Chapter 9 finiiiiiiiiiiiiissshhh!
Setelah melewati masa-masa yang menantang, akhirnya pun chapter ini terselesaikan! *maksudnya?
Hueheheheh…karena tetanggaku sedang nggak ada jadi aku bebas!
Pokoknya, Fairy Tail hanya milik Hiro Mashima seorang!
So, Happy Nice Reading!
Chapter 9
L-O-V-E
Lucy POV
Aishiteru, Lucy…
Dheg! Aku sangat kaget.
G-Gray…me-menyukaiku…ah, tidak. Maksudku…ia mencintaiku…? Apa itu benar? Aku tak yakin…
Tapi, sekarang sebenarnya aku ini di mana? Dan apa itu memang suaranya Gray? Suaranya ada, orangnya tidak ada…!
Tiba-tiba muncullah cahaya putih yang menyilaukan tepat di atasku. Apa itu jalan keluar dari semua ini? Aku pun berusaha menggapainya hingga cahaya putih itu menyelimuti seluruh tubuhku.
"A-apa yang terjadi…? K-kyaaa!"
Beberapa lama kemudian…
Perlahan-lahan, kubuka mataku yang terasa berat. Kulihat, banyak objek-objek yang tak kuketahui semuanya. Ini bukan rumahku. Ini bukan guild Fairy Tail. Tetapi…rumah sakit.
Tunggu, tunggu. Kenapa aku berada di rumah sakit? Setelah mengingat-ingat sesuatu, akhirnya aku ingat kejadian sebelumnya. Aku mengeluarkan Urano Metria, lalu aku jatuh pingsan. Ah…mungkin karena terlalu banyak kekuatan yang kupakai.
Samar-samar, aku menyadari bahwa tangan sebelah kananku terasa berat dan ada sesuatu yang lembut di dekat tangan kananku ini. Saat kucoba melihatnya, itu…Gray yang tertidur. Ia duduk di sebuah kursi kayu, tetapi kepalanya terbaring di salah satu sisi pinggiran tempat tidurku. Tangannya yang besar dan hangat itu menggenggam tangan kananku. Pipiku pun langsung terasa panas.
"Pantas saja tanganku terasa berat." Ujarku sambil menghela napas. Ternyata kalau Gray sedang tertidur, wajahnya terlihat manis. Berapa lama ia menungguku? Tanpa tersadari, garis melengkung terbentuk di wajahku. Entah kenapa, hatiku terasa berbunga-bunga.
"Terima kasih, Gray." Ucapku berbisik di dekat telinga Gray. Aku pun melepaskan tanganku dari genggamannya. Badanku terasa sangat segar setelah mengetahui Gray terus menemaniku.
"Hem…Lucy…"
Kudengar suara Gray yang pelan. Tapi ia masih tetap tertidur. Berarti ia mengingau. Tunggu, ia bermimpi tentang aku? Oh, ya! Ngomong-ngomong, apakah suara Gray yang kudengar di mimpiku itu benar? Tapi ia kan tertidur? Haaah…sudah kuduga, itu hanya mimpiku saja.
"Lucyyy! Kenapa kau mengambil jatah es krimkuuuuu!" teriak Gray yang masih dalam keadaan tertidur.
Hah? Ukh…mimpinya kok nggak modal banget sih! Masa aku mengambil es krimnya? Hu-uh! Kirain apa! *kirain apa hayooo…
Aku pun segera menyelimuti Gray agar ia merasa hangat. Lalu aku turun dari tempat tidur. Tetapi rasa ingin tahu tetap menyelimuti pikiranku. Entah kenapa suara Gray yang terdengar di alam mimpiku itu terasa benar dan nyata.
Gray POV
Dengan sekuat tenaga, kubuka mataku yang berat. Setelah kuperiksa tempat tidur, kosong. Lucy di mana? Aku pun menyadari bahwa sebuah kain yang hangat menyelimuti punggungku. Oh, itu selimut.
Samar-samar, kudengar suara percikan air yang ada di kamar mandi. Heh? Siapa itu? Jangan-jangan penyusup?
Tanpa berpikir panjang, kubuka pintu kamar mandi dengan cepat.
"KYAAAAA! GRAAAAAY! DASAR MESUUUUM!"
"Huaaaakh! MA-MAAFKAN A…UWAAAA!" Aku pun dilempari botol sampo dan dengan mulusnya botol itu membentur hidungku. Otomatis, aliran darah segar langsung turun dari salah satu lubang hidungku. Sebenarnya aku juga tak tahu pasti alasan hidungku berdarah, apakah karena terbentur botol sampo atau karena melihat Lucy yang sedang mandi… pokoknya, para readers harus tau bahwa aku hanya sengaja! Diam-diam hati kecilku berkata seperti itu.
Aku pun segera mengambil tisu dan kuhapus darah segar yang mengalir dari hidungku. Setelah beberapa lama kemudian, Lucy keluar dari kamar mandi. Rambut pirangnya yang indah itu dibiarkan terurai begitu saja dan tertiup angin seakan-akan bergoyang elok.
"Kau sudah sembuh total kan, Lucy?" tanyaku memastikan.
"Heh? Tentu saja! Badanku terasa sangat segar! Kalau begitu, kita sudah bisa kembali ke restoran kan?"
"Ehh…tapi hari ini masa misi kita selesai."
"Eeeeh? Kalau begitu, aku tak dapat bayar uang sewa bulan ini lagi doooong!"
"Tenang saja, jatahku untukmu saja."
"Eh? Ta-tapi…kau…"
"Sudah, nggak apa-apa. Ambil saja. Aku ikhlas kok. Dari pada kau nanti dihajar sama ibu sewa itu."
"Eeeh…bener nih nggak apa-apa? Aku merasa nggak enak soalnya!"
"Iya, benar! Nggak apa-apa kok! Terima saja!"
"E-eh…kalau kau memaksa, baiklah! Tapi jangan menyesal, loh!"
"Iya, iya…kan sudah kubilang aku ikhlas. Ya sudah, yuk! Kita jemput Natsu, Wendy, Happy, dan Carla! Sehabis itu kita pulang ke guild! Pasti sudah banyak orang-orang dan misi lainnya yang sudah menunggu kita! Siapa tahu nanti ada misi yang bagus lagi, kita harus cepat-cepat ambil tuh! Kali-kali sudah diambil sama yang lain!"
"Roger, sir! Hehehe…"
Sesampai di guild…
"Tadaimaaaaaaaaa!" seru Natsu dengan girang entah karena apa. Kami pun mengikutinya dari belakang.
"Okaeri, Natsuuuu!" balas Lisanna sambil menghampiri dan memeluk Natsu dengan mesra. Semburat merah pun muncul di kedua pipi Natsu dan ia membalas pelukan itu.
Lucy POV
"Lu-chan! Okaeri!" sapa Levy yang tersenyum yang menandakan rasa senang yang tumpah.
"Ah…Levy-chan!" Aku pun membalas senyumannya dengan senyuman terbaikku.
"Hemmm…dilihat dari mimik mukamu, kelihatannya aku ketinggalan cerita nih! Cerita dong!" ucapnya sambil menarik tanganku menuju salah satu meja yang kosong.
"E-eh…tau aja, oke deh!"
-Conversation Skip-
"Heee…jadi Natsu sudah tahu kalau kau suka pada Gray? Kostummu kembaran dengan Gray? Pria nggak jelas itu menginginkan kekuatanmu? Lalu Gray terus menjagamu selama kau koma? Gray juga membuka pintu kamar mandi saat kau sedang mandi?" Tanya Levy terang-terangan tanpa henti dan jeda sehingga aku tak sempat berpikir jawaban dari setiap pertanyaan yang ia keluarkan.
"Tunggu, tunggu! Kalau ngomong lihat tanda jeda dong! Kau kan punya sihir menulis, artinya kau tau tata bahasa yang benar dong!" ujarku menyerah untuk berpikir.
"Ehehehe…maaf ya…habisnya aku ingin tahu lebih banyak…"
"Tapi…aku masih tak mengerti soal suara Gray yang kudengar di dalam mimpiku itu. Apakah suara itu hanya benar-benar mimpi atau itu benra-benar nyata dan entah kenapa aku mengganggap hal itu benar-benar nyata, bukan mimpi."
"Tanggapanmu memang benar kok, Lu-chan. Menurutku, hal itu memang kenyataan yang ada."
"Hah? Maksudmu?"
"Sebulan yang lalu, aku demam tinggi. Gajeel merawatku dan kejadian yang kaualami juga kualami. Di mimpiku, aku mendengar suara Gajeel yang menyatakan perasaanya padaku. Menurutku, itu adalah suara hati dari orang yang menjaga kita dengan tulus. Saat kutanya pada Gajeel tentang itu, ia kaget karena ia berpikir bagaimana kau bisa mengetahuinya. Pada akhirnya, kami berpacaran deh sampai sekarang. Hihihi…"
"Be-berarti…Gray…dia menyukaiku…?"
"Bukan Lu-chan, dia itu tidak menyukaimu, tapi mencintaimu."
-To Be Continued-
Akh…akhirnya selesai juga…*tertawa terharu
Aduuuh…senengnya…mudah2an next chapter selesai dengan cepat…
Thx buat para readers yang udah ngeriview & support aku!
Klo ada yg support gitu, rasanya semangat buat ngelanjutin chapter berikutnya pake sistem express!
Anyway, tunggulah next chapter yaaak
Jaa neee…
Jgn lupa review! *maksa bgt lo!
