"Mungkin kau benar, Daiki." Aomine menghentikan tawanya. Lantas menatap sang Raja yang terlihat semakin sayu dengan latar belakang jendela besar yang menampilkan sinar-sinar redup dari bintang nun jauh di langit Andromeda. "Tapi jika kau berada dalam posisinya, mungkin kau juga akan melakukan hal yang sama."
Aomine mengenal jelas dirinya sendiri, dan dia tidak seobsesif Akashi. "Heh, tentu tidak," kekehnya. "Jika aku dalam posisinya, daripada repot-repot membagi kekuatan pada manusia lemah, lebih baik kuseret pulang saja Tetsu dan mengurungnya di kamar."
Oke, itu tidak lebih baik.
"Baiklah, hanya itu yang ingin kutahu." Lantas Aomine berbalik dan berjalan menuju pintu. "Terimakasih. Maaf sudah mengganggu tidurmu." Ia melambai ringan pada Nijimura. Namun sebelum sosoknya dalam jubah hitam menghilang di balik pintu putih raksasa, langkahnya terhenti oleh suara sang raja yang menggema.
"Ingat syarat itu."
Sebuah seringai miring terpatri. "Tentu."
Aomine menghela napas lega saat menutup pintu kamar Nijimura di belakangnya. Tadi itu… agak menegangkan—walaupun Aomine tidak mau mengakuinya. Itu lho, tatapan Nijimura yang kesal karena dibangunkan sama seperti Imayoshi saat marah besar. Yah, apa mau dikata, kan? Mereka saudara.
Ia langsung menyingkirkan pikiran itu dengan menggeleng keras. Kemudian langkahnya semakin cepat di setiap hentakan. Pandangannya tajam menatap ke depan. Di pikirannya sekarang ini hanya terisi oleh cerita yang disampaikan Nijimura—berputar seperti gulungan kaset di kepalanya.
"Oi, Daiki!"
Langkahnya sontak terhenti. Ia menoleh ke kanan.
"Mau ke mana kau, hah? Urusan kita belum selesai. Dan setidaknya, singkirkan peliharaan jelekmu ini!"
Haizaki Shougo mengerang keras dari lilitan benang laba-laba yang menahannya di tembok koridor. Pria abu-abu itu meronta, menggeliat, berusaha mengepakkan sayapnya untuk bisa kabur dari benang sutra yang sangat tebal dan berlendir. Namun apa daya, tidak ada yang bisa melepaskan diri dari lilitan benang laba-laba Dunia Bawah. Terutama laba-laba milik Hanamiya—iblis tanpa emosi berbentuk laba-laba raksasa, dengan enam kaki berduri dan tiga belas mata di sekujur wajah bulat bertaringnya.
"Maaf, tapi binatang jelek itu bukan peliharaanku," balas Aomine, acuh tak acuh memasukkan tangannya di dalam saku celana. "Dan asal kau tahu, iblis itu hanya menuruti tuannya."
Ya, pada dasarnya Aomine 'meminjamnya' sebentar dari Hanamiya sebelum datang ke Olimpus. Setidaknya Dewa Kematian itu tidak akan sadar peliharaannya menghilang sampai pekerjaannya selesai—yang itu berarti akan sangaat lama. Dan jika ada yang kebingungan bagaimana iblis sebesar gajah itu bisa Aomine bawa, jawabannya sederhana. Laba-laba itu hanya sebesar tarantula setelapak tangan saat kenyang. Namun jika sudah mencium mangsa—santapan kesukaannya adalah malaikat Olimpus—maka ia akan berubah ke ukuran sebenarnya demi bisa melumat bulat-bulat sang mangsa.
"Kalau begitu cepat panggil tuannya!"
"Tenang, kebetulan aku juga akan kembali ke Dunia Bawah," ujar Aomine, kali ini mengorek telinganya dengan jari kelingking. Sebuah seringi miring kemudian mengembang. "Kau tunggu saja hingga Makoto ke sini, oke?"
Eh, tunggu, apa yang dikatakannya? Jantung Haizaki tiba-tiba mati rasa.
"Memangnya sejak kapan Makoto bisa ke Olimpus, heh?!"
Namun erangan Haizaki sudah tak didengar Aomine lagi. Gadis itu kembali berjalan, masa bodoh dengan berbagai hal.
"Oi, DAIKIII!"
.
-:-
-:-
.
"Oh, kalian akan berkencan?" suara dalam Teppei menggema nyaring dalam ruangan giok berisi patung-patung emas. Kemudian disusul senyum lebarnya, dan tawa hangatnya. Kagami merasakan sesuatu yang panas di pipinya.
"Bu-bukan, itu, anu, hanya saja…"
"Kencan?" Kuroko memiringkan kepalanya. Helaian-helain air itu pun bergoyang menuruni pundak mungil berbalut kimono putih. "Apa itu?"
Astaga, apakah tidak ada kosakata itu dalam kamus para dewa? Ataukah kalimat itu belum diciptakan saat Kuroko masih menjadi manusia? Kagami tidak tahu yang mana.
Teppei kembali tertawa. "Kencan itu seperti menghabiskan waktu bersama orang yang kausukai. Secara umum, pasangan yang melakukannya beraktifitas di luar ruangan, tapi ada juga kencan dalam ruangan, seperti memasak. Ngomong-ngomong memasak, kalau kalian mau kencan di dapur juga tidak apa-apa, kok. Masakan Kagami kan, enak-enak."
Mendengar itu, lantas Kagami semakin bersemu.
Kuroko tersenyum saja, kemudian membalas, "Aku tahu masakan Taiga-kun sangat enak. Tapi dia mengajakku bermain basket di darat."
"Basket?" Mata coklat beralis tebal itu lantas melebar. Kagami langsung panas dingin. Di kepalanya, sudah terbayang-bayang suara marah Teppei yang melarangnya bermain basket dengan kaki masih cidera. "Kalau begitu kalian butuh bola. Juga pakaian yang bisa bergerak bebas. Tidak mungkin kan, main basket dengan kinagashi dan kimono?" Kemudian pria besar itu tertawa lagi.
Kagami merasa bodoh sudah merasa takut. Kapan sih, Teppei pernah marah padanya? Kalau Hyuuga atau Riko sih, memang lain cerita.
"Kagami bisa memakai pakaianku," lanjutnya. Kemudian tampak berpikir sambil mengelus dagu. "Tapi pakaian wanita di sini hanya kimono dan yukata. Sepertinya kita butuh bantuan."
Dan Kagami tidak menyangka, jika 'bantuan' yang di maksud Teppei adalah…
"Yep! Sudah selesai! Cantik, kan~?"
Aida Riko mengatupkan tangannya di samping wajah dengan senang, memperhatikan Kuroko versi perempuan yang tampak manis dengan celana pendek warna putih, blus hitam dengan kerah dan dasi putih, serta boots coklat tua (2). Rambut birunya yang panjang kali ini terikat rapi dengan gaya ekor kuda. Sebuah penjepit rambut berbentuk bulan sabit pun tersemat menyangga poninya, memperlihatkan dengan jelas wajah seputih gadis-gadis Jepang kuno walau tanpa make-up. Namun karena ini untuk kencan, Riko khusus membubuhkan lipgloss berwarna peach pada sepasang bibir tipis Kuroko, dan sedikit perona pada tulang pipinya.
Cantik? Tidak, Kuroko mempesona. Buktinya Kagami dan Hyuuga, yang datang bersama Riko, tanpa sadar menurunkan dagu dengan wajah yang bersemu-semu. Teppei, seperti biasa, hanya tertawa renyah.
Tidak ada yang ingat bahwa sebelum ini Kuroko bermain basket bersama mereka dengan wujud laki-laki.
"Sungguh, aku benar-benar tidak percaya saat Teppei bilang Kuroko-kun adalah perempuan. Aku kira dia sedang belajar melawak seperti Izuki-kun. Tapi ternyata memang benar, ya!" ujar Riko, masih dengan girang. "Dan siapa yang menyangka kau bisa secantik ini, Kuroko-chan? Kagami, kau beruntung, lho!"
"Eh?" Kagami tersentak, masih setengah sadar. Ia menatap Riko dengan bodoh. "…eh?"
"Maksudku, coba pikir, berapa banyak cowok di dunia ini yang punya pacar semanis Kuroko-chan, heh?"
Ah, iya, benar juga. Berapa banyak sih, cowok di dunia ini yang dapat berkencan dengan dewi sungguhan?
"Pokoknya kau harus menjaga Kuroko-chan, ya! Awas saja jika kau buat dia menangis," ancam Riko.
Kagami sih, bingung saja kenapa Riko sampai begitu perhatian pada Kuroko. Dia kan, bukan ibunya. "Tentu saja aku tidak akan membuatnya menangis. Kau tidak usah sekhawatir itu, Pelatih!"
"Baguslah. Ternyata dibalik kebodohanmu, kau pacar yang baik, ya."
"Pa-pacar?!" Kagami tidak tahu Riko terantuk sesuatu atau bagaimana, tapi apakah gadis itu benar-benar berpikir bahwa mereka berpacaran? Oh, Tuhan, seharusnya Riko sudah tahu kalau Kagami sangat kikuk di depan perempuan jika masalah cinta. Mana mungkin dia nembak Kuroko dalam waktu sesingkat ini, kan?
Sang Leo itu sendiri mengenakan celana jeans putih dan sepatu Nike merah. Sedangkan wajahnya terlihat semakin mirip tomat dengan sweater merah marun di atas kaos putih milik Teppei. (3)
Riko menepuk kedua pundak Kuroko dan menatapnya di mata. "Pokoknya, nikmati kencan pertamamu ini, ya!"
Kuroko membalas dengan senyum mantap. "Baik."
"Terus, karena di luar dingin, pakailah ini." Riko mengeluarkan selembar blazer merah marun dari tas yang sedari tadi dijinjingnya, dan mengenakannya pada Kuroko.
Yang jadi boneka manekin hanya bisa menurut. "Ah… um. Terimakasih."
Dan semakin terpesonalah tiga pria yang berdiri termangu di dekat mereka.
.
-:-
.
"Tapi aku kasihan pada Kagami," ujar Riko saat duduk-duduk di salah satu beranda istana Teppei bersama Hyuuga dan si empunya rumah, sambil minum teh dari cangkir tanah liat ditemani sepiring dorayaki. Kagami dan Kuroko sendiri baru saja pergi ke untuk kencan mereka.
"Huh, kenapa?" Hyuuga mengalihkan pandangannya dari cangkir teh berwarna hijau daun. Ya, jarang-jarang kan, Riko mengkasihani orang lain. Terutama pria besar nan sangar seperti Kagami.
"Habis, kencan wajib berpegangan tangan, kan? Bayangkan saja mereka melewatkan seharian ini berduaan tanpa bisa menyentuh masing-masing."
"Ah, kau ada benarnya," balas sang kapten. Kemudian pandangannya menerawang jauh ke lautan biru di hadapannya. "Tapi, yang lebih penting dari itu, apakah tidak masalah membiarkan Kagami berada jauh dari sini? Jika sesuatu terjadi dan dia lepas kendali atas kekuatannya lagi, bagaimana?"
"Tenang saja." Tawa renyah Teppei ikut menjawab pertanyaan Hyuuga. "Aku sudah memberikan mereka jimat."
"Jimat?" tanya Hyuuga dan Riko bersamaan.
"Ya, jimat."
.
-:-
.
Kereta pagi itu dapat dibilang cukup ramai walau sudah melewati jam berangkat kerja. Yah, apa mau dikata, sekarang hari Minggu, dan mayoritas masyarakat Jepang—terutama anak muda—memanfaatkan hari libur sebaik-baiknya sebagai waktu melepaskan diri dari rutinitas ketat sehari-hari. Mungkin tujuan mereka juga sama seperti Kagami dan Kuroko—berkencan bersama pasangan atau sekedar jalan-jalan di taman. Yang manapun itu, Kagami tidak peduli. Keramaian kereta pagi selalu saja membuatnya sedikit rikuh, apalagi dengan seorang gadis manis yang duduk begitu dekat dengannya, membuatnya berkali-kali menelan ludah.
Apa yang terjadi? Dia tidak pernah seperti ini sebelumnya jika di samping perempuan.
Mata tajamnya secara insting berpaling pada Kuroko, yang ternyata sedang memperhatikan bandul berbahan onyx yang terpasang pada gelang sederhana di tangan kanannya. Di mata Kagami yang awam, bentuknya seperti kecebong hitam dengan satu mata berwarna putih, dan menghadap ke bawah. Entah apa menariknya bentuk, simbol, atau lambang itu, tapi sepertinya banyak orang Asia yang mengagungkannya karena Kagami sering melihat bentuk serupa di film-film bela diri.
Ia kemudian berpaling pada pergelangan tangan kirinya, di mana melingkar gelang serupa namun dengan bantul putih bertitik hitam di bagian 'kepala', dan menghadap ke atas. Hm, sepertinya memang memiliki arti.
"Kenapa, Taiga-kun?" tanya Kuroko tiba-tiba, mengaburkan pikiran dan mengagetkan Kagami.
"E-eh? Ah, aku hanya penasaran pada gelang ini," balasnya. "Senpai bilang ini adalah jimat, dapat menekan kekuatan dewa ke batas minimum dan menghalaunya untuk lepas kendali. Tapi apakah bisa? Maksudku, dengan benda sekecil ini? Bagaimana jika meleleh?—yah, walaupun secara aneh aku bisa berjalan normal lagi setelah mengenakannya."
Mendengar itu, Kuroko tidak dapat menahan diri untuk membentuk senyum simpul. "Tolong jangan remehkan sesuatu yang diciptakan dewa, Taiga-kun. Semua hal pasti diciptakan dengan manfaat dan kualitas terbaik. Namun aku sedikit kecewa karena kau lebih memperhatikan 'gelang'-nya dibanding 'jimat'-nya."
"Huh? Apa maksudmu? Gelang ini kan, jimatnya?"
"Bukan, Taiga-kun. Gelang itu hanya gelang biasa, dari tali biasa. Yang membuatnya istimewa adalah bandulnya." Kuroko kemudian mengangkat tangan kirinya untuk dapat memperlihatkan bandul gelangnya pada Kagami. "Ini Yin, secara harfiah dapat diartikan sebagai tempat yang teduh atau bayangan, sering juga dikaitkan dengan air, bumi, bulan, feminimitas, dan malam hari, maka dari itu warnanya hitam. Kemudian yang kaumiliki disebut Yang." Kuroko menunjuk pergelangan tangan kiri Kagami, lantas pemuda itu pun menaikkan tangannya.
"Jika Yin adalah bayangan, maka Yang adalah cahaya. Yang diidentikkan dengan api, langit, matahari, maskulinitas, dan siang hari, maka dari itu warnanya berlawanan dari Yin," lanjut Kuroko. "Yin bagai sisi hitam, sementara Yang melambangkan sisi putih dari kehidupan. Mereka adalah dua unsur keberadaan yang berlawanan tapi saling melengkapi. Mereka selalu mencari keseimbangan meskipun bertolak belakang, namun tidak selalu bertentangan satu sama lain. Masing-masing mengandung unsur dari yang lainnya, karena itu terdapat titik hitam Yin pada bagian putih Yang, dan begitu pula sebaliknya." (4)
Penjelasan Kuroko, seperti biasa, walau aneh tapi selalu menarik. Setidaknya dapat mengambil alih seluruh konsentrasi Kagami yang biasanya menguap lebar dengan penjelasan non-basket. Atau mungkin karena faktor penceritanya?—gadis manis serupa malaikat yang selalu bercerita dengan pandangan lembut di kedua bola mata besarnya.
"Dan berdasarkan itu, Yin selalu dikatkan dengan wanita, dan Yang laki-laki—dua unsur alam semesta yang saling melengkapi, dan tanpa salah satunya maka dunia akan berakhir. Sejauh ini apa kau mengerti, Taiga-kun?" Rambut ekor kuda Kuroko bergoyang saat ia memiringkan kepala untuk menatap wajah Kagami. Dan jika diperhatikan dengan seksama, ternyata rambutnya sudah kembali menjadi helaian-helaian rambut biasa, bukan aliran air.
Pemuda itu mengangguk ringan. "Ya. Bahkan anak TK dapat mengerti berpedaan hitam dan putih."
Kuroko tersenyum. "Aku anggap kau juga menangkap intinya."
"Lalu? Membentuk Yin dan Yang dari keramik tentu tidak semerta-merta menjadikannya berkekuatan sihir, kan?"
Kuroko benar-benar tidak mengerti sampai di mana batas kebodohan Kagami. Tapi, baginya itu lucu. Soalnya selama ini ia hanya dikelilingi oleh orang-orang sok tahu di Olimpus. "Sudah kubilang, Taiga-kun, jangan remehkan buatan dewa. Tentu saja bandul ini ada kekuatan sihirnya."
Eh, tunggu, Kuroko tidak serius, kan? Kagami tadi hanya bercanda, lho. "Benarkah?" Sang Leo melebarkan mata tajamnya dengan bodoh.
"Tentu." Kuroko mengangguk yakin. "Mau bukti?" Tangan kanannya kemudian meraih tangan kiri Kagami tanpa tedeng aling-aling. Dan walaupun genggamannya begitu lembut, namun dapat melonjakkan jantung Kagami.
"A-apa yang kaulakukan?! Bagaimana jika kau terba—" Ia melepas genggaman Kuroko, dan menatap tangannya. "—eh?" Namun tidak ada apa pun pada telapak tangan putih nan mungil itu. Tidak bahkan luka goresan. Ia menatap Kuroko dungu, seolah berkata, "Bagaimana bisa?"
Dan tebak saja, Kuroko kembali tersenyum geli. "Poseidon-sama membuatnya dari bahan khusus yang dapat menekan kekuatan dewa. Jadi selama kita menggunakan gelang ini, aku rasa tidak masalah jika kita bersentuhan."
"Ah, benarkah?" Kenapa ya, seperti ada angin sejuk yang menerpa hati Kagami?
Kuroko mengangguk lagi. "Soalnya kekuatanku dan kekuatanmu baru setengah dari kekuatan sesungguhnya, jadi dengan jimat sederhana ini dapat disegel untuk sementara. Tapi mungkin akan lain cerita jika salah satu dari kita memiliki kekuatan penuh."
Berarti, yang harus dilakukan Kagami untuk dapat terus bergandengan dengan Kuroko, adalah tidak membangkitkan kekuatan matahari secara penuh saja, kan? Begitu saja, kan?
Eh, yakin sesimpel itu?
Kemudian perkataan Teppei sebelum mereka pergi pun ternyiang kembali, "Kekuatanmu akan bangkit jika kau merasakan emosi tertentu secara berlebihan. Jadi, kau tidak boleh terlalu senang, sedih, semangat, atau marah. Karena jika itu terjadi, kau akan mendapat saluran kekuatan matahari dalam skala besar. Kemungkinan terburuk adalah, tubuhmu tidak bisa menahan kekuatan itu secara tiba-tiba, kemudian terbakar dan hangus. Sampai jumpa di Dunia Bawah." Aduh, Kagami langsung merinding mengingatnya. Jarang-jarang kan, Teppei mengatakan sesuatu yang mengerikan dengan ekspresi serius begitu.
Dan apakah itu berarti… dia tidak boleh terlalu menikmati kencan hari ini? Serius?
Kereta pun melambat saat sampai di stasiun pemberhentian. Perlahan pintu gerbong terbuka, dan perlahan pula gelombang manusia berangsur-angsur berpindah tempat. Kagami berdiri dan mengulurkan tangan kirinya pada Kuroko, disampirkannya tas selempang merah berisi bola basket pada pundak kanannya.
Kemudian berujar, "Kalau begitu, ayo!" dengan senyum lebar. Yah, masalah terbakar atau tidak, itu urusan nanti saja, lah.
Kuroko pun tanpa berpikir dua kali langsung meraihnya. Mereka kemudian berjalan keluar dari stasiun menuju taman hiburan yang berjarak hanya lima menit jalan kaki, tentu masih dengan bargandengan tangan. Sepertinya tidak ada tuh, terlintas di pikiran mereka untuk melepaskan genggaman walau sedetik. Pasalnya mereka juga tidak mengira akan sebahagia ini menggenggam tangan orang lain—terutama yang divonis tidak boleh saling bersentuhan.
Kira-kira, si merah menyebalkan, Akashi Seijuurou itu pernah tidak ya, merasakan hal seperti ini juga? Kagami yakin, pria sok kuasa itu akan menangis iri jika melihatnya bersama Kuroko saat ini.
"Taiga-kun, kita mau ke mana?" tanya Kuroko, mengaburkan khayalan Kagami lagi. Matanya yang besar terlihat polos dan bercahaya di bawah sinar matahari. "Bukankah kita akan main basket?"
"Ah, um, kita akan bermain basket setelah menemukan Tatsuya. Aku lupa menanyakan di mana dan kapan kita harus bertemu karena pulsaku habis." Sebenarnya itu bohong, pulsa handphone Kagami tidak pernah habis. Tapi, Kagami rasa Kuroko juga tidak memperdebatkannya.
"Oh? Begitu." Tuh, kan.
"Ayo kita keliling-keliling. Siapa tahu bertemu Tatsuya."
Kagami kemudian menyeret Kuroko melewati gerbang masuk taman hiburan. Langkah keduanya lantas terhenti di tengah-tengah area terdepan taman, terkagum-kagum pada berbagai macam wahana dan warna-warni semarak di setiap penjuru.
Anda tidak salah. Kagami juga ikut mengangga seperti anak kecil, bukan hanya Kuroko.
"Sudah lama aku tidak ke sini…." gumam Kagami, pandangan berkeliling.
"Eh? Aku kira manusia sering ke mari," balas Kuroko. Pikiran sederhana itu didapatnya dari banyaknya jumlah manusia yang hilir mudik di sekitar mereka.
"Mungkin sebagian besar dari mereka. Tapi aku tidak. Terakhir kali aku ke taman hiburan saat aku sebelas atau dua belas tahun, bersama Alex dan Tatsuya. Tapi taman hiburan ini… aku hanya pernah ke sini sekali. Bersama orang tuaku."
Mereka kembali berjalan menuju pusat dari taman hiburan, di mana wahana-wahana utama menunggu untuk dipilih dan dijelajahi.
Kuroko tersenyum menanggapi curahan hati Kagami. "Pasti menyenangkan menghabiskan waktu di sini bersama orang tua."
"Ya. Sangat." Tanpa sengaja pandangan Kagami terkunci pada sebuah keluarga kecil yang berisi ayah, ibu, dan seorang anak lelaki yang tertawa dan tersenyum pada satu sama lain. Bocah itu digendong ayahnya di pundak, membuatnya berteriak girang karena dapat melihat seluruh taman dengan jelas. Senyum tipis pun mengembang pada Kagami. "Semoga saja aku ingat."
Kuroko berkedip sekali mendengarnya. Dan langkahnya terhenti. "Kau tidak mengingatnya?"
Haruskah Kuroko terlihat sepanik itu? Kagami jadi salah tingkah. "Ya, um… sudah lama sekali. Saat aku empat atau lima tahun."
"Bagaimana bisa kau tidak mengingatnya?" Bagaimana bisa Kise melepaskan memori bahagia dari seorang anak kecil? Kuroko tidak akan memaafkannya jika mereka bertemu nanti.
"Sudah kubilang, itu sudah sangat lama. Sekarang juga tidak begitu penting." Kagami mengalihkan matanya dari tatapan menyelidik Kuroko, yang lama-lama membuatnya rikuh juga. "Ayo. Kau mau naik apa?" Dan ia kembali menyeret Kuroko untuk berjalan.
Langkah Kuroko terasa berat walaupun ia enggan mengatakannya. Di pikirannya hanya terisi cerita, nada, dan mimik Kagami yang tidak seperti biasa. Dan mungkin, ini baru pertama kalinya ia melihat sang macan bersedih.
Ia merasa ada sesuatu… yang disimpan di balik cangkang ceras pemuda ini.
.
-:-
.
Tiga puluh menit sebelumnya
Himuro berdiri di depan gerbang taman hiburan dengan gelisah. Sesekali ia melirik jam tangan hitam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Pandangan dari beberapa orang yang lewat—terutama perempuan—malah membuatnya semakin rikuh. Apakah ada yang salah dengan pakaiannya? Ia yakin ia sudah memilih pakaian yang paling cocok dengan dirinya, di salah satu butik di Shibuya. Cuma kaus putih, celana jeans, serta jaket dan sepatu kulit hitam, apakah aneh? (5) Ataukah keberadaannya yang terlalu mempesona yang aneh? Serius, orang-orang modern Tokyo seharusnya sudah terbiasa melihat cowok kece setengah bule sepertinya.
Dan sekarang, kakinya bergetar karena terlalu gugup. Apakah semua kencan pertama harus seperti ini?
Tiba-tiba ia merasakan lengan panjang seseorang melingkari pinggangnya. "Muro-chin~" Dekapan itu dari belakang, begitu hangat. Dan ketika Himuro menoleh melalui pundaknya, ia bisa melihat sosok ungu yang ia tunggu-tunggu.
"Atsumi!"
Seketika itu segala rasa rikuh dan gugup luntur, terganti oleh kembang api di dada.
"Ne, ne, Muro-chin, kenapa kita ke taman hiburan? Aku ingin parfait. Ayo kita makan parfait~!" Gadis itu, dengan jemarinya yang panjang dan putih, menarik-narik bagian depan kaus Himuro. Tentu, dia masih belum melepaskan pelukannya.
"Atsumi," ulang Himuro, begitu lembut. Ia mengelus kepala gadis berambut panjang dengan warna aneh itu. "Hei, memangnya hanya kau saja yang ingin keinginannya terpenuhi? Sekali-kali, dengarkan dan ikutilah keinginanku."
Murasakibara Atsumi mengembungkan pipi, namun akhirnya mengangguk. "Baiklah. Tapi setelah itu aku ingin parfait."
"Oke, oke, kubelikan apa pun yang kaumau," balas Himuro. "He-hei… sampai kapan kau mau memelukku, Atsumi?" Tatapan kagum dari para gadis yang lewat, kini terganti oleh lirikan iri dengan aura kebencian yang menusuk. Jantung Himuro kembali digerayangi rasa khawatir, namun entah bagaimana gadis yang selisih tiga sentimeter di bawahnya ini tidak terlihat terganggu.
"Hn~? Memangnya tidak boleh~? Muro-chin hanya milikku dan akan selalu menjadi milikku. Tidak boleh~?"
Aduh, cewek ini malah membuat Himuro semakin bergetar. Kemudian ia memaksa Atsumi menyudahi pelukannya, sebelum kakinya tidak sanggup lagi berdiri dan wajahnya semakin amburadul. "Su-sudah, ayo kita masuk. Aku yakin di dalam juga ada parfait."
"Yey, parfait~!"
Teriakan dari suara kekanak-kanakan itu semakin menghangatkan pipi Himuro, dan mendorongnya untuk menggenggam erat tangan Atsumi. Ia menyeretnya memasuki loket masuk, namun terhenti di depan air mancur ketika Himuro tanpa sengaja menoleh ke samping, dan menyadari sesuatu yang membuatnya geli.
"Atsumi, apakah kau tidak menyisir rambutmu?"
Murasakibara hanya memiringkan kepala dan memainkan ujung rambutnya. "Apakah itu penting?"
"Tentu saja penting! Kau seorang gadis!" Himuro benar-benar tidak habis pikir. Bukankah cewek-cewek Jepang selalu berdandan maksimal ketika kencan? Kenapa gadis tinggi ini pengecualian? Ia jadi tidak bisa menahan tangannya untuk menyentuh dan menyisir rambut sewarna violet itu. "Coba hadap sini, diam sebentar. Aku akan membereskan rambutmu."
Jemari panjang itu perlahan membelah rambut Atsumi menjadi tiga dan membawanya ke samping kanan, setelah menyisirnya di antara sela-sela jari. Simpul-simpul indah yang besar pun dibuat dengan cekatan. Selama itu Atsumi terdiam. Di pikirannya hanya ada hangatnya tangan Himuro ketika menyentuh kepalanya, harum mint tubuhnya, wajah tampannya, dan mata abu-abu yang bersinar di hadapannya. Dan kenapa jantungnya berdebar?
Tak berapa lama, Himuro menegakkan leher. "Oke, selesai." Ia menyerahkan ekor rambut panjang itu pada Atsumi, dan menyuruhnya untuk menahan ujung kepangan itu. "Tunggu sebentar di sini, akan kucarikan ikat rambut. Jangan sampai kepangan itu lepas, ya. Dan jangan ke mana-mana!"
Himuro berbalik dan berlari membelah kerumunan orang. Sosoknya kemudian menghilang tak lama kemudian. Atsumi terdiam di tempat, merasa kesepian entah kenapa. Ia masih memegangi ujung rambutnya, kemudian menoleh ke belakang untuk duduk di ujung kolam air mancur. Ia menunggu, tanpa berekspresi apa pun, seperti orang dungu. Lama-kelamaan ia merasa bosan dan memainkan boots hitamnya. Kemudian mengelus-elus stoking hitamnya. Menarik-narik ujung rok biru tua pendeknya. Memperhatikan sweater putihnya, dan melonggarkan kerah dari blus gelapnya (6).Ia bosan dan lapar. "Muro-chin lama sekali. Dia harus membelikanku lebih dari parfait nanti," omelnya. Kemudian ia menoleh ke belakang, menatap bayangan dari seorang gadis ungu di air kolam.
Agak aneh, sebenarnya, karena selama ini pantulan dirinya di istana Nijimura selalu sosok pria membosankan dengan tubuh tinggi besar. Jadi, ia sendiri agak terkejut wujud lain dirinya bisa se… um, semanis ini.
Tiba-tiba sepasang lengan panjang melewati pundaknya. Ia berbalik, dan menemukan senyum hangat Himuro. "Sini rambutmu."
Atsumi menyerahkan ujung rambutnya pada Himuro, dan pemuda itu menyelesaikan tahap terakhir kepangannya dengan ikat rambut berwarna ungu, dengan bandul-bandul imut berbentuk kue dan permen. "Selesai." Ia tersenyum pada karyanya sendiri, terlebih dengan seberapa pintarnya ia memilih ikatan rambut yang begitu mencerminkan Atsumi.
Atsumi kembali berpaling pada bayangannya di air. "Apakah bagus, Muro-chin?" tanyanya, walau di bawah mata seindah lavender itu terdapat semburat merah tipis.
Himuro terkekeh. "Tidak bisakah kau melihatnya sendiri? Kau menakjubkan, Atsumi."
Ah, refleksi sosok ungu itu semakin merah saja.
Atsumi akui, bahwa Himuro memang berbakat dalam hal memperlakukan wanita, dan sepertinya segala hal yang indah-indah dan anggun memang diciptakan untuknya. Jadi bukanlah aneh jika Himuro menguasai itu semua. Tapi, ada sesuatu yang sedikit mengganggunya. "Ne, Muro-chin," Atsumi menoleh, "kepangan ini begitu indah dan rapi. Apakah kau sering melakukannya pada orang lain?"
Himuro terlihat berpikir sesaat. "Yah, um… tidak sering. Tapi sempat beberapa kali."
"Oh, benarkah? Pada siapa?"
"Hanya seseorang yang sudah begitu dekat denganku."
"Perempuan?"
"Apakah kau cemburu, Atsumi?" Himuro tersenyum dengan semu bahagia. "Tentu. Dia sudah seperti ibuku," jelasnya lagi. "Istri Kakakku, namanya Alex. Sudah kuceritakan, kan? Kapan-kapan kau harus bertemu dengannya."
Atsumi menunduk sekilas. Ia sendiri tidak mengerti perasaannya yang tiba-tiba iri pada siapapun itu yang sempat disentuh Himuro.
"Hei, ayo." Himuro meraih tangan kanan Atsumi lagi, dan mengajaknya untuk berdiri. "Aku ingin naik jet coaster."
Dan berlalulah mereka menuju wahana tinggi penuh teriakan itu.
.
-:-
.
Kuroko melihat sekeliling dengan takjub. Pandangannya kemudian beralih pada Kagami. "Taiga-kun, aku ingin memasuki itu." Jari telunjuk yang lentik namun mungil itu, terarah pada suatu arah. Kagami menoleh, dan wajahnya langsung pucat pasi. Sebuah bangunan bergaya Victorian, dengan papan besar di atasnya yang bertuliskan 'Haunted House', selalu ia hindari selama ini. Haruskah ia menolak? Tapi wajah bersemu Kuroko sudah terlanjur dihiasi karlip-kerlip bintang, terutama mata biru yang berbinar bagai anak kecil. Sanggupkah Kagami menolaknya?
"Ah, uum…" Kagami melirik kanan-kiri. Namun ketika pandangannya kembali pada Kuroko, gadis yang menatapnya penuh harap, dengan segenap hati ia menelan ludah. "…baiklah," jawabnya, begitu lemah.
Kuroko tersenyum. "Terimakasih."
Kagami jadi tidak tahu, ia menyesal tidak membawa tongkat karena bergetar melihat senyum Kuroko, atau kengerian yang akan ia hadapi.
.
-:-
.
"Huaaaaa!"
Teriakan yang panjang itu datang dari bibir tipis Himuro Tatsuya saat dirinya serasa jatuh langsung menuju pusat bumi. Grafitasi, angin, dan kecepatan jet coaster ini melonjakkan jantungnya setiap detik, apalagi menghadapi fakta bahwa, alih-alih berpegangan erat pada pengaman di bangkunya, Atsumi malah memeluk Himuro dan ikut berteriak di telinganya.
Ingin sekali Himuro memarahi gadis ini, namun mulutnya tidak bisa mengatup bahkan untuk menelan ludah.
Jet coaster kemudian meliuk, naik, dan berputar 360 derajat. Di tukikan yang kedua, jantung Himuro kembali meloncat keras. Kali ini karena perasaan lembut dan hangat dari dada besar Atsumi yang menekan keras di tubuhnya.
Astaga, bisa-bisa setelah ini Himuro pingsan.
Setelah satu menit yang menegangkan, akhirnya jet coaster berhenti. Para penumpang turun dengan napas berat dan desahan keras. Khusus Himuro, ia langsung menyangga tubuhnya pada salah satu pilar dan terengah-engah. Demi Tuhan, ia memiliki lebih dari satu alasan kenapa lututnya gemetar.
"Muro-chin~?" Atsumi memiringkan kepalanya untuk melihat wajah Himuro yang tertunduk dan bersembunyi di antara lengannya. Gadis itu khawatir pada pemuda yang biasanya terlihat sempurna di segala situasi dan kondisi ini. Jarang-jarang kan, melihat Himuro terengah-engah dengan wajah pucat pasi. "Kau sakit?"
Himuro menoleh dengan begitu lambat. Napasnya memburu dan peluh melintasi pelipisnya. "Ah, tidak," jawabnya, sedikit tidak meyakinkan. "Apa lagi," ia terengah, "yang ingin kaukunjungi?"
Atsumi memajukan bibirnya, berpikir. "Tadi ada sesuatu yang berputar, penuh kuda dan lampu, yang menarik perhatianku."
"Oh, komidi putar?" Sepertinya pilihan yang bagus. Wahana itu, walau kekanak-kanakan, tapi aman untuk jantung dan pertahanan diri Himuro. Maksudnya, dari Atsumi. "Baiklah."
Mereka pun beralih ke bagian taman yang banyak didominasi anak kecil. Dan sepanjang mereka berjalan, Himuro terus-terusan merasa tidak enak. Mungkin ini karena Atsumi, tapi bukan itu alasan utamanya. Maksudnya, tatapan orang-oranglah—kali ini bukan hanya perempuan, tapi sampai pria dan anak kecil—yang begitu tajam dan menusuk, dengan aura gelap, yang membuatnya berkali-kali menelan ludah. Anehnya, gadis yang bergelayutan di lengannya ini malah tampak tak ambil pusing. Atsumi terus saja menjilati lollipop berwarna ungu-putih, dengan sebelah tangan yang memeluk erat lengan Himuro.
Dan karena kehangatan dan kelembutan di salah satu tangannya itulah, yang membuat jantung Himuro berkali-kali hampir berhenti.
Oh, oke, jadi dia mengerti kenapa sekarang bukan hanya wanita yang serasa ingin membunuhnya.
Untungnya komidi putar sedang sepi karena sudah masuk jam makan siang. Himuro menebak, jika kerumunan masa—terutama anak kecil—sudah berpindah menuju restoran keluarga di sisi lain taman. Mereka mendapatkan kuda-kuda terbaik dengan mudah. Atsumi menaiki salah satunya, yang berwarna hitam, sedangkan Himuro di sebelahnya menaiki kuda-kudaan berwarna putih. Wajah berseri Atsumi ketika komidi putar bergerak dan kudanya naik-turun, membuat Himuro tak tahan untuk mengeluarkan handphone dan menyalakan kamera. Tangannya tak lepas dari benda persegi itu, terfokus pada gambar Atsumi yang terlihat begitu senang dengan pengalaman pertamanya di taman hiburan. Senyum geli dan semburat merah juga tak bisa terpisah dari wajah Himuro. Ia takjub, karena gadis ini secara tiba-tiba terlihat begitu berkilau.
Atsumi sendiri awalnya tidak menyadari apa yang Himuro lakukan. Ia terus-terusan terkekeh dan menjilati lollipopnya, hingga ia menoleh tepat ketika cahaya putih serupa kilat mengaburkan pandangan. "Mu-Muro-chin~?"
Himuro tertawa geli. "Kau seperti anak kecil, Atsumi."
"Tapi aku bukan anak kecil." Atsumi mengembungkan pipinya. Aah, jika saja Himuro tahu berapa umurnya yang sesungguhnya.
Cahaya kilat itu datang lagi.
"Muro-chin!"
Ya, Himuro tidak tahan dengan wajah imut gadis ungu ini.
.
-:-
.
"Ku… Kuroko…."
Kuroko menghela napas berat. Ia kemudian berjongkok di samping Kagami yang tersungkur di tanah, tepat satu meter di depan pintu keluar wahana Rumah Hantu.
"Seharusnya kau bilang padaku jika kau takut hantu, Taiga-kun."
Oh, ayolah, Kagami ketakutan setengah mati dan bukannya minta maaf, Kuroko malah mengomelinya?
"A…" Kagami terengah. Ia begitu kelelahan menahan jeritan dan keinginannya untuk berlari keluar selama di Rumah Hantu. Dan ia sangat kesal, karena sepertinya Kuroko tidak menghargai usahanya itu. "aku melakukannya untukmu, bodoh."
Tidak ada balasan dari Kuroko. Ketika Kagami merasa aneh, ia pun menoleh, dan menemukan Kuroko menunduk dengan semburat merah.
'Oh, shit. Please, jangan nangis.'
Kagami cepat-cepat bangkit dan duduk di hadapannya. Ia bingung, apalagi yang harus ia lakukan demi menenangkan Kuroko yang menangis? Seribu satu cara sudah ia pikirkan, dan beberapa di antaranya gagal. Ia tidak mau asal pilih lagi.
"K-Kuroko?" Kagami mendekatkan wajahnya.
"Taiga-kun yang bodoh!" Kuroko tiba-tiba mengangkat kepalanya, ekspresi marah pun bercampur aduk dengan warna merah di sekujur wajahnya, begitu dekat dengan hidung Kagami. Mata besar dan alis yang biasanya datar itu kini berekspresi. "Kau tidak usah memaksakan dirimu demi aku."
Aduh, Kagami jadi serba salah. Ia menghela napas keras dan menggaruk belakang kepalanya. "Ha-habisnya kau terlihat ingin sekali memasuki tempat terkutuk itu. Mana bisa aku menolaknya!"
"Tapi jika kau tidak suka, bilang saja."
"Mana bisa!" Kagami tanpa sengaja menaikkan suaranya. Kuroko terlihat terkejut. Buru-buru ia menambahkan, "Mana bisa… jika kau yang memintanya."
Rasa panas dan malu memberatkan wajah keduanya. Mereka menunduk, terdiam beberapa saat.
"Hei, apalagi yang ingin kaukunjungi?" tanya Kagami.
Kuroko mengangkat kepalanya. "Kagami-kun sendiri?"
"Tidak ada yang khusus. Kau saja."
"Aku ingin vanilla shake."
"Itu kaluar topik!"
"Ah, um…" Kuroko tampak berpikir. Wajahnya tak semerah beberapa saat lalu. "Aku benar-benar tidak tahu, Taiga-kun. Bukankah kau yang pernah ke mari? Apa yang dulu kaukunjungi? Aku juga ingin mengunjunginya."
Kagami terdiam. "Dulu aku naik Coffee Cup dengan Ibuku."
"Aku ingin naik itu."
"E-eh? Tapi itu permainan untuk anak kecil! Kalau kau sih, mungkin terlihat wajar, soalnya kau perempuan dan mirip anak kecil. Kalau aku, kan…"
Pandangan tajam Kuroko langsung menghentikan perkataannya. Kagami menelan ludah, sebenarnya bingung. "…Kuroko?"
"Taiga-kun, aku bukan anak kecil. Aku bahkan jauh lebih tua darimu."
Ah, iya. Penampilan imut itu telah membuat Kagami lupa akan jati diri Kuroko. Dan ngomong-ngomong, memangnya berapa umur Kuroko yang sebenarnya?
"Aku ingin naik Coffee Cup," ulang Kuroko, kali ini tak terbantahkan. Mata besar dan alis tipis itu kini terlihat datar, namun anehnya tajam. Lagi, Kagami tidak bisa menolak.
"U-un."
Seperti yang diinginkan Kuroko, mereka menaiki wahana berputar itu dalam gelas yang sama. Mereka berputar dan berputar, membuat Kuroko pusing namun tampak bahagia. Senyum Kagami juga tak tertahan melihat wajah sumringah gadis itu. Kemudian mereka menaiki komidi putar dan jet coaster, mampir di suatu kedai untuk beristirahat dan membeli minum, kemudian berlanjut pada acara nonton film di bioskop taman hiburan. Karena sekarang sedang musim semi, pihak penyelenggara taman pun menetapkan 'Romance and Love' sebagai tema bioskop bulan ini. Segala sudut pun berwarna merah jambu, dipenuhi simbol hati dan kerlap-kerlip lainnya. Sejujurnya, Kagami agak mual. Jika bukan karena Kuroko, ia bahkan tak akan sudi melirik tempat ini.
"Jodoh memang tidak ke mana," adalah suatu pelajaran yang Kagami petik dari film jadul berjudul 'Dear John'. Awalnya memang sedikit membosankan, namun pada akhirnya dapat membuat pria tinggi, besar, menyeramkan sepertinya berkaca-kaca.
Film itu berkisah tentang seorang tentara Amerika Serikat bernama John yang pulang ke kampung halaman untuk libur dinas, tanpa sengaja bertemu seorang gadis cantik, Savannah, pada suatu sore di pantai yang bagai bertabur emas, dan mereka jatuh cinta. Kisah bahagia itu hanya bertahan dua minggu karena tak lama liburan musim panas berakhir, yang berarti John harus kembali ke medan perang, dan Savannah ke sekolahnya. Mereka berpisah, namun masih berhubungan lewat surat yang datang tidak dalam waktu berdekatan. Surat demi surat datang, John selalu bahagia menerimanya. Hingga setelah beberapa lama, surat dari Savannah tak datang lagi. John tetap menunggu. Sepucuk surat pun tiba setelah sekian lama, mengabarkan bahwa Savannah akan menikah. Hatinya hancur, namun apa mau dikata, dia memang tidak ada di sisi Savannah selama ini. Tahun berlalu, tanpa disangka ayahnya sakit sehingga John terpaksa pulang. Di sana ia menyesal pada semua perbuatan tidak adilnya pada sang ayah. Untungnya sebelum ayahnya meninggal, mereka bisa bertemu dan saling memaafkan. Untuk mengobati luka hatinya, John kemudian menemui Savannah. Gadis periang itu telah berubah menjadi wanita dewasa dengan pandangan berat, beban kehidupan telah membuatnya lelah. Kemudian John tahu, bahwa suami Savannah adalah orang yang tidak pernah diperkirakannya, orang yang selalu baik dan mendukung hubungan mereka. Tim, seorang duda dengan satu anak, telah merenggut Savannah dari John. Savannah bercerita bahwa ia terpaksa. Tim sakit parah, dan anaknya butuh penjaga. Satu-satunya cara adalah menikahi Tim dan membahagiakannya di sisa umur yang tak panjang lagi. Namun tetap saja, John terluka. Mereka berpisah lagi, kali ini dengan perasaan berat di hati.
Tak berapa lama, Savannah kembali menulis surat, mengabarkan bahwa Tim meninggal dengan bahagia. Ia sangat berterimakasih pada siapapun yang mendonasikan sejumlah uang untuk perawatan Tim sehingga ia bisa pulang dan bertemu anaknya. John juga lega mendengarnya. Tahun berlalu, John telah pensiun dari kemiliteran. Saat ia sedang berjalan-jalan di kota, pandangannya bertemu pada sesosok gadis cantik di balik jendela kedai kopi. Mereka bertatapan, tersenyum, dan sadar bahwa takdir akan selalu mempertemukan mereka, berapa kali pun mereka berpisah. (7)
Kagami sudah setengah jalan untuk menangis, tapi akan sangat menghancurkan harga dirinya jika ia luluh karena film kecewek-cewekan begini, apalagi di samping Kuroko, makhluk terdatar yang pernah ia temui. Perhatikan saja, sejak tadi tidak ada isakan dari bibirnya. Kagami kemudian menoleh pada Kuroko setelah mengelap gelinangan air di sudut matanya, penasaran pada keadaan gadis berjaket merah itu.
Namun ternyata Kuroko itu tidak lebih baik. Air mata bahkan sudah mengucur deras dan membasahi dagu, kerah, serta bajunya. Ajaibnya tanpa satu isakan sekali pun.
Demi Tuhan, sudah berapa kali Kagami melihat Kuroko menangis? Perasaan berat di dada ini tetap saja tidak bisa hilang.
"Hei," ujarnya, membuat Kuroko menoleh. Tangan besar itu kemudian dengan cekatan membuka tas selempang besar yang sejak tadi diletakkan di dekat kakinya, dan mengeluarkan sebuah sapu tangan putih sebagai antisipasi jika sesuatu seperti ini terjadi. Kagami mengelap air mata Kuroko dengan lembut, sehingga kehangatan tangan itu bahkan bisa menjalar dan membelai pipinya. "Sudah, sudah."
Kuroko tak dapat berkata. Bahkan di dalam ruangan temaram ini, ia bisa melihat wajah merah Kagami.
Saat mereka keluar bioskop, matahari sudah setengah jalan untuk menghilang di ufuk barat. Kagami meregangkan tubuhnya, letih setelah sekitar dua jam duduk dan, yah, terisak. Kuroko menggenggam tangannya dengan masih menyapukan sapu tangan itu pada wajah. Kagami diam-diam tersenyum. Sebuah ide kemudian melintas.
"Ada satu permainan lagi yang ingin kukunjungi."
Kuroko bahkan tidak mempunyai keinginan untuk menolak. Ia mengikuti ke mana pun Kagami menyeretnya. Sebuah benda besi raksasa berbentuk roda yang berputar dengan dua kaki, menjadi pemberhentian selanjutnya. Kuroko tertegun, seperti kebanyakan wahana yang lainnya, tidak mengerti apa yang ia hadapi.
Mereka memasuki salah satu bilik kincir raksasa dan duduk berhadapan. Pemandangan matahari terbenam langsung menyita perhatian Kuroko ketika kincir berputar. Wajahnya kembali bersemu, dengan senyum lembut dan mata birunya yang berbinar tertimpa sinar emas mentari. Kagami memperhatikannya, terkagum-kagum.
"Ne, Taiga-kun, bukankah itu Himuro-san?" Perkataan tiba-tiba Kuroko seperti membangunkan Kagami dari mimpi indahnya.
"H-ha…?"
"Itu, di situ." Kagami langsung mengikuti arah telunjuk Kuroko yang menembus ke balik jendela, terarah pada sesosok pria berambut hitam yang duduk bersebelahan dengan gadis berambut ungu, wajah begitu dekat, mata terpejam, dan astaga, bibir saling bersentuhan. Jantung Kagami tiba-tiba mati rasa. Ia tidak menyangka, ternyata… kakaknya telah 'mendahuluinya'.
"Benarkah itu Himuro-san?" ulang Kuroko, memiringkan kepala.
"Y-ya, itu dia," jawab Kagami. Kemudian ia kembali duduk di kursinya. "Sudahlah, biarkan saja mereka. Tidak usah dilihati begitu."
"Kau benar. Memang tidak sopan, ya."
Waktu pun seolah berhenti ketika mereka terdiam. Kuroko sebenarnya tidak merasa terganggu, karena detik-detik matahari menghilang di peraduan dan menyisakan semburat jingga dan ungu di langit berbintang, begitu indah bagai lukisan langsung dari tangan dewa. Kagami sendiri merasa kikuk, jantung berdebar bersama detik yang berlalu. Ia melirik jam tangannya. Tinggal beberapa detik, dan klimaks akan dimulai.
"Kuroko," panggil Kagami. Gadis itu menoleh, mata indahnya penuh tanya. "Boleh… aku duduk di situ?"
Setelah anggukan kecil dari Kuroko, Kagami pun berpindah posisi. Atap kincir yang terbuat dari kaca menyuguhkan pemandangan menakjubkan ribuan bintang di langit ungu. Mereka berdua menengadah, terdiam, tangan saling bertaut. Semburat berwarna-warni tiba-tiba meluncur di angkasa dan berpendar lembut. Pesta kembang api memang selalu digelar pihak taman hiburan setiap senja untuk para pengunjung, terutama untuk tujuan seperti ini.
Ketika Kuroko tengah asyik mengagumi, Kagami memanggilnya lagi. "Kuroko." Tangan besar dan hangatnya terulur untuk meraih pipi putihnya. Gadis itu menoleh, sudah menebak apa yang akan Kagami lakukan, namun ia malah tersenyum. Senang dan bahagia menjadi satu, Kuroko mencondongkan tubuhnya. Ciuman itu kemudian didefinisikan sebagai Kuroko yang mencium Kagami, dan bukan sebaliknya. Kagami sedikit terkejut, namun mengulum senyumnya dan menenggelamkan Kuroko dalam ciuman yang lebih dalam.
.
-:-
.
Kincir raksasa kemudian berhenti dan membuka tepat setelah Kagami dan Kuroko melepas bibir mereka. Mereka terdiam, sedikit kikuk, sebelum bergandengan tangan keluar dari bilik dan berjalan ke arah stan-stan makanan.
"Taiga-kun, aku ingin vanilla shake."
"Lagi? Kau sudah minum tiga gelas tadi siang."
"Itu kan, siang."
Oke, gadis ini semakin tidak masuk akal. Tapi apakah Kagami pantas berpendapat begitu? Porsi makannya sendiri malah lebih tidak masuk akal.
"Baiklah." Mereka kemudian menghampiri kedai yang sepertinya menjual vanilla shake. Saat itu pelanggan sedang ramai-ramainya, Kagami dan Kuroko sampai harus mengantri dan berdesakan untuk bisa sampai di hadapan penjual. Ketika itu terjadi, Kagami melepaskan tangannya dari Kuroko untuk mengambil dompet. Dan ketika ia menoleh untuk menyerahkan vanilla shake pesanan Kuroko, "Nih," gadis itu sudah tidak ada.
.
-:-
.
Desakan manusia di sekitarnya telah membawa Kuroko pergi bagai gelombang air laut pasang untuk menjauh dari Kagami. Ia kehilangan padangan akan pemuda merah itu karena tertutup tinggi badan para manusia yang membuatnya jengkel. Namun apa daya, ia tidak bisa semena-mena menggunakan kekuatan untuk membuka jalan. Yang bisa ia lakukan hanya pasrah. Semoga, seperti John dan Savannah, mereka akan bertemu lagi.
Ah, agak berlebihan. Paling-paling hanya sebentar, kok.
Kuroko pun keluar dari lautan manusia. Kini ia terpojok, tertinggal, dan tidak disadari. Ia duduk di salah satu bangku taman dengan sedih, pandangannya mengharapkan Kagami.
"Ah, ini dia!"
Saat itulah sebuah tangan yang hangat mendarat di pundaknya. Kuroko berbalik dengan sumringah, berseru, "Taiga—" Namun menelan bulat-bulat ludahnya.
Sosok itu, tinggi dengan rambut dan kulit gelap, senyum miring melengkung tinggi bagai bulan sabit di wajahnya. Kuroko langsung membeku. Ia bergetar.
"Ketemu lagi, Tetsu."
.
.
-:-
-:-
-:-
.
.
TBC
Maaf panjang bangeeeet! Dan maaf lama update-nya. Saya baru aja bebas dari UN dan penyakit, pyuuh. Di bawah ada omake, tapi cuma satu. Sisanya di chapter depan karena chapter ini udah kepanjangan *capek*
Ohiya, masa lalu Kuroko dan Kagami sepertinya di chapter depan, atau depannya lagi. *dihajar*
PENJELASAN:
(1) Maksudnya, Kagami merasa aneh karena Himuro jadi OOC dengan membeli banyak sekali makanan manis demi seorang gadis, padahal makanan kesukaannya adalah yang asin-asin, kaya acar. Yah, namanya juga cinta, kan? Hahaha.
(2) Boot, blazer, baju, dan celana yang dipakai Kuroko seperti yang dipakai Riko di Ending Song Kurobas episode 28 dan 34.
(3) Saya sebenarnya bingung dengan penampilan Kagami jika disuruh nge-date, soalnya selama ini dia selalu cuek dengan sekedar celana panjang/pendek dan kaos hitam/putih. Dan karena timeline fic ini saat spring, yang notabene masih dingin, saya memutuskan untuk mengambil penampilan Aomine di Ending Song episode 32, cuma beda warna aja. (dan dua makhluk bodoh itu juga berwatak dan sifat sama, jadi selera fashion juga nggak akan jauh-jauh, lah)
(4) Penjelasan tentang Yin dan Yang ada yang saya ambil langsung dari Wikipedia Bahasa Indonesia. Iya, saya males terlalu banyak ngubah. *jdug!* Jika ada yang masih bingung dengan penjelasan Kuroko (atau bahasa saya), silahkan cek sendiri di Wikipedia, yaah~
(5) Himuro tetap seperti dirinya di Ending Song episode 37 (he just perfect as the way he are~ *nyanyi*)
(6) Untuk female Murasakibara, biar gampang diimajinasikan, saya memilih penampilan Momoi saja di Ending Song episode 34.
(7) Maaf, sepertinya saya spoiler. Bagi yang sudah nonton, pasti tahu kata-katanya John, "No matter how many years go by, I know one thing to be as true as ever was. I'll see you soon then." Auh, auh, co cwiit banget. I know I was a crybaby, but it was true that I cried so hard the first time I saw the movie. Sampai sekarang 'Dear John' masih jadi film romance favorit saya (walau memang bener, setelah nonton sekali, ada beberapa adegan yang boring). Dan saya yakin, bagi kebanyakan cowok, film itu TOTALLY BORING. Anggap saja Kagami juga crybaby seperti saya, haha. *dihajar*
.
(Minggu, 11 Mei 2014)
Love ya!
K.K~
.
.
.
OMAKE: What Actually Happened…
Himuro dan Atsumi memilih kincir raksasa sebagai wahana kesekian mereka. Atsumi, sambil memeluk kantung belanjaan berisi berbagai macam jananan, berjalan lebih dulu untuk memasuki bilik. Himuro duduk di hadapannya, menyangga kepala pada kepalan tangannya yang tertumpu pada dinding bilik. Ia tersenyum melihat betapa asyiknya Atsumi mengunyah, walau pemandangan sunset yang indah sedang tersaji di depannya.
"Kenapa, Muro-chin? Mau~?" Atsumi menyadari sikap Himuro, lantas menawarinya Pokki yang sedang ia pegang. Gadis itu berpindah tempat duduk untuk bisa bersebelahan dengan Himuro, lantas menawarinya lagi. "Aku tidak keberatan jika berbagi dengan Muro-chin."
Himuro tertawa. "Terimakasih." Siapapun jelas tidak bisa menolak tawaran dari seorang anak kecil, kan? Apalagi seimut ini.
Himuro kemudian mengambil sebatang Pokki dan mengapitnya di bibirnya. Perhatian masih terpusat pada Atsumi, yang kembali fokus pada makanannya. Rasanya lucu bahwa ia diduakan oleh jajanan, tapi mungkin itulah yang membuatnya menyukai Atsumi. Gadis ini tidak seperti cewek-cewek lainnya, yang begitu genit dan memaksakan diri bersikap sempurna di hadapan pria. Atsumi apa adanya, kekanakannya tidak dibuat-buat. Ia bagai anak kecil yang asyik dengan dunia kecilnya.
Di satu sisi, Atsumi kembali merasakan tatapan Himuro yang menggelitik tengkuknya. Ia menoleh, sedikit kesal sambil memajukan bibir. "Ada apa, Muro-chin~? Sejak tadi kau menatapku terus."
"A-ah? Tidak ada…." balas Himuro, walau sebenarnya setengah sadar. Ia masih memperhatikan Atsumi.
Mereka terdiam. Atsumi masih menatap Himuro dengan bingung, sedangkan pemuda itu merasa beruntung karena dapat melihat wajah Atsumi dari depan dengan jarak sedekat ini.
'Muro-chin tak kunjung memakan Pokki-nya,' adalah apa yang ternyata ada dalam benak Atsumi. Dewa Manusia On Disguise itu merasa tergoda untuk mengambil Pokki di bibir Himuro, setelah ia sadar tidak ada sebatang pun yang tersisa dalam kardus kecil di genggamannya.
Gadis itu tiba-tiba mendekat, kepangannya yang panjang jatuh dan menyentuh tubuh Himuro. Ia membuka mulut untuk melahap Pokki di bibir si Skorpio, begitu dekat, hingga membuat Himuro membeku untuk sesaat.
Himuro terdiam dalam ketidakmengertian, dengan jantung sesara berhenti bekerja. "…Atsumi?" ujarnya, berusaha meraih keadaan.
Gadis dengan mata sewarna langit Timur ketika senja itu memberi jarak di antara mereka dan tersenyum, simpul namun polos. "Ini salah Muro-chin karena tidak langsung menghabiskan Pokki-nya."
'Ha…? Pokki?'
Matahari berjalan perlahan, kincir raksasa berputar, dan Himuro tertinggal dalam detik-detik kebingungan bersama perasaan sakit yang tak terbaca.
'Jadi hanya karena… Pokki?'
Poor Himu.
.
.
.
.
.
See ya!
